KEKUASAAN DARI ALLAH MILIK ORANG BERIMAN

BACKGROUND
Allah SWT telah menciptakan ummat manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya sesuai dengan keteranganNya: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin (95); 4). Sesungguhnya Allah tidak akan menciptakan mereka kalau bukan bertugas untuk menghambakan diri kepadaNya semata, firmanNya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Allah juga selain menyuruh hambaNya mengabdi kepadaNya menyuruh juga untuk saling bersahabat dan berbuat baik dalam kehidupan ini, firmanNya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu…” (QS. An-Nisa [4]: 36). Semua itu melambangkan keimanan dan ketaqwaan hamba terhadap Khaliknya sebagai pihak yang diberikan kekuasaan.
Iman dan taqwa seseorang hamba menjadi ukuran datangnya kasih sayang Allah kepadanya. Ia juga menjadi miniatur kepada siapa Allah memberikan kekuasaan dan kedudukan tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika seorang muslim beriman dan bertaqwa kepada Allah maka Allah berikan kekuasaan kepadanya selaras dengan janjiNya dalam surah An-Nur (24) ayat 55: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,..”
Ketika senegeri ummat Islam secara beramai-ramai beriman dan bertaqwa kepada Allah maka Allah janjikan keberkahan dan rizki yang melimpah ruah, sebaliknya manakala mereka ingkar terhadap nikmat Allah maka bala dan malapetakalah yang diturunkan Allah kepada mereka. Firman Allah: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A’raf (7); 96). Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. An-Nahl (16); 112).

POSISI MANUSIA
Manusia merupakan salah satu jenis makhluk yang diciptakan Allah SWT selain malaikat, hayawan, tumbuh-tumbuhan, jin, iblis, syaitan, syurga, nerakan dan lainnya. Allah ciptakan manusia dengan kelebihan-kelebihan tertentu seperti diberikan akal dan pikiran, diberikan nafsu, hasrad, dan keinginan yang tidak diberikan secara simultan kepada makhluk ciptaan Allah lainnya. Di sini pula membuat manusia memiliki sedikit kelebihan berbanding dengan makhluk lainnya yang terkadang mempunyai nafsu tetapi tidak memiliki pikiran seperti hayawan, memiliki pikiran tetapi tidak mempunyai nafsu seperti malaikat. Ada juga yang memiliki nafsu dan pikiran tetapi nafsu dan pikirannya penuh digunakan untuk kejahatan melawan Allah seperti syaithan.
Dengan kelebihan manusia seperti itu maka Allah memberikan hak istimewa kepadanya yang sama sekali tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqrah (2); 30).
Merupakan pemberian paling istimewa kepada manusia ketika Allah angkat mereka menjadi khalifah untuk menguasai dunia dengan keramahan, dengan kesejukan, dengan penuh kasih sayang dan jauh dari berbagai manipulasi, kekerasan, dan pembunuhan. Allah menyuruh ummat manusia untuk saling mengenal dan bersahabat sesamanya; Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat (49); 13).
Jadi manusia di satu sisi merupakan makhluk Allah yang tidak beda dengan posisi makhluk lainnya seperti hayawan, jin, iblis, syaithan, Malaikat, syurga, nerakan, dan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi dalam kapasitas sebagai mukallaf manusia dibebankan kewajiban dan dilarang kemungkaran, maka posisi manusia yang beriman dan beramal shalih menjadi jauh berbeda dengan makhluk lainnya. Dalam kapasitas semacam ini manusia selain sebagai makhluk juga sebagai hamba, yaitu makhluk Allah yang menghambakan dirinya semata-mata kepada Allah bukan kepada yang lainnya.

KEKUASAAN MILIK MUKMININ
Dalam kapasitas sebagai makhlauk dan hamba yang beriman dan beramal shalih maka Allah memberikan posisi tertentu kepada manusia yang penuh mengikuti perintah dan meninggalkan larangan Allah. Firmannya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (An- Nur (24); 55).
Bagaimana ciri-ciri khas orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya, digambarkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini; “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Al-Hajj (22); 41).
Ibnu Abi Hatim menegaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan shahabat Rasulullah SAW.yang diusir oleh orang-orang kafir. Tetapi walaupun terusir dari negerinya para shahabat tetap saja menunaikan shalat, membayar zakat, beramar ma’ruf dan nahi mungkar sehingga Allah memberikan kekuasaan di bumi, firmanNya; “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…”(An- Nur (24); 55).
Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz menafsirkan surah Al-Hajj ayat 41 bahwa ayat tersebut diturunkan bukan berkenaan dengan pemimpin saja melainkan juga berkenaan dengan rakyat. “Sesungguhnya tugas ini tidak diwajibakan kepada pemimpin semata-mata melainkan kepada rakyat juga. Beliau menjelaskan bahwa tugas penguasa adalah membimbing rakyat pada jalan Allah dan mempersatukannya serta menanamkan rasa gotong royong di antara sesama rakyat, dan memberi petunjuk kepada rakyat kepada jalan yang paling lurus dengan segala kemampuannya. Dan sesungguhnya kewajiban rakyat terhadap pemimpinnya adalah hendaknya tha’at kepadanya dengan hati yang tulus dan ikhlash, bukan lahiriyahnya tunduk tetapi batiniyahnya menolak”.
Ayat 41 surah al-Hajj tersebut berhubungan langsung dengan surah An-Nur ayat 55 yang telah kita sebutkan di atas di mana Allah akan menjadikan penguasa di bumi dari kalangan orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Oleh karenanya mustahil seorang pemimpin yang tidak beriman dan tidak beramal shalih akan berjaya dan sukses dalam kepemimpinannya melainkan dengan cara-cara jahat seperti tipu menipu, teror meneror, ancam menggancam, dan semisalnya. Janji Allah ini pasti dan sudah terbukti pada zaman Nabi.
Nabi dan para shahabat berhasil hidup dan menguasai Madinah secara full setelah diusir oleh kafir Quraisy di Makkah karena faktor beriman, beramal shalih dan beramar ma’ruf bernahi mungkar. Apabila seluruh pemimpin ummat Islam di dunia beriman dan beramal shalih dengan sesungguhnya, maka tidak mustahil ummat Islam bersama para pemimpinnya dapat menguasai dunia seperti zaman Nabi. Persoalan hari ini adalah mayoritas ummat Islam di dunia dipimpin oleh pemimpin yang tidak full beriman, beramal shalih dan tidak beramar ma’ruf bernahi mungkar, efek sampingnya rakyatpun tidak ikut penuh pemimpin tersebut sehingga terjadi demonstrasi dan penolakan terhadap kebijakan pemimpin yang dianggap tidak bijak oleh rakyat dan seumpamanya.
Untuk menutup artikel ini marilah kita hayati satu ayat Allah yang menjadi janji Beliau kepada hambanya: Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Al-Israk (17); 16.

Tulisan:

Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA
(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)