RAMADHAN BULAN BERCINTA (MAHABBAH)

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Ramadhan yang datangnya setahun sekali merupakan bulan paling istimewa kepada ummat Islam yang beriman. Dalam bulan Ramadhan tersebutlah seorang mukmin memiliki kesempatan paling bagus dan istimewa untuk saling mencintai dengan sang Khaliq (Allah SWT). Manakala Allah memberikan kesempatan ampunan, kesehatan, dan masuk syurga via pintu Raihan kepada hambaNya maka kesempatan baik sekali bagi seorang hamba untuk memanfa’atkan kesempatan tersebut untuk mencintai Allah lewat zikir yang lebih serius, amalan shlaih yang lebih banyak, meningkatkan amar ma’ruf nahi mungkar yang lebih mantap, dan seterusnya.

Yang kita maksudkan dengan Ramadhan bulan bercinta adalah; ketika Allah sudah mencintai hamba maka menjadi sebuah kewajiban seorang hamba untuk mencintai Allah. Semestinya cinta itu harus diawali oleh cintanya hamba kepada Allah bukan sebaliknya, namun karena Allah memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang sekaligus menjadi sifatnya maka Allah lebih duluan mencintai hamba. Oleh karenanya manakala ada hamba yang membiarkan Ramadhan berlalu begitu saja maka dapat dipastikan hamba tersebut adalah orang-orang jahil atau jahat dalam bahasa lain manusia yang diserang oleh penyakit JJ (dua J); yaitu penyakit jahil (bodoh) dan penyakit jahat (ku’eh). Untuk melanjutkan pembicaraan ini lebih baiknya kita pahami dahulu makna kata cinta itu sendiri.

 

MAKNA CINTA

Mengikut pengertian cinta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cinta adalah suka sekali atau sayang benar. Sementara menurut wikipedia cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam qamus Arab-Indonesia, kata mahabbah diartikan dengan; cinta atau kassih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cinta itu merupakan perasaan seseorang pribadi yang menunjukkan emosionalnya yang sangat tinggi untuk memiliki atau untuk mengabdi terhadap yang dicintai tersebut. Kalau cintanya berkaitan antara seorang manusia lelaki terhadap seorang manusia wanita atau sebaliknya, maka apresiasi cinta tersebut adalah rasa memiliki antara dua orang yang bercinta. Rasa memiliki tersebut boleh jadi permanen seperti yang terjadi dalam sebuah aqad nikah, atau boleh jadi bersifat temporer seperti yang terjadi dalam sebuah perzinaan. Sementara cinta dalam arti pengabdian adalah seperti hamba mencintai khaliq (Allah) di mana hamba siap menghambakan diri hanya kepada Allah semata dengan melaksanakan segala perintah dan meninggalkan semua laranganNya.

Beda halnya dengan cinta seseorang terhadap seekor binatang atau terhadap sesuatu benda yang hanya sifatnya sebelah pihak saja, yakni manusia yang mencintai benda seperti mobil, rumah, kebun, kuda, kucing, ayam, bebek dan seumpamanya. Tidak pernah ada mobil, rumah, toko, kebun, kuda, kucing, ayam, bebek yang mencintai orang, yang ada hanya secara insting hayawan yang sudah terlatih ikut patuh kepada manusia, itupun tidak semua manusia dan bukan mencintai manusia dan tidak semua hayawan yang dapat dilatih demikian rupa.

Lain lagi keadaannya cinta Allah terhadap hamba yang mengandung makna sangat dalam yaitu dengan pemberian manfa’at yang paling berharga dan berfaedah seperti ampunan dosa, kesehatan, mendapat syurga, yang semua itu tidak dapat diperoleh dari pihak manapun juga selain Allah. Akan tetapi cinta Allah terhadap hamba itu khusus bagi hamba yang beriman dan jangan harapkan ada cinta Allah terhadap orang-orang yang tidak beriman karena beriman itu merupakan salah satu syarat datangnya cinta Allah. Oleh karenanya, seorang muslim yang menginginkan cinta Allah mesti ianya beriman dengan aplikasi iman yang mendalam seperti menjalankan arkanul Islam dan arkanul iman.

Memang perasaan cinta iu sangat halus sekali manakala ia sudah melekat pada diri seseorang, ketika seorang lelaki mencintai seorang perempuan dengan cinta sejati, maka tidak enak badan, tidak tenang hidup, tidak bergairah kerja si lelaki kalau tidak berjumpa perempuan yang dicintainya sehari sekali walaupun hanya sekedar melempar senyum saja dan tidak ngomong apa-apa. Lebih dahsyat lagi perasaan cintanya terkadang tidak sempat berjumpa dengan orangnya dapat melihat pagar rumahnya saja sudah cukup untuk menggairahkan kehidupan. Atau ada juga manusia yang dilanda cinta sekali berjumpa dengan orang yang dicintainya bisa bertahan satu minggu, nanti ketemu lagi perasaan cintanya bertahan untuk satu minggu lagi.

Begitulah gambaran makna dan perasaan cinta seseorang hamba terhadap orang yang dicintainya, termasuk terhadap hayawan peliharaannya seperti orang kafir mencintai anjing yang melebihi cintanya terhadap ayah/anak kandungnya sendiri. Kalau sekiranya perasaan cinta semisal itu kita pasang kepada cintanya seorang hamba terhadap Khaliqnya yakni Allah SWT, maka cintanya itu dapat disebut dengan cinta sejati seorang hamba terhadap penciptanya, dan semestinya minimal demikianlah yang harus terjadi. Seorang hamba tidak boleh melupakan Allah dengan selalu berzikir, tidak boleh meninggalkan perintah Allah dengan selalu melaksanakannya, tidak boleh melaksanakan larangan Allah dengan selalu meninggalkannya.

Jadi makna cinta dalam sebuah aplikasi aksi nyata adalah terlihat pada kerelaan seseorang dengan berbagai pengorbanan terhadap orang lain atau terhadap pihak lain sehingga orang tersebut rela mengorbankan sesuatu yang dimilikinya seperti hartanya, waktunya, kesetiaannya, malah jiwa raganya sekalipun untuk memiliki, menjaga, memelihara, dan melestarikannya. Ilustrasi semacam ini masuk kedalam kategori cinta sejati sehingga pengorbanannya tidak berbelah bagi dan tidak ternilai lagi. Itulah dia yang namanya cinta sejati.

 

PUASA RAMADHAN UTK. ORANG2 BERIMAN

Perlu kita batasi ruang lingkup pelaku cinta dalam kupasan ini hanya berlaku untuk orang-orang beriman sahaja selaras dengan perintah berpuasa oleh Allah kepada orang-orang beriman saja sebagaimana kandungan ayat 183 surah Al-Baqarah dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci bagi ummat Islam.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ayat ini diperkuat oleh ayat 185 surah yang sama;

Barangsiapa yang menyaksikan bulan Ramadhan maka berpuasalah.

Dengan demikian lingkupan cinta itu hanya terjadi antara orang-orang beriman dengan Allah sebagai khaliq, tidak termasuk orang kafir, orang munafik, orang fasiq, orang musyrik, orang sepilis, orang komunis, dan orang-orang yang mengaku Islam atau ber KTP Islam tetapi tidak beramal sesuai perintah Islam. Oleh karenanya mahabbah itu hanya didapati oleh orang orang beriman dalam bulan Ramadhan karena orang-orang beriman itulah yang paling patuh dan tunduk kepada Allah dan paling mencintai Allah.

 

CINTA ALLAH KEPADA HAMBA

Segala jenis kebaikan, ujian, cobaan, pelajaran yang datangnya dari Allah tidak pernah dihantar langsung ke rumah orang yang diinginkannya, melainkan melalui perantara-perantara. Umpamanya, kalau Allah mau mencabut nyawa seorang hambaNya maka tidak pernah Allah atau MalaikatNya yang langsung berjumpa dengan hamba yang mau dicabut nyawanya seraya berkata: aku datang untuk mencabut nyawamu. Tetapi selalu Allah cabut nyawa seseorang melalui perantara seperti ditimpa penyakit, ketabrak mobil di jalan, karena efek perang, karena jatuh pesawat terbang, tenggelam kapal laut dan seumpamanya.

Demikian juga manakala Allah hendak mencintai hamba, maka hamba itu adalah hamba beriman yang beramal shalih seperti rajin berpuasa Ramadhan, rajin shalat wajib dan sunat, rajin bersilaturrahmi, saling menasehati, saling berbagi (harta, ilmu, tenaga, pengalaman) dan seumpamanya. Hal ini selaras dengan bunyi surah Al-‘Ashr yang artinya: “demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam keadaan rugi, kecuali orang-orang beriman, orang-orang beramal shalih, orang-orang yang saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran”.

Ilustrasi jalur cinta Allah terhadap hamba via bulan Ramadhan adalah; Allah akan berikan ampunan segala dosa masa lalu selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan penuh dengan keimanan dan kesabaran maka Allah ampunkan dosa-dosa masa lalu. (Hadits riwayat Bukhari). Cinta Allah terhadap seorang shaim (orang yang sedang berpuasa) juga terlihat dengan mengalami kesehatan badan selama dan setelah berpuasa Ramadhan. Ini merupakan satu hal paling istimewa bukti cinta Allah terhadap orang-orang berpuasa Ramadhan.

Yang lebih istimewa lagi adalah Allah persiapkan syurga bagi shaimun yang masuk melalui pintu Rayhan. Setelah shaimun selesai masuk kedalam syurga tersebut maka pintu Rayhanpun tertutup rapat-rapat. Allah juga menampakkan cintanya kepada mukminin dengan membersihkan orang-orang berpuasa dari perkataan lagha dan perbuatan sia-sia serta membantu memberikan makanan bagi orang-orang fakir dan miskin (thuhratal lish shaimi wa thu’matal lil masakin) yang disebutkan dalam hadis Ibnu Majah dan Ahmad.

 

MENGGAPAI CINTA ALLAH DENGAN MENCINTAINYA

Sebagaimana lazim dalam kehidupan seseorang manusia manakala hendak menangkap ikan maka ia harus berkorban dengan mempersiap kail dan umpannya, seorang yang berniaga juga harus mempersiapkan modalnya terlebih dahulu untuk memperoleh laba dan keuntungan yang memada. Demikian juga halnya dengan upaya menggapai cinta Allah seorang hamba haruslah mencintai Allah terlebih dahulu sehingga Allah mencintainya. Mencintai Allah haruslah dimulai dari iman dan keimanan karena tidak mungkin seorang hamba akan dapat mencintai Allah kalau ianya tidak beriman. Demikian juga tidak mungkin sama sekali Allah akan mencintainya kalau dia bukan hamba yang beriman kepadaNya.

Karenanya cinta timbal balik yang sebenar cinta ada pada Allah dan hambaNya yang beriman kepadanya sebagai prosesi dan persiapan hamba menuju syurga yang dijanjikan Allah. Tanpa ada cinta hamba terhadap Allah dengan kriteria sebenarnya maka tidak akan mumgkin ada cinta Allah terhadap hamba. Dengan demikian maka mestilah hamba yang memulainya agar respon cinta Allah muncul untuknya. Selaras dengan kalam Allah sendiri dalam surah Ali Imran ayat 31 yang berbunyi:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Keberadaan ayat ini memiliki nilai cinta yang sangat tinggi manakala hamba memahami hakikat yang terkandung di dalamnya. Allah memerintahkan Rasulnya untuk memberitahukan kepada hamba manakala seorang hamba mencintai Allah mesti dengan mengikuti RasulNya, manakala sudah terjadi demikian maka Allah janjikan akan mencintainya, mengampunkannya karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itulah dari dahulu kita sudah meletakkan salah satu syarat terjadinya cinta mencintai antara hamba dengan khalik adalah melalui perantara iman, tanpa iman maka cintapun tiada.

Kenyataan tersebut diperkuat oleh firman Allah lainnya dalam surah Al-Baqarah ayat 165 yang berbunyi:

…..Dan orang-orang beriman itu memiliki cinta yang sangat tinggi terhadap Allah…..

Nilai iman itu dapat disaksikan melalui aktivitas seseorang hamba dalam kehidupannya, misalnya seorang hamba rajin shalat wajib lima waktu, rajin berpuasa di bulan Ramadhan, rajin berzakat, rajin berdakwah dengan berbagai cara yang muslihat, tidak melaksanakan perbuatan-perbuatan terlarang dalam agama seperti zina, membunuh, menipu, merampok, mencuri, memanipulasi, mengintimidasi, dan sejenisnya. Manakala semua itu wujud pada dirinya dapat dipastikan ianya seorang beriman, manakala ia beriman maka nilai hubbullah tinggi bersamanya sehhingga ia dapat dikatakan sebagai hamba yang mencintai Allah.

Persoalannya adalah dengan amalan shaliha, dengan amar ma’ruf nahi mungkar menjadi miniatur keimanan seseorang hamba manakala ia lakukan dengan penuh ikhlas dan keikhlasan. Memang sulit sekali dipahami dan diakui serta diamalkan gambaran ini oleh orang-orang yang tidak beriman karena tidak ada antena iman dalam tubuhnya maka payah sekali konek disebabkan sinyal iman sangat amat lemah dalam tubuh badannya. Karena itulah modal utama seorang hamba mencintai Allah adalah iman di dada, tanpa iman terhadap Allah maka mustahil akan lahir benih-benih cinntanya terhadap Allah.

Ketika iman sudah ada, diwajibkan puasa sebulan penuh dalam Ramadhan tidak menjadi masalah baginya karena iman yang menjadi filternya. Manakala ia berpuasa sepenuh Ramadhan sehingga Allah ampunkan semua dosa-dosa masa lalunya, itulah dia refleksi iman yang dimilikinya. Dari sinilah lahir perasaan cinta seorang hamba terhadap Allah sehingga sang hamba tetab setia kepada Allah dengan melaksanakan segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya. Puasa sebulan penuh itu bukan perbuatan gampang bagi orang tidak beriman, tetapi ia sangat ringan bagi seorang beriman, karena orang beriman itu meyakini perintah puasa itu datangnya dari Allah dan Allah itu zat yang menciptakan dan yang mensirnakan, beliau zat yang menjadikan dan juga yang menghancurkan, beliau zat yang memberi kemudahan dan beliau pula yang memberi cobaan. Karena itulah manakala seorang beriman menerima perintah puasa Ramadhan dengan mudah saja dilaksanakan karena ianya mencintai Allah dan berharap cinta Allah wujud baginya melalui Ramadhan.

Wallahu a’lam.

(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah pada prodi HTN, Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry)