Kalau kita mau bicara dengan sesungguhnya berdasarkan hati nurani, maka sejak masa presiden Soekarno hingga ke Presiden Joko Widodo belum nampak keadilan dan kejujuran hasil pemilu yang pernah dibuat. Hasil yang nampak dan diakui oleh masyarakat adalah kecurangan, ketidak adilan dan ketidak jujuran. Karena itu dakwah saya kepada segenap bangsa Indonesia agar system pemilu yang yang telah ada dan system pilkada harus dirobah total dengan system Syura yang lebih aman dari segi sogok menyogok atau money politic disamping sangat sedikit menghabiskan kostnya. System yang ada terbuka menganga untuk money politic dan hasil yang curang, namun kalau system syura, pemilihan anggota majlis syura sendiri sangat ketat dalam masalah akhlak, penguasaan ilmu agama, pemahaman tentang adat istiadat, ketokohannya, serta paham akan sejarah perjuangan bangsa.

Utamakan tingkat keilmuan seseorang (tingkat pendidikannya), pengalaman hidupnya, umurnya yang matang sebagaimana Allah contohkan dalam pengangkatan Muhammad SAW sebagai Nabi, akhlaknya yang mulia, ibadahnya yang tidak perlu diragukan, serta kejujuran dan keadilannya dalam beraktivitas sehari-hari di tengah-tengah manusia. Kalau kita mau jujur dan transparan, lihat saja bagaimana Allah memilih Muhammad SAW sebagai Khalifah Allah di bumi, kemudian bagaimana Abubakar dipilih untuk menjadi khalifah setelah Nabi SAW, demikian juga pemilihan Umar bin Khattab. Malah ketika Umar bin Khattab ditikam, oleh Abu Lu’Lu’ yang berketurunan Parsi, ketika Umar mengimami shalat subuh, maka Umar masih sempat memanggil shabat-shabat yang lain untuk memilih penggantinya. Salah seorang shabat mengusulkan bagaimana kalau kami memilih Abdullah bin Umar sebagai penggati Amirul Mukminin atau menjadikannya sebagai salah seorang anggota majlis syura?

Ketika Umar mendengar anaknya, Abdullah bin Umar diusul untuk menggantikannya, maka beliau berkata, “Celaka kamu”. Jangan libatkan anakku dalam urusan ini. Artinya Umar bin Khattab tidak suka melanggengkan kekuasaannya dan membentuk dinasti atau kerajaan agar segala kesalahannya dan kecurangannya terus dilestarikan oleh penerusnya. Makanya yang salah di sini adalah systemnya yang tidak mendukung keberpihakannya kepada keadilan dan kejujuran. Diantara system,-system yang telah ada,system syuralah yang sangat berarti dalam pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah, karena kalau terjadi money politic hanya to some degree, tidak menyeluruh dan menjadi budaya seperti sekarang ini. Saya mendengar video salah seorang anggota DPR-RI, Irma Chaniago yang menyatakan bahwa beliau menghabiskan uang Rp. 2 milyar menuju Senayan, dan beliau membuka kedok semua Partai Politik sebagai biang keterpurukan dan kehancuran system kenegaraan kita. Penulis juga pernah berbincang-bincang dengan beberapa caleg dan cabub dan cagup, bahwa kalau kita ingin mencapai cita-cita tersebut harus punya banyak dollar alias rupiah, karena kalau kita mendatangi kantong-kantong constituent di alam grass-root harus membawa mahar, kalau itu tidak ada, jangan diharap akan ada constituent yang memilih kita. Ini budaya yang berakar umbi dalam komunitas kita, makanya system ini harus diganti total dengan konsep syura.

Kalau tidak ganti dengan system yang lebih amanah dan aman, ditakutkan para wakil rakyat dan para pemimpin yang dihasilkan dengan cara yang tidak amanah, tidak legal, dan tidak manusiawi, nanti hukum dipoles menjadi hukum rimba, para pemimpin seperti serigala yang tiap hari menyantap akan darah rakyatnya, misalnya rakyat dinaikkan pajaknya, para pegawai negara dinaikkan gajinya, korupsi terjadi di setiap kantor dan kementerian, petugas negara membackup kecurangan dan ketiranian para pemegang kuasa, makanya rakyat adalah makanan empuk para penguasa yang sifatnya seperti serigala dan singa di Padang Sahara Afrika. Makanya dakwah saya dalam hal ini yang harus merobah sytem ini adalah rakyat jelata dengan cara apapun yang terbaik. Jika tidak, negara ini akan menjadi negara berhukum rimba dan berpemimpin seperti drakula penghisap darah manusia.

Ingat! Ketika rakyat melakukan sesuatu dalam batas-batas kewajaran seperti berdemonstrasi dan berunjuk rasa, itu masih dapat diotolerir karena tidak melakukan anarkhis dan sebelum jam 6.00 sore sudah bubar. Pemerintah merasa ini hak rakyat dan boleh dilakukan dan kedudukan kita dan singgasana kita tidak terusik, karena kalau sudah capek berunjuk rasa dan berdemonstrasi, nanti mereka berhenti sendiri. Kita boleh berasumsi demikian karena rakyat melampiaskan uneg-unegnya, tetapi ingatlah wahai para penguasa, jika rakyat suatu saat diam seribu Bahasa, dan mereka hanya melaporkan kebejatan pemerintah dan penguasa kepada Penguasa Tertinggi yaitu Allah SWT., tinggal tunggu saja kehancuran yang pernah dirasakan oleh Firaun Laknatullah (Mesir), Gamal Abdun Nasir (Turki), Shah Iran (Iran), Marcos (Filipina), Kaum ’Ad dan Kaum Tsamud. Ingat Allah dalam firman-Nya “Setiap Ummat akan menemui ajalnya, tidak dipercepat dan diperlambat”. Ata- setiap pribadi, setiap kaum, setiap bangsa, dan setiap negara ada ambang batasnya menunggu kehancuran yang pernah dibuatnya, makanya sebelum itu terjadi, maka gantilah system yang amburadul ini jika ingin hidup tenteram dan bahagia dunia dan akhirat.

Utamakan orang-orang yang akan menjadi wakil rakyat (majlis syura) terdiri dari orang -orang yang berilmu baik secara formal atau informal, karena kalau kita memberikan kekuasaan dan tanggungjawab kepada orang-orang yang minim pengetahuannya, maka sama saja menjungkirbalikkan negeri ini, karena itu orang-orang yang merasa dirinya memiliki ilmu dan pengalaman, jangan sampai diperbudak oleh uang dan harta dan tahta, atau ditipu oleh orang-orang yang minim pengetahuannya. Ingat pesan Allah dalam al-Qur’an, “Tanyalah sesuatu kepada para ahlinya.” Dan juga Hadis Rasulullah SAW yang bunyinya, “JIka suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran.” Maka yang punya ilmu dan pengalaman tidak seperti “Keledai Membawa Kitab”. Artinya mengikuti petunjuk bukan mengikuti kedhaliman dan kegelapan. Ingat pesan Allah dalam al-Qur’an bahwa orang-orang yang berilmu akan ditingkatkan derajatnya, selama keilmuannya ditempatkan pada landasannya yang benar. Kalau mereka curang dan bohong, maka kekuasaan dan kekuatan yang ada padanya akan diganti dengan izin Allah, karena Dialah Yang Maha Berkuasa.

Sekali lagi melalui risalah ini saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk menggunakan hati nurani agar dapat merobah system pemilu dan pilkada ini kepada system yang bermartabat dan dapat dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat. System yang ada penuh dengan money politik, sogok-menyogok, intimidasi, kecurangan, kebohongan, dan pemaksaan, karena itu marilah kita tinggalkan system yang tidak bisa dipertanggung jawabkan dihadapa Mahkamah Allah nanti di Yaumil Mahsyar.

PROF. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Dosen Pasca Sarjana Prodi S3 PAI

UIN Ar-Raniry-Banda Aceh.

 


Oleh : Afrizal Refo, MA

Makan dan minum adalah sesuatu yang dilarang dalam menjalankan ibadah puasa bulan suci Ramadhan. Menahan lapar dan haus dari waktu subuh hingga terbenamnya matahari. Faktanya, puasa bukan hanya tentang tidak minum atau makan seharian. Ibadah yang termasuk wajib bagi umat Islam ini memiliki tantangan lain, unik dan menyenangkan. Sebab pada dasarnya ibadah puasa adalah mengendalikan hawa nafsu, menahan emosi dan keinginan bertindak buruk.

Dalam Al-Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 183 telah dijelaskan bahwa tujuan utama diperintahkannya puasa adalah terbentuk pribadi muslim yang bertaqwa. Taqwa ini sendiri adalah orang yang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Ciri-ciri orang yang bertaqwa ini pun telah dijelaskan dalam Al Qur’an pada surat Ali Imran: 134. Salah satunya adalah orang yang mampu menahan amarahnya.

Rasulullah saw menginformasikan bahwa Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah dan maghfirah, turunnya rahmat Allah secara melimpah, sekaligus sebagai ladang perlombaan untuk berbuat baik. Sebagaimana dalam hadits “Telah datang pada kalian bulan Ramadhan. Bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa.” (HR Ahmad dan Nasa’i). Hadits yang menggambarkan keistimewaan pahala puasa antara lain adalah sabda Rasulullah saw yang artinya : “Allah berfirman: ‘Setiap amal manusia adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya…” (Mutaffaq ‘Alaih).

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda: “Semua amalan Bani Adam (manusia) akan dilipatgandakan. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipatnya. Namun Allah berfirman: ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya,..” (HR Muslim).

Pertanyaannya kemudian, kualitas puasa seperti apa yang dapat mengantarkan orang yang berpuasa kepada ampunan Allah? Dalam Ihya ‘Ulum ad-Din, Hujjatul Islam al-Ghazali membagi orang yang berpuasa menjadi tiga kelompok dengan tingkatannya masing-masing, yaitu puasa awam (shaum al-‘awam), puasa orang istimewa (shaum al-khawash) dan puasa orang yang sangat istimewa (shaum khawash al-khawash). Menurut imam Al-Ghazali, ibadah puasa awam adalah tingkatan puasa yang paling rendah. Hanya menahan dirinya dari makan, minum, dan syahwat. Namun di luar itu, sikap, tingkah laku, perbuatan, perkataan dan gerak gerik yang dilakukannya masih belum dipuasakannya. Puasa orang istimewa (shaum al-khawash) adalah tingkatan puasa diatas puasa awam. Sebab, pelakunya tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan syahwat, melainkan memelihara seluruh panca indra dan anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat dan dosa, mampu mempuasakan mata, telinga, tangan, kaki, hidung dan indera yang lain dari larangan Allah. Puasa tingkatan ini juga disebut puasanya orang-orang shaleh (shaum ash-shalihin). Puasa tingkatan tertinggi adalah puasanya orang yang sangat istimewa (shaum khawash al-khawash), yaitu mereka yang selain berhasil mencapai tingkat kedua, juga mampu mempuasakan hatinya dari segala keinginan yang hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah secara total dari memikirkan sesuatu selain Allah SWT (shaum al-qalbi ‘an al-himam al-duniyah wa al-afkar al-dun¬yawiyah wakaffahu ‘amma siwa Allah bi al-kulliyyah). Mereka yang telah mencapai level ini adalah mereka yang senantiasa merasa diawasi Allah, sering disebut mencapai derajat al-ihsan.

Kemampuan seseorang menjaga dan memelihara dari mengurangi pahala puasa adalah ikhtiar tertinggi, dapat dipastikan kualitas ibadah puasanya jauh lebih baik dari yang hanya mampu menjaga dan memelihara ibadah puasa dari yang membatalkannya. Rasulullah saw menyampaikan kualitas ibadah puasa bagi umatnya, seperti dalam hadits yang artinya “Siapa yang berpuasa tapi tidak meninggalkan perkataan dusta tapi malah melakukannya, maka Allah tidak memandang perlu ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR Bukhari). Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda yang artinya “Lima perkara yang menggugurkan puasa adalah perkataan dusta, ghibah, mengadu domba, melihat dengan syahwat, dan persaksian palsu.” (HR ad-Dailami). Oleh sebab itu ibadah puasa patut dijaga dan dirawat dari hal-hal yang mengurangi pahala meskipun dianggap hal sepele, seperti berbohong. Perbanyak membaca Al-Qur’an dan berzikir dapat membantu meningkatkan kesempurnaan ibadah puasa dihadapan Allah SWT.

Secara keseluruhan, bulan puasa adalah bulan yang sangat berharga bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan puasa bukan hanya sebagai bentuk penghormatan dan ketakwaan kepada Allah SWT, namun juga bulan yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan seperti kesabaran, keteguhan hati dan keikhlasan. Maka marilah kita berpuasa dengan benar dan konsisten serta meningkatkan kualitas ibadah dan kegiatan sosial di bulan suci ini.

Penulis adalah Dosen Pendidikan Agama Islam IAIN Langsa, Sekretaris Umum Dewan Da’wah Kota Langsa dan Ketua Komunitas Generasi Rabbani.


Oleh : Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA (Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

MUQADDIMAH

Dua stressing paling mendasar dalam judul ini adalah; bentuk pemerintahan yang dibangun Jokowi dialihkan dari konsep demokrasi kepada praktik monarkhi dan model monarkhi yang dibangun tersebut kini sedang berada di simpang jalan. Sebahagian orang menafsirkan pembangunan model monarkhi tersebut sebagai politik dinasti yang memberikan dan mengutamakan jabatan-jabatan utama kepada anggota keluarganya seperti anak, menantu, ipar, kawan dekat dan seumpamanya. Praktik ala monarkhi tersebut selain tidak selaras dengan tuntutan zaman hari ini juga menyimpang dari konstitusi.

Karena konstitusi itu menjadi dasar dan sumber hukum paling utama dalam sesuatu negara maka siapa saja yang melanggarnya akan menerima ganjaran yang fatal baik selama masih berkuasa atau ketika sudah tidak lagi berkuasa. Konsekwensi tersebut sering terlupakan oleh seseorang yang sedang mabuk kekuasaan sehingga dia lupa diri untuk menegakkan aturan konstitusi, termasuklah apa yang sedang terjadi terhadap  seorang Jokowi hari ini. Akibat dari lupa diri tersebut ia akan berhadapan dengan kondisi yang sangat merisaukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kerisauan tersebut boleh saja berada pada dua sisi kemungkinan; kemungkinan pertama, kalau Jokowi berhasil menurunkan dan mempertahankan sistem monarkhi melalui politik dinasti maka negara akan terjual, rakyat dan bangsa akan teraniaya dan terhina. Prediksi ini didukung oleh sepak terjang Jokowi selama ini yang dengan jelas dan terang menghadirkan rakyat negara Tiongkok secara beramai-ramai kesini sehingga sektor industri dan perekonomian dikuasai mereka. Sementara rakyat tempatan banyak yang tidak punya kerja, kalaupun bekerja hanya sebagai satpam atau pekerja untuk kaum pendatang sahaja.

Kemungkinan kedua; politik dinasti dan sistem monarkhi yang dibangun Jokowi akan menelan dan memakan Jokowi sendiri bersama dengan anggota keluarganya semua yang selama ini terkesan brutal terhadap rakyat dan bangsa. Kalau kemungkinan ini yang terjadi maka ia didukung oleh bukti-bukti yang sedang berkembang sa’at ini, rakyat dari berbagai komponen dengan terang-terangan menabuh gendang pemakzulan Jokowi, ada petisi 100 yang sedang bekerja keras untuk memakzulkannya, ada pula pihak pakar hukum yang menggugat ijazah palsu Jokowi dan ada para penggugat sikap berat sebelah KPU yang meloloskan cawapres belum cukup usia sesuai ketentuan konstitusi dan perundangan negara. Semua itu akan bermuara kepada huru hara pada suatu masa, tinggal kita tunggu saja kapan masa itu tiba, berpandulah kepada pengalaman Filipina terhadap Ferdinan Marcos, Iran terhadap Syah Reza Pahlevi, Rumania terhadap Nicolae Ceaușescu, Yaman terhadap Ali Abdullah Saleh dan sebagainya.

KERAJAAN JOKOWI

Kerajaan yang dibangun oleh Jokowi tersebut betul-betul bercorak monarkhis dari sudut pandang praktis. Minimal ada dua ciri monarkhi yang terdapat dalam sistem pemerintahan yang dibangun Jokowi tersebut; pertama, Jokowi menempatkan orang-orang dekatnya pada posisi-posisi strategis dalam negara sehingga orang yang ditempatkan tersebut mau membelanya habis-habisan termasuk mendobrak konstitusi; yang kedua Jokowi mengkondisikan suasana dalam Pilkada agar anak dan menantunya menang jadi kepala daerah seperti di Solo dan Kota Medan serta telah lama mempersiapkan jatah ketua umum sebuah partai untuk puteranya juga sebagai senjata politik monarkhis.

Selain membangun sistem pemerintahan monarkhis Jokowi juga telah berhasil membangun sistem pemerintahan Komunis dengan menjerat sejumlah ketua partai politik dan menjebak sejumlah tokoh dengan rekayasa korupsi sehingga mereka yang terjebak tidak boleh tidak melainkan harus ikut dan tunduk patuh kepada perintah Jokowi. Banyak ketua partai dan tokoh masyarakat yang dengan ikhlas rela menjadi jongos Jokowi dengan menggadai marwah, digniti dan harga diri. Yang paling parah kondisi semisal  ini terjadi terhadap tokoh-tokoh muslim yang berpendidikan tinggi sehingga berpengaruh prilaku jongos tersebut terhadap mayoritas rakyat dalam negara.

Satu hal yang sangat menyedihkan ummat Islam yang mayoritas di Indonesia dilakukan Jokowi adalah; Ketika dia maju menjadi calon Walikota Solo berpasangan dengan non muslim, Ketika maju menjadi calon gubernur DKI juga berpasangan dengan non muslim radikalis dan Ketika maju menjadi calon presiden memilih orang-orang lembut sebagai calon wakilnya untuk memudahkan ia berbuat sesukanya. Hasil dari itu semua selama dua periode manjadi presiden RI, Jokowi menempatkan banyak non muslim pada deretan Menteri, badan dan Lembaga-lembaga tertentu, kalaupun muslim yang diberi posisi tapi muslim itu yang lebih dekat kepada pemahaman sekuler, liberal dan plural sehingga kebijakan yang diambil cenderung tidak menguntungkan banyak kepentingan mayoritas muslim.

Sementara praktik politik dinasti yang dilakoni Jokowi sudah jelas sekali bertentangan dengan konstitusi seperti mengkondisikan Mahkamah Konstitusi yang diketuai adik iparnya Anwar Usman untuk mengesahkan puteranya yang belum cukup umur menjadi calon wakil presiden, melakukan cawe-cawe untuk kepentingan capres/cawapres, membagi-bagikan bansos dari kas negara untuk kepentingan capres/cawapres yang didukungnya, menempelkan gambar capres/cawapres pada beras, mireng yang dibagikan kepada masyarakat sebagai bantuan sosial dari negara dan banyak pelanggaran lainnya.

Perombakan dan pewujudan undang-undang negara untuk kepentingan kaum nasionalis-sekularis-komunis yang dilakukan Jokowi seperti Omnibus Law, RUU.HIP, UU.IKN, UU penunjukan gubernur oleh presiden sangat melukai hati anak bangsa Islam di negeri ini. Semua itu terjadi atas keinginan nafsu seorang panglima politik dinasti yang bernama Jokowi karena seorang kepala negara itu berfungsi sebagai panglima tertinggi dalam sesuatu negara. Ketika panglima tertinggi bertitah maka semua panglima lainnya harus ikut dan tunduk patuh kepadanya, itulah yang sedang terjadi di negara RI hari ini.

Dengan dua model pembangunan sistem kerajaan plus satu sistem komunis tersebut Jokowi berada di atas angin seperti lelayang yang sedang dihembus angin kencang. Semua orang tau kalau lelayang itu bisa terbang karena ada angin yang menghembusnya secara kencang. Demikian juga hampir semua penghuni negeri ini tau kalau Jokowi bisa bertahan karena ada dalang-dalang yang menopangnya sehingga ia bisa bertahan di posisi jabatan. Namun demikian janganlah kita lupa baik angin maupun dalang-dalang itu ada masanya menantang dan ada masanya tumbang,

Ketika arah angin berputar yang berlawanan dari sebelumnya maka lelayang yang tadinya naik kencang keatas awan akan segera tumbang, atau ketika angin sudah tidak lagi berhembus maka sulit lelayang itu dipertahankan harus tetap terbang. Demikian juga dengan posisi para dalang yang hanya mau bertahan manaka masih mendapatkan materi dari sang tuan dan masih memungkinkan dipertahankan karena belum ada tantangan yang membahayakan. Ketika tantangan demi tantangan itu datang menerpa sang majikan maka seorang demi seorang para dalang akan meninggalkan landasan termasuklah para buzzer yang selama itu bekerja habis-habisan atas dasar bayaran. Suasana seperti itu sudah sangat dekat sekali dan sedang menghinggapi sang raja politik dinasti.

DI SIMPANG JALAN

Perumpamaan simpang jalan itu ada empat cabang dan seseorang sedang berjalan dari satu arah menuju simpang, maka ia dihadapkan kepada tiga pilihan; ia berjalan lurus menuju kedepan, berbelok kekiri atau berbelok kekanan. Dalam filosofi kehidupan seseorang insan menuju jalan lempang itu bermakna ia masih bisa berkegiatan yang selama ini dilakukan, kalau ia memilih jalan kekanan berarti itu berusaha hendak menemui syurga tuhan karena itu menjadi sasaran dalam kehidupan, tetapi kalau dia berbelok kekiri mengandung makna ia sedang menambah permasalahan dalam kehidupan yang berakhir dengan tenggelam dalam neraka jahannam.

Walaubagaimanapun, Al-Qur’an hanya menawarkan dua pilihan, kiri dan kanan dan tidak ada jalan lempang dalam kasus penerusan dosa bagi seseorang, boleh jadi arah lempang itu tidak akan berkesudahan seperti orang-orang yang haus jabatan. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (Al-Balad; 17-20)

Adapun Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 153 yang artinya: dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. Kandungan tafsir ayat ini menegaskan bahwa Islam itu jalan yang lurus maka Allah perintahkan hambanya untuk senantiasa berada dalam Islam dan jangan bercerai berai. Adapun ayat enam dalam surat Al-Fatihan: Tunjukilah daku jalan yang lurus, merupakan do’a yang meminta Allah tetap menetapkan hambanya dalam iman dan Islam sebagai jalan yang lurus.

Cukup sangat jelas pembagian jalan dalam Al-Qur’an yang hanya memiliki dua pilihan; kiri dan kanan dan tidak ada jalan lempang karena jalan lempang itu tidak berkesudahan melainkan berhadapan dengan kehancuran. Manakala seseorang terus memaksa diri untuk menelusuri jalan lempang untuk terus berbuat kesalahan bermakna ianya sedang mempertahankan sebuah kekuasaan dengan menghalalkan segala cara sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para diktator di dunia. Sejarah telah mengingatkan kita dengan kisah Namrut di Babilonia yang tidak terkalahkan tetapi Allah kirim seorang hamba dha’ifnya bernama Ibrahim yang mampu menghancurkannya, kisah Fir’aun di Mesir yang berkuasa bukan hanya sebagai seorang raja melainkan menobatkan diri sebagai tuhan dan tidak ada yang mampu menantang, tetapi ketika Allah utuskan seorang Musa lemah kekuasaan tetapi kuat imannya mampu melenyapkan kekuasaan Fir’aun di sana, kisah Syah Reza Pahlevi di Iran yang tidak mampu diturunkan dari jabatan kekuasaan oleh rakyatnya, tau-tau ia diturunkan oleh seorang tua renta bernama Khumaini, kisah Ferdinan Marcos di Filipina yang terus memilih jalan lempang tidak mau turun dari jabatan dan tidak mau membelok kekanan, akhirnya seorang janda Bernama Corazon (Qory) Aquino yang mengakhiri kekuasaannya, kisah Nicolae Ceaușescu yang berusaha keras tetap menjadi penguasa di Rumania dan tidak ada pihak yang mampu mengalahkannya, akhirnya para polisi dan tantara yang sebelumnya sangat loyal kepadanya, merekalah yang mengeksekusinya Bersama isterinya Elena.

Di Indonesia ada Soekarno yang gagah berani dan pandai mengsunglap pemikiran tokoh-tokoh muslim sehingga diangkat menjadi presiden seumur hidup, partai yang tidak disukainya seperti Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dimakamkan hidup-hidup, terkesan tidak ada yang mampu menurunkannya dari kursi presiden pertama Indonesia, tetapi akhirnya hasil karyanya sendiri yang membuat dia hilang kursi presiden. Soeharto yang terkenal dengan manajemen militernya sulit diprediksi akan jatuh dari kursi presiden, sejumlah jenderal berupaya menurunkannya tetapi selalu gagal, namun akhirnya ia tumbang oleh kerja kikhlas anak-anak mahasiswa. Demikianlah kisah-kisah masa lalu yang terus akan terjadi di masa depan terhadap rezim yang berbeda dan tempat yang beragam, lalu bagaimana dengan rezim Jokowi yang sedang nyenyak dengan politik dinasti? Insya Allah sebentar lagi ada jalan keluarnya

Konsep Al-Quran tentang simpang jalan hanya ada tiga cabang manakala kita artikan seseorang sedang berjalan kearah simpang, dia akan berhadapan dengan simpang kiri dan simpang kanan dari arah yang ia lalui. Oleh Al-Qur’an menyebutnya ashhabul yamin (golongan kanan) dan ashhabusy syimal (golongan kiri). Lalu dalam posisi upaya Jokowi menghadirkan sistem monarkhi melalui politik dinasti, kemanakah arah yang mau dituju? Dan dari manakah ia berlalu? Akankah ia berlalu dari satu arah jalan menuju simpang empat atau menuju simpang tiga? Kalau jawabannya ia sedang melalui simpang empat maka ia mempunyai tiga pilihan dan tentunya dia tidak akan memilih dan membelok kekiri atau kekanan melainkan terus berlalu melewati jalan lurus menuju titik tujuan yang bernama singgasana monarkhi yang ditempuh melalui jalur politik dinasti.

Sebaliknya apabila ia sedang berada di simpang tiga maka ia tidak punya jalan tengah dan tidak punya jalan lain selain belok kiri atau belok kanan. Ketika kita padankan arah kepemimpinannya dengan arah konstitusi negara Indonesia maka posisi Jokowi sa’at ini sedang berada di simpang tiga yang mengharuskan dia memilih salah satu di anntara dua; kiri atau kanan. Dalam prediksi tokoh bangsa hari ini Jokowi enggan memilih simpang kanan dan senang menuju simpang kiri. Kalau benar Analisa ini berarti kita tunggu waktu saja ia akan menambah deretan penguasa yang telah mendahuluinya untuk ia ikuti dan rasakan sebagaimana yang telah mereka rasakan, baik kasus-kasus di Indonesia maupuun yang di luar negeri.

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (Al-Balad; 17-20)

Karya kecil ini coba mengarahkan para penguasa untuk menjadi golongan kanan melalui kalam-kalam dakwah sebagai peninggalan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dengan harapan yang merasa telah menyimpang kekiri segeralah berbelok kekanan. Yang sedang nyenyak melewati jalan lurus harus sadar bahwa jalan lurus itu akan menemui titik buntu, manakala terperogok di titik buntu maka sulit bagi dirinya untuk balik kebelakang mencari jalan menuju arah kanan. Untuk itu dari sekarang sebelum terlalu terlambat segeralah berbelok kekanan dan jangan mengikuti arahan dan tuntutan para dalang. Yakinilah para dalang tetap merapat manakala ia masih dapat syafa’at, tetapi Ketika mereka merasa jenuh apalagi tidak mendapat syafa’at maka mereka akan lari dari lapangan perjuangan. Wallahu a’lam…


Oleh Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Adanya penolakan pendaratan kaum imigran Rohingya di beberap tempat  di Aceh adalah sangat menyedihkan dan menyayangkan mereka karena mereka setelah terhempas di laut lepas selama beberapa hari ditambah lagi dengan pengusiran di daerah-daerah yang mereka anggap bisa melepaskan keletihan mereka selama beberpa saat  (bulan dan tahun). Mereka orang yang diusir oleh pemerintah Kafir Budha dan kemudian diambil negerinya oleh penjajah Budha.

Tidak ada tempat bagi mereka lagi untuk tinggal, mencari makan, menyekolahkan anak-anak mereka dan  bersenag ria dan berbahagia. Pupuslah harapan mereka untuk hidup layak seperti manusia lainnya dan kini dialami pula  oleh saudara kita  ummat Islam Palestina di Gaza.

Tetapi saya ada membaca dalam  al-Qur’an dan beberapa  Hadis Rasulullah saw tentang persaudaraan Islam, siapa saudara kita dan siapa musuh ummat Islam  namun  yang jelas mereka orang Islam Rohingya bukan musuh ummat Islam walau mereka memiliki berbagai kekurangan, memang wajar karena mereka adalah ummat yang terusir dari negeri mereka sendiri sehingga  bisa  saja menimbulkan berbagai macam kejanggalan dan  keterbatasan pada diri mereka. Akibat dari penderitaan yang mereka rasakan berbulan-bulan  dan bertahun-tahun hidup dalam pengungsian, mungkin  saja peradaban dan tradisi serta akhlak-pun bisa bergeser.

Berbicara yang benar, mereka adalah penyembah Allah yang Esa, dan mengaku ummat Nabi Muhammad saw.  Cuma nasib mereka yang kurang  beruntung  karena sewaktu mereka  diserang, dibunuh, diusir tidak satupun ummat Islam di belahan dunia ini yang mau menolong mereka, kalau orang Yahudi yang minoritas di tengah-tengah negeri kaum Muslimin Arab, mereka banyak penolongnya dan banyak pula yang  mengakui kebiadaban mereka terhadap ummat Islam  sebagai kebenaran. Inilah yang membedakan antara  Rohingya dan Yahudi Israel.

Kini nasibnya  sedang dirasakan oleh  saudara kita di Palestina karena kebiadaban Pemerintah Yahudi Zionis laknatullah. Jika ummat Islam di dunia ini membiarkannya, maka negara Palestina juga akan dirampas oleh Yahudi Zionis.

Apakah orang Rohingya ini karena berkulit hitam, beragama Islam, atau karena membebani  atau menyengsarakan kita jika mereka berada disini? Tidakkah kita berfikir jernih,  mereka adalah musafir dan kaum muhajirin sementara kita adalah kaum ansar jika kita memakai bahasa itu?  Mungkin banyak orang asing lain di negeri ini yang sudah mati paspor atau habis izin tinggal, tetapi ada tempat-tempat tertentu mereka ditampung kok?

Kita bisa melihat ketika Suriah dilanda perang, Libiya dilanda perang dan Irak dilanda perang, hampir saban hari ummat Islam berbondong-bondong exodus ke Eropa, masuk ke Itali, German, Belanda, dan negara-negara Scandinavia, namun  mereka tidak diusir dan tidak pernah kita lihat mahasiswa mereka datang mengusir mereka dan melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan oleh orang yang berakhlak mulia, bertuhan Allah dan bernabi-Muhammad saw. Itu urusan pemerintah mereka dan  mereka ditampung  atau diberi tempat sementara, kemudian pihak UNHCR mencari dunia ketiga secara bertahap untuk memindahkan mereka. Namun ada juga yang dibiarkan menetap di negara Eropa atas hasil negosiasi puhak UN.

Mengutip pernyataan Ketua MPU Aceh Tgk. H. Faisal Ali (Abu Sibreh), dalam Serambi Indonesia , Kamis 23 November 2023, beliau tidak setuju pengusiran atau penolakan Muslim Rohingya yang mendarat pesisir Aceh. Karena menurut beliau masyarakat Aceh tidak memiliki sifat yang demikian karena mereka juga ummat Islam dan perlu dibantu walau hanya beberapa bulan  atau tahun.

Namun menurut Abu Sibreh  kemungkinan besar ada pihak-pihak tertentu yang mengusir mereka untuk  mendarat di Aceh. Coba dibayangkan, mereka terdiri dari anak-anak, wanita dan juga orang tua. Dan umumnya mereka tidak lagi  berpendidikan karena sudah sekian lama dalam pengungsian. Mungkin kita dulu pada masa konflik juga mengalami nasib yang sama seperti Rohingya, bedanya kita hanya melarikan diri buat sementara dan ketika situasi sudah aman kita bisa pulang kembali. Namun yang paling menyedihkan, mereka tidak tahu lagi mau kembali kemana? Negeri mereka sudah dirampas oleh junta militer Budha Miyanmar, tempat tinggal mereka dibakar semuanya, dan semuanya mereka tidak punya apa-apa.  Yang paling biadab adalah ini terjadi  di zaman modern yang semua orang sudah beradab dan berilmu, tetapi masih ada perlakuan drakula di dunia ini.

Kita mungkin tahu bahwa mereka bukan untuk selamanya di sini, cuma sambil menunggu UNHCR memindahkan mereka ke dunia ketiga secara step by step. Kalau kita berbuat buruk kepada orang, mungkin suatu saat keburukan atau kesedihan serupa akan kita rasakan juga lambat atau cepat. Kalau kita buka Al-Qur’an  Surat Al-Hujurat ayat 10. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu  mendapat rahmat.”

Mereka adalah saudara kita seiman, seakidah, mungkin tidak salah kalau kita membantunya atau menolongnya karena hampir semua orang tahu bagaimana nasib mereka, apakah karena mereka Islam, lalu kita enggan menerimanya?

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda yang artinya: Sikap seorang mukmin terhadap mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan yang bahagian-bahagiannya saling menguatkan satu sama lain.(H. R. Muslim)

Dalam hadis berikut Rasulullah saw bersabda yang artinya: Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam kecintaan, kasih sayang antara sesama mereka, ibarat seperti satu tubuh.  Apabila ada satu anggota badan yang sakit (mengeluh), maka seluruh tubuhnya tidak bisa tidur dan merasa demam.  (H.R.

Jika kita merenungkan ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw, mungkin siapapun kita akan merasa  terbebani dengan tanggung jawab ini karena mereka melarat, sengsara,  sedih, dan diperbodohkan oleh bangsa-bangsa besar dan bangsa beradab yang tidak berdab, kalau bukan sesama muslim, siapa yang akan menolong mereka? Coba lihat Al-Qur’an ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah firman Allah yang artinya:”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama  mereka…  Contoh yang paling jelas Palestina sudah 25 ribu (Dua Puluh Lima Ribu lebih) orang Islam dibantai Israel, yang paling banyak adalah anak-anak dan wanita, tetapi coba lihat dunia mana yang membantu mereka. Bukankah ummat Islam semuanya? Lihat Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, India, Singapura, Thailand, Miyanmar, Filipina, dll semua membela Israel untuk  menggenosidakan ummat Islam Palestina, dan merampas negerinya. Ini yang perlu dicamkan, direnungkan, dan dipikirkan oleh orang-orang yang memiliki hati nurani dan takut kepada Allah.

Kita tidak perlu ikut Demokrasi dan Hak Azasi yang didengung-dengungkan oleh Barat karena  apa yang ada dalam otak mereka adalah demokrasi dan Hak Azasi Manusia adalah untuk kalangan mereka sendiri dan bukan untuk ummat Islam.  Lihat negara-negara demokrasi mana yang membela hak Muslim Rohingya, negara-negara pengusung  HAM mana yang membela hak Muslim Rohingya, demikian pula apa yang terjadi di Palestina, Muslim di India dan di Afrika. Kita sudah muak dengan slogan-slogan kosong yang tidak ada realisasinya, semakin hari-hari merajalela pelanggaran  hak hidup manusia oleh Barat yang mengklaim diri mereka beradab, padahal kalau kita rasakan dan kita lihat saban hari ummat Islam menjadi sarapan mereka, dan yang paling  menyedihkan lagi  apa yang dilakukan oleh Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin, diamini oleh para penguasa negeri-negeri Muslim dan segelintir muslim juga.  Lihat contoh Mislim Rohingya yang ingin mendarat untuk kesekian kalinya di daratan Aceh, mereka dihalau ke laut lepas.

Padahal  menurut Kepala  Staf Angkatan Laut  (KASAL) Indonesia Laksamana  TNI  Muhammad Ali  mengatakan bahwa pengungsi Rohingya di Aceh  ditangani oleh  Komisioner Tinggi  Perserikatan Bangsa-Bangsa  untuk Pengungsi (United Nations High Comissioner for Refugees-UNHCR).  Ini disebabkan karena mereka mengungsi akibat perang ataupun  penindasan  dan sebenarnya tidak boleh dihalang-halangi. Demikian  pernyataan KASAL  saat dikonfirmasi oleh  RRI.co.id seusai  menerima  gelar adat  dari Kesultanan Ternate, Selasa  tanggal 12  Desember 2023.

Mungkin apa yang telah terjadi di Aceh dan juga di Palestina serta di negara-negara lainnya bisa menjadi pelajaran penting bagi ummat Islam dalam mensikapi persolan pengungsian, persoalan perlindungan dan bantuan  terhadap orang-orang lemah, orang-orang terdhalimi  dan orang-orang tertindas. Ingatlah  firman Allah dalam  al-Qur’an  dan hadis-hadis Rasululllah saw tentang sifat-sifat orang mukmin  terhadap mukmin yang lain, apa yang harus kita lakukan, dab bagaimana membantu orang-orang yang menderita dan terdhalimi.  Akan tetapi kalau kita merasa diri bukan orang mukmin, maka tidaklah terbebani dengan persoalan-persoalan ini, biarkanlah berlalu apa yang seharusnya terjadi, anggaplan ini kita hidup di negeri akhirat yang setiap orang harus  mengurus dirinya sendiri.

Prof. Dr.  Muhammad AR. M. Ed

Guru Besar Pendidikan Islam, UIN Ar-Raniry

 

Oleh Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed

A. Pendahuluan

Sudah menjadi kebiasaan yang kita lihat bahwa pemikiran seseorang seringkali dipengaruhi oleh pemikiran dan aktivitas gurunya (pendidiknya). Jika guru itu baik, lemah lembut, berilmu dan berwawasan luas, maka harapan kita adalah murid-muridnya nanti akan menjadi ulama, pemikir, dan inteletual Muslim yang bertanggung jawab baik kepada Allah Yang Maha Kuasa ataupun bertanggung jawab kepada ummat. Mereka akan menjadi leader (pemimpin), atau seorang pemikir dalam masyarakat dan ia pula akan menjadi orang yang menyenangkan di manapun ia berada karena eksistensinya, pemikirannya, keahliannya dibutuhkan ummat. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk belajar atau menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan di tempat yang jauh dari kampung halamannya dan dengan berguru atau belajar kepada banyak orang (banyak ulama). Coba bayangkan kalau seseorang hanya berguru kepada beberapa orang guru (pendidik) yang hanya belajar di level tingkat rendah, tidak jauh dari tempat tinggalnya, maka apa yang terwariskan kepada murid-muridnya.

Dengan menuntut ilmu, kita akan merobah diri pribadi menjadi orang alim dan pendidik yang propessional. Pendidik atau guru itu merupakan tokoh yang memikirkan tentang pendidikan bangsa dan kelangsungan hidup generasi muda yang akan mengemban tugas-tugas kenabian dan tugas ulama. Dengan ilmu yang dimilikinya dan loyalitas terhadap Penciptanya, maka ia tergolong dalam barisan para pemikir yang selalu merenung Kemahakuasaan Allah. Pemikir itu adalah ulul albab, mereka adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah dimanapun ia berada dan tidak terbatas oleh dimensi waktu serta selalu memikirkan yang telah diciptakan Allah. Makanya pemikir selalu tafakkur terhadap keagungan Pencipta.

Dalam Pendidikan Islam, guru atau pemikir itu memiliki tugas mulia sekali karena mereka bekerja, kadang-kadang siang dan malam hanya untuk memikirkan bagaimana orang yang diajarnya atau yang dididiknya suatu saat nanti akan menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa dan tanah air. Banyak energi yang dihabiskan demi melahirkan manusia-manusia yang istiqamah (idealis) dan pembela agama Allah. Inilah bahagian dari kerja pemikir yang selalu memberi perhatian kepada nasib bangsa. Memang para pendidik tidak terlalu jauh dan muluk-muluk keinginannya atau azamnya kepada setiap anak didiknya. Mereka (para pendidik ) senang dan bahagia jika muridnya berhasil dan menjadi orang yang berguna di dalam masyarakat, konon lagi kalau muridnya menjadi pemimpin masyarakat baik pemimpin formal atau pemimpin informal serta pemimpin bangsa sekalipun. Namun semua ini akan lahir orang-orang cerdas dan bermoral tinggi jika guru-guru atau pendidik mereka semua memiliki integritas dan jatidiri sebagai guru pejuang dan pemikir kehidupan anak bangsa.

Allahyarham Pak Dr. Mohammad Natsir (mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia atau mantan Perdana Menteri RI) sangat yakin akan keberhasilan pendidikan Islam di Indonesia jika kampus, masjid dan pesantren bersatu padu memikirkan ummat. Jika tiga institusi ini benar-benar mengesampingkan perbedaan dan mengutamakan Islam dan ummat Islam, maka pendidikan Islam akan berhasil dilaksanakan dengan menghasilkan manusia-manusia yang sesuai dengan harapan ummat.

Pak Natsir seorang pejuang, pendidik ummat, seorang da’I dan tokoh pemikir ummat serta penerus cita-cita Rasulullah khususnya dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia. Beliau sebagai guru dan pendidik ummat yang pergi ke seluruh dunia terutama sekali ke Timur Tengah dalam rangka memperkenalkan ummat Islam Indonesia dan persoalan ummat, sehingga banyak donator dan para muhsinin tidak segan-segan membantu umat Islam Indonesia dalam bidang apa saja. Namun Pak Natsir tidak pernah mengatasnamakan untuk pribadinya. Beliau pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Pendiri Partai Masyumi, Rumah Sakit Islam di Padang (Yarsi), Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan sebagainya. Semua itu bukanlah miliknya dan tidak pernah mewariskan kepada keluarganya tetapi hingga sekarang menjadi milik ummat.

B. Pemikir Pendidikan Islam

Para pemikir Pendidikan Islam menulis beberapa hal tentang tugas dan tujuan para pencari ilmu adalah supaya kondusif terhadap agama; membangun kecerdasan manusia; menjadi sahabat dikala sunyi; bermanfaat terhadap masyarakat; dan dapat mendatangkan uang (penghidupan). Disini yang paling diutamakan bahwa pendidikan dan ilmu itu harus dapat membela agama, bukan mendiskreditkan agama, berusaha agar manusia keluar dari kebodohan dan ilmu itu bisa menjadi kawan atau sahabat ketika dalam kesunyian dan kesendirian, ilmu dan pendidikan itu dapat dinikmati manfaatnya oleh manusia, bukan gara-gara kita menuntut ilmu sehingga masyarakat tambah membingungkan, terakhir dengan ilmu dan pendidikan manusia dapat menopang kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

Pendidikan Islam adalah sebuah system yang dikembangkan dan disemangati atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam menurut Musthafa al-Ghulayaini, bahwa upaya menanamkan nilai-nilai akhlak mulia ke dalam jiwa anak ketika masa pertumbuhannya dan memasukkan nilai-nilai kemuliaan, petunjuk, dan bimbingan, cinta kerja dan cinta tanah air serta mencintai kebaikan dan kejujuran. Jika kandungan atau isi kurikulum pendidikan Islam tidak membangkitkan roh Islam dan tidak berdasarkan pada nilai-nilai Islam, maka kurikulumnya harus disempurnakan. Kurikulum itu sudah seharusnya dapat mengakomodir segala kebutuhan ummat terutama sekali mereka yang berada dilingkungan Lembaga pendidikan.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Naquib Al-Attas dalam pengantarnya untuk buku Aims and Objectives of Islamic Education, bahwa beliau mengatakan “It is true that the Muslim mind is now undergoing profound infiltration of cultural and intellectual elements alien to Islam.” Mungkin salah satu tantangan besar ummat Islam sekarang adalah adanya serbuan pemikiran-pemikiran asing yang merusak pendidikan Islam lewat budaya dan pemikiran sekuler dan liberal hingga terkontaminasi kaum intelektual Muslim. Tidak berlebihan kalau dikatakan, bahwa perang bersenjata jauh lebih ringan dibandingkan perang pemikiran yang sangat membahayakan ummat. Perang pemikiran dapat meruntuhkan agama, menghancurkan peradaban dan kebudayaan suatu bangsa.
Seorang pendidik Islam, Fu’ad al-Shalhub telah menjabarkan beberapa sifat Rasulullah sebagai guru atau pendidik dalam pendidikan Islam, yaitu ikhlas dalam bertugas, jujur dalam perkataan dan perbuatan, sesuai kata dan perbuatan (menjauhi sifat munafik), memilki sifat adil dan egaliter terhadap semua manusia, berakhlak mulia, memilki sifat tawadhu’, sifat berani, jiwa yang sehat, sifat sabar dan menahan amarah, menjaga lisan, sinergi dan musyawarah. Memang sangat pantas dan sesuai bagi setiap pendidik Islam menjadikan Rasulullah saw sebagai panduannya dalam mengajar manusia. Sehingga anak didik yang telah menjalani pendidikan bersama guru-guru yang berakhlak mulia, dan penuh tanggung jawab, serta terhindar dari virus sekularisme dan liberalisme serta pluralisme.

Prof. Dr. K.H. Yudian Wahyudi (mantan Rektor UIN Yogyakarta 2019) dan sekarang Ketua BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) mengatakan ”La ilaha Illallah ´diterjemahkan “Tidak ada sekolah kecuali NEM dan Bahasa Arab” dan Muhammadan Rasulullah diartikan “Siswa Sunan Averros harus lulus UN dengan rata-rata NEM minimal 9.5 dan Bahasa Arab 9.5” Man qaala La ilaha Illallah Dakhalal Jannah diartikan “Siswa Averous yang lulus UN dengan rata-rata NEM minimal 9.5 dan Bahasa Arab 9.5b diterima di manapun juga dan dapat beasiswa”.

Beginilah pemikiran para intelektual Muslim yang kalau kita lihat latar belakang pendidikannya sangat tergantung pada guru dan institusi di mana ia belajar. Memang seseorang murid pada umumnya mengikuti pemikiran dan pendapat para gurunya.

C. Guru yang Bermatabat

Dalam pandangan Islam guru adalah ilmuan dan muaddib (pendidik), karena tugas guru adalah menanamkan adab dan berbagai ilmu kepada anak didik. Dunia pendidikan tahu bahwa sukses dan gagalnya pendidikan tergantung kepada kualitas guru. Ada sebuah mahfuzhat yang terkenal misalnya: …wal-ustaadzu ahammu min al-thariiqah, wa ruuhul ustaz ahammu min-al-ustaz. (…guru lebih penting dari metode, dan jiwa guru lebih penting dari pada guru itu sendiri).

Memang keikhlasan, komitmen, kualitas dan keilmuan seorang guru perlu dan kita tidak menafikan banyak prestasi yang diperoleh murid karena hasil gemblengan guru semata-mata karena kesungguhannya. Itulah kadang-kadang penghargaan yang diterima oleh guru sangat menyedihkan karena tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka kerjakan. Atau lebih sering kita dengar “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun kalau ada kekhilafan dan ketimpangan yang dilakukan oleh guru spontan dan ramai-ramai menuntut dan menyalahkan. Begitulah nasib guru.

Pendidik merupakan pengarah atau pembimbing manusia terutama anak didik pada masa-masa perkembangannya. Ia mempersiapkan manusia agar bisa hidup dengan aman damai di masa hadapan yang memilki ilmu dan kepribadian yang mulia sesuai dengan petunjuk Islam. Guru atau pendidik yang bertanggung jawab serta kepeduliannya kepada anak didik karena para pendidik harus menganggap yang dididik itu adalah anak-anak mereka, bukan anak orang lain sehingga timbul kasih sayang kepada murid dan sebaliknya murid-murid-pun sayang kepada guru-guru mereka sebagaimana mereka menyayangi orang tuanya sendiri. Dengan demikian hubungan emosional antara murid dan guru selalu terbina. Ini sangat tergantung pada kurikulum di sebuah institusi pendidikan.

Pendidikan merupakan asas penting untuk sebuah peradaban, tanpa pendidikan mungkin peradaban pun akan punah (tidak akan wujud). Mungkin inilah yang membuat Rasulullah saw memilih tawanan Perang Badr yang tidak sanggup membayar uang tebusan, maka mereka disuruh mengajar anak-anak ummat Islam sebagai syarat untuk membebaskan diri. Setiap tawanan harus mengajar sepuluh orang anak-anak dalam jangka masa tertentu. Malah Umar bin Khattab, meminta semua tawanan Perang Badar itu dipenggal kepalanya saja, tetapi Rasulullah memanfaatkan jasa mereka dan memperlakukan tawanan dengan manusiawi, kelebihan yang ada sama mereka seperti membaca, menulis, berhitung, disuruh ajarkan kepada anak-anak ummat Islam. Ini artinya pada masa awal Islam guru-guru itu banyak dikalangan musyrik namaun mereka dibawah pengawasan Islam. Kemudian pada masa Umar bin Khattab memerintah (sebagai Khalifah), persoalan tatanan pemerintahan dibenahi sehingga para guru semuanya pada masa itu diberikan upah/honorarium yang dirhamnya atau dinarnya dibebankan kepada Baitul Mal. Kepada para ustad, guru, syaikh, atau mauddib akan mendapat upah setiap bulan sebagai kepedulian negara terhadap mereka (para pendidik).

Pada masa Umar bin Khattab nasib guru yang mengajar di Kuttab (madrasah) sangat diperhatikan kehidupannya, dan kepada mereka diberikan jerih payah dari Baitul Mal. Salah satu guru legendaris pada masa itu adalah ‘Amir bin Abdullah al-Khuza’I, yang disuruh mengajar anak-anak kaum muslimin oleh Khalifah Umar bin Khattab. Sehingga pada masa Umar bin Khattab, banyak tokoh dan ilmuan yang lahir dari kuttab misalnya dari golongan lelaki dan peremuan, ‘Atha bin Abi Rabah, Az-Zuhri, Asy-Syifa bintu Abdullah al-Adhawiyah, Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Ini artinya bahwa negara harus memperhatikan nasib guru karena tugas mereka sangat berat, dan menantang khususnya dalam mempersiapkan generasi muda sebagai bakal calon pemimpin di masa depan. Kalau guru tidak serius dan tidak memiliki sifat-sifat yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat, sudah pasti risalah atau messej yang kan sampaikan kepada masyarakat tidak akan tersampaikan.

D. Pemikir Kurikulum Pendidikan Islam

Para pemikir atau thinkers dalam sebuah organisasi seperti sekolah atau Lembaga pendidikan Islam adalah sangat diperlukan keterlibatan mereka dalam rangka merancang, mengembangkan serta mengevaluasi sebuah kurikulum pendidikan. Memang kita mengakui kurikulum pendidikan Islam itu sudah baku, namun perlu renovasi hal-hal yang menyangkut kebutuhan masyarakat dewasa ini.

Kita tidak hidup pada zaman permulaan Islam yang sudah pasti kebutuhan pada waktu itu dan keperluan masa sekarang sungguh sangatlah berbeda. Mungkin selain dari persoalan ketauhidan, tatacara ibadah, dan banyak hal yang perlu diperhatikan agar kehidupan masyarakat di zaman modern ini tidak terpenuhi.

Kurikulum adalah manhaj atau sebuah pedoman yang didalamnya disebutkan apa yang harus dilaksanakan dan yang tidak boleh dilakukan. Bahasa yang ringkas adalah segala mata pelajaran, atau aturan yang akan dijalankan pada waktu tertetentu yang berlaku di dalam sebuah institusi, itu dianggap kurikulum. Kurikulum ini ada sifatnya tertulis dan ada pula yang sifatnya tersembunyi (hidden Curriculum), atau kurikulum ada yang tersurat atau tersirat, tetapi harus dipatuhi selama kita berada dalam lingkungan tersebut. Misalnya di lingkungan pesantren, ada kurikulum yang tersurat dan ada pula yang tersirat, keduanya sama penting dan harus diikuti oleh siapa saja yang berada dalam lingkungan itu.

Pembentukan kurikulum Islam perlu menghadirkan banyak orang yang memiliki berbagai kemahiran namun dalam hal ini kalau diikut sertakan para politisi boleh-boleh saja tetapi harus hati-hati karena mereka tidak bisa melepaskan diri dari kepentingannya, dan kepentingan kelompoknya. Kalau tokoh agama, stakeholder, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pegiat pendidikan, memang harus dilibatkan karena yang menikmati hasil pendidikan adalah mereka. Hidup di zaman millennium ini sungguh sangat berbeda dengan zaman dahulu kala, kebutuhan manusia dahulu sangat berbeda jika dibandingkan sekarang ini, yang tidak berbeda hanya dari segi ibadat atau tauhid, kalau yang lain semua sudah berubah. Oleh karena itu para pemikir Islam harus benar-benar menghayati dan merenungkan agar konten kurikulum harus disesuaikan dalam batas-batas tertentu.

Pada intinya kurikulum pendidikan Islam adalah bagaimana menanamkan adab ke dalam diri anak didik agar mereka memiliki mlndasan keimanan yang tangguh, keteladanan, pembiasaan yang baik dan benar, dan berusaha agar tidak melanggar hukum. Konsep adab atau akhlak mulia lebih mendasar jika dibandingkan dengan konsep karakter yang tidak menyandarkan pada ketauhidan dan keimanan. Memang kita akui bahwa pendidikan karakter yang dianut oleh bangsa Jepang, Korea Selatan, Cina dan lain-lain telah begitu unggul dalam mencintai kerja, cinta kejujuran, cinta kebersihan, namun dari segi ketauhidan, ketundukan dan ketaatan kepada Pencipta (Tuhan) sangat minim.

Wassalam


Oleh : Afrizal Refo, MA

Alhamdulillah kita telah memasuki Bulan Rajab tanggal 13 Januari 2024 artinya tidak lama lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan.

Bulan Rajab diyakini sebagai bulan yang sakral dan penuh keistimewaan dan juga salah satu dari 4 bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.

Selain penuh keberkahan, bulan Rajab juga dikenal sebagai bulan terjadinya peristiwa penting dalam Islam. Di bulan ini, Rasulullah untuk pertama kalinya mendapat perintah untuk menegakkan shalat 5 waktu. Keistimewaan bulan Rajab ini tentunya tak boleh terlewatkan.

Keistimewaan bulan Rajab dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Berikut bunyi ayat dan hadisnya:
Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW bersabda:
“Setahun ada dua belas bulan, empat darinya adalah bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. At Taubah: 36
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Rajab adalah satu dari empat bulan suci, termasuk Muharram, Zulkaidah, dan Zulhijah. Dalam bulan ini diharamkan melakukan pertempuran. Pada bulan ini umat Islam diharamkan berbuat maksiat. Rajab bersama dengan Syabān adalah awal dari bulan suci Ramaḍhan.

Keistimewaan bulan Rajab
1. Peristiwa Isra Mikraj
Rajab merupakan bulan di mana Isra Mikraj berlangsung. Isra Mikraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian ke sidratul muntaha untuk bertemu Allah dan mendapat perintah menjalankan shalat 5 waktu. Kisah tersebut terjadi pada suatu malam pada tanggal 27 Rajab.

2. Bulan tercurahkan banyak nikmat
Rajab juga dikenal sebagai ‘Rajab al-Asabb’ atau ‘Rajab yang Melimpah’. Ini karena Allah mencurahkan banyak berkah dan nikmat-Nya di bulan ini, serta rahmat-Nya yang melimpah. Rajab juga dikenal sebagai Bulan Tawbah (taubat) dan Bulan Istighfar (memohon ampun).

3. Bulan tanpa perang
Rajab adalah bulan kedua dari bulan suci dan oleh karena itu haram untuk berperang atau terlibat dalam konflik selama waktu ini. Selama bulan Rajab, Allah melarang berlangsungnya peperangan. Rajab disebut juga ‘Rajab al-Asamm’ , yang berarti ‘Rajab yang Membungkam’. Hal ini karena siapapun tidak dapat mendengar peperangan pedang selama Rajab, karena pertempuran dilarang.

4. Bulan memohon ampun
Para ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan untuk memohon ampun, Sya’ban adalah bulan untuk mendoakan Nabi Muhammad SAW, dan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Di bulan Rajab, Allah membebaskan manusia dari neraka setiap jamnya. Rajab adalah bulan yang sangat baik untuk bertaubat. Sebesar apapun dosa yang dilakukan jika bertaubat dengan ikhlas, maka insya Allah taubat akan diterima.

5. Bulan menyambut Ramadhan
Bulan Ramadhan akan datang setelah bulan Rajab dan Syakban. Penting bagi seluruh umat Islam untuk mulai mempersiapkan diri dari sekarang, meletakkan dasar-dasar kebiasaan yang baik dan membuat rencana tindakan untuk bulan yang penuh berkah ini.

Gambaran ini dengan sempurna menggambarkan pentingnya setiap bulan menjelang Ramadhan. Di bulan Rajab, umat Islam harus meletakkan fondasi dan membuat persiapan; Di bulan Sya’ban, persiapan akan semakin nyata dan ibadah yang meningkat akan menjadi kebiasaan – dan di bulan Ramadhan, amal kebaikan akan melimpah.

6. Bulan yang baik untuk berpuasa
Rajab adalah bulan yang baik untuk berpuasa. Ini sebabnya sangat dianjurkan untuk melakukan puasa sunat di bulan Rajab. Pada dasarnya puasa sunnah memang dianjurkan dilaksanakan untuk memperoleh kemuliaan Allah. Berpuasa di bulan Rajab juga bisa menjadi persiapan menyambut bulan Ramadhan.

Amalan di bulan Rajab
Adapun amalan yang utama dilakukan pada bulan Rajab diantaranya:
1. Memperbanyak membaca istighfar dan dzikir lainnya
Dzikir yang sangat dianjurkan dibaca pada bulan Rajab adalah istighfar yang berbunyi:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ

Latin: Rabbighfirli warhamni watub ‘alayya.

Artinya: Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku.

2. Memperbanyak melakukan puasa sunnah
Rasulullah SAW selalu mengerjakan puasa bulan Rajab. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:

“Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman ibn Hakim al-Anshari berkata, aku bertanya kepada Sa’id ibn Jubair tentang puasa Rajab, padahal pada waktu itu di bulan Rajab, dia menjawab, aku pernah mendengar Ibn Abbas berkata, Rasulullah SAW berpuasa (Rajab) terus hingga kami berkata, beliau tidak berbuka, dan (pada waktu yang lain) beliau berbuka hingga kami berkata, nabi tidak puasa.” (HR. Muslim).

Makruh hukumnya jika dilakukan selama 1 bulan penuh. Disarankan melakukan puasa Rajab dilakukan dengan bertepatan pada hari-hari utama dalam bulan Rajab. Seperti pada ayyâmul bîdh (tanggal 13, 14, dan 15), hari Senin, Kamis, dan Jumat. Puasa Rajab juga bisa dilaksanakan dengan satu hari berpuasa dan satu hari tidak (puasa Daud).

Bagi orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan, diperbolehkan untuk mengqadhanya bersamaan puasa sunah Rajab. Bahkan, menurut Sayyid Bakri Syattha’ (w. 1892 M.) dengan mengutip fatwa Al-Barizi, andaikan puasanya hanya niat qadha, maka otomatis juga memperoleh kesunahan puasa Rajab. (Sayid Bakri, Hâsyiyah I’ânah at-Thaâlibîn, juz 2, halaman: 224).

3. Memperbanyak sedekah
Bersedekah termasuk amalan yang sangat baik untuk dilakukan pada saat bulan Rajab. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Nabi Muhammad SAW bersabda, siapa yang sedekah di bulan Rajab maka Allah Ta’ala menjauhkan dirinya dari neraka sejauh jarak terbang seekor burung elang yang terbang dari kecil hingga mati.”

4. Memperbanyak shalat sunnah
Memperbanyak shalat sunnah terutama sholat malam menjadi amalan baik pada bulan Rajab. Keutamaan yang besar pada bulan Rajab sangat sayang untuk dilewatkan untuk berdoa baik pada saat shalat maupun diluar sholat. Sedangkan salah satu tempat diijabah doa adalah pada saat shalat.

Penulis adalah Dosen PAI IAIN Langsa, Sekjen Dewan Dakwah Kota Langsa, Wakil Ketua Parmusi Kota Langsa, Ketua KGR Kota Langsa.

Prof. Syabuddin Gade

Oleh Prof Syabuddin Gade

Imam an-Nasai, meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah SAW tentang empat golongan manusia yang dibenci Allah, yaitu;
أربعة يبغضهم الله تعالى؛ البياع الحلاف، والفقير المختال، والشيخ الزاني والإمام الجائر (رواه النسائي)
Artinya;
Empat golongan manusia yang dibenci Allah; penjual yang suka menabur sumpah, orang faqir yang sombong, orang tua penzina, dan pemimpin yang zalim (H.R. An-Nasai).

Jika ditelusuri makna hadis tersebut, maka di dalamnya terkandung pesan yang amat lugas dan jelas. Secara tekstual, di dalamnya terkandung empat golongan yang dibenci Allah.

Pertama, penjual atau pedagang yang menabur sumpah untuk meyakinkan pembeli agar barang dagangannya laku padahal boleh jadi barang dagangannya sudah kusut, lusuh, jelek, busuk, kadaluarsa, dan lain sebagainya. Ia berusaha meyakinkan pembeli dengan sumpahnya.

Golongan manusia semacam ini rupa-rupanya sudah muncul di era Nabi Muhammad SAW, bahkan di era jahiliah sebelum Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rasul dan ternyata masih saja ditemukan dalam berbagai transaksi perdagangan era sekarang, mungkin teknisnya berbeda sambil menutup-nutupi kekurangan barang dagangannya. Karena itu, tuedukasi Rasullullah saw bukan hanya hendak menjelaskan kebencian Allah terhadap golongan pedagang yang suka menabur sumpah dalam transaksi jual beli, tapi jauh dari itu, agar umatnya kelak —jika ia memilih profesi pedagang— tidak mengikuti dan tidak berperilaku sebagai pedagang yang menaburkan sumpah demi lakunya barang dagangannya dengan rela berbohong. Sebab perilaku pedagang semacam ini akan mengundang kebencian Allah. Jika Allah sudah benci, maka pedagang itu pasti akan memperoleh keruagian yang besar cepat ataupun lambat. Betapa tidak, pembeli yang melakukan transaksi atas dasar kebohongan si penjual tentu akan sangat menyakitkan hatinya dan dipastikan ia tidak akan membeli lagi barang dagangan dari pedagang yang menabur sumpah kebohongan. Bahkan, sipembeli akan berkampanye bahwa “pedagang A” adalah sipenabur sumpah dan pembohong”. Hal semacam ini tentu bisa dibayangkan betapa nasib buruk yang akan menimpa pedagang semacam itu.

Kedua, orang faqir sombong. Allah benci kepada orang faqir yang menyombongkan diri, faqir di sini boleh jadi faqir harta atau faqir ilmu. Jadi, orang faqir pada sekurang-kurangnya sadar, tawadhu’ dan qanaah dengan keadaannya. Akan lebih baik lagi kalau ia terus berusaha memperbaiki keadaannya menjadi lebih baik, bukan justeru menyombongkan diri, karena orang faqir sombong akan mengundang kebencian dari Allah. Sebab, sesungguhnya yang berhak menyombongkan diri hanyalah Allah. Karena itu, tujuan edukasi Rasulullah dakam konteks ini adalah mengirim pesan kepada umatnya, terutama para fuqara, agar menjauhkan diri dari sikap sombong.

Ketiga, orang tua penzina (al-Syaikh al-Zani). Secara etimologis kata “al-syaikh” paling kurang mengandung tiga makna, antara lain; 1) “orang tua”, yakni orang yang berumur tua. Jika orang ini berzina, maka amatlah dibenci oleh Allah. Sebab, secara biologis, orang berumur tua nafsu libidonya sudah berkurang –‘tidak menggebu-gebu seperti anak muda. Seharusnya tidak terjebak dalam perbuatan zina, karena nafsu syahwat yang memaksanya malakukan zina sudah berkurang. Tetapi, ini bukan bermaksud anak muda boleh melakukan zina, zina tetap perbuatan keji yang haram dilakukan oleh setiap muslim dan mulimah; 2) Sebuah laqab bagi orang alim. Sering seorang ulama diberi laqab “syaikh”, karena kedalaman ilmu agamanya. Jika orang alim berzina, maka ini amat dibenci Allah. Seharusnya ia bisa menahan nafsu syahwat dengan ilmu dan imannya.

Perilaku semacam ini sering dikisahkan seperti kisah Syeikh Bal’am, bahkan kisah semacam ini sering terulang pada era sekarang di mana sering diberitakan di media tentang “orang alim” yang terjebak dalam selingkuh atau zina; 3) Dalam konteks kajian fiqih atau hadis, kata “al-syeikh” diartikan secara lebih sepesifik, yakni orang yang menyampaikan hadis atau orang yang darinya diambil hadis. Jika orang sekelas ini berzina tentu amat dimarahi Allah, sebab secara keilmuan ia pasti tahu betapa banyak hadis Rasulullah saw yang melarang tentang perbustan zina. Karena itu, dalam konteks ini tujuan edukasi Rasulullah saw adalah mengirim pesan kepada umatnya agar menjauhkan diri dari zina.

Keempat, pemimpin yang zalim. Pemimpin adalah orang yang melayani, membuat kebujakan dan mengambil keputusan terbaik bagi kepentingan dan hajat hidup rakyat di bawah kekuasaannya.

Ia harus mempertanggungjawabkan kekuasaanya itu bukan hanya di hadapan rakyat tetapi juga di hadapan Allah. Seorang pemimpin tidak boleh menzalimi, menyakiti merusak kepentingan rakyat, apalagi membungkam kebebasan dan menghilangkan nyawa rakyat.

Fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit pemimpin yang berlaku zalim delam berbagai bentuk terhadap rakyatnya. Sejarah mencatat betapa kejamnya Genghis Khan, Hitler, Timur Lenk, Wu Zetian, Pol Pot, Slobodan Milosevic, dan lain-lain.

Apakah di Indonesia ada pemimpin yang kejam pada rakyatnya sendiri? Silakan baca sendiri sejarah pelanggaran Hak Asasi Manusia Indonesia? Karena itu, tujuan edukasi Rasulullah dalam konteks ini adalah menyampaikan pesan agar umatnya yang bertindak atau diberi amanah sebagai pemimpin tidak berlaku zalim kepada bawahan atau rakyatnya, karena kebencian Allah akan menimpa pemimpin yang zalim, baik pemimpin zalim itu beragama Islam ataupun tidak.

Golongan kedua, ketiga dan keempat tersebut juga dijelaskan dalam hadis yang lain dengan lafaz yang agak berbeda, yaitu;

وَعنْ أبي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه ﷺ: ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ رواهُ مسلم.

Artinya; Dari Abi Hurairah ra berkata, bagwa telah bersabda Rasulullah saw; tiga golongan manusia tidak disapa, tidak disucikan, tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, bahkan mereka akan ditimpa azab yang pedih, yakni; syaikh yang berzina, pemimpin pembohong, dan orang faqir yang sombong. ( H.R. Muslim).

Karena itu, jika ditelusuri lebih dalam tujuan edukatif yang terkandung dalam hadis tersebut bukan hanya sekedar menerangkan klasifikasi golongan manusia yang dibenci Allah, tetapi Rasulullah menginginkan agar umatnya menjauhkan diri dari keempat golongan manusia tersebut. Jika umat Islam mampu menjauhkan diri dari keempat golongan tersebut, maka mereka bukan hanya akan jauh dari kebencian Allah, tetapi mereka akan mendapatkan kasih sayang (ar-rahmu) kelembutan (al-hilm) ketenangan (sakinah) dan ridha dari Allah (al-ridha min Allah). Wallahu A’lam.


Oleh Afrizal Refo, MA

Tahun baru adalah momen saat di mana masyarakat merayakan pergantian tahun dari tahun yang sudah berlalu ke tahun yang akan datang. Akan tetapi telah terjadi berbagai polemik terhadap umat Islam di Indonesia khususnya dengan melakukan berbagai kegiatan perayaan tahun baru yang menyerupai agama lain yang meniup terompet, bakar kembang api, mercon dan sampai dengan melakukan maksiat dimalam pergantian tahun baru tersebut.

Lalu bagaimana hukum merayakan tahun baru menurut agama Islam? Karena, merayakan tahun baru dianggap haram karena merupakan tradisi non Islam yang berasal dari budaya Barat.

Sejarah Tahun Baru Masehi
Perayaan tahun baru ini dimulai pertama kali pada tahun 46 SM, pada masa kekuasaa Kaisar Romawi, yaitu Julius Caesar.

Ia mengganti penanggalan Romawi yang terdiri dari 10 bulan (304 hari), yang dibuat oleh Romulus pada abad ke-8 menjadi 1 tahun terdiri atas 365 hari. Saat itu ia dibantu dengan Sosigenes, seorang ahli astronomi asal Iskandariyah, Mesir. Nama pada bulan Januari ini diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus, yang memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan ke belakang.

Masyarakat Romawi juga meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Julius Caesar juga setuju untuk menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Untuk menghormati Dewa Janus, maka orang-orang Romawi mengadakan perayaan setiap tanggal 31 Desember tengah malam untuk menyambut 1 Januari.

Oleh karena itu pada saat tahun baru tersebut orang-orang kafir mengagung-agungkan setiap perbuatan yang mereka adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini, maka hal itu termasuk hari besar mereka.

Akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam agama Islam.

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi
Merayakan tahun baru Masehi masih kerap menjadi pertanyaan bagi sebagian besar umat Islam. Mengingat bahwa kalender Masehi sendiri bukanlah milik umat Islam. Lalu, bagaimana hukum merayakannya?

Secara umum, para ulama sepakat untuk tidak merayakan tahun baru Masehi. Salah satu alasannya yaitu hal-hal yang dilakukan dalam perayaan itu bisa menjerumuskan pada maksiat, misalnya saja berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang untuk membeli petasan dan membakar kembang api bahkan ada yang melakukan perbuatan zina pada malam pergantian tahun baru tersebut.

Selain itu, jika umat Islam merayakannya berarti telah mengikuti budaya kafir dan itu tidaklah diperkenankan. Karena, mengikuti budaya tersebut disebabkan oleh lemahnya iman yang dimiliki oleh seorang muslim.

Hal ini dijelaskan juga dalam kitab Al Mi’yar al Ma’riby, Ar Raudhah, Faydhul Qodir, Hasyiyah al Jamal ala al Minhaaj, dan Ihyaa ‘Ulumuuddin, bahwa merayakan tahun baru hukumnya haram karena dianggap tasyabbuh atau menyerupai orang kafir, karena tidak memberi manfaat apa-apa.

Dalil Al-Qur’an yang melarang seorang muslim untuk menyerupai orang kafir dijelaskan dalam surah Al Baqarah ayat 120 yang artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.

Di samping itu, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Daud)

Berdasarkan Dalil Alquran dan Hadits Nabi SAW tersebut secara jelas menerangkan bahwa ikut serta dalam merayakan hari-hari besar kaum musyirikin (Tahun Baru, Natal, Valentine, dll) haram dilakukan oleh umat Islam. Momen tahun baru atau momen-momen lainnya dihukumi haram karena merupakan pencampuradukan antara al haq dan kebathilan yang mana lebih banyak mudharatnya ketimbang sisi positifnya.

Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh kaum muslimin dan seluruh pemuda-pemudi untuk tidak merayakan kegiatan apapun dimalam pergantian tahun baru tersebut. Karena malam tersebut sama dengan malam lainnya tidak ada yang istimewa dan ditakutkan kita akan terjerumus kedalam perkara yang diharamkan oleh Allah.

Penulis adalah Dosen PAI IAIN Langsa dan Sekretaris Umum Dewan Dakwah Kota Langsa


OlehDr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA (Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Sejarah dan perputaran masa dalam kehidupan manusia berjalan demikian lancarnya sehingga ada manusia yang lupa akan masa lalu dan tidak mampu menganalisa masa depan walaupun hidupnya penuh sesak dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan.

Demikianlah bukti sejarah yang telah berlalu dari satu kelain zaman, di sana ada manusia yang menipu manusia, ada manusia yang mencurangi manusia, ada manusia yang menghina manusia, ada manusia yang menghancurkan massa depan manusia, ada manusia yang membunuh manusia dan seterusnya. Adakah kondisi semisal itu hadir dalam kehidupan kita? Mari kita bercermin kepada sejarah dalam upaya membaca masa depan yang masih kelam.

MARCOS

Nama penuhnya adalah; Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos, lahir 11 September 1917 dan meningggal 28 September 1989 dalam usia 72 tahun. Ia merupakan Presiden kesepuluh Filipina yang menjabat dari 30 Desember 1965 sampai 25 Februari 1986. Banyak kisah menarik yang dapat dipetik dari sejarah panjang kehidupan dan kepemimpinan Marcos selama memimpin Negara Filipina. Alumni Fakultas Hukum Universitas Filipinan dengan nilai cum laude tahun 1939 ini berkesempatan berperang melawan Jepang dalam Perang Dunia II.

Setelah mendapat beberapa penghargaan dari hasil perjuangannya melawan Jepang, tahun 1954 Marcos menikah dengan seorang wanita cantik bernama Imelda Romualdez yang kemudian berjuang membantunya dalam gerakan memperoleh posisi presiden. Ia kemudian bergabung dengan Partai Nacionalista, lalu bergandengan dengan calon wakil presidennya Fernando Lopez berhasil mengalahkan presiden petahana; Diosdado Macapagal dalam pemilu 1965. Tatkala itu resmi Marcos menjadi presiden Filipina yang kesepuluh.

Tercatat dalam sejarah bahwa Marcos merupakan presiden Filipina pertama yang terpilih dua periode berturut-turut. Merasa dirinya sudah kuat tahun 1972 ia menjadikan gaya kepemimpinannya yang otoriter yang membolehkan dirinya berkuasa tanpa batas dengan menggunakan hukum darurat militer sebagai alat untuk menekan dan membungkam pihak oposisi. Dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter tersebut berkembangnya praktik money politik, pelanggaran HAM, maraknya praktik korupsi, memburuknya kesehatan rakyatnya serta doyan berhutang dengan luar negeri terutama dengan Amerika Serikat untuk menghambur-hamburkan dana bagi para kroni dan para pengikutnya. Yang paling tragis adalah dalam masa-masa akhir kepemimpinannya terjadi pembunuhan terhadap tokoh oposisi Benigno Aquino pada tahun 1993.
Kasus terakhir membuat terjadinya perlawanan rakyat membela kematian tokoh mereka sehingga isteri Benigno Aquino dinobatkan sebagai lambang perlawanan terhadap rezim Marcos dan huru hara dalam negeri akhirnya tidak dapat dibendung sampai berakhirnya diktator Marcos dengan melarikan diri ke Honolulu, Hawaii Amerika Serikat. Rezim yang memiliki visi Bagong Lipunan (Masyaarakat Baru) ini mengedepankan doktrin bahwa orang-orang miskin dan orang kaya harus sama sama bekerja tanpa perbedaan untuk menuju tujuan tunggal untuk mencapai kebebasan melalui kesadaran diri.

Tercata sebuah kecurangan besar yang dilakukan dengan kekuasaannya Marcos adalah terpilih keempat kalinya sebagai presiden Filipina dalam tahun 1986 yang penuh intimidasi, kecurangan, ancaman dan tipuan. Dengan ketimpangan pemilu tersebutlah akhirnya Marcos diturunkan sebagai presiden dalam sebuah gerakan massa yang terkenal dengan Revolusi EDSA, sebuah revolusi damai yang dipimpin isteri Benigno Aquino; Corazon Aquino (Qory Aquino). People Power yang bernama Revolusi EDSA tersebut telah memaksa Marcos dan isterinya melarikan diri ke Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Ia hidup menumpang di sana dengan perasaan dikejar ketakutan rakyat sendiri sampai menemui ajalnya pada tanggal 28 September 1989 akibat menderita penyakit jantung, ginjal dan paru-paru. Marcos akhirnya dikebumikan di kompleks pekuburan besar indah di Kota Batac, provinsi Ilocos Utara, Hawaii (1993–2016), kemudian dipindahkan ke Heroes’ Cemetery, Taguig, Metro Manila (sejak 18 November 2016).

Marcos dalam memimpin Filipina sangat terikat dengan pengaruh pendamping hidupnya Imelda yang suka hidup mewah dan berfoya-foya. Keterikatan tersebut membuat dirinya harus melakukan sesuatu yang terkadang bertentangan dengan aturan, karena dia masih berkuasa maka kebanyakan orang tetap saja tunduk dan patuh kepadanya. Akan tetapi manakala pelanggaran demi pelanggaran terus dikerjakan yang membuat rakyat hilang kesabaran, maka orang sekuat Marcos yang tidak mampu dilawan oleh para jenderal akhirnya tumbang dari kekuasaan dengan pengaruh seorang wanita janda yang tidak pernah diduga, yaitu Cory Aquino.

Ketika rakyat sudah berkesimpulan bahwa ia seorang jahat, pelanggar aturan dan penghalal cara dalam berkuasa, lalu rakyat bergerak dengan People Powernya yang bergelar Revolusi EDSA (Epifanio de los Santos Avenue), yang diambil sempena dari sebuah jalan di Metro Manila sebagai tempat demonstrasi. Maka para jenderal tentara, polisi, para hakim dan jaksa, para buzzer, para penjilatnya yang dahulu membelanya mati-matian beralih haluan mengikuti aliran gerakan rakyat yang mengejarnya lari dari tanah airnya. Kejadian semisal itu hanya waktulah yang menentukan kapan suatu kedzaliman itu berakhir dan kapan kebenaran itu bermunculan, kita tunggu di Negara Indonesia.

NICOLAE CEAUȘESCU

Mantan pemimpin dan bangsa Rumania ini lahir di Scornicești, Olt, Rumania pada tanggal 26 Januari 1918 secara normal, dan meninggal di Târgoviște, Dâmbovița, Rumania secara luarbiasa karena dieksekusi oleh rakyatnya sendiri pada tanggal 25 Desember 1989 dalam usia 71 tahun. Ia memiliki seorang isteri bernama; Elena Petrescu yang ikut dieksekusi rakyat bersamanya dan tiga orang anak: Valentin Ceaușescu, Zoia Ceaușescu, dan Nicu Ceaușescu. Dalam usia 11 tahun Ceausescu pindah ke Bukares hanya untuk bekerja di pabrik, namun kemudian tahun 1932 ia bergabung dengan Partai Komunis Rumania sehingga jadi popular setelah ditangkap beberapa kali akibat gerak langkah politiknya yang keras.

Ia sempat ditangkap berturut-turut dalam tahun 1932, tahun 1933, tahun 1936 dan tahun 1940 karena dituduh mengembangkan propaganda faham komunis dengan anti paham fasis. Ketika bebas dari penjara tahun tahun 1940 ia berkenalan dengan Elena Petrescu dan menikah pada tahun 1946. Tahun 1943 ia dipindahkan ke kemp konsentrasi Targu Jiu dan ketika Rumania menjadi bahagian penguasaan Uni Soviet dia mendapatkan posisi Sekretaris Uni Pemuda Komunis dari tahun 1944 sampai 1945. Nasipnya semakin baik ketika Komunis berkuasa di Rumania tahun 1947 Ceausescu diangkat menjadi Menteri Pertanian dan beberapa sa’at kemudian menjadi wakil Menteri Angkatan Bersenjata, dan dalam tahun 1954 dia menjadi anggota penuh Politbiro Komunis serta menjadi orang penting dalam kekuasaan Negara Rumania.

Karir politik Ceausescu lumayan unik, dia pernah menjadi Presiden Dewan Negara Rumania mulai dari 9 Desember 1967 sampai 22 Desember 1989, Presiden Rumania sejak 28 Maret 1974 sampai 22 Desember 1989, Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Rumania semenjak 22 Maret 1965 sampai 22 Desember 1989.

Awal masa kepresidenannya Ceausescu membuka kebijakan barunya dengan Eropa barat dan Amerika Serikat yang berbeda dengan kebijakan Negara-negara Pakta Warsawa lain yang cenderung beroposisi dengan Amerika dan Eropa Barat selama perang dingin. Dekade berikut kepemimpinannya mulai mendapatkan dukungan rakyat yang membludak karena keberaniannya dan ketajaman analisa politiknya sehingga menjurus kepada pengkultusan pada masa menjelang berakhir hidupnya. Pada masa tersebut hubungannya dengan negara barat dan Uni Soviet mulai memburuk yang membuat dia kehilangan kekuatan luar negara manakala rakyat mengeksekusinya.

Karena merasa sudah diterima oleh rakyat sepenuhnya, pola kepemimpinan Ceausescu pelan-pelan beralih dari sistem politik Komunis kepada sistem politik monarkhis yang membuat dirinya cenderung kepada pengkultusan individu. Terinspirasi oleh pimpinan Korea Utara Kim Il-Sung dan ia kagum dengan Mao Zedong di Republik Rakyat Cina yang menguasa Negara penuh dengan gaya diktator ala ideologi Komunis. Berbekal kunjungannya ke RRC dan Korea Utara tahun 1971 dan dipicu oleh pidatonya di lapangan revolusi Bukares pada 21 Agustus 1968 yang mengutuk keras invasi Pakta Warsawa ke Cekoslowakia, semenjak itulah dia sering diidentikkan dengan Rumania itu sendiri dan dari sinilah benih pengkultusan diri yang sekaligus juga pengkultusan terhadap isterinya Elana bakal berbuah petaka raya bagi pasangan suami isteri yang menjadi orang nomor satu Rumania tersebut.

Pengkultusan yang dahsyat itu digambarkan oleh media Rumania sebagai teoretikus jenius komunis yang telah banyak bersumbangsih terhadap Marxisme-Leninisme. Ia juga dicitrakan sebagai pemimpin politik dengan “pemikiran’ yang menjadi sumber semua pencapaian negara Rumania. Kumpulan karya-karyanya diterbitkan secara berkala dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Karya ini terdiri dari lusinan volume dan selalu ada di setiap toko buku di Rumania. Sementara itu, isterinya Elena digambarkan sebagai “Ibu Bangsa. Media-media mengistiharkan zaman keemasan Ceaușescu penjamin kemajuan dan kemerdekaan bangsa, ia digambarkan sebagai perancang visioner masa depan bangsa Rumania dan digambarkan sebagai Conducător atau “pemimpin”.

Lonescu, penulis untuk Radio Free Europe merinci daftar sebutan puja-puji para penulis Rumania kepada Ceaușescu sebagai berikut: “arsitek”, “raga surgawi” (Mihai Beniuc), “pencipta buana”, “tuhan sekular” (Corneliu Vadim Tudor), “pohon cemara”, “Pangeran Tampan” (Ion Manole), “jenius”, “santo” (Eugen Barbu), “keajaiban”, “fajar menyingsing” (Vasile Andronache), “pemberi arah” (Victor Nistea), “penyelamat” (Niculae Stoian), “matahari” (Alexandru Andrițoiu),
“titan” (Ion Potopin), dan “visioner” (Viorel Cozma).

Kondisi pengkultusan yang berlebihan tersebut membuat Ceaușescu dan isterinya Elena berposisi bak sang maharaja yang tidak tersalahkan dan tak terkalahkan. Sehingga gambar-gambar keduanya yang ditayang televisipun dihatur ketat, manakala cameramen atau pemberita televisi tersalah menampilkan gambarnya akan mendapatkan sanksi diskor dari tempat kerja. Suasana maharaja di atas kayangan demikian terasa sangat sulit dirubah oleh rakyat Rumania ketika itu.
Namun demikian ketika alam berbicara, pengkultusan dan pemujaan berdasarkan rekayasa itu kemudian tiba juga masa berakhirnya. Ketika rakyat sudah muak dengan kondisi rekayasa, tipu, curang dan palsu itu maka rakyat yang dahulu memujanya mereka juga yang menghina dan mengeksekusinya. Berawal dari pidatonya yang menekankan keberhasilan revolusi sosialis Rumania tanggal 21 Desember 1989, mulailah rakyat mengoloknya dan mereka meneriakkan”Ti-mi-șoa-ra! Ti-mi-șoa-ra!”. Berbaringan dengan olok-olokan tersebut tiba-tiba terdennar suara bom dan senapan yang membuktikan kekacauan muali terjadi. Ceaușescu dan isterinya Elena menjadi panik dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan.

Dengan cepat saja api revolusi itu menyebar keseluruh negara Rumania, tanggal 22 Desember 1989 media mengumumkan kematian menteri pertahanan Vasile Milea yang diduga hasil kerja rezim maka kemarahan rakyat semakin menjadi-jadi dan sulit dibendung. Melihat kondisi yang ada, Ceaușescu coba memberikan pidato peredaman kepada massa yang berkumpul di depan bangunan Komite Pusat. Kasihan pidatonya dijawab dengan lemparan batu dan benda keras lainnya yang memaksa dia bersama isteri masuk ke gedung tersebut tetapi rakyat kemudian mengejarnya.

Ceaușescu dan istrinya berhasil mencapai atap gedung dan melarikan diri dengan helikopter, kondisi ini merepresentasikan bubarnya Partai Komunis Romania. Dalam masa revolusi tersebut media barat mengklaim 64.000 orang tewas dibunuh oleh pihak sekuriti, klaim tersebut dibantah pihak Rumania yang mengatakan hanya 1.000 orang yang tewas.

Gambaran situasi tersebut membuat Ceaușescu dan istrinya melarikan diri dengan helicopter dari ibu kota ke kediamannya di Snagov. Mereka lalu melarikan diri lagi ke Târgoviște. Dekat Târgoviște, mereka meninggalkan helikopter dan menggunakan jalur darat. Kemanapun ia lari akhirnya ditangkap oleh polisi yang dahulu memuja dan memuji serta penuh tunduk patuh kepadanya. Terus diserahkan kepada tentara yang dahulu menjadi pembelanya dan penjaganya, lalu pada hari natal 25 Desember 1989 mereka diadili secara kilat di pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berlapis, mulai dari memperkaya diri secara ilegal hingga genosida, dan kemudian dieksekusi di Târgoviște. Video pengadilan menunjukkan, setelah vonis, Ceaușescu dan istrinya diikat lalu digiring ke luar gedung pengadilan untuk dieksekusi.

Pasangan ini dieksekusi oleh regu tembak yang terdiri dari anggota pasukan terjun payung elit Rumania: Kapten Ionel Boeru, Sersan Mayor Georghin Octavian dan Dorin-Marian Cirlan, ketika ratusan prajurit lainnya juga turut serta. Ceaușescu dan istrinya dihadapkan ke dinding lalu segera ditembak sampai mati. Nicolae Ceaușescu dan istrinya Elena dimakamkan di kuburan Ghencea, Bukares. Mereka merupakan orang terakhir yang dihukum mati di Rumania sebelum penghapusan hukuman mati pada 7 Januari 1990 oleh pemerintahan baru.

Walaubagaimanapun, kenangan kehebatan menguasai posisi dan jabatan, kemahiran menggiring bangsa untuk tunduk patuh kepadanya sehingga menjadi pengkultusan keluarga dengan jargon politik dinasti, manakala semua itu sampai kepuncaknya maka prahara kekuasaan itu akhirnya datang juga. Selamat jalan diktator dan selamat menyusul diktator-diktator lainnya di muka bumi ini seperti Marcos dan Ceausescu yang telah meninggalkan pelajaran berharga bagi orang-orang yang tidak gila jabatan, tidak gila pangkat, tidak gila politik dinasti dan tidak gila dunia.

JOKOWI

Ir. H. Joko Widodo bin Widjiatno Notomihardjo (nama akrabnya; Jokowi) lahir 21 Juni 1961 merupakan presiden ketujuh Republik Indonesia yang menjabat sejak tanggal 20 Oktober 2014 bersama wakilnya Jusuf Kalla, dan terpilih kembali (dengan dugaan curang) untuk periode kedua bersama wakilnya Ma’ruf Amin dalam Pemilu Presiden 2019.

Jokowi pernah menjadi gubernur Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai wakilnya, pernah juga menjadi Walikota Solo sejak tanggal 28 Juli 2005 hingga 1 Oktober 2012.

Selama dua periode menjadi presiden Indonesia, Jokowi menjadi sorotan dan perbincangan publik karena kelihaian dan kemahirannya mempermainkan anak bangsa Indonesia. Kesan yang ditangkap publik adalah ia pandai berjanji tapi tidak pandai menepati, ia pandai bermain palsu tapi tidak pandai menyembunyikan kepalsuan itu, ia dekat dengan non muslim tetapi tidak pandai menentramkan muslim, ia dihatur oleh oligarkhi namun dia tidak mampu mengatur rakyat sendiri, ia menempatkan orang-orang sekuler dan kafir dalam jabatan-jabatan strategis yang dengan jabatan-jabatan tersebut ummat Islam terjepit di negaranya sendiri, ia pandai berhutang dengan luar negeri tetapi tidak pandai melunasi.

Jokowi juga terkenal dengan rekayasa-rekayasa besarnya seperti pemilu curang, mobil ESEMKA, penarikan tambang emas kembali, tidak menjual asset Negara dan membeli kembali yang sudah terjual, menciptakan jutaan lapangan kerja, memindahkan IKN, mewujudkan kereta cepat Jakarta – Bandung, membuat undang-undang yang berlawanan dengan konstitusi seperti RUU-HIP, Omnibus Law, undang-undang penunjukan gubernur Jakarta oleh presiden, membiarkan pengarahan Pancasila untuk menjadi trisila atau ekasila, dan sejenisnya.
Belum cukup di situ, Jokowi juga dituduh massa menggunakan kuasa untuk mengembangkan politik dinasti dengan menjadikan puteranya Gibran calon wakil presiden dengan menggunakan kuasa adik iparnya Anwar Usman memutuskan di Mahkamah Komstitusi walaupun belum berusia 40 tahun kalau pernah menjadi kepala daerah bisa jadi cawapres. Yang tidak habis dipikir rakyat adalah gerakan cawe-cawenya Jokowi untuk memperjuangkan Prabowo dan Gibran jadi calon presiden dan wakil presiden yang dengan kasat mata belum layak dan belum berkualitas bila dibandingkan dengan dua calon presiden dan wakil presiden lainnya.

Semua itu dilakukan Jokowi setelah gagal memperjuangkan jabatannya tiga periode karena bertentangan dengan konstitusi dan tidak direstui oleh partai pendukungnya PDIP. Dan yang sangat tidak sopan dilakukannya adalah ada upaya keras untuk menggagalkan salah satu capres yang tidak disukainya. Ketika capres tersebut dicalonkan oleh partai lain maka fasilitas yang didapat untuk perusahaan ketua partai tersebut dicabut dan dipersempit. Capres itupun diintimidasi dan didiskriminasi dengan berbagai cara termasuk memaksa KPK untuk mentersangkakanya. Semua itu sudah menjadi rahasia umum bagi bangsa dan rakyat Indonesia hari ini.
Ketika semua upaya kelabu itu gagal dilakukan, mulai dari pembusukan anak bangsa yang sopan, santun, ramah, berkualitas, berilmu tinggi, berkapasitas pemimpin semenjak dari jabatan gubernur DKI sampai hari ini masih dicari upaya membungkamnya dengan menggunakan fasilitas negara, aparat negara, pejabat negara, dan buzzer bayaran negara. Terakhir tersebar pernyataan Mendagri lewat medsos yang menyatakan tentang kemungkinan capres terbunuh. Semua itu menjadi bahagian penyalahgunaan kekuasaan negara, penyimpangan demokrasi dan pelanggaran Hak Azasi.

Patut kita khawatirkan kasus pembunuhan enam orang pengawal IB-HRS di kilometer 50 yang tidak pernah diproses hukum dengan benar sampai hari ini, na’uzubillah bakal terjadi terhadap salah satu capres yang memiliki best track record dan diharapkan menjadi presiden oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia baik yang beragama Islam atau yang beragama lain, baik bumiputra maupun non bumi putra. Kalau itu bakal terjadi maka sempurnalah kejahatan seorang penguasa negara yang pilih kasih terhadap anak bangsanya, apalagi kenyataannya para ulama didiskriminasi dan dipenjara, organisai Islam dibubarkan, tokoh-tokoh bangsa yang kritis ditangkap dan dipenjara, sempurna sudah prilaku melawan hukum, melawan HAM dan melawan demokrasi yang dilakukannya.

Lalu apa yang sedang dicarinya? Boleh jadi dia dan mereka sedang mencari pengalaman seperti yang dialami mantan presiden Filipina Ferdinan Marcos dan mantan presiden Rumania Nicolae Ceaușescu. Soalnya kemiripan gaya dan strategi kepemimpinan yang dilakoni oleh tiga presiden tersebut sangatlah dekat sekali malah identik sekali antara satu sama lainnya. Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimanakah posisi Jokowi kalau orang yang dia perjuangkan menjadi presiden tidak menang? Bagaimana pula kalau yang menang itu malah orang yang sudah dan sedang dia benci? Pertanyaan lain lagi: apakah dia sempat memimpin negara ini sampai terjadinya serah terima jabatan dengan presiden baru selepasnya? Banyak sekali pertanyaan yang muncul dari hasil kepemimpinan yang dilakoninya selama ini. Kita berdo’a Jokowi menjadi orang yang disayangi rakyatnya baik selama menjadi presiden mapun setelah selesai memegang jabatan presiden.

Kita berdo’a agar Jokowi diberikan petunjuk oleh Allah SWT menjadi hambanya yang shalih dan menjadi calon penghuni syurga. Kita berdo’a supaya pengalaman Marcos dan Ceaușescu tidak terjadi terhadap diri jokowi, dan tidak pula mengalami hal serupa dengan Soekarno sebagai pemimpin Orde Lama dan Soeharto sebagai pemimpin zaman Orde Baru. Wallahu a’lam…


Oleh Prof. Dr.Muhammad AR. M.Ed

Kalau kita lihat video atau media yang memperlihatkan cara bekerja dan berkelakuan tentara Israel terhadap ummat Islam Palestina, maka tidak ada manusia normal yang mengaku mereka beradab. Namun ada juga penyokongnya Amerika, Jerman, Inggris, Perancis dan negara-negara agen Israel lainnya.

Gambar-gambar yang ditampilkan dalam media semuanya seperti singa dan harimau memangsa lawan-lawannya yang tidak kenal belas kasihan, oleh karena itu setiap orang yang waras pikirannya dan jernih otaknya, maka mereka akan berkesimpulan bahwa bangsa Yahudi Zionis adalah super biadab di atas muka bumi ini.

Bukti otentik adalah sejak 7 Oktober 2023 hingga 25 November 2023. lebih kurang empat belas ribu dua ratus (14. 200) ummat Islam Palestina dibantai dan yang paling banyak adalah anak-anak dan wanita.
Belum lagi kalau kita runut kebelakang bagaimana kejamnya Arie Sharon membantai umat Islam dalam kamp Shabra & Shatila tibusn umat Islam syahid. Dan wajar Allah mengazabnya selama delapan tahun koma dan strok di rumah sakit di Israel. Belum lagi di alam kubur dan di hari akhirat kelak. Dan sekarang ini penghisap darah ummat Islam itu bernama Benjamin Netanyahu dan didukung oleh si tua dari paman Sam yang juga haus darah ummat Islam.

Bukan hanya itu, jika ada tawanan yang ditangkap oleh tentara Israel, lebih baik mati dari pada diintrogasi oleh tentara mereka walaupun itu sanderanya anak-anak. Demikian biadabnya mereka sehingga bangsa-bangsa pengagung demokrasi dan pengusung HAM terdiam seperti dicekik oleh Buno (sejenis hantu yang selalu mencekik orang tidur dimalam hari).

Sebenarnya arti demokrasi dan HAM adalah membantai semua ummat Islam di negerinya dan kemudian mengusir mereka dari tanah airnya dan mengambil negeri mereka. Contohnya Pemerintah Budha Miyanmar terhadap Muslim Rohingya dan kini sedang berlangsung Di Gaza (Palestina) oleh Bangsa Terkutuk yaitu Yahudi. Inilah arti demokrasi dan HAM yang dimaknai oleh Amerika , Eropa, Thailand, Viatnam, India, Singapura, Filipina dll. Mereka ketika melihat umat Islam matanya buta, hatinya bengkak, telinganya tuli, perasaanya seperti kulit gajah, dan begitulah manusia biadab yang sentiada mengagung-agungkan demokrasi dan HAM.

Umat Islam teroris karena mempertahankan agamanya, harga dirinya, nyawanya, harkat dan martabatnya, serta tanah airnya. Begitulah pikiran Yahud dan pengikut setianya. Kita ummat Islam memiliki senjata yang paling ampuh yaitu doa kepada Allah karena jangan pernah luput berdoa kepada saudara kita di Palestina dan di seluruh dunia; senhata verikutnya adalah boykot semua barang atau produk Yahudi dan pendukungnya, mungkin dalam sebulan kedepan kita dapat menyaksikan kehancurannya dengan izin Allah.