Hari Anak Nasional, Renungan Untuk Para Ibu Bapak

Oleh. Dr. Muhammad AR. M.Ed

Setiap tanggal 23 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Tahun ini Hari Anak Nasional jatuh pada  hari Kamis tanggal 23 Juli tahun 2020.  Jika kita berbicara tentang anak, berarti kita berbicara tentang kepemimpinan masa depan, apabila  keadaan anak-anak sekarang dalam keadaan kurang  gizi,  kurang berpendidikan,  kurang pembinaan,  kurang  perhatian,  dan tidak dihiraukan dengan baik, maka secara otomatis keadaan masa depan bangsa loyo,  lesu,  terombang ambing, egois, brutal  dan negara morat marit alias  bangkrut.

Betapa pentingnya  akan  kesehatan anak, pendidikan anak,  bimbingan,  perhatian  dan kepedulian terhadap anak, sehingga  orang tua sanggup  bangun paling kurang lima kali dalam semalam untuk mengurus anak yang masih kecil itu. Namun banyak anak-anak ketika dewasa   dan menjadi orang hebat  tetapi tidak menghiraukan hal itu.

Oleh karena itu HAN (Hari Anak Nasional) bukan hanya diperingati  untuk hanya  sebatas memenuhi kewajiban kelembagaan saja dan bukan sekedar untuk acara seremonial saja. Tetapi perlu penggalian makna yang mendalam di sebalik peringatan  hari  tersebut yang perlu dihayati oleh setiap ibu bapak (orang tua) tentang tugas dan kewajibannya terhadap anak sudahkah terpenuhi baik agamanya, akidahnya, kesehatannya,  ataupun pendidikannya?

Dalam hal ini peran orang tua adalah sangat penting pada masa awal pertumbuhan anak-anak ketika berada di lembaga pendidikan asas  yaitu di peringkat rumah tangga.  Jika  pendidikan asas atau pendidikan dasarnya kacau balau, maka pendidikan berikutnya  akan mengalami jalan buntu. Jika anak hidup tidak menentu, maka masa depannya pun akan tidak menentu, jika  anak  tidak dibekali  hati dan pikirannya dengan perkara-perkara yang baik, mungkin ketika dewasa anak akan menjdi pendengki dan pengacau.  Karena itu kalau ibu dan bapak ingin masa depan bangsa ini  aman, damai, sejahtera, dan penuh curahan rahmat dari Allah swt, maka  carilah makanan yang halal untuk dikonsumsikan,  bekalilah mereka dengan iman dan taqwa,  akhlak mulia, kujujuran, keadilan, dan kemuliaan-kemuliaan.

Memperingati Hari Anak Nasional  harus dimaknai dan dimengerti oleh setiap orang tua bahwa anak adalah amanah Allah swt yang harus diperlakukan secara sangat manusiawi,  diberi pendidikan yang cukup, baik pendidikan agama ataupun pendidikan umum lainnya sehingga mereka bisa menikmati  kehidupan di dunia ini dengan aman dan harmonis  dan bisa hidup pula dengan bahagia di alam akhirat.

Di dunia diberi  makanan yang halal dan bergizi, dijaga kesehatannya, dipenuhi keperluannya, diberi pendidikan yang lumayan,  dan  dibimbing ke  arah yang benar dan  diridhai Allah swt. Oleh yang demikian, mendidik anak adalah tidak sama dengan mendidik anak binatang, kita butuh kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang sehingga mereka nanti akan mentransfer nilai-nilai tersebut kepada orang lain atau menggunakannya kepada dirinya sendiri.

Pemerintah Indonesia,  sangat peduli terhadap  eksistensi  anak dan melindungi serta mengawasi anak dengan membentuk KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dan di setiap  daerah atau provinsi  ada KPAD (Komisi Perlindungan Anak Daerah, dan di Aceh ada KPPAA (Komisi Pengawasan dan  Perlindungan  Anak Aceh).

Sebagai  bukti adanya kepedulian terhadap anak, maka pemerintah  menetapkan  dalam Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak  Dan  UU RI Nomor 17 Tahun  2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindunagn Anak Menjadi Undang –Undang.

Dengan adanya undang-undang ini maka  eksistensi anak  terjamin dan para pelaku kekerasan terhadap anak, predator anak, penelantaran hak anak,  exploitasi hak anak, pelecehan  sexual  terhadap anak-anak, dan kejahatan-kejahatan lainnya  terhadap anak, maka akan berhadapan dengan hukum. Jika orang tua dan masyarakat  menelantari anak, maka negara berhak menanggulanginya.

Demikian pula untuk Aceh, sebagai bukti kepeduliannya terhadap anak, maka dibuatlah Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Perlindungan Anak. Namun  peraturan demi peraturan boleh saja dibuat, kalau  rumah tangga gagal paham dalam mendidik anak, masyarakattidak pedui terhadap anak,  maka semuanya akan sirna.

Lima belas abad yang lalu Rasulullah saw telah bersabda yang artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah (suci tanpa noda), kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi”.  Artinya  anak sangat tergantung pada rumah tangganya (orang tuanya), maka peran orang tua adalah maha penting  dalam mendidik mereka. Kemudian, John Lock dengan teorinya yang terkenal “Teori Tabularasa”, yang menyatakan bahwa anak itu seperti  kertas putih atau lilin, siapa yang mengotori atau mencoret-coret kertas putih tersebut adalah  ibu bapak di rumah.  Selanjutnya orang Amerika menyatakan  bahwa  “Charity begins at home”,  kebaikan itu dimulai dari rumah.

Jika rumah tangga gagal mendidik anak, maka  sirnalah masa depan mereka. Dalam pepatah Aceh sering kita dengar, “Lagee U meunan minyeuk,  Lagee ma atau du meunan aneuk”  (Santan itu sangat tergantung  pada jenis kelapanya,  dan anak akan menuruti bagaimana ibu atau bapaknya).  Kira-kira demikianlah maknanya dan ini semua bermuara pada hadis Nabi saw yang telah disebutkan di atas. Ternyata prediksi Rasulullah saw tepat sekali dan tidak terbantahkan.

Kasus-kasus anak semakin  hari semakin meningkat walau hukuman terhadap pelaku kekerasan terhadap anak berat dan memalukan. Namun mereka tidak jera-jera mengulangi perbuatannya walau sudah dipenjara atau dicambuk.  Diantara kaus-kasus anak adalah bullying sesama temannya di sekolah, penelantaran hak anak baik dalam hal makanan, gizi, pakaian dan pendidikannnya, pelecehan hak anak di sekolah-sekolah berasrama seperti sodomi baik dilakukan oleh seniornya ataupun oleh gurunya, penganianyaan anak baik dilakukan oleh seniornya di asrama  atau penyiksaan oleh orang tua mereka di rumah,  ekploitasi anak untuk menjadi pengemis, pengamen, perdagangan anak-anak kecil atau bayi, dan perebutan hak asuh  anak ketika sebuah pasangan bercerai.

Semua persoalan ini diakibatkan oleh dua hal: yaitu  pertama, karena  persoalan  pendidikan  keluarga khususnya  ibu dan bapaknya  yang sangat minim  jenjang  pendidikannya sehingga berpengaruh dalam mendidik anaknya,  dan kedua, adalah  karena  akibat perceraian sehingga yang menjadi korban adalah anak-anak. Namun  selama Covid-19 ini mencuat ke permukaan, maka kasus-kasus anak tenggelam atau hilang dalam pembicaraan, karena  persoalan  pandemic ini lebih  focus daripada yang lainnya. Padahal, selama Covid-19 dunia anak-anak tersekat dan terkubur di rumah-rumah. Namun mereka adalah manusia kecil yang belum pandai menjerit dan berdemonstrasi, maka jadilah apa yang terjadi.

Sejak bulan April 2019 hingga bulan Juli 2020 kita masih terjebak dalam Covid-19, dan sejak itu pula pendidikan anak-anak semakin dipertanyakan. Anak-anak terkurung di rumah-rumah, dan menghabiskan waktu dengan gadget, televisi, dan alat-alat elektronik lainnya, yang kadang-kadang  membosankan.  Dengan bahasa yang  sederhana dapat dikatakan bahwa  selama bencana Covid-19 menimpa dunia,  maka dunia anak-anak-pun semakin  gelap dan tidak menentu.  Pembelajaran tatap muka digantikan dengan belajar online,  dan ini bukan semuanya mulus terlaksana, malah timbul berbagai persoalan baru bagi anak atau bagi orang tua.

Persoalan  HP android, artinya tidak semua orang memilikinya,  dan tidak semua ibu bapak dapat  menggunakannya,  sinyal   internet yang lemah, tidak ada jaringan, dan  persoalan ekonomi sangat  berat juga dihadapi oleh orang  tua murid. Persoalan  belajar online-pun lebih banyak  keterlibatan  orang tua di rumah, atau kakaknya baik dalam membuat tugas ataupun dalam proses belajar.

Covid-19  sangat berpengaruh pada  pendidikan anak,  pengaruh pada psikis anak,  pengaruh terhadap pertumbuhan pemikiran anak, dan pengaruh pola pikir mereka selama  lock down. Semakin lama berada  dalam kurungan (lock down), maka semakin  buntu pikiran dan qalbu anak-anak karena kehilangan tempat belajar bersama, kehilangan tempat bermain bersama,  kehilangan tempat berkumpul bersama, dan minimnya  berolah raga sesama teman mereka.

Anak adalah Hiasan dan Ujian dalam  Kehidupan Dunia

Anak adalah sebagai penyejuk hati dan pendamai dalam kehidupan keluarga dan sekaligus sebagai pelipur lara.  Memang sudah sunnatullah manusia dianugerahkan kecintaan kepada  wanita, anak-anak, harta benda berupa emas dan perak, sawah ladang dan binatang ternak. Demikianlah maksud firman Allah dalam al-Qur’an dalam Surat Ali Imran ayat 14.  Jika orang tua tidak menjadikan anak-anak sebagai pengobat rindu dan penyejuk hati, maka  ada sesuatu yang kurang pada diri orang tua tersebut. Ini melanggar sunnatullah, karena  binatang buas saja  mencintai anak,  menjaga  serta melindungi anaknya.

Jika anaknya  terganggu, maka   mereka rela mati mepertahankan anak-anak mereka. Anak-anak tersebut memerlukan kelembutan dan kasih sayang, dan belaian kasih dari orang tuanya.  Anak-anak  perlu dilindungi, diperhatikan,  diawasi, dan  dijaga  seperti menjaga harta kekayaan yang sangat berharga. Jika rumah tangga gagal  memberikan sesuatu yang terbaik terhadap anak bermakna mereka gagal  menciptakan masa depan yang gemilang bagi masa depan bangsa dan negara.

Di sisi lain anak adalah  sebagai ujian bagi orang tua, karena itu kita tidak perlu berbangga dengan banyak anak yang kita miliki, akan tetapi yang perlu kita banggakan adalah apabila kita mampu mendidik mereka menjadi anak yang shalih atau shalihah. Ujian yang paling berat adalah menjaga anak  tetap menjadi manusia, menjaganya agar terbebas dari  narkoba,  pergaulan bebas, dan juvenile delinquency.

Makanya  setiap lelaki ketika berazam untuk mendirikan sebuah tumah tangga, hal pertama dilakukan adalah memilih wanita shalihah,  memberikan makanan halal kepada keluarga, menjaga akhlak di depan anak-anak,  dan menjalankan semua sunnah Rasulullah sejak memulai menyetubuhi  isteri,  pola makanan  ibu, apa yang harus dilakukan  ibu  hamil, ketika melahirkan, aqiqah, memberi nama yang baik,  hingga  memberikan pendidikan yang  memadai.

Negara dan Kewenangnnya  Terhadap Perlindungan Anak 

Undang-undang  Republik Indonesia Nomor   35 Tahun 2014  merupakan  hal ehwal  perlindungan anak . Kemudian pemerintah membentuk KPAI dan KPAD di daerah-daerah adalah sebagai bukti kepedulian   dan perlindungan terhadap anak.  Surat Edaran  Menteri Dalam Negeri No. 460/812/ SJ  Tahun 2020 Tentang  “Perencanaan dan  Penganggaran  dalam Pencegahan dan Penanganan  Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak” yang ditujukan kepada  Gubernur Seluruh Indonesia dan Ketua DPRD seluruh Indonesia untuk menganggarkan dana  bagi  perlindungan perempuan dan anak. Ini merupakan  kepedulian pemerintah  terhadap  kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Orang perempuan dan anak  sebagai korban kekerasan harus  dibela oleh negara, dibantu oleh negara, ditanggung oleh negara, dan  dipelihara oleh negara. Aceh dalam hal  ini  lebih istimewa lagi karena  di samping  mempunyai UU   yang  telah disebutkan di atas, ada Qanun Nomor 11 Tentang Perlindungan Anak. Tinggal sekarang apakah kita semua beserta aparat penegak hukum  mempunyai  iktikad  baik untuk menjaga keberlangsungan hidup calon pemimpin masa depan dengan serius?  Pemerintah harus menghukum berat dan  mencapai efek jera bagi yang melakukan kekerasan terhadap anak.

Baca Juga : Hari Anak Indonesia Ditengah Wabah

Ada orang yang memprotes terhadap pemutusan hukuman yang belum  memenuhi  kriteria “jera” setelah dihukum. Misalnya  hukum cambuk bagi  pelaku kekerasan terhadap anak, dan kemudian  perlu terus dipenjara  sebagai  tanda serius bagi pelanggar hak anak atau pelaku kekerasan terhadap anak. Jika tidak bertentangan dengan kaedah hukum, setelah mereka dicambuk dan ditambah lagi hukum  kurungan penjaran dalam waktu yang lama, sehingga mereka malu ,aib, dan sadar untuk tidak melakukan hal seperti itu di masa yang akan datang.

Upaya-upaya pemerintah melalu aparatnya perlu ditingkatkan terhadap anak-anak yang berada di café-café, dan warung-warung kopi ketika jam sekolah, dan diluar jam sekolah hingga larut malam,  mereka tidak boleh berkeliaran pada jam sekolah dan memakai seragam sekolah.

Anak-anak sekolah yang senantiasa merokok dan menonton gambar-gambar  porno  pada  jam sekolah di tempat-tempat tertentu perlu diatasi oleh pemerintah.  Seharusnya pemerintah harus membuat peraturan atau undang-undang seperti negara-negara luar agar orang-orang tidak boleh menjual rokok dan minuman keras kepada anak-anak usia sekolahan atau anak-anak di bawah umur.

Warung-warung pun tidak boleh membiarkan anak-anak apalagi memakai seragam sekolah berada di warung mereka pada jam sekolah. Kebanyakan  orang tua  mengkritik lemahnya pengawasan pemerintah dalam hal pengawasan terhadap anak ketika anak –anak tersebut berada di lingkungan sekolah, namun mereka pada saat yang sama mereka  berada di luar  lingkungan sekolah.

JIka orang tua , para guru di sekolah, dan pemerintah melalui Satpol PP-nya,  Wilayatul Hisbah,  TNI-Polri  bersatu padu memantau gerak gerik anak, mungkin anak-anak akan sempit ruang geraknya untuk membuat kesalahan dan   kejahatan.  Kemudian jika setiap komponen masyarakat  di atas  siap untuk  menanggulangi  kejahatan  tersebut, maka masa depan anak  akan cerah dan bersinar.

Penulis adalah Ketua Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA).