LARANGAN MENGUMPAT DAN MEMFITNAH DALAM ISLAM

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Perkataan fitnah berasal dari bahasa Arab; alfitnah yang bemakna: ujian dan cobaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) fitnah diartikan sebagai; perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang, itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji. Memfitnah berarti menjelekkan nama orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya yang berefek negatif dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Fitnah berbeda dengan nasehat, tujuan nasehat adalah agar orang tidak melakukan kesalahan serupa di masa yang akan datang. Umpamanya ada orang yang berbuat salah lalu kesalahan tersebut diperbaiki dengan lisan atau dengan tulisan dengan tujuan agar sipelaku kesalahan dapat berubah dan pihak lain dapat mengambil ibrah untuk tidak melakukan kesalahan berikutnya.
Dalam ensiklopedia bebas: Wikipedia, disebutkan bahwa Fitnah atau dergama merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Sementara dalam Al-Qur’an kata fitnah memiliki banyak arti antaranya: pertama, cobaan dan ujian (Al-Ankabuut: 2). Kedua, Memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya (Al-Maaidah: 49). Ketiga, siksa (An-Nahl: 110). Keempat, Penyesatan (Al-Maaidah: 41). Kelima, gila (Al-Qalam: 6), dan seterusnya.
Sementara umpat sebagaimana tertera dalam KBBI merupakan perkataan yang keji (kotor dan sebagainya) yang diucapkan karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya). Sedangkan mengumpat mengandung makna memburuk-burukkan orang; mengeluarkan kata-kata keji (kotor) karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya); ia juga bermakna mencerca; mencela keras; mengutuk orang karena merasa diperlakukan kurang baik; memaki-maki orang dan seumpamanya.

KATEGORI UMPAT DAN FITNAH
Dari segi penafsiran bahasa dan istilah antara umpat dan fitnah itu nampak memiliki makna serumpun yang tidak jauh berbeda. Namun kalau mau dispesifikasikan lebih rinci lagi sebenarnya dari prilaku umpat dan fitnah tersebut dapat diperinci lagi menjadi tiga kategori, yaitu: (1). Al-Ghībah, ialah menceritakan atau mengatakan sesuatu yang betul terjadi terhadap seorang muslim di belakangnya yang apabila sampai berita tersebut ketelinganya ia merasa sakit hati. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW riwayat Muslim yang artinya:
“Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya: “Tahukah kalian apa itu ghibah”, para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Kemudian Nabi berucap: “mengatakan sesuatu kepada saudaramu yang dibencinya” salah seorang sahabat menanyakan lagi: “kalau yang saya katakan itu ada padanya”, Nabi berucap lagi: “Kalau yang kamu katakan itu ada padanya dan ia sakit hati karenya, itulah namanya ghibah, kalau yang kamu katakan itu tidak ada padanya, kamu sudah berdusta (memfitnahnya)”.
Jadi mengatakan sesuatu yang ada pada saudara kita seperti saudara kita itu bertubuh pendek, panjang, kurus, dan gemuk, lalu kita sebutnya si pendek, si panjang, si kurus, sigemuk yang menyakitkan hatinya termasuklah dalam kategori ghibah yang dilarang Rasulullah SAW. Apalagi kalau sampai kita dengan sengaja mempromosikan kekurangan yang ada pada dirinya untuk memalukannya, yang demikian itu sangat tidak dibolehkan dalam Islam.
(2). Al-Ifki, yaitu apabila seseorang mendapatkan satu berita fitnah yang tidak jelas asal muasalnya lalu langsung disampaikan ke pihak lain tanpa ada sumber rujukan yang shahih sehingga berita tersebut beruntun sampai akhir zaman tidak ada kepastian sumbernya. Zaman sekarang berita semacam ini sering hadir melalui media sosial seperti WhatsApp (WA), dari satu penerima berita dikirim ke group WA lainnya sehingga ia menembusi ribuan malah jutaan penerima yang tidak terkontrol adanya. Untuk menjaga ukhuwwah Islamiyah perkembangan al-Ifki semacam ini perlu dikontrol dan difilter sehingga menjauh dari umpat dan fitnah serta ghibah.
(3). Al-Buhtān, adalah menceritakan sesuatu prilaku buruk yang tidak ada pada diri orang yang diceritakannya sehingga cerita tersebut dapat berefek negatif bagi orang yang diceritakan tersebut. Satu hadis dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari terkait dengan bau busuk berbunyi, yang terjemahannya: “tahukah kalian semuanya bau apakah ini?”, shahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”, Nabi bersabda: “ini adalah baunya orang-orang yang mengumpat orang-orang beriman”.
Hadis dari Ali bin Abi Thalib berkaitan dengan aib sesama muslim berbunyi yang artinya: “jauhilah kamu semuanya dari membicarakan tentang orang lain, karena sesungguhnya dalam pembicaraan tersebut terdapat tiga bencana; pertama, do’anya tidak akan dikabulkan; kedua, kebaikannya tidak akan diterima; ketiga, keburukan atau kehinaannya bertambah-tambah”. Berhubungan dengan kasus tersebut Rasulullah SAW dalam hadis dari Anas bin Malik bersabda yang artinya: siapasaja yang membicarakan aib saudaranya sesama manusia, maka nanti di hari kiamat Allah akan menukarkan saluran kencingnya kepada arah saluran kotorannya (duburnya).

KENAPA ISLAM MELARANG MENGUMPAT DAN MEMFITNAH
Allah SWT berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12:

yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
Ada tiga riwayat yang penulis temui berkenaan dengan asbab nuzul potongan ayat: “wa la yaghtab ba’dhukum ba’dha” dalam al-Hujurat 12 tersebut adalah; riwayat Imam Al-Suyuti, Ibnu Munzir, dan Ibnu Abbas. Ketiga riwayat tersebut menyatakan bahwa penyebab turun ayat tersebut berkaitan dengan sosok Salman Al-Farisi. Suatu ketika selepas makan Salman tertidur nyenyak dan terdengar bunyi mendengkur dari mulutnya, seseorang dan sebahagian orang yang mendengarnya menceritakan kepada orang lain tentang prihal tersebut, maka turunlah ayat terebut. Menurut Ibnu Abbas; ada dua orang yang berkunjung kerumah Salman Al-Farisi yang miskin tersebut seraya meminta makanan, tetapi Salman tidak memilikinya, lalu dua orang tersebut meminta Salman untuk meminta sedikit makanan pada Rasulullah SAW. Ketika Salman pergi meminta makanan pada Rasulullah SAW dua orang tersebut mengumpat Salman di rumahnya. Mendengar permintaan Salman tersebut Rasulullah berucap: tidak perlu lagi makanan untuk dua orang tersebut karena keduanya sudah kenyang memakan daging, pulang dan katakan demikian pada keduanya ujar Nabi. Lalu Salman kembali kerumahnya dan berucap demikian kepada dua orang tetamunya yang membuat keduanya heran, lantas keduanya menjumpai Rasulullah seraya berucap: kami tidak makan apa-apa di rumah Salman ya Rasul Allah. Nabi menjawab: engkau sudah kenyang memakan daging saudaramu Salman dengan mengumpatnya ketika Salman menjumpai saya barusan tadi. Pada suasana demikianlah Allah turunkan ayat tersebut.
Itulah kenapa Allah mengharamkan mengumpat dan memfitnah bagi orang-orang muslim dan mukmin. Walaupun tidak sedikit muslimin dan mukminin yang lupa atau sengaja melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah semestinya kita menjaga lidah, menjaga mulut, dan menjaga ukhuwwah Islamiyah sesama kita demi wujudnya perpaduan ummah dan kekuatan ummah yang dapat mempertahankan eksistensi Islam dan muslimin. Kalau ada orang-orang yang dengan sadar menyesatkan orang lain, mendiskreditkan orang lain, menyalahkan orang lain, menyudutkan orang lain, memfitnah dan mengumpat orang lain seperti yang tengah terjadi di merata tempat dalam masyarakat Islam hari ini maka segera hentikan karena itu tidak hanya memperoleh dosa melainkan ikut juga menghancurkan Islam dan ummatnya.
Ketika kita mendapatkan orang yang suka mengumpat dan memfitnah atau mengghibah saudaranya seiman seagama, ingatkan mereka akan kasus Salman Al-Farisi yang diejek dan difitnah saudaranya sehingga datang teguran Allah kepadanya agar dia selamat dari ancaman Allah yang sangat dahsyat akibat fitnah, umpat dan ghibah tersebut.

 

Penulis adalah (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry).