MENGENAL POLITIK

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisak; 58, 59)

 

PENGERTIAN POLITIK

Kata politik dalam Bahasa latin disebut; politica, dalam Bahasa yunani; politikus, dalam Bahasa Belanda; politiek, dalam Bahasa perancis; politique, dalam Bahasa inggeris; politics, dalam Bahasa Arab; siyasah, dan dalam Bahasa Aceh disebut pulitek. Teuku Iskandar, sarjana asal Aceh mendefinisikan politik sebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pemerintahan seperti dasar pemerintahan dan sebagainya yang meliputi ilmu siyasah, pemerintahan, kenegaraan, partai politik, ahli politik, dan tipu muslihat. Macchiavelli memberikan lima pengertian politik adalah; kekuatan, balas membalas, kemenangan, topeng, dan kelemahan lawan, semua itu menjurus kepada praktik politik halal cara ala Macchiavelli.

Dengan pengertian semacam itu maka dapat dipastikan bahwa rumusan politik di luar Islam itu sangat rancu bagi ummat Islam yang mengamalkannya karena semua rumusan itu berlawanan dengan konsep dan prinsip politik dalam Islam. Dalam Islam politik itu diposisikan sebagai bahagian dari pada ibadah sehingga praktiknya jauh dari tipu menipu, jauh dari kecurangan, jauh dari ancam mengancam, jauh dari terror meneror, jauh dari penggunaan kuasa untuk mendhalimi lawan politiknya.

Pengertian politik dalam Islam adalah seperangkat aktivitas kenegaraan dan keummatan yang diamalkan oleh seseorang baik yang sedang berkuasa ataupun yang berupaya untuk berkuasa untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, ketentraman bagi agama, bangsa, dan negara yang sesuai dengan ketentuan syari’ah. Sehingga dalam politik Islam tekanan ketuhanan lebih penting dan utama dibandingkan dengan tekanan kemanusiaan sebagaimana yang wujud dalam politik sekuler. Dalam politik Islam moral politik dapat menentukan seorang politikus masuk syurga atau masuk neraka, sementara dalam politik sekuler tidak mengedepankan kehidupan akhirat yang terkait dengan syurga dan neraka.

Di situlah perbedaan Antara posisi politik Islam dengan politik sekuler di mana dalam politik Islam semua aktivitas politiknya wajib dipertanggung jawabkan kepada Allah sebagai Tuhan. Namun dalam politik sekuler aktivitas politiknya hanya sekedar dipertanggung jawabkan kepada manusia saja apakah kepada rakyat atau kepada penguasa. Manakala ummat Islam tidak menjalankan politik Islam dan sebaliknya mengamalkan sistem politik sekuler maka kehidupan mereka jauh dari ridha Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

KONSEP POLITIK ISLAM

Dalam syari’ah dikenal istilah siyasah syar’iyyah dan fiqh siyasah sebagai nama nama bagi politik dalam kehidupan manusia. Siyasah syar’iyyah merupakan konsep asas rumusan politik dalam Islam sementara fiqh siyasah merupakan operasional politik dalam Islam. Ketika keduanya digabungkan maka lahirlah sebuah praktik politik yang representatif bagi penghuni dunia yang jauh dari diskriminasi, jauh dari intiminasi, jauh dari kecurangan, jauh dari pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM), jauh dari tipuan, dan jauh dari ancam mengancam. Kalau politik Islam yang berjalan maka orang-orang kafir akan selamat dan aman dalam negara yang berlaku sistem politik Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Negara Madinah di bawah kontrol Rasulullah SAW.

Siyasah syar’iyyah diasaskan kepada tiga landasan fundamental, yaitu Tauhid, Risalah, dan Khilafah. Landasan tauhid mengedepankan konsep ketuhanan dalam politik yang diikat dan terikat dengan amar ma’ruf nahi munkar sehingga para pelaku politik selalu dikontrol oleh amalan halal haram di mana apabila mereka berpolitk dengan aktivitas halal akan selamat dunia akhirat, dan sebaliknya para politikus yang mengamalkan aktivitas politk haram akan terancam dengan hukuman tuhan dalam bentuk yang beragam, selaras dengan ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. (An-Nisak; 56,57)

Landasan risalah mengajak ummat Islam untuk beramal dan berprilaku politik sebagaimana amal dan prilaku politik Rasulullah SAW. Beliau telah mengasaskan sistem politik yang sangat representatif bagi penduduk dunia manakala beliau membentuk negara pertama di Yatsrib yang kemudian beliau ganti nama dengan Madinah dan menjadi Negara Madinah sebagai format negara Islam pertama di dunia raya. Empat hal paling substansial dilakukan beliau manakala menguasai Yatsrib adalah; membangun masjid, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, mewujudkan shahifah Madinah, dan menggantikan nama Yatsrib menjadi Madinah.

Semua itu Nabi lakukan semata-mata untuk kepentingan Islam dan ummat Islam, pembangunan masjid menjadi lambang ketauhidan tempat ummat Islam menyembah Allah dan juga menjadi sekretariatnya ummat Islam dalam menguasai negara dan dunia. Penyatuan Anshar dengan Muhajirin merupakan penggabungan dua kekuatan yang kemudian mampu memenangkan perang Badar yang berhadapan seribuan lebih kafir Quraisy dengan tiga ratusan pasukan muslim, kemenangan tersebut berawal dari ukhuwwah Antara Anshar dengan Muhajirin (ummat Islam tidak boleh bercerai berai)

Pewujudan shahifah Madinah (Konstitusi Madinah) merupakan siasat Nabi untuk menaklukkan para penghuni Yatsrib dan menguasai wilayahnya dengan cara konstitusional yang tidak punya peluang bagi mereka untuk membantah dan melawannya karena sudah sangat konstitusional. Sementara penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah merupakan salah satu siasat Nabi untuk menghilangkan jejak-jejak kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan dan menjadikan Madinah ril milik ummat Islam. Siasat-siasat Rasulullah SAW tersebut semuanya bermuara kepada keberuntungan bagi Islam dan ummat Islam, artinya seorang pemimpin Islam wajib baginya untuk membantu, membela, dan memajukan Islam serta ummat Islam manakala ia punya kuasa dan berkuasa, bukannya memasukkan goal kegawang sendiri seperti yang terjadi selama ini.

Fiqh siyasah sebagai konsep operasional politik Islam menggambarkan ruang lingkup wilayah operasionalnya yang terdiri dari Siyasah Dusturiyah sebagai politik ketatanegaraan, Siyasah Maliyah sebagai politik ekonomi dan keuangan negara, dan Siyasah Dauliayah atau Siyasah Kharijiyah sebagai politik luar negara. Kesemua itu harus wujud dan diamalkan dalam sistem poltik Islam yang terikat dan tidak dapat dipisahkan dengan konsep siyasah syar’yyah yang telah kita gambarkan di atas tadi. Manakala operasional fiqh siyasah keluar dari lingkupan dan anjuran siyasah syar’yyah maka minimal ada tiga hal yang akan terjadi; pertama, Islam semakin hari semakin mundur dan hancur; kedua, ummat Islam yang semestinya sebagai penguasa akan menjadi rakyat jelata; ketiga, wilayah atau negara yang pada dasarnya milik ummat Islam akan menjadi milik musuh Islam.

Karena itu, persoalan politik bukanlah persoalan sambilan, melainkan persoalan utama yang wajib dikuasai oleh ummat Islam di mana saja mereka berada, karena gagal mengamalkan konsep politik Islam umat Islam akan celaka, akan merana, akan sengsara, dan akan menjadi budak musush-musuh Allah Ta’ala. Maka tha’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan jangan makar dan membangkan kepada Allah dan Rasulnya karena Allah sudah memberikan gambaran akibat apa yang bakal diperoleh oleh hambanya:

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”.

Penulis : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah pada prodi HTN, Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry)