Islam Antara ‘Akidah, Syari’ah, Akhlak dan Bala (4)

Konsekwensinya adalah negara mayoritas muslim yang dimerdekakan oleh ummat Islam dengan teriakan takbir (Allahu Akbar), dengan kalimah tauhid (Laa ilaha illallah), dan dengan tahmid (Alhamdulillah, subhanallah) masih menggunakan hukum ciptaan penjajah seperti di Indonesia, di Malaysia, di Mesir, di Aljazair, dan lainnya walaupun sudah lebih setengah abad merdeka. Pemandangan ini sungguh menyayat hati ummat Islam karena penjajah berhasil diusir tetapi prilaku penjajah tetap digunakan, inilah yang membuat ummat Islam tidak mendapatkan ridha Allah dalam mengelola negaranya. Bukan hanya sistem hukum yang masih menggunakan milik kafir tetapi sistem politik, sistem pendidikan, sistem ekonomi, budaya juga masih menyatu dengan milik penjajah. Inilah bukti kafir berjaya menguasai dunia mulai dari penguasaan UN/PBB dan menguasai negara mayoritas muslim sekalian.

Ummat Islam tidak boleh terlena dengan ninabobo kafir dalam kehidupan dunia ini, kembali kepada konsep Islam yang diterapkan Rasulullah SAW; pertama, perjuangan Islam bukan perjuangan pribadi, kaum dan golongan melainkan perjuangan ideologi untuk menguasai dunia dan mengaturnya dengan ‘aqidah Islamiyah, dengan syari’ah Islam, dan dengan akhlak karimah; kedua, ummat Islam tidak boleh terlena dengan tawaran material seperti uang, jabatan, harta benda, perempuan dan wanita, walaupun semua itu menarik dan menyenangkan mata; ketiga, ummat Islam wajib berada di bawah satu komando, satu kendali, satu imam, dan tidak boleh terpecah dan terbelah untuk menuju kesuksesan; keempat, ummat Islam harus banyak sabar dalam perjuangan sehingga mencapai kemenangan, gagal sekali berjuang untuk kedua kali, gagal lagi berjuang lagi sehingga memperoleh kemenangan, tidak boleh berhenti berjuang sebelum syahid atau beroleh kemenangan; kelima, ummat Islam jangan pernah berhadapan sesama muslim gara-gara persoalan khilafiah dan sejenisnya, fokus kita adalah kafir laknatillah yang tidak pernah senang dan puas kepada kita sebelum kita mengikuti keinginan mereka sebagaimana gambaran surah Al-Baqarah: 120.

Rasulullah SAW berhasil menguasai Yatsrib/Madinah dengan menggunakan strategi semacam itu, beliau juga berhasil mengusir kabilah Yahudi Bani Nadir, Bani Qainuqa’, dan Bani Quraidhah dengan menggunakan prinsip tersebut. Padahal mereka sebelumnya merupakan penguasa-penguasa Yatsrib yang memperbudak kaum tempatan (‘Aus dan Khazraj) dan mengadu domba mereka untuk kepentingan politik dan ekonominya. Bukti lain lagi kejayaan dengan strategi seperti itu adalah kejayaan Rasulullah SAW dalam merampas kota Makkah dari tangan kafir Quraisy yang menjadi rival utama beliau semenjak beliau diutus menjadi Rasul oleh Allah SWT sampai berjaya menaklukkannya lewat aneksasi perang tanpa darah karena dengan kekompakan muslim menakutkan kafir Quraisy sehingga mereka tidak berani melawan, akhirnya menyerah bulat-bulat ketika nabi bersabda man dakhala baitullah fahua aminan, wa man dakhala baiti Abu Sufyan fa hua aminan. Maka berlomba-lombalah mereka masuk kedalam dua tempat tersebut dengan aman.

Ummat Islam sebagai penghuni mayoritas dunia hari ini insya Allah masih mampu menaklukkan dunia sebagaimana Rasulullah melakukannya pada zamannya. Ummat Islam masih mampu menaklukkan Eropah hari ini sebagai mana Alfatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan Thariq bin Ziyah menaklukkannya pada masanya masing-masing dahulu kala, asalkan ummat Islam mengikat diri minimal dengan lima strategi yang kita cadangkan di atas tadi. Insya Allah dunia ini akan kembali dimiliki ummat Islam karena ummat Islam sebagai penyembah Allah, the real and original God on the world.

Persoalan yang paling mendasar yang membuat dunia runyam hari ini adalah persoalan akhlak penghuni dunia yang sudah kembali ke zaman para nabi sebelum Islam. Maraknya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) yang dahulu pernah terjadi di zaman nabi Luth muncul dan berkembang luas di dunia hari ini bukan hanya di kalangan orang-orang kafir melainkan dalam kehiidupan ummat Islam juga, bukan hanya ummat Islam dari golongan awam saja melainkan dalam kalangan orang-orang yang dipanggil ulama juga yang memimpin pendidikan mendidik anak bangsa, maka bagaimana mungkin lahir kader Islam anti LGBT kalau lembaga pendidikan Islam memproduknya.

Di benua Eropah, benua Amerika, Australia, dan beberapa negara di benua Asia, Afrika sudah lazim/lumrah, dan malah ada yang disahkan LGBT menjadi amalah harian mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam undang-undang negara mereka. Ketika itu sudah menjadi bahagian daripada pengakuan undang-undang sebuah negara bermakna prilaku kaum nabi Luth marak kembali di bumi hari ini. Yang menjadi persoalan besar bagi penghuni dunia hari ini adalah tidak ada pihak yang mencegahnya sehingga prilaku songsang tersebut berjalan lancar seperti air mengalir. Maka berlakulah peringatan Allah dalam surah Al-Anfal: 25 dan hadis riwayat Ahmad di atas tadi. Itulah punca segala bencana.

Kalau dahulu pembunuhan, penyiksaan, penganiayaan terhadap ummat manusia sangat sarat terjadi di zaman kehidupan kaum ‘Ad zaman nabi Hud, maka hari ini pembunuhan, pembantain, penganiayaan yang serupa juga wujud terhadap ummat Islam di Rakhine State Myanmar, terhadap Ummat Islam di Uyghur negeri Cina/Tiongkok, terhadap muslim di India, di Palestina, dan di mana-mana. Semua itu menjadi langgam dan formalitas paling meyakinkan kalau Allah bakal menghadiahkan bala demi bala kepada penduduk dunia hari ini sebagaimana yang pernah Allah turunkan kepada kaum terdahulu seperti hujan batu untuk kaum nabi Luth, banjir besar terhadap kaum nabi Nuh, gempa besar dan angin badai serta bunyi halilintar yang memecahkan pendengaran telinga kepada kaum nabi Syu’aib, kaum nabi Shalih, dan sebaginya.

Covid 19 yang menghebohkan dunia semenjak 6 Februari 2020 menjadi salah satu contoh kalau Allah sudah mulai menampakkan kekuasaannya kepada manusia-manusia yang anti Allah, kepada manusia-manusia yang anti Hukum Allah, dan kepada manusia-manusia biadab yang tidak mau berakhlak dengan akhlak karimah. Allah Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Perkasa, Maha Berkehendak, Maha ‘Arif lagi Bijaksana, dan milik Allahlah apa yang ada di bumi, di langit, dan di antara keduanya.

Sesungguhnya bala, malapetaka, dan ancaman Allah tidak pernah henti diberikan kepada hambanya yang dhalim dan bermakshiyat baik kepada Allah, kepada dirinya sendiri, kepada manusia lain, kepada hayawan, maupun kepada lingkungan alam sekitar. Kita sudah merasakannya dengan Tsunami Aceh 26 Desember 2004, Topan Super Haiyan yang menewaskan lebih dari 7.000 orang pada 2013 lalu di Filipina, angin topan yang memangsa rakyat Amerika Serikat 28 Desember 2015, banjir besar di Jakarta tahun 2019, dan lainnya.

Semua itu menjadi pelajaran kepada semua ummat manusia apa saja agama dan bangsa mereka. Bala Allah dahulu kepada kaum Namrud, kaum Fir’aun, kaum ‘Ad, kaum Kan’an dan lain-lain harus menjadi satu pelajaran dan keyakinan bagi penghuni dan penguasa dunia hari ini bahwa Namrud, Fir’aun merupakan orang-orang kuat, terkenal, berkuasa pada masanya, tetapi Allah mampu menghancurkan mereka dengan sekejab saja. Karenanya kalau ada pemimpin atau rakyat sesuatu negara yang menganggap negaranya sangat kuat dan militernya tidak mampu dikalahkan oleh militer manapun hari ini seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Korea, Jepang, dan lainnya, maka mereka harus yakin ada kekuatan lain yang mampu mengalahkannya. Kasus terbaru terkait dengan kekuatan tersebut adalah negara Tiongkok yang pada hujung tahun 2019 menghandalkan kekuatan negaranya dan mengatakan mereka sangat kuat serta tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan mereka, maka tiba-tiba 6 Februari 2020 mereka menerima bala besar bernama Covid 19 yang bermula dari Wuhan yang sangat susah diatasi. Malah efeknya merambah dunia raya sampai hari ini belum mampu ditangani, negara paling parah diterpa bala tersebut adalah Italia.

Bukan hanya kepada mereka yang tidak beriman, kepada kaum berimanpun Allah menurunkan bala manakala mereka berbuat dhalim dan berlaku ma’shiyat melawan ketentuan Allah yang Maha Kuasa. Kita tidak dapat menutup mata dengan kasus Tsunami Aceh, Banjir Jakarta, gempa Jogja, dan lainnya yang semua itu menimpa hamba Allah dari kalangan muslimin dan mukminin. Makanya tidak ada alasan bagi siapapun untuk menghandalkan diri jauh dari bala, jauh dari malapetaka, jauh dari murka Allah manakala ia sudah tiba masanya semua itu mudah saja terjadi.

Dengan demikian, kekuatan apa lagi yang bisa kita handalkan dalam kehidupan ini kalau bukan kekuatan iman. Undang-undang apa lagi yang kita harus praktikkan dalam kehidupan ini kalau bukan undang-undang Islam (Syari’ah). Moral mana lagi yang kita harus amalkan dalam kehidupan ini kalau bukan akhlak Islam yang bernama akhlaqul karimah. Selain itu bukan hanya akan punah di dunia melainkan akan menerima padah dalam api neraka di hari kemudian nantinya. Ummat Islam dunia wajib memahaminya, wajib mendakwahinya baik kepada muslim maupun kafir agar semua manusia mengikuti kehendak tuhan satu-satunya yaitu Allah Ta’ala dan jauh dari mara bahaya dan malapetaka. Wallahu a’lam bishshawab.

 

H A B I  S  S S…..

 

Bahagian keempat dari empat artikel

 

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry