TAUSHIYAH HIJRIYAH 1440/2018

 

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Banda Aceh, 1 Muharram 1440 H/11 September 2018

Background
Masuknya tahun baru hijriyah pada hari Selasa 11 September 2018 merupakan pergantian tahun 1439 ke tahun 1440 Hijriyah. Pergantian tahun tersebut membuktikan bahwa dunia sudah semakin tua, kita sudah bertambah umur satu tahun lagi, bertambah umur itu bermakna kita sudah semakin tua, bertambah tua mengandung makna kita sudah dekat dengan sebuah kematian dan itu berarti kita sudah semakin dekat dengan kubur. Karenanya tidak ada hal yang harus kita banggakan dalam hidup dan kehidupan ini dengan masuknya tahu baru setiap tahun selain daripada memperbanyak syukur kepada Allah atas rahmat umur yang diberikan dan meningkatkan keimanan, ketaqwaan serta amalan saliha kepadaNya sebagai bukti kesyukuran.

Sangat amat keliru bagi seorang muslim yang suka berpesta pora ketika terjadi pergantian tahun dalam kehidupan mereka. Apalagi kalau pesta pora tersebut disertai dengan prilaku jahiliyyah seperti dansa-dansi lelaki dengan perempuan, minum khamar, berjudi, bermain musik ala dunia barat dan seumpamanya. Semua itu merupakan perbuatan yang dilarang Allah SWT sebagai pencipta dan pemilik semua ummat manusia. Oleh karenanya dalam menyambut tahun baru 1440 Hijriyah ini marilah semua muslim menghayati kembali akan hakikat sebuah kehidupan yang diberikan Allah secara percuma kepada kita semua. Dari kehidupan itu Allah sertai dengan kenikmatan hidup berupa makanan, minuman, ilmu pengetahuan, persaudaraan, perjalanan, dan segalanya.

Ketika semua kita memahami dan mau memaknai akan semua rahmat dan nikmat dari Allah tersebut maka kita tidak boleh tidak untuk tunduk patuh kepada Allah semata-mata dalam kehidupan ini berkaitan dengan jalur kehidupan yang kita lalui. Demikianlah langkah yang telah diambil oleh para shahabat Rasulullah SAW dalam periode awal perjuangan Islam di kota Makkah dahulu manakala semua muslim termasuk Nabi terpaksa menetap di sudut kota Makkah bernama Syi’ab Shaffa. Di sini ummat Islam hidup tanpa komunikasi dengan luar Syi’ab Shaffa, mereka juga tiada jalur masuk makanan dan minuman sehingga kehidupannya menjadi lapar dan dahaga.

Dalam kondisi seumpama itulah Rasulullah SAW memerintahkan sebahagian ummatnya berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) dalam upaya mempertahankan kehidupan dan mempertahankan eksistensi Islam.

Hijrah pertama ini terjadi di bulan Rajab pada tahun 616 yang dipimpin Usman bin Affan dengan jumlah anggotanya 18 orang termasuk Ruqayyah, isteri Usman yang juga puteri Rasulullah SAW sendiri. Pada bulan Syawal mereka memperoleh informasi bahwa Umar bin Khattab telah masuk Islam lalu mereka kembali ke Makkah untuk menyambut ke-Islaman Umar.

Tempat domisili kaum muslimin di Syi’ab Shaffa di pinggir kota Makkah semakin hari semakin dikucilkan kafir Quraisy. Hal ini menyulitkan posisi muslim yang serba kekurangan di sana. Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan sejumlah besar muslimin untuk kembali berhijrah ke Ethiopia. 119 muslim-muslimah di bawah pimpinan Jakfar bin Abi Thalib dengan diam-diam berangkat di malam hari memanjat bukit baru Abu Kubais serta memutar menuju pantai Laut Merah, dari bandar Janbuk berlayar menuju Ethiopia. Itulah dia hijrah kedua ke Ethiopia tahun 618 yaitu empat tahun sebelum hijrah besar ke Madinah.

Selebihnya, ketika tiba masanya dan datangnya perintah Allah kepada RasululNya untuk berhijrah besar ke Yatsrib, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar melaksanakan satu pekerjaan yang paling strategis dan paling politis yaitu berhijrah ke Yatsrib yang kemudian beliau menggantikan nama menjadi Madinah. Peristiwa ini terjadi pada 20 September 622 masehi yang kemudian pada hari tersebut Umar bin Khaththab menetapkan awal tahun baru Hijriyah ketika Nabi sudah tiada.

Hijrah Nabi ke Yatsrib tersebut semata-mata untuk membuktikan ketunduk patuhannya kepada Allah semata-mata dalam upaya menyelamatkan Islam, muslim, ‘aqidah Islamiyah, dan berupaya untuk menguasai dunia dengan ‘aqidah Islamiyah. Karena itulah dalam berhijrah Nabi memasang strategi dalam skala paling tinggi sehingga selamat dalam perjalanan, sampai ketujuan, dan gagal dilacak oleh musuh-musuh tuhan. Pada hari hijrah tersebut Nabi tidak langsung menuju yatsrib melainkan berpatah balik kebelakang dan bermalam di Gua Tsur, sebuah taktik dan strategi jitu yang sulit diprediksi keberadaannya oleh para musuh.

Sesampainya di Quba menjelang masuk Yatsrib, Nabi bermalam semalam, mendirikan Masjid yang hari ini bergelar Masjid Quba, melaksanakan shalat Jum’at pertama di dalamnya. Baru kemudian beliau menuju Yatsrib dan tiba di sana dengan selamat dan disambut meriah oleh muslim-muslimah dari kaum anshar penduduk asli Yatsrib dan kaum Muhajirin sebagai pendatang awal dari Makkah ke Yatsrib. Sambutan tersebut menyemarakkan wilayah tersebut seperti kedatangan rembulan pembawa rahmat dan nikmat sebagaimana yang dilantunkan dalam shalawat yang diawali dengan untaian; Thala’at badru ‘alaina mintsani yatiw wada’… dan seterusnya.
Para penunggu Nabi di Yatsrib berlomba-lomba menawarkan rumah, kamar, tempat tinggal, dan jasa lainnya kepada Nabi yang membuat Nabi susah untuk menentukan pilihannya. Namun dasar seorang Nabi dan Rasul kekasih Allah Beliau berucap: “di mana untuku ini berhenti maka di situlah aku akan bermastautin”. Tiba-tiba unta tersebut merebahkan dirinya di hadapan rumah Abu Ayyub Al-Anshari yang di dalamnya terdapat dua anak yatim Sahal dan Suhail, lalu Nabi berucap: “di sinilah saya akan bertemat tinggal”.
Empat strategi penting yang dilakukan Nabi sesampainya di Yatsrib adalah: membangun masjid yang kemudian bernama Masjid Nabawi, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, mewujudkan Shahifah Madinah, dan menggantikan nama Yatsrib dengan Madinah. Pendirian masjid sebagai lambang tauhid dan tempat menghambakan diri kepada Allah, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin sebagai ilustrasi dan deskripsi kekuatan sebuah pasukan Allah, mewujudkan Shahifah Madinah sebagai dasar konstitusi untuk semua hamba Allah di sana, dan pergantian Yatsrib dengan Madinah sebagai upaya pelucutan kesan, imej, dan atribut kekafiran menuju wilayah Islam.

Makna hijrah
Makna hijrah secara bahasa adalah; berpindah, berpaling, meninggalkan, tidak memperdulikan lagi. dalam bahasa Inggeris hijrah diartikan sebagai; emigration, expatriation, exodus, hegira, immigration (to), dan migration. Dalam bahasa Arab kata asal hājara dipadukan dengan kata-kata lain menjadi; hājara minal baladi aw ‘anhu, yang bermakna “berhijrah”, atau berhijrah dari negeri. Secara istilah hijrah adalah berpindah tempat seseorang atau sejumlah orang dari tempat tinggalnya ke tempat tinggal lain untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.
Makna hijrah yang sudah ma’ruf dipahami ummat manusia hari ini adalah; hari permulaan tarikh Islam. Pada hari tersebut Rasulullah SAW meninggalkan Makkah menuju dan bermastautin di Yatsrib (Madinah) ketika Nabi belum berjaya mengislamkan Makkah dan penghuninya. Hari pertama Nabi berangkat dari Makkah adalah 8 Rabi’ul Awal bertepatan dengan 20 September 622 Masehi yang kemudian oleh Umar bin Khaththab menetapkannya sebagai tanggal satu dan tahun pertama Hijriyah (permulaan tarikh Islam).
Terkait dengan pengertian hijrah tersebut maka hijrah itu dapat pula bermakna perobahan sikap hidup seseorang hamba Allah dari kehidupan yang penuh nilai-nilai negatif menuju kehidupan yang disertai oleh nilai-nilai positif. Prilaku kasar berobah menjadi santun, tidak rutin beribadah kepada Allah berobah menjadi rutin dan tekun, hidup penuh dengan nuansa malas berobah menjadi rajin, dan semisalnya merupakan bahagian terpenting dari makna hijrah dalam konteks kehidupan kekinian.
Dengan demikian jadilah hijrah itu sebagai solusi kehidupan bagi seseorang sehingga orang tersebut akan sukses hidup di dunia dan di akhirat kelak. Kesuksesan tersebut tidak akan pernah wujud tanpa adanya kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja pantas bagi seorang hamba. Kerja-kerja semacam itulah yang perlu ditempuh dan dilaksanakan oleh seorang muslim untuk menuju sebuah perobahan hidup dan kehidupan melalui jalur hijrah sebagai solusi kehidupan.

Hakikat hijrah
Hakikat hijrah bagi seorang muslim adalah mengikuti perintah Allah untuk merobah pola hidup menuju kesuksesan dan kejayaan. Allah tidak akan merobah nasib sesuatu kaum sebelum kaum tersebut berupaya merobahnya terlebih dahulu. Merobah dalam kalimat tersebut adalah setiap insan telah diberikan peluang dan kesempatan untuk menjadi orang sukses dalam kehidupan oleh Allah SWT. namun setiap insan juga harus berusaha dan berupaya untuk memperoleh kesuksesan tersebut karena di sana terdapat sifat aktif, kreatif, innovatif, distributif, dan komunikatif yang menjadi sifatnya manusia.
Hijrah juga menjadi satu kewajiban bagi setiap orang manakala usaha perobahan yang dilakukan menjadi mandek dan tidak Berjaya. Dalam rangka menebus kemandekan tersebut orang-orang aktif, kreatif, innovatif tersebut harus berhijrah dari satu tempat ketempat lain, dari satu sifat kesifat lain, dari satu perangai keperangai lain, dari kegagalan menuju kesuksesan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemiskinan kepada kekayaan, dan semua itu tentunya dari prihal yang negatif menuju positif.
Hakikat hijrah awal yang dilakukan Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah ummah, dan mempertahankan eksistensi Islam yang dengan brutal dirobohkan oleh musuh-musuh tuhan. Semua itu wajib dilakukan karena Allah sudah memberikan tugas pokok dan utama kepada RasulNya untuk meng-Islamkan dunia. Bagi seorang Rasul tidak ada kata mundur walaupun berhadapan dengan maut sebelum Islam berjaya. Alhamdulillah hari ini Islam sudah eksis, kita tidak diminta untuk mengeksiskannya lagi, namun kewajiban kita untuk menggerakkan, memajukan, dan mengembangkan eksistensi Islam yang ada sehingga Islam menjadi solusi dunia yang aman, damai, sejahtera dan bersahabat. Caranya adalah eksistensi Islam itu tidak boleh dikelabui dengan paham dan pemahaman nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, atheisme, animisme, dinamisme, dan sejumlah isme-isme lain yang mencederai eksistensi Islam sebagai agama yang objektif, logis, dan humanis.
Untuk itu pula perlu melihat upaya awal yang dilakukan Nabi ketika sampai di Madinah, yaitu; mewujudkan negara contoh lewat pembangunan masjid yang kemudian terkenal dengan Masjid Nabawi, mempersatukan ummah antara kaum anshar dengan muhajirin, mewujudkan shahifah yang kemudian popular dengan Konstitusi Madinah, merobah nama Yatsrib menjadi Madinah. Dengan demikian, lima kriteria sebuah negara yang ditetapkan PBB; harus memiliki wilayah, harus mempunyai rakyat, harus ada pemerintah, harus wujud konstitusi, dan harus ada pengakuan luar terpenuhi sudah di negara Madinah. Maka jadilah Madinah sebagai sebuah sampel negara Islam di dunia yang langsung atau tidak langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.
Hakikat yang paling hakiki dari peristiwa hijrah adalah, sebuah upaya untuk menguasai dunia dengan ideologi Islam, dengan ‘aqidah Islamiyah, oleh ummat Islam, dan untuk semua ummat manusia. Menguasai dunia dengan Islam bermakna penataan dunia yang carut marut hari ini dengan syari’ah yang dijamin sempurna dan representatif untuk semua ummat manusia. Oleh karenanya kepada para jama’ah Dewan Dakwah di mana saja berada, bekerjalah untuk menyambung, melanjutkan, dan memperjuangkan titipan Rasulullah SAW. lakukan segala sesuatu dalam kehidupan ini yang menguntungkan Islam, yang dapat memajukan Islam, yang mengharumkan Islam dan ummat Islam, yang membuka peluang dan jalan menghantarkan insan ke syurga Allah yang maha aman.
Dewan Dakwah Aceh sudah bertapak di Gampong Rumpet Krueng Barona Jaya, Aceh oleh generasi kemarin. Menjadi tugas utama untuk dipapah, dirawat, dipupuk, disiram, dan dijaga eksistensinya oleh generasi hari ini. kemudian diteruskan dan dimajukan, dijaga, dan dipelihara kontinuitasnya oleh generasi kemudian. Konsep awal pembangunan ummah dan langkah-langkah strategis sudah kita letakkan, perlu kecerdasan dan intelektualitas generasi pelanjut nantinya yang harus melanjutkan sehingga sampai ketujuan yang dirancang Allah via RasulNya Muhammad SAW.

 

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.