Nabi telah meninggalkan sekelompok orang yang tidak mementingkan diri, yang telah mengabdikan dirinya kepada satu tujuan, yakni berbakti kepada agama yang baru itu. Salah seorang di antaranya adalah Umar al-Faruq, seorang tokoh besar, di masa perang maupun di waktu damai. Tidak banyak tokoh dalam sejarah manusia yang telah menunjukkan kepintaran dan kebaikan hati yang melebihi Umar, baik sebagai pemimpin tentara di medan perang, maupun dalam mengemban tugas-tugas terhadap rakyat serta dalam hak ketaatan kepada keadilan. Kehebatannya terlihat juga dalam mengkonsolidasikan negeri-negeri yang telah di taklukkan.

Islam sempat dituduh menyebarluaskan dirinya melalui ujung pedang. Tapi riset sejarah modern yang dilakukan kemudian membuktikan bahwa perang yang dilakukan orang Muslim selama kekhalifahan Khulafaur Rasyidin adalah untuk mempertahankan diri. Ditambah lagi Umar adalah ahli strategi militer yang besar. Ia mengeluarkan perintah operasi militer secara mendetail hingga membuat peperangan dapat dimenangi.

Wilayah Kekusaan Super Power

Ketika Islam datang ditanah Arab telah muncul dua negara Super Power yaitu Romawi memimpin disebelah barat dan Persia memimpin disebelah timur. Wilayah kekuasaan Romawi saat itu melampaui Eropa, Mesir, Yordania, Palestina dan lain-lain. Sedangkan wilayah kekuasaan Persia meliputi Irak, Iran, khurasan dan daerah-daerah sekitarnya. Belum ada kekuatan lain yang mampu menyainginya Kedua Negara adidaya saat itu. Kalaupun ada mereka dengan mudah dapat mematahkannya.

Perang Melawan Kekuatan Super Power

Pada tahun 12 H, pernah terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Islam dan Romawi di dataran Yarmuk, saat itu dibawah kekuasaan bangsa Romawi yang dipimpin oleh Herkules ((?????? ?? ??????? – ??? ?????? 1/390). Pihak Romawi mengerahkan 300.000 tentaranya, 80000 pasukan terlatih, 40000 pasukan berani mati, 40000 pasukan dengan syarat khusus agar tidak lari, 80000 pasukan infantri (?????? ?? ??????? – ??? ?????? 1/392).  sedangkan tentara Muslimin hanya 46.000 orang.

Disebabkan perbedaan yang sangat mencolok dalam peperangan tersebut, kaum muslimin membuat persiapan rapi. Walaupun tidak terlatih dan berperlengkapan buruk, pasukan Muslimin yang bertempur dengan gagah berani akhirnya berhasil mengalahkan tentara Romawi. Sekitar 100.000 orang serdadu Romawi tewas sedangkan di pihak Muslimin tidak lebih dari 3000 orang yang tewas dalam pertempuran itu. Ketika Caesar diberitakan dengan kekalahan di pihaknya, dengan sedih ia berteriak: "Selamat tinggal Syria," dan dia mundur ke Konstantinopel.

Pada tahun 12 H, setelah berhasil dengan peprangan Yamamah, Khalid bin Walid kembali di kirim ke Irak yang saat itu berada dibawah Persia sebagai panglima perang untuk mengamankan Umat Islam yang setia dan membersihkan kekuatan musuh yang mengancam umat Islam. Di Irak sempat terjadi beberapa titik peperangan diantaranya peperangan Assani, Alwaj'ah dan juga beberapa titik peperangan di Furat. (?????? ?? ??????? – ??? ?????? 1/382). Semua peperangan dimenangi oleh kaum muslimin di bawah komando Khalid bin Walid.

Motif Peperangan

Seiring dengan bertambahnya penganut agama Islam dari berbagai negara maka bertambah pula tekanan, siksaan dan pelecehan atas nama akidah maka Khalifah sangat merespon hal tersebut hingga dikirimkan pasukan tentara untuk mengamankan kaum muslimin. Namun pihak negara tersebut tidak menginginkan campur tangan negara luar hingga mereka bebas sesuka hati memperlakukan kaum muslimin di Negara tersebut, hal ini tentu menimbulkan gegesakan bahkan peperangan walau sebelumnya Khalifah kaum muslimin telah mengirimkan utusan perdamain bahkan Khalifah menginginkan kawasan yang telah menjadi muslim dipisahkan dan dipimpin oleh oleh orang muslim sendiri. Keadaan seperti itu menjadikan peperangan sesuatu hal yang sulit dihindari hingga akhirnya kaum muslimin memenangi peperangan demi peperangan.

Hampir semua peperangan yang dilalui oleh orang Islam masa Khalifaur Rasyidin lebih disebabkan faktor untuk mengamankan kaum muslimin yang telah masuk Islam dari tekanan, penindasan dan cacian terhadap agama dan rasulullah (??????? – ??? ?????? 1/447). Maka secara tidak langsung terbukalah pintu-pintu negara lain untuk dimasuki tentara muslimin, hingga akhirnya negeri tersebut tertaklukkan.

Perang melawan kaum yang murtad, bukan hanya berhasil menundukan mereka namun telah terbuka satu kesempatan lain untuk membuka negara-negara baru yang tunduk di bawah khilafah Islamiyah, ini terbukti dengan satu persatu Negara kafir menjadi negara Islam.

Yang membuat peperangan dengan mudah dimenangi kaum muslimin adalah dukungan rakyat kepada pemerintahan setempat sangat lemah, dimana pemerintahnya terkadang berlaku kasar, agak diktator dan pajak negara yang dibebani atas pundak rakyat semakin melambung tinggi. Sementara ketika negara tersebut dikuasai oleh Islam pajak yang dikenakan jauh lebih rendah bahkan lebih rendah dari kadar zakat yang dikutip dari umat Islam sendiri. Pajak yang dipungut dari mereka diambil dari hasil panen namun jika gagal panen pemerintah Islam waktu itu tidak mengambil pajak. Keadaan ini semakin membuat rakyat kritis dan ramai-ramai mendukung pemerintahan Islam bahkan ada sebahagian rakyat yang masih kafir namun mendukung pasukan kaum muslimin ketika perang berkecamuk.

Suatu penelitian pernah dilakukan untuk menunjukkan faktor-faktor yang menentukan kemenangan besar operasai militer Muslimin yang diraih dalam waktu yang begitu singkat., selama pemerintahan khalifah yang kedua, orang Islam memerintah daerah yang sangat luas. Termasuk di dalamnya Syria, Mesir, Irak, Parsi, Khuzistan, Armenia, Azerbaijan, Kirman, Khurasan, Mekran, dan sebagian Baluchistan. Pernah sekelompok orang Arab yang bersenjata tidak lengkap dan tidak terlatih berhasil menggulingkan dua kerajaan yang paling kuat di dunia. Apa yang memotivasikan mereka? Ternyata, ajaran Nabi SAW. telah menanamkan semangat baru kepada pengikut agama baru itu. Mereka merasa berjuang hanya demi Allah semata. Kebijaksanaan khalifah Islam kedua dalam memilih para jenderalnya dan syarat-syarat yang lunak yang ditawarkan kepada bangsa-bangsa yang ditaklukan telah membantu terciptanya serangkaian kemenangan bagi kaum Muslimin yang dicapai dalam waktu sangat singkat.

 

Sebaliknya apabila eksistensi muslim Aceh hari ini lebih banyak memihak kepada ingkar terhadap Allah SWT, maka itu bermakna mereka sedang berada pada dataran negatif yang pada suatu ketika akan mendapatkan sesuatu malapetaka dari Allah Azza wa jalla.

            Persoalan positif dan negatif dalam kehidupan ini merupakan keberadaan sejati yang selalu hinggap pada diri manusia. Akan tetapi manusia diperintahkan untuk mengumpulkan nilai positif dengan menolak keberadaan negatif sepanjang hidupnya. Kalau berhasil melaksanakan demikian ia akan berhasil dalam kehidupan dunia dan akhirat. Memang hidup di dunia ini banyak sekali hambatan dan rintangan yang harus dilalui ummat manusia, mereka harus mengarungi semua itu dengan penuh kesabaran dan kesungguhan sehingga keberadaan positif itu memihak kepadanya.

            Persoalan baru yang menggeruguti kehidupan muslim Aceh hari ini adalah lalai dengan perkembangan zaman dan kemutakhiran teknologi. Mereka yang dasar pendidikan Islamnya lemah cenderung membaur dengan kemajuan teknologi tanpa batas sehingga mencabuli eksistensi kemurnian Islam. Dengan cara demikian membuat Islam dan ummatnya kehilangan kehormatan di mata non muslim walaupun ia agama terhormat. Demikian juga dengan muslim yang baik, sempurna dan terhormat menjadi jorok, tidak sempurna dan tidak terhormat diakibatkan oleh prilakunya sendiri.

            Semua itu menjadi problem besar yang sulit diperbaiki dalam waktu singkat, apa lagi kalau muslim Aceh sempat phobi terhadap Islam seperti yang pernah terjadi di Turki, di Mesir, di Indonesia, di Iraq, di Siria dan di mana-mana. Di negara-negara tersebut pernah ummat Islam tidak senang kepada Islam, mereka lebih suka kepada cara hidup barat ketimbang cara hidup Islam. Mereka memang memilih budaya barat dalam kehidupannya dengan meninggalkan budaya Islam, mereka memilih sistem politik barat dengan menyisihkan sistem politik Islam. Mereka juga mengamalkan amalan sistem ekonomi kapital, sosial dan sekuler dengan mengorbankan sistem ekonomi Islam.

            Wujud dari semua perobahan hidup muslim seperti itu membuat mereka kehilangan arah dalam kehidupan ini. Masjid sebagai tempat ibadah paling utama bagi mereka dibiarkan kosong tanpa penghuni. Pasar sebagai salah satu tempat yang sangat tidak disukai oleh Rasulullah SAW menjadi tempat bermain bagi mereka siang dan malam. Masjid sebagai tempat ibadah dijadikan tempat tidur dan tempat buang hadas besar ketika diperlukan sehingga masjid bukan hanya sepi dari ibadatnya muslim melainkan menjadi jorok, berbau, kumuh dan menjijikkan.[1]

            Generasi muda Aceh yang diharapkan menjadi pioner penegakan Syari’at Islam di sini menjadi penghambat berjalannya Hukum Allah di bumi Aceh ini. Mereka tidak pernah sayang kepada Syari’at Islam sehingga selalu dilanggar dan tidak pernah dibela ketika dilanggar oleh orang lain. Fenomena semacam ini tengah menghantui Aceh hari ini sehingga Aceh menjadi lemah dan hilang daya tawar di mata jakarta. Pihak berkuasa Indonesia di Jakarta hari ini tidak lagi menghormati Aceh dan tidak lagi menganggap Aceh lebih penting daripada provinsi lain.[2] Ini semua disebabkan oleh ulah orang Aceh sendiri yang tidak sadar-sadar dari keterpurukan perpecahan yang tidak berujung.

 

REALITAS DAN EKSISTENSI MUSLIM ACEH HARI INI

Ummat Islam Aceh pasca konflik yang berkepanjangan mencapai 30 tahun dan musibah gempa bumi besar 8,9 SR serta tsunami tanggal 26 Desember 2004 banyak yang jatuh miskin. Kemiskinan yang ditimpa masyarakat Aceh hari ini melingkupi miskin akal, miskin pikiran, miskin ilmu pengetahuan, miskin ukhuwwah, miskin akhlak (moral) dan miskin harta benda. Semua itu melilit masyarakat Aceh yang sulit untuk melepaskan diri dari lilitan tersebut kalau tidak berupaya keras untuk keluar dari kemiskinan-kemiskinan tersebut.

Miskin akal yang menimpa masyarakat Aceh hari ini membuat mereka hidup seperti orang gila. Mereka teringan kepada kerja dan uang ketika sudah lapar dan haus, ketika sudah kenyang mereka kembali fokum dan tidak bergerak. Miskin pikiran yang menimpa mereka membuat mereka pasif dan lesu, mereka tidak banyak memikirkan sesuatu kecuali hanya sekedar cukup makan dan cukup minum. Miskin ilmu pengetahuan yang menimpa mereka membuat mereka selalu menjadi kuli dan buruh kasar bagi orang yang berilmu banyak. Kompensasi dari itu mereka berbondong-bondong keluar negeri untuk mencari rezeki dan menetas kehidupan baru. Ketika mereka berada di sana, biasanya jauh dari ibadah dan dekat dengan maksiyat.

Miskin ukhuwwah yang menimpa mereka membuat mereka masing-masing berjalan sendiri-sendiri, tanpa tegur sapa, tanpa saling membantu dan bahkan sering saling menghina dan memfitnah. Akibat dari itu muncul problem baru yaitu miskin akhlak dalam kehidupan sesama muslim Aceh sehingga terjadilah perzinaan, penipuan, pembohongan, saling memburukkan, saling menghujat, saling menyalahkan dan jarang saling berma’afan. Kemiskinan harta benda yang diderita masyarakat Aceh hari ini membuat mereka tidak mampu menyekolahkan anaknya, tidak mampu beribadah secara maksimal dan tidak ada kemampuan berobat ketika sakit.

            Kenyataan lain dari sisi kehidupan muslim Aceh hari ini adalah sangat ramai di antara mereka yang malas dan tidak melaksanakan salat lima waktu sehari semalam. Dengan demikian secara otomatis mereka jauh dari masjid, maka jadilah masjid di Aceh sebagai penghias bumi Aceh bukan tempat bertaqarrub dan beribadah kepada Allah. Masjid sangat banyak di Aceh hari ini, hampir setiap gampong mempunyai masjid dan setiap Kemukiman mempunyai lebih dari satu masjid, namun masjid-masjid tersebut hanya berisi penuh atau separuh masjid ketika salat Jum’at saja, sementara salat lima waktu lainnya tidak pernah berisi maksimal.

            Ini merupakan sebuah fenomena negatif untuk mengukur keta’atan muslim Aceh di era pasca bencana besar (konflik, gempa dan tsunami). Kalau boleh kita transparankan dengan perkiraan analisa hanya tiga puluh persen saja ummat Islam Aceh yang rutin salat. Dari tiga puluh persen itu hanya dua puluh persen saja yang menggunakan masjid untuk salat berjama’ah lima kali sehari semalam. Prosentase ini sangat menyedihkan apabila dikaitkan dengan prosentase muslim Aceh yang hampir mencapai seratus persen. Pertanyaan yang muncul adalah kenapa mereka malas shalat? Apakah mereka tidak tau cara shalat? Atau iman mereka lemah sehingga tidak terikat dengan ibadah kepada Allah? Atau ada kemungkinan lain seperti jahil (bodoh), terpengaruh oleh lingkungan dan sebagainya.

            Kalau sekedar malas shalat jama’ah tetapi tetap shalat di rumah atau di kantor atau di kedai masing-masing masih lumayan. Tetapi setelah tidak melaksanakan shalat sama sekali banyak berbuat maksiat lagi di bumi Aceh ini. Kita akui atau tidak maksiat dan kemungkaran tetap saja merajalela di Aceh hari ini walaupun mereka sudah pernah dihayun gempa besar dan diterjang tsunami dahsyat. Buktinya, koran-koran lokal tiap hari mengangkat kasus perampokan, penculikan, perzinaan, khalwat, maisir, penipuan, ancaman, manipulasi, korupsi dan sebagainya.[3]

            Maksiat yang berkembang di Aceh hari ini lebih kentara kepermukaan dikarenakan ada muhtasib atau anggota wilayatul hisbah yang menangkap para pelakunya. Sesungguhnya maksiat itu sudah ada dari dulu tetapi tidak begitu nampak karena semua pihak diam dan tidak mau bertidak apa-apa. Padahal sebagaimana sekarang juga, dahulu banyak terjadi zina, banyak orang main judi, banyak peminum arak dan lain sebagainya. Akan tetapi muslim Aceh tidak punya wewenang dan kuasa untuk memberantasnya. Kini dengan berlakunya Syari’at Islam di Aceh dan ada lembaga Wilayatul Hisbah maka satu demi satu perbuatan maksiat terungkap, sebahagiannya diseret ke mahkamah dan sebagian yang lain didiamkan saja.[4]

            Kenyataan lain dari kehidupan muslim Aceh hari ini masih ada sifat suka memfitnah orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Umpamanya memfitnah si pulan yang sedang punya jabatan pada atasannya agar dipecat dan digantikan dengan tukang fitnah tersebut. Prihal semacam ini terus terjadi di kantor-kantor, di sekolah-sekolah, di perguruan tinggi dan hampir di mana-mana. Tabi’at suka memfitnah yang ada pada diri orang Aceh ini diperkirakan menular dari penjajah Belanda yang menggunakan politik devide et impera selama menjajah negeri Aceh tempo dulu. Ketika Belanda lari dari Aceh orang Aceh pula mengamalkannya terhadap orang Aceh lain.

            Satu lagi perangai orang Aceh yang amat berbahaya adalah ku ëh, ini merupakan satu sifat yang  jahat dari seseorang yang tidak suka orang lain senang dan sangat senang kalau orang lain susah. Sifat ini dimiliki oleh orang-orang tertentu zaman ini di Aceh untuk mempertahankan jabatan atau untuk mendapatkan jabatan. Sifat ini cenderung mirip dengan perangai kucing jantan yang tidak suka lahir dan besar kucing jantan lain karena dikawatirkan menjadi lawan baginya. Maka terlihatlah di kator-kantor ada atasan yang ku ëh kepada bawahannya sehingga si bawahan tidak diizinkan melanjutkan pendidikan, tidak diizinkan ikut pelatihan-pelatihan karena dikhawatirkan sibawahan menjadi pandai dan tidak bisa diatur semena-mena lagi.

            Ada juga atasan yang tidak mau menandatangani usulan pangkat bawahannya karena takut kalau bawahan sudah tinggi pangkat akan menjadi saingan baginya kedepan. Di kampung-ampung ku’eh itu juga terjadi pada petani yang menggunakan perangai tikus yang suka mengorek pematang sawah saudaranya agar air turun kesawahnya di musim kemarau. Dalam bidang ibadah juga terjadi ku’eh dari seorang teungku yang berupaya orang lain melaksanakan ibadah harus sesuai dengan cara ibadah orang tuanya. Walaupun orang lain punya nas dan dalil yang sarih untuk itu, biasanya sang teungku memprofokasi masyarakat agar ikut cara ibadahnya. Dan banyak jenis ku ëh lainnya yang bertaburan di Aceh hari ini sehingga membuat bangsa ini sulit untuk maju.

            Gambaran lain keberadaan muslim Aceh hari ini adalah jahil atau bodoh, dan mereka tidak mau belajar agar menjadi pandai. Ada juga yang dibodoh-bodohi oleh orang-orang tertentu. Masih banyak orang Aceh yang putus sekolah hari ini dan tidak mempunyai pekerjaan yang muslihat. Kebodohan itu boleh jadi karena orang tuanya tidak mampu mendidiknya, boleh jadi pula sistem pendidikan yang tidak representatif untuk memandaikan anak bangsa. Apapun penyebabnya orang Aceh masih banyak yang bodoh hari ini, sebagai cermin; belum ada orang Aceh yang mampu membuat kenderaan, membuat komputer, malah lahan yang banyak tersedia di Aceh tidak mampu dimanfa’atkan semaksimal mungkin seperti banyak ladang yang masih kosong banyak hutan yang tidak dimanfa’atkan. Malah semua kebutuhan hidup orang Aceh didatangkan dari luar Aceh seperti telur ayam, sapi, kambing, ayam, kacang, dan lainnya.

            Kebodohan lain yang masih ada di Aceh hari ini adalah; orang Aceh masih senang berantam sesama Aceh, masih suka menipu sesama Aceh, masih suka memfitnah sesama Aceh, masih suka membunuh sesama Aceh, masih suka merampok sesama Aceh, masih suka menganiaya sesama Aceh dan sebagainya. Ini merupakan pekerjaan jahat, jahil, sesat dan menyesatkan. Tetapi itulah yang terjadi di Aceh hari ini.[5]

            Masih banyak juga muslim Aceh yang lemah iman dalam kehidupan ini sehingga tidak takut kepada Allah. Mereka tidak melaksanakan salat berhari-hari. Malah ada juga yang siap dizinahi lelaki luar karena dikasih uang yang banyak[6] sehingga lupa kepada ancaman Allah di hari kemudian. Juga lemah iman sehingga mau melakukan korupsi uang rakyat dan uang negara, para penguasa mematok fee sekian persen pada kontraktor yang diberikan proyek dan sebagainya.

            Selain lemah iman mereka juga masih pendek wawasan sehingga selalu menganggap diri pandai dan orang lain bodoh. Ada golongan yang mengklaim ilmu itu hanya lebih banyak di Aceh, karenanya tidak perlu pergi keluar negeri karena di sana tidak banyak ilmu dan ilmu itu terkumpul di Aceh semuanya. Klaim seperti ini bukan hanya menunjukkan orang Aceh masih kurang wawasan, tetapi juga menunjukkan sebahagian orang Aceh tidak paham perkembangan zaman. Akibatnya hidup mereka seperti katak di bawah tempurung yang selalu menganggap diri pandai padahal ianya bodoh, selalu menganggap dirinya kuat padahal ia lemah, menganggap dirinya maju padahal ianya kolot.

            Kenyataan lain yang muncul dalam kehidupan orang Aceh hari ini adalah para pemuka masyarakat membiarkan kemaksiyatan dan kemungkaran berlalu di depan matanya. Kalau ada orang yang tidak salat tidak pernah dianjurkan untuk salat, kalau ada pemain judi di kampung tida pernah diberantas secara tegas, kalau ada penjual buntut juga dibiarkan ia berlalu. Malah yang amat menyedihkan lagi adalah orang-orang disekeliling dayah/pesantren tidak pernah salat tidak ada orang yang mengajaknya salat, mereka beranggapan itu bukan tanggung jawabnya.

            Kalau terjadi zina di sesuatu kampung bukannya dihukum pelaku zina tersebut tetapi segera dinikahkan.[7] Ini bermakna memberi kesempatan kepada pezina lain untuk berbuat zina yang banyak di Aceh. Dan mereka yang sudah suka sama suka antara lelaki dengan wanita yang tidak mendapat persetujuan orang tuanya mudah saja mereka kawin, pertama berzina dulu dan zinanya tidak perlu sembunyi karena punya target agar dinikahkan oleh pihak berkompeten. Begitulah kondisi Aceh hari ini yang tidak dapat kita tutup mata dan harus kita akui adanya.

            Upaya amar ma’ruf nahi munkar yang semestinya wujud di kawasan-kawasan mayorits muslim tidak ada lagi di Aceh hari ini. Mereka cenderung hidup nafsi-nafsi seperti di yaumil mahsyar yang tidak saling peduli kecuali masing-masing diri memikirkan dirinya sendiri. Gerakan dakwah yang ada hari ini di Aceh adalah mengajak orang melaksanakan kebajikan tetapi tidak ada ajakan untuk meninggalkan kejahatan, apalagi untuk memberantas kejahatan.

            Kenyataan lain yang sulit dipungkiri adalah orang Aceh berlomba-lomba membangun masjid besar-besar, elok-elok, cantik-cantik dan megah-megah. Tetapi mereka tidak mau mengisinya, memakmurkannya, membersihnya, merawatnya dan menggunakannya untuk pengkaderan.[8] Akhirnya kita hanya bangga dengan banyak masjid di Aceh tetapi tidak mungkin bangga dengan isi di dalam masjid tersebut. Dengan demikian maka jadilah masjid sebagai lambang Islam tetapi tidak banyak manfa’at yang dapat diambil Islam dari masjid-masjid tersebut.

            Satu kenyataan lagi yang sulit dibantah adalah para pemimpin Aceh hari ini belum menyatu dengan Hukum Islam atau Hukum Allah. Mereka susah kalau Syari’at Islam dijalankan semestinya di Aceh dan tidak mau mengesahkan aturan pelaksananya seperti qanun yang berhubungan dengannya.[9] Bukan hanya itu, sebahagian mereka tidak melaksanakan shalat rutin lima waktu sehari semalam, ini persoalan serius bagi muslim Aceh. Apalagi kalau sempat terjadi ketika maju menjadi pemimpin Aceh lewat jalur panas mengancam masyarakat, atau meneror masyarakat, atau menuba masyarakat dengan uang, dengan materi-matei khusus dan sebagainya.

 

PROBLEMATIKA YANG DIHADAPI

            Sangat banyak problematika umat Islam Aceh hari ini yang tidak pernah tuntas solusinya dari zaman ke zaman. Sehingga tiap hari, tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun terus saja dipikir dan dikerjakan yang itu-itu. Persoalan belum memadainya Sumber Daya Manusia (SDM) muslim Aceh tidak pernah tuntas sampai sekarang ini. Dahulu ada alasan rejim Orde Baru pimpinan Soeharto tidak menyisakan hasil LNG Arun sepersenpun untuk Aceh sehingga sulit mendongkrak SDM Aceh karena tidak ada dana. Setelah tumbangnya Soeharto tahun 1998 yang lalu Indonesia berubah cara dan Aceh mendapatkan 30 % hasil LNG Arun yang dituangkan dalam APBA dan dipeuntukkan 30 % pula untuk keperluan pendidikan anak bangsa Aceh, tetap saja SDM Aceh belum memadai walaupun sudah memakan waktu dekat sepuluh tahun.

            Prihal disintegrasi ukhuwah ummah terus menerus terjadi di Aceh walaupun mereka tau sesama muslim adalah bersaudara. Namun yang tau itu yang juga suka meyalahkan orang lain walaupun ia belum tentu salah. Yang menamakan ulama masih suka menyalahkan cara ibadah ulama lain, masih suka mengkafirkan muslim lain, masih suka menipu ummah, masih suka menjilat kepada penguasa, masih suka memperalat agama untuk mendapatkan uang dan sebagainya. Krisis ukhuwah lainnya juga wujud dalam bidang perdagangan di mana satu sama lain saling memburukkan agar langganan datang dan berbelanja pada dia. Dalam bidang pendidikanpun tidak kurang pecahnya, antara pimpinan pendidikan umum dengan pimpinan pendidikan agama selalu saling memburukkan yang diikuti oleh murid-murid mereka. Perebutan masjid terjadi di mana-mana dengan tujuan yang tidak berdasarkan agama seperti yang terjadi di Beureunuen,[10] di Bireuen[11] beberapa tahun yang lalu, di Gandapura tahun 2009 dan sebagainya. Begitulah keadaannya sampai kepada kehancuran ukhuwwah di gampong dan kuta. Belum nampak warna baru yang dapat menyelesaikan problematika ini.

            Kemiskinan masih merajalela di Aceh baik miskin harta benda maupun miskin ukhuwwah, miskin akhlak, miskin ilmu pengetahuan maupun miskin pemimpin Islami. Kemiskinan harta benda membuat bangsa ini tidak berdaya, miskin ukhuwwah dapat menghancurkan bangsa dan negara, miskin akhlak dapat mengganggu rakyat jelata, miskin ilmu pengetahuan dapat mengganggu kemajuan bangsa dan miskin pemimpin yang Islami dapat menyeret ummat Islam Aceh ke jurang perpecahan dan neraka jahannam. Apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus melakukan untuk menetralisir perkara ini untuk sa’at ini? Kita tetap menunggu kedatangan ratu adil untuk menuntaskan semua itu sebagaimana janjinya Rasulullah SAW.: ”Sesungguhnya Allah akan mengutuskan seorang pembaharu untuk ummat ini dalam seratus tahun sekali”.

Sistem pendidikan dan hukum yang ada hari ini sama sekali belum Islami, ia masih berhubung kait dengan sistem pendidikan dan hukum peninggalan Belanda. Karenanya produk yang dihasilkan tetap saja memihak kepada Belanda dalam eksistensinya dan dalam hal-hal tertentu bertentangan seratus persen dengan sistem pendidikan dan sistem huku Islam. Umpamanya; Islam mengharamkan zina dalam bentuk apapun termasuk senang sama senang, tetapi hukum peninggalan Belanda di Aceh menghalalkanya atas dasar senang sama senang. Sistem pendidikan Islam didasari pada kerangka ’aqidah sebagai azas paling dasar, sementara sistem pendidikan peninggalan Belanda di Aceh mengutamakan ilmu pengetahuan sebagai azas paling dasar. Maka tidak heran kalau semakin banyak sarjana yang dihasilkan negeri ini semakin banyak pula korupsi terjadi, semakin banyak pula penipuan terjadi dan sebagainya.

Belum ada frekuensi baru tentang kemajuan pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh hari ini walaupun Syari’at Islam itu sudah lebih tujuh tahun diisytiharkan di sini namun belum jalan maksimal sebagaimana harapan masyarakat di gampong dan di kota sekitar bumi peninggalan Iskandar Muda ini. Kalau belum jalan Syari’at Islam karena masyarakat belum tau caranya masih bisa diperbaiki, atau kalau terhambatnya perjalanan Hukum Allah di Aceh hari ini karena banyak kafir di sini masih bisa dipahami. Tetapi kalau belum jalannya Hukum Islam secara maksimal di Aceh hari ini karena para pemimpin Aceh benci kepadanya, ini yang sama sekali tidak dapat ditoleransi. Karenanya ini merupakan issue penting dan amat sensitif dibicarakan.

Persoalan lain yang tidak kalah pentingnya dan menjadi problematika Muslim Aceh paling serius sekarang ini adalah merajalelanya rasukan pemahaman liberal, sekuler dan sosialis. Sebahagian kalangan akademisi sudah dirasuki oleh pamahaman ini, sejumlah mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa sudah meyatu dengan pemahaman ini dan tentu saja sejumlah masyarakat yang mengandalkan rasiopun ikut bergabung kesana. Sesungguhnya ini merupakan missi lama yang dikembangkan kaum penjajah yang bangkit kembali hari ini lewat penjajahan pemikiran yang juga disebut ghazwul fikr atau invasi pemikiran. Hal ini dilakukan oleh antek-antek penjajah karena mereka tau zaman ini tidak ada lagi penjajahan fisik, maka mereka beralih kepada penjajahan pemikiran dan intelektualitas. Problematika ini menjadi salah satu yang amat sangat berbahaya bgi muslim Aceh terutama sekali generasi muda sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa.

 

ALTERNATIF SOLUSI

            Solusi jitu untuk menyelesaikan semua persoalan tersebut adalah ummat Islam Aceh harus kembali kepada Syari’at Islam pada dataran kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan kembali kepada ’aqidah serta akhlak Islam pada dataran spiritual dan duniawi. Kembali kepada syari’ah bermakna kita harus meninggalkan sistem hukum lama, sistem ekonomi lama, sistem pendidikan lama, sistem politik lama dan sistem kehidupan sebelumnya yang sudah jelas gharar dan syubhat di sana kalau tidak mau kita katakan haram. Seterusnya hiduplah sebagaimana ketentuan Hukum Islam, hiduplah mengikut tata cara ‘aqidah Islam dan akhlak Islam, insya Allah semua problematika ke-Aceh-an akan terlerai dengan serta merta. Di antara langkah-langkah jitu yang dapat dilakukan untuk menuju ke sistem hidup Islami adalah:

?  Kembali menghidupkan masjid

Masjid yang terhitung banyak dan indah-indah di Aceh harus segera diisi, dimakmurkan dan dihidupkan dengan shalat berjama’ah lima waktu sehari semalam. Ini merupakan amalan rutin dan tidak pernah absen dilakukan Rasulullah SAW beserta dengan para sahabat dan ummat Islam di zaman-Nya. Dengan demikian muncullah keberkatan, muncullah kekompakan dan muncullah rahmat tuhan bagi masyarakat sekelilingnya. Dan itu menjadi tolok ukur penyelesaian berbagai persoalan yang berkembang. Kalau muslim Aceh mengamalkan ini dengan sungguh-sungguh dan ikhlas insya Allah Aceh dalam masa singkat akan bernuansa lain dari sekarang ini.

            Jadikanlah masjid itu sebagai tempat utama penghambaan diri kepada Allah baik siang maupun malam, baik dalam keadaan murung maupun keadaan riang, baik ketika miskin, kaya maupun cukup-cukupan. Masjid adalah media penghubung kita dengan tuhan, maka hubungkanlah diri sendiri dan keluarga dengan Allah khaliqul alam. Penuhilah masjid-masjid untuk bersujud, bermunajat, bertaqarrub dan berserah diri kepada Allah. Sisihkan waktu untuk itu, robah kebiasaan lama yang menyisihkan masjid dalam kehidupan ini, sadarkanlah diri sendiri untuk keperluan asasi menghadap Ilahi.

?  Kembangkan pendidikan dan pengkaderan Islam via masjid

Apa saja jenis pendidikan yang dikembangkan harus Islami dan harus pula digunakan masjid sebagai salah satu medianya. Selama ini muslim Aceh menggunakan masjid sekedar tempat salat Jum’at saja, sebagian mereka menggunakannya untuk salat rawatib, selebihnya masjid yang banyak dan indah-indah di Aceh itu kosong tidak dimanfa’atkan secara maksimal. Untuk menjadi salah satu solusi sejumlah problematika muslim Aceh hari ini maka media masjid amat penting dan strategis untuk dijadikan tempat pencetakan kader-kader muslim yang beraqidah kuat, bersyari’ah mantab dan berakhlak mulia. Wujudkan dan kembangkan pendidikan berbasis Islam di seluruh masjid di Nanggroe Aceh Darussalam untuk menerobos kebekuan yang ada.

Pendidikan yang kita maksudkan di sini harus melingkupi pendidikan yang berbasis imtaq dan iptek. Dengan demikian diharapkan masjid tidak sia-sia, ummah dan kader-kader Islam berjaya lewat jalur pendidikan yang bersahaja dan dapat pula memajukan kehidupan bangsa. Robahlah kebiasaan selama ini yang saling melepas tangan terhadap pendidikan anak bangsa yang berbasi masjid. Kalau ada masjid-masjid yang sudah bagus pendidikan kanak-kanak, maka harus ditingkatkan kepada remaja dan pemuda, terus kepada orang tua sehingga setiap kampung semuanya paham Islam secara menyeluruh. Dengan demikian sesama muslim tidak akan bermusuhan, tidak akan berpecah belah, tidak akan saling menuduh dan mengancam, sebaliknya selalu rukun dalam kehidupan di bawah naungan Allah SWT.

?  Tolak pemikiran liberal dan sekuler

Merupakan kewajiban menyeluruh kepada muslim Aceh untuk menolak secara spontan pemikiran dan ajaran yang berbau liberal, sekuler yang dapat merusak iman. Tidak perlu didiskusikan lagi untuk pemahaman seperti itu karena sudah jelas dan dapat bukti bahwa itu punca kesesatan yang nyata bagi ummat Islam di dunia. Terlepas siapa yang sudah menyatu dengannya tidak perlu didiskusikan lagi karena itu memang mambahayakan aqidah anak bangsa di Aceh ini.

Sebahagian tokoh-tokoh liberal berani mengatakan jilbab bukan kewajiban dalam Islam, Al Qur’an tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman,[12] poligami tidak benar, kawin sejenis dibolehkan menurut mereka,[13] naik haji boleh setiap bulan dalam setahun,[14] dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran semacam ini wajib kita tolak dan jauh dari bumi Aceh agar Aceh tetap bersih dan suci dari aliran dan pemahaman sesat.

?  Awasi kehidupan ummah dengan syari’at Islam

Hukum Islam merupaka Hukum Allah yang paling lengkap dan sempurna di dunia ini karena ia selalu selaras dengan perkembangan zaman. Untuk mengukur kelengkapan tersebut dapat kita lihat pada sumber hukum Islam itu sendiri yang terdiri dari dua kategori, yaitu sumber utama (Al Qur’an dan Hadis) dan sumber kedua (Ijma’, Qiyas, Ijtihad, istihsan, istishab, ’uruf, syar’u man qablana, pendapat para sahabat, dll). Ini menunjukkan tidak mungkin Hukum slam itu kaku atau ketinggalan zaman seperti hukum-hukum lain karena sumber utama menjadi fondasi sementara sumber kedua menjadi translasi, penyelaras dan penyesuai yang terikat kepada sumber utama.

Hanya orang-orang yang tidak paham Hukum Islam saja yang berkata macam-macam terhadapnya. Oleh karenanya sudah selayaknya Hukum Islam dijadikan pengawas dalam kehidupan ummat Islam Aceh kapan saja. Untuk itu pula deklarasikan secara gamblang bahwa Aceh menjalankan Hukum Islam, para pemimpin Aceh tidak boleh macam-macam karena ini menyangkut dengan Hukum Allah. Pemerintah Aceh harus secepatnya mengesahkan semua qanun yang berhubungan dengan pelaksanaan Hukum Islam di Aceh.[15]

?  Hidupkan gerakan dakwah melalui media cetak dan media elektronik

Gerakan dakwah merupakan salah satu media paling jitu untuk merubah suasana dari jahat menjadi baik, dari dhalim menjadi adil, dari bangsat menjadi ta’at dan seterusnya. Kita tau di Aceh banyak media cetak seperti koran, majalah, tabloid dan sebagainya, juga banyak media elektronik seperti radio, televisi, internet dan sebagainya. Kalau semua media tersebut dapat dimanfa’atkan menjadi media gerakan dakwah sepenuhnya sesuai dengan keadaan Aceh yang berlaku Syari’at Islam maka dapat dipastikan Aceh cepat berubah ke arah yang lebih positif.

Kalaupun tidak bisa memihak sepenuhnya kepada gerakan dakwah apabila semua media tersebut tidak memihak kepada kafir dan tidak ikut serta memprofokasi Islam saja sudah cukup untuk merobah situasi di Aceh hari ini menuju kearah yang Islami. Yang sedih dan menyedihkan adalah masih ada media yang turut menyudutkan Islam dan mengangkat kafir dalam issue-issue tertentu seperti issue jender, HAM, kekerasan terhadap perempuan, terhadap anak dan sebagainya.

?  Bangun dan optimalkan operasionalkan radio dakwah di masjid-masjid

Radio merupakan salah satu media elektronik yang paling mudah digunakan dan diserap informasinya oleh masyarakat, hal ini menyatu dengan kemalasan sejumlah orang Aceh untuk membaca tetapi rajin mendengar dan menonton. Untuk itu operasional gerakan dakwah lewat radio amat penting dan mustahak dilakukan untuk merobah kondisi Aceh yang dililit oleh berbagai problematika ummah. Perlu ada radio Islam paling kurang setiap masjid kabupaten/kota satu, kalau boleh diperluas ke peringkat kecamatan yang berjauhan dengan ibukota kabupaten jauh lebih baik lagi.

Radio ini diharapkan dapat memberikan informasi setiap waktu kepada masyarakat dan dapat mengajar masyarakat tentang ilmu-ilmu Islam dan sebagainya. Kalau setiap masjid kabupaten/kota sudah memiliki radio yang dibangun oleh pemerintah Aceh yang Islami kemudian ditata dengan baik dan rapi serta tidak diperebutkan oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan kaum dan kelompoknya, insya Allah problematika-problematika yang selama ini mengancam Islam di Aceh dapat teratasi secara bertahap.

?  Dobrak pemimpin dhalim dan perbaiki rakyat rusak

Solusi yang amat mencabar yang harus dilakukan muslim Aceh hari ini adalah dobrak kejahilan pemimpin dhalim di Aceh dan perbaiki rakyat yang terlanjur rusak. Prihal ini sudah pernah berhasil dilakukan para endatu seperti pada masa Ali Mughayatsyah, Abdul Qahharsyah, Iskandar Muda, Tgk, Syhik Di Tiro, dan Tgk. Muhammad Dawud Beureu-éh. Kalau dahulu di zaman kuda sudah pernah berhasil dilakukan maka pada zaman komputer ini mustahil bisa gagal, hanya perlu orang yang berdiri dan berjalan di depan. Mudah-mudahan orang yang kita maksudkan akan segera datang agar ummat ini ada tempat pijakan.

 

KHATIMAH

            Banyak sekali problematika ummah yang tidak pernah tuntas dan tidak pernah dituntaskan dalam kehidupan muslim Aceh. Baik karena acuh dan phobinya orang Aceh terhadap permasalahan maupun karena tidak ada kapasitas untuk memberantasnya. Yang jelas faktor kepemimpinan dapat mempengaruhi semua itu, dahulu pemmpin Aceh komit dengan Islam dan syari’at Islam, komit memberdayakan dan membela rakyat, hari ini mereka hanya komit membela kaum dan golongan, mereka bukan tidak mau menjalankan syari’at Islam tetapi ada yang belum menyatu dengan ajaran Islam.

            Semua itu terjadi karena pilihan rakyat Aceh yang masih lugu dan rentan dengan ancaman. Merea ingin Aceh yang Islami tetapi ketika memilih pemimpin tetap saja memilih orang-orang yang kuat meneror rakyat, yang kuat mengancam rakyat, yang kuat menipu rakyat dan yang kuat menyuap rakyat. Pada masa itu rakyat tidak terpikir apa-apa, tetapi ketika dihadapkan dengan masalah seperti hari ini baru menyesal, tidaklah berguna lagi. Pepatah melayu megatakan: pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Karena itu jadilah pengalaman pahit ini untuk menentukan dan memilih pemimpin Islam yang Islami di Aceh masa depan, baik peringkat nanggroe maupun wilayah, sagoe dan gampong-gampong.


 

[1] Lihat Waspada onlineSelasa, 25 Maret 2008

[2] Wawancara dengan Tgk. Muhammad Yus, mantan anggota DPR RI periode 2004-2009 di Banda Aceh 15 Oktober 2009

[3] http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1873, http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1774, http://harian-aceh.com/news.php?bid=116

[4] http://harian-aceh.com/news.php?bid=116, http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1792

[5] Lihat berita tentang perkara itu dalam Serambi Indonesia Sabtu, 24 Oktober 2009, Ahad 25 Oktober 2009.

[6] Lihat kasus Nazaryah dengan bulek Eropa di Hotel Kiyah Langsa. Kasus perempuan asal Simpang Tiga (pegawai kantor Bupati Pidie) dengan lelaki bule asal Itali di salah satu rumah di Pulo Kiton Bireuen.

[7] Aceh Kita online, Jumat, 20 April 2007, 09:49 WIB

[8] Waspada Selasa, 25 Maret 2008.

[9] Lihat Serambi Indonesia Jum’at 17 September 2009, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf tidak mau menandatangani qanun jinayah dan acara jinayah yang telah disahkan DPRA 14 September 2009. Lihat juga Serambi Indonesia Sabtu 24 Oktober 2009.

[10] Kejadian perebutan masjid Baitul A’la lilmujahidin yang dibangun ulama dan pemimpin besar Tgk. Muhammad Dawud Beureu-eh itu dipacu oleh sejumlah ulama dayah tradisional bersama murid-muridnya karena persoalan perbedaan cara ibadah di antara mereka.

[11] Kasus perebutan masjid kabupaten Bireuen ini dipacu oleh kepentingan politik bupati Mustafa Abdullah Geulanggang yang bernafsu menduduki jabatan bupati kedua kalinya, dia memperalat kaum dayah tradisional dan kaum dayah juga memanfa’atkan pengaruh dia untuk dapat menguasai masjid tersebut dari pengurus lama yang berpaham modernis.

[12] Ini pemikiran Munawir Syadzali, salah seorang Menteri Agama pada masa rezim Orde Baru pimpinan Soeharto.

[13] Ini pemikiran Musdah Mulia, salah seorang tokoh liberal yang juga anti terhadap pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh.

[14] Ini pemikiran Masdar F Masudi, tokoh muda Nahdhatul Ulama (NU) yang berpaham liberal.

[15] Gubernur Aceh Irwandi Yusuf masih enggan menandaangani Qanun Jinayah dan Acara Jinayah yang sudah disahkan oleh DPRA 14 September lalu. Lihat Serambi Indonesia Sabtu 24 Oktober 2009.

 

—–=hya=—–

 

Kondisi ini diperparah sikap pimpinan di Aceh yang tidak begitu proaktif dalam percepatan pelaksanaan syariat Islam, apalagi setelah tidak mau ditanda-tanganinya qanun jinayat dan qanun acara jinayah oleh Gubernur.

 Pada tataran sistem juga ada kelambanan tersendiri, dimana dasar hukum untuk operasional syariat Islam adalah qanun yang setingkat dengan perda, untuk menjadi aturan organik dari  UU Nomor 44 Tahun 1999 dan UU No 11 Tahun 2006, yang sering mentah ketika dikonsultasikan ke Mendagri, dengan alasan bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi. Kecuali itu, produk legislasi pun-dari sisi kuantitas, terlebih kualitas, masih sangat kurang untuk menjawab kebutuhan penegakan hukum syariat Islam di Aceh.

Menyahuti kondisi di atas, Dewan Da’wah Aceh berinisiatif mengagas aliansi beberapa ormas Islam dan Lembaga dakwah untuk memikirkan jalan keluar apa yang dapat diberikan kepada pihak-pihak yang patut agar proses percepatan Syariat Islam di Aceh menjadi lebih cepat. Aliansi ini sebenarnya sudah pernah jalan pada tahun sebelumnya, hanya karena kesibukan masing- masing menyebabkan lembaga maka kembali vakum, jadi ini hanya meangktifkan kembali apa yang sudah pernah ada sebelumnya, demikian jelas Hasanuddin Yusuf Adan (Ketua Umum Dewan Da’wah Aceh) ketika memandu pertemuan perdana aliansi yang dihadiri oleh beberapa Ormas dan lembaga dakwah Islam (seperti DMI, HTI, GPI, Hidayatullah dan beberapa lembaga lain berhalangan hadir) pada Rabu, 6 Januari 2009 di Sekretariat Dewan Da’wah Aceh. Ke depan keberadaan aliansi ini menjadi strategis untuk kerja-kerja advokasi dan juga edukasi.

Ada beberapa kesepakatan yang disepakati dalam diskusi malam tersebut, di antaranya mengaktifkan kembali pertemuan rutin bulanan, segera menyusun konsep untuk masukan bagi Majelis Pendidikan Aceh agar mendesak Dinas Pendidikan menerapkan Qanun Pendidikan, dimana pendidikan di Aceh harus berdasarkan Islam, sehingga dalam waktu jangka panjang akan lahir generasi yang memahami dan mau mengamalkan Islam. Selain itu juga akan menawarkan kepada Pemerintah Aceh agar kendali Syariat Islam dipegang langsung oleh Gubernur atau Wagub sebagai koordinator sehingga ada kewenangan perintah kepada dinas/lembaga/badan lain  untuk proaktif menyukseskan syariat Islam.

 Beberapa konsep ini akan dimatangkan kembali dalam pertemuan kedua bulan depan yang rencanakan akan difasilitasi oleh Pengurus Wilayah Hidayatullah.

Khusus untuk kawasan Aceh bagian Timur, dua hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 4 Juli 2010, sudah dilantik Pengurus Daerah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kabupaten Aceh Timur. Beberapa hari ke depan, direncanakan pada tanggal 13 dan 14 Juli akan dilakukan pelantikan Pengurus Daerah Dewan Da’wah Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

Pengurus Daerah Dewan Da’wah Kabupaten Aceh Timur yang baru dilantik tersebut diketuai oleh Drs. M. Natsir, SH. MH, Sekretaris Hasan Basri, S.Ag dan Bendahara Ismuha, S.Ag serta dilengkapi dengan sejumlah biro-biro.

Dalam sambutannya, M. Natsir, selaku ketua terpilih menyebutkan bahwa kepengurusan yang disusun untuk daerah Aceh Timur sudah mewakili berbagai stakeholder yang ada, baik latar belakang pendidikan, organisasi maupun daerah tempat tinggal yang mewakili semua kecamatan yang ada di Aceh Timur. Penyatuan semua potensi ini menurutnya merupakan langkah awal untuk memajukan organisasi Dewan Da’wah Aceh Timur. Tentu saja, di samping potensi yang sudah ada, perlu tindakan nyata guna lancarnya roda organisasi, dan untuk itu akan segera dicarikan sekretariat di posisi yang strategis, terjangkau bagi semua pengurus. Langkah berikutnya adalah melakukan rapat kerja (raker) guna merumuskan program dan pembagian tugas bagi masing-masing pengurus, demikian Natsir mengakhiri sambutan dengan mengharapkan dukungan dan kerjasama serta keikhlasan bekerja dari semua jajaran pengurus agar semua program berjalan sesuai rencana.

Pihak Pengurus Wilayah Dewan Da’wah Aceh, dalam amanat yang disampaikan oleh ketua umum Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, mengucapkan terima  kasih yang setinggi-tingginya atas keberhasilan penerima mandat menyusun Pengurus Daerah Dewan Da’wah Aceh Timur sekaligus melaksanakan seremonial pelantikan yang dikemas dengan acara workshop singkat tentang bahaya ghazwul fikri. Kecuali itu, Ketua umum wilayah Dewan Da’wah Aceh juga menguraikan bagaimana sejarah perjuangan dari para pendiri Dewan Da’wah bekerja keras dan penuh keikhlasan mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan harta benda guna memajukan da’wah agar Islam tegak di muka bumi. Begitu juga pengorbanan yang telah dilakukan oleh ulama-ulama Aceh masa dulu, dengan berbagai keterbatasan—sarana komunikasi, transportasi, tehnologi—mereka sanggup mengislamkan Aceh, kenapa kita hari ini dengan berbagai kemudahan yang ada belum mampu bekerja sebagaimana mereka, demikian Hasanuddin Yusuf Adan menggugah semua pengurus Dewan Da’wah untuk mencontoh etos kerja tokoh-tokoh Islam sebelumnya.

Sebelum pelantikan yang dilakukan sore  hari, pada pagi dan siang harinya diisi dengan workshop singkat tentang bahaya ghazwul fikri yang membedah tentang problematika ummat Islam, Pluralisme Agama dan Liberalisasi Islam di Indonesia. Ketiga sesi materi tersebut difasilitasi oleh Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, Abizal Lc, MA dan Sayid Azhar,S.Ag. Kepada peserta juga disediakan buku-buku bacaan yang berkaitan dengan tema workshop.

Diharapkan dengan workshop tersebut peserta mendapat pemahaman yang utuh tentang problematika ummat Islam hari ini, serta memahami program liberalisasi Islam serta upaya dari kaum pluralis untuk mengancurkan Islam. Sehingga workshop ini setidaknya diharapkan mampu membentengi peserta untuk tidak terpengaruh dan terjebak dengan pola pikir tersebut, alih-alih mampu mengcounter dan menunjukkan kelemahan dan kekeliruan dari argumentasi kaum liberal. Semoga!

Banda Aceh, 6 Juli 2010

Sayid Azhar

Sekjen DDII Aceh

 

Kondisi ini diperparah oleh pernyataan Gubernur sendiri sebagai representasi 4 juta lebih rakyat Aceh yang dengan tegas menyatakan tidak setuju dengan persyaratan dalam Rancangan Qanun tersebut. (Serambi 12 Juni 2008). Benar, seperti salah satu alasan Bapak Gubernur, bahwa kemampuan membaca Al-Qur-an bukan indikator seseorang mampu menjalankan syariat Islam. Tapi harus diketahui bahwa membaca al-Qur-an merupakan kewajiban setiap individu muslim (fardhu ‘ain),

karena tidak mungkin melakukan kewajiban lain tanpa kemampuan membaca al-Qur-an, seperti melaksanakan shalat sebagai kewajiban fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Jadi kemampuan membaca al-Qur-an menjadi salah satu prasyarat melakukan kewajiban-kewajiban syari’at Islam lainya bagi setiap muslim. Konon lagi bagi calon anggota legislatif yang merupakan wakil-wakil rakyat Aceh yang menginginkan kembalinya Marwah Bansa Aceh Ban Sigom Donya dengan tegakknya syari’at Islam tegak secara kaffah sebagaimana berlaku pada masa endatu. 

Berkaitan dengan alasan yuridis beberapa anggota Fraksi yang tidak setuju dengan sasal 13 dan 36 Rancangan Qanun Parlok, memang sekilas benar adanya. Karena kaedah hukum memang berkata demikian. Akan tetapi, kaeah-kaedah hukum juga mengenal pengecualian-pengecualian. Di mana aturan-aturan yang mengatur sesuatu yang khusus dibolehkan (baca;dimenangkan) untuk menambah sesuatu yang khusus pula apabila tidak diatur dalam aturan yang lebih tinggi. Jadi yang Pasal 13 dan 36 Rancangan Qanun Parlok bukan melawan Undang-Undang Pemilu, hanya menambah sesuata yang khusus yang belum dan atau tidak diatur di sana, dan penambahan-penambahan seperti ini sudah pernah dilakukan (Qanun Pilkadasung) dan tidak mendapat resistensi dari pihak pusat. Karena mereka paham betul bahwa masalah ini merupakan salah satu kekhususan bagi Nanggroe Aceh Darussalam yang juga diakui oleh undang-Undang. Jadi janganlah kita meminta diberlakukan khusus dari provinsi lain hanya dalam hal pembagian fasilitas finansial saja, tapi sesuatu yang jauh bermakna untuk dunia dan akhirat, kebolehan melaksanakan hukum Allah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk syarat baca Al-Quran bagi caleg dan calon pemimpin publik lainnya, kita abaikan bahkan kita tentang. Sementara kekhawatiran rekan Parlok yang hanya disinyalir oleh Ketua Internal Partai Sira dan Sekjen PRA,  tidak dan atau bukan semua pimpinan parlok di Aceh (Serambi Indonesia, Jum’at 13 Juni 2008) bahwa kalau Pasal 13 dan 36 Rancangan Qanun Parlok disahkan maka akan membuat rumit teknis pelaksanaannya, sudah dijawab oleh salah seorang anggota DPRA dengan mengambil pengalaman seleksi mahasiswa IAIN Ar-Raniry yang hanya butuh waktu 2 hari. Sementara keraguan parlok terancam tidak bisa ikut pemilu Tahun 2009, sepertinya pemerintah pusat tidak mau mengambil resiko terlalu berat untuk menggagalkan parlok ikut pemilu Tahun 2009. Karena keterlibatan parlok dalam pemilu 2009 di Aceh adalah konsekwensi dari langgengnya perdamaian di Aceh. Semoga!  Banda Aceh, 13 Juni 2008 PW. Dewan Da’wah NAD  

Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum

 

Dari sisi pandang syari'at kita semua tahu betapa banyak ulama yang telah menyatakan keharaman atau minimal kemakruhannya (hukum haramnya rokok lebih rajih/ kuat, red). Dari kalangan medis pun telah banyak kita dengar berbagai pernyataan tentang bahaya rokok terhadap kesehatan. Bahkan pada bungkus rokok dan reklamenya pun terpampang peringatan tentang bahaya merokok.

Merokok sangat berbahaya dan merusak kesehatan, di antara bahaya merokok adalah; Mengurangi nafsu makan, menyebabkan penyakit TBC, sesak nafas, kesulitan mencerna makanan, rusaknya hati, berhentinya detak jantung, penyakit kanker, batuk, badan lemas dan kurus, luka lambung dan masih banyak bahaya-bahaya lainnya. Mungkin beberapa penyakit di atas belum tampak pada masa muda karena kuatnya daya tahan tubuh yang diberikan Allah Ta'ala. Tetapi pada masa tua, berbagai penyakit itu akan muncul, kecuali jika Allah Ta'ala menghendaki yang lain. (Rasail at-Taubah min at-Tadkhin)


Di masyarakat mungkin kita juga pernah mendengar adanya perkelahian atau bahkan pembunuhan yang dipicu oleh rokok. Dan tentu masih banyak lagi peristiwa dan kasus berkaitan dengan rokok yang patut untuk kita renungi/ cermati.

Membunuh Pelan-Pelan
Tidak berlebihan jika rokok dikatakan sebagai pembunuh secara perlahan-lahan, karena memang dalam kenyataan kita dapati amat banyak kasus kematian seseorang karena rokok. Tentunya yang terjadi bukan seseorang menghisap rokok lalu dia mati, namun seseorang yang mati karena menderita penyakit akibat yang ditimbulkan mengonsumsi rokok. Mungkin ada baiknya kita simak sebuah kisah tentang akhir memilukan seorang perokok.

Ia seorang pemuda berusia 25 tahun dan pecandu rokok selama bertahun-tahun. Suatu ketika ia masuk ke rumah sakit karena sakit mendadak, yakni lemah jantung. Selama berhari-hari ia dirawat di ruang gawat darurat dengan berbagai peralatan kedokteran yang canggih. Dokter yang menangani pasien tersebut menyarankan kepada para perawat agar pasiennya itu dijauhkan dari rokok, karena rokok itulah penyebab utama sakitnya, bahkan dokter memerintahkan agar setiap yang besuk diperiksa agar tidak secara sembunyi-sembunyi memberikan rokok kepadanya. Selang beberapa lama kesehatannya pulih lagi. Ia kembali melakukan kegiatan-kegiatannya. Namun satu hal, ia tidak mengindahkan nasihat dokter agar berhenti merokok.

Suatu hari, pemuda tersebut hilang, orang-orang pun sibuk mencarinya. Mereka akhirnya menemukan pemuda tersebut tergeletak tewas di sebuah kamar mandi dengan memegang rokok. Kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari kesudahan yang demikian. (Rasail at-Taubah min at-Tadkhin)

Allah Ta'ala telah berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. an-Nisa: 29). Dalam ayat lain, "Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (QS. al-Baqarah: 195)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak boleh mendatangkan bahaya dan membalasnya dengan bahaya."(HR. Ahmad dan Ibnu Majah) di shahihkan oleh al-Albani

Angka Nan Fantastis
Pernahkah kita membayangkan bisa pergi haji? Boro-boro pergi haji, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulitnya bukan main, termasuk kebutuhan beli rokok? Coba kita hitung sendiri, kalau kita berasumsi bahwa harga rokok perbungkus Rp. 8.000, dan sehari kita menghabiskan satu bungkus, maka berapa kita telah menabung di perusahaan rokok?

Jika seseorang dalam sehari menghabiskan rokok satu bungkus dengan harga Rp. 8.000,- maka dalam satu bulan dia menghabiskan uang Rp.240.000, atau dalam setahun menghabiskan Rp. 2.880.000,- dan dalam waktu dua puluh lima tahun dia menghabiskan Rp. 72.000.000,- untuk mengasapi mulut dan mengotori paru-paru. Kalau seseorang memulai merokok pada usia 20 tahun, maka dalam usia 45 tahun mungkin saja dia bisa pergi haji, jika uang yang selama ini dia bakar disimpan untuk tabungan pergi haji. Tentu persoalannya bukan hanya berhenti di sini saja, tapi lebih dari itu bagaimana kalau kita nanti ditanya pada Hari Kiamat, "Dari mana engkau memperoleh harta dan ke mana engkau membelanjakannya?"

Contoh lain lagi; Penduduk Indonesia berjumlah sekitar 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta) orang, seandainya dari jumlah tersebut katakanlah seperlimanya (50.000.000 orang) adalah merokok, kemudian dalam sehari mereka membelanjakan uang Rp.1.500 (senilai uang saku anak kelas 1 SD) untuk rokok, maka dalam sehari uang yang dibelanjakan untuk rokok adalah Rp. 75.000.000.000,- (Tujuh puluh lima milyar rupiah) atau 2.250.000.000.000,- (Dua triliyun dua ratus lima puluh milyar rupiah) dalam sebulan.

Maka tidaklah mengherankan kalau perusahaan perusahaan rokok mampu menjadi sponsor untuk acara panggung musik atau acara-acara hiburan lainnya yang spektakuler dan menelan biaya jutaan rupiah, sebab mereka telah disokong dan diberi nafkah oleh para perokok (dan kebanyakan kaum muslimin) yang nilainya miliaran bahkan triliyunan rupiah.

Sangat ironis memang, banyak para perokok yang mungkin mengaku dirinya sebagai orang miskin yang butuh santunan, namun kenyataannya dia seorang donatur yang mampu menyumbang ratusan ribu rupiah per bulan kepada perusahaan "penyakit" yang jelas merugikan dirinya. Sebuah angka yang jarang muncul ketika ada petugas panti asuhan atau panitia pembangunan masjid datang megetuk pintu rumahnya, padahal belum tentu mereka mendatanginya setahun sekali.

Orang Awam Saja Tahu
Pemda DKI telah mengeluarkan perda tentang larangan merokok di tempat-tempat umum tertentu. Dan secara khusus menyebutkan larangan merokok di sekitar area tempat ibadah. Para pengelola atau pengurus tempat ibadah berkewajiban menasehati atau mengingatkan siapa saja yang melakukan pelanggaran ini.

Bukan apa-apa, orang pemerintahan kan notabene jarang melihat permasalahan dari sisi syar'i atau dalil nash, namun lebih pada pertimbangan ketertiban, kenyamanan dan kepatutan. Kalau semua orang, bahkan orang awam pun tahu, bahwa merokok di area tempat ibadah itu sesuatu yang bertentangan dengan kepatutan, melanggar ketertiban dan perilaku yang tidak pantas maka bagaimana bisa seseorang yang kadang dinisbatkan kepada ilmu, ustadz, kiyai, dan semisalnya ada yang tidak paham persoalan ini?

Akhir Kata
Kalau sudah jelas merokok itu tidak baik dari sudut pandang mana pun kecuali dari sudut pandang hawa nafsu, maka hanya tinggal satu hal yang tersisa, yakni berazam untuk bisa berhenti merokok, mulai sekarang juga!

Dan untuk mengantisipasi lahirnya generasi-generasi perokok di kalangan kaum muslimin, khususnya para pemuda dan remaja, maka di antara langkah yang dapat diambil, sebagai berikut:

1.      Tarbiyah (pendidikan) keimanan yang sungguh-sungguh untuk setiap individu masyarakat.2.      Adanya teladan yang baik saat di rumah, sekolah, dan lingkungan lainnya.3.      Melarang para guru merokok di depan murid-muridnya.4.      Penerangan yang gencar dan intensif tentang bahaya merokok.5.      Mendorong penguasa (pemerintah & para ulama) untuk komitmen menutup pabrik rokok.6.      Melarang merokok di tempat-tempat kerja, stasiun, bandara, perkantoran dan tempat-tempat umum lainnya.7.      Menyebarkan fatwa para ulama yang menjelaskan tentang haramnya rokok. 8.      Menyebarkan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan para dokter tentang bahaya rokok.9. Peringatan tentang bahaya rokok dalam ceramah-ceramah, khutbah dan lainnya.
10. Nasihat secara pribadi kepada perokok.

dikutip dari website: www.alsofwah.or.id    

Misalnya, aliran Wahdat al-Wujud dan sebaliknya Wahdat al-Syuhud masih diperkatakan, bahkan diikuti oleh kelompok-kelompok umat Islam tertentu dalam amalan tasawwuf mereka masing-masing, pandangan fiqh (feqah) dan huraian tafsir yang dibawa al-Raniri dan al-Singkili juga masih dipelajari dan diikuti oleh umat Islam daripada kalangan mereka yang menuntut di pondok-pondok atau pesantren-pesantren mahupun dayah-dayah di Nusantara. Tetapi, dalam perbincangan ini, penulis hanya akan menumpukan perhatiannya secara khusus kepada kerjaya dan  sumbangan Syaikh ‘Abdul Ra’uf al-Singkili. Yang jelasnya, tokoh ini telah memberi sumbangan yang besar dan meninggalkan kesan yang mendalam sekali daripada aspek  perkembangan ilmu tafsir, bidang fiqh dan juga tasawwuf di Nusantara. Hal ini dapat dikesan melalui jaringan guru-gurunya di Asia Barat dan juga anak-anak muridnya yang bertebaran di Nusantara serta karya-karya  penulisannya  yang menjadi rujukan para penuntut agama mahupun pengkaji hinggalah kini.

 

            Syaikh ‘Abdul Ra’uf al-Singkili (1024 – 1105/ 1615 – 1693) melalui kegiatannya  telah membawa pembaharuan dan kemajuan kepada Islam di Nusantara. Beliau merupakan seorang  mujaddid yang terbilang, iaitu  penyambung kepada usaha yang telah dimulakan oleh pendahulunya, Syaikh Nuruddin al-Raniri.[1] Aliran Islam yang diperjuangkan oleh kedua-dua ulamak ini tergolong dalam kategori Islam tradisional, yakni yang masih berpandukan mazhab, khususnya Mazhab Shafi‘i, mengamalkan tariqat (tasawwuf) dan ajaran-ajaran Ilmu Kalam yang dibawa oleh al-Asya‘ari serta al-Maturidi.[2] Dalam perbincangan selanjutnya, kita akan  mengkaji akan riwayat hidup al-Singkili secara ringkas dan seterusnya membentangkan peranannya dan sumbanganya terhadap pembaharuan serta kemajuan Islam di Nusantara dan juga hubungannya dengan para ulamak yang muncul di rantau itu  kemudiannya. Melalui cara ini, diharapkan kita akan dapat melihat ketokohannya dan mencontohi akan teladan-teladan baik  dan ilmu-ilmu yang diwarisinya.

 

 Zaman Awal al-Sinkili

 

            ‘Abdul Ra’uf al-Singkili  atau nama sepenuhnya ‘Abdul Ra’uf b. ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili adalah berketurunan Melayu dari Fansur, Sinkil (modernnya: Singkel), di wilayah pantai barat-laut Aceh.[3] Sebahagian besar  daripada para pengkaji menyetujui tarikh kelahirannya sebagai tahun 1024/1615.  Menurut  almarhum  Prof. A. Hasjmy nenek moyang Al-Singkili berasal dari Persia (Iran) dan telah datang ke Kesultanan Samudera-Pasai pada akhir abad ke-13. Mereka kemudiannya menetap di Fansur  (Barus), sebuah kota pelabuhan yang penting di pantai Sumatera Barat.[4] Sementara itu, Daly menyatakan bahawa ayah al-Singkili, Syaikh ‘Ali (al-Fansuri) adalah seorang Arab yang berkahwin dengan seorang wanita tempatan.[5] Hasil perkongsian hidup itu, lahirlah ‘Abdul Ra’uf  yang seterusnya membesar di Kampong Suro, Singkel.[6]  Al-Singkili mendapat pendidikan awalnya di desa kelahirannya, terutama dari ayahnya sendiri. Menurut Prof. A Hasjmy, ayahnnya,  seorang alim,  telah mendirikan sebuah dayah (Arabnya zawiyah), iaitu sebuah pusat pendidikan Islam yang menarik minat murid-murid dari pelbagai tempat di Aceh.[7] Kemudiannya, beliau melanjutkan pelajarannya di Banda Aceh, ibu kota Kesultanan Aceh, bahkan beliau pernah juga belajar beberapa lama di Gresik.[8] Semua ini berlaku sebelum beliau berangkat ke Makkah dan Madinah bagi meneruskan pendidikannya.

 

Selain itu, tidak banyak maklumat yang kita perolehi mengenai riwayat hidup al-Singkili pada zaman awal itu.  Hanya al-Singkili telah bertolak ke luar negeri, iaitu ke Tanah Arab, pada tahun 1052/1642. Ketika itu, Aceh sedang dilanda oleh pertikaian antara penganut doktrin Wujudiyyah  dengan para pengikut al-Raniri yang mempertahankan doktrin Wahdat a-Syuhud. Meskipun, al-Raniri telah berjaya untuk menegakkan pendapatnya dan menfatwakan bahawa pengikut Hamzah al-Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani adalah kafir, namun  pertikaian antara dua kelompok umat Islam itu tidak benar-benar tamat. Masalah Wujudiyyah yang mengganggu-gugat perpaduan umat Islam selama itu terpaksa dihadapi oleh al-Singkili kemudiannya apabila beliau kembali dan berkhidmat di Aceh Darussalam. Hal ini akan kita bincangkan secara lebih lanjut kemudiannya.

 

Pengalaman al-Singkili di Tanah Arab

 

            Dalam karyanya Umdat al-Muhtajin, ‘Abdul Ra’uf telah menyatakan pengalamannya semasa belajar di Tanah Arab, iaitu mengenai tempat-tempat pengajiannya, para guru yang mengajarnya, para  ulamak lain yang ditemuinya dan silsilah para wali dalam Tariqat Syattariyyah.[9] Jelasnya, beliau telah menuntut ilmu selama 19 tahun  di kawasan sepanjang jalur perjalanan haji bermula dari Qatar, Yaman hingga ke Makkah. Misalnya, beliau pernah belajar di Doha, Qatar dan berikutnya di Yaman, iaitu  di Zabid, Mukha, Taizz, Bait al-Faqih, al-Lumayah, Hudaydah dan Mawza’.[10] Berikutnya, beliau belajar pula di Jeddah, Makkah dan akhir sekali di Madinah.[11]

            ‘Abdul Ra’uf mempelajari pelbagai disiplin Islam, daripada ilmu-ilmu zahir, iaitu seperti  tatabahasa Arab, membaca al-Qur’an  dan tafsir, hadith dan  fiqah, mantiq (logik), falsafah, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah, perubatan sampailah kepada ilmu-ilmu batin seperti Ilmu tasawwuf dan tariqat.[12] Ternyata bahawa, beliau seterusnya menjadi ahli (pakar) dalam ilmu-ilmu tersebut. Antara para gurunya yang terkemuka ialah Syaikh Ahmad al-Qushashi yang mengajarnya ilmu tasawwuf dan Syaikh Ibrahim al-Kurani, anak murid al-Qushashi, yang menyempurnakan pendidikan tasawwuf  bagi ‘Abdul Ra’uf. [13] Sebenarnya, ‘Abdul Ra’uf telah mendapat pengajaran tentang ilmu tasawwuf  mengikut tariqat Syattariyyah dan tariqat Qadiriyyah sehinggalah beliau dikurniakan ijazah dalam dua tariqat tersebut.[14] Dengan itu, beliau mendapat gelaran “Shaikh” yang bermaksud pemimpin tariqat. ‘Abdul Ra’uf juga sempat belajar kepada dua orang guru India yang berada di Tanah Arab, iaitu, Syaikh Badruddin Lahori dan Syaikh ‘Abdullah Lahori.[15] Selain belajar secara teratur dan tetap pada para guru tertentu, ‘Abdul Ra’uf juga memperolehi ilmu melalui jalan bergaul dengan ulamak , para qadhi dan mufti dari berbagai-bagai negeri. Misalnya, beliau pernah belajar kepada Syaikh ‘Umar Fursan  (Mufti negeri Mukha), ‘Abdul Fattah al-Khas (Mufti Zabid), Faqih Tayyib Jam’an  (Mufti Bait al-Faqih), Qadhi Tajuddin di Makkah, ‘Abdul Rahman al-Hijazi dan sebagainya.[16] Dengan ulamak dan pegawai tersebut, beliau telah mengadakan dialog dan diskusi tentang pelbagai bidang ilmu keislaman yang dikaitkan pula dengan pengalaman-pengalaman mereka masing-masing  yang bertugas di bidang pengadilan dan kegiatan kemasyarakatan.[17] Justeru itu, beliau telah memperolehi ilmu secara teori melalui kitab-kitab dan juga aspek praktikalnya  melalui dialog dan perbincangan yang diadakan itu. Kesemua ini memberikan beliau kepakaran yang membantu beliau dalam kegiatannya apabila beliau kembali ke tanah air kelak.

 

            Dalam pada itu, ‘Abdul Ra’uf memperolehi penghargaan yang tinggi daripada para gurunya, terutamanya Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Kurani.Tokoh yang pertama  itu, mengangkatkannya menjadi khalifah Tariqat Syattariyyah.[18] Ini bermakna bahawa beliau mempunyai kewibawaan untuk mengajar dan membawa orang lain masuk ke dalam tariqat tersebut. Sementara itu, Ibrahim al-Kurani pula seperti yang dinyatakan oleh ‘Abdul Ra’uf  telah menulis sebuah kitab, iaitu ‘Ithaf al-Dzaki atas permintaannya sendiri bagi mengatasi masalah yang muncul di tanah Jawi, termasuk Aceh, kerana tersebarnya ajaran esoteris, iaitu doktrin Wahdat al-Wujud,  yang dapat menjerumuskan rakyat tempatan ke  lubuk kesesatan.[19]  Setelah ‘Abdul Ra’uf kembali ke Aceh, beliau terus berutus surat dengan al-Kurani yang menjawab pelbagai masalah yang diajukan kepadanya.[20]

            Setelah menuntut ilmu dengan begitu tekun, ‘Abdul Ra’uf telah kembali ke Aceh pada tahun 1661, iaitu pada zaman pemerintahan  Sultanah Safiyatuddin Shah.[21] Sejak itu, beliau terus bergerak aktif  sebagai mubaligh, pendidik, penulis, pemimpin tariqat dan  pentadbir  dalam bidang agama bagi memajukan agama, bangsa dan negaranya. Lantaran itu, nama ‘Abdul Ra’uf menjadi masyhur bukan sahaja di Aceh, malah juga di seluruh Nusantara.

 

Kegiatannya di Aceh   

 

Dengan bekalan ilmu yang luas lagi mendalam, ‘Abdul Ra’uf  telah terjun ke dalam masyarakat untuk berperanan pada awalnya sebagai mubaligh dan pendidik (guru). Tanpa memperhitungkan  akan upah atau jumlah bayarannya, beliau telah mendirikan sebuah  dayah untuk  membina dan mencerdaskan iman serta akhlak umat Islam di Aceh. Untuk tujuan itu, beliau memilih sebuah tempat di muara  sungai supaya mudah untuk  berhubung dengan rakyat   di pedalaman  yang menggunakan sungai sebagai saluran pengangkutan mereka dan juga bagi memudahkan perhubungan  apabila berurusan dengan daerah-daerah atau luar negeri melalui laut.[22] Sebagai seorang pendidik beliau menjadi amat terkenal kerana ilmunya luas lagi mendalam, selain kemampuannya sebagai seorang ‘alim yang salih serta tekun bertabligh.[23] Akibatnya, ramai orang yang datang  dari pelbagai daerah untuk belajar kepadanya, malah ada  juga yang datang dari berbagi-bagai penjuru Asia Tenggara.

 

Sambil mengajar, beliau telah menulis dan menyusun buku-buku agama dalam pelbagai bidang. Para muridnya mempelajari karya-karya tulisannya itu dengan tekun. Antara mereka ada yang sempat menyalinnya dengan lengkap, tetapi ada pula yang hanya sempat menyalin sebahagiannya sahaja.[24] Daripada kegiatannya itu, jelaslah kepada kita bahawa ‘Abdul Ra’uf telah menumpukan zaman awal kerjayanya kepada bidang pendidikan, penulisan dan bertabligh. Namun, tidak berapa lama selepas beliau bergerak aktif dalam masyarakat itu, keahliannya telah menarik perhatian  pihak istana di Aceh. Sultanah Safiyatuddin, iaitu balu kepada Sultan Iskandar Thani, yang  memerintah ketika itu   menawarkan kepadanya jawatan sebagai seorang Kadhi Sultan, suatu jawatan yang telah lama tinggal kosong sejak al-Raniri kembali ke Ranir (Gujerat), India.[25] Pada mulanya, dengan susah payah dan bijaksana, beliau menolak tawaran itu, namun Ratu tersebut menganggapkan bahawa tiada calon lain yang layak memenuhi jawatan itu. Akhirnya, setelah dipertimbangkan daripada segi kemaslahatan umat, agama dan negara, maka beliau pun menerimanya.[26] Jawatan yang disandang oleh ‘Abdul Ra’uf  itu secara rasminya di  gelar sebagai Qadhi Malik al-‘Adil atau Mufti yang bertanggungjawab secara langsung atas pentadbiran masalah-masalah keagamaan.[27] Ini bererti bahawa ‘Abdul Ra’uf perlu mendampingi pihak Sultan atau Sultanah yang menyerahkan segala urusan keagamaan kepadanya.

          

            Dengan bertambahnya tugas peringkat negara itu, kehidupan ‘Abdul Ra’uf menjadi amat sibuk, namun kegiatannya dalam bidang pendidikan, mengarang dan bertabligh  tidaklah diabaikan sama sekali. Dalam pada itu, sebelum kita menilaikan akan  kegiatan ‘Abdul Ra’uf sebagai  seorang pembangun dan pembaharu Islam eloklah kita meninjau secara ringkas mengenai suasana dalam masyarakat Aceh  ketika  beliau menceburkan diri dalam soal pentadbiran agama. Suatu ciri yang paling menarik  daripada period ini  ialah Kesultanan Aceh diperintah oleh empat orang Sultanah berturut-turut sehinggalah berakhirnya abad  ke-17. Yang pertama ialah Sultanah Safiyatuddin yang menggantikan suaminya Sultan Iskandar  Thani pada 1051/1641.[28] Zaman pemerintahannya yang relatif lama hingga tahun 1086/1675, kesultanan itu mengalami banyak kemunduran. Misalnya, banyak wilayah di bawah kekuasaan Aceh di Semenanjung Tanah Melayu dan Sumatera telah melepaskan diri masing-masing dari kesultanan tersebut.[29] Di samping kemunduran politik itu, kesultanan di bawah Safiyatuddin  juga dilanda oleh kekacauan agama yang amat meruncing. Kesuluruhan masalah itu telah bermula pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636 – 1641). Oleh kerana keilmuannya yang mendalam lagi luas,  Al-Raniri yang datang ke Aceh pada 1047/1637 telah dilantikkan oleh sultan sebagai  Syaikh al-Islam bagi menasihati baginda dalam persoalan-persoalan agama. Setelah kedudukannya menjadi mantap, al-Raniri terus melakukan pembaharuan Islam di Aceh. Beliau bertindak menentang  doktrin Wujudiyyah.[30] Malah, jauh lagi daripada itu, beliau mengeluarkan fatwa bahawa  para penganut doktrin itu adalah sesat dan wajar dihukum mati melainkan mereka bertaubat dan segala kitab rujukan mereka di bakar.[31] Akibatnya, berlakulah krisis agama-politik yang amat serius sekali. Segala aktiviti golongan pengamal doktrin Wujudiyyah  dibanteras dengan kerasnya  dan al-Raniri terus mempertahankan doktrin ortodoks Islam sehingga tahun 1054/1644.[32] Namun, selepas itu beliau secara tiba-tiba meninggalkan Aceh  menuju ke kota kelahirannya Ranir. Menurut keterangan Peter Sourij, wakil perdagangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), al-Raniri telah pulang ke Ranir kerana beliau telah tewas dalam suatu perdebatan mengenai isu Wujudiyyah di tangan Sayf al-Rijal, seorang  tokoh Sufi yang datang dari Minangkabau.[33] Lagipun, ketika itu  Sultanah Safiyatuddin yang selama ini mendokongi al-Raniri telah merobahkan dasarnya dengan  memberi penghormatan kepada  ‘alim yang baru itu. Melihat keadaan yang demikian, al-Raniri merasa bahawa kehadirannya di Aceh tidak lagi diperlukan dan beliau  terus pulang ke Ranir.[34]

            Berikutnya, Sultanah  Safiyatuddin telah diganti oleh Nur al-‘Alam Naqiyatuddin  yang memerintah hanya selama tiga tahun sahaja (1086 – 88/ 1675 – 78). Baginda digantikan pula oleh  Zakiyatuddin (1088 -98/1678 – 1688).[35] Meskipun menghadapi pelbagai masalah politik pada period ini, Kesultanan Aceh  jelasnya masih merupakan pusat pemerintahan Islam yang masih dihormati di peringkat antarabangsa. Misalnya, pada 1096/1683, Sultanah Zakiyatuddin telah menerima suatu delegasi dari Syarif Makkah, iaitu setelah delegasi itu mendarat di Aceh kerana Aurangzeb, Maharaja Moghul, yang menguasai India ketika itu enggan menerimanya di Delhi.[36] Dalam perhubungan diplomasi ini, Kerajaan Aceh telah bertukar-tukar hadiah dengan perwakilan Syarif Makkah. Kedatangan delegasi ini, walaupun  menaikkan imej Kesultanan  Aceh, khususnya bagi Sultanah Zakiyatuddin, namun ia menimbulkan pula suatu kontroversi, yakni menurut hukum Islam wajarkah Aceh diperintah oleh seorang  raja wanita.[37] Persoalan ini telah lama muncul di kalangan rakyat Aceh, tetapi tidak dapat diselesaikan. Malah al-Singkili sendiri selaku seorang alim harapan istana tidak menjawabnya secara jelas. Beliau memilih untuk mengelak daripada  memperbincangkan isu tersebut secara terbuka dan memberi suatu kata putus. mengenainya Sebaliknya, beliau  menunjukkan toleransi terhadap pemerintahan  penguasa wanita yang  berturut-turut itu.[38]

Walau bagaimanapun, persoalan yang diajukan oleh pihak yang mempertikaikan pemerintahan seorang penguasa wanita itu tidak mendapat reaksi serta merta daripada delegasi Makkah itu. Sebaliknya, pihak delegasi tersebut telah membawa isu berkenaan ke sidang para ulamak Haramain.[39] Jawapannya akhirnya tiba di istana Aceh  pada masa pemerintahan Sultanah Kamalatuddin (1098 – 1109/ 1688 – 99). Ketua Mufti  Makkah pada masa itu telah mengirimkan fatwa bahawa adalah bertentangan dengan Syari‘at Islam  jika kerajaan Islam itu diperintah oleh seorang wanita.[40] Akibatnya, Sultanah Kamalatuddin diturunkan (dima’zulkan) dari takhta dan ‘Umar b. Qadhi al-Malik al-‘Adil Ibrahim telah diangkat sebagai Sultan Badr al-‘Alam Syarif Hasyim Ba al-‘Alawi al-Husaini dan dengan itu terdirilah dinasti Arab Jamalullail di Aceh.

 

Jelasnya, sepanjang kerjayanya di Aceh, al-Singkili mendapat perlindungan daripada para sultanah. Dalam keadaan yang demikian, beliau terus bergiat untuk menulis karya-karyanya dalam bahasa Arab mahupun Melayu. Namun, beliau lebih suka menulis dalam bahasa Arab memandangkan bahasa Melayunya tidak begitu baik kerana beliau telah lama menetap di Tanah Arab.Oleh yang demikian, beliau telah dibantu oleh dua orang guru bahasa Melayu untuk menulis karya-karyanya itu.[41]

Sumbangan al-Singkili Terhadap Pembaharuan dan Kemajuan Islam di Nusantara

 

Dalam pada itu, al-Singkili telah menulis sebanyak  22 buah karya  yang membahaskan tentang feqah, tafsir, ilmu kalam dan tasawwuf.[42] Dalam karya-karyanya itu, beliau seperti gurunya, al-Kurani, berusaha untuk menyesuaikan (rekonsiliasi) antara syari‘at  dengan tasawwuf atau antara ilmu zahir dengan ilmu bathin.[43] Karya utama al-Singkili dalam bidang feqah ialah Mir’at al-Tullab. Ia ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin dan diselesaikan pada 1074/ 1663.[44] Karya ini membincangkan persoalan-persoalan  feqah menurut Mazhab Shafi‘i. Tetapi, berbeza dengan Sirat al-Mustaqim, karya al-Raniri yang hanya membahaskan tentang ibadah, Mir’at al-Tullab mengemukakan tentang aspek mu‘amalat, termasuk kehidupan politik, sosial, ekonomi dan keagamaan di kalangan kaum Muslimin.[45] Oleh kerana ia mencakupi topik-topik  yang begitu luas, ia merupakan suatu  karya  yang amat penting  dalam bidang tersebut. Sumber utama bagi karya ini adalah kitab Fath al-Wahhab, karya Zakaria al-Ansari, seorang  ‘alim yang terkemuka  dalam  jaringan ulamak dari Timur Tengah.[46] Tetapi, al-Singkili juga merujuk kepada karya-karya para ulamak yang masyhur seperti  Ibn Hajar  al-Haithami, Syamsuddin al-Ramli, Ibn ‘Umar al-Baidhawi dan Imam al-Nawawi.[47] Dengan rujukan yang demikian, al-Singkili menunjukkan kepada kita tentang hubungan intelektualnya dengan rangkaian ulamak yang terbilang.

 

Dengan karya ini juga, al-Singkili menjadi tokoh yang  pertama di Nusantara yang menulis mengenai fiqh mu‘amalat.[48] Pembaharuan yang dilakukannya ialah beliau telah menunjukkan kepada umat Melayu bahawa doktrin-doktrin hukum Islam tidak terbatas kepada ibadat semata, tetapi merangkumi juga seluruh aspek kehidupan seharian mereka. Kitab ini masih digunakan di sesetengah tempat di Nusantara, namun  ia tidak lagi tersebar luas seperti pada zaman yang lampau. Misalnya, ia masih menjadi rujukan dalam pengajian di Pondok  Kerandang, Trengganu, Malaysia.[49] Karya lain al-Singkili dalam bidang feqah ialah Kitab al-Fara’idh  yang digunakan  di pondok/pesantren hinggalah ke  abad ke-20.

 

Kedudukan al-Singkili  sebagai seorang ‘alim dan pembaharu menjadi penting apabila kita mengkaji akan sumbangannya dalam bidang tafsir al-Qur’an. Dialah juga merupakan ‘alim yang pertama di Nusantara ini yang mengusahakan penulisan sebuah tafsir al-Qur’an yang lengkap dalam bahasa Melayu.[50] Sebelum itu, tafsir al-Qur’an yang wujud hanya membincangkan ayat-ayat tertentu sahaja.Tafsir ini dikenali dengan nama Turjuman al-Mustafid  atau Tafsir alBhaidawi. Kitab tafsir ini menjadi begitu popular di kalangan orang Melayu kerana ia merupakan sebuah kitab tafsir yang terawal dan lengkap di Alam Melayu dan telah beberapa kali diterbitkan  di Jakarta, Singapura, Pulau Pinang, Bombay dan di Timur Tengah, malah tersebar jauh hingga ke Afrika Selatan.[51] Karya ini masih digunakan sebagai rujukan dalam pengajian  di pondok-pondok mahupun pesantren-pesantren di Nusantara hingga kini.[52] Daripada kajian Riddell dan Harun  terbukti bahawa kitab ini merupakan terjemahan daripada Tafsir Jalalayn (karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti) yang ditambahkan pula pada bahagian-bahagian  tertentu  dengan tafsir al-Baidhawi dan  al-Kanzin.[53] Menurut A. H.  Johns, tafsir al-Singkili itu memangnya penting kerana dalam banyak hal ia merupakan suatu petunjuk dalam sejarah keilmuan Islam di Tanah Melayu. Pendekatan yang dibawa oleh al-Singkili dalam penulisannya itu telah memberikan sumbangan kepada telaah tafsir al-Qur’an. Secara jelasnya, beliau meletakkan dasar-dasar yang menjadi penghubung  antara tarjamah (terjemahan) dengan  tafsir.[54] Hal ini mendorong umat Islam di Alam Melayu untuk menelaah dengan lebih lanjut karya-kartya tafsir dalam bahasa Arab. Selama hampir tiga abad,  Tarjuman al-Mustafid merupakan satu-satunya terjemahan al-Qur’an yang lengkap di Tanah Melayu. Hanya pada tiga puloh tahun terakhir ini, barulah timbulnya tafsir-tafsir yang baru di Nusantara.[55] Walau bagaimanapun, perkembangan baru ini tidak melenyapkan kepentingan kitab tafsir al-Singkili itu, bahkan ia memainkan peranan yang  besar  dalam  memajukan pemahaman yang lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam di kalangan umat Islam Nusantara.

 

Selain itu, al-Singkili juga telah memberi sumbangan dalam penulisan hadith. Hal ini bersesuaian dengan pandangan jaringan ulamak yang mempengaruhinya  selama beliau belajar di Timur Tengah, yakni mereka juga menekankan  tentang pentingnya  hadith. Beliau telah menghasilkan dua buah karya dalam bidang ini. Yang  pertamanya ialah penafsiran mengenai Hadith Arba‘in (Hadith Empat Puloh karya al_Nawawi) atas permintaan Sultanah Zakiyatuddin.[56] Karya yang kedua ialah al-Mawa’izh al-Badi‘ah, sebuah koleksi hadith qudsi, iaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada orang beriaman melalui kata-kata Rasulullah s.a.w. sendiri.[57] Melalui karya ini sekali lagi kita dapat melihat bahawa al-Singkili memberi perhatian yang amat serius dalam usahanya untuk membina  peribadi kaum Muslimin yang masih awam. Beliau berminat untuk mengajak mereka menuju kepada pemahaman yang lebih baik mengenai ajaran-ajaran Islam.[58] Sayugialah diketahui bahawa kitab Hadith ‘Arba‘in yang dituliskan oleh al-Singkili itu merupakan sebuah koleksi kecil hadith-hadith yang bersangkutan dengan kewajipan-kewajipan dasar dan amalan kaum Muslimin. Ia dihasilkan dengan tujuan untuk panduan kepada pembaca awam (umum) dan bukannya kepada ahli yang ingin mendalami ilmu agama.[59] Tetapi, ia dengan jelasnya menunjukkan kepada kita betapa prihatinnya al-Singkili terhadap usaha untuk membangun dan membaiki umat Islam amnya dalam pemahaman dan amalan agama mereka.

 

Dalam karyanya mengenai hadith qudsi itu, al-Singkili menunjukkan sikap yang sama. Beliau mengemukakan ajaran tentang aspek Tauhid, iaitu mengenai Allah dengan ciptaan-Nya, syurga dan neraka, dan cara yang wajar bagi kaum Muslimin untuk mendapatkan keridhaan Allah. Al-Singkili menegaskan bahawa setiap Muslim itu perlu selaraskan antara pengetahuan (‘ilm) dengan perbuatan baik (‘amal salih). Ini bermakna bahawa pengetahuan sahaja tidak mencukupi untuk menjadikan seseorang Muslim itu lebih baik.[60] Al-Mawa’izh al-Badi‘ah itu telah diterbitkan di Makkah pada 1310/1892, iaitu dalam edisi keempat atau kelima. Kemudiannya, ia diterbitkan pula di Pulau Pinang, (Malaya ketika itu)  pada tahun 1369/ 1949.[61] Jelasnya, ia masih digunakan oleh sebahagian daripada kaum Muslimin di Nusantara. Bahkan, melalui  karya ini al-Singkili telah membuat suatu pembaharuan, iaitu memberi contoh kepada para ulamak Nusantara kemudiannya  untuk menyusun karya-karya yang berupa koleksi hadith-hadith Nabi sebagai panduan kepada orang awam.

 

Dalam pada itu, al-Singkili tidak hanya menulis untuk orang awam  (al-awwam) sahaja mengenai ilmu-ilmu zahir, tetapi beliau juga menulis untuk  golongan elit (al-khawwash) mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu bathin, yakni tasawwuf  dan ilmu kalam.[62] Antara karyanya  yang bercorak tasawwuf, Kifayat al-Muhtahin mempertahankan doktrin transendensi Allah atas ciptaan-Nya. Beliau menolak pendapat golongan Wujudiyyah  yang menekankan imanensi Allah dalam ciptaan-Nya.[63] Sehubungan dengan itu, al-Singkili berhujjah bahawa Allah menciptakan alam raya (al-‘alam),  dan daripada situ  Dia menciptakan pola-pola dasar permanent (al-a’yan al-thabitah), iaitu potensi  alam raya  yang menjadi sumber dari pola-pola dasar luar (al-a’yan al-kharijiyyah), ciptaan dalam bentuk yang konkritnya. Seterusnya, beliau menyimpulkan bahawa  meskipun  al-a’yan al-kharijiyyah  merupakan emanasi daripada Wujud Mutlak (Allah), namun mereka berbeza daripada Allah itu sendiri. Untuk ilustrasi lanjut, beliau menyatakan  tentang hubungan antara tangan dan bayangnya, iaitu meskipun tangan itu hampir tidak dapat dipisahkan daripada bayangannya, tetapi tangan itu tidak sama dengan bayangnya itu. Dengan itu, beliau menegaskan transendensi Allah atas ciptaan-Nya.[64]     

 

Hujjah yang sama  telah dikemukakannya dalam risalah pendeknya, Daqa’iq al-Huruf. Karya ini merupakan sebuah penafsiran terhadap “empat baris ungkapan panteistik” daripada Ibn ‘Arabi, tokoh utama  mistik –falsafah esoteris.[65] Yang jelasnya. Al-Singkili dengan sedarnya menafsirkannya dalam pengertian ortodoks, iaitu Tuhan dan alam itu tidak sama.   

 

Penafsiran al-Singkili itu mengingatkan kita kepada gurunya  Ibrahim al-Kurani yang menekankan pentingnya intuisi (kasyf)  dalam perjalanan mistik, sementara mengakui keterbatasan akal manusia dalam memahami hakikat Allah. Dalam membahaskan keesaan Allah dalam Daqa’iq al-Huruf, Al-Singkili berpegang erat kepada  konsep-konsep al-Kurani  mengenai Tawhid Uluhiyyah (Keesaan Allah), Tawhid al-‘Af’’al (Kesatuan Tindakan Allah), Tawhid al-Sifat (Keesaan Sifat-sifat), Tawhid al-Zat (Keesaan Esensi) dan Tawhid al-Haqiqi (Keesaan Realiti Mutlak).[66]  Selain itu, seperti al-Kurani juga, beliau menyatakan bahawa cara yang paling efektif untuk merasakan dan menangkap keesaan Allah adalah dengan menjalankan ibadah, terutamanya zikir (mengingati Allah) baik secara diam (sirr) mahupun secara bersuara (jahr).[67] Dalam melakukan zikir, al-Singkili banyak berpandu kepada zikir Ahmad al-Qusyasyi seperti yang dikemukakan oleh tokoh itu dalam karyanya, Al-Simth al-Majid.[68] Beliau juga mengikuti ajaran-ajaran al-Qusyasyi mengenai kewajipan murid terhadap gurunya atau dalam perhubungan antara murid dengan gurunya.[69]

Daripada ulasan di atas, kita bolehlah merumuskan bahawa al-Singkili secara sedar telah berusaha untuk menyebarkan doktrin  dan kecenderungan intelektual serta amalan yang dikemukakan oleh jaringan ulamak dari Timur Tengah bagi memperkukuhkan  tradisi Islam di Nusantara. Aliran yang dibawanya itu adalah neo-Sufisme yang menekankan bahawa  tasawwuf tidak boleh berdiri sendiri, melainkan ia harus berjalan seiring dengan syari‘at.[70] Ini bermakna bahawa hanya dengan kepatuhan mutlak kepada syari‘at, barulah para penganut jalan mistik akan memperolehi pengalaman haqiqah (realiti) yang sejati. Sesungguhnya, inilah penyelesaian yang ditunjukkan oleh  Imam al-Ghazali, seorang  mujaddid  agung di Dunia Islam dan seterusnya Sayyid Ahmad al-Sirhindi, seorang mujaddid dari India dan juga  Syah Waliyullah al-Dehlavi, seorang mujaddid besar di India.

 

Namun, perlulah kita ketahui bahawa pendekatan al-Singkili dalam pembaharuan yang dibawanya baik dalam bidang fiqh, tafsir dan tasawwuf adalah berbeza  dengan pendekataan al-Raniri. Memanglah, beliau merupakan seorang mujaddid  yang bergaya evolusioner, yakni dia membuat perubahan secara beransur-ansur dan bukannya radikal. Seperti gurunya al-Kurani, beliau lebih suka mendamaikan pandangan-pandangan yang berbeza  atau saling bertentangan itu daripada menolak salah satu daripadanya secara kasar.[71] Walaupun, beliau tidak menyetujui pada aspek-aspek tertentu mengengai doktrin Wujudiyyah, tetapi beliau memilih untuk menyatakan pendapat-pendapatnya itu secara implisit. Begitu juga, beliau tidak terus menyerang atau mengkritik al-Raniri secara terbuka  mengenai pendapat-pendapat  tokoh itu  yang radikal. Sebaliknya, tanpa menyebutkan nama al-Raniri, beliau mengingatkan kaum Muslimin dalam karyanya Daqa’iq al-Huruf  agar  tidak mengcapkan atau mengutuk seseorang Muslim itu sebagai kafir kerana dibimbangi yang tuduhan itu akan berbalik kepada diri sendiri jika tidak ternyata kebenarannya. Hujjah ini diperkukuhkannya dengan memetik sepotong hadith Rasulullah s.a.w. yang menyatakan, “jangan menuduh orang lain menjalankan kehidupan penuh dosa atau kafir, sebab tuduhan itu akan berbalik jika ternyata tidak benar”.[72] Sikap al-Singkili yang lembut dan lebih bertoleransi itu secara tepatnya mencerminkan watak gurunya, al-Kurani. Walau bagaimanapun, pendekatan al-Singkili yang bercorak bil hikmah itu mengamankan keadaan dan mempermudahkan penyelesaiakan kepada krisis agama-politik yang sebelumnya meruncing di Aceh. Secara perlahan-lahan pengaruh aliran Wujudiyyah itu dapat dibasmikan. Hal ini tepat sekali pada waktunya apatah lagi kafir Portugis dan Belanda juga sedang mengancam  seluruh wilayah Nusantara melalui dasar penjajahan mereka yang rakus lagi ganas. Sekiranya, perpecahan yang serius sesama umat Islam dibiarkan berlaku mungkin lebih cepat dan mudah Aceh dan kawasan-kawasan Nusantara yang lain dijajahi mereka.

 

Pengaruh al-Singkili di Nusantara

 

            Aceh sudah lama dikenali sebagai “Serambi Makkah”, iaitu halaman hadapan atau gerbang ke Tanah Suci Makkah. Ini bukan sahaja kerana Aceh di peringkat keagungannya telah menjadi pusat dakwah dan pengetahuan Islam yang hebat, tetapi  juga kerana kedudukannya sebagai tempat persinggahan terpenting bagi jema‘ah Haji Melayu dan Indonesia dalam perjalanan mereka  ke Haramain.[73] Aceh juga menjadi terkenal sebagai “Serambi Makkah” kerana  kehadiran ulamak besar seperti Syaikh Hamzah al-Fansuri, Syaikh Nuruddin al-Raniri dan Syaikh ‘Abdul Ra’uf al-Singkili yang masing-masingnya meninggalkan kesan yang mendalam kepada umat Melayu di Nusantara.[74] Kedudukan Aceh selaku pusat Islam yang berdaulat itu menjadikan mudah bagi karya-karya para ulamak seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri dan ‘Abdul Ra’uf  untuk tersebar dengan luasnya ke seluruh Nusantara. Selaras dengan itu juga kenyataan bahawa semua ulamak ini tinggal di Aceh, ditambahkan pula dengan luasnya hubungan atau kontak antara orang Aceh  dengan ulamak di luar negeri telah membantu  dalam menegaskan jati diri orang Aceh selaku salah satu kelompok etnik Muslim yang sangat gigih berusaha mempertahankan Islam  di Nusantara.

 

            Dalam konteks itu, kita dapat lihat akan peranan dan seterusnya pengaruh al-Singkili di Nusantara. Sejak beliau berada di Haramain, al-Singkili nampaknya telah pun mula mengajar ilmu-ilmu keagamaan.[75] Namun, tiada maklumat yang dapat dikemukakan mengenai murid-muridnya di sana. Sebaliknya, kita dapat menjejaki jaringan muridnya di Nusantara setelah beliau kembali dan bergerak aktif di Aceh. Para muridnya itu pula berperanan atas tersebarnya ajaran-ajaran  fiqh dan tafsir serta tariqat-tariqat yang dibawa al-Singkili, khususnya Tariqat Syattariyah, ke negeri-negeri Melayu di Nusantara. Tariqat ini membawa jalan ortodoks, iaitu menurut pegangan Ahlus Sunnah wa al-Jama‘ah,  tetapi telah diperbaharui oleh al-Singkili sehingga mudah difahami oleh penduduk Nusantara. Yang paling terkenal antara muridnya ialah Burhanuddin Ulakan atau digelarkan sebagai Tuanku Ulakan. Beliau  berasal dari Ulakan, sebuah desa di pantai wilayah Minangkabau (kini Sumatera Barat).[76] Menurut sejarah mengenai perkembangan Islam di Minangkabau, Burhanuddin (1056 – 1104/ 1646 – 1692) telah belajar kepada al-Singkili selama beberapa tahun sebelum beliau kembali ke tempat kelahirannya.[77] Berikutnya, sekembali beliau dari Tanah Arab, Burhanuddin telah mendirikan surau Syattariyah, yakni sebuah pusat pendidikan sejenis dengan ribath (tempat kaum sufi beribadat)  di Ulakan. Sebentar sahaja,  surau itu menjadi begitu terkenal di seluruh Minangkabau. Para muridnya  mempelajari pelbagai disiplin Islam dan berikutnya mendirikan surau-surau mereka sendiri di desa-desa mereka masing-masing.[78] Bukan itu sahaja, malah pada peringkat suku akhir abad ke-18, beberapa orang murid Burhanuddin itu telah melancarkan pula pembaharuan  yang membawa perubahan besar kepada umat Islam di Minangkabau pada awal abad ke-19, iaitu dengan berlakunya Perang Padri yang menolak ‘adat isti‘adat  yang karut dan juga menentang campur tangan Belanda di bumi Minangkabau.[79] Jelasnya, pembaharuan yang bermula dengan al-Singkili itu telah menggerakkan semangat  yang terus berkembang  di kalangan para pengikut muridnya Burhanuddin, iaitu untuk membawa  pembaharuan dalam masyarakat  agar Islam terus dimurni dan didaulatkan.

 

            Seorang lagi murid al-Singkili yang terkemuka ialah ‘Abdul Muhyi yang berasal dari Jawa Barat. Melalui usaha daripada tokoh inilah Tariqat Syattariyah telah tersebar dengan luasnya di Jawa.[80] Setelah kembali dari ibadah haji, ‘Abdul Muhyi telah memulakan usahanya untuk  mengubahkan  kepercayaan  penduduk Jawa Barat dari animisme kepada Islam yang murni. Di samping itu, beliau juga sangat aktif dalam mengembangkan  Tariqat Syattariyah, malah banyak silsilah tariqat di Jawa dan Semenanjung  Tanah Melayu (kini Malaysia Barat) dihubungkan dengan dirinya dan berbalik secara langsung kepada al-Singkili.[81]

 

            Selain itu, pengaruh al-Singkili juga dapat dilihat melalui seorang muridnya yang terkemuka di Semenanjung Tanah Melayu, iaitu ‘Abdul Malik bin ‘Abdullah (1089 – 1149/ 1678 – 1736) atau lebih dikenali sebagai Tok Pulau Manis, Trengganu.[82] Tokoh ini telah berguru kepada al-Singkili semasa di Aceh dan kemudiannya melanjutkan pelajarannya di Haramain.[83] Kemudiannya, beliau telah mendirikan pondoknya sendiri di Trengganu dan turut menyebarkan  Tariqat Syattariyah  di sana.      

 

Murid terdekat al-Singkili ialah Dawud al-Jawi al-Fansuri al-Rumi.[84] Beliau berasal dari keturunan Turki dan ayahnya merupakan seorang soldadu  yang datang ke Aceh bersama tentera Kesultanan Turki ‘Uthmaniyyah bagi melawan Portugis.[85] Beliau pernah membantu gurunya al-Singkili untuk membuat beberapa penambahan pada tafsir Turjuman al-Mustafid. Beliau juga merupakan khalifah utama al-Singkili dalam Tariqat Syattariyah. Selain itu, beliau bersama gurunya itu telah mendirikan sebuah dayah, iaitu lembaga pendidikan Islam tradisional di Banda Aceh.

 

 

Di samping itu, amalan tasawwuf mengikut Tariqat Syattariyah diamalkan juga di daerah Kota Bharu, Kelantan, Malaysia hingga kini. Tariqat ini mula diasaskan oleh Hj. Ya‘akub bin Hj. Abdul Halim (Tuan Padang) dan diteruskan oleh anaknya, Hj. Taib. Namun, pengaruh tariqat ini tidaklah sekuat Tariqat Ahmadiyyah  yang mendapat dokongan daripada beberapa tokoh pembesar negeri.[86]

 

Dalam pada itu, pengaruh al-Singkili juga tersebar melalui karya-karyanya  yang menyentuhi bidang fiqh, tasawwuf, tafsir mahupun akhlak dan tauhid. Misalnya, kitab-kitabnya seperti Turjuman al-Mustafid  dan Sullam Muhtadi, Umdah al-Muhtajin  dan Kifayah al-Muhtajin masih dirujuk dalam pengajian di Kelantan mahupun Trengganu.[87] Sama juga pentingnya, masih agak banyak daripada  kitab-kitab al-Singkili yang berbentuk manuskrip di simpan di Balai Pameran Islam, Pusat Islam (kini Jabatan Kemajuan Islam (JAKIM)), Jabatan Perdana Menteri, Malaysia dan di Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia atau dalam simpanan tokoh-tokoh akademik  seperti Prof. Madya Abu Hasssan Syam  (Universiti Malaya) dan sebagainya.[88]  

 

 

Penutup

 

            Setelah berbincang dengan panjang lebar, kita dapatlah merumuskan bahawa al-Singkili merupakan seorang ‘alim yang amat berwibawa dan bermartabat tinggi. Bukan sahaja ilmunya luas dan mendalam berkat usahanya sendiri dan rangkaian ulamak yang didampinginya itu, tetapi beliau juga memiliki peribadi yang kukuh, yakni begitu rasional dan tidak mudah dipengaruhi untuk menyebelahi mana-mana pihak yang bersengketa dalam krisis agama politik di Aceh itu. Beliau juga tidak mengambil tindakan yang radikal seperti al-Raniri, malah dengan tekun dan sabar menulis karya-karyanya bagi mendidik umat Islam dan membawa perubahan secara evolusioner. Melalui cara ini, keretakan yang berlaku sebelum itu dapat didamaikan dan  akhirnya secara perlahan-lahan pengaruh aliran Wujudiyyah dapat dihapuskan. Dalam hal ini, beliau menyetujui pandangan al-Raniri tentang bahayanya pandangan Wujudiyyah kepada masyarakat, terutamanya masyarakat awam, tetapi  beliau memilih untuk bertindak bagi mengatasinya secara hikmah.

 

            Selari dengan pandangannya itu, beliau menulis karya-karyanya dengan pendekatan yang sederhana  dan tidak menggunakan polemik seperti al-Raniri. Selain itu, beliau juga menggunakan bahasa yang mudah difahami orang  awam, melainkan dalam karya-karya tasawwuf  yang dikhaskan untuk golongan khawash, bagi memperjelaskan ajkaran-ajaran Islam. Beliau turut menulis dan memberi komentar tentang hadith-hadith  bagi memberi panduan yang  jelas kepada rakyat awam. Usaha ini memangnya amat berfaedah dan memperkemaskan usaha yang dimulakan oleh al-Raniri sebelum itu. Beliau menuliskan sebuah tafsir yang lengkap buat pertama kalinya dalam bahasa Melayu, lantaran itu membantu dalam  memperbaiki pemahaman terhadap al-Qur’an . Ini adalah suatu langkah pembaharuan yang amat  bermanfa‘at. Dalam bidang feqah juga, beliau telah memberikan  sumbangan  yang amat bermakna, yakni memperluaskan bidang  perbincangannya  ke skop yang luas dan tidak terhad kepada bidang ibadat sahaja. Hal ini selain memberikan ilmu yang luas dan mendalam, turut memperbaiki  pemahaman rakyat   tentang  perspektif feqah yang sebenarnya. Sehubungan dengan itu, beliau telah membawa suatu pembaharuan. Tetapi, dalam semua tindakannya itu,  beliau tetap memelihara  pandangan  Ahlus Sunnah wa al-Jama‘ah, khususnya Mazhab Shafi‘i.

 

            Melalui usahanya yang gigih itu, pengaruh beliau telah tersebar ke seluruh Nusantara dan bukannya di Aceh sahaja. Misalnya, murid-murid beliau dalam bidang fiqh dan tafsir terdapat di Jawa dan bahagian kepulauan Indonesia yang lainnya, malah tesebar ke Malaysia, Patani (kini selatan Thailand), Afrika Selatan dan sebagainya. Begitu juga dalam bidang tasawwuf, khususnya Tariqat  Syattariyah, turut berkembang ke rantau Nusantara dan masih diamalkan hingga kini.

 

            Melihat kepada segala perkembangan ini, penulis berpendapat bahawa kajian yang lanjut patutlah diusahakan mengenai tokoh yang besar ini. Kitab-kitabnya perlulah di kaji terus bagi mencari contoh teladan atau garis panduan yang baik lagi berfaedah dalam pelbagai bidang keislaman. Ini perlulah diusahakan terus, di samping kita merujuk kepada pendapat-pendapat yang baru (semasa) yang dibawa oleh para ulamak Islam yang muktabar dan bukannya golongan liberal yang sesat lagi songsang. Pendekatannya yang penuh toleransi dan berhemah itu patutlah diteladani dalam menghadapi sesuatu krisis itu agar umat Islam tidak terus berpecah ketika mereka dihimpait, diasak dan diancam oleh musuh dari pelbagai penjuru alam.

 

Moga-moga Allah memberkati akan usaha  ‘alim yang berjasa ini dan membuka jalan ke arah  kesedaran di kalangan umat Islam di hari ini supaya mereka kembali menghayati Islam yang sebenarnya, lantaran itu memperolehi kejayaan dalam mengalahkan  musuh-musuh  mereka  dan  mendapat kejayan di dunia serta akhirat. 

    

 


 


Nota-Kaki:

 

[1] Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII &XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia,  Edisi Revisi, Kencana, Jakarta, 2004, hlm. 228 – 229.

[2] Abdul Rahman Hj. Abdullah, Pemikiran Islam Masa Kini: Sejarah dan Aliran, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1987, hlm. 196.

[3] Op.Cit., hlm. 229.

[4] Ibid., hlm. 230.

[5] Dr. Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-Negara Islam, Thinker’s Library, 1989, Batu Caves, Selangor, Malaysia, 15.

[6] Ibid. dan Drg. H. Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Penerbit Lentera, Cetekan Ke-2, Jakarta, 1999, hlm. 13.

[7] Op Cit., hlm. 231.

[8] Daly, Op. Cit.hlm. 17.

[9] Ibid.

[10] Azyumardi Azra, Op. Cit., hlm. 234. 

[11] Ibid.

[12] Daly, Op. Cit., hlm.  !8 – 20  dan Prof. Dr. Azyumardi Azra M.A., Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan, P. T Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999, hlm. 133.

[13] Daly, Ibid., hlm. 19.

[14] Mahayudin Hj. Yahaya, Ensiklopedia Sejarah Islam, Jld.1, A- G, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, 1986, hlm. 45.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid., hlm. 19 – 20.

[18] Azyumardi Azra, Renaisans, hlm. 134.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Op Cit.., hl. 20.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] Ibid., hlm. 21.

[25] Ibid.

[26] Ibid.

[27] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama, hlm. 242.

[28] Ibid.

[29] Ibid.

[30] Ibid., hlm. 212.

[31] Ibid.

[32] Ibid., 212 – 213.

[33] Ibid., hlm. 214.

[34] Ibid., hlm. 215.

[35] Ibid., hlm. 243.

[36] Ibid.

[37] Ibid., hlm. 244.

[38] Ibid.

[39] Ibid.

[40] Ibid.

[41] Ibid.

[42] Ibid., hlm. 244 – 245.

[43] Ibid., hlm. 245.

[44] Ibid.

[45] Ibid.

[46] Ibid.

[47] Ibid., hlm. 245 – 246.

[48] Ibid., hlm. 246.  Untuk keterangan yang lengkap bagi kandungan Mir’at al-Tullab, sila lihat Daly, Op. Cit., hlm. 45 –  419.  

[49] Temuduga antara penulis dengan Ustaz Che Mohd. Zaid Jusoh, tenaga pengajar di Pusat Bahasa dan Terjemahan, Universiti Sains  Malaysia pada bulan April, 2002.

[50] Azyumardi Azra, Op. Cit..hlm. 246 dan Hj. Wan Mohd. Shaghir Abdullah, Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, Jld.1, Khazanah  Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1991, hlm. 157.

[51] Azyumardi Azra,Ibid, hlm. 247..

[52] Edisi kitab ini diterbitkan di Jakarta pada tahun 1981. Lihat Ibid. Semantara di Pulau Pinang, Malaysia, ia masih dicetak dan diedarkan oleh Percetakan United Press, milik Hj. Yusof Abdullah al-Rawi. Keterangan Ustaz  Che Mohd. Zaid Jusoh juga membuktikan bahawa kitab ini masih digunakan di Trengganu.

[53] Op. Cit., hlm. 248.

[54] Keterangan Johns seperti yang terdapat dalam Azyumardi Azra, Ibid., hlm. 250.

[55] Ibid.

[56] Ibid. Untuk huraian lengkap mengenai kitab Hadith Arba‘in, sila lihat  Hj. W. Mohd. Shaghir Abdullah,  Op. Cit., hlm. 42 – 62.

[57] Op. Cit., hlm. 250.

[58] Ibid.

[59] Ibid.

[60] Ibid., hlm. 251.

[61] Ibid.

[62] Ibid.

[63] Ibid, hl. 252.

[64] Ibid.

[65] Ibib.

[66] Ibid., hlm. 253.

[67] Ibid.

[68] Ibid., hlm. 254.

[69] Ibid.

[70] Ibid.

[71] Ibid.

[72] Ibid., hlm. 254 – 255.

[73] Ibid., hlm. 255

[74] Prof. Dr. Hamka, “Aceh Serambi Mekkah”, dlm. Prof. A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, P.T. Ma‘arif, Cetakan Pertama, Medan, 1981, hlm.221 – 229.

[75] Op. Cit.

[76] Ibid., hlm. 256 dan Hamka, Ayahku,Penerbit Umminda, Jakarta, 2000, hlm. 5.

[77] Azyumardi  Azra, Ibid.

[78] Ibid., hlm. 257

[79] Mengenai Perang Padri, sila lihat Hamka, Op. Cit., hlm. 14 – 20.

[80] Op. Cit., hlm. 257.

[81] Ibid., hlm. 257 – 258.

[82] Ibid., hlm. 258  dan Hamdan Hassan M.A., “Peranan Aceh dalam Pengembangan Islam di Nusantara”, dlm. Prof. A. Hasjmy, Op. Cit., hlm. 345.

[83] Menurut keterangan Hj. Wan Mohd. Shaghir Abdullah seperti yang dipetik oleh Azyumardi Azra, Op. Cit., hlm. 258.

[84] Ibid.

[85] Ibid.

[86] Lihat Nik Abdul Aziz b. Nik Hassan,  “Islam dan Masyarakat  Kota Bharu di antara Tahun 1900 – 1940”,

dlm Prof. Khoo Kay Kim (penyunting), Islam di Kelantan,Persatuan Sejarah Malaysia, Kuala Lumpur, 1983, hlm. 15.

[87] Ibid.  dan keterangan daripada Ustaz Che Mohd Zaid Jusoh  pada April, 2002.

[88] Lihat Hj. W. Mohd. Shaghir Abdullah, Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, Jld.1, Khazanah FathaniyahKuala Lumpur, 1991.

Cover

SEMINAR SERANTAU

EKSPLORASI PEMIKIRAN DAN PERANAN SYAIKH ABDUL RAUF AL-SINGKILI

DALAM KONTEKS MEMBANGUN SEMULA ACEH

 

 

 

DI AULA PASCASARJANA

IAIN AR-RANIRY

BANDA ACEH

 

Kamis, 19 Zulhijjah 1426

            19 Januari    2006

 

 

‘ABDUL RA’UF AL-SINGKLI (SYIAH DI KUALA):

SUMBANGANNYA TERHADAP PEMBAHARUAN DAN

KEMAJUAN ISLAM SERTA SENGARUHNYA DI NUSANTARA

 

 

Oleh

 

 

PROF MADYA DR H. FADHLULLAH JAMIL

PUSAT PENGAJIAN JARAK JAUH,

UNIVERSITI SAINS MALAYSIA,

PULAU PINANG.

 

 

 

KERJASAMA

 GLOBAL PEACE MISSION MALAYSIA, KOMPAK DEWAN DAKWAH NAD DAN IAIN AR-RANIRY

 

 

 

 ‘Abdul Ra’uf al-Singkili (Syiah di Kuala): Sumbangannya terhadap Pembaharuan dan Kemajuan Islam serta Pengaruhnya di Nusantara

 

 

oleh

Prof. Madya Dr. H. Fadhlullah Jamil

Pusat Pengajian Jarak Jauh,

Universiti Sains Malaysia,

Pulau Pinang.

 

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Proses panjang sejarah perjuangan Islam (baca; dakwah) yang diemban oleh Rasulullah Saw. selama lebih kurang 23 tahun telah membawa posisi umat Islam ke puncak kejayaan. Dunia mencatat, kepemimpinan Rasulullah telah melahirkan generasi yang sanggup menaklukkan dua negara super power saat itu, yakni Persia dan Romawi. Sehingga Michael H. Hart mengurut Rasulullah Saw sebagai orang nomor wahid yang paling berpengaruh dalam bukunya Seratus Tokoh Dunia.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Selanjutnya posisi umat Islam dalam pentas dunia—setelah dihantarkan kepada puncak kemajuan oleh Nabi Saw.—sampai saat ini mengalami pasang surut dan fluktuasi yang sangat zig-zag dalam perjalanannya. Ini semua tidak bisa dilepaskan dari andil yang dimainkan oleh ummat Islam dalam pengelolaan dunia. Sejarah memang selalu berputar, tetapi dia tidak serta merta terjadi begitu saja. Dibalik keberhasilan suatu umat, ternyata di belakangnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki komitmen tinggi dalam upaya pemberhasilan tersebut. Tulisan ini, karena keterbatasan ruang dan waktu,آ  tentu saja tidak mungkin mengeksplorasi seluruh peristiwa sejarah ummat Islam semenjak masa Rasulullah Saw sampai hari ini. Paling tidak bahasan ini semacam Kaleidoskop Umat Islam di pentas dunia.

Fluktuasi Posisi Umat Islam di Pentas Dunia

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Setelah Rasulullah Saw. wafat tongkat estafet dilanjutkan oleh Abubakar As-Shiddiq. Periode ini kepemimpinan Islm lebih disibukkan oleh upaya konsolidasi kekuatan ummat. Di mana sebagian umat yang masih rentan aqidahnya terhadap goncangan, mulai melakukan manuver-manuver—seperti gerakan murtad, ingkar zakat dan nabi palsu—yang menyebabkan instabilitas di tengah-tengah masyarakat. Namun berkat kepiawaian Abubakar, intrik-intrik tersebut dapat dipadamkan dan berhasil mempertahankan kelanggengan kemajuan umat Islam sebagaimana ditinggalkan oleh Nabi Saw. Setelah berkuasa selama dua tahun, Abubakar mewasiatkan kekhalifahan kepada Umar bin Khattab.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Perkembangan umat Islam memasuki masa ekspansi ketika kepemimpinan beralih ke tangan Umar bin Khattab. Beliau mulai melakukan gerakan-gerakan dakwah ke mancanegara, sehingga banyak wilayah seperti Persia, Suriah, dan Mesir takluk dalam kekhalifahannya. Selama kepemimpinnanya, Umar bin Khattab telah melakukan berbagai terobosan, di antaranya yang paling spektakuler adalah kebijakan dalam upaya transparansi, dengan mendaftar harta kekayaan pejabat yang akan dilantik. Di Indonesia baru sekarang mulai muncul kesadaran untuk melakukan hal tersebut.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Kemajuan Islam, mulai dimasuki awan kabut ketika akhir kepemimpinan Usman bin Affan dan masa Ali bin Abi Thalib, dimana konflik internal mulai berjangkit yang berakibat pada terbunuhnya kedua khalifah tersebut. Namun demikian banyak prestasi peradaban yang dihasilkan oleh khalifah Usman bin Affan, diantaranya; penyatuan al-Quran untuk menghindari ikhtilaf (perbedaan) dan juga al-Quran disusun persurat dalam mushaf yang seragam, pembangunan angkatan laut untuk mempertahankan diri dari serangan angkatan laut Romawi, perluasan mesjid Nabawi dan mesjidil Haram dan beberapa prestasi lainnya.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Setelah berakhirnya masa Khulafa’ al-Rasyidin, dibentuklah dinasti-dinasti (sistem monarki) yang semakin memperpanjang daftar konflik internal umat Islam, sehingga sering dijadikan bahan oleh orang-orang luar Islam (baca;orientalis) untuk menyerang Islam. Sekalipun mengadopsi sistem kerajaan, banyak kemajuan yang dicapai oleh umat Islam pada masa ini. Ketika Bani Umayyah berkuasa kekuasaan Islam semakian luas, dan puncaknya ketika kekuasaan berada di tangan Umar bin Abdul Aziz. Kehidupan rakyat berada dalam kemakmuran, sehingga dikabarkan sampai-sampai tidak ada orang yang menerima zakat. Kalaupun ada, hari ini menerima zakat besok dia sudah wajib mengeluarkan zakat, disebabkan banyaknya zakat yang dia terima. Malah, sebagian sejarawan muslim memasukkan Umar bin Abdul Aziz dalam salah seorang (khalifah kelima) dari Khulafa’ al-Rasyidin.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Kejayaan Islam di pentas dunia memasuki klimaknya pada masa dinasti Abbasiyah, di masa Harun al-Rasyid dan al-Makmun. Di saat inilah Islam sudah menguasai Eropa dan menjadi pusat studi berbagai negara Barat, yang dipusatkan di Cordova (Spanyol). Namun masa kejayaan ini bertahan sampai tahun 1924 Masehi di masa Khilafah Turki Usmani.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Pada tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kamal Attaturk (tokoh Yahudi di Turki) membubarkan sistem khilafah (Wolrd State) dan wilayah Islam terpecah menjadi negara-negara kecil (Nation State). Akibatnya Umat Islam dengan mudah dikuasai oleh musuh lewat proses kolonialisasi dan imperialisme. Negara Aceh, sebagai bagian dari Kekhalifahan Turki Usmani pada masa kesultanan Aceh juga mengalami imbas imperialisme Portugis, Belanda dan Jepang. Sekalipun mereka tidak pernah menguasai Aceh.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Dengan berakhirnya sistem khilafah, maka posisi umat Islam di pentas dunia kembali berada pada titik paling bawah, menjadi negara-negara terjajah. Sampai hari ini negara yang mayoritas umat Islam (Indonesia salah satunya) dijuluki dengan negara ketiga atau negara berkembang, sebagai “penghalusan istilahâ€‌ oleh neo-imperials dan kolonialis untuk negara terjajah.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Penjajahan yang mereka (baca;Barat dan atau Yahudi) lakukan memang—sebagian besar, kecuali beberapa negara seperti Palestina, Chehnya, Kashmir, Moro, Aceh, dan beberapa wilayah perang lainnya—bukan dalam bentuk fisik. Tetapi ketergantungan ekonomi, politik, hukum, pertahanan keamanan yang mereka ciptakan sehingga kebijakan negara-negara mayoritas muslim tetap berada di tangan mereka. Lembaga-lembaga semisal IMF, World Bank, ADB, PBB merupakan sarana penjajahan negara-negara maju (barat dan Yahudi) terhadap negara ketiga (negara berkembang) yangآ  mayoritasnya umat Islam.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Demikianlah sejarah berulang, karena dia memang bukan masa lalu yang mati, not a dead past. Melainkan sebagia peristiwa yang tetap hidup di masa kini, still living in a present, dan merupakan ibrah bagi generasi sekarang. Allah Swt. menegaskan dalam al-Quran; “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran dan supayaآ  Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)…â€‌. آ (QS Ali Imran ayat 140). Semoga, dengan munculnya beberapa gerakan Islam dan mulai tegaknya kekuasaan Islam seperti di Afganistan, dan perlawanan yang dilakukan Umat Islam di seluruh dunia akan membawa kembali posisi umat Islam ke puncak kejayaan. Tentunya ini memerlukan proses dan waktu serta keseriusan umat Islam untuk mewujudkannya. Rasulullah Saw. dalam haditsnya mengingatkan: “barangsiapa yang tidak peduli (apatis, masa bodoh, acuh tak acuh) terhadap maju mundurnya umat Islam maka mereka bukan dari golongan Islamâ€‌. آ 

آ 

Penutup

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Syakib Arselan dalam sebuah tulisannya menyebutkan Umat Islam mundur, terbelakang karena meninggalkan agamanya dan orang kafir maju, juga karena meninggalkan agamanya. Jadi penyebabnya pada sama-sama meninggalkan agama, tetapi orang kafir justeru mengalami kemajuan. Kondisi ini mudah dipahami, karena ajaran agama mereka bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sejarah telah membuktikan bagaimana para ilmuan mereka dibantai karena mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan doktrin gereja. (baca kasus pembakaran Compernicus, pembunuhan Galileo dan lain-lain). Sehingga dengan meninggalkan doktrin gereja kemajuan peradaban dapat mereka capai. Sementara Islam tidak menghambat sama sekali perkembangan ilmu pengetahuan, hanya perlu dilandasi tauhid dan dikoridori oleh syariat Islam. Sehingga dengan komitmen keagamaan yang tinggi justeru akan mencapai puncak kejayaan. Sebaliknya, dengan meninggalkan ajaran agama—di mana perkembangan dan perubahan zaman dapat diakomodir di dalamnya—umat Islam menjadi umat yang “sontoloyoâ€‌.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Kenyataan umat Islam mulai meninggalkan agamanya, terlihat dari gejala mulai mengurangnya kepedulian terhadap persiapan pendidikan Islam bagi generasi yang akan datang. Orang tua—kendati tidak semuanya–tidak begitu gusar apabila anaknya tidak mengaji, tidak aktif dalam kegiatan keislaman. Tetapi justeru mereka susah kalau anaknya tidak dapat rangking pertama disekolah, tidak pergi les, dan berbagai kesibukan di luar koridor Islam lainnya. Hanya karena alasan ulangan anak tidak pergi ngaji, bagi mereka hal biasa. Sehingga tidak heran, ada anak orang Aceh yang beragama Islam, ayah ibunya Islam, endatunya Islam, tetapi ketika sudah kuliah dan berumur sekitar 19 tahun baru belajar metode iqrak. Inilah sebagian dari realitas umat Islam, khususnya di Aceh hari ini.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Bagi mereka yang tahu agama tetapi tidak memiliki pola pikir keummatan, tidak mau peduli dengan kondisi ummat yang justeru menjadi tanggungjawabnya. Anggapan kebanyakan mereka bahwa, dengan sudah shalat berjamaah lima waktu, puasa, shalat sunat, baca al-Quran, takziyah orang meninggal, membangun mesjid dan sekian rutinitas ritual keagamaan lainnya–tanpa berusaha melakukan proses islamisasi seluruh aspek hidup dan kehidupan–kiranya sudah cukup syarat menjadi muslim yang paripurna (baca;kaffah) sebagaimana perintah Allah Swt (QS al-Baqarah: 208)

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Memang, kondisi di atas wajar, karena kita sudah sekian lama mengalami invasi (serangan) pemikiran dari orang-orang kafir. Lewat program “cuci otakâ€‌ (brain washing) melalui institusi pendidikan yang dikotomi (pemisahan ilmu umum dan agama) lahirlah orang-orang sekuler, sistem ekonomi kapitalistik (dengan menyuburkan praktek riba), sistem sosial budaya yang individualistik dan jauh dari nilai-nilai Islam, juga melalui media komunikasi (baik cetak maupun elektronik) yang mengumbar syahwat dan menyusupkan nilai-nilai ideologis, sistem hukum peninggalan kolonial, sistem politik menghalalkan segala cara (melalui suap, becking). Semua ini sudah berurat-akar dalam pola pikir umat Islam, sehingga sangat sulit meneratasnya. Hanya dengan upaya keras dan tak kenal lelah dari umat Islam yang memiliki kemampuan dan komitmen tinggi,آ  posisi umat Islam, pelan namun pasti, akan dapat diangkat ke puncak kejayaan sebagaimana posisi yang pernah diantar oleh Rasulullah saw.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Momentum tahun baru 1431 Hijriah yang akan datang beberapa hari lagi kiranya menjadi penyumbang semangat baru guna mengembalikan kejayaan Islam dan ummatnya, terutama di Provinsi Aceh dengan cita-cita penegakan Islam secara kaffah semoga menjadi kenyataan. Insya Allah, sejarah akan berulang!

——

آ 

آ 

Tidak ada keraguan terhadap risalah Islam ini, karena telah mendapat legitimasi Allah dan Rasul. Barang siapa yang benar-benar berpegang teguh padanya secara totalitas maka dia akan mendapat kejayaan dunia dan akhirat. Apabila Islam digunakan sebagai pandangan hidup (way of life) dalam setiap disiplin ilmu dan sisi kehidupan dan tidak terkecuali dalam hal ehwal pendidikan,  manusia akan memperoleh  petunjuk  dan sudah pasti tergiring ke jalan yang lurus dan benar.  Pendidikan yang dimaksud disini adalah yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, berazaskan tauhid, adanya integritas antara iman, ilmu dan amal serta memisahkan antara konsep ilmu agama dan ilmu yang bersifat duniawi, pendidikan agama dan pendidikan umum.

Islam adalah al-Deen yang diwahyukan Allah SWT melalui rasul-Nya untuk manusia di alam ini. Asas utama Islam terbentuk dari tiga aspek yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Ketiga aspek ini sangat berperan dalam kehidupan seorang muslim dalam  melaksanakan konsep al-Deen ini. Apabila akidah  sebagai keimanan hanya dijalankan kepada Allah SWT, disempurnakan melalui  syari’ah dengan pelaksanaan ibadah secara umum  dan khusus. Dengan menggabungkan kedua-duanya maka lahirlah  akhlak  Islam (Makhsin,  2003).   

Kata Islam adalah bahasa Arab bermakna penyerahan diri secara damai, penerimaan yang menyenangkan dan memperhambakan diri dengan tulus terhadap segenap perintah Allah. Dengan demikian, agama Islam merupakan penyerahan diri yang menyenangkan terhadap kehendak Allah, taat kepada perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, berpegang teguh ajaran-Nya, mengikuti petunjuk dan bimbingan-Nya berdasarkan Islam yang kita miliki.

Islam tidak didasarkan atas penyimpangan dan iman tidak akan terwujud tanpa perbuatan nyata (Al-Najjar, 1988).Islam artinya “pasrah” atau “patuh” kepada Allah. Orang Islam bermakna muslim  yang patuh kepada seluruh perintah Allah, sementara orang  yang  menolak atau tidak mematuhi Allah, maka dia dinamakan kufur  (ingkar), lihat Dr. Muhammad Imaduddin Abdul Rahim (2002). Orang Islam identik dengan orang yang patuh dan ta’at kepada  perintah  Allah dan Rasul SAW dan sesuai dengan makna  Islam itu sendiri, namun  jika  seorang muslim gagal  menjalankan kepatuhannya kepada segenap perintah  Allah dan Rasul maka  predikat “patuh, ta’at,  dan pasrah kepada  perintah Allah dan Rasul perlu ditinjau kembali sebab dia/mereka telah melakukan yang melanggar ajaran Islam.

Pendidikan merupakan suatu proses transmisi secara formal dan informal yaitu ilmu pengetahuan dan keahlian yang terjadi antara satu generasi ke generasi berikutnya (Dawi, 2002). Sedangkan (Langgulung, 1991) memberikan definisi tentang pendidikan berdasarkan tinjauan kemasyarakatan dan individu.

Dari segi kemasyarakatan pendidikan bermakna warisan kebudayaan  dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan dengan kata lain masyarakat memiliki nilai-nilai budaya atau adat-istiadat yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap dilestarikan. Dari segi individu pendidikan dapat dimaknakan sebagai pengembangan potensi-potensi pada diri manusia  yang terpendam dan tersembunyi, individu itu laksana lautan yang dalam yang penuh dengan mutiara dan bermacam-macam ikan dan kehidupan air lainnya, tetapi tidak kelihatan.         

Pendidikan Islam pada intinya adalah wahana pembentukan manusia yang berbudi luhur. Dalam ajaran Islam masalah akhlak tidak dapat dipisahkan dari iman, keimanan merupakan hati, akhlak adalah pantulan iman yang berupa prilaku, ucapan dan sikap. Dengan lain perkataan dapat dikatakan bahwa akhlak adalah amal shaleh, iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran karenan Allah semata (Ainurrofiq Dawam, 2003)         

Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem yang berusaha mengembangkan dan mendidik segala aspek pribadi manusia dengan segala kemampuannya. Termasuklah kedalamnya pengembangan segala segi kehidupan manusia/masyarakat misalnya sosial budaya, ekonomi dan politik; serta bersedia menyelesaikan problema masyarakat masa kini dalam menghadapi tuntutan-tuntutan masa depan dan memilihara sejarah dan kebudayaannya (Omar al-Syaibani, 1991).

Pendidikan Islam perlu memikirkan baik secara jangka panjang maupun jangka pendek, masa aman maupun masa darurat. Sebagai contoh bagaimana menangani permasalahan pendidikan anak-anak dan orang dewasa pasca gempa bumi dan tsunami di Aceh di kamp-kamp pengungsian dan di rumah-rumah penduduk yang bertebaran di mana-mana.         

Pendidikan Islam lebih banyak dihadapkan kepada akhlak dan sopan santun serta penghayatan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Mohd Kamal Hasan, 2003). Pendidikan Islam sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi keruntuhan moral, penangkalan aqidah, budaya korup dan sejenisnya. Karena itu pendidikan Islam secara sempurna menggunakan kurikulum yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Lihatlah contoh bagaimana Allah mendidik Rasul dan para ambiya-Nya, bagaimana Nabi Muhammad SAW mendidik para sahabat-Nya  dan umat Islam secara umum sewaktu baginda berkuasa. Jadilah contoh teladan yang harus diikuti dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Dalam rangka mendapat kejayaan dalam pelaksanaan pendidikan Islam perlu adanya keterlibatan keluarga/orang tua dan masyarakat sebagai penanggung jawab secara formal maupun informal.         

Islam memiliki cara  tersendiri bagaimana  mendidik  dan  mengajarkan  anak-anak dan generasi muda dan juga  mempunyai  bahan pelajran yang sesuai  dengan peringkat umur dan  peredaran masa dan  ini  bisa  dipelajari dan  kembali  kepada  pendidikan Rasulullah SAW dan  para sahabatnya. Baginda telah berhasil mendidik   para sahabat dan anak-anak orang Islam,  serta  para  muallaf yang baru memeluk agama Islam.

Model pendidikan Islam ala Rasulullah SAW  perlu dijadikan modal dan  uswatun hasanah dalam mendidik generasi  muda dalam setiap zaman.Muhammad SAW  sebagai pemerintah, orang tua, pendidik dan sekaligus sebagai wakil Allah di bumi ini yang  telah terbukti keberhasilannya  dalam mendidik dan  menggembleng  para sahabatnya dan  ummat Islam secara umum ketika  beliau masih hidup. Ini sebagai pertanda  bahwa  untuk berhasilnya pendidikan  haruslah  adanya komitmen sejumlah orang dan institusi  yang saling bahu membahu  memantau  dan memberi  perhatian  terlaksananya proses belajar dan mengajar. Kepedulian semua pihak  menunjukkan  adanya  perasaan  bersama  dalam  membangun bangsa  dan negara  di masa yang akan datang.     

Dukungan dan Tanggungjawab Keluarga          

Ini adalah tanggungjawab yang menyeluruh yang diletakkan oleh Islam di leher setiap muslim, yang tak ada seorangpun bebas darinya. Sehingga kedua orang tua bertanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam yang cermat (Ash-Shafti, 2003). Keluarga atau orang tua merupakan garda terdepan dalam menentukan kemana arah pendidikan anak-anak. Peranan orang tua sangatlah menentukan dalam mendidik, membimbing, dan memberi semangat belajar kepada anak-anak.   Kita harus tahu bahwa seorang anak selalu siap untuk menyerap segala bentuk pendidikan dan pengajaran. Jika bapak, ibu atau walinya berkehendak, maka mereka dapat merubah seorang anak menjadi manusia teladan (Sultani, 2004).         

Anak adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada orang tua supaya mereka dididik dengan baik, diberi nama dengan baik, diberi pendidikan dengan secukupnya, diajarkan dasar-dasar pendidikan Islam dan halal-haram, baik dan buruk serta akhlak yang mulia. Dalam Al-quran Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah munusia dan batu…….” (Q. S ; at-Tahrim: 6)          

Di samping memenuhi dukungan materil dan spirituil kepada anak-anak untuk belajar, orang tua atau pihak keluarga perlu mengirim anak-anak mereka untuk mencari ilmunya agar dapat mengenal Allah dengan asma-Nya, sifat-Nya, mengetahui perkara-perkara yang dibenci-Nya dan mengetahui jalan untuk mencapai kecintaan-Nya serta menjauhi apa yang dimurkai-Nya. Apabila seseorang merasa mencapai ilmu itu, maka ia akan lebih takut kepada Allah sesuai dengan firman-Nya, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama”.         

Perlu disadari bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Ini merupakan jembatan yang dilalui untuk generasi muda/anak-anak di masa yang akan datang. Keluarga merupakan sistem yang paling khusus dan sangat tersendiri untuk pendidikan awal. Keluarga merupakan lingkungan yang mula-mula sekali dihayati oleh seorang bayi setelah lahir. Dalam keluargalah ia berinteraksi dan mengambil dasar-dasar bahasa, nilai-nilai, standar prilaku, kebiasaan, kecendrungan jiwa dan sosial dan pembentukan nilai-nilai kepribadian. Keluarga juga merupakan sebuah institusi awal yang memenuhi kerja sama antara lelaki dengan perempuan serta sebagai pusat pembentukan kpribadian seorang anak (Al-Syaibani, 1991)         

Tanggung  jawab  kesatuan dan kebersamaan  keluarga terletak pada setiap  individu di dalam keluarga. Dalam keluargalah mulai dibina  rasa sayang  terhadap yang kecil dan menghormati  yang besar dan  juga  menghormati kedua orang tua  (Hasan Manshur,2002). Dan ini  sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang bermakna : “Bukan termasuk  golongan kami, seorang yang tidak menghormati yang besar dan tidak menyayangi yang kecil”.Hadits ini  menggambarkan betapa pentingnya menebarkan rasa kasih sayang dan saling menghormati antara yang besar dengan yang kecil dan pembinaan ini  dimulai dari rumah atas  bimbingan seorang   ayah dan ibu/keluarga.

Islam  sangat  konsen terhadap  kasih sayang dan  penghormatan karena  perkara ini akan mengundang  keharmonisan  baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Ini merupakan dambaan semua  manusia  yang normal yang  perlu dikasihi dan disayangi serta begitu pula sebaliknya tidak suka  dibenci dan dimusuhi.          

Keluargalah yang membuka mata seorang anak dan dari sinilah  dimulainya  pengenalan tentang  baik dan buruk serta  halal dan haram  yang  selalu kita dengar dari mulut  ayah dan ibu. Peranan mereka sangatlah  besar baik dalam mendidik  maupun dalam  memberikan  pendidikan awal bagi setiap anak, oleh karena itu  ilmu dan kewibawaan  ayah dan ibu  benar-benar diperlukan untuk menentukan masa depan anak dan  kelangsungan hidup mereka dalam bermasyarakat.  

IIIDukungan dan Tanggungjawab Masyarakat          

Masyarakat Islam dan pendidikan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan di antara keduanya (Muhammad AR, 2003). Banyak perintah melalui hadits Rasulullah SAW yang menyuruh kita untuk belajar atau menuntut ilmu. Tugas ini pertama lebih dipundakkan kepada individu dan peran orang tua dalam keluarga, kemudian masyarakatpun tidak boleh lepas tangan dan menghindari tanggungjawab mereka dalam memantau pendidikan generasi muda.         

Terjadinya dekadensi moral generasi muda dalam masyarakat bukan tidak mungkin karena kurang pedulinya masyarakat. Masyarakat yang di dalamnya ada pemerintah yang terdiri dari pejabat sipil dan militer perlu menjaga dan memelihara merebaknya penyakit masyarakat apabila mereka sungguh merespon dan membuka mata terhadap gejala sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini pendidikan anak-anak dan generasi muda diperlukan banyak kependulian masyarakat apalagi masyarakat Aceh yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami setelah tanggal 26 Desember 2005.         

Pendidikan begitu penting bagi individu dan masyarakat. Kepentingan pendidikan tidak hanya terbatas kepada suatu umat/kaum, masyarakat tertentu atau khusus untuk suatu zaman/masa saja, tetapi meliputi seluruh umat dan segala zaman dan termasuklah umat Islam pada zaman sekarang ini. Oleh karena itu wajib bagi masyarakat Islam, pemimpin dan para ulama serta intelektual memberikan perhatian penuh terhadap kelangsungan pendidikan anak bangsa (Langgulung, 1991).   

IV Tugas Pengajaran  Pendidikan Islam 

Pasca gempa bumi dan tsunami banyak gedung sekolah hancur, banyak murid dan guru meninggal dunia. Kebanyakan orang serta anak-anak tinggal di kamp-kamp dan barak-barak pengungsian, aktivitas belajar mengajarpun sangat bervariasi tempatnya, begitu pula pendidikan agama yang belum terorganisir dengan rapi/permanen.

Banyak bantuan datang dari berbagai pihak tanpa mengira bangsa atau agama mereka, namun tidak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak tertentu memanfaatkan situasi ini dengan dalih memberi bantuan disertai dengan misi tertentu yang harus dilaksanakan menurut pesan sponsor. Bagaimana sikap masyarakat, orang tua, dan unsur-unsur lainnya menangani pendidikan Islam dalam situasi kritis ini?  Ini sebuah tugas mulia dan kepada setiap muslim dipundakkan kewajiban tersebut,  mahu tidak mahu,  harus dilaksanakan walau dalam situasi apapun.

Dalam pendidikan Islam, seorang guru bertanggung jawab mendidik murid, mendewasakannya, menjadikannya jujur dan berbudi pekerti luhur, membuat mareka terampil demi mempersiapkan masa depan mareka …….( Muhammad AR, 2003) Menurut perfektif Islam guru adalah sebuah profesi yang ditugaskan untuk membentuk manusia yang kamil sehingga anak didik mampu memahami dan menghayati apa tugas mareka terhadap diri sendiri, masyarakat, alam sekeliling dan terhadap Allah SWT sebagai Khalik.

Guru sama dengan pemimpin negara dalam mendidik masyarakat karena merupakan ibadah. Dalam pendidikan Islam, kita di suruh mencari ilmu agar kita dapat memahami yang hak atau yang benar dan membedakan yang baik dan buruk, yang bermanfaat dan merusak. Begitulah tingginya kedudukan manusia yang berilmu dan pengajar ilmu kepada orang lain (guru) menurut pandangan Islam (Sufean  Hussin, 1996)

Dalam rangka menjalankan tugas pengajaran dan penyebaran pendidikan Islam maka tugas guru adalah sangat berat demi mendidik anak bangsa. Menurut Atan Long (1988) seorang guru perlu kiranya introspeksi apakah dia, paling tidak, memiliki tiga sifat penting yaitu

(1) Kepribadian, (2) Latar belakang Pengetahuan, (3) Metode atau cara penyampaian.Dalam masyarakat Islam, seorang guru yang bergelut dalam dunia pendidikan Islam perlu memiliki persediaan awal untuk dapat memastikan apakah kejayaan di capai dalam mengajar. Akhlak guru, ilmu yang dimiliki guru, sikap guru, kesabaran, keikhlasan, metodologi penyampaian.

Pengajaran kepada murid merupakan hal-hal yang perlu dimiliki untuk mentransfer ilmu  pengetahuan.Keberhasilan dan keberkesanan pendidikan Islam ada kaitannya dengan kesadaran para guru terhadap tanggung jawab, kesempurnaan ilmunya dan keluhuran budi pekertinya. Ini merupakan kriteria pribadi pendidik yang perlu dimiliki dalam menyampaikan pendidikan. Dalam Islam, ilmuwan, para intelektual, gur, ulama tidak dibenarkan membisu di tengah umat yang sedang sakarat. Sebagai pewaris nabi, mereka sebagai tempat terhimpunnya khazanah ilmu Allah dari sudut fakta dan tafsiran.

Guru sebagai cermin dalam kehidupan dan panutan bagi murid dan masyarakat (lihat Ahmad bin Mohd Salleh, 1995).Dalam  proses belajar mengajar sudah pasti melibatkan dua pihak yaitu  pengajar dan yang diajar atau antara guru dan murid, antara  pelatih dan yang  dilatih. Target pelatihan atau pengajaran  memang pasti ada dan  metode penyampaian pun  sangat berbeda-beda dalam mencapai  target tersebut.  Dalam hal ini guru/pelatih/instruktur  perlu menggunakan media pendidikan untuk mencapai  tujuan pendidikan. Arief S. Sadiman dkk (2003) mengatakan bahwa  media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima atau dari tutor kepada peserta sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat murid/peserta/partisipan  sehingga  terjadilah proses  belajar mengajar  dengan lancar.   

Hasan Manshur (2002) menambahkan bahwa  seorang guru  yang bertugas menyampaikan pendidikan Islam kepada siswa harus memiliki beberapa kriteria: 1) guru harus ikhlas karena Allah, 2) guru hjarus menjadi tauladan bagi murid/siswa, 3) gurus  harus membalas penghormatan murid dan menanamkan rasa kasih sayang dengan mereka, 4) guru harus berlaku adil dalam setiap aktivitasnya di sekolah, 5) gurus  harus menguasai ilmu yang  diajarkan dan harus  banyak  membaca  sebagai rujukan, 6) guru harus menyampaikan pengalaman hidupnya  dan keberhasilannya kepada murid, dan  7) guru harus menanamkan semangat untuk  berijtihad dan  mengandalkan diri sendiri dalam berpendapat kepada para muridnya, khususnya  para pelajar remaja.            

Bibliographi 

Abdul Rahim, Muhammad ‘Imaduddin. (2003). Islam Sistem Nilai Terpadu. Jakarta;  Gema Insani Press. Ahmad bin Mohd Salleh. (1995).  Pendidikan Islam (Dinamika Guru). Shah Alam, Malaysia: Fajar Bakti SDN. BHD. Ainurrofiq Dawam  dalam  Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie. Al-Najjar, Zaghlul R.  (1988). Source and  Purpose of Knowledge. The  International Institute of Islamic Thought. Islamization of  Knowledge Series No. 5 Al- Syaibani, Omar dalam Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie. Al-Syaibani, Omar. (1991). Falsafah Pendidikan Islam. Shah alam, Malaysia: Hizbi. Arief S. Sadiman, R. Rahardjo,  Anung Haryono dan Rahardjito. (2003) cetakan ketujuh. Media  Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja  Grafindo Persada. Ash-Dshafti, Ali Muhammad Khalil.  (2003). Iltizam Membangun Komitmen Seorang Muslim.  Jakarta: Gema Insani Press.  Azizah Othman dalam  Mardzelah Makhsin. (2003). Pendidikan Islam 1: Buku Rujukan bagi Konsep-Konsep Asas Pengajian Islam seperti Fekah, Akhlak dan Sirah. Pahang , Malaysia:  PTS Publications  & Distributors SDN. BHD. Dawi, Amir Hasan. (2002). Penteorian Sosiologi dan Pendidikan. Edisi kedua. Tanjong Malim, Malaysia: Quantum Books. Hasan Manshur, Syaikh Hasan. (2002). Metode Islam Dalam Mendidik  Remaja. Jakarta:  Penerbit Buku Islami Mustaqim. Hussin, Sufean. (1996). Pendidikan di Malaysia: Sejarah, Sistem dan Falsafah. Kuala Lumpur:  Dewan Bahasa dan Pustaka. Langgulung, Hasan. (1991). Asas-Asas Pendidikan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Long, Atan. (1988).  Psikologi Pendidikan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie. Mohd Kamal Hasan dalam Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie.  Makhsin, Mardzelah. Ed. (2003). Pendidikan Islam 1: Buku Rujukan bagi Konsep-Konsep Asas Pengajian Islam seperti Fekah, Akhlak dan Sirah. Pahang , Malaysia:  PTS Publications  & Distributors SDN. BHD. Sultani, Gulam Reza. (2004).  Hati Yang Bersih Kunci Ketenangan  Jiwa. Jakarta:  Pustaka Zahra.      

 


[1] Makalah ini Disampaikan Pada Acara Pelatihan Guru Dayah Se Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di Dayah Tgk Syi’ di Beureu-eh, Beureunuen  dari Tgl 18 s/d 20 Maret 2005.

 

Mulai dari kurangnya koordinasi dengan berbagai stakeholder sampai pelanggaran “ingkar janji” pimpinan BRR berupa pemecatan terhadap staf BRR yang melakukan korupsi, dan berbagai kebohongan publik lainnya.
Perilaku negative yang terakhir dilakukan oleh petinggi BRR, Kuntoro Mangkusubroto dan Teuku Kamaruzzaman, adalah mengeluarkan pernyataan sebagaimana dimuat dalam The Jakarta Post Tanggal 21 September 2007, bahwa syari’at Islam menjadi penghalang proses pembangunan Aceh. Lebih khusus, Kamaruzzaman mengatakan bahwa kami (GAM) tidak mendukung ide pelaksanaan syari’at Islam karena tidak didukung oleh seluruh rakyat Aceh.
Pernyataan kedua petinggi BRR ini kembali melukai orang Aceh yang notabene umat Islam, dan bahkan ummat Islam di seluruh dunia. Karena menjadikan alasan syari’at Islam sebagai penghambat proses pembangunan Aceh. Kita mengharapkan kepada kedua petinggi BRR agar tidak menjadikan syari’at Islam sebagai kambing hitam dari “kegagalan” mereka mengelola proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Untuk itu diharapkan tanggung jawab mereka terhadap pernyataan yang sudah dipublikasi oleh sebuah media yang dikonsumsi oleh masyarakat luas, baik local maupun internasional. Bentuk tanggung jawab tersebut menarik kembali pernyataannya dan memohon maaf kepada rakyat Aceh khususnya dan ummat Islam pada umumnya yang dimuat di media local, nasional maupun internasional. Apabila ini tidak dilakukan maka kita mengharapkan kepada pihak-pihak yang berkompeten, Pemerintah Aceh, MPU, Dinas Syari’at Islam, dan lembaga-lembaga lain untuk memproses pernyataan mereka. Kalau pernyataan ini sudah masuk dalam kategori pelecehan syari’at Islam, maka perlu dilakukan proses hokum sebagai pertanggungjawaban atas pernyataan kedua petinggi BRR tersebut.
Banda Aceh, 11 Ramadhan 1428 H
23 September 2006
Pengurus,
Hasanuddin Yusuf Adan Sayed Azhar, S. Ag
Ketua Umum Sekretaris Umum