Pengurus Dewan Dakwah Aceh Besar Resmi Di Lantik

 

Montasik (2/12) — Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Besar periode 2018-2021 resmi dilantik oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA di Mesjid Besar Al Jihad Montasik, Minggu (2/12/2018).

Hadir dalam pelantikan tersebut Bupati Aceh Besar yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Besar, Adi Darma M.Pd, Muspika Kec Montasik dan tamu undangan lainnya.

Ketua panitia Marfiandi dalam laporannya mengatakan dipilihnya Mesjid sebagai tempat pelantikan agar Dewan Dakwah Aceh Besar lebih dekat dan dapat dirasakan kehadirannya oleh masyarakat.

Ketua Dewan Dakwah Aceh Besar, Mulyadi S.Sos.I usai pelantikan mengatakan Aceh Besar merupkan salah satu Kabupaten di Aceh yang sangat luas wilayahnya, yaitu terdiri dari 23 Kecamatan dan 604 gampong dengan jumlah penduduknya mencapai 384.661 jiwa.

“ini semua akan menjadi lahan dakwah yang akan kita laksanakan. Dewan Dakwah Aceh Besar akan senantiasa bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten dan Ormas Islam serta yayasan-yayasan yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan untuk memajukan Kabupaten Aceh Besar. Dan kerja dakwah ini mestilah dilaksanakan secara ikhlas dan mengharapkan pertolongan Allah swt,” kata Mulyadi.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA dalam sambutannya mengharapkan agar Dewan Dakwah Aceh Besar dapat meningkatkan kegiatan dakwah, mengingat tantangan dakwah sendiri semakin hari semakin bertambah berat.

“Harapan ini sangatlah beralasan karena sebagian besar pengurusnya adalah kader binaan Dewan Dakwah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir Jakarta. Dimana STID tersebut merupakan salah satu lembaga pendidikan binaan Dewan Dakwah,” kata Tgk Hasanuddin.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry ini menambahkan dakwah yang dilakukan oleh Dewan Dakwah diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan ummat. Khususnya di Aceh yang Islamnya sudah pernah berjaya dan memberikan kontribusi kepada Indonesia di masa dahulu kala.

“tentunya kami sangat mengharapkan dukungan dari tokoh masyarakat dan pemerintah daerah untuk kelancaran kegiatan Dewan Dakwah ke depannya,” kata Tgk Hasanuddin.

Sementara itu Bupati Aceh Besar yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Besar, Adi Darma M.Pd dalam arahannya mengatakan tugas untuk berdakwah bukanlah hanya tugas Dewan Dakwah saja, akan tetapi juga menjadi tugas bagi semua orang Islam sebagaimana tersebut dalam quran surah Ali Imran ayat 104.

“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Besar kami sangat mengapresiasi terhadap pengurus yang sudah dilantik. Kami juga berharap Dewan Dakwah ini akan menjadi mitra pemerintah Kabupaten khususnya dalam pelaksanaan syariat islam secara kaffah,” kata Adi Darma.

Ia menambahkan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar sangat konsen dengan penegakan syariat islam. Dari itu diharapkan dukungan dari semua pihak khususnya Pengurus Dewan Dakwah yang baru dilantik.

“Salah satu buktinya adalah adanya seruan untuk menghentikan semua kegiatan di saat waktu shalat,” tegasnya.

Usai pelantikan dilanjutkan dengan Kajian Islam yang dibahani oleh Abu Muhammad Yus dengan topik Dakwah Sebagai Solusi Permasalahan Ummat.

Adapun Pengurus Dewan Dakwah yang dilantik sebagai berikut :
Ketua : Mulyadi S.sos.I
Sekretaris : Masrur Marzuki, MA
Bendahara : Hanisullah MA
dibantu oleh bidang-bidang

Pembakaran Bendera Tauhid, Penodaan Agama!

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh para anggota Barisan Serbaguna Nahdhatul Ulama (Banser NU) baru-baru ini di Garut (Senin, 21/10/2018) telah melukai hati umat Islam seluruh Indonesia bahkan dunia. Perbuatan para anggota Banser ini telah membuat keresahan dan kegaduhan umat Islam seluruh Indonesia dan dunia. Perbuatan mereka dianggap sebagai penodaan agama karena telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid.
Parahnya, perbuatan Banser itu justru mendapat pembelaan dan dukungan dari ketua umum GP Ansor NU Yaqut Cholil Qaumas (www.detik.com, 22/11/2018) dan ketua umum PBNU Prof. Dr. Said Agil Siraj (www.detik.com, 23/11/2018) serta pendukung lainnya. Mereka berdalih bahwa bendera yang dibakar itu bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dengan dalih ini, mereka membolehkan membakar kalimat dan bendera tauhid. Mereka juga beralasan untuk menyelamatkan kalimat tauhid, agar tidak diinjak. Selain itu, perbuatan Banser dianggap sebagai tindakan spontanitas karena emosi saja. Dengan kata lain, tidak sengaja dilakukan. Oleh karena itu, perbuatan Banser tidak dianggap kesalahan dan penodaan agama.
Menurut penulis, pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah itu merupakan perbuatan pelecehan terhadap kalimat dan bendera tauhid. Perbuatan ini penghinaan terhadap Allah sw dan Rasul-Nya. Maka, tindakan Banser ini penodaan agama Islam yang dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam pasal 156a KUHP. Pelakunya harus dihukum dengan pasal 156a KUHP tentang penodaan agama.
Selain itu, perbuatan Banser juga melanggar hukum Islam yang mengharamkan perbuatan menghina ajaran dan simbol Islam. Perbuatan ini bertentangan dengan iman dan tauhid seorang muslim. Terhadap pelaku perbuatan penodaan agama, Islam memberi sanksi tegas. Dalam hukum Islam, perbuatan penodaan agama Islam mengakibatkan pelakunya murtad berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama. Selain mendapat azab di akhirat, hukuman bagi orang murtad adalah dibunuh. Pelaksanaan hukuman ini dilakukan oleh pemimpin atau hakim.
Tulisan ini bertujuan untuk membantah alasan GP Ansor dan PBNU serta pendukung mereka di atas dan sekaligus untuk menegaskan bahwa perbuatan Banser itu penodaan agama. Di samping itu, tulisan ini juga bertujuan untuk membela kalimat dan bendera tauhid, melaksanakan kewajiban nahi munkar dan menuntut tegaknya hukum dan keadilan di negara kita ini. Penulis adalah seorang muslim yang masih punya iman dan tauhid yang terpanggil untuk membela tauhid dan agama Islam. Penulis tidak rela tauhid dan agama Islam dilecehkan.
Membantah Pendapat GP Ansor dan PBNU
Di antara alasan GP Ansor NU dan PBNU serta pendukung mereka untuk membenarkan perbuatan Banser NU yaitu bendera yang dibakar adalah bendera HTI, bukan bendera tauhid. Mereka mengganggap HTI sebagai organisasi terlarang di Indonesia, karena pemerintah telah membubarkannya. Oleh karena itu, mereka tidak menyalahkan Banser, bahkan membela dan mendukung perbuatan Banser. Menurut mereka, bendera HTI harus dibakar, meskipun di bendera tersebut ada kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Mereka berasumsi bahwa semua bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera HTI.
Tentu saja alasan ini tidak benar dan terlalu mengada-ada. Justru, fakta di lapangan membuktikan bahwa bendera yang dibakar adalah bendera tauhid yang bertuliskan laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah, bukan bendera HTI. Hal ini cukup jelas kita saksikan di video yang sudah viral di medsos. Tidak ada tulisan HTI di bendera tersebut. Yang ada hanya tulisan kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Adapun bendera HTI bertuliskan “Hizbut Tahrir Indonesia”. Tentu saja bendera HTI berbeda dengan bendera tauhid. Dengan demikian jelaslah alasan mereka itu terkesan mengada-ada dan membohongi publik.
Klaim bendera HTI yang dijadikan alasan pembenaran oleh pihak GP Ansor dan PBNU telah dibantah oleh MUI seperti yang diberitakan oleh berbagai media. Menurut MUI, bendera yang dibakar itu bendera tauhid, bukan bendera HTI. Alasan MUI, tidak ada simbol HTI di bendera tersebut seperti yang terlihat di video. Pandangan MUI ini disampaikan secara resmi kepada publik setelah melakukan kajian dalam persoalan ini. (www. republika.co.id, 23/10/2018)
Hal senada juga disampaikan oleh pakar hukum dan perundang-undangan sekaligus Kuasa Hukum HTI Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. Menurutnya, bendera yang dibakar itu bukan bendera HTI, namun bendera tauhid. Yusril sependapat dengan pernyataan MUI dan mendukung keputusan MUI tersebut. Selain itu, Yusril juga menegaskan bahwa HTI bukan organisasi terlarang. Menurutnya, Menteri Hukum dan HAM hanya mencabut status badan hukum HTI yang sekaligus bermakna pembubaran pada tanggal 19 Juli 2017 melalui SK Menkumham Nomor AHU-30. AHU-30.AH.01.08. Namun SK menteri tersebut tidak menyebutkan HTI sebagai organisasi terlarang. (www.hidayatullah.com, 2/11/2018)
Demikian pula apa yang dituduh oleh GP Ansor dan PBNU telah dibantah oleh mantan Juru bicara HTI Ismail Yusanto seperti yang diberitakan hidayatullah.com (22/10/2018). Ia menegaskan bahwa HTI tidak memiliki bendera. Menurutnya, bendera yang dibakar dalam video yang beredar luas itu Ar-Royah (bendera Rasulullah saw), bendera berwarna hitam yang bertuliskan tauhid. (www.hidayatullah.com, 22/10/2018)
Pendapat mereka diatas sama dengan pendapat mayoritas umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Berbagai aksi kecaman di berbagai media maupun aksi demo damai dilakukan oleh umat Islam seluruh Indonesia dan dunia. Terlepas polemik bendera HTI atau bukan, yang jelas bendera yang dibakar itu bertuliskan kalimat tauhid. Faktanya, bendera yang dibakar itu bukan bendera HTI, namun bendera tauhid seperti terlihat jelas di video dan disampaikan oleh MUI, HTI dan seluruh ormas dan elemen umat Islam.
Mengklaim bendera tauhid sebagai bendera HTI merupakan suatu kesalahan fatal. Bendera tauhid berbeda dengan bendera HTI. Bendera tauhid hanya bertuliskan kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Adapun bendera HTI bertuliskan kalimat tauhid dan tulisan “Hizbut Tahrir Indonesia”. Bendera tauhid bukanlah milik organisasi tertentu seperti HTI dan lainnya, namun bendera tauhid itu milik seluruh umat Islam dari dulu sejak masa Nabi saw sampai hari ini dan hari Kiamat. Bendera tauhid merupakan simbol Islam dan bendera Rasul Saw. Bendera ini dipakai oleh Rasulullah saw dalam segala kondisi, baik dalam waktu damai maupun perang. Hal ini berdasarkan hadits: “Rayah (panji) Rasul Saw berwarna hitam, sedangkan liwa’ (bendera) Rasul saw berwarna putih” (HR. Ath-Tabrani, Hakim, dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmizi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali sebuah liwa’ (bendera) yang berwarna putih, yang ukurannya sehasta. Pada liwa’ (bendera) dan rayah (panji) terdapat tulisan laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa’ yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.” (HR. Ahmad dan At-Tirmizi)
Seandainya bendera yang diklaim itu memang benar bendera milik HTI (namun faktanya bukan bendera HTI), maka bendera tersebut tetap saja tidak boleh dibakar. Bendera HTI itu juga bertuliskan kalimat tauhid. Tulisan tauhid merupakan simbol dan ajaran Islam yang wajib dihormati dan dimuliakan. Kalimat tauhid tidak boleh dibakar dengan sengaja, apalagi dipertontonkan dengan bangga sambil melagukan lagu tertentu. Kita bukan menghormati dan memuliakan bendera HTI, namun yang kita hormati dan muliakan adalah tulisan tauhid yang ada pada bendera. Di manapun ditulis, kalimat tauhid tetap harus dijaga dan dimuliakan.
Alasan lainnya yang dikemukakan oleh para pelaku pembakaran bendera tauhid dan para pembela mereka dari GP Ansor, PBNU dan lainnya bahwa pembakaran itu dilakukan spontanitas karena emosi Banser ketika menemukan bendera yang diklaim sebagai bendera HTI. Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan bahwa mereka tidak sengaja membakar bendera tersebut dan tidak ada maksud untuk melecehkan kalimat tauhid yang ada padanya.
Tentu saja alasan ini tidak bisa diterima secara akal sehat dan agama. Secara logika, tidak mungkin para anggota Banser berani melakukan pembakaran bendera yang diklaim sebagai bendera HTI ini tanpa ada instruksi atau persetujuan dari pimpinan organisasi mereka. Tentu ada instruksi kepada mereka secara sistematis dan struktural. Jadi ini bukan sebuah insiden tanpa perencanaan. Sangat tidak masuk masuk akal kejadian seperti ini spontanitas. Apalagi terjadi pada saat acara formal peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang dihadiri oleh banyak pihak.
Jika kita cermati cara mereka membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid ini, maka jelas sekali perbuatan mereka ini merupakan penodaan agama. Hal ini karena dilakukan dengan sengaja dan terang-terangan. Aksi pembakaran ini dilakukan di hadapan khalayak orang ramai dengan menyanyikan lagu dan sorakan kegembiraan. Mereka telah mempertontonkannya dengan bangga dan senang. Bahkan direkam dengan video dan disebarkan ke medsos. Mereka menampakkan dan menebarkan kebencian dan permusuhan mereka terhadap HTI. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah dan berdosa. Maka perbuatan mereka ini telah memenuhi unsur pidana berupa penodaan agama yang di atur dalam pasal 156a KUHP dan hukum Islam.
Selanjutnya, alasan yang dijadikan pembenaran oleh GP Ansor dan PBNU serta pendukung mereka yaitu pembakaran kalimat tauhid itu bertujuan untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid. Menurut mereka, mereka ingin menyelamatkan kalimat tauhid agar tidak terinjak. Mereka menyamakan seperti Alquran yang tercecer kertas atau bagian sobekan darinya sehingga dibolehkan oleh para ulama untuk membakarkannya demi menyelamatkannya.
Alasan ini tidak bisa diterima secara akal sehat maupun agama dan tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran atas tindakan pembakaran bendera tauhid secara hukum sehingga tidak menjadi alasan memaafkan tindakan pelecehan mereka. Perbuatan tersebut menunjukkan kebencian dan permusuhan mereka terhadap HTI. Hal ini terlihat dari cara mereka membakar bendera. Padahal, bendera itu ada kalimat Tauhid, namun secara sengaja mereka membakarnya. Bahkan menyamakan bendera Tauhid dengan bendera HTI. Tentu perbuatan mereka ini justru melecehkan kalimat tauhid, bukan menjaga dan menyelamatkannya sperti klaim mereka.
Alasan mereka ini juga bertentangan dengan apa yang mereka katakan, bahwa Banser tidak sengaja melakukannnya atau tidak ada maksud melakukannya. Menurut mereka kejadian ini bersifat spontanitas karena emosi. Bagaimana mungkin dikatakan spontanitas atau tidak sengaja, sedangkan mereka bermaksud membakarnya untuk menyelamatkan kalimat tauhid agar tidak terinjak. Bahkan pembakaran ini dipertontonkan kepada publik dengan sorakan bangga dan senang. Ini menunjukkan bahwa mereka sengaja melakukannnya, bukan spontanitas.
Menyamakan bendera tauhid dengan alquran yang tercecer tidaklah tepat. Seandainya mereka ingin menyelamatkan kalimat tauhid agar tidak terinjak, maka tidak perlu dengan membakarnya. Seharusnya, cukup melipat dan menyimpannya di tempat yang aman. Pembakaran bendera tauhid dengan sengaja dihadapan khalayak ramai, apalagi dengan bangga dan gembira, menunjukkan kebencian dan permusuhan Banser terhadap HTI. Tentu saja perbuatan para anggota Banser tersebut bukan menjaga dan menghormati kalimat tauhid, namun perbuatan mereka ini justru melecehkan kalimat dan bendera tauhid.
Pendapat Para Pakar Hukum Pidana
Ketua Umum Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI), Chandra Purna Irawan seperti yang diberitakan arrahmah.com (23/10/2018) menyatakan bahwa pembakaran bendera tauhid oleh anggota Banser Garut telah memenuhi unsur tindak pidana penodaan agama. Menurutnya, ketentuan Pasal 156a KUHP terdapat dua jenis tindak pidana penodaan agama. Yaitu Pasal 156a huruf a KUHP dan Pasal 156a huruf b KUHP, apabila terpenuhi salah satu bentuk unsur dari huruf a maupun huruf b saja, maka pelakunya sudah dapat dipidana.
Ia memaparkan, unsur pertama yang terpenuhi adalah unsur dengan sengaja. Dalam hal ini, unsurnya cukup ungkapan perasaan yang dapat kita lihat, diikuti dengan perbuatan pembakaran sebagai ungkapan perbuatan dengan sengaja, maka perbuatan pembakaran bendera tauhid telah memenuhi unsur ini. Unsur kedua yang terpenuhi adalah unsur dimuka umum. Perbuatan oknum anggota ormas Banser yang melakukan pembakaran di alun-alun/lapangan, kata dia, sudah memenuhi unsur di muka umum. Karena yang dimaksud muka umum adalah cukup perbuatan itu dapat dilihat atau di dengar oleh pihak ketiga, meskipun hanya satu orang saja atau perbuatannya (diketahui publik) atau tempat itu dapat didatangi orang lain atau diketahui/didengar publik. (www.arrahmah.com, 23/10/2018)
Hal yang sama disampaikan oleh ahli hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Dr. Mudzakkir, SH dalam tulisannya di hidayatullah.com (7/11/2018) berjudul “Membakar Bendera Tauhid Bukan Penodaan Agama?”. Ia menegaskan, bahwa pembakaran bendera tauhid ini telah memenuhi tindakan pidana penodaan agama. Unsur-unsur tindak pidana penodaan agama terhadap perbuatan pembakaran bendera tauhid yaitu a)dengan sengaja di muka umum; b) mengeluarkan perasaan atau melaukukan perbuatan; c)yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.
Menurutnya, analisis unsur-unsur terhadap perbuatan pembakaran bendera tauhid jelas dilakukan secara sengaja yang intinya pelaku pembakar mengetahui bahwa membakar bendera yang bertuliskan tauhid adalah tidak dibolehkan dan perbuatan mengambil korek api dan menyulutkannya pada bendera yang bertuliskan kalimat tauhid dan bahan yang mudah terbakar lainnya adalah perbuatan sengaja membakar bendera tauhid. Perbuatan tersebut dilakukan di lapangan yang dihadiri banyak orang. Melakukan perbuatan membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut sebagai simbol yang saat itu dikibarkan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, dan tulisan tauhid pada bendera tersebut adalah memuat inti dari atau pokok dalam ajaran Islam. (www.hidayatullah.com, 7/11/2018)
Demikian pula yang disampaikan oleh ahli hukum pidana dan sekaligus anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Dr. Abdul Chair Ramadhan seperti yang dikutip hidayatullah.com (25/10/2118). Ia menilai, pembakaran bendera bertuliskan tauhid tauhid oleh oknum Banser NU merupakan tindakan melanggar hukum dan berdampak kepada kebencian. Pembakaran tersebut merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP yang berbunyi “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa yang sengaja di muka umum mengeluarkan perasaaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.” (www.hidayatullah.com, 25/10/2018)
Demikianlah bantahan penulis dan para pakar hukum pidana Indonesia terhadap syubhat-syubhat yang dijadikan alasan untuk membenarkan pembakaran bendera tauhid. Apapun alasan GP Ansor NU dan PBNU serta pendukung mereka, tidak bisa diterima dan dibenarkan, baik secara akal maupun agama. Alasan mereka terkesan menutupi kesalahan Banser dan membohongi publik. Bagaimanapun juga, bendera yang bertuliskan kalimat tauhid wajib dijaga dan dimuliakan. Dengan kalimat tauhid inilah seseorang diakui sebagai muslim. Maka, menjaga dan memuliakan kalimat tauhid merupakan kewajiban seorang muslim dan bukti keislamannya. Selain itu, kalimat tauhid merupakan ruh bagi seorang muslim. Ia hidup dan mati dengannya. Karena itu, membakar bendera tauhid sama saja melecehkan kalimat tauhid dan bendera Rasulullah Saw. Inilah penodaan agama yang sebenarnya..! Wallahu a’lam…!

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara. Doktor bidang Fiqh dan Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia (IIUM).

Membela Bendera Tauhid

 

Oleh: Ust. Dr. M. Yusran Hadi, Lc., MA

Aksi pembakaran bendera tauhid yang bertuliskan kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah oleh para anggota Barisan Ansor Serba Guna Nahdatul Ulama (Banser NU) pada Senin (21/10/2018) bertepatan acara peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat menjadi topik hangat di berbagai media bahkan menjadi viral di medsos beberapa hari ini. Aksi ini dilakukan dengan sengaja dan terang-terangan sambil menyanyikan mars NU Hubbul Wathan dan dipertontonkan kepada publik dengan bangga dan gembira. Parahnya lagi, perbuatan mereka dibela dan diaminkan oleh ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas dan ketua PBNU KH. Prof. Said Agil Siraj.

Tentu saja aksi ini spontan menuai kecaman dan kritikan keras dari umat Islam seluruh Indonesia, bahkan dunia. Aksi ini dianggap telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Tindakan Banser NU ini telah melukai hati seluruh umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Umat Islam dari seluruh elemen dan ormas Islam bersatu mengadakan Aksi Bela Tauhid di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, mengecam para pelakunya dan menuntut agar para pelakunya ditangkap dan dihukum dengan seberat-beratnya. Selain itu, umat Islam mendesak agar Banser NU dan GP Ansor NU dibubarkan dan meminta Banser, GP Ansor dan PBNU meminta maaf kepada umat Islam.

Tulisan ini bertujuan untuk membela tauhid dan agama, melaksanakan kewajiban nahi munkar, dan menasehati dalam kebenaran, untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan keadilan serta perdamaian di negara muslim yang kita cintai ini. Penulis adalah seorang muslim yang masih punya tauhid dan iman terpanggil untuk membela tauhid. Agar menjadi saksi dihari Kiamat nanti bahwa penulis telah melakukan pembelaan terhadap tauhid.

*Kewajiban Membela Tauhid*

Sebagai seorang muslim, penulis mengecam aksi pembakaran bendera tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Perbuatan ini tidak bisa ditolerir. Pembakaran bendera tauhid sama saja melecehkan kalimat Tauhid dan bendera Rasulullah Saw. Penulis tidak rela kalimat dan bendera tauhid dilecehkan. Penulis tidak rela agama ini dilecehkan.

Setiap muslim pasti marah ketika kalimat tauhid dan bendera Rasulullah Saw dilecehkan. Imannya pasti terpanggil untuk membela tauhid. Pembelaan bendera tauhid ini merupakan konsekuensi dan tuntutan iman dan tauhid itu sendiri. Jika seorang muslim tidak marah dan tidak benci atas kelakuan Banser ini, bahkan mendukungnya, berarti imannya sudah bermasalah. Bisa jadi imannya sudah terkena virus liberalisme yang telah mematikan imannya atau sudah “sakit” karena maksiat sehingga tidak ada respon dan sensitivitas sedikitpun untuk membela tauhid dan agama Allah Swt.

Dalam sirah Rasulullah saw, fenomena penghinaan terhadap Islam sering muncul dari orang-orang Yahudi dan Munafik saja. Terhadap orang yang menghina dirinya, Rasulullah Saw masih bisa memaafkannya. Namun terhadap orang yang menghina Islam, beliau tidak memaafkan, bahkan bertindak tegas. Hampir semua tindakan penghinaan tersebut dihukum mati atau diperangi oleh Rasulullah Saw. Begitu pula sikap para sahabat terhadap penghina Islam, mereka tidak memaafkan dan bersikap tegas. Bahkan ada kasus salah seorang sahabat yaitu Umair bin ‘Adi yang langsung membunuh seorang wanita menghina Nabi Saw tanpa menanyakan kepada Rasulullah saw. Namun ketika tindakan tersebut dilaporkan kepada Rasulullah saw, beliaupun menyetujuinya bahkan kemudian berkata kepada para sahabat, “Barangsiapa yang ingin melihat orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya maka lihatlah Umair bin ‘Adi.” (Ibnu Taimiyyah, Ash-Sharim Al-Maslul, hal. 95).

Kasus penghinaan terhadap Islam lainnya yaitu penghinaan raja kerajaan Persia Kisra terhadap Islam dengan merobek-robek surat Rasulullah Saw yang tertuliskan kalimat tauhid. Rasulullah Swt mengirimkan surat kepadanya untuk mengajaknya masuk Islam. Namun surat Rasul saw dirobeknya. Pelecehan terhadap Allah Swt ini ditanggapi oleh Nabi Saw dengan tegas yaitu pernyataa perang terhadap kerajaan Persia dan mendoakan kehancuran kerajaan Persia seperti Kisra merobek-robek surat Rasul Saw.

Seorang muslim wajib bersikap al-wala’ dan al-bara’. Perbuatan Al-wala’ dan al-bara’ merupakan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Al-Wala’ (loyalitas) adalah sikap mencintai, membela dan menghormati. Seorang muslim wajib berwala’ kepada Allah Swt, Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya dan para penolong agama-Nya dari orang-orang mukmin. Sebaliknya seorang muslim haram berwala’ kepada orang-orang kafir dan munafik. Adapun al-Bara’ adalah sikap menjauhi, berlepas diri dan memusuhi setelah memberikan alasan dan peringatan. Seorang muslim wajib bersikap al-bara’ terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Allah Swt dan Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya dan Sunnah Rasul-nya dan para penolong-Nya dari orang-orang mukmin. Persoalan al-wala’ dan al-bara’ ini termasuk persoalan aqidah dan tauhid. Maka belum beriman seseorang sebelum dia beraqidah al-wala’ dan al-bara’.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita marah dan membenci perbuatan para anggota banser NU dan para pendukungnya. Mereka telah melecehkan Allah Swt dan Rasul-Nya dengan sengaja dan terang-terangan. Pelecehan seperti ini hanya dilakukan oleh orang kafir dan munafik saja. Mustahil seorang muslim melakukannya. Konsekuensi hukumnya berat bagi pelakunya. Hukumnya murtad (kafir) sesuai dengan kesepakatan para ulama. Menurut ijma’ para ulama, perbuatan menghina atau melecehkan Allah Swt, Al-Quran, Nabi Saw dan Sunnahnya, hukumnya murtad. Hukuman bagi orang yang murtad adalah dibunuh. Yang melaksanakan hukuman bunuh ini adalah pemimpin atau hakim.

Oleh karena itu, kita wajib membela kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid. Jika kita diam dan tidak marah, sama saja kita meridhai atau mendukung perbuatan mereka. Sikap meridhai atau mendukung kemungkaran sama hukumnya dengan melakukan kemungkaran tersebut. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk mencegah kemungkaran atau maksiat sesuai kemampuan sebagai bukti keimanannya.

Paling tidak, membenci kemungkaran tersebut. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya; jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya; dan yang demikian itu tingkatan iman yang paling lemah.” (HR. Muslim).

Pembakaran kalimat tauhid oleh Banser NU merupakan kemungkaran atau maksiat yang dapat mengundang azab Allah Swt berupa bencana alam yang akan menimpa semua orang, baik para pelaku maksiat maupun orang-orang shalih. Oleh karena itu tidak bisa ditolerir. Selama ini, Indonesia selalu ditimpakan musibah oleh Allah Swt berupa bencana alam seperti gempa, tsunami, gunung meletus, dan sebagainya. Maka jangan tambah lagi bencana lagi dengan kemaksiatan Banser NU ini. Sepatutnya kita ambil pelajaran dari berbagai bencana itu, dengan bertaubat dan meninggalkan maksiat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bencana itu datang dari Allah Swt sebagai azab dan peringatan-Nya karena maksiat yang merajalela seperti dijelaskan oleh Alquran dan Hadits-Hadits Nabi Saw.

Sikap kita sebagai orang yang bertauhid terhadap pembakaran bendera tauhid bukan hanya sekedar persoalan melaksanakan kewajiban nahi munkar terhadap perbuatan munkar yang dilakukan oleh Banser NU ini, namun kita harus bersikap lebih dari itu yakni membela tauhid. Persoalan ini sudah menyangkut keimanan dan tauhid kita. Setiap orang yang bertauhid pasti marah dan melakukan pembelaan terhadap kalimat dan bendera tauhid.

Sikap ini menunjukkan bahwa dia orang yang beriman dan bertauhid. Namun jika sebaliknya dia hanya diam atau tidak marah atau tidak melakukan pembelaan terhadap bendera tauhid berarti iman dan tauhidnya sudah mati atau sakit. Maka, jika kita masih punya iman dan tauhid, pasti kita membela kalimat dan bendera tauhid.

*Pembelaan Sahabat*

Jika kita merujuk kepada sirah Rasulullah saw dan para sahabatnya, maka kita menemukan sikap para sahabat yang agung dan mulia dalam melakukan penjagaan dan pembelaan terhadap bendera tauhid atau bendera Rasul Saw. Mereka sangat mencintai dan mengagungkan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Begitu agungnya bendera tauhid sehingga mereka siap mati syahid dalam membela dan mempertahankan bendera tauhid. Komitmen mereka terhadap tauhid dan Islam telah dibuktikan dan dicatat dalam sejarah.

Di antaranya, kisah Mush’ab bin Umair dalam perang uhud pada tahun ke 3 Hijriah atau 625 Masehi. Pada perang ini Rasullah saw menyerahkan bendera tauhid kepada Mush’ab bin Umair. Dalam perang ini, Mush’ab berjuang luar biasa biasa. Dia berperang sebagai pahlawan mukmin demi membela akidahnya dan panji yang haq yang dibawanya. Orang-orang musyrikin menyerang menuju pembawa panji Rasul saw ini. Salah seorang dari mereka menebas tangan kanan Mush’ab sampai putus. Kemudian Mush’ab mengambil panji dengan tangan kirinya agar tidak jatuh ketanah. Maka musuh itu kembali menebas tangan kirinya sampai putus. Maka dia merangkul panji dengan kedua lengannya ke dadanya. Kemudian orang terlaknat itu menyerang lagi untuk ketiga kalinya dengan tombak hingga tembus. Maka Mush’ab tersungkur ke tanah dan mati syahid. Lalu bendera ini diambil oleh Suwaibith bin Sa’ad bin Harmalah dari Bani abdud Dar dan Abu Ar-Rum bin Umair, saudara Mush’ab. Bendera ini terus dipegang olehnya hingga ia masuk ke Madinah saat kaum muslimin pulang.

Kisah mempertahankan bendera tauhid paling fenomenal terjadi pada saat perang mu’tah di tahun 8 Hijriah atau tahun 629 Masehi. Pada waktu itu kaum muslimin berjumlah 3 ribu orang melawan pasukan Romawi Nasrani 100 ribu orang ditambah dengan pasukan kabilah-kabilah Arab Nasrani sebanyak 100 ribu orang. Dengan demikian, jumlah pasukan musuh 200 ribu orang. Rasulullah Saw dengan tegas memerintahkan para sahabat menjaga bendera Tauhid harus tetap berkibar sampai umat Islam mencapai kemenangan.

Rasulullah saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan pemegang bendera tauhid. Beliau berpesan kepada kaum muslimin, jika Zaid syahid maka posisinya harus digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far juga syahid maka posisinya digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah juga syahid, maka kaum muslimin harus tetap mempertahankan bendera Tauhid sampai titik darah penghabisan.

Perangpun berkecamuk sangat dasyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera tauhid dan keberanian para panglima Islam dalam memerangi musuh, hingga mati syahidlah panglima pertama Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu. Lalu bendera tauhid diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus, lalu bendera dibawa dengan tangan kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh syahid. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniaannya dalam menyerang musuh.

Kemudian bendera tauhid dibawa oleh panglima ketiga Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu. Beliau berperang dengan gagah berani hingga mati syahid menyusul kedua rekannya. Agar bendera tauhid tidak jatuh ke tangan musuh, maka kaum muslimin membawa bendera tersebut dan bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Mereka bersepakat mengangkat Khalid bin walid sebagai panglima dan pembawa bendera tauhid. Dengan semangat yang berkobar, Khalid bin Walid maju ke tengah medan peperangan, mengamuk membunuh musuh dengan gagah berani. Sungguh hatinya ingin mati syahid seperti ketiga saudaranya yang membela bendera tauhid. Akhirnya dengan pertolongan Allah Swt, kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan ini.

Tampak mukjizat kenabian, tatkala Rasulullah saw menyampaikan kepada para sahabat di Madinah tentang kematian tiga panglimanya. Rasulullah saw naik mimbar dalam keadaan menetes air mata seraya berkata, “Bendera Tauhid dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Ibnu Rawahah dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Saifullah (pedang Allah yakni Khalid bin Walid) hingga Allah menangkan kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari)

Begitulah kisah para sahabat yang agung dan mulia dalam menjaga dan membela bendera tauhid yang merupakan bendera Rasul saw. Mereka selalu menjaga dan memuliakan bendera tauhid dalam segala kondisi, baik dalam peperangan maupun dalam kondisi damai. Jika ada orang yang melecehkan dan melarang bendera tauhid, maka mereka segera membela dan mempertahankannya mati-matian. Ini menunjukkan bahwa bendera tauhid itu mempunyai kedudukan yang agung dan mulia dalam Islam. Selain itu, menunjukkan kuatnya iman dan tauhid para sahabat serta komitmen mereka dalam membela Islam.

Akhirnya, kita meminta kepada para pelaku pembakaran bendera tauhid untuk bertaubat dan meminta maaf kepada umat Islam. Meskipun demikian, para pelaku harus tetap dihukum dengan seberat-beratnya agar memberi pelajaran dan efek jera kepada mereka dan orang lain sehingga tidak terulang lagi kasus seperti ini. Tindakan mereka ini telah meresahkan dan menimbulkan kemarahan umat Islam seluruh Indonesia bahkan dunia sehingga berpotensi menganggu stabilitas dan perdamaian bangsa dan negara.

*Penulis* adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara. Doktor bidang Fiqh & Ushul Fiqh, Internasional Islamic University Malaysia (IIUM)

LARANGAN MENGUMPAT DAN MEMFITNAH DALAM ISLAM

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Perkataan fitnah berasal dari bahasa Arab; alfitnah yang bemakna: ujian dan cobaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) fitnah diartikan sebagai; perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang, itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji. Memfitnah berarti menjelekkan nama orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya yang berefek negatif dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Fitnah berbeda dengan nasehat, tujuan nasehat adalah agar orang tidak melakukan kesalahan serupa di masa yang akan datang. Umpamanya ada orang yang berbuat salah lalu kesalahan tersebut diperbaiki dengan lisan atau dengan tulisan dengan tujuan agar sipelaku kesalahan dapat berubah dan pihak lain dapat mengambil ibrah untuk tidak melakukan kesalahan berikutnya.
Dalam ensiklopedia bebas: Wikipedia, disebutkan bahwa Fitnah atau dergama merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Sementara dalam Al-Qur’an kata fitnah memiliki banyak arti antaranya: pertama, cobaan dan ujian (Al-Ankabuut: 2). Kedua, Memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya (Al-Maaidah: 49). Ketiga, siksa (An-Nahl: 110). Keempat, Penyesatan (Al-Maaidah: 41). Kelima, gila (Al-Qalam: 6), dan seterusnya.
Sementara umpat sebagaimana tertera dalam KBBI merupakan perkataan yang keji (kotor dan sebagainya) yang diucapkan karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya). Sedangkan mengumpat mengandung makna memburuk-burukkan orang; mengeluarkan kata-kata keji (kotor) karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya); ia juga bermakna mencerca; mencela keras; mengutuk orang karena merasa diperlakukan kurang baik; memaki-maki orang dan seumpamanya.

KATEGORI UMPAT DAN FITNAH
Dari segi penafsiran bahasa dan istilah antara umpat dan fitnah itu nampak memiliki makna serumpun yang tidak jauh berbeda. Namun kalau mau dispesifikasikan lebih rinci lagi sebenarnya dari prilaku umpat dan fitnah tersebut dapat diperinci lagi menjadi tiga kategori, yaitu: (1). Al-Ghībah, ialah menceritakan atau mengatakan sesuatu yang betul terjadi terhadap seorang muslim di belakangnya yang apabila sampai berita tersebut ketelinganya ia merasa sakit hati. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW riwayat Muslim yang artinya:
“Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya: “Tahukah kalian apa itu ghibah”, para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Kemudian Nabi berucap: “mengatakan sesuatu kepada saudaramu yang dibencinya” salah seorang sahabat menanyakan lagi: “kalau yang saya katakan itu ada padanya”, Nabi berucap lagi: “Kalau yang kamu katakan itu ada padanya dan ia sakit hati karenya, itulah namanya ghibah, kalau yang kamu katakan itu tidak ada padanya, kamu sudah berdusta (memfitnahnya)”.
Jadi mengatakan sesuatu yang ada pada saudara kita seperti saudara kita itu bertubuh pendek, panjang, kurus, dan gemuk, lalu kita sebutnya si pendek, si panjang, si kurus, sigemuk yang menyakitkan hatinya termasuklah dalam kategori ghibah yang dilarang Rasulullah SAW. Apalagi kalau sampai kita dengan sengaja mempromosikan kekurangan yang ada pada dirinya untuk memalukannya, yang demikian itu sangat tidak dibolehkan dalam Islam.
(2). Al-Ifki, yaitu apabila seseorang mendapatkan satu berita fitnah yang tidak jelas asal muasalnya lalu langsung disampaikan ke pihak lain tanpa ada sumber rujukan yang shahih sehingga berita tersebut beruntun sampai akhir zaman tidak ada kepastian sumbernya. Zaman sekarang berita semacam ini sering hadir melalui media sosial seperti WhatsApp (WA), dari satu penerima berita dikirim ke group WA lainnya sehingga ia menembusi ribuan malah jutaan penerima yang tidak terkontrol adanya. Untuk menjaga ukhuwwah Islamiyah perkembangan al-Ifki semacam ini perlu dikontrol dan difilter sehingga menjauh dari umpat dan fitnah serta ghibah.
(3). Al-Buhtān, adalah menceritakan sesuatu prilaku buruk yang tidak ada pada diri orang yang diceritakannya sehingga cerita tersebut dapat berefek negatif bagi orang yang diceritakan tersebut. Satu hadis dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari terkait dengan bau busuk berbunyi, yang terjemahannya: “tahukah kalian semuanya bau apakah ini?”, shahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”, Nabi bersabda: “ini adalah baunya orang-orang yang mengumpat orang-orang beriman”.
Hadis dari Ali bin Abi Thalib berkaitan dengan aib sesama muslim berbunyi yang artinya: “jauhilah kamu semuanya dari membicarakan tentang orang lain, karena sesungguhnya dalam pembicaraan tersebut terdapat tiga bencana; pertama, do’anya tidak akan dikabulkan; kedua, kebaikannya tidak akan diterima; ketiga, keburukan atau kehinaannya bertambah-tambah”. Berhubungan dengan kasus tersebut Rasulullah SAW dalam hadis dari Anas bin Malik bersabda yang artinya: siapasaja yang membicarakan aib saudaranya sesama manusia, maka nanti di hari kiamat Allah akan menukarkan saluran kencingnya kepada arah saluran kotorannya (duburnya).

KENAPA ISLAM MELARANG MENGUMPAT DAN MEMFITNAH
Allah SWT berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12:

yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
Ada tiga riwayat yang penulis temui berkenaan dengan asbab nuzul potongan ayat: “wa la yaghtab ba’dhukum ba’dha” dalam al-Hujurat 12 tersebut adalah; riwayat Imam Al-Suyuti, Ibnu Munzir, dan Ibnu Abbas. Ketiga riwayat tersebut menyatakan bahwa penyebab turun ayat tersebut berkaitan dengan sosok Salman Al-Farisi. Suatu ketika selepas makan Salman tertidur nyenyak dan terdengar bunyi mendengkur dari mulutnya, seseorang dan sebahagian orang yang mendengarnya menceritakan kepada orang lain tentang prihal tersebut, maka turunlah ayat terebut. Menurut Ibnu Abbas; ada dua orang yang berkunjung kerumah Salman Al-Farisi yang miskin tersebut seraya meminta makanan, tetapi Salman tidak memilikinya, lalu dua orang tersebut meminta Salman untuk meminta sedikit makanan pada Rasulullah SAW. Ketika Salman pergi meminta makanan pada Rasulullah SAW dua orang tersebut mengumpat Salman di rumahnya. Mendengar permintaan Salman tersebut Rasulullah berucap: tidak perlu lagi makanan untuk dua orang tersebut karena keduanya sudah kenyang memakan daging, pulang dan katakan demikian pada keduanya ujar Nabi. Lalu Salman kembali kerumahnya dan berucap demikian kepada dua orang tetamunya yang membuat keduanya heran, lantas keduanya menjumpai Rasulullah seraya berucap: kami tidak makan apa-apa di rumah Salman ya Rasul Allah. Nabi menjawab: engkau sudah kenyang memakan daging saudaramu Salman dengan mengumpatnya ketika Salman menjumpai saya barusan tadi. Pada suasana demikianlah Allah turunkan ayat tersebut.
Itulah kenapa Allah mengharamkan mengumpat dan memfitnah bagi orang-orang muslim dan mukmin. Walaupun tidak sedikit muslimin dan mukminin yang lupa atau sengaja melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah semestinya kita menjaga lidah, menjaga mulut, dan menjaga ukhuwwah Islamiyah sesama kita demi wujudnya perpaduan ummah dan kekuatan ummah yang dapat mempertahankan eksistensi Islam dan muslimin. Kalau ada orang-orang yang dengan sadar menyesatkan orang lain, mendiskreditkan orang lain, menyalahkan orang lain, menyudutkan orang lain, memfitnah dan mengumpat orang lain seperti yang tengah terjadi di merata tempat dalam masyarakat Islam hari ini maka segera hentikan karena itu tidak hanya memperoleh dosa melainkan ikut juga menghancurkan Islam dan ummatnya.
Ketika kita mendapatkan orang yang suka mengumpat dan memfitnah atau mengghibah saudaranya seiman seagama, ingatkan mereka akan kasus Salman Al-Farisi yang diejek dan difitnah saudaranya sehingga datang teguran Allah kepadanya agar dia selamat dari ancaman Allah yang sangat dahsyat akibat fitnah, umpat dan ghibah tersebut.

 

Penulis adalah (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry).

Membela Bendera Tauhid

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Aksi pembakaran bendera tauhid yang bertuliskan kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah oleh para anggota Barisan Ansor Serba Guna Nahdatul Ulama (Banser NU) pada Senin (21/10/2018) bertepatan acara peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat menjadi topik hangat di berbagai media bahkan menjadi viral di medsos beberapa hari ini. Aksi ini dilakukan dengan sengaja dan terang-terangan sambil menyanyikan mars NU Hubbul Wathan dan dipertontonkan kepada publik dengan bangga dan gembira. Parahnya lagi, perbuatan mereka dibela dan diaminkan oleh ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas dan ketua PBNU KH. Prof. Said Agil Siraj.
Tentu saja aksi ini spontan menuai kecaman dan kritikan keras dari umat Islam seluruh Indonesia, bahkan dunia. Aksi ini dianggap telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Tindakan Banser NU ini telah melukai hati seluruh umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Umat Islam dari seluruh elemen dan ormas Islam bersatu mengadakan Aksi Bela Tauhid di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, mengecam para pelakunya dan menuntut agar para pelakunya ditangkap dan dihukum dengan seberat-beratnya. Selain itu, umat Islam mendesak agar Banser NU dan GP Ansor NU dibubarkan dan meminta Banser, GP Ansor dan PBNU meminta maaf kepada umat Islam.
Tulisan ini bertujuan untuk membela tauhid dan agama, melaksanakan kewajiban nahi munkar, dan menasehati dalam kebenaran, untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan keadilan serta perdamaian di negara muslim yang kita cintai ini. Penulis adalah seorang muslim yang masih punya tauhid dan iman terpanggil untuk membela tauhid. Agar menjadi saksi dihari Kiamat nanti bahwa penulis telah melakukan pembelaan terhadap tauhid.
Kewajiban Membela Tauhid
Sebagai seorang muslim, penulis mengecam aksi pembakaran bendera tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Perbuatan ini tidak bisa ditolerir. Pembakaran bendera tauhid sama saja melecehkan kalimat Tauhid dan bendera Rasulullah Saw. Penulis tidak rela kalimat dan bendera tauhid dilecehkan. Penulis tidak rela agama ini dilecehkan.

Setiap muslim pasti marah ketika kalimat tauhid dan bendera Rasulullah Saw dilecehkan. Imannya pasti terpanggil untuk membela tauhid. Pembelaan bendera tauhid ini merupakan konsekuensi dan tuntutan iman dan tauhid itu sendiri. Jika seorang muslim tidak marah dan tidak benci atas kelakuan Banser ini, bahkan mendukungnya, berarti imannya sudah bermasalah. Bisa jadi imannya sudah terkena virus liberalisme yang telah mematikan imannya atau sudah “sakit” karena maksiat sehingga tidak ada respon dan sensitivitas sedikitpun untuk membela tauhid dan agama Allah Swt.
Dalam sirah Rasulullah saw, fenomena penghinaan terhadap Islam sering muncul dari orang-orang Yahudi dan Munafik saja. Terhadap orang yang menghina dirinya, Rasulullah Saw masih bisa memaafkannya. Namun terhadap orang yang menghina Islam, beliau tidak memaafkan, bahkan bertindak tegas. Hampir semua tindakan penghinaan tersebut dihukum mati atau diperangi oleh Rasulullah Saw. Begitu pula sikap para sahabat terhadap penghina Islam, mereka tidak memaafkan dan bersikap tegas. Bahkan ada kasus salah seorang sahabat yaitu Umair bin ‘Adi yang langsung membunuh seorang wanita menghina Nabi Saw tanpa menanyakan kepada Rasulullah saw. Namun ketika tindakan tersebut dilaporkan kepada Rasulullah saw, beliaupun menyetujuinya bahkan kemudian berkata kepada para sahabat, “Barangsiapa yang ingin melihat orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya maka lihatlah Umair bin ‘Adi.” (Ibnu Taimiyyah, Ash-Sharim Al-Maslul, hal. 95).

Kasus penghinaan terhadap Islam lainnya yaitu penghinaan raja kerajaan Persia Kisra terhadap Islam dengan merobek-robek surat Rasulullah Saw yang tertuliskan kalimat tauhid. Rasulullah Swt mengirimkan surat kepadanya untuk mengajaknya masuk Islam. Namun surat Rasul saw dirobeknya. Pelecehan terhadap Allah Swt ini ditanggapi oleh Nabi Saw dengan tegas yaitu pernyataa perang terhadap kerajaan Persia dan mendoakan kehancuran kerajaan Persia seperti Kisra merobek-robek surat Rasul Saw.
Seorang muslim wajib bersikap al-wala’ dan al-bara’. Perbuatan Al-wala’ dan al-bara’ merupakan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Al-Wala’ (loyalitas) adalah sikap mencintai, membela dan menghormati. Seorang muslim wajib berwala’ kepada Allah Swt, Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya dan para penolong agama-Nya dari orang-orang mukmin. Sebaliknya seorang muslim haram berwala’ kepada orang-orang kafir dan munafik. Adapun al-Bara’ adalah sikap menjauhi, berlepas diri dan memusuhi setelah memberikan alasan dan peringatan. Seorang muslim wajib bersikap al-bara’ terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Allah Swt dan Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya dan Sunnah Rasul-nya dan para penolong-Nya dari orang-orang mukmin. Persoalan al-wala’ dan al-bara’ ini termasuk persoalan aqidah dan tauhid. Maka belum beriman seseorang sebelum dia beraqidah al-wala’ dan al-bara’.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita marah dan membenci perbuatan para anggota banser NU dan para pendukungnya. Mereka telah melecehkan Allah Swt dan Rasul-Nya dengan sengaja dan terang-terangan. Pelecehan seperti ini hanya dilakukan oleh orang kafir dan munafik saja. Mustahil seorang muslim melakukannya. Konsekuensi hukumnya berat bagi pelakunya. Hukumnya murtad (kafir) sesuai dengan kesepakatan para ulama. Menurut ijma’ para ulama, perbuatan menghina atau melecehkan Allah Swt, Al-Quran, Nabi Saw dan Sunnahnya, hukumnya murtad. Hukuman bagi orang yang murtad adalah dibunuh. Yang melaksanakan hukuman bunuh ini adalah pemimpin atau hakim.
Oleh karena itu, kita wajib membela kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid. Jika kita diam dan tidak marah, sama saja kita meridhai atau mendukung perbuatan mereka. Sikap meridhai atau mendukung kemungkaran sama hukumnya dengan melakukan kemungkaran tersebut. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk mencegah kemungkaran atau maksiat sesuai kemampuan sebagai bukti keimanannya. Paling tidak, membenci kemungkaran tersebut. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya; jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya; dan yang demikian itu tingkatan iman yang paling lemah.” (HR. Muslim).
Pembakaran kalimat tauhid oleh Banser NU merupakan kemungkaran atau maksiat yang dapat mengundang azab Allah Swt berupa bencana alam yang akan menimpa semua orang, baik para pelaku maksiat maupun orang-orang shalih. Oleh karena itu tidak bisa ditolerir. Selama ini, Indonesia selalu ditimpakan musibah oleh Allah Swt berupa bencana alam seperti gempa, tsunami, gunung meletus, dan sebagainya. Maka jangan tambah lagi bencana lagi dengan kemaksiatan Banser NU ini. Sepatutnya kita ambil pelajaran dari berbagai bencana itu, dengan bertaubat dan meninggalkan maksiat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bencana itu datang dari Allah Swt sebagai azab dan peringatan-Nya karena maksiat yang merajalela seperti dijelaskan oleh Alquran dan Hadits-Hadits Nabi Saw.
Sikap kita sebagai orang yang bertauhid terhadap pembakaran bendera tauhid bukan hanya sekedar persoalan melaksanakan kewajiban nahi munkar terhadap perbuatan munkar yang dilakukan oleh Banser NU ini, namun kita harus bersikap lebih dari itu yakni membela tauhid. Persoalan ini sudah menyangkut keimanan dan tauhid kita. Setiap orang yang bertauhid pasti marah dan melakukan pembelaan terhadap kalimat dan bendera tauhid. Sikap ini menunjukkan bahwa dia orang yang beriman dan bertauhid. Namun jika sebaliknya dia hanya diam atau tidak marah atau tidak melakukan pembelaan terhadap bendera tauhid berarti iman dan tauhidnya sudah mati atau sakit. Maka, jika kita masih punya iman dan tauhid, pasti kita membela kalimat dan bendera tauhid.
Pembelaan Sahabat Terhadap Bendera Tauhid
Jika kita merujuk kepada sirah Rasulullah saw dan para sahabatnya, maka kita menemukan sikap para sahabat yang agung dan mulia dalam melakukan penjagaan dan pembelaan terhadap bendera tauhid atau bendera Rasul Saw. Mereka sangat mencintai dan mengagungkan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Begitu agungnya bendera tauhid sehingga mereka siap mati syahid dalam membela dan mempertahankan bendera tauhid. Komitmen mereka terhadap tauhid dan Islam telah dibuktikan dan dicatat dalam sejarah.

Di antaranya, kisah Mush’ab bin Umair dalam perang uhud pada tahun ke 3 Hijriah atau 625 Masehi. Pada perang ini Rasullah saw menyerahkan bendera tauhid kepada Mush’ab bin Umair. Dalam perang ini, Mush’ab berjuang luar biasa biasa. Dia berperang sebagai pahlawan mukmin demi membela akidahnya dan panji yang haq yang dibawanya. Orang-orang musyrikin menyerang menuju pembawa panji Rasul saw ini. Salah seorang dari mereka menebas tangan kanan Mush’ab sampai putus. Kemudian Mush’ab mengambil panji dengan tangan kirinya agar tidak jatuh ketanah. Maka musuh itu kembali menebas tangan kirinya sampai putus. Maka dia merangkul panji dengan kedua lengannya ke dadanya. Kemudian orang terlaknat itu menyerang lagi untuk ketiga kalinya dengan tombak hingga tembus. Maka Mush’ab tersungkur ke tanah dan mati syahid. Lalu bendera ini diambil oleh Suwaibith bin Sa’ad bin Harmalah dari Bani abdud Dar dan Abu Ar-Rum bin Umair, saudara Mush’ab. Bendera ini terus dipegang olehnya hingga ia masuk ke Madinah saat kaum muslimin pulang.

Kisah mempertahankan bendera tauhid paling fenomenal terjadi pada saat perang mu’tah di tahun 8 Hijriah atau tahun 629 Masehi. Pada waktu itu kaum muslimin berjumlah 3 ribu orang melawan pasukan Romawi Nasrani 100 ribu orang ditambah dengan pasukan kabilah-kabilah Arab Nasrani sebanyak 100 ribu orang. Dengan demikian, jumlah pasukan musuh 200 ribu orang. Rasulullah Saw dengan tegas memerintahkan para sahabat menjaga bendera Tauhid harus tetap berkibar sampai umat Islam mencapai kemenangan
Rasulullah saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan pemegang bendera tauhid. Beliau berpesan kepada kaum muslimin, jika Zaid syahid maka posisinya harus digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far juga syahid maka posisinya digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah juga syahid, maka kaum muslimin harus tetap mempertahankan bendera Tauhid sampai titik darah penghabisan.
Perangpun berkecamuk sangat dasyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera tauhid dan keberanian para panglima Islam dalam memerangi musuh, hingga mati syahidlah panglima pertama Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu. Lalu bendera tauhid diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus, lalu bendera dibawa dengan tangan kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh syahid. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniaannya dalam menyerang musuh.

Kemudian bendera tauhid dibawa oleh panglima ketiga Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu. Beliau berperang dengan gagah berani hingga mati syahid menyusul kedua rekannya. Agar bendera tauhid tidak jatuh ke tangan musuh, maka kaum muslimin membawa bendera tersebut dan bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Mereka bersepakat mengangkat Khalid bin walid sebagai panglima dan pembawa bendera tauhid. Dengan semangat yang berkobar, Khalid bin Walid maju ke tengah medan peperangan, mengamuk membunuh musuh dengan gagah berani. Sungguh hatinya ingin mati syahid seperti ketiga saudaranya yang membela bendera tauhid. Akhirnya dengan pertolongan Allah Swt, kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan ini.
Tampak mukjizat kenabian, tatkala Rasulullah saw menyampaikan kepada para sahabat di Madinah tentang kematian tiga panglimanya. Rasulullah saw naik mimbar dalam keadaan menetes air mata seraya berkata, “Bendera Tauhid dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Ibnu Rawahah dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Saifullah (pedang Allah yakni Khalid bin Walid) hingga Allah menangkan kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari)

Begitulah kisah para sahabat yang agung dan mulia dalam menjaga dan membela bendera tauhid yang merupakan bendera Rasul saw. Mereka selalu menjaga dan memuliakan bendera tauhid dalam segala kondisi, baik dalam peperangan maupun dalam kondisi damai. Jika ada orang yang melecehkan dan melarang bendera tauhid, maka mereka segera membela dan mempertahankannya mati-matian. Ini menunjukkan bahwa bendera tauhid itu mempunyai kedudukan yang agung dan mulia dalam Islam. Selain itu, menunjukkan kuatnya iman dan tauhid para sahabat serta komitmen mereka dalam membela Islam.

Akhirnya, kita meminta kepada para pelaku pembakaran bendera tauhid untuk bertaubat dan meminta maaf kepada umat Islam. Meskipun demikian, para pelaku harus tetap dihukum dengan seberat-beratnya agar memberi pelajaran dan efek jera kepada mereka dan orang lain sehingga tidak terulang lagi kasus seperti ini. Tindakan mereka ini telah meresahkan dan menimbulkan kemarahan umat Islam seluruh Indonesia bahkan dunia sehingga berpotensi menganggu stabilitas dan perdamaian bangsa dan negara.

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara.

Dewan Dakwah Aceh Minta Masyarakat Gunakan Hak Pilihnya

 

Dewan Dakwah Aceh meminta kepada seluruh masyarakat Aceh yang sudah memenuhi syarat untuk ikut serta dan berpartisipasi aktif dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yaitu dengan mengunakan hak pilihnya.

Selain itu menghimbau agar masyarakat Aceh memilih Calon Presiden, Wakil Presiden, anggota legislatif dan anggota DPD yang mempunyai integritas, amanah dan kapabilitas serta senantiasa mementingkan kemaslahatan ummat.

Dan juga menghimbau masyarakat Aceh untuk meningkatkan ketaqwaan, menjalankan syariat dan senantiasa memperbarui taubat agar bumi Aceh terhindar dari bencana.

Hal tersebut merupakan salah satu poin yang termaktub dalam Rekomendasi Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) Dewan Dakwah Aceh Tahun 2018 yang ditujukan kepada Masyarakat Aceh.

Pengarah acara Dr Badrul Munir, Lc MA, Senin (15/10/2018) mengatakan dalam Mukerwil yang berlangsung sejak 13-14 Oktober 2018 di Aula UPTD Pengembangan dan Pemahaman Al-Quran, Dinas Syariat Islam Aceh itu menghasilkan beberapa rekomendasi, diantaranya rekomendasi external yang ditujukan kepada Pemerintah Aceh, aparat keamanan, Ormas Islam Aceh dan masyarakat Aceh. Sedangkan rekomendasi internal ditujukan kepada Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah Dewan Dakwah.

“Rekomendasi kepada Pemerintah Aceh, diharapkan dapat menciptakan kondisi yang kondusif agar terlaksananya Pemilu yang jujur, adil dan damai. Pemerintah Aceh juga mendukung dakwah islamiyah dan senantiasa menjaga keberlangsungan penerapan Syariat Islam Kaffah di Aceh,” kata Badrul Munir.

Alumni Timur Tengah ini menambahkan rekomendasi lainnya agar aparat keamanan dapat menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat serta menjaga netralitas dalam pelaksanaan Pemilu 2019.

“Kepada Ormas Islam di Aceh juga diharapkan dapat mengoptimalkan dakwah secara hikmah dan mau’idhah hasanah untuk mencari ridha Allah. Juga mengedepankan persatuan ummat dan menghormati perbedaan furu’iyah dalam bingkai ukhuwwah islamiyah,” ungkap Badrul Munir.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat penutupan Mukerwil meminta kepada Pengurus Daerah (PD) di seluruh Kab/Kota untuk membentuk dan mengaktifkan Pengurus Cabang (PC) di setiap kecamatan dalam wilayahnya dan mempersiapkan pendirian Akademi Dakwah Indonesia (ADI).

“kami juga berharap agar Pengurus Daerah dapat menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah setempat, Ormas, stakeholder dan para tokoh masyarakat. Dengan demikian harapan kita agar Aceh menjadi negeri yang baldhatun tayyibatun wa rabbun ghafur dapat segera terwujud,” pungkas Tgk Hasanuddin.