Tag Archive for: puasa

Pos


Oleh : Afrizal Refo, MA

Bulan Ramadhan telah berlalu, tetapi semangat ibadah di bulan Ramadhan setidaknya dapat kita pertahankan dan kita tingkatkan di bulan Syawal ini.

Dalam kalender Hijriah, urutan setelah bulan Ramadhan adalah bulan Syawal. Secara hakiki, kita tidak bisa terus berada dalam bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan maghfirah Allah. Oleh karena itu, kita diharapkan bisa terus meningkatkan kualitas ibadah kita di bulan-bulan setelahnya yang salah satunya adalah bulan Syawal.

Bulan Syawal adalah bulan peningkatan, dimana seorang hamba berlomba-lomba untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Sang Pencipta. Berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Syawal guna mengadakan peningkatan kualitas dan iman. Di antaranya adalah shalat Idul Fitri, silaturahmi, sedekah dan menikah.

Perkataan “Syawal” berasal dari kata Arab, yaitu syala yang berarti irtafa’a, naik atau meninggi. Orang Arab biasa berkata, syala al-mizan (naik timbangan), idza irtafa’a (apabila ia telah meninggi).

Lalu, yang menjadi pertanyaan, mengapa bulan setelah Ramadhan itu dinamai Syawal, bulan yang naik atau meninggi atau meningkat? Ada dua alasan yang dapat diutarakan, yaitu:

Pertama, karena derajat kaum Muslim meningkat di mata Allah. Hal ini disebabkan mereka mendapat pengampunan (maghfirah) dari Allah setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Sebagaimana sabda Rasulullah,“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus kepada Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” Ampunan Allah tersebut, dapat diibaratkan seperti bayi yang baru lahir yang bersih dari segala dosa.

Kedua, karena secara moral dan spiritual, kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliah Ramadhan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadhan tahun depan.

Secara etimologi, arti kata syawal adalah peningkatan. Hal itu merupakan target ibadah puasa. Pasca-Ramadan diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat ketakwaan, seorang Muslim yang terlahir kembali seperti kertas yang masih bersih, sehingga di bulan Syawal ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan. Tidak hanya kualitas ibadah, tetapi juga kualitas pribadinya, yang selama di bulan Ramadhan dilatih secara lahir batin.

Makna dan semangat peningkatan amal ini dapat dilihat dari perintah puasa di bulan ini, walaupun hukumnya sunah, tetapi sangat dianjurkan (sunnah muakkad). Setelah berlebaran pada 1 Syawal, kaum Muslim dianjurkan agar berpuasa dalam bulan Syawal selama enam hari, tidak mesti berturut-turut. Sebab, puasa tersebut amat besar pahalanya. Rasulullah bersabda,”Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan lalu berpuasa lagi enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa selama satu tahun.”

Kenapa puasa Syawal bisa dinilai berpuasa setahun? Mari kita lihat pada hadits Tsauban berikut ini:
“Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.” (HR. Ibnu Majah)

Namun tidak demikian yang terjadi di masyarakat kita, fenomena yang terjadi justru sebaliknya. Syawal, seakan-akan bulan yang ditunggu-tunggu agar terlepas dari belenggu dan bebas melakukan kegiatan apa saja seperti sedia kala. Indikatornya yang sangat jelas, antara lain adanya perayaan Idul Fitri dengan pesta atau dengan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islam-an, pacaran bagi kawula muda kian hari makin meningkat dan membudaya, judi online makin bertebaran dimana-mana dan Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama bulan Syawal. Na’udzubillah! Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Lantunan ayat suci Alquran juga tidak lagi terdengar. Yang ada justru umpatan, ghibah, dan kemarahan kembali membudaya. Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan bersih kembali penuh noda?

Dengan demikian, Idul Fitri dan Syawal sesungguhnya mengandung semangat peningkatan ibadah dan amal saleh. Oleh sebab itu, sayang rasanya apabila di antara kaum Muslim pasca-Ramadhan, malah kembali melakukan dosa-dosa dan berpaling dari petunjuk Allah. Memang, pada dasarnya manusia tidak bisa lepas dari berbuat salah dan dosa. Tetapi, hendaknya kita berdoa memohon petunjuk kepada Allah untuk tidak kembali lagi ke dosa yang pernah kita lakukan maupun dosa lainnya dan berusaha meminimalkannya agar tidak larut dalam hal tersebut. Begitu pula, kesucian diri kita harus dijaga dan dipelihara sepanjang waktu, sesuai dengan prinsip istiqomah yang diajarkan oleh Islam.

Sikap istiqomah dalam beribadah dan berbuat baik harus kita jaga sampai malaikat maut mencabut nyawa kita. Semakin hari, seharusnya kita semakin giat lagi dalam beribadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT, karena usia kita tidak ada yang mengetahui, kecuali Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Dosen PAI IAIN Langsa dan Sekretaris Dewan Da’wah Kota Langsa


Oleh: Afrizal Refo, MA

Umat muslim di seluruh dunia saat ini sudah memasuki 10 Akhir di bulan Suci Ramadhan. Ada peristiwa penting di 10 Akhir Bulan Ramadhan yaitu Lailatul Qadar. Kita sebagai umat muslim tentu berharap mendapatkan atau berjumpa dengan malam lailatul qadar yang hanya datang pada bulan suci Ramadhan.

Lantas mengapa malam lailatul qadar begitu didambakan?

Malam Lailatul Qadar sangat didambakan umat Islam di bulan Ramadhan, keistimewaan malam ini dikabarkan oleh Al-Qur’an lebih baik daripada seribu bulan. Seorang muslim yang melaksanakan ibadah pada malam lailatul qadar tersebut dianggap telah mengerjakan Ibadah selama seribu bulan yakni sekitar 83 atau 84 tahun.
Untuk menyambut malam Lailatul Qadar, umat muslim tentunya perlu memahami kriteria waktu, tanda-tanda, cara mendapatkannya hingga keutamaan malam Lailatul Qadar itu sendiri.

Malam lailatul Qadar sangat istimewa hingga Allah SWT, menurunkan surat Al-Qadr untuk memuji kemuliaan malam ini.

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadr : 1–5).

Keagungan malam Lailatul Qadar juga disampaikan melalui hadits Rasulullah SAW, dimana beliau menyuruh para sahabat untuk mencari malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Waktu Malam Lailatul Qadar

Tidak ada yang tahu pasti kapan kedatangan malam Lailatul Qadar. Jadi mengapa Lailatul Qadar itu dirahasiakan kapan waktunya? Lailatul Qadar memang seakan seperti misteri yang datang pada seorang muslim. Namun, hal yang pasti diyakini soal waktu kedatangan Lailatul Qadar yakni, Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir pada malam-malam ganjil di bulan Ramadan sesuai sabda Rasulullah SAW.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.” (HR Bukhari)

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

Beberapa tandanya adalah sebagai berikut.
1. Matahari Pagi Berwarna Putih
Melalui Ubay bin Ka’ab, ia menyampaikan,

هي اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعِ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

Artinya: “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR Muslim)

2. Cuaca yang tenang dan Nyaman
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda yaitu,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةُ سَمْحَةُ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَتُهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاء

Artinya: “Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Dengan melihat tanda-tanda di atas maka tidak perlu mencari-cari tanda Lailatul Qadar, hal ini dikarenakan kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Hal yang harus kita persiapkan adalah untuk memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, Insyaallah kita akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut.

Cara mendapatkan malam lailatul qadar

Tak satupun manusia yang mampu memprediksi secara tepat dan memastikan kapan malam lailatul qadar datang. Karena begitu mulia dan agungnya malam lailatul qadar sehingga tidak terjangkau oleh nalar manusia.

Di dalam Qur’an Surat Al-Qadr ayat 2 dijelaskan, wama adraka ma lailatul qadar (dan tahukah kamu malam lailatul qadar itu?). Wahyu Allah SWT tersebut ingin menegaskan bahwa betapa mulianya malam lailatul qadar.

Meski tak dapat diprediksi umat muslim dapat mempersiapkan diri untuk bertemu dengan malam lailatul qadar. Caranya dengan mempersiapkan sejak awal Ramadhan datang dengan memperbaiki ibadah. Berikut dua cara mempersiapkan diri untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Pertama, melakukan kebaikan karena pada malam lailatul qadar Malaikat turun (QS Al-Qadr: 4). Ketika Malaikat turun dan mengunjungi seseorang, Malaikat senang dengan kebaikan, melingkupi kebaikan apa saja. Malaikat mendukung manusia yang berbuat baik secara kontinu dan tidak menunda-nunda untuk membantu sesama.

Kedua, di malam lailatul qadar ada kedamaian sampai fajar (QS Al-Qadr: 5). Artinya, damai dengan diri dan damai dengan orang lain. Termasuk tidak mengambil hak orang lain demi mewujudkan kesejahteraan.

Keutamaan malam Lailatul Qadar

Setelah mengetahui keterangan waktu dan tanda-tanda malam Lailatul Qadar, hendaknya kita mengetahui keterangan mengenai keutamaannya. berikut ini adalah beberapa keutamaan dari malam Lailatul Qadar.

1. Malam penuh kemuliaan

Allah SWT memberitahukan perihal Lailatul Qadar dalam surat Al-Qadr yang artinya kemuliaan.

Sejak malam Lailatul Qadar diturunkan manusia diberikan kemuliaan lewat Al-Qur’an, yang mengeluarkan umat Nabi Muhammad SAW dari kegelapan menuju cahaya petunjuk dari Allah SWT.

2. Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar

Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan.
Dalam riwayat Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit pertama pada malam Lailatul Qadar. Kemudian, Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur, sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa kenabian Rasulullah SAW selama 23 tahun.

3. Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan

Dalam surat Al-Qadr ayat ke-3, Allah SWT berfirman dengan jelas bahwa Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Keutamaan Lailatul Qadar itu sama dengan seribu bulan atau bandingannya serupa lebih daripada usia manusia delapan puluh tiga tahun.

Ini untuk menghibur Rasulullah SAW yang khawatir dengan usia umatnya yang pendek, tidak seperti ahli ibadah terdahulu yang berusia panjang, dan melakukan amal ibadah sepanjang hidupnya tanpa maksiat.

Allah SWT kemudian mengutus malaikat Jibril untuk memberi kabar gembira kepada Rasulullah SAW, tentang malam Lailatul Qadar yang pahalanya lebih baik dari seribu bulan.

4. Ada Pengampunan Dosa
Dikutip melalui perkataan Abu Hurairah yang menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)

Dikutip dari Tafsir Zaadul Masiir bahwa Mujahid Qotadah dan ulama lainnya sepakat berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan lebih baik di sini merujuk pada shalat dan amalan yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar. Artinya shalat dan puasa pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada shalat dan puasa di seribu bulan lain yang tidak terdapat Lailatul Qadar.

Itulah sedikit banyak pembahasan mengenai malam Lailatul Qadar yaitu waktu, tanda, cara mendapatkannya dan keutamaannya. Semoga dapat bermanfaat dan membantu kita menyambut dan mengawal malam Lailatul Qadar di Ramadhan tahun ini. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

Penulis: Dosen Pendidikan Agama Islam IAIN Langsa dan Sekjen Dewan Da’wah Kota Langsa.