Pengurus Dewan Dakwah Aceh Dilantik

Banda Aceh. Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh (Dewan Dakwah Aceh) periode 2015-2020 dilantik oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat, Drs Mohammad Siddiq MA.

Pelantikan di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, baru-baru ini dihadiri Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, unsur Forkopimda, jajaran SKPA, Wakil Walikota Banda Aceh, Ormas Islam, dan OKP.

Sebelum dilantik, Ketua Bidang Pem­berdayaan Organisasi Dewan Dakwat Pusat, Dwi Budiman Assiroji membacakan SK Pengurus Dewan Dakwah Aceh hasil Musyawarah Wilayah (Muswil) IV yang dilaksanakan 12-13 Desember 2015 lalu di aula Kantor Mahkamah Syariyah Aceh dan di LPTQ Dinas Syariat Islam Aceh.

Gubernur Zaini Abdullah mengatakan, setelah 16 tahun berlalu sejak syariat Islam diberlakukan di Aceh telah banyak capaian-capaian yang diraih. Meskipun tidak terlepas dari berbagai tantangan yang menghadang, upaya penguatan syariat Islam akan terus dilakukan oleh Pemerintah Aceh.

“Namun, sebagaimana dipahami bersa­ma, upaya ini tentu tidak bisa dijalankan sen­diri oleh pemerintah. Diperlukan keterli­batan dan partisipasi seluruh elemen masyarakat, termasuk para ulama dan da’i yang tergabung dalam Dewan Dakwah Aceh,” kata Zaini.

Menurutnya, Dewan Dakwah Aceh yang sejak lama berkiprah dalam dunia dakwah dan pembinaan umat, tentu semakin diharap­kan kiprah dan perannya dalam penguatan pelak­sanaan syariat Islam di Aceh.

Ketua Dewan Dakwah Aceh, Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA mengata­kan, saat ini pihaknya sedang fokus pada pembinaan mualaf di daerah perbatasan Aceh. Hal itu dikarenakan para mualaf tersebut masih sangat minim dalam mema­hami keislaman.

“Sudah 5 tahun, Dewan Dakwah Aceh bekerja sama dengan Pemerintah Aceh melalui Baitul Mal melakukan pembinaan dan pendampingan mualaf yang berasal dari Subulussalam, Aceh Singkil, Simeulue, Aceh Tenggara, dan Aceh Tamiang.

Kepada mereka diajarkan akidah dan ibadah praktis, khususnya tata cara wudhuk dan salat menurut tuntunan sunnah. Juga tata cara membaca Alquran secara baik dan benar, sehingga sesuai aturan ilmu tajwid,” jelas Hasanuddin.

Ia juga berharap kepada Pemerintah Aceh mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah, yang nantinya akan diperuntukan khusus kepada mahasiswa Aceh. Mereka akan dibekali ilmu syariah, akidah dan akhlak serta penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Alumnus dari sekolah tinggi ini, nantinya dapat ditempatkan di gampong-gampong untuk mengawal pelaksanaan syariat Islam sekaligus memberikan pelatihan kepada perangkat gampong.

Saat ini, Dewan Dakwah Aceh juga se­dang melakukan pelebaran halaman masjid dan pembangunan gedung pelatihan ka­der dakwah di Markas Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Usai mendengar tausiyah, Gubernur Zaini Abdullah memberikan membantu Rp100 juta, diikuti para tamu dan undangan lainnya. Sehingga pada malam itu terkumpul dana bantuan Rp209.213.000. (mhd)

Tausiyah Spiritual Rangkai Pelantikan Dewan Da’wah Aceh

Pengurus WIlayah Dewan Da'wah Aceh Periode 2016-2020 akan dilantik pada tanggal 31 Mei 2016 di Aula Anjong Mon Mata Pendopo Gubernur Aceh oleh Ketua Umum Dewan Da'wah Pusat, H. Muhammad Siidik Kertapati, MA. Acara Pelantikan dihadiri Oleh Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah serta kepala SKPA, Pimpinan Ormas Islam, Partai Politik, OKP dan tokoh-tokoh masyarakat.

Di sela-sela pelantikan, juga diisi dengan Tausiyah Spiritual oleh Ustadz Syuhada Bahri, Lc, Ketua Umum Dewan Da'wah Pusat Periode 2015-2020, yang diikuti dengan penggalangan dana Waqaf Tunai untuk pembebasan Tanah Masjid dan Markaz Dewan Da'wah Aceh yang terletak di Gampong Rumpet Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar.

Dewan Da’wah Beri Pendampingan Syariah Muallaf Aceh

Pembinaan dan pendampingan syariah bagi para muallaf khususnya yang berdomisili di daerah perbatasan Aceh, perlu dilakukan secara berkelajutan dan berkesinambungan. Sebab para muallaf yang banyak bekerja sebagai buruh kebun sawit masih sangat minim dalam memahami keislaman.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Da;’ah Aceh Tgk Hasanuddin Yusuf Adan kepada wartawan, Rabu (06/01/2015) kemarin.

Menurutnya pembinaan dan pendampingan secara kontinyu ini untuk memudahkan para muallaf dalam memahami dan memaknai ajaran-ajaran tentang Islam sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Selama tahun 2015, Dewan Da’wah Aceh bekerjasama dengan Baitul Maal Aceh telah melakukan pembinaan dan pendampingan tersebut kepada 150 muallaf yang berasal dari Subulussalam, Aceh Singkil, Simeulue, Aceh Tenggara dan Aceh Tamiang. Pada setiap Kab/Kota tersebut untuk 30 muallaf. Kepada mareka diajarkan tentang aqidah dan ibadah praktis, khususnya tata cara wudhuk dan shalat menurut tuntunan sunnah. Juga tata cara membaca Al-Quran secara baik dan benar sehingga mampu membaca Al-Quran menurut aturan ilmu tajwid,”jelas Tgk Hasanuddin.

Ia menambahkan program pembinaan dan pendampingan syariah ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dasar tentang dinul islam dan pelaksanaannya di dalam kehidupan sehari-hari. Kepada para muallaf juga diberikan buku bacaan islami dan al-quran terjemahan yang disediakan oleh Baitul Mal Aceh. Dengan demikian mareka akan istiqamah dengan agama Islam dan tidak akan kembali lagi ke agama sebelumnya.

“Apa yang telah dilakukan oleh Baitul Maal Aceh ini perlu di apresiasi dan kita berharap supaya program tersebut akan terus berlangsung pada tahun-tahun berikutnya serta juga dapat dipadukan dengan program pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tutup Tgk Hasanuddin.*

 

 

SENATOR RI BAHANI MAHASISWA ADI ACEH

Salah satu program, selain kuliah rutin, yang dilaksanakan oleh Akademi Da’wah Indonesia (ADI) di Dewan Da’wah Aceh adalah menghadirkan para pakar dalam bidangnya dan atau guru besar untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa secara periodik. Kecuali itu, kuliah umum ini juga diisi oleh tokoh-tokoh Aceh di tingkat nasional dan luar negari yang kebetulan pulang kampung atau ada kegiatan di Aceh.

Di antara tokoh Aceh di Jakarta yang agak rutin mengisi kuliah umum ini adalah Drs. H. Ghazali Abbas Adan, sebagai salah seorang senator (anggota DPD RI) utusan dari Aceh, dan kebetulan juga yang bersangkutan sebagai salah seorang anggota majelis syura Dewan Da’wah Aceh.

Pertemuan dengan mahasiswa ADI pada Rabu (23/12) setelah shalat magrib di Masjid Dewan Da’wah Aceh juga menjadi bagian dari tugas reses yang sedang dilaksanakannya sejak Akhir Desember 2015 sampai dengan awal Januari 2016.

Dalam pertemuan dengan Mahasiswa ADI tersebut, Ghazali Abbas, menjelaskan tentang slogan Revolusi Mental yang didengungkan oleh Presiden Jokowi dalam rangka memperbaiki carut marut pengelolaan negara ini. Menurutnya, sebagai seorang mukmin, yang diperlukan lebih dari sekedar revolusi mental yakni revolusi iman. Di mana, revolusi iman yang dimaksudkan adalah memiliki keyakinan penuh bahwa apa yang kita pikirkan, rencanakan dan lakukan diketahui dan dikontrol oleh Allah Swt serta yakin ada akuntabilitas ukhrawi. Kalau kondisi ini wujud, maka semua yang terlibat dalam pengelolaan negara ini akan berlaku baik, dan carut marut negeri seperti hari ini pelan-pelan akan dapat diperbaiki.

Khusus dalam konteks Aceh hari ini dengan berbagai dana yang ditransfer dari pusat, seperti dana desa nomor 3 terbanyak di Indoensia, apabila dikelola secara amanah, sebagai buah dari revolusi iman, maka akan bermuara kepada kesejahteraan masyarakat.

Begitupun dengan saudara yang sedang menuntut ilmu di ADI ini, kalau ada keyakinan seperti di atas, tidak akan menyia-nyiakan waktu dengan berbagai kegiatan yang tidak mendukung proses pencerdasan, sekalipun orang tua di kampung tidak mengetahui. Ini disebabkan adanya keyakinan dengan kontrol dari Allah Swt. Semoga dengan ilmu yang dimiliki nantinya akan mengangkat derajat kalian di mata  manusia dan tentunya di sisi Allah Swt, tetapi dengan syarat ilmu yang dilandasi dengan iman, demikian anggota senator RI dari Aceh menutup kuliah umumnya dengan mengutip ayat 11 dari surah al-Mujadalah.

Dewan Da’wah Aceh Peroleh Syariah Awards 2015

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh memperoleh Syariah Award 2015 peringkat I untuk kategori Ormas Islam dari Dinas Syariat Islam (DSI) Provinsi Aceh. Award dalam bentuk plakat dan piagam tersebut diserahkan Kepala DSI Aceh, Prof Dr Syahrial Abbas MSi kepada Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah Aceh Bismi Syamuan pada Rabu (23/12/2015) di Hotel Oasis, Banda Aceh. Sementara untuk kategori media cetak diberikan kepada Harian Serambi Indonesia yang diterima Pimpinan Umum Harian Serambi Indonesia yang diwakili Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

 

Selain Serambi, media cetak yang mendapat anugerah serupa adalah Harian Waspada yang diterima Kepala Perwakilan Banda Aceh, Aldin Nainggolan.

Untuk kategori media televisi, award serupa diberikan DSI Aceh kepada TVRI Stasiun Banda Aceh dan Aceh TV.

 

Untuk kategori radio, Syariah Award 2015 diberikan DSI kepada Radio Baiturrahman Banda Aceh dan Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Regional Banda Aceh.

Untuk kategori dai perbatasan berprestasi, Syariah Award 2015di berikan DSI kepada Tgk Jamaluddin dari Aceh Singkil, Tgk Waiskarnaini (Aceh Tenggara), Tgk Amri (Aceh Tamiang), Tgk Amrullah SAg (Kota Subulussalam), Tgk Jafar Siddiq (Aceh Selatan), dan Firman (Simeulue).

 

Untuk kategori tenaga fungsional DSI berprestasi award diberikan kepada Eliwani SE, Malik Ridwan SSi, Dermawan Abdillah, dan Abdul Muin SE.

 

Untuk kategori lembaga pendidikan, Syariah Award diberikan kepada UIN Ar-Raniry yang diterima Wakil Rektor I Dr Muhibbuthabari, sedangkan award untuk Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) diterima langsung oleh Rektornya, Prof Dr Samsul Rizal MEng.

 

Untuk kategori LSMdan perseorangan, award diberikan kepada Koalisi NGO HAM, dan tokoh meupep-meupep (pemberi peringatan keliling) dari Polda Aceh, AKBP H Adnan.

 

Menurut Prof Syahrizal Abbas, award tersebut diberikan kepada lembaga pendidikan, media, dai perbatasan, dan staf fungsional DSI berprestasi, serta kepada LSM, ormas, perseorangan yang pada tahun 2015 berkontribusi nyata dan komitmen yang tinggi terhadap pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

 

Pemberian award itu didasarkan pada penilaian tim juri dari internal dan eksternal DSI Aceh. (*)

Muswil IV Kukuhkan Kembali Hasanuddin Yusuf Adan Sebagai Umum Dewan Da’wah

BANDA ACEH – Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL MA kembali terpilih sebagai ketua umum Pengurus Wilayah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh periode 2015-2019. Pemilihan tersebut berlangsung dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) IV Dewan Da’wah Aceh yang diselenggarakan di Aula Kantor Mahkamah Syar’iyah Aceh dan di Aula LPTQ Dinas Syariah Islam Aceh, Banda Aceh, Minggu, 13 Desember 2015.

Terpilihnya kembali Tgk Hasanuddin yang juga Dosen di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu setelah semua peserta Muswil yang hadir menginginkannya untuk menjadi ketua umum kembali. Sidang yang dipimpin Dr Muhammad AR MEd, Drs Bismi Syamaun dan Zulfikar, SE itu berjalan secara musyawarah mufakat sesuai dengan tata tertib sidang yang telah disahkan bersama.

Ketua Panitia, Enzuz Tinianus SH MH mengatakan Musyawarah Wilayah (Muswil) IV Dewan Da’wah Aceh dibuka secara resmi oleh Gubernur Aceh yang diwakili oleh Asisten II Bidang Keistimewaan, Pembangunan dan Ekonomi Sekda Aceh Azhari Hasan SE MSi. Turut dihadiri oleh Mantan Ketua Umum Dewan da’wah Pusat Ustd Syuhada Bahari Lc, Wakil Ketua Dewan Da’wah Pusat Dr Muhammad Nur Kertapati. Selain itu juga dihadiri, unsur Pemerintah Aceh, Partai Politik, Ormas, KNPI, anggota DPRA, tokoh masyarakat serta mahasiswa.

Lanjut Enzuz, Muswil ke IV Dewan Da’wah Aceh ini juga dimeriahkan dengan acara Bedah Buku “Teungku Muhammad Daud Beureu-eh dan Perjuangan Pemberontakan di Aceh” karya Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL MA. Buku tersebut di bedah oleh Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia) dan Muhamammad Yus (Politisi dan Tokoh Masyarakat). Dan Seminar Nasional dengan pemateri Ustad Syuhada Bahri, Lc (Mantan Ketua Umum Dewan Da’wah Pusat) dan Akmal Sjafril, ST, M.Pd.I (Penulis dan Peneliti bidang Kajian Islam).