Meneladani Rasul; Mengurangi Olah

 

Oleh Muhammad Syuib

Setiap datangnya bulan Rabi’ul Awwal, kita selalu diingatkan oleh sosok Nabi Muhammad SAW. Seorang manusia biasa yang berkarya luar biasa. Berasal dari kalangan masyarakat tetapi mencerminkan karakter malaikat. Seorang yang mendapat tawaran jadi orang kaya raya tetapi lebih memilih kehidupan biasa saja. Seorang yang berbicara berdasarkan fakta, bukan rekayasa. Seorang yang sangat dicintai tetapi lebih senang mencintai (ummatnya) dan seorang yang cerdas walaupun tidak pernah berada dikelas.

Setiap bulan ini pula ummat Islam selalu memperingati hari kelahirannya. Beda daerah beda pula bentuk peringatannya. Di Aceh kita memperingatinya dengan melakukan khanduri molod yang dilanjutkan dakwah islamiyah pada malam  hari. Durasinya pun lebih lama dibandingkan daerah lain. Diawali dengan molod awai yang diperingati di setiap bulan Rabi’ul Awwal, molod tingeh di bulan Rabi’ul Akhir dan molod akhe di bulan Jumadil Awwal.

Harapan dari Peringatan Maulid Nabi

Bertahun-bertahun pula kita sudah memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW. Tapi dampak apa yang sudah kita rasakan dari peringatan-peringatan tersebut! Sudahkan kita meneladaninya dengan mengikuti sunnahnya, mempraktekkan sifat dan karakteristiknya serta menjadikannya sebagai referensi hidup? Syukur jika diantara kita senantiasa on the track untuk terus meneladani Nabi serta konsisten bersama ajaran-ajarannya. Namun, kalaupun belum maka patutlah menjadi sebuah pertanyaan kenapa hal itu bisa terjadi. Lantas apa pemaknaan kita dari setiap peringatan maulid Nabi? Sebatas khanduri sajakah? Kalau ini yang terjadi maka terlalu naif.

Idealnya dalam setiap peringatan hari lahir Nabi membuat kita lebih dekat dengannya. Meneladani sifat-sifatnya yang agung serta melaksanakan apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan yang dilarangnya. Al-qur’an saja mengakui adanya keteladanan pada diri Nabi maka apalagi kita sebagai manusia biasa. Dua diantara sifat-sifat yang agung itu adalah siddiq dan amanah yang terasa mulai pudar dalam diri manusia zaman now. Munculnya hoax dimana-mana serta prilaku olah yang merajalela menjadi indikator jika dua sifat Nabi tadi mulai diabaikan.

Sifat siddiq mencerminkan setiap tutur kata Nabi yang jujur dan didasarkan pada fakta-fakta, bukan rekayasa (hoax). Sifat amanah sederhananya dipahami sebagai yang terpercaya. Dalam arti segala urusan yang diserahkan kepada Nabi, maka beliau akan melaksanakannya sesuai SOP yang ada. Tidak ada mark up apalagi laporan fiktif, semuanya dapat dipertanggung jawabkan dunia akhirat. Dalam bisnis yang dijalani bersama Siti Khatidjah menjadi salah satu contoh bagaimana jujur dan amanahnya Nabi dalam melaksanakan suatu amanah dan pekerjaan. Dengan sifat-sifat ini pula membuat beliau digelar sebagai al-amiin oleh masyarakat Mekkah dan Madinah kala itu.

Olah dan Tantangan Peringatan Maulid di Zaman Now

Olah bukanlah terma asing dalam kosa kata masyarakat. Penulis yakin sebagian besar publik akrab dengan istilah ini. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata olah diartikan dalam beberapa pengertian. Salah satunya adalah olah disebut sebagai cara (dalam) melakukan sesuatu untuk mencapai maksud tertentu. Atau olah juga diartikan sebagai akal seseorang  dalam arti daya upaya dan bisa juga sebagai tipu daya. Memperhatikan definisi ini, maka terminologi olah lebih cenderung berkonotasi negatif.

Kecenderungan ini relevan pula dengan ekspresi publik dalam merespon olah tersebut. Dalam pergaulan sehari-hari misalnya ketika seseorang sedang meng-olah maka ia akan cenderung memberi kesan positif secara utuh dan bahkan melebih-lebihkan lawan bicaranya atau sasarannya, meskipun faktanya berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan. Bagi yang terbiasa dengan olah maka ia akan menyesuaikan diri dan diikuti dengan olah balasan. Sedangkan bagi yang belum, cenderung cepat terlena dan tersanjung serta dianggapnya sebagai sesuatu yang serius.

Akibatnya, jika seseorang sedang melakukan praktek olah maka sesuatu yang benar berpotensi dibilang salah, yang salah bisa benar, hak orang diolahnya menjadi hak dia, memark up anggaran, laporan fiktif, harga satu unit barang tertentu dibuatnya dua kali lipat dari yang seharusnya, kegiatan lima hari disulapnya menjadi dua hari, dalam pelayanan publik jika bisa dipersusah untuk apa dipermudah serta tidak terjadinya the wright man on the wright place dalam jabatan tertentu.  Mudah untuk menemukan praktik olah yang seperti ini disekitar kita, bahkan dalam bentuk yang lebih beragam dan moderen lagi. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi jika prilaku olah ini terus bersemanyam dalam pikiran dan praktik seseorang. Kerusakan sistemik akan terjadi.

Maka Itu pula yang membuat peringatan maulid Nabi di zaman now memiliki tantangan tersendiri disaat prilaku olah barangkali masih mengepung pribadi kita. Peringatan hari lahir Nabi setiap tahun diadakan, namun prilaku olah seakan sulit berkurang. Faktanya, praktek olah di atas masih bisa ditemukan dimana-mana. Bahkan banyak kasus harus berakhir di pengadilan berawal dari olah. Maka ini sama artinya disatu sisi kita masih terus mengingat Nabi tapi terbatas dalam seremoni-seremoni tetapi disisi yang lain kita terus melupakan Nabi dalam hal  substansi.

Sifat Siddiq dan Amanah Sebagi Penangkal Olah

Prilaku olah dapat dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari yang berpangkat tinggi hingga tidak berpangkat sama sekali. Demikian juga, keinginan olah bisa bersumber dari dalam diri seseorang dan atau karena pengaruh lingkungan sekitar. Seseorang yang awalnya tidak memiliki niat untuk olah bisa berubah karena berada dalam lingkungan yang terbiasa olah. Namun begitu, kalau yang bersangkutan meneledani sifat siddiq dan amanah Nabi Muhammad SAW  maka mudah baginya untuk menahan nafsu olah. Maka dari itu penting artinya bagi setiap orang untuk melepaskan diri dari prilaku olah dengan cara meneladani sifat-sifat Nabi. Sifat siddiq dan amanah adalah diantara dua sifat penting yang harus kita contohi agar jauh dari meng-olah.

Benar, hidup di zaman now bukanlah perkara mudah untuk benar-benar terlepas dari prilaku olah. Terlebih-lebih bagi generasi milenial yang menjadi harapan bangsa dan agama sedikit banyak juga telah terkontaminasi dan terjebak dalam pusaran olah generasi senior. Namun begitu, kita harus optimis bahwa prilaku olah bisa diatasi dengan meneladani Nabi. Dan inilah essensi peringatan maulid Nabi yakni mengajak kita mengenang kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sebagai seseorang yang berintegritas tinggi dan sepanjang hidupnya tidak pernah meng-olah, lalu meneladaninya dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dengan begitu, maulid Nabi menjadi instrumen untuk menjangkau kembali bagaimana kita hidup seharusnya. Nah!!!

 

Muhammad Syuib, MH, MLegSt, Alumunus Dayah Fathul ‘Ainiyah Cot Lipah Paya Seutui, Ulim-Pidie Jaya. Saat ini Dosen pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh. Email: mosyumid@yahoo.com