Islam Antara ‘Akidah, Syari’ah, Akhlak dan Bala (2)

Dari situlah posisi Islam dan ummat Islam menjadi rakyat dunia semata di luar struktur penguasa dunia raya, manakala negara-negara kafir seenaknya saja mengklaim UN sesuai selera mereka dengan menetapkan lima negara punya hak veto dalam tubuh UN yaitu Inggeris, Perancir, Amerika Serikat, Uni Soviet (sekarang diganti Rusia), dan Republik Rakyat Cina (sekarang Tiongkok). Maka resmilah dunia dikuasai oleh kaum kuffar yang sangat keras, kasar, dan bringas terhadap muslim dan Islam, dan itu pula yang dapat menjawab kenapa muslim Rohingya, Muslim Uyghur, Muslim India, Muslim Thailan Selatan, dan Muslim Filipina Selatan menjadi sedemikian rupa. Allah memang sudah berjanji:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah: 120).

Yang dimaksud dengan petunjuk Allah yang benar dalam ayat ini adalah Islam dan syari’ahnya yang diturunkan Allah sebagai solusi kehidupan ummat Manusia di alam raya dengan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat manusia. Apabila manusia di dunia mengikuti syari’ah maka dijamin dunia aman, tenteram, tenang, dan sejahtera karena tidak terjadi diskriminasi antar agama, tidak terjadi pelanggaran HAM oleh kafir terhadap muslim di dunia seperti hari ini, tidak terjadi manipulasi hidup dan kehidupan ummat manusia. Syari’ah itu sumber pengetahuan maka ummat Islam wajib mengikutinya, manakala ummat Islam tidak mengikutinya dan malah mengikuti kehendak mereka setelah pengetahuan itu didatangkan Allah SWT kepadanya maka Allah melepaskan diri dari menjadi pelindung dan penolongnya. Ketika Allah sudah melepaskan diri tidak lagi melindungi dan tidak pula menolongnya maka hancurlah kehidupan itu sehancur-hancurnya. Itulah yang sedang terjadi terhadap ummat Islam di dunia hari ini.

Hari ini lebih separuh pemimpin ummat Islam di dunia tidak lagi mengikuti kemauan Allah dan sepenuhnya mengikuti kemauan kafir tersebut yang secara kasat mata menguasai dunia hari ini. Inilah sumber malapetaka yang paling berbahaya bagi ummat Islam di dunia hari ini, mereka meninggalkan bimbingan Allah dan mengikuti bimbingan kafir laknatillah. Hampir semua negara mayoritas muslim di dunia hari ini menjadi pak turut kepada kuasa besar dunia dengan rela mengorbankan identitas Islam (‘aqidah, syari’ah, akhlak Islam) untuk kepentingan jabatan dan kerajaan. Dan ini pulalah yang menjadi pemicu datangnya bala-bala Allah ke permukaan bumi seperti Corona Virus (Covid 19) yang bermuunculan sejak 6 Februari 2020 berawal dari Wuhan negeri Tiongkok dan sekarang merambah dunia raya tanpa batas lagi. Allah sudah duluan mengingatkan semua itu dalam firman demi firman yang terkandung dalam Al-Qur’an:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A’raf: 96).

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (An-Nahlu: 112). Kasus Covid 19 yang menimpa dunia sejak 6 Februari 2020 sampai hari ini menjadi jawaban kandungan ayat ini, di mana penduduk dunia dihantui oleh rasa takut karena diserbu wabah Covid 19 sehingga mereka tidak dapat beraktifitas, dengan kondisi semacam itu membuat bisnis, perdagangan, lapangan kerja menjadi macet, ekonomi manusia hancur, maka jadilah mereka orang-orang yang takut dan orang-orang yang lapar. Ketentuan Allah itu maha benar, hanya orang-orang bodoh, angkuh, congkak, arrogan, dan sombong sajalah yang tidak mempercayainya.

Allah juga telah lama mengingatkan kita untuk menjaga diripada azab dan musibah yang Allah berikan kepada seluruh penghuni dunia baik pelaku makshiyat atau yang melihatnya tetapi tidak mencegahnya. Firman Allah dalam surat Al-Anfal: 25;

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. Hari ini siksa keras Allah itu berada dalam bentuk makhluk lembut tapi berefek sangat amat keras, karena Covid 19 tidak berbentuk perang senjata api, bom, dan semisalnya. Tetapi efeknya sangat amat keras dan mematikan melebihi efek perang dunia pertama dan kedua terhadap ummat manusia. Sekali lagi peringatan Allah itu pasti dan nyata dirasakan oleh orang-orang beriman, sementara mereka yang tidak beriman menganggap itu faktor kejadian alam saja.

Setiap kemungkaran harus dicegah untuk menghindari bala Allah, bukannya didukung karena mendapatkan kafalah, ketika kemungkaran dan kedhaliman itu tidak dicegah oleh orang-orang yang paham dan mengerti perintah Allah maka bala dan malapetaka akan merambah semua hamba Allah. Dalam hadits riwayat imam Ahmad disebutkan bahwa  ‘Adi bin ‘Amirah berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوُا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

 

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengazab orang banyak (yang di dalamnya ada orang-orang shaleh) lantaran perbuatan orang-orang tertentu sehingga orang-orang shaleh tersebut melihat kemungkaran itu berada di tengah-tengah mereka, mereka mempunyai kemampuan untuk mencegahnya namun mereka tidak mencegahnya. Apabila hal itu terjadi, maka Allah akan mengazab mereka semuanya termasuk orang-orang shalih di dalamnya. (HR. Ahmad).

 

BERSAMBUNG…..ke bagian (2)

 

Bahagian kedua dari empat artikel

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry