MERAJUT KEHIDUPAN BARU DI TAHUN BARU 1441 H

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

MUQADDIMAH

Antara tahun baru dengan kehidupan baru tidaklah dapat dipersamakan dalam pengertian yang hakiki. Tahun baru berkaitan dengan perjalanan masa untuk eksistensi alam raya, sedangkan hidup baru berkaitan dengan perjalanan usia seseorang manusia yang hidup di dalam alam raya. Namun demikian antara keduanya memiliki keterkaitan berkenaan dengan perjalanan masa antara pergantian usia manusia dengan pergantian usia dunia (alam raya). Kondisi semacam itu menunjukkan kita bahwa ketika datangnya tahun baru, keduanya menjadi semakin tua atau semakin bertambah usia, atau dengan bahasa lebih gamblang semakin dekat dengan kepunahan.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang manusia untuk menetralisir perjalanan masa tersebut terkait dengan eksistensi perpaduan kehidupan dunia dengan kehidupan di alam baqa. Tentunya keselarasan prilaku yang diformatkan Allah SWT menjadi platform utama bagi seseorang hamba. Manusia dimintakan untuk mereformasi kehidupan setahun yang lalu berkaitan dengan penjagaan kesehatan, amalan shalihan, kesejahteraan keluarga, dengan target reformasi tersebut membawa hasil yang lebih baik setahun mendatang. Manusia juga dimintakan untuk menjaga dan mengawal eksistensi alam raya sebagai rumah besar ummat manusia sehingga tidak ada penghancuran ekosistem dan lingkungan hidup yang membawa kefatalan hidup bagi manusia itu sendiri.

 

SPIRIT TAHUN BARU

Tahun baru menjanjikan sejuta harapan bagi sebuah kehidupan baru, harapan demi harapan di tahun baru muncul dalam benak seseorang yang sedang menjalani kehidupan baru. Harapan kesejahteraan dalam kehidupan yang lebih baik dan sempurna dari tahun sebelumnya menjadi dambaan setiap orang yang sedang berada dalam tahun baru. Harapan mudah rezeki, harapan kesehatan badan, harapan kejayaan prestasi anak di tempat pengajian, harapan mendapatkan prestasi di tempat kerja, dan sejumlah harapan lain kini berbunga-bunga dalam benak seseorang yang tengah berada di tahun baru.

Harapan demi harapan yang muncul dan berkembang ianya akan tetap menjadi harapan dan tidak akan pernah menjadi kenyataan manakala seseorang masih hidup dengan pola kehidupannya yang tidak pernah berbenah dari kebiasaan tahun lalu. Harapan-harapan tersebut akan menjadi kenyataan manakala seseorang berupaya dan berusaha dengan serius dan sungguh-sunggh dengan dua langkah utama yakni berusaha dan berdo’a. dua upaya inti tersebut belum cukup lagi sebelum disertai dengan peningkatan ibadah dan amalan shalih yang disertai taqwa kepada Allah SWT.

Itulah inti utama refleksi spirit tahun baru yang harus dijadikan format hidup dan kehidupan bagi seseorang hamba. Sebagai hamba yang beriman kita harus yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan satu makhlukpun yang diciptakan di bumi ini. Setiap makhluk yang dihidupkan tetap saja diberikan rezeki dan kemudahan hidup sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Seekor burung yang keluar dari sarangnya di pagi hari dengan perut yang kosong pasti kembal kesarang di sore hari dengan perut yang kenyang.

Seekor ayam hutan yang tiada pemilik tanpa tangan dan tiada pikiran masih tetap saja mampu memberi makan sejumlah anaknya yang hidup dalam hutan, seekor biawak yang takut kepada manusia tetapi tetap saja hidup makmur dan dapat berketurunan. Apatah lagi seorang manusia yang beriman, bertaqwa, dan beramal shalih yang memiliki kesempurnaan pikiran dan alat indera, sudah barang tentu dapat meraih kehidupan baru yang lebih makmur di tahun baru. Allah memberikan kesejahteraan hidup kepada semua makhluknya hatta binatang melata sekalipun yang tidak bisa berjalan lancar dan tidak bisa lari cepat untuk mencari makan di permukaan bumi ini seperrti ulat, cacing, katak, laba-laba,dan semisalnya.

Oleh karenanya setiap insan wajib optimis dan tidak boleh pesimis dalam kehidupan ini, sifat dan sikap optimis itu hanya dimiliki oleh orang-orang beriman yang memiliki wawasan dan harapan hidup yang sukses, sebaliknya sifat dan sikap pesimis semata-mata hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak yakin kepada kekuasaan Allah sebagai zat yang Maha Memberi. Spirit tahun baru Hijriyah 1441 ini mestilah menjadi pengunggah semangat baru untuk masa depan yang baru yang dimulai dari tahun baru.

 

MERAJUT KEHIDUPAN BARU

Kehidupan seorang manusia di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang lama dan tidak ada yang baru. Yang ada adalah kehidupan masa lalu, kehidupan masa sekarang dan kehidupan masa mendatang kalau Allah panjangkan umurnya. Namun demikian sebahagian orang beranggapan bahwa selaras dengan datangnya tahun baru maka seseorang itu telah berada dalam zaman kehidupan baru di tahun baru yang dalam bahasa lain adalah kehidupan masa sekarang.

Masa sekarang yang dimaksudkan di sini adalah masa dalam suasana tahun baru yang mengajak kita untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan ini. Lembaran baru tersebut adalah berupaya merobah kebiasaan yang tidak baik menjadi baik, mendisiplinkan ibadah dari yang tidak disiplin sebelumnya, meningkatkan ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dari sebelumnya rendah, meningkatkan ukhuwwah Islamiyah sesama muslim dari sebelumnya yang mungkin sangat kendur, memperbanyak sedekah yang barangkali sebelumnya sangat jarang, meninggikan semangat hidup yang sebelumnya rendah.

Semua itu terkafer dalam kehidupan baru Rasulullah SAW di Madinah ketika beliau melakukan sesuatu yang sebahagiannya di luar jangkauan manusia di sana. Di antara yang baru dilakukan Nabi di tahun dan tempat yang baru adalah;

  1. Nabi mengajak para shahabat membuka pasar sendiri dan menjauh dari pasar kaum Yahudi. Langkah ini membuat ummat Islam dapat hidup mandiri dan tidak tergantung kepada produk dan pemasaran barang dari non muslim. Poin ini yang sangat mustahak diperhatikan dan dikembangkan di tahun baru 1441 H mengingat mayoritas ummat Islam menggantungkan diri kepada produk dan pasar orang yang memusuhi kita. Apapun alasannya kalau ummat Islam belum menguasai produk dan pasar sendiri maka jangan harap Islam maju dan muslimin sejahtera.
  2. Mengembangkan pertukaran keperluan hidup melalui barter (pertukaran barang) yang sama-sama menguntungkan antara satu dengan lain pihak. Sistem barter tersebut dapat menguntungkan para petani, peternak, nelayan dan produser sesuatu barang kebutuhan hidup ummat manusia, karena dengan barter para pemilik barang tidak perlu menjual dahulu barangnya kemudian membeli keperluan hidunya.
  3. Mengembangkan mata uang emas (dinar) dan perak (dirham). Penggunaan mata uang Islam tersebut dapat menyelamatkan anak bangsa Islam dari inflasi mata uang kertas yang pada hakikatnya tidak bermakna dan tidak berharga sama sekali kalau bukan diakui secara politis oleh sesuatu negara. Mata uang dinar dan dirham bertahan nilainya sepanjang zaman, kalau satu dinar dapat satu ekor kambing pada tahun 1981 maka dengan satu dinar pula masih dapat satu ekor kambing di tahun 2019. Kalau satu dirham bisa dibeli satu ekor ayam di tahun 1983 maka dengan satu dirham tersebut masih bisa dibeli satu ayam di tahun 2019. Akan tetapi satu juta rupiah dapat dibeli satu sepeda motor (honda) di tahun 1975 maka satu sepeda motor harus dibeli dengan harga Rp. 15,000,000 pada tahun 2019, demikianlah perbandingannya.

Kenapa kita harus merajut kehidupan baru di tahun baru 1441 Hijriyah adalah disebabkan posisi ummat Islam hari ini berada pada jalur yang sangat sempit dan sangat terjepit. Hampir semua negara mayoritas muslim di dunia ini ekonominya dikuasai kuasa besar non muslim, mata uang ummat Islam tidak bermakna dan harus mengikut kur mata uang kuasa besar dunia seperti dolar, uro dan lainnya. Ditambah lagi dengan munculnya kuasa besar baru dari negeri naga yang membuka jalur One Belt one Road (Obor) sehingga kuasa besar dunia yang lamapun terpaksa terperangkap dalam produk-produk kuasa besar dunia baru tersebut.

Hari ini posisi negeri paman sam sebagai penguasa dunia sedikit demi sedikit sudah disisihkan oleh kuasa baru dunia dari negeri paman naga. Akibatnya adalah di seluruh dunia tersebar produk Cina, di seluruh dunia menyebar bangsa Cina, di seluruh dunia tersebar pekerja cina, di seluruh dunia tersebar proyek Cina. Kalau kondisinya sudah begini maka bagaimana kita mau mengatakan bahwa Cina sedang membentangkan layar untuk mengkooptasi belahan bumi yang kalau bentangan tersebut berjaya maka pada suatu masa nanti perang dingin yang berlarut lama antara USA dengan USSR dahulu akan boleh jadi bertugar posisi menjadi perang ekonomi dan perang diplomasi antara USA dengan RRT. Kemungkinan tersebut sudah di depan mata, di mana posisi negara-negara mayoritas muslim?

Kalau mengacu kepada pengalaman yang lalu negara-negara mayoritas muslim akan dijadikan kambing hitam dan pion-pion oleh dua kuasa besar tersebut manakala para pemimpin negara-negara mayoritas muslim masih menggantungkan diri kepada mereka dan memiliki sifat hubbuddunya wa karahiyatul maut. Hasil akhirnya adalah akan ada negara mayoritas muslim yang terikat dengan ideologi kapitalis dan akan ada juga yang teerpasung dalam pangkuan ideologi komunis. Gambaran ini telah bermula semenjak Rasulullah SAW menyebarkan Islam dahulu kala di antara dua kuasa besar dunia; Romawi dan persia. Nabi berupaya mendobrak dua kuasa besar tersebut dengan Jihad fi sabilillah sehingga sampai pada zaman khulafaurrasyidin satu persatu kuasa besar dunia itu jatuh ketangan ummat Islam.

Namun ketika berakhirnya khilafah Utsmaniah di Turki tahun 1924, setelah perang dunia pertama Inggeris muncul sebagai kuasa besar dunia, negara-negara kecil dibentangkan atas daya upaya Inggeris sehingga lahirnya Saudi Arabia, Kuwait, Oman, Qawait, Uni Emirat Arab, dan lainnya yang sengaja dipisahkan dari induknya Khilafah Uthmaniyah oleh Inggeris. Pasca berakhirnya perang dunia kedua tahun 1945 lahirlah dua kuasa besar dunia (USA dan USSR), wujud pula perang dingan antara kedua negara tersebut, berdiri pula Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dimotori oleh negara Amerika, Inggeris, Cina sehingga dengan mudah mereka menetapkan lima negara kafir  (Amerika Serikat, Inngeris, Uni Soviet, Perancis, dan Cina) sebagai negara-negara yang memiliki hak veto dalam lembaga dunia tersebut

Tatkala itulah dunia terbelah dua, sebelah timur dikuasai ideologi komunis/atheis di bawah naungan Uni Soviet, dan sebelah barat berada di bawah naungan Amerika Serikat dengan ideologi kapitalis. Dalam kondisi seperti ini sebahagian negara mayoritas muslim berpihak kepada Amerika dan sebahagiannya berpihak kepada Uni Soviet, efeknya adalah kedua golongan negara muslim tersebut terpaksa harus bertengkar dikarenakan tuannya bertengkar, tidak cukup di situ semua negara muslim terpasung oleh dua kuasa besar dunia tersebut sehingga Uni Soviet bubar dan Amerika menjadi penguasa tunggal di dunia.

Beranjak dari pengalaman tersebutlah maka dunia Islam dan ummat Islam wajib berhijrah politik, berhijrah ekonomi, berhijrah mata uang dan kembali kepada ketentuan Islam. Dengan demikian ummat Islam akan betul-betul mampu merajut kehidupan baru di tahun baru 1441 ini asalkan dengan iktikat dan semangat MA’AL HIJRAH, insya Allah.

Penulis : (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)