HARI  ANAK  INDONESIA  DITENGAH  WABAH

Memperingati Hari Anak Indonesia pada tahun ini  yang jatuhnya pada Hari Kamis, tanggal   23 Juli 2020 nampaknya  tidak terlalu  meriah dan  bergairah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya,  karena  kita semua sedang berada dalam kondisi  wabah Corona di seluruh Indonesia. Bahkan  kondisi serupa bukan hanya  dialami oleh bangsa Indonesia saja, akan tetapi seluruh dunia  merasakan betapa bahayanya  Covid-19  ini.  Wabah ini tidak mengenal  tempat dan waktu serta musim, siapapun  akan terkena dan upaya untuk menghindari dari wabah tersebut telah diperjelas oleh para medis kita dan juga arahan World Health Organization (WHO) dengan beberapa langkah yang harus ditempuh.  Apabila ingin selamat dari wabah yang berbahaya ini , maka  ikutilah petunjuk dan arahan tersebut kemudian bertawakkal kepada Allah swt.   Mudah-mudahan Allah swt  menjauhkan wabah Corona ini  dari negeri  kita,  dan menyelamatkan  anak-anak  (generasi muda) kita yang akan menjadi pemimpin masa depan. Usaha dan doa sangat diperlukan agar wabah ini cepat hilang di negeri kita. Kalau benar-benar juga ingin mengusir habis Covid-19 ini maka bersalawatlah kepada Rasulullah setiap lepas shalat lima waktu dalam jumlah yang tak terhingga banyaknya, insya Allah. Karena kekuatan salawat bukan  hanya dapat  menghindari penyakit berbahya atau bala bencana dunia, bala bencana akhirat-pun dapat teratasi  jika mendapat syafaat Rasulullah saw.  Bagaimana kita mendapat syafaatnya kalau sunnahnya dan salawat kepadanya tidak pernah dilakukan.

Anak-anak adalah warisan yang  harus dijaga dengan baik dan  diberikan makanan yang halal dan bergizi, serta diberikan pendidikan yang layak dan  memadai baik pendidikan agama (religious instruction) ataupun pendidikan vocasional lainnya untuk dapat menopang kehidupannya  dalam mengharungi bahtera  kehidupan ini yang sangat  menantang.  Upaya-upaya untuk menyelamatkan anak dari berbagai penyakit   dan virus  adalah kewajiban orang tua  secara khusus dan pemerintah secara umum. Anak bukan hanya  harus diproteksi dari berbagai penyakit menular, akan tetapi mereka harus aman dari berbagai penyakit social seperti  narkoba,   pergaulan bebas,  pornografi, tawuran antara pelajar, balapan liar,  budaya merokok dan  sejenisnya.  Jadi, tugas rumah tangga bersama pemerintah  adalah extra berat dalam rangka menyelamatkan anak-anak bangsa dari  penyakit menular,  dekandensi moral, dan kekerasan terhadap mereka.  Disamping itu, anak perlu dijaga harkat dan martabatnya,  jangan jadikan anak sebagai hamba sex, jangan jadikan anak sebagai alat perdagangan,  jangan jadikan anak untuk alat mengemis,  dan jangan  menjadikan anak untuk mengamen dan jangan menjadikan anak sebagai tameng  untuk  berfoya-foya.

Pengawasan  orang tua, masyarakat, dan pemerintah  terhadap  kelangsungan hidup anak adalah sangat dinanti-nantikan, karena mereka adalah asset bangsa, calon pemimpin masa depan, pewaris  kepemimpinan bangsa  dan penanggung jawab  dalam  menjalankan  kehidupan berbangsa dan bernegara      secara adil  dan beradab.  Masa depan bangsa di tangan anak-anak yang sekarang, karena itu mereka   masih perlu bimbingan dan  petunjuk serta arahan kemana mereka akan menuju. Jika kita salah mendidik mereka, maka masa depan bangsa akan hancur  dan negara ini akan musnah. Karena itu persiapkan anak-anak yang shalih, berakhlak mulia, jujur dan adil sehingga negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang yang bermoral di masa yang akan datang.  Kalau  benar cara menangani pendidikan anak sekarang ini, pemimpin masa depan jauh dari koruptor, jauh dari sifat kemunafikan, bukan penipu rakyat, bukan penyunat uang rakyat,  dan bukan drakula yang menghisap darah rakyatnya.  Karena itu setiap orang tua harus benar-benar  merenungkan bagaimana persisnya model pemimpin masa depan yang bermoral tinggi, yang takut akan azab Allah dan takut akan neraka Allah, serta takut akan hari pertanggung jawaban di yaumil hisab nanti. Beginilah calon pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat Islam dan masyarakat normal.

Merayakan hari anak Indonesia (nasional)  adalah  tidak begitu penting kalau kita tidak mau menghayati akan  kebutuhan anak seperti  makanannya, tempat tinggal yang layak untuknya, pendidikan yang cukup untuknya, baik itu pendidikan agama ataupun pendidikan umum,   makanan  yang halal  lagi   bergizi untuk mereka,  serta sarana  dan prasarana  olah raga yang  memadai, lingkungan yang harmonis yang jauh dari angkara murka.  Makanya dalam konsep Islam kita disuruh  puasa dulu sebelum ada persiapan untuk berumah tangga, untuk apa  cepat-cepat berumah tangga   kalau untuk diri sendiri belum bisa terpenuhi haknya, demikian pula bagaimana memimpin orang lain, kalau memimpin diri sendiri belum mampu, bagaimana mengurus anak dan isteri sedangkan mengurus diri sendiri  belum memenuhi syarat. Mendirikan rumah tangga atau menikah mungkin tidak seberapa  sulit dan sukar, tetapi mempertahankan  sebuah rumah tangga yang rukun dan damai, menjadikan keluarga yang  mawaddah dan sakinah, rasanya sangat sulit, belum lagi  mendidik anak-anak menjadi manusia yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Di sini yang berbicara adalah ilmu yang kita miliki, kita perlu adanya  kesabaran,  adanya ketabahan,  perlu kepala dingin dan jauh dari emosional dan kemarahan serta egoism. Banyak hal yang diperlukan untuk mengharungi badai kehidupan ini yaitu membina sebuah rumah tangga. Jika sebuah rumah tangga  yang shalih, maka secara otomatis akan melahirkan anak-anak yang shalih pula dan menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat dan bangsa, serta menjadi pembela agama.

Sebenarnya inti dari peringatan Hari Anak Indonesia adalah bagaimana memenuhi hak anak,  bagaimana menjaga anak agar kondisinya selalu stabil, sehat,  bahagia dan ceria,   bagaimana menjaga  kelangsungan hidup anak agar mereka bahagia  dan maunya tidak perlu dirasakan kepedihan yang pernah kita rasakan dahulu, dan  pendidikan yang kita rasakan dahulu  sungguh tidak lagi sama dengan pendidikan anak sekarang, karena mendidik anak-anak sekarang ini untuk mempersiapkan mereka  sesuai dengan zamannya, bukan sesuai dengan zaman kita.  Tentu saja,  bukan zaman seperti yang telah kita lalui yang penuh dengan tantangan dan  kesengsaraan.  Hindarilah mempertontonkan  kekerasan dihadapan anak-anak, hindarkan  ketidak adilan dalam mendidik anak,  hindarkan anak-anak  mem-bullying teman-teman mereka, hindarkan  pemukulan dan  pelecehan serta sesuatu yang   berefek negative  kepada mereka. Inilah yang perlu  dijaga ketika kita  berada bersama anak-anak.

Walaupun kita berada di tengah wabah,  persoalan anak harus diutamakan agar mereka  tabah dan tahan uji terhadap tantangan yang lebih berat dimasa hadapan. Hari anak nasional  sebagai pengungat bagi ibu bapak, masyarakat dan pemerintah bahwa  jika kita tidak  memperlakukan anak-anak secara manusiawi  dan menurut   pola yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah saw, ditakutkan mereka akan menjadi senjata makan tuan di masa depan.  Oleh karenanya,  hati-hatilah dalam mendidik agar  tidak salah kaprah.