Archive for month: Juli, 2025

Oleh: Afrizal Refo, MA

Aktivis Pendidikan dan Pemerhati Anak

Setiap Tanggal 23 Juli kembali mengingatkan kita akan pentingnya memuliakan dan melindungi hak-hak anak melalui peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Setiap tahun peringatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa terletak pada kualitas anak-anak hari ini. Namun di saat peringatan Hari Anak Nasional kita juga harus berani melihat kenyataan bahwa anak-anak Indonesia termasuk di Aceh menghadapi tantangan besar di era digital yang berkembang sangat cepat.

Anak-anak saat ini tumbuh dalam era di mana teknologi menjadi bagian dari kehidupan sejak usia dini. Mereka belajar, bermain, bahkan bersosialisasi melalui gawai dan internet. Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan bimbingan yang cukup dalam mengakses dunia digital yang luas dan tak berbatas itu. Maka dari itu momentum Hari Anak Nasional harus menjadi panggilan bagi semua pihak yaitu orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat untuk bersatu membekali anak-anak agar bijak menggunakan teknologi sejak dini.

Dunia digital bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Ini adalah bagian dari kehidupan modern yang harus disikapi dengan cerdas dan bijaksana. Banyak manfaat dari teknologi bagi anak-anak, mulai dari aplikasi belajar interaktif, video edukatif, hingga akses informasi yang luas. Tapi di sisi lain teknologi juga menyimpan risiko besar jika digunakan tanpa pendampingan seperti kecanduan gawai, konten negatif, pergaulan bebas daring, cyberbullying, hingga eksploitasi online.

Kita sebagai orang dewasa khususnya para pendidik dan orang tua tidak bisa hanya menyalahkan anak atau melarang mereka menggunakan teknologi. Tugas kita adalah membimbing, mendampingi, dan mengarahkan agar anak-anak memahami bahwa teknologi adalah alat, bukan pelarian. Teknologi adalah sarana belajar dan berkarya, bukan tempat untuk tersesat.

Sebagai aktivis pendidikan saya sering menyaksikan betapa banyak anak-anak di sekolah dasar hingga menengah yang mengalami penurunan konsentrasi belajar, ketidakmampuan bersosialisasi secara sehat, bahkan gangguan emosi akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Banyak dari mereka yang kecanduan game online, terpapar konten dewasa, atau aktif di media sosial tanpa kontrol yang memadai.

Hal ini menandakan bahwa pendidikan karakter berbasis digital sangat mendesak untuk diterapkan. Anak-anak perlu diajarkan bukan hanya cara mengoperasikan teknologi tapi juga bagaimana menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai akhlak, etika bermedia, dan tanggung jawab digital. Guru tidak hanya dituntut menguasai IT, tetapi juga harus mampu membimbing anak membangun literasi digital yang sehat.

Peran Keluarga, Sekolah, dan Pemerintah

Keluarga adalah benteng utama dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak dalam menggunakan teknologi. Orang tua perlu menjadi role model dalam penggunaan gawai. Jangan sampai anak diminta menjauh dari gawai sementara orang tua sendiri terus asyik dengan ponsel di hadapannya.

Lebih dari itu orang tua perlu aktif memberikan edukasi digital, menjelaskan mana konten yang baik dan buruk, serta menetapkan aturan waktu dan batasan penggunaan gawai. Bukan sekadar melarang tetapi mengajak anak berdialog dan memahami dampak dari teknologi dalam kehidupan mereka.

Sekolah juga memegang peranan krusial dalam membekali anak dengan keterampilan literasi digital yang sehat. Tidak cukup hanya mengajarkan penggunaan teknologi sebagai alat bantu belajar, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika dan tanggung jawab digital.

Program pendidikan karakter harus terintegrasi dengan pembelajaran teknologi. Anak-anak perlu belajar tentang pentingnya jejak digital, privasi online, serta etika berkomunikasi di media sosial. Guru tidak lagi hanya menjadi pengajar, tetapi juga fasilitator dan pembimbing dalam menjelajahi dunia maya dengan aman.

Pemerintah, melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kominfo, dan Kemendikbudristek, memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan regulasi dan fasilitas yang melindungi anak-anak di ruang digital. Penguatan regulasi terhadap konten negatif, penyediaan platform edukatif anak, serta kampanye nasional tentang literasi digital harus menjadi agenda prioritas.

Selain itu, komunitas masyarakat, organisasi keagamaan, dan LSM juga bisa berkontribusi dalam mengadvokasi penggunaan teknologi secara sehat. Forum parenting digital, pelatihan guru, hingga kegiatan kampanye sadar gadget di sekolah dan masjid bisa menjadi gerakan sosial yang efektif.

Waspadai Pergaulan Bebas Virtual

Salah satu tantangan yang semakin mengkhawatirkan adalah pergaulan bebas melalui media sosial. Banyak anak-anak yang berkenalan dengan orang asing, bahkan menjalin hubungan asmara virtual yang tak sehat sejak usia dini. Fenomena ini kerap terjadi secara diam-diam karena orang tua dan guru sering tidak menyadarinya.

Di Aceh dengan identitas sebagai provinsi bersyariat ini menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat kita harus peka terhadap fenomena ini bukan hanya dengan melarang dan menghukum tetapi dengan mendidik dan menguatkan akhlak serta spiritualitas anak-anak kita. Inilah inti dari syariat Islam membina, bukan hanya membatasi.

Momentum Hari Anak Nasional 2025 seharusnya menjadi panggilan untuk melahirkan generasi anak Aceh dan Indonesia yang bukan hanya cakap teknologi tetapi juga kuat karakter dan nilai agamanya. Kita ingin anak-anak tidak hanya menjadi konsumen teknologi tetapi juga produsen konten positif, inovator, dan pemimpin masa depan.

Anak yang bijak digital adalah anak yang bisa memilah mana konten bermanfaat dan mana yang berbahaya, mana informasi valid dan mana hoaks, mana pergaulan sehat dan mana yang menjerumuskan. Untuk mencapai itu, kita butuh pendekatan kolaboratif antara pendidikan formal, keluarga, masyarakat, dan negara.

Penutup
Peringatan Hari Anak Nasional bukanlah sekadar perayaan tahunan. Ini adalah alarm bagi semua pihak untuk mengambil bagian dalam perjuangan besar menyelamatkan dan membentuk masa depan anak-anak kita di tengah gempuran era digital. Kita tidak bisa hanya berharap pada sekolah atau pemerintah. Kita semua bertanggung jawab.
Mereka bukan hanya penerus, tapi juga pembaru. Namun mereka tidak bisa berjalan sendiri. Mereka butuh tangan yang membimbing, suara yang menenangkan, dan teladan yang menginspirasi.

Selamat Hari Anak Nasional 2025. Anak Terlindungi, Indonesia Maju. Anak Cerdas Digital, Aceh Bermartabat.

Penulis adalah Dosen PAI IAIN Langsa dan Sekretaris Umum Dewan Dakwah Kota Langsa.


Banda Aceh — Dewan Dakwah Islamiah Indonedia (DDII) Kota Banda Aceh menggelar kegiatan Sosialisasi Wakaf Baitul Mal Gampong se-Kota Banda Aceh di Hotel Alhanifi, Banda Aceh, Sabtu, (5/7/2025). Kegiatan ini sebagai upaya meningkatkan pemahaman, literasi, dan penguatan kelembagaan nazir wakaf pada tingkat gampong atau desa.

Kegiatan pertama kali di Aceh ini dimoderatori Ustadz Deni Tegar Anjasmara, menghadirkan tiga pemateri berkompeten yang membahas berbagai aspek wakaf dari sudut pandang strategis, pengelolaan, hingga regulasi kelembagaan.

Pemateri pertama, Ketua Badan Baitul Mal Aceh (BMA), Muhammad Haikal, ST, MIFP, menyampaikan materi dengan topik Strategi Peningkatan Peran Baitul Mal dalam Pengelolaan Wakaf. Dalam paparannya, ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga wakaf dalam mengoptimalkan potensi wakaf produktif.

Pemateri kedua, pengamat perkembangan wakaf, Fahmi M Nasir, membahas topik Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf. Ia menjelaskan, wakaf tidak hanya terbatas pada aset fisik seperti tanah atau bangunan, tetapi juga bisa dikembangkan dalam bentuk wakaf uang, yang memiliki potensi besar jika dikelola secara profesional dan transparan.

Sementara itu, pemateri ketiga, Ketua Badan Baitul Mal Kota (BMK) Banda Aceh, Dr M Yusuf Al Qardhawy, SH, MH, mengulas secara rinci Tugas Pokok dan Fungsi Baitul Mal Gampong. Menyampaikan peran vital Baitul Mal Gampong dalam mendukung program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan wakaf dan zakat yang amanah dan tepat sasaran.

Ketua Panitia, Firdaus Muhammad, ST, mengapresiasi dukungan fasilitasi kegiatan ini oleh BMA dan peserta yang hadir. Ia menegaskan urgensi kegiatan ini dalam memperkuat literasi wakaf di kalangan masyarakat dan nazir wakaf. “Kita berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal dalam membangun ekosistem wakaf yang sehat dan produktif di tingkat gampong,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah DDII Kota Banda Aceh, Ambia M. Yusuf, ST, menambahkan, berbagai kegiatan dakwah merupakan bagian dari komitmen DDII dalam mengintensifkan dakwah dan pemberdayaan ekonomi umat. Ia mendorong optimalisasi peran Baitul Mal Gampong sebagai ujung tombak pengelolaan wakaf di tingkat akar rumput.

Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus BMG, Badan Kemakmuran Masjid (BKM), nazir wakaf organisasi dan badan hukum se-Kota Banda Aceh. Hadir juga Majelis Syura DDII Kota Banda Aceh, Sayed Muhammad Husen dan T Adriansyah, serta Ketua Pengurus Daerah DDII Nagan Raya Samsul Bahri.


Langsa – Keteladanan, kecerdasan, dan dedikasi adalah tiga kata yang layak disematkan kepada sosok perempuan tangguh asal Trieng Gadeng, Pidie, Aceh ini. Prof. Dr. Nurmawati, M.Pd bukan hanya seorang akademisi berprestasi yang telah meraih gelar guru besar di bidang Evaluasi Pendidikan di IAIN Langsa, tetapi juga tokoh perempuan yang aktif dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum ibu, melalui kepemimpinannya sebagai Ketua Muslimat Dewan Dakwah Kota Langsa.

Perjalanan Panjang Penuh Perjuangan

Lahir pada 12 Januari 1981 di sebuah desa kecil yang sarat nilai-nilai keislaman, Trieng Gadeng, Kabupaten Pidie, Nurmawati tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan pentingnya ilmu dan akhlak sejak dini. Pendidikan dasarnya ia jalani di kampung halaman, hingga akhirnya menempuh pendidikan di Madrasah Ulumul Qur’an (Muq) Bustanul ‘Ulum, Langsa, lembaga pendidikan Islam ternama yang telah melahirkan banyak kader ulama dan cendekia.

Sejak di bangku pesantren, Nurmawati menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Ia dikenal sebagai santri yang aktif, cerdas, dan tekun. Kedisiplinan dan keuletannya membentuk fondasi intelektual dan spiritual yang kuat, yang kelak menjadi modal utama dalam perjalanan pendidikannya di dunia perguruan tinggi.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Nurmawati melanjutkan studi S1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, mengambil jurusan Tarbiyah Fisika. Di sanalah ketertarikannya terhadap dunia evaluasi pendidikan mulai tumbuh. Baginya, pendidikan tidak hanya soal mengajar, tetapi juga memastikan bahwa proses dan hasilnya berdampak nyata pada peserta didik.

Tidak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan studi magister di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Penelitian dan evaluasi pendidikan, yang memberinya pemahaman lebih luas tentang metodologi pendidikan modern, dan kemudian melanjutkan S3 di kampus Universiti Sains Malaysia jurusan psikometrik dan evaluasi pendidikan, tempat ia mendalami pendekatan evaluasi pendidikan yang terintegrasi dan berbasis riset. Gabungan pengalaman akademik dari dalam dan luar negeri memperkaya perspektifnya sebagai pendidik dan peneliti.

Raih Jabatan Guru Besar di Usia Relatif Muda

Dengan latar belakang akademik yang kuat serta dedikasi tinggi terhadap penelitian dan pengabdian masyarakat, Prof. Dr. Nurmawati berhasil meraih jabatan Guru Besar (Profesor) dalam bidang Evaluasi Pendidikan di IAIN Langsa. Gelar yang diperoleh pada usia relatif muda ini menjadi pencapaian istimewa, tidak hanya bagi dirinya pribadi tetapi juga menjadi kebanggaan bagi institusi dan masyarakat Aceh secara umum.

Karya-karya ilmiahnya banyak membahas tentang pengembangan instrumen evaluasi berbasis karakter, manajemen mutu pendidikan, serta inovasi pembelajaran yang adaptif. Beberapa jurnal nasional dan internasional telah memuat risetnya, yang menjadikannya salah satu akademisi paling produktif di bidangnya. Dan beliau aktif juga sebagai reviewer penelitian dibawah Diktis dari tahun 2018 hingga sekarang.

Kiprah Dakwah: Pimpin Muslimat Dewan Dakwah Kota Langsa

Tak hanya berkutat dalam ruang akademik, Prof. Nurmawati juga aktif dalam organisasi keagamaan. Sejak 2021, ia dipercaya memimpin Muslimat Dewan Dakwah Kota Langsa. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini semakin dinamis dalam melakukan pembinaan terhadap kaum ibu dan remaja putri, terutama dalam penguatan akidah, akhlak, dan peran perempuan dalam dakwah.

Dengan pendekatan yang lembut namun tegas, ia mengajak para muslimat untuk bangkit menjadi agen perubahan dalam keluarga dan masyarakat. Melalui berbagai pelatihan, kajian, hingga program pemberdayaan ekonomi, Muslimat Dewan Dakwah Langsa menjadi wadah strategis dalam membentuk generasi muslimah yang cerdas, berakhlak mulia, dan mandiri.

“Saya meyakini bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka, jika kita ingin membangun generasi yang kuat secara iman dan ilmu, kita harus memperkuat peran ibu sebagai pendidik utama di rumah,” ujar Prof. Nurmawati dalam salah satu kegiatan kajian rutin bulanan Muslimat Dewan Dakwah.

Menginspirasi Generasi Muda

Pencapaian Prof. Nurmawati menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda, terutama kaum perempuan. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, selama dibarengi niat yang lurus, kerja keras, dan semangat untuk terus belajar.

Ia tidak hanya berhasil dalam karier akademik dan dakwah, tetapi juga dalam perannya sebagai ibu dan istri. Dalam berbagai kesempatan, ia sering menyampaikan pentingnya menjaga keseimbangan antara karier, keluarga, dan pengabdian sosial. Baginya, keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu membawa manfaat bagi banyak orang, tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba Allah dan anggota keluarga.

Mahasiswa-mahasiswinya mengenalnya sebagai dosen yang disiplin namun ramah, ilmiah namun membumi. Ia selalu mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, melakukan penelitian yang solutif, dan tetap menjaga adab dalam proses belajar-mengajar.

Membangun Masa Depan Pendidikan Aceh

Sebagai Guru Besar, Prof. Nurmawati kini terus berkomitmen membangun sistem pendidikan yang lebih baik, khususnya di Aceh. Ia kerap menjadi narasumber dalam berbagai seminar nasional dan internasional, serta menjadi pembimbing tesis dan disertasi di berbagai jenjang.

Dalam visi akademiknya, ia menyuarakan perlunya integrasi antara ilmu pendidikan dan nilai-nilai lokal. Menurutnya, pendidikan di Aceh harus mampu membangun karakter keacehan yang islami, berwawasan global, serta tidak tercerabut dari akar budaya dan kearifan lokal.

“Saya berharap IAIN Langsa dan lembaga pendidikan lainnya di Aceh dapat menjadi pusat keunggulan intelektual yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam dan budaya bangsa. Kita tidak hanya mencetak sarjana, tapi juga mencetak pemimpin masa depan yang jujur, adil, dan berjiwa sosial,” tegasnya.

Penutup

Prof. Dr. Nurmawati, M.Pd adalah contoh nyata dari kekuatan ilmu, iman, dan pengabdian. Sebagai akademisi, ia terus berkarya dan membimbing. Sebagai tokoh dakwah, ia membina dan memotivasi. Sebagai perempuan Aceh, ia menjadi teladan dan inspirasi.

Pencapaiannya menjadi Guru Besar dan Ketua Muslimat Dewan Dakwah Kota Langsa bukan hanya bukti keberhasilannya secara personal, tetapi juga menjadi cermin dari kemajuan perempuan muslim dalam mengisi ruang-ruang strategis pendidikan dan dakwah di Indonesia. Langkahnya mengukir jejak, ilmunya menerangi, dan kiprahnya memberi harapan bagi generasi berikutnya.