JANGAN CAMPUR ADUK HAQ DENGAN BATHIL

JANGAN CAMPUR ADUK HAQ DENGAN BATHIL

(Mengaca kepada pengalaman NKRI)

Oleh : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

 

Ketika kita mengakses haq dan bathil (benar dan salah) bermakna kita sedang berada pada dua kutup berbeda yang tidak akan pernah menjadi sama dan juga tidak akan pernah mau menyatu. Haq itu kebenaran yang datangnya dari Allah dan disandang ummat manusia dalam berbagai aktivitas hidup dan kehidupannya, sementara bathil adalah kesalahan yang selalu datangnya dari ummat manusia yang cenderung dipacu dan diarahkan oleh keinginan hawa nafsunya. Maka ketika mau dicampur dan dihaduk antara haq dengan bathil sama halnya seperti mencampurkan air dengan minyak yang masing-masing mengambil posisi berbeda dan tidak mau menyatu. Apalagi kalau sempat minyak sedang mendidih lalu dicampur air ke dalamnya, bukan hanya tidak mau membaur melainkan akan berantam antara keduanya sehingga hingar bingar di sekelilingya.

Dalam kehidupan ummat Islam sehari hari sering terjadi upaya dan usaha pencampuran antara haq dengan bathil, umpamanya ada orang Islam yang rajin shalat dan rajin juga berzina, rajin shalat rajin pula menipu, rajin puasa tetapi rajin juga korupsi dan makan riba. Kerja orang semacam itu semisal mencampur hadukkan air dengan minyak yang terlihat kalem, sunyi, senyap dan nyaman. Sebenarnya apa yang dilakukan itu terkesan saja senyap dan nyaman tapi hakikatnya si manusia tersebut tidak pernah tenteram jiwa raganya karena prilaku mencampur haduk antara yang haq dengan yang bathil.

Apalagi kalau sempat yang dicampurkan itu yang menyudutkan Islam seperti mencampurkan antara sistem politik Islam dengan sistem politik kafir atau sekuler. Katakanlah seorang politikus muslim mendirikan partai tidak mengazaskan kepada Islam dan dengan azas demikian ia menggunakan kekuasaan hasil usaha partai non Islam tersebut untuk mendiskreditkan Islam semisal menolak perda syari’ah, tidak mau menjalankan hukum Islam, tidak mengedepankan kepentingan Islam dan ummat Islam, bahkan sebaliknya mendukung dan memberi peluang dan kesempatan kepada non muslim atau muslim sepilis (secularist, pluralist, dan liberalist) serta komunis/atheis untuk mengganggu dan menghancurkan Islam. Kondisi seperti ini tidak ubahnya orang telah mencampur hadukkan antara air dengan minyak panas yang sedang mendidih yang berakibat hingar bingar, berantam, berantakan, dan gontok gontokan.

Kondisi yang kita gambarkan tersebut boleh jadi terjadi langsung ketika air dicampur dengan minyak panas sebagaimana sifat aslinya kedua benda tersebut, boleh jadi ia terjadi kemudian seperti kasus kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1948 pimpinan Muso di Madiun dan tahun 1945 di Jakarta pimpinan Dipa Nusantara Aidit. Awalnya memang terlihat padanan dan campuran ideologi Islam dengan Komunis seperti banyak menyatu dengan ummat Islam Indonesia baik secara ikhlas maupun paksaan, tetapi kemudian terjadilah seperti percampuran air dengan minyak panas yang kemudian harus ada pihak yang kalah dan pihak yang menang yang disertai oleh kerugian besar yang sulit ditebus kembali.

Situasi semisal itu bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja, khususnya di negara-negara mayoritas ummat Islam yang menjadi incaran dan sasaran kuasa besar dunia untuk menjadi budak, boneka, atau ladang uji coba senjata mereka. Manakala pemimpin-pemimpin negara-negara mayoritas muslim memilih jalan pencampur adukan air dengan minyak sebagaimana gambaran di atas maka ketika itulah kondisi yang kita gambarkan tersebut akan muncul dan terjadi di negara mereka.

 

KASUS INDONESIA

Di negara besar bernomor urut empat di dunia yang bernama Indonesia, upaya pencampuradukan air dengan minyak selalu terjadi setiap rezim yang berkuasa selama tujuh orang presiden berlalu. Adakalanya air dari Indonesia itu dicampur dengan minyak panas dari Uni Soviet, adakalanya air sejuk di Indonesia dihaduk dengan minyak dari Amerika Serikat, dan terkadang air di Indonesia diletakkan dalam satu bejana dengan minyak dari negeri Tiongkok. Dari hasil hadukan tersebut sebahagiannya sudah ada efeknya dan sebahagian lain sedang kita tunggu apa yang bakal terjadi. Yang jelas, air dengan minyak tidak akan pernah bersatu apalagi menyatu, lebih-lebih lagi kalau minyak itu sedang mendidih panas bukan hanya tidak menyatu melainkan akan berantam sehingga berakhir dengan hasil ada yang kalah dan ada yang menang.

Zaman Orde Lama (Orla) upaya pencampuradukan minyak dengan air terjadi sangat drastis ketika sang presiden mewujudkan wadah Nasakom (Nasional, Agama Komunis) yang menghaduk doktrin nasionalisme, dengan agama (Islam) dan komunis. Nasionalisme diwakili oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), agama diwakili oleh Nahdhatul Ulama (NU), dan Komunisme diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pencapuradukan tersebut betul-betul satu upaya brutal dan dungu yang melawan ketentuan Allah dengan mengedepankan hawa nafsu yang didasarkan kepada kepentingan sesa’at. Apalagi ketika rezim Orla mengkeramatkan Manipolusdek (Manifesto Politik, Undang-undang dasar 1945, sosialisme Indonesia, dan demokrasi terpimpin) sebagai kitab suci yang sekaligus ideologi bagi kaum nasionalist-secularist yang menjadi hadukan dan campuran antara haq dengan bathil paling berbahaya dalam kaca mata Islam.

Kondisi dan usaha pencampuradukan antara haq dengan bathil di Indonesia terus berlanjut sampai kepada rezim Orde Baru (Orba) dan rezim Orde Reformasi (Orsi). Paza zaman Orsi upaya pencampuradukan antara air denga minyak transparan terjadi manakala para penguasa negeri melegalkan atau minimal sekali member angin segar untuk berkembangnya beberapa aliran sesat seperti LGBT, Syi’ah, Ahmadiyah Qadiani, LDII, Islam Nusantara, Komunis/Atheis, dan lainnya.

Hari ini kondisi dan situasi negara berlambang garuda tersebut masih berada pada posisi sedang bercampurnya antara air dengan minyak, bahkan nyarisnya lagi minyak dari seberang itu sedang mendidih panas yang bakal menghanguskan air dari negeri ini. Keadaan semacam ini sepertinya bukan terjadi secara kebetulan melainkan ada anak negeri ini yang sedang berada di angkasa yang mengikut perasaannya akan tetap diangkasa manakala ia berhasil mencampur adukkan air dalam negeri dengan minyak panas dari negeri bermata sipit. Mari kita simak pasca 17 April 2019 nanti siapa yang menghabisi siapa, atau siapa yang makan siapa, atau siapa yang dimakan oleh siapa, atau bagaimana minyak panas mengeringkan air dalam negara berideologi Pancasila. Semoga sahaja muslimin Indonesia tidak selalu dimakan oleh sistem sekularisme, nasionalisme, komunisme, dan virus-virus lain yang berupaya keras menghabisi Islam dan muslimin Indonesia.

 

BAGAIMANA ARAHAN ISLAM

Allah SWT.telah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 42 yang artinya; Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui. Sesungguhnya upaya campur haduk antara yang haq dengan bathil itu merupakan prilaku dan tabi’at Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang suka menghaduk kebenaran Islam dengan kebatilan kepercayaan dan keyakinan mereka sehingga Allah menegur mereka dengan pertanyaan: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (Ali Imran;71).

Ternyata jawaban soalan tersebut tertera dalam surah yang sama Ali Imran ayat 72 dan 73): Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Dari jawaban tersebut selaraslah kisah itu dengan asbab nuzul ayat sebagaimana hadis Ibnu Ishak yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata; Abdullah ibnu Shaif, Adi bin Zaid, dan al-Harits bin Auf saling mengajak; mari kita beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad dan para sahabatnya di pagi hari, lalu kita kafir kepadanya di malam hari. Sampai kita merancukan agama mereka. Semoga mereka juga melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan sehingga mereka meninggalkan agama mereka sendiri. Lalu Allah turunkan firmanNya kepada mereka: wahai ahli kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebathilan, dan seterusnya.

Dari makna ayat sampai kepada asbab nuzul tersebut nyatalah bahwa Islam bersama dengan ajarannya merupakan sebuah kebenaran dan selain Islam adalah kebathilan. Maka Allah melarang sangat hambanya yang beriman dalam bingkai Islam untuk mencampuradukkan antara kebenaran Islam dengan kebathilan non Islam seperti yang sedang dan telah terjadi di NKRI. Semestinya mayoritas ummat Islam Indonesia harus menjadikan negeri yang dimerdekakan dengan lantuan takbir oleh 90% muslimin ini sebagai negara Islam yang berlaku hukum Islam penuh bukannya hukum peninggalan penjajah seperti hari ini. Manakala itu yang terjadi maka sahlah penghuni negeri ini telah, sedang, dan akan terus mencampuradukkan antara haq dengan bathil yang bakal dijawab oleh Allah dari upaya tersebut dengan pelajaran baru atau musibah baru, atau ancaman baru, atau mala petaka baru yang tidak pernah diketahui bangsa ini kapan, di mana, dan bagaimana. Semoga menjadi bahan renungan…

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.