ZAKAT FITHRAH

Bulan Ramadhan  merupakan bulan yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang ada di dalamnya. Pada bulan tersebut turunnya kitab suci Al-Qur’an, pada bulan itu wujud Lailatul Qadar, di bulan itu pula diwajibkan zakat fithrah yang semua itu khusus terjadi dalam bulan Ramadhan sehingga bulan ini memiliki kelebihan-kelebihan tertentu dari pada bulan-bulan lain. Selain itu bulan Ramadhan juga dijadikan Allah sebagai bulan menciptakan ketaqwaan dan bulan ampunan sehingga ummat Islam yang betul-betul memanfa’atkan bulan tersebut untuk beribadah akan diampunkan segala dosa masa lalu.

Kedudukan zakat fithrah di bulan Ramadhan menentukan baik buruknya kepribadian seseorang muslim yang beriman, bertaqwa dan beramal shalih dalam kehidupan hariannya. Karena zakat fithrah berperan mensucikan eksistensi kepribadian seseorang muslim setelah membayarnya sesuai prosedur yang terdapat dalam fiqh. Oleh karenanya tidak boleh tidak setiap muslim wajib membayarnya sebelum pelaksanaan shalat ‘aidil fithri setiap tahunnya. Kewajiban tersebut melingkupi orang merdeka, hamba sahaya, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang dewasa.

 

KEDUDUKAN HUKUM

Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, hukum membayar zakat fithrah adalah wajib bagi semua lapisan masyarakat muslim mulai dari orang merdeka, hamba sahaya, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang dewasa. Keterangan tersebut selaras dengan hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar yang artinya: “telah diwajibkan oleh Rasulullah SAW zakat fithrah satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari gandum terhadap hamba sahaya, orang merdeka, terhadap lelaki dan wanita, terhadap anak kecil serta orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Dan diwajibkan membayarnya sebelum pelaksanaan shalat ‘aidil fithri” (H.R. Bukhari).

Dalam hadits lain dari Abu Sa’id Al-Khudri disebutkan: “kami memberikan di zaman Rasulullah SAW satu sha’ jenis makanan pokok, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ dari kismis (anggur kering) untuk zakat fithrah. (H.R. Bukhari). Banyak hadits yang terdapat dalam kitab-kitab hadits berkenaan dengan kewajiban membayar zakat fithrah yang mengarah kepada suatu kewajiban bagi muslim dan muslimah, besar atau kecil, merdeka atau hamba sahaya.

Hadits juga menetapkan pembayaran zakat fithrah dalam bulan Ramadhan dan afdhalnya di penghujung Ramadhan sebelum melaksanakan shalat ‘aidil fithri, selaras dengan hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Umar yang artinya: “bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkan pembayaran zakat fithrah sebelum keluar manusia (ummat Islam) melaksanakan shalat ‘aidil fithri”. Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa kedudukan zakat fithrah hukumnya wajib bagi setiap muslim, muslimah, orang merdeka, hamba sahaya, anak kecil dan orang dewasa. Ianya wajib dikeluarkan setiap bulan Ramadhan dan dalam bulan Ramadhan yang afdhalnya di penghujung Ramadhan. Dan tidak ada pembayaran zakat fithrah setelah selesainya pelaksanaan shalat ‘aidil fithri karena batas pembayarannya sebelum ummat Islam melaksanakan shalat hari raya puasa.

Para ulama baik ulama klasik maupun para ulama kontemporer sepakat jenis benda yang dibayar untuk zakat fithrah adalah makanan pokok yang dikonsumsikan ummat Islam dalam kehidupan mereka seperti kurma, gandum, kismis, beras, jagung, dan seumpamanya. Para ulama klasik seperti Imam Abu Hanifah dan hanafiah serta para ulama kontemporer seperti para ulama yang terkumpul dalam lembaga mufti/ulama di negara mayoritas muslim sepakat zakat fithrah boleh dibayar dalam bentuk uang sebagai pengganti jenis makanan dengan ukuran seharga dengan harga makanan yang diwajibkan zakat fithrah keatasnya. Kalau di Indonesia umpamanya ukuran 2,8 kg beras yang dimakan berharga Rp. 50.000 maka uang yang dibayarkan untuk zakat fithrah adalah Rp. 50.000.- ukuran uangnya adalah sejumlah harga makanan pokok yang mereka makan sehari-hari bukan harga makanan pokok yang dimakan orang lain di negeri tertentu.

Untuk itu semua tidak ada hal bagi ummat Islam untuk mempersulit ibadah ummat Islam lainnya dengan mengolah benda yang boleh diperuntukkan untuk zakat fithrah, seperti harus bayar dengan kurma karena Nabi membayarnya dengan kurma, atau tidak boleh membayar dengan uang karena Nabi tidak membayar dengan uang, atau kalau tidak membayar dengan makanan pokok seperti beras maka apabila dibayar dengan uang maka jumlahnya mengikut harga kurma bukan mengikut harga beras. Semua itu sudah masuk unsur politis atau unsur ku’is dari sekelompok ummat Islam terhadap ummat Islam lainnya. Nabi menyuruh kita untuk mempermudah beribadah dan jangan mempersusahnya (Yassiruu wala tu’assiruu) permudahlah dan jangan mempersulit ibadah yang sudah dipermudah Allah dan RasulNya, yuridullahu bikumul yashra wa la yuridu bikumul ‘ushra (Allah menghendaki yang mudah dan tidak menghendaki yang sulit serta payah). Karena zakat fithrah itu berada dalam kajian fiqh maka fiqh itu berlaku ra’yu para ulama, namun ra’yu yang digunakan itu selaras dengan ketentuan Al-Qur’an dan Al-Sunnah bukan mengikut hawa nafsu seseorang atau segolongan orang sehingga terjadi diskriminasi terhadap golongan lainnya.

 

TUJUAN ZAKAT FITHRAH

Hadits riwayat Ibnu Abbas berbunyi, yang artinya: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithrah untuk membersihkan orang-orang berpuasa minal laghwi war rafatsi (dari kotoran jiwa raga seperti kesalahan ucapan dan kesalahan anggota tubuh badan) dan untuk memberi makan fakir mislkin”. Jadi tujuan utama pembayaran zakat fithrah oleh orang muslim adalah untuk dua perkara tersebut di atas; khusus untuk menghapus dosa orang-orang yang berpuasa sebulan penuh bagi orang-orang yang beriman, bertaqwa, dan beramal shalih selaras dengan harapan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183; la’allakum tattaquwn. Manakala ianya sudah bertaqwa lewat jalur Ramadhan maka Allah tetapkan ganjaran sebagaimana kandungan surat An-Nisak ayat 13 yang artinya: “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”.

Sehubungan dengan itu  Allah juga gambarkan kondisi orang-orang beriman dan beramal shalih dalam surah yang sama ayat 57 yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”.

Sedangkan poin kedua tujuan disyari’atkan dan diwajibkan zakat fithrah adalah untuk memberi makan fakir miskin. Oleh karenanya posisi zakat fithrah beda jauh dengan posisi zakat mal yang memiliki delapan ashnaf, zakat fithrah hanya memiliki tiga ashnaf saja yaitu untuk orang-orang fakir, untuk orang-orang miskin, dan untuk para amil selaku pengelola dan pengurus zakat fithrah tersebut. Islam sangat peduli terhadap orang-orang Islam yang fakir dan miskin sehingga zakat fithrah tidak dibenarkan beredar selain tiga ashnaf tersebut. Amil sendiri kalau ianya orang punya kelebihan tidak mengambil senif amilnya dan diperuntukkan kepada fakir miskin jauh lebih baik dan bermakna.

Yang paling tidak boleh adalah zakat fithrah dibagi sama rata kepada penduduk kampong baik yang fakir, miskin, maupun orang-orang berpunya, itu bersalahan dengan ketentuan hadits. Apalagi kalau yang terjadi adalah para pimpinan kampong membentuk panitia zakat fithrah sama banyaknya dengan fakir dan miskin di kampong tersebut sehingga senif untuk amil lebih banyak ketimbang untuk fakir dan miskian. Perlu kita pahami bersama bahwa amil itu dalam kajian Aceh disebutkan: karena bak meusawak situek, artinya karena adanya fakir miskin maka adanya amil, atau karena adanya zakat fithrah maka adanya amil. Kalau fakir miskin dan zakat fithrah tidak ada maka otomatis amilpun tidak ada.

Oleh karenanya jumlah amil dalam pengurusan zakat fithrah diselaraskan saja dengan keperluan orang kerja untuk mengurus zakat fithrah, semakin minim semakin baik untuk memformatkan kandungan hadits terhadap kaum fakir dan miskin. Atau amil boleh banyak tetapi tujuannya untuk beramal membantu penyelesaian pembagian zakat fithrah dengan tidak mengambil hak amil untuk amil itu sendiri, karena kalau amil tersebut termasuk fakir atau miskin ia mendapat hak tersebut, kalau amil terdiri dari orang-orang berpunya maka ia sudah punya kemudahan hidup sendiri sehingga amal shalih sebagai amil memperoleh pahala dari Allah SWT, di bulan Ramadhan tidak mesti kita selalu mengejar harta benda, sesekali bolehlah mengejar pahala.

Dengan demikian, operasional zakat fithrah itu khusus diperuntukkan kepada fakir dan miskin yang disalurkan melalui panitia yang dibentuk di setiap masjid dan tempat-tempat tertentu untuk menjaga kemuslihatan dan tidak terjadinya tumpang tindih pendistribusiannya. Dalam kasus tidak sempat membayar melalui panitia maka ummat Islam dibolehkan menyalurkan langsung kepada fakir dan miskin yang ada di sekitarnya, tidak wajib disalurkan lewat panitia. Jenis zakat fithrah adalah pada intinya makanan pokok yang dimakan hari-hari oleh seseorang muslim dan boleh digantikan dengan uang sejumlah makanan pokok yang ditentukan jumlahnya dalam fiqh. Zakat fithrah dikhususkan kepada dua tujuan utama yaitu untuk membersihkan jiwa raga muslim yang berpuasa dan membayar zakat fithrahnya serta untuk memberi makan para muslimin dari kalangan fakir dan miskin selaras dengan seruan Nabi: ughnuhum hazal yaum yang artinya; bahagiakanlah mereka di hari raya ‘Aidil Fithri.

Wallahu a’lam…

Penulis : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)