Archive for category: Semua Katagori

semua katagori di bawah ini


Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh (Dewan Dakwah Aceh) kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap keempat kepada masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor, pada Rabu, 14 Januari 2026. Penyaluran bantuan kali ini menjangkau wilayah Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tamiang, serta Kota Langsa.

Ekspedisi bantuan ke wilayah Aceh Tengah dipimpin oleh Drs. Tgk. Mukhtarullah (Abah), didampingi oleh Tgk. Suwardi, Ust. Asyraf Abdul Syukur, dan Ust. Daniel Rinanda. Kegiatan ini turut dibantu oleh pengurus Dewan Dakwah Aceh Tengah, antara lain Harun Manzola, Alam Syuhada, Tgk. Amri, dan sejumlah relawan lainnya.

Sementara itu, pendistribusian bantuan ke wilayah timur Aceh, meliputi Aceh Tamiang (Seruway dan Kampung Dalam) serta Kota Langsa, dilaksanakan oleh Ust. Sahal (Dewan Dakwah Aceh) bersama Ust. Afrizal Revo (Dewan Dakwah Kota Langsa).

Ketua Dewan Dakwah Aceh, Prof. Dr. Tgk. Muhammad AR, M.Ed, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam aksi kemanusiaan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur dan relawan yang telah mengulurkan tangan membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Amanah ini kami salurkan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan agar benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Prof. Muhammad AR.

Ia juga menyampaikan penghargaan khusus kepada para donatur, di antaranya Ibu-Ibu Arisan Happy Madame Jakarta, Prof. Dr. Fadhilah binti Abdullah (Malaysia), saudara-saudara dari Sudan, serta para dermawan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

“Semoga Allah SWT melipatgandakan balasan atas setiap kebaikan dengan rezeki yang halal dan menjadikannya sebagai amal jariyah serta saham untuk kehidupan akhirat kelak. Dewan Dakwah Aceh akan terus siap menjadi perantara penyaluran bantuan umat bagi masyarakat yang tertimpa musibah,” tambahnya.

Guru Besar UIN Ar-Raniry menjelaskan pada tahap keempat ini, bantuan yang disalurkan di Aceh Tengah berupa peralatan sekolah, seperti tas sekolah, buku tulis, penghapus, tipeks, pensil, pulpen, penggaris, serta makanan ringan bagi anak-anak Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD). Bantuan tersebut sangat berarti bagi anak-anak korban bencana yang kehilangan rumah, sekolah, dan perlengkapan belajar akibat tertimbun lumpur, serta kini tinggal di tenda-tenda darurat.

Adapun bantuan untuk wilayah Aceh Tamiang dan Kota Langsa meliputi beras, minyak goreng, telur, tikar, dan kelambu, yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat mengingat proses pemulihan pascabencana hingga kini belum sepenuhnya tertangani secara optimal.

Hingga lebih dari satu setengah bulan pasca kejadian, persoalan lumpur masih menjadi tantangan besar di hampir seluruh wilayah yang terdampak. Keterbatasan alat berat, tempat pembuangan material, serta kondisi cuaca memperlambat proses pembersihan. Oleh karena itu, kebutuhan akan alat berat, hunian sementara (huntara), dan hunian tetap (huntap) masih sangat mendesak.

“Dewan Dakwah Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendoakan serta mendukung upaya percepatan pemulihan, seraya berharap bantuan Allah SWT dan memberikan perlindungan, kekuatan, dan kemudahan bagi seluruh korban serta para relawan yang bekerja di lapangan,” pungkasnya.

*Teks foto*
Relawan Dewan Dakwah Aceh menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap keempat kepada masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor, di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (14/1/2026)

Prof Muhammad AR

Oleh Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Di tengah penolakan wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD yang banyak mendapat sorotan dan bantahan, justru itu saya berpendapat bahwa pemilihan kepala daerah oleh DPRD adalah lebih sedikit uang sogokannya daripada pilsung yang harus kita sogok hampir seluruh lapisan masyarakat. (Ini khusus bagi para pelaku sogok menyogok, kalau yang haqqul yaqin tidak mau menyogok maka kebanyakan mereka tidak akan terpilih). Mohon maaf, ini hasil dari pengalaman dan observasi serta pengakuan masyarakat secara umum, setiap pemilihan dari kepala desa hingga kepada kepala negara sekalipun tidak pernah sepi dari sogok-menyogok dengan berbagai macam modus operandi-nya. Tinggal saja sekarang ada nggak individu yang mau berkata benar, berkata jujur atau mau mengakui kesalahan dengan sebenarnya secara gentleman. Tidak perlu harus mengakuinya dihadapan Pengadilan Allah nanti di yaumil mahsyar. Siapa yang berani bersumpah demi Allah bahwa pilkades, pilkada, dan pilpres murni seratus persen tanpa sogok menyogok? Bicara masalah demokrasi, dalam Islam sebenarnya tidak ada istilah demokrasi, tetapi syura yang eksis. Lihat saja bagaimana pemilihan Abubakar Siddiq setelah wafatnya Rasulullah saw, bagaimana Umar bin Khattab dicalonkan sebagai khalifah, demikian juga Usman bin Affan serta Ali bin Abi Thalib walau ada sedikit keretakan pada pemilihan khalifah keempat ini. Secara agama orang-orang yang menjadi anggota majlis syura dimasa dahulu ada yang sudah mendapat khabar dari Nabi bahwa semua mereka akan masuk sorga. Beginilah seharusnya anggota majlis syura yang memiliki kejujuran, keadilan, keilmuan, keistiqamahannya, dan kebenaran mengatakan yang haq itu haq, dan yang batil itu batil. Kalau begini model anggota majlis syura, pencalonannya tidak meleset dari koridor Islam.
Memang ada sebagian orang yang mengatakan bahwa ini kembali ke masa Orde Baru (Soeharto), atau mundur kebelakang terlalu jauh, atau membunuh demokrasi. Tetapi itu sah-sah saja ini pendapat dan realitas yang sudah berlaku walaupun Presidium Nasional KIPP Indonesia Brahma Aryana dalam siaran rilis di Jakarta, Jumat (9/1/2026), mengatakan, Komite Independen Pemantau Pemilihan (KIPP) Indonesia secara tegas menolak wacana pilkada melalui DPRD. Silakan berpendapat dan melihat dari berbagai sisi dan akhirnya kita menimbang untung ruginya, mafasad dan manfaatnya, dan halal-haramnya. Namun bagi saya hingga detik ini kalau bukan karena membuka aib orang, bisa saya tunjuk satu persatu siapa yang terpilih secara benar, atau dengan manipulasi, penipuan, intimidasi, sogok-menyogok, menghalalkan segala cara (Machiavelism). Tetapi bagi orang-orang yang sangat berharap harus menjadi pemimpin, ia akan melakukan berbagai cara termasuk politik uang, tanpa pikir panjang yang penting jadi, maka kalau dipilih oleh anggota DPRD, cuma separuh anggota tambah satu orang sudah menang dengan sogokan. Ini khas bagi pelaku sogok menyogok. Tetapi kalau pilihan langsung seperti yang selama ini kita lakukan, bagi para pelaku curang dan sogok menyogok, mereka harus menghabiskan uang bertriliyun karena mereka harus menyogok dari masyarakat peringkat bahwah hingga ke peringkat masyarakat kelas atas dari berbagai golongan dan pangkat. Di negara Barat seperti Amerika, mereka melakukan pilsung tetapi tidak menyogok masyarakat pemilihnya, tetapi masyarakat yang akan memilih para pemimpin yang mereka sukai dengan membantu mereka dari segi dana untuk kelancaran calon tersebut berkampanye seluruh Amerika. Kemanapun calon pemimpin pergi, disana para pendukungnya sudah menunggu dan memebrikan dana kepada calon yang mereka sukai. Namun sebaliknya pilsung kita di sini, calon pemimpn akan datang ke daerah-daerah pemilihan untuk berkempen, bersamaan dengan itu dibawa uang bertmilyar untuk menyogok konstituenya. Inilah yang perbedaan yang menganga antara pilsung Barat dan pilsung Timur. Maka sebaiknya ummat Islam kembali kepada cara-cara Rasulullah saw dan para sahabatnya bagaimana Islam memilih pemimpin yang jauh dari intimidasi, penipuan, kecurangan, pembunuhan, dan sogok menyogok.
Ada beberapa perkumpulan masyarakat sipil yang menolak terhadap wacana pilkada lewat DPRD, misalnya Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Network for Democracy and Electoral Integrity, dan Indonesia Corruption Watch (ICW), serta beberapa partai politik, mungkin mereka selama ini tidak pernah menemukan praktik money politik, risywah, dan intimidasi dan pembunuhan hingga 700 orang petugas pemilu model pilsung ini. Sehingga wacana atau gagasan pemilihan kepala daerah oleh anggota DPRD adalah melanggar UUD dan konstitusi. Dalam pandangan Islam, kita harus paham sebab atau gara-gara melakukan intimidasi kita menang, gara-gara sogok-menyogok kita menang, gara-gara intimidasi hingga dapat membunuh orang/petugas pemilu kita menang, gara-gara kita melakukan kecurangan akhirnya kita menang. Pernahkah kita pikirkan hukuman, intimidasi, sogok-menyogok, kecurangan, dan membunuh. Kita menang dengan cara intimidasi, itu haram, kita menang dengan sogok-menyogok, itu haram, kita menang dengan kecurangan, itu haram, dan kita menang dengan membunuh para pesaing kita, itu lebih haram lagi. Kalau semua car akita lalui dengan haram, mungkinkah kita menggapai kepemimpinan halal, mungkinkah kita memakan gaji halal, mungkinkah kita membasmi yang haram-haram seperti korupsi, penyalahgunaan hak dan wewenang, dan perusak gunung/hutan, perusak lingkungan, penipu rakyat, penjual negara kepada bangsa asing, penjual asset negara, dan penjarah uang negara serta nepotisme jahat. Sungguh tidak mungkin, karena itu mulailah sesuatu dengan cara halal dan bertanggung jawab kepada Allah Yang Maha Bijaksana.
Sekarang yang perlu diperketat bukan calon pemimpinnya, tetapi anggota-anggota majlis syuranya, apakah mereka sekaliber Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah, Saad bin Abi Waqash, Bilal bin Rabah, Zaid bin Haritsah, Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Zubair bin Awwam, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ubay bin Kaab, Abu Dzar al-Ghifari, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub Al-Anshari, Muaz bin Jabal, Saad bin Mu’az, Abdullah al-‘Art, Abu Musa al-Asy’ari. Kalau tidak ada anggota-anggota majlis syura sekaliber ini, boleh dicari lagi satu, dua atau tiga peringkat dibawah mereka. Kalau peringkat keempatpun tidak mungkin diperoleh, maka silakan mundur teratur wahai anggota-anggota majlis syura, dan harus tahu diri. Apakah ilmu saya memadai, apakah akhlak saya mulia, apakah pemikiran saya cinta kepada Islam atau kepada sekularisme, liberlisme, atau pluralisme, apakah ibadah saya kepada Allah masih bolong-bolong, dan sebagainya. Karena itu kalau setiap anggota majlis syura sudah terbekali dengan kriteria yang sesuai petunjuk agama, maka ketika mereka diberi hak dan wewenang untuk memilih pemimpin, secara otomastis mereka akan memilih calon pemimpin yang berakhlak mulia, berilmu, beramal shalih, dan mereka tidak sekali-kali mau menerima sogok, suap, dan grativikasi.
Tidak dapat dinafikan, sekarang ini hampir seluruh sendi bangsa sudah mengalami penyakit kronis dalam suap-menyuap, sogok-menyogok, bergelimang dengan kecurangan dan kebohongan, sering bermuka dua terhadap atasan, sudah menjadi darah daging dalam makan makanan haram, korupsi, dan menipu rakyat serta menerima suap dari bangsa asing sehingga nasib bangsa tergadaikan. Hukum hanya kepada domba-doma atau kambing kurap (rakyat jelata), namun kepada serigala dan singa-singa dibiarkan memangsa domba-domba dan kambing kurap secara membabi buta. Beginilah nasib oligarkhi di negeri ini dan begitu pula nasib anak bangsanya sendiri. Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, inilah masa akhir zaman sambil menunggu datangnya Dajjal untuk menguji iman kita, Namun dajjal-dajjal photo copi telah merajalela di dunia ini.

Gurus Besar Ilmu Pendidikan Islam
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh (Dewan Dakwah Aceh) kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap ketiga bagi masyarakat terdampak banjir di sejumlah wilayah Aceh. Kegiatan yang berlangsung tanggal 3–4 Januari 2026 itu merupakan wujud kepedulian dan solidaritas terhadap saudara-saudara yang sedang menghadapi musibah.

Ekspedisi kemanusiaan kali ini dipimpin oleh Ketua Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh, Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, M.CL., MA, didampingi Sekretaris Majelis Syura, Tgk. Sayed Azhar, S.Ag, serta jajaran pengurus Dewan Dakwah Aceh, Drs. Tgk. Mukhtarullah, Sahal Muhammad Lc., MA, dan Muhammad Kamal Hasan. Penyaluran bantuan dilakukan di beberapa wilayah terdampak, meliputi Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Meunasah Jojo, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Di tempat ini, Dewan Dakwah Aceh menyalurkan bantuan berupa Al-Qur’an dan perlengkapan kebutuhan anak-anak di balai pengajian desa.

Selanjutnya, tim bergerak ke Kampung Pante Geulima, Kabupaten Pidie Jaya. Banjir bandang telah merusak Dayah Tgk. Syik Pante Geulima beserta fasilitas pendidikan di sekitarnya. Bahkan sebagian kawasan kini berubah menjadi aliran sungai. Bantuan diserahkan kepada pimpinan dayah dan para santri untuk meringankan kebutuhan di masa darurat.

Perjalanan dilanjutkan ke Ma’had Aly di Desa Matang Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Kondisi lembaga pendidikan ini masih sangat memprihatinkan, dengan lumpur yang belum sepenuhnya dibersihkan serta gangguan listrik. Penyaluran bantuan dilakukan pada malam hari dalam suasana gelap dan berlumpur, namun diharapkan dapat menguatkan semangat para pengelola dan santri.

Kemudian pada Ahad, 4 Januari 2026, tim relawan Dewan Dakwah Aceh bergabung dengan Dewan Dakwah Kota Langsa, Forsiba, dan Dewan Dakwah Aceh Tamiang, menyalurkan bantuan kepada masyarakat di Karang Baru dan Tualang Cut, Kabupaten Aceh Tamiang. Penyaluran bantuan juga dilanjutkan ke Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur dan Kampung Matang Raya, Kecamatan Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara.

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Prof. Dr. Muhammad AR, M.Ed, menegaskan penyaluran bantuan tersebut merupakan amanah umat yang harus disampaikan secara bertanggung jawab.

“Bantuan ini mungkin tidak sebanding dengan besarnya musibah yang dialami saudara-saudara kita. Namun kami berharap dapat meringankan beban mereka dan menghadirkan harapan di tengah kesulitan,” ujarnya.

Guru Besar UIN Ar-Raniry tersebut menambahkan Kehadiran Dewan Dakwah Aceh di lokasi bencana bukan sekadar membawa bantuan materi, tetapi juga membawa pesan persaudaraan, penguatan mental, dan nilai-nilai keimanan agar masyarakat tetap tegar menghadapi ujian.

“Adapun bantuan yang disalurkan meliputi Al-Qur’an, buku Iqra, perlengkapan mandi, kebutuhan bayi, pakaian, mukena, sajadah, kain sarung, sembako, makanan bergizi, tikar, pembalut, dan terpal. Seluruh bantuan merupakan barang baru dan disesuaikan dengan kebutuhan para korban banjir bandang,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Muhammad AR menyampaikan apresiasi dan ucapan ribuan terima kasih kepada Ibu Iin di Semarang, Yayasan Darusy Syahadah Solo Raya, Yayasan Darul Mukmin, Karimun -Kepri, Ibu Sari dkk di Riau,Teuku Zahidi TA dkk, para pengurus Dewan Dakwah Aceh dan masyarakat para donatur lainnya.

“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur dan relawan yang telah mempercayakan amanah ini kepada Dewan Dakwah Aceh. Insya Allah, setiap bantuan yang diberikan akan menjadi amal jariah dan dibalas Allah SWT dengan pahala berlipat ganda,” pungkasnya.

*Teks foto*
Tim Relawan Dewan Dakwah Aceh menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban banjir tahap kedua di Kampung Matang Raya, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Ahad (4/1/2026).


Oleh: Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Jika kita sebagai seorang muslim hendak mencalonkan diri sebagai pemimpin atau memilih seorang pemimpin, maka al-Qur’an, perbuatan Nabi, perkataan Nabi, dan taqrirnya Nabi, serta sejarah Islam itulah yang bisa dipegang dan dijadikan pedoman untuk menjadi pemimoin atau mencalonkan seseorang menjadi pemimpin.

Lagi-lagi kalau kita berbicara idealnya menjadi seorang pemimpin dalam Islam, maka lihat saja Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul (pemimpin ummat, pemimpin negara, pemimpin agama, pemimpin perang, pemimpin ibadah) dimulai ketika umur mencecah 40 tahun dan berakhirnya pada umur 63 tahun. Ini patokan Islam agar tidak menjadi linglung, jawai, ruten, dan putoh kawat atau kekanak-kanakan jika tetap memimpin diatas umur setelah itu atau dibawah umur.

Jika umur masih dibawah 45 tahun, sudah diberi kesempatan sebagai pemimpin, dalam pikirannya bagaimana menghabiskan waktu kecilnya yang belum terkover semuanya, pikirannya main-main terus, petak umpet, plesetan, dan jumping dan main-main air. Pada masa ini tidak ada pemikiran selain itu, konon lagi memikirkan nasib bangsa dan negara. Disisi lain kalau umur memimpin sudah lebih di atas 63 tahun, maka hampir semua fasilitas pemikiran dan phisiknya sudah tidak lagi berjalan di atas sumbunya. Manusia ibarat mesin, mesin itu ada batasnya, lewat dari batas itu, sedikit demi sedikit onderdilnya kehilangan fungsi alias terjadi kerusakan disana sini. Atau, kalau terus dipaksakan, maka ditengah jalan akan mogok atau terguling ke dalam jurang, yang menderita bukan hanya mereka, tetapi penumpang yang berada bersamanya (rakyatnya).

Jadi, kalau berkiblat kepada Rasulullah saw, para cendikiawan, tokoh masyarakat, cerdik pandai, anggota-anggota terhormat, dan petua-petua adat yang memiliki hati nurani dan takut kepada Allah, bolehlah menyusun undang-undang atau tatatertib dalam hal menentukan siapa yang bisa menjadi pemimpin bangsa dan masyarakat.

Jika cendikawan, tokoh masyarakat, cerdik pandai, anggota-anggota terhormat dan petua-petua adat, petua-petua agama, telah memakan sogok, memakan uang haram, dan menerima gratifikasi dari calon pemimpin, maka negara akan collapse (runtuh berkeping-keping). Tentara dan Polisi tidak begitu kuat jika rakyat bersatu hati melawan kedhaliman, lihat saja di dunia modern ini contohnya Nepal.

Tentara dan polisi terakhir muak juga dalam membela pemimpin bajingan, dan mereka akhirnya berpikir dari pada mempertahankan segelintir orang yang berkuasa yang dhlaim, maka lebih baik kita membela rakyat saja karena kalau rakyat tidak ada, negarapun tidak hadir.

Kekuatan rakyat jangan dianggap sepele dan ketika penjajah Belanda, Portugis dan Jepang ke Nusantara, bangsa Indonesia tidak memiliki senjata, namun semangat jihat dan membela bangsa dan negara ada dalam setiap benak anak bangsa, maka senjata penjajah tidak bermakna sama sekali untuk menakut-nakuti bangsa ini.

Karena keadilan, kearifan, kepedulian dan kasih sayang pemimpin terhadap rakyatnya merupakan salah satu langkah menstabilkan kemanan negara serta keutuhan sebuah negara yang berdaulat.
Karena itu ciri-ciri seorang pemimpin dalam Islam harus dipenuhi baik dari sisi umurnya, keilmuannya, kematangan pemikirannya, kepribadiannya yang mulia, dan kearifannya sangat perlu dikedepankan.

Jika syarat-syarat tersebut tidak bisa terpenuhi apalagi untuk mengangkat seorang pemimpin yang levelnya memimpin sebuah negara, maka jangan harap pikirannya sesuai kata dan perbuatan, jangan banyak mengharap kepada perkataan mereka, jangan banyak bermimpi akan keadilan dan kearifan berlaku, jangan banyak menaruh harapan kepada mereka, karena jangankan untuk memimipin bangsa atau masyarakat, memimpin diri sendiri tidak sanggup lagi karena umurnya bukan lagi untuk berfikir, umurnya bukan lagi untuk menerima pendapat, tetapi umurnya sesuai hanya untuk menerima pujian, menerima hal-hal yang menyenangkan, menerima keberhasilan, dan kejayaan serta yang baik-baik saja ditelinganya.

Inilah akibat calon pemimpin yang diusulkan oleh orang-orang yang menerima sogok dan uang haram. Apalagi pemimpin yang lahir dari cara yang haram, cara tidak sah, cara menipu, cara membohongi rakyat, intimidasi, dan secara kejahiliyahan. Maka itu adalah sama seperti mengundang bala bencana, misalnya bencana yang terjadi sekarang, kenapa banjir bandang terjadi di Sumatera? Jawabnya penebangan hutan secara liar secara massal demi uang dan kelapa sawit, mengerok gunung dan menggali pasir di sungai-sungai, lalu kita bertanya apakah negara tidak tahu? Semua ini ada hubungan erat dengan seorang pemimpin bangsa.

Apakah ada keterlibatan Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Bidang Infrastrukur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanah Nasional dalam mengundan banjir bandang di Aceh, Sumut dan Sumbar? Jawab sendiri wahai pemimpin yang adil dan arif!

Lihat saja Lapangan terbang IMIP Private Airport di Morowali, bangsa asing bisa keluar masuk tanpa permisi, ada lapangan terbang tanpa petugai bea cukai negara, tanpa petugas imigrasi negara, hasil bumi kita dikeruk dan dibawa keluar negeri, barang haram dibawa masuk tanpa ada yang mengetahui. Pertanyaannya adalah apakah di negeri ini tidak ada presiden, tidak ada anggota DPR, tidak ada TNI, tidak ada Polisi, tidak ada Kejaksaan, tidak ada Gubernur , tidak ada intelligen, dan tidak ada Bupati dan tidak ada kepala desa disana? Sudah berapa lamakah itu terjadi?
Kalau seorang pemimpin yang umurnya masih segar bugar dan belum melampaui ambang batas 63, pikirannya cerdas, hatinya masih bisa mendengar jeritan dan tangisan rakyatnya, tidak mau mendengar berita bohong begitu saja, tidak bisa ditipu oleh pembisik-pembisik didekatnya, tidak mengabaikan nasehat-nasehat baik dari waraga negaranya dan para alim ulama, tidak suka kepada ulama dan pembisik yang menjilat, dan sebagainya.

Karena mereka masih strong, masih kuat fisk dan mental, masih bisa melaksanakan aktivitas kapan saja, dan berani memecat siapa yang bersalah dan melanggar hukum, inilah ciri pemimpin yang kuat dan peka terhadap tuntutan rakayat dan kinerja anak buahnya, memenuhi syarat dan siap lahir dan batin. Namun kalau umurnya sudah di atas 65 tahun, atau kurang dari 45 tahun, maka simpanlah asa dan harapan itu ketika pemimpin itu innalillah wa inna ilaihi rajiun.

Lihat saja Rasulullah saw wafat pada hari Isnin 12 Rabiul Awwal, namun menurut sejarah, jasadnya baru kemudian dikuburkan pada hari Rabu 14 Rabiul Awwal. Mengapa demikian, bukankah Rasulullah pernah bersabda tentang hal-hal yang perlu disegerakan, misalnya “menyegerakan dalam membayar hutang, menyerakan untuk menikahkan anak perempuan yang sudah baligh jika ada orang yang mau, dan menyegerakan menguburkan janazah”.

Tetapi kenapa jasad Nabi sendiri terlambat dikebumikan. Inilah persoalan utama yaitu belum ada orang yang menggantikannya sebagai pemimpin. Ketika Abubakar Siddiq di bai’at sebagai pengganti Nabi saw, maka jasad baginda Nabi langsung dikebumikan. Begitu pentingnya dan istimewanya kedudukan pemimpin dalam Islam, bukan asal ada yang sogok maka pilihlah mereka. Kalau begini caranya yang lahir adalah pemimpin bajingan.

Makanya wahai para cendikiawan, tokoh masyarakat, para ulama, anggota terhormat, tokoh dan petua adat, tokoh partai, kalau anda semua sudah pernah memakan harta haram, uang sogokan, gratifikasi haram, maka engkau legalkan yang tidak halal, dan engkau benarkan yang salah, dan engkau langgar ketentuan Allah, maka suatu saat engkau atau kita semua akan berhadapan dengan Jaksa Allah, Penyidik Allah, dan para Penjaga Penjara Allah sedang menunggunya. Allahu ‘alam, mohon ampun ya Rabb.

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh.


Tim Relawan Dewan Dakwah Islamiyah Provinsi Aceh kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban banjir. Penyaluran bantuan tahap kedua ini dilaksanakan di Kampung Sikumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (23/12/2025).

Bantuan yang disalurkan diantaranya beras, telur, minyak goreng, ikan sarden, bumbu masak, ikan asin, ikan teri dan bilis, gula pasir, mukena, tikar, kelambu, makanan bayi, popok, pembalut wanita, susu bayi, serta uang tunai. Adapun total bantuannya berjumlah Rp24.150.000,-.

Kegiatan kemanusiaan itu dipimpin langsung oleh Tgk. Mukhtarullah, dengan melibatkan relawan Dewan Dakwah Aceh, yakni Ustaz Abdullah Pohan, Ustaz Jamaluddin, dan Ustaz Afrizal Revo selaku perwakilan Dewan Dakwah Aceh (DDA) Kota Langsa. Para relawan telah bertungkus lumus menempuh medan yang tidak mudah demi memastikan bantuan sampai kepada masyarakat terdampak banjir.

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Provinsi Aceh, Prof. Dr. Muhammad AR, M.Ed, menyampaikan bantuan yang disalurkan tersebut merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial umat Islam terhadap saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah.

“Apa yang kami lakukan ini adalah ikhtiar terbaik yang dapat kami persembahkan untuk umat. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana diberikan kesabaran, ketabahan, serta pertolongan-Nya,” ujar Prof. Muhammad AR.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan dukungan secara ikhlas, di antaranya Ibu Iin di Semarang, DKMMT Cirebon, Bapelkes Aceh melalui dr. Helly Susanti, Pengurus Dewan Dakwah Aceh serta seluruh donatur lainnya.

Selain itu, Dewan Dakwah Aceh turut menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang telah terlibat aktif dalam penyaluran bantuan di berbagai wilayah terdampak bencana, seperti Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang. Dedikasi para relawan diharapkan menjadi amal jariyah dan saham akhirat.

“Semoga seluruh amal kebaikan para donatur dicatat Allah SWT di Illiyyin dan menjadi pelindung dari siksa api neraka pada Yaumil Mahsyar kelak. Dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan berdoa agar Allah SWT melindungi para donatur dan relawan dari bala dan bencana, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

*Teks foto*
Tim Relawan Dewan Dakwah Islamiyah Provinsi Aceh menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban banjir tahap kedua di Kampung Sikumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (23/12/2025).

Oleh: Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Jika ada manusia yang berani mengatakan bahwa bencana banjir di Sumatera atau di Aceh adalah bukan karena ulah tangan manusia, berari mereka telah menentang pernyataan Allah swt dalam al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41. Ini jelas sekali pertentangannya dan mengabaikan eksistensi kalam Allah, mereka ingin cuci tangan terhadap kerusakan yang telah mereka lakukan secara besar-besaran dengan menggunduli hutan untuk tanam kelapa sawit dengan alasan ekonomi dan menggali gunung untuk mencari emas, batubara, nikel dan sebagainya demi investasi dan meningkatkan income perkapita, serta meratakan gunung secara perlahan-lahan hingga akhirnya gunung seperti kepala tanpa rambut. Kalau bukan demi kerakusan dan keuntungan segelintir manusia, bumi ini insya Allah akan tetap aman dan sejahtera bagi para penghuninya. Tragis memang, yang menikmati alam ini hanya segelintir manusia yang berkuasa dan memiliki harta, sedangkan yang menderita jutawan anak bangsa yang tidak berdosa. Inikah yang disebut “Keadilan bagi seluruh Rakyat Indonesia?” Makanya pemilik lahan itu harusnya orang daerah karena mereka tahu bahwa yang akan menerima akibat nanti adalah saudara atau keluarganya, keponakannya, mertuanya, bisannnya, menantunya, sepupunya, ibunya bapaknya, gurunya, orang kampungnya sehingga ketika dia hendak berbuat sesuatu dia pasti berpikir akan keselamatran saudara-saudaranya, tetapi kalau pemilik lahan itu orang luar apalagi orang asing, pasti mereka tidak tahu menahu tentang harga diri kemanusiaan dan persaudaraan. Mereka hanya tahu uang dan keuntungan, kemewahan diri, kebahagian keluarga dan kroninya sendiri. Mereka tidak ubahnya seperti penjajah.
Firman Allah yang artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Rum, ayat 41).
Coba pakek akal sehat dan hati nurani untuk memaknai ayat Allah di atas, kenapa semua kejadian yang mengenaskan baik di daratan ataupun di lautan itu terjadi, apakah itu terjadi dengan sendirinya atau secara alamiah, atau ada yang mengundangnya, atau ada orang yang ditakdirkan Allah untuk merusak bumi ini. Siapa yang bertanggung jawab atas rusaknya bumi, gundulnya gunung-gunung, kering dan dangkalnya sungai-sungai, matinya makhluk yang ada di sungai-sungai, terganggunya habitat makhluk hutan dan satwa liar, salahkan mereka ketika turun ke kawasan penduduk manusia? Salahkah para pengungsi yang tidak punya rumah lagi, tidak punya makanan dan minuman ketika menjarah dan merampok apa yang ada didepan mata mereka? Sedangkan para perusak hutan bersenang-senang di tempat aman dan tidur nyenyak di atas dipan-dipan yang menggairahkan, memakan sesuai kehendaknya, berjalan di atas tol dan highways yang tidak tersentuh lumpur dan debu, mereka bersuka ria dengan kroni, keluarga dan para pengeluar izin menggundul hutan, sementara rakyat jelata hidup penuh penderitaan dan kesengsaraan akibat ulah tangan manusia rakus. Bukankah pernyataan Allah lewat surat Ar-Rum ayat 41 di atas menshahihkan kebejatan manusia tentang perbuatan mereka yang tidak memikirkan keselamatan manusia lainnya, tidak menghiraukan nasib orang lain, dan sama sekali tidak punya belas kasihan seperti yang berlaku di Sumatera dan Aceh akhir bulan November dan awal Desember 2025.
Mari kita memakai otak untuk menghitung berapa nyawa yang sudah hilang gara-gara bala bencana ini, berapa buah rumah yang tidak tahu rimbanya diterjang banjir ini, berapa banyak binatang ternak yang telah punah dan bangkai-bangkainya merajalela di tengah pemukiman penduduk dengan bau yang menyesakkan hidung, berapa banyak bangkai-bangkai manusia berserakan di dalam lumpur dan sungai-sungai yang tidak terkubur, berapa banyak penduduk gunung dan bukit yang punah, berapa kantor pemerintah yang harus dibangun kembali, berapa harta benda yang sudah ranap, dan berapa kenderaan yang harus diperbaiki dari nol, dan berapa ribu anak manusia yang tidak belajar (berhenti) karena situasi dan kondisi ini serta gedung sekolahnya hancur, berapa banyak rumah ibadah yang rusak dan dipenuhi lumpur yang secara akal sehat kalau mau dibersihkan pakek cangkul dan alat-alat lainnya, enam bulanpun belum tentu selesai. Tidakkah kamu memakai otak? Demikian pernyataan Allah sering kita dapatkan dalam al-Qur’an. Seharusnya tidak purlu ditanya siapa manusia, itulah sejatinya seorang manusia kerjanya suka membangkang, suka merusak, suka membantah, keras kepala , egois, dan mau menang sendiri. Sering kita dengar orang-orang yang berkuasa selalu mengatakan, “Negara tidak boleh kalah”, walaupun terhadap rakyat jelata yang tidak punya pembela dan penolong.
Lihat bagaimana tragis dan sengsaranya warga Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireun, akibat dari bencana banjir ini. Rumah mereka ditelan bumi, harta benda mereka ditelan sungai dan lumpur, sanak saudaranya banyak yang hilang ditelan banjir, tempat sekolah anak-anak mereka banyak yang tidak tahu rimbanya, mereka menjerit kelaparan dan kehausan karena terisolir dan terputus hubungan dari berbagai jurusan. Jembatan putus, jalan terbelah dan terputus serta terkubur tanah longsor. Kata Wali Nanggroe helicopter di negeri ini banyak sekali tetapi yang diberikan untuk setiap provinsi yang terkena banjir hanya empat unit, suplai makanan terhenti seperti saudara kita yang tinggal di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues, mereka memang tidak terkena banjir bandang tetapi imbasnya mereka kehabisan makanan, minuman, minyak, gas dan lain-lain. Ini dikarenakan terputusnya hubungan darat ke daerah mereka karena jembatan menuju ke dataran tinggi semuanya ludes dilahap air bah (banjir). Jika boleh dikatakan, musibah banjir tahun 2025 untuk Aceh melebihi Tsunami tanggal 26 Desember 2004. Karena tsunami hanya terjadi Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, dan Aceh Barat. Sedangkan musibah banjir kali ini Desember 2025 hampir menyeluruh dirasakan di provinsi Aceh. Namun Tsunami banyak kehilangan nyawa dan harta benda, sedangkan musibah banjir tahun 2025 banyak kehilangan harta benda. Itu saja perbedaannya.
Namun demikian hingga hari ini, Ahad 14 Desember 2025 Pemerintah Republik Indonesia belum menetapkan Bencana Banjir Sumatera sebagai bencana nasional sehingga bantuan asing tidak diizinkan masuk dan tidak berani masuk untuk membantu korban banjir. Memang ini seperti buah simalakama, artinya “kalau dimakan mati ayah, dan kalau tidak dimakan mati mama”. Kita sendiri gak sanggup membantu dan merekonstruksi semula semua kehancuran ini walau dalam masa enam bulan, ada negara luarpun yang hendak membantu, namun ditolak oleh pemerintah kita, harus ada surat izin masuk. Kenapa untuk merambah hutan dan menggali gunung cepat sekali izinnya keluar? Ini artinya kita masih tegak berdiri untuk menolak bantuan asing , tetapi ada resikonya kalau bantuan asing diterima, mereka sambil bawa bantuan menyelidiki kenapa musibah ini terjadi, kalau penyebabnya sudah diketahui, hasilnya akan dipaparkan di event dunia, disitulah wajah Pemerintah Indonesia akan dipermalukan karena membiarkan hutan digundul, bukit diratakan, tambang dibuka seperti orang buka lapak di pasar malam khususnya kepada mereka yang punya kuku (ukee). Ini resiko dan memalukan, makanya walaupun kita miskin tetap menyuarakan kaya di mata dunia walaupun rakyat meronta-ronta, rumah tempat tinggal ranap, makanan senin kamis, air bersih model tadah hujan, transportasi lumpuh, aktivitas lumpuh total, hidup di tempat pengungsian yang sangat tidak layak dari semua unsur, dan begitulah yang penting rakyat yang punya ketauhidan yang tinggi, bersabarlah kepada Yang Maha Kuasa karena Dia-lah Yang Maha Penolong hamba-hambanya yang sabar.
Perlu diketahui akibat banjir itu, Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Bireun, Pijay, Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dll dalam keadaan gelap gulita, krisis Listrik, krisis air mimun, krisis gas dan krisis BBM. Ini diakibatkan aktivitas transportasi lumpuh, lalu rakyat bertanya, kapan kondisi ini berubah setahun kah, sebulan kah, atau …? Sejak tulisan ini ditulis Aceh sudah tiga minggu hidup dalam menderita dari berbagai sektor, nasib baik manusia yang tinggal di Aceh masih dalam tataran sabar dan beriman yang hanya kepada Allah mereka sandarkan diri. Semoga artikel ini bisa menggugah semua orang dan jangan gara-gara musibah ini ada manusia busuk mengambil kesempatan dalam kesempitan, menaikkan harga, menaikkan biaya transortasi, menaikkan biaya penyeberangan, mempersulit izin, dan mengmabil upah seenaknya saja terhadap barang bantuan untuk kemanusiaan, memonopoli pelabuhan dan lapangan terbang untuk meminta ongkos bongkar muat barang. Bukankah pemerintah pusat dan orang-orang dermawan mengirimkan bantuan untuk saudara kita? Kenapa kita tidak punya hati nurani dan kemanusiaan? Ini telah berlaku terhadap penduduk Aceh oleh manusia yang berprangai Belut yang hanya bisa mencari makan di air keruh. Jauhkan sifat busuk ini kalau anda masih ber-KTP Islam.
Dosen Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Darussalam-Banda Aceh

Pada Rabu dini hari, 26 November 2025, sekitar pukul 03.00, badai angin menghantam Aceh Tamiang. Akibatnya, terjadi pemadaman listrik sesaat dan beberapa pohon tumbang di sejumlah lokasi, termasuk di Tualang Cut, jalan lintas Sumatra. Badai ini kemudian disusul hujan yang sangat deras, yang telah mengguyur sejak Selasa dan berlanjut hingga siang hari Rabu. Kondisi ini menyebabkan beberapa kawasan seperti Seruway, Sekerak, dan Bukit Rata mulai terendam, memaksa warganya mengungsi ke rumah-rumah kerabat.

Menjelang malam, setelah Isya, sekitar pukul 21.00, air mulai memasuki Kampung Dalam, daerah tempat tinggal kami. Padahal, menurut penuturan warga setempat, kampung ini belum pernah terendam air bahkan saat banjir besar sekalipun. Namun, kami menyaksikan sebuah keanehan: meskipun ketinggian air baru sebatas betis orang dewasa, arusnya sangatlah deras, ini menunjukkan air datang dari luapan sungai dari atas gunung bukan tergenang.

Sekitar pukul 21.47, air akhirnya masuk ke dalam rumah kami. Saya dan keluarga paman segera naik ke lantai 2 untuk menyelamatkan diri. Kami tidak sempat membawa banyak barang, seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan, karena kami memperkirakan air hanya akan naik setinggi lutut atau sepinggang.

Namun, Allah berkehendak lain. Listrik padam dan ketinggian air terus meningkat drastis, mencapai 1,5 meter pada Kamis, 27 November. Pada pagi hari Kamis itu, melihat kondisi air yang semakin tinggi, kami mencoba turun ke lantai dasar untuk mengambil beberapa makanan yang masih terselamatkan di dapur, serta gas dan kompor agar bisa memasak. Saat itu, sinyal ponsel masih hilang timbul, dan menjelang siang, sinyal hilang total. Air terus naik dengan gelombang yang semakin besar. Di depan rumah, kami juga melihat beberapa narapidana yang dilepas berjalan perlahan melewati genangan air setinggi leher orang dewasa, mencari tempat berlindung. Namun, banyak yang menolak mereka karena statusnya sebagai narapidana, dan beberapa rumah juga sudah sangat sesak di lantai duanya, seperti rumah kami yang berukuran 3×3 meter menampung 7 orang (termasuk 1 balita), dan rumah tetangga kami yang menampung 30 orang. Meskipun demikian, Alhamdulillah, beberapa toko yang memiliki lantai dua bersedia menerima dan menolong mereka.

Sekitar pukul 10.00 pagi, air dan arus terus bergejolak, menabrak beberapa rumah hingga merobohkannya. Salah satu korbannya adalah Alfamart yang berada tepat di depan rumah kami. Dinding belakangnya jebol, menumpahkan seluruh isinya. Semua makanan menyebar dan tersangkut di beberapa rumah, memudahkan orang-orang yang sudah tidak sempat menyelamatkan makanannya untuk memungutnya. Beberapa anak remaja yang berani berenang dan naik di atas atap rumah-rumah warga pun ikut mengambil makanan dan menyalurkannya.

Menjelang Asar, ketinggian air semakin kencang dan mencapai sekitar 3 meter, sehingga tidak ada satu orang pun yang terlihat mencoba berenang atau turun. Semuanya hanya bisa melihat dan menunggu, berharap air segera surut. Di pagi hari, kami sudah mencoba menghubungi tim SAR, namun mereka tidak dapat menolong, hanya menyarankan untuk evakuasi mandiri dan bertahan di lantai 2. Kami juga menghubungi BPBD, tetapi tidak ada jawaban.

Situasi semakin mencekam karena arus dan airnya semakin kuat dan tinggi. Ditambah lagi, ada dua orang (termasuk 1 anak kecil) yang hanyut terbawa arus. Orang-orang hanya bisa berteriak histeris dan menangis, tak mampu berbuat apa-apa, berharap puluhan helikopter TNI dan POLRI datang menyelamatkan kami. Hingga akhirnya malam tiba, situasi pun semakin genting. Hanya tersisa beberapa anak tangga lagi sebelum air mencapai lantai 2. Saat itu, saya langsung mengumandangkan azan dengan suara yang keras, mencoba melawan kerasnya suara arus. Saya berharap suara ini didengar, memberikan harapan dan pesan kepada orang-orang bahwa sebagai seorang muslim yang memiliki tauhid, mereka masih punya penolong. Kami memanjatkan doa kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya, bertobat di detik-detik terakhir, dan menyesali dosa yang telah dilakukan agar saat kami semua hanyut pun, kami mati dalam husnul khatimah dan meninggalkan dunia dengan kepala tegap menghadap Allah.

Setelah Isya, situasi semakin menakutkan karena suara arus yang semakin mendekati lantai 2 terdengar seperti ombak di tengah badai lautan. Kami sudah menyiapkan terpal untuk naik ke atap lantai 2, jika kemungkinan air naik lebih tinggi. Paman dan bibi saya sudah naik, sedangkan kami belum, karena masih ada satu anak tangga lagi sebelum air mencapai lantai 2.

Malam itu adalah malam Jumat, saya teringat bahwa itu adalah hari di mana semua doa diijabah. Saya terus berdoa kepada Allah sepanjang malam tersebut sambil menangis, “Ya Allah, kami semua pendosa, semua membangkang kepada-Mu, namun setidaknya ada orang saleh dan ikhlas beribadah kepada-Mu. Mohon selamatkanlah kami karena mereka. Ya Allah, di antara kami ada anak kecil, balita, bayi di atas loteng rumah orang, mereka belum berbuat dosa sama sekali kepada-Mu, selamatkanlah kami karena mereka, Ya Allah. Ya Allah, saya masih punya anak umur 1 bulan,istri orang tua, dan 4 adik, berikanlah saya kesempatan lagi untuk berbuat baik kepada mereka semua, Ya Allah.” Sayapun salat 2 rakaat sebagai persembahan ibadah terakhir saya sebelum air menghanyutkan kami semua. Pada malam itu, semua orang yang ada di atap berteriak “Tolong… tolong…”, berharap ada tim penyelamat yang datang karena mendengar suara ini. Tidak ada satu pun yang tidur karena situasi sudah seperti ini.

Hingga akhirnya saya merasa Allah mengijabah doa kami, karena dari semalam sampai subuh, airnya terus bertahan tidak naik lagi, sehingga membuat hati saya agak semakin lega. Namun, tantangan baru kembali datang. Air masih setinggi sekitar 5 meter, dan arusnya tidak ada yang sanggup menerjang. Makanan dan air minum sudah menipis, beberapa bayi pun sudah kelaparan. Sehingga, ada beberapa rumah yang langsung menimba air banjir yang lewat dan memasaknya untuk diminum. Adapun kami memasak air hujan yang sudah tertampung di terpal yang sudah kami bentangkan semalam, sehingga bisa bertahan satu hari lagi.

Orang-orang yang berada di lantai 2 dan di atas rooftop juga mencoba melempar makanan dan tali ke rumah kami untuk kami lemparkan lagi ke rumah dan atap orang lain. Yang sangat mengejutkan saya adalah, yang mengumpulkan dan melempar makanan serta minuman ke rumah kami tersebut adalah para narapidana yang sebelumnya diizinkan masuk dan menginap bersama penjaga ruko. Para narapidana yang sebelumnya diusir dan ditolak hampir oleh seluruh rumah warga, pada hari itu justru lebih layak diberikan bintang penghargaan pahlawan daripada pejabat-pejabat hari ini. Mereka lebih manusiawi, lebih simpati, dan lebih bisa diandalkan daripada tim SAR, aparat, dan pejabat negeri ini.

Singkat cerita, air perlahan surut mulai Jumat hingga Ahad pagi, 30 November 2025. Saat air surut, semua orang langsung turun untuk mencari makanan dan minuman di puing-puing reruntuhan rumah. Kami saling bertemu, menanyakan nasib dan keadaan sesama, saling menangis haru karena Allah masih memberikan kami kesempatan untuk melihat matahari dan beribadah kepada-Nya.

Dari Ahad sampai Rabu (30 November – 3 Desember), orang-orang mencari makanan, gas, mencuci sisa pakaian yang sudah berlumuran lumpur untuk digunakan lagi, serta membersihkan rumah dari lumpur yang sudah setinggi lutut. Kami mendengar kabar dari pejalan kaki dari arah Medan ke Banda Aceh dan sebaliknya. Mereka berjalan kaki, berenang di genangan banjir, untuk melanjutkan perjalanan kembali ke kampung dan ke tempat yang aman, serta melihat saudara mereka di Tamiang.

Hingga akhirnya Rabu 3 Desember 2025 saya memutuskan untuk meninggalkan Tamiang, berjalan dan menumpang truk yang lewat, dan tiba di Langsa. Di sana, kami langsung mendapatkan sinyal dan menghubungi keluarga, yang sudah mencari dan menantikan kabar kami di Tamiang.

Allah memberikan cobaan ini untuk kita renungkan bersama, bahwa harta itu jika bukan kita yang meninggalkannya, maka dialah yang akan meninggalkan kita. Orang kaya di Tamiang dengan segala hartanya habis Allah ambil dengan bencana. Maka, jangan terlalu tamak dan serakah, rajinlah bersedekah karena itu semua bukan milik kita.

Saat bencana terjadi, segala harta yang kita miliki sudah tidak bernilai lagi. Kita tidak risau lagi saat melihat mobil, motor, rumah, dan segala isinya hancur dan rusak. Kita malah bersyukur bahwa Allah masih menyisakan kita nyawa. Maka dari itu, janganlah kita jadikan harta sebagai tujuan utama hidup kita di dunia ini.

Saat semua mengharapkan manusia, pemerintah, tim SAR untuk menolong, tidak ada satu pun yang datang kecuali Allah Ta’ala. Mereka tidak mampu dan tidak bisa melakukan apa pun. Maka, jadikanlah Allah sebagai penjaga dan penolongmu, berharaplah kepada-Nya dalam segala hal.

Saya berharap agar bantuan segera datang dan masuk ke Tamiang. Mereka butuh obat, makanan, air bersih, tempat tinggal, pakaian, dan lainnya. Dana sudah digalang, maka saya mohon sekali tidak ada permainan dan orang mengambil untung dari kejadian ini. Saya mohon sekali dengan sangat-sangat agar tidak ada korupsi dari bantuan ini. Jika tidak mau membantu, maka jangan menzalimi. Tolong pemerintah turun tangan dengan cepat. Mereka rakyat kalian. Ke mana kalian saat datang mengemis di masa Pilkada kepada mereka, dan saat mereka butuh kalian, kalian tiada. Kalau kalian tidak mampu, maka biarkan orang dan negara lain membantu, jangan dihalangi. Apakah kalian menjadikan angka kematian sebagai syarat penerima bantuan? Umar bin Khattab saja tidak bisa tidur jika ada satu saja rakyatnya kelaparan. Apakah kalian menunggu dan melihat angka survei jumlah korban agar kalian memutuskan membantu mereka yang sudah ditunggu oleh kematian karena lapar, haus, dan kedinginan?

Saya dengan hati yang paling dalam memohon dengan sebesar-besarnya, bantulah mereka, kerahkan semuanya.

Penulis: Sahal Muhammad AR, Penyuluh Agama Islam Aceh Tamiang.

Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Da’wah adalah menyeru manusia untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan memiliki nyali untuk menghentikan manusia berbuat kerusakan dan kedurhakaan. Jika kedua hal ini stagnan (terhenti), maka yang terjadi adalah merajalelanya kemungkaran dan kedurjanaan di tengah komunitas. Namun yang kerap kali terjadi dalam komunitas kita adalah disebabkan eksisnya sedikit disparitas (perbedaan) diantara para pegiat da’wah, antara sesama institusi Islam akhirnya da’wah ilallah terhenti atau memilih jalan sendiri-sendiri sehingga mempersempit kebersamaan dan bahkan merusak silaturrahmi yang sentiasa didengung-dengungkan oleh pegiat da’wah itu sendiri. Kalau kita masih menyimpan narsisisme yang begitu mendalam atau egomaniac, maka penyebaran risalah Islam akan stagnan. Dalam hal ini, kita boleh mengikuti pendapat Imam Syafii yang menyarankan kita untuk tidak banyak berdebat agar tidak melahirkan disparitas dan permusuhan. Berbuatlah sesuai kapasitas demi ummat Islam, demi agama Allah, demi risalah Rasulullah saw. Mungkin para pegiat da’wah perlu menghayati tazkiyaun Nafs secara mendalam dan dapat diejawantahkan dalam setiap lini kehidupan khasnya di medan da’wah. Sering kita dengar pendapat orang bijak, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Masalah yang besar harus diperkecil, yang yang kecil perlu dihilangkan. Beginilah diajarkan oleh baginda Nabi saw kepada para sahabatnya dan kepada kaum muslimin dan muslimat semuanya hingga akhir hayat. Hal yang paling utama dipikirkan oleh pegiat da’wah adalah membersihkan hati, menghindari konflik kepentingan, membuang habis sifat dendam yang tersimpan di lubuk hati, lihatlah kebaikan orang bukan kekurangannya, seharusnya kita semua harus muhasabah terhadap sifat kita, syakhsiyyah kita, dan kelebihan dan kekurangan kita.
Kita mempunyai tuhan yang satu yaitu Allah swt; dan kita adalah pengikut setia Nabi Muhammad saw, dan tidak ada disparitas dalam hal ini. Kita mengemban tugas baginda Nabi saw untuk mempromosikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia di seluruh jagat raya ini jika kita mampu menjangkaunya. Kalau da’wah dapat diekspansi ke seluruh desa terpencil menembusi relung hati manusia yang jauh dari kawasan yang banyak tapak manusia, kenapa dengan sedikit distingsi menjadi penghalang utama dalam penyebaran da’wah Ilallah. Kalau disparitas itu timbul karena masalah persoalan penataan ekonomi, mungkin saja boleh kita faraq, kalau disparitas itu disebabkan oleh persoalan penyimpangan moralitas mungkin dapat dipertimbangkan, tetapi kalau menyangkut hal remeh temeh kata orang Melayu, maka ini perlu ditinjau ulang. Walaupun begitu, setiap orang yang melibatkan diri dalam kancah da’wah, tidak boleh tidak, harus mengikuti jejak Rasulullah. Karena jejak Rasulullah bukan hanya slogan kosong, tetapi pengejawantahan yang sesungguhnya. Tidak ada anak tiri dan anak kandung dalam da’wah, tidak ada dinding penyekat dalam da’wah, dan tidak ada kans untuk berbuat tidak jujur dalam dunia da’wah. Semua langkah-langkahnya, metodenya, strateginya, tehniknya, pendekatannya telah diajarkan oleh baginda Nabi saw dan para sahabatnya. Tegaslah dengan orang kafir, dan lemah-lembutlah serta kasih sayang antara sesama muslim, bukan sebaliknya kita saling gontok-gontokan sesama muslim dan berkasih sayang dengan musuh Allah dan musuh Nabi saw. Umat yang paling banyak perselisihan antar sesama mereka adalah kaum Nasrani dan kaum Yahudi walaupun yang nampak ke permukaan keserasian dan kekompakan. Mereka kompak dan bersatu untuk memporak-porandakan Islam dan ummatnya, untuk mengetahui bagaimana seharusnya mereka (Yahudi dan Nasrani), silakan buka firman Allah dalam Surat Al-Hasyr ayat 14. Permusuhan antara sesama mereka (orang kafir) sangat hebat, dan mereka terpecah belah sesama mereka.
Seharusnya apa yang Allah gambarkan dalam al-Qur’an tentang sifat orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang munafik, cukup hanya sebagai ibrah kepada kita dalam menjalankan da’wah ilallah dan kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya sehingga dalam waktu tidak terlalu lama baginda Nabi bisa mengislamkan seluruh jazirah Arab. Semua ini berkat ketinggian dan keluhuran akhlaknya, kebijaksanaannya yang tidak terbantahkan, kelemah-lembutannya terhadap manusia, kesederhanaanya dalam segala kehidupannya, kemaafannya terhadap manusia yang pernah bersalah dengannya, dan keadilannya dalam memimpin ummat. Salah seorang sastrawan Inggris, Bernard Shaw pernah mengatakan bahwa, “salah satu sebab Islam cepat sekali berkembang ke seluruh jazirah Arab adalah dikarenakan Akhlak mulia Muhammad.” Ini perlu dicontohkan secara totalitas dan kalau tidak sanggup juga, maka jangan ditinggalkan semuanya. Mungkin tema inilah yang selalu didengungkan oleh setiap da’I atau juru da’wah ketika berpapasan dengan mad’u di tengah komunitas. Namun semua itu akan Allah jelmakan dalam hati kita seandainya kita siap sedia memohon ampun kepada-Nya, memohon petunjuk-Nya, memohon hidayah-Nya, meminta perlindungan-Nya, dan kepada-Nyalah kita berserah diri serta memperhambakan diri.
Perbedaan organisasi, perbedaan institusi, dan home base, perbedaan bangsa, suku dan warna kulit, bukanlah sebagai dasar utama da’wah menjadi stagnan. Kita jauhkan ashabiyah institusi, ashabiyah pendidikan dan professionalime, serta ashabiyah-ashabiyah lainnya yang dapat mengendorkan semangat da’wah ilallah. Secara terus terang, dalam setiap lisan kita dan dalam sanubari kita yang terdalam selalu terjelma bagaimana memperkuat umat dengan keilmuan dan ekonomi, membentengi umat dengan Aqidah yang benar, mencerdaskan umat dengan pengetahuan agar terhindar dari kejahiliyahan, membela umat yang tertindas dan terkebelakang, tetapi dalam tataran praktis apakah kita bersinergi dengan konsep yang sebenarnya atau sebaliknya. Ini perlu dicamkan dan dipertimbangkan secara matang agar upaya-upaya pelemahan dan pengendoran aktivitas da’wah perlu dihentikan. Hindarilah setiap upaya terjadinya stagnisasi da’wah karena ini sama saja seperti memadamkan pelita di tengah kegelapan. Seharusnya riak-riak yang terdapat di medan da’wah dapat menjadi supplemen ketahanan tubuh dan kematangan berpikir dalam rangka melebarkan sayap da’wah ilallah ke seluruh penjuru negeri.
Perkara penting yang perlu dikedepankan dalam rangka pelestarian da’wah adalah bagaimana mempersiapkan kader-kader pengganti di medan da’wah secara berterusan, merekrut sebanyak-banyaknya pegiat da’wah, memperbanyak muhsinin, donator dan para dermawan yang siap sedia membela dan membantu da’wah dalam berbagai aktivitas dan kebutuhan. Metode mengetuk hati orang-orang kaya dan orang-orang berada perlu dipropagandakan dengan memperlihatkan hasil maksimal dan reliable di tengah komunitas binaan. Para donator, muhsinin, dan dermawan sangat cepat tersentuh jika dapat melihat realitas yang sebenarnya hasil kerja da’wah, hasil pembinaan para da’I, dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu. Penting diingat bahwa disparitas yang menganga di tengah komunitas berakibat pada menurunnya kepercayaan umat kepada pegiat da’wah atau juru da’wah. Di sini sesuai dengan pendapat Al-Ghazali kepada setiap guru (juru da’wah), bahwa sebelum mengajarkan akhlak kepada murid, maka ajarkan akhlak itu kepada dirimu sendiri terlebih dahulu. Karena juru da’wah dan guru hampir tidak dapat dipisahkan tugas dan perannya di tengah umat, makanya juru da’wah dan guru umat harus memiliki sifat altruistic yang dapat dijadikan teladan bagi yang melihatnya dan yang mengikutinya.
Musyawarah dan tukar pikiran itu perlu, mendengar pendapat orang yang sesuai dengan dalil atau nash boleh diikuti, maka diharapakan kepada para pegiat da’wah tidak berhenti membaca seerah Nabi, perjuangan sahabat, dan biografi orang-orang sukses dalam memimpin umat. Disana banyak hal yang boleh dipetik dan diteladani khasnya untuk orang-orang yang sering berhadapan dengan grassroot di daerah terpencil dan terisolir. Kalau kita saling menghormati, saling memohon maaf atas kekurangan dan kekhilafan, dan selalu mengedepankan husnuz zhan terhadap sesama muslim konon lagi dengan sesama penyeru kepada kebajikan.

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh

Oleh Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA
(Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Mengikuti hadits-hadits Rasulullah SAW terdapat sejumlah arahan terkait dengan akhlak seorang imam dalam memimpin shalat berjama’ah. Arahan-arahan tersebut semestinya diikuti dan diamalkan oleh para imam dalam memimpin shalat jama’ah baik di masjid, di rumah, di kantor dan di mana-mana karena itu semua menjadi bahagian dari kesempurnaan shalat berjama’ah di bawah kepemimpinan seorang imam. Oleh karenanya seorang imam harus memastikan shaf para ma’mum sudah rapat, rapi dan lurus serta tidak ada gangguan apapun selama berlangsungnya shalat berjama’ah termasuk gangguan dari anak-anak sebelum bertakbiratul ihram, demikianlah penjelasan makna hadits: shuuf shufufakum fainna tasfiyatashshufuufi min tamaamis shalaah/min iqaamatish shalaah. Selain menjaga kerapian ma’mum seorang imam juga harus menjaga kerapian diri sendiri seperti fasih dalam bacaan karenan Bahasa Al-Qur’an itu beda huruf beda makna, beda panjang pendek beda makna dan beda barispun beda makna. Maka sang imam jangan membuat para ma’mum tidak khusyu’ shalat karena tidak benar bacaannya. Di antara prihal arahan tersebut antarra lain adalah:
1. Imam memanjangkan raka’at pertama berbanding raka’at kedua dalam shalat berjama’ah, selaras dengan hadits Abu Sa’id al-Khudri yang menceritakan: “iqamah shalat dzuhur sudah dikumandangkan lalu ada seorang yang berangkat ke Baqi’ untuk buang hajad kemudian mendatangi keluarganya dan berwudhuk. Seterusnya ia datang lagi ke masjid sedangkan Rasulullah SAW masih berada pada raka’at pertama karena beliau memanjangkan bacaannya.
Ada dua keadaan yang membuat seorang imam dibolehkan tidak mengikuti hadits ini karena keadaan yang membolehkannya, yaitu; pertama, jika perbedaan bacaan itu sangat tipis seperti membaca surah al-‘Akla pada raka’at pertama dan surah al Ghasyiyah di raka’at kedua dalam shalat Jum’at dan dua hari raya; yang kedua dalam kasus melaksanakan shalat khauf di mana separuh pasukan melaksanakan shalat berjama’ah dua raka’at bersama imam lalu dua raka’at lagi diselesaikan sendiri, sementara imam berada pada posisi duduk tahyat pertama dan kemudian pasukan kedua bergabung untuk berjama’ah dua raka’at juga, manakala imam memberi salam jama’ah terus menyelesaikan shalatnya dua raka’at lagi.
2. Meringankan shalat dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak terlalu Panjang selaras dengan hadits muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah r.a.; “Jika salah seorang di antara kamu mengimami orang-orang shalat berjama’ah hendaklah ianya memperingankan bacaan karena dalam jama’ah terdapat anak kecil, orang yang sudah tua, orang lemah, orang sakit, (dan orang yang mempunyai keperluan). Tetapi jika ia shalat sendirian bolehlah ia mengerjakannya semaunya. Dalam hadits dari Jabir bin Abdullah: Mu’az bin Jabal pernah shalat isya bersama Nabi SAW kemuadian ia kembali dan mengimami kaumnya. Dalam melaksanakan shalat isya bersama kaumnya Mu’az membaca surah al-Baqarah. Berita tersebut sampailah kepada Nabi SAW, lalu beliau bersabda: “Wahai Mu’az apakah kamu ini tukang fitnah atau pemicu fitnah? Sebanyak tiga kali. Seandainya kamu shalat membaca: sabbihismarabbikal ‘akla…, wasy syamsi wa dhuhaha dan wal Laili iza yaghsya sesungguhnya di antara orang-orang yang shalat di belakangmu itu terdapat orang tua, orang lemah dan orang yang mempunyai keperluan”.
Bacaan ringan yang dituntun dalam mengimami shalat terbagi dua; pertama, tidak memanjangkan bacaan ayat Al-Qur’an apabila merasakan ada jama’ah yang lemah, sakit, tua atau para pedagang yang memerlukan waktu untuk berdagang, berdasarkan hadits: iza amma ahadukumun nas fal yukhaffif (jika mengimami shalat maka ringankanlah dalam bacaan); kedua, meringankan bacaan karena ada alasan mendesak seperti imam mendengar ada anak bayi menangis, hal ini sesuai dengan hadits dari Abu Qatadah: “Sesungguhnya aku akan berdiri dan memanjangkan bacaan dalam shalat karena mendengar seorang bayi menangis maka Aku meringankan bacaan shalatku karena tidak mau menyusahkan ibu bayi tersebut”.
3. Memanjangkan dua raka’at pertama dengan memendekkan dua raka’at terakhhir. Selaras dengan hadits dari Jabir bin Samurah r.a yang di dalamnya disebutkan bahwa Sa’ad r.a pernah berucap kepada Umar bin Khaththab: sesungguhnya aku akan shalat Bersama mereka seperti shalat Rasulullah SAW, yakni dengan memanjangkan dua raka’at pertama dan memendekkan dua raka’at terakhir. Aku tidak pernah memendekkan shalat karena aku mengikuti shalat Rasulullah SAW.
4. Setelah memberi salam imam menghadap wajahnya kehadapan ma’mum. Hal ini sesuai dengan hadits dari Samurah bin Jundab r.a yang mengatakan: Nabi SAW setelah selesai shalat lalu menghadapkan wajahnya kepada kami. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul bari menjelaskan bahwa membelakangi ma’mum adalah hak imam ketika sedang mengimami shalat, maka untuk menghilangkan kesombongan selepas shalat imam harus menghadap kepada ma’mum.
5. Imam tidak boleh mengimami suatu kaum kecuali atas izin kaum tersebut dan tidak dibolehkan berdo’a untuk diri sendiri yang diamini ma’mum, selaras dengan hadits dari Abu Hurairah: tidak dibolehkan bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari aakhir untuk mengimami suatu kaum kecuali dengan seizin mereka. Tidak pula mengkhususkan do’a hanya untuk diri sendiri tanpa mempedulikan mereka. Jika dia melakukan hal tersebut berarti dia telah mengkhianati mereka.
6. Imam tetap tinggal sebentar di tempatnya setelah mengucapkan salam. Berdasarkan dari hadits Ummu Salamah: “Jika Rasulullah SAW sudah mengucapkan salam, kaum wanitapun berdiri, sementara beliau diam sejenak sebelum berdiri. Dalam lafaz lain: Beliau mengucapkan salam lalu kaum wanita berbalik dan masuk kerumah mereka masing-masing sebelum Rasulullah SAW berbalik. Ibnu Syihab berkata: Aku melihat, wallahu ‘aklam, menetapnya beliau di tempat shalatnya dimaksudkan agar kaum wanita sudah beranjak pergi sebelum mereka dilihat oleh orang-orang ketika mereka berbalik. Ibnu Hajar menafsirkan hadits tersebut untuk menjaga iman seseorang dan menjaga tidak terjadi ikhtilath dalam perjalanan pulang dari masjid antara lelaki dengan Perempuan.
7. Imam berdiri duluan untuk meninggalkan arena shalat baru disusul oleh ma’mum. Berdasarkan hadits Nasa-i: kaum wanita segera bangun dan pergi setelah Rasulullah SAW selesai salam dalam shalat, kemudian Nabi bangkit baru disusuli oleh jama’ah lelaki.
8. Tidak mengerjakan shalat sunnat di tempat yang digunakan shalat wajib. Ini sesuai dengan yang diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah: seorang imam tidak boleh mengerjakan shalat sunnat di tempat ia mengerjakan shalat wajib hingga dia berpindah.
9. Imam dianjurkan membuat sutrah di depannya sebagai pembatas dengan pihak lain yang berlalu di sana, sutrah tersebut menjadi pembatas baginya dan makmum di belakangnya. Hal ini selaras dengan hadis Abu Sa’id Al-Khudri: “Jika seseorang kamu mengerjakan shalat, hendaklah ia menghadap kepada sutrah dan mendekat kepadanya.
10. Posisi seorang imam tidak berada pada tempat yang terlalu tinggi dari posisi makmum. Hal ini diterangkan dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (III/48) dan dalam Asy-Syarhul Mumti’ karya Ibnu Utsaimin (IV/423-426).
11. Seorang imam juga tidak dibolehkan shalat di tempat yang tertutup untuk makmum, hal ini diterangkan dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abu Syaibah (II/59-60) dan juga dalam Asy-Syarhul Mumti’ (IV/427-428).
12. Imam tidak terlalu lama duduk menghadap qiblat setelah mengucapkan salam. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah yang menyatakan: setelah salam Nabi tidak duduk lama kecuali seukuran selesai mengucapkan do”: Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya zal jalali wal ikram.
13. Untuk memelihara kemuslihatan makmum dengan cara tidak boleh bertentangan dengan sunnah. Sebagaimana keterangan hadis dari Jabir; Nabi senantiasa memelihara kemuslihatan jama’ah dengan mengakirkan shalat ‘isya jika para shahabatnya belum berkumpul untuk shalat berjama’ah. Kata Jabir: shalat ’isya itu tidak selalu dikerjakan pada awal waktu, jika Nabi melihat para shahabat sudah berkumpul baru Beliau melaksanakan shalat jika para shahabat belum berkumpul Nabi mentakkhirkan shalat.
14. Setelah mengucapkan salam, imam hendaklah menghadap jama’ah baik berpaling kearah sebelah kanan maupun kekiri. Keterangannya Nabi pernah menghadap ke arah jama’ah setelah salam dengan memalingkan kearah kanan dan juga kearah kiri, artinya kedua-duanya boleh dilakukan karena Nabi pernah melakukan demikian. Keterangan tersebut didasarkan kepada hadis dari Abdullah ibnu Mas’ud, Imam Muslim menyebutkan bahwa Nabi lebih banyak berpaling kearah kanan berbanding kearah kiri dan banyak keterangan hadis yang sering Nabi berpaling kearah kana menghadap makmum.


Shahih Muslim, kitab Ash-Shalah bab al-Qira ah fidz Dzuhri wal ‘ashar no. 454.
Imam Bukhari, Kitab Ash-Shalah hadits no. 703, Imam Muslim, Kitab Ash-Shalah hadits no. 467.
Imam Bukhari, Kitab al-Azan hadits no. 703. Imam Muslim, kitab ash-Shalah, hadits no. 465.
Muttafaqun ‘alaih, Bukhari no. 703 dan Muslim no. 467.
Bukhari, kitab al-Azan, hadis no. 770 dan Muslim dalam kitab ash-Shalah, hadits no. 453.
Bukhari, kitab al-Azan, hadits no. 845.
Hadits Abu Dawud no. 91, Tirmizi no. 357.
Bukhari, kitab al-Azan, hadits no. 837, 849, 850.
An-Nasa-I, kitab as-Sahwi, hadits n0. 1333
Abu Dawud dalam kitab Ash-Shalah, hadits no. 616, Ibnu Majah dalam kitab Ash-Shalah, hadits no. 1428
Sunan Abu Daud (I/135)
Shahih Muslim, kitab Al-masajid, bab istihbaabuz zikri bakdash shalah wa bayaanu shifatihi, no. 591.
Shahih Bukhari no. 560 dan Shahiih Muslim no. 646.

Prof. Syabuddin Gade

Oleh: Al-Faqir Syabuddin Gade

I. Pendahuluan

Dalam kehidupan manusia, cinta adalah kekuatan yang mampu menggerakkan jiwa, membentuk tindakan, dan menetapkan arah hidup. Namun, Islam tidak membiarkan cinta menjadi liar tanpa kendali. Allah menempatkan cinta sejati hanya kepada-Nya dan menjadikan cinta kepada selain-Nya tunduk pada cinta kepada-Nya. Dua ayat dalam Al-Qur’an yaitu Surah Al-Baqarah ayat 165 dan Surah Ali Imran ayat 31 mengungkapkan pentingnya memurnikan cinta kepada Allah dan membuktikan cinta tersebut dengan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ.

II. Teks dan Terjemahan Ayat

1. Surah Al-Baqarah: 165

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًۭا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّۭا لِّلَّهِ ۗ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165)

2. Surah Ali Imran: 31

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

III. Sebab Nuzul

1. Surah Al-Baqarah: 165

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan kaum musyrikin yang menyembah berhala dan mencintai sesembahan mereka seperti mencintai Allah. Mereka memberi nama kepada berhala mereka dengan nama-nama Allah dan merasa bahwa berhala itu dapat memberi syafaat atau manfaat, sebagaimana Allah.

2. Surah Ali Imran: 31

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ayat ini turun ketika sekelompok orang Arab mengaku mencintai Allah. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai ujian kejujuran cinta mereka, yaitu dengan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ sebagai satu-satunya bukti nyata cinta kepada Allah.

IV. Munasabah (Keterkaitan) Antara Keduanya

Kedua ayat ini membahas tentang cinta kepada Allah, namun dari dua sudut pandang:

QS. Al-Baqarah: 165 menggambarkan kesalahan manusia dalam menempatkan cinta—mereka menyamakan cinta kepada selain Allah dengan cinta kepada Allah.

QS. Ali Imran: 31 memberikan solusi dan panduan praktis: jika benar mencintai Allah, maka ikutilah Rasul-Nya.

Jadi, Al-Baqarah 165 adalah peringatan, sedangkan Ali Imran 31 adalah bukti dan syarat cinta yang benar. Munasabah ini menunjukkan bahwa iman sejati tidak hanya menghindari kesyirikan dalam cinta, tapi juga membuktikannya dengan ketaatan total kepada Rasulullah ﷺ.

V. Isi Kandungan Ayat

1. QS. Al-Baqarah: 165

Larangan menyekutukan Allah dalam cinta dan penghambaan.

Cinta sejati hanya milik Allah dan tidak boleh disejajarkan dengan cinta kepada makhluk.

Orang-orang beriman mencintai Allah lebih dalam dibandingkan kaum musyrikin mencintai berhala mereka.

Iman memperkuat cinta kepada Allah, sedangkan syirik melemahkannya dan menyimpangkannya.

2. QS. Ali Imran: 31

Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah.

Ketaatan kepada Nabi ﷺ adalah bukti konkret cinta, bukan sekadar pengakuan lisan.

Jika mengikuti Rasulullah, maka Allah akan mencintai kita (balasan cinta dari Allah) dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Hal ini menunjukkan bahwa jalan menuju cinta dan ampunan Allah adalah dengan mengikuti dan mentaati Sunnah Rasulullah SAW.

VI. Tafsir dan Pandangan Ulama

1. Tafsir Ibnu Katsir

Tentang Al-Baqarah 165, Ibnu Katsir mengatakan bahwa “tandingan” yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dicintai dan ditaati sebagaimana Allah, seperti berhala, tokoh, bahkan hawa nafsu.

Tentang Ali Imran 31, ia menegaskan bahwa ayat ini adalah ujian bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah: jika benar, maka buktikan dengan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.

2. Tafsir Al-Qurthubi

Beliau menafsirkan bahwa cinta yang dimaksud adalah cinta pengagungan, bukan sekadar afeksi. Maka menyamakan cinta makhluk dengan cinta kepada Allah adalah bentuk kesyirikan.

Dalam Ali Imran 31, Al-Qurthubi menegaskan bahwa tanpa ittiba’ kepada Nabi, cinta kepada Allah adalah kosong dan palsu.

3. Imam Hasan Al-Bashri

Beliau berkata:
“Ada sekelompok kaum yang mengaku mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini (Ali Imran: 31).”
Dengan kata lain, mengikuti Nabi adalah syarat cinta yang sah.

VII. Hadis Pendukung

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memperkuat ayat Ali Imran: 31, bahwa mengikuti Rasulullah lahir dari cinta yang mendalam dan menjadi syarat kesempurnaan iman.

VIII. Penutup

Kedua ayat ini mengajarkan bahwa cinta kepada Allah bukan hanya soal perasaan, tetapi harus dibuktikan melalui penghambaan yang benar dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ. Menyamakan cinta kepada selain Allah dengan cinta kepada-Nya adalah bentuk kesyirikan yang merusak iman. Sedangkan cinta sejati kepada Allah akan menuntun seseorang pada jalan Rasulullah, yang berujung pada cinta dan ampunan dari Allah. Wa Allahu A’lam.