POLIGAMI; ANTARA PERASAAN WANITA DAN KEGEMBIRAAN LELAKI

 

Dr. Hasanuddin Yusuf Adan

(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)

 

MUQADDIMAH

 

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An-Nisak; 3).

Ayat di atas sering sekali diperbincangkan oleh kaum yang pro dan yang kontra poligami khususnya dalam kalangan ummat Islam. Pihak yang pro berpegang penuh kepada ayat tersebut sebagai dasar hukum berpoligami dan mengajak lelaki yang berkemampuan dan sanggup berlaku adil untuk mengamalkan poligami. Sementara pihak yang kontra beralih ayat tersebut baru bisa diamalkan manakala lelaki dijamin mau dan mampu berlaku adil terhadap isteri-isteri yang dipoligamikannya, menurut pihak tersebut tidak ada lelaki yang sanggup berlaku adil. Walhasil, diskusi poligami tidak akan sampai ketujuan dan tidak akan pernah mendapatkan kesepakatan.

 

ESENSI POLIGAMI

Sesungguhnya hakikat dari ayat 3 surah An-Nisak tersebut sesuai dengan yang ditafsirkan Ibnu Katsir adalah; “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua”. Makna potongan ayat tersebut yang dijelaskan Imam Bukhari dari hadis Aisyah adalah: ada seorang lelaki yang mempunyai seorang anak perempuan yatim, lalu ia menikahinya. Sementara anak perempuan yatim tersebut mempunyai sepetak kebun kurma yang pemeliharaannya dipegang oleh lelaki tersebut, dan anak perempuan yatim tersebut tidak mempunyai sesuatu mas kawinpun darinya, maka turunlah potongan ayat ini.

Keterangan lebih lanjut tentang ayat tersebut adalah; seorang lelaki yang memelihara seorang anak perempuan yatim yang cantik lalu ia tertarik untuk menikahinya dan menguasai hartanya tanpa memberikan mahar kepadanya ditegah oleh Allah dan Allah mempersilakan lelaki tersebut untuk menikahi wanita-wanita lain dua, tiga, empat orang. Manakala merasa tidak sanggup berlaku adil untuk dua, tiga, atau empat orang isteri selain anak yatim semisal itu maka Allah memerintahkan seorang lelaki menikahi seorang wanita saja dan berusaha untuk bertanggung jawab terhadapnya. Jadi kontek adil dalam ayat ini adalah adil terhadap harta anak yatim perempuan yang dikisahkan dalam hadis tersebut, bukan adil yang diartikan secara jeneral sehingga memberatkan seorang lelaki untuk menjalankan perintah Allah.

Dengan demikian jelaslah kepada kita bahwa perintah berpoligami itu merupakan sebuah amaran Allah kepada setiap muslim yang berkemampuan dalam segala sektor kehidupan dengan tidak memperlakukan ketidak adilan terhadap wanita yatim yang menjadi tanggungannya. Lebih rinci kita katakan bahwa terjemahan berpoligami itu tidak boleh karena tidak ada lelaki yang mampu berlaku adil atau berpoligami itu wajib dilakukan oleh seorang lelaki yang sanggup dari kapasitas hartanya tidaklah segamblang itu boleh disimpulkan. Karena setiap perintah Allah itu selalu ada sebab akibatnya.

Apapun alasannya ayat 3 surah An-Nisak tersebut tidak boleh lepas dengan ayat 2 berkaitan dengan larangan mempermainkan harta anak yatim yang menjadi tanggungannya. Lalu bagaimana kalau konsep poligami tersebut dipisahkan dengan kisah dan kasus anak yatin berjenis kelamin wanita tersebut. Mengikut penafsiran beberapa tafsir maka poligami itu merupakan sebuah perintah Allah kepada setiap muslim untuk kemuslihatan ummat manusia baik lelaki maupun wanita. Dan tidak boleh seorang lelaki atau wanitapun menolaknya karena itu perintah Allah, persoalan keadilan dan perasaan seorang perempuan yang selalu dijadikan alasan oleh mana-mana orang harus dikembalikan kepada kekuasaan Allah yang Maha Adil dan Maha Mengetahui perasaan setiap insan. Kalau hukum Allah itu dinafikan, ditolak, dan dilawan bermakna mereka juga menolak dan melawan Allah. Yang melawan Allah itu resikonya besaaaaarrr.

 

RAHASIA DI BALIK SEBUAH POLIGAMI

Setiap orang yang beriman kepada Allah sangat amat yakin kalau kalam Allah itu maha benar. Karena kalam Allah itu maha benar maka tidaklah boleh seseorang menentangnya, sebab setiap titah Allah itu selalu disertai oleh sesuatu filosofi atau rahasia. Kalau kita mau jujur melihat dengan mata hati apa rahasia dan filosofi di balik sebuah poligami, kita pasti mendapatkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan ciptaan dan ketentuan alam dari hasil kreasi Allah SWT yang tergambarkan dalam Al-Qur’an.

Ketika penghuni alam raya ini didominasi oleh kaum Hawa (perempuan) dan kaum Adam (lelaki) berada pada posisi minoritas, selalunya disertai oleh penyebab-penyebab alami yang sangat rasional. Di antara penyebab minoritasnya kaum lelaki adalah; angka kelahiran anak manusia selalu lebih dominan wanita ketimbang lelaki, ketika terjadi musibah jatuh pesawat terbang, tenggelam kapal laut, terbalik dan ketabrak bus/mobil di jalan raya yang paling banyak penghuninya adalah kaum lelaki, otomatis yang paling banyak mengalami kematian juga kaum lelaki. Kondisi semacam ini membuat dunia ini dominan wanita dan minoritas lelaki, nah ketika perhitungannya satu bahagian lelaki berbangding dengan dua bahagian wanita yang menjadi penghuni dunia sementara mereka memerlukan kasing sayang dan keturunan, maka hanya satu bahagian wanita sajalah yang mendapatkan suami, itupun kalau semua lelaki menikah, tapi kalau ada lelaki yang sampai tua tidak menikah bermakna tidak habis satu bahagian wanita mendapatkan nikmat perkawinan dan keturunan.

Bagi pemikiran rasional terkait dengan rahasia di balik sebuah poligami maka ketika Allah memerintahkan lelaki untuk berpoligami sesuai aturan yang berlaku maka di sana terletak sebuah hikmah yang tidak dapat dinilai dengan perasaan seorang wanita atau keadilan seorang lelaki. Allah Maha Tahu, Maha ‘Alim, dan Maha ‘Arif lagi Maha Hakim.  Apa efek kalau poligami tidak dijalankan bagi ummat Islam di dunia ini? Buat seorang muslim dan muslimah yang lemah imannya sangat rawan terjerumus kelembah perzinaan manaka ada seorang perempuan cantik yang tidak bersuami dan di sana pula ada seorang lelaki ganteng yang berharta benda, ketika keduanya dilanda asmara cinta, hari demi hari berbagi cerita dengan HP Samsung melalui jalur facebook, twitter, atau WA maka disana sering wujud sesuatu yang diharamkan agama. Kalau sampai di situ ceritanya masih belum apa-apa bagi mereka karena lemah imannya, tetapi kalau siwanita itu sudah berada di usia senja sering sakit-sakitan lagi, tinggal di rumah seorang diri tanpa anak dan sanak famili apa yang bakal terjadi terhadapnya sementara tetangga sebelah rumahnya tiap hari raya tiba dikunjungi oleh anak-anaknya, tiap bulan diberikan nafkah oleh anak dan cucunya, siapakah yang membantu dan memapah wanita yang tidak pernah bersuami dan ditinggalkan ahli famili tersebut?

Karenanya, apabila kita berbicara tentang poligami tidaklah montok pada posisi kebencian seorang perempuan dan kegembiraan seorang lelaki. Ia tidak dapat dinilai dengan perasaan seorang wanita, keadilan seorang lelaki dan apalagi kalau dikaitkan dengan pelepasan nafsu birahi semata-mata. Ia berkaitan dengan rahasia Allah dibalik semua itu yang sangat amat cukup sulit dipahami oleh orang-orang yang lemah imannya, kurang pengetahuan dan pengalamannya, serta emosi dalam menanggapinya disebabkan oleh kasus-kasus tertentu yang barangkali pernah dialaminya. Itu semua berkaitan dengan rahasia Allah di balik sebuah poligami yang penuh hikmah dan filosofi.

Jalan keluar yang paling mulus, muslihat, arif lagi bijaksana yang harus diambil seorang perempuan adalah; rasakanlah perasaan yang sedang dirasakan oleh wanita lain yang sudah berumur tetapi belum mendapatkan suami (apa lagi anak-anaknya), berdirilah pada posisi wanita itu kaum kita yang perlu kita bantu dan kita bela sehingga apa yang sudah kita miliki harus pula dimiliki mereka. Pikirkanlah masa depan kehidupan mereka sebagaimana kehidupan masa depan kita juga yang harus memiliki suami, mempunya anak, mendapatkan mertua, ipar, dan saudara mara dari kalangan pasangan hidup kita. Kalau semua perempuan sudah berpikir objektif sedemikian maka semua perempuan yang sudah memiliki suami akan menyuruh suaminya yang berkemampuan lahir-batin untuk menikahi wanita-wanita lain sesuai dengan kapasitas yang ada, satu, dua, tiga, atau empat. Kalau itu sudah terjadi maka amanlah sementara bumi ini.

Lain pula dengan sikap seorang lelaki yang sangat doyan bercerita tentang poligami, pantang ada yang memulai cerita poligami langsung disambut dan disahut oleh lelaki lain dengan sangat serius dan bersorak ria. Namun keseriusan mendengar prihal poligami tersebut hanya berkisar di luar rumah saja, ketika sampai di rumah digeureuhém oleh isteri cerita di luar tadi semuanya lenyap dan sirna. Semestinya dalam upaya menghargai filosofi dan rahasia yang Allah letakkah di balik sebuah poligami; setiap suami yang sudah mapan kehidupan rohani dan jasmani yang sudah memenuhi kuota nafkah lahir dan batin harus siap jiwa raga untuk membantu saudara seiman seagama dengan menyelamatkan iman seorang wanita yang hidup lepas dari kebutuhan dharuriyahnya yakni memiliki suami, menikmati pergaulan suami isteri dan berbahagia dengan keturunan hasil pernikahan dengan seorang suami. Wallahu a’lam.