Gerhana Bulan

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Gerhana bulan yang dalam bahasa Arab disebut khasafal qamaru bermakna hilangnya cahaya bulan merupakan gejala alam yang Allah jadikan untuk menakuti hambaNya agar lebih tha’at dan lebih tinggi imannya kepada Allah SWT. Dalam bahasa Arab ada dua istilah yang digunakan untuk dua kejadian gerhana, yaitu kata khusuf dan kata kusuf, khusuf sering digunakan untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana mata hari. Secara literlek khusuf bermakna kekurangan dan kusuf berarti berubah menjadi hitam, keduanya dapat disimpulkan dengan makna gerhana.

Gerhana bulan terjadi karena posisi bumi berada antara bulan dan mata hari sehingga bulan terhalangi memperoleh cahaya dari mata hari dan yang tersisa adalah gelapnya cahaya di bumi pada orbitnya, lazimnya bulan tidak mempunyai cahaya melainkan setelah mendapatkannya dari mata hari. Allah menetapkan gerhana bulan selalu terjadi ketika purnama dan gerhana mata hari selalu terjadi ketika tersembunyinya hilal. Semua itu merupakan fenomena alam yang sengaja Allah jadikan untuk menakuti hambaNya agar lebih tha’at dan lebih tinggi imannya kepada Allah selaras dengan hadis dari Abu Bakrah yang berbunyi: “sesungguhnya mata hari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, tetapi Allah menakut-nakuti hambaNya dengan keduanya”.

TUJUAN GERHANA
Dalam beberapa hadis terdapat keterangan bahwa gerhana itu terjadi untuk menakuti hamba Allah agar lebih tha’at dan lebih beriman kepada Allah SWT, dan terjadinya gerhana sama sekali tidak ada hubungan dengan kehidupan dan kematian seseorang hamba sebagaimana yang diisyaratkan oleh kaum jahiliyah pada masanya. Rasulullah SAW.bersabda yang artinya: “sesungguhnya mata hari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi Allah menakut-nakuti hambaNya dengan keduanya.”

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi: “tanda-tanda kebesaran yang Allah kirim kali ini bukanlah karena kematian seseorang dan bukan juga karena hidupnya seseorang, tetapi dengannya Allah menakut-nakuti hambaNya, jika kalian melihat sesuatu darinya maka bergegaslah mengingat Allah, berdo’a dan memohon ampun kepadaNya”. Ketika terjadinya gerhana Rasulullah SAW selalu memerintahkan ummatnya untuk memerdekakan budak, bersedekah, mengerjakan shalat, dan bertaubat. Karenanya kepada seluruh ummat Islam disunnatkan untuk melaksanakan shalat gerhana yang disertai dengan do’a ketika terjadinya gerhana bulan dan mata hari.

Mengingat kejadian-kejadian alam itu ada kaitannya dengan ulah manusia yang mendiami planet bumi ini maka cobaan-demi cobaan dari Allah selalu terjadi dalam berbagai bentuk yang sering disebut dengan murka alam seperti gerhana, gempa, banjir, hujan batu, angin putting beliung, dan seumpamanya. Allah SWT.berfirman: Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

SHALAT GERHANA
Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW.yang memerintahkan ummatnya melaksanakan shalat sunat ketika terjadi gerhana maka semua kita harus mengerjakannya karena takut kepada Allah SWT. shalat sunat gerhana itu berbeda dengan shalat sunat lainnya karena ia memiliki dua kali ruku’ setip rakat dan setiap even dalam shalat tersebut dianjurkan berdiam lebih lama dibandingkan dengan shalat sunat lainnya. Selengkapnya tata cara shalat sunat gerhana dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Pertama melakukan takbiratul ihram dengan mengucapkan Allahu Akbar layaknya memulai shalat lima waktu sehari semalam, kemudian yang kedua membaca do’a iftitah seperti shalat biasa, lalu yang ketiga membaca ta’awudz (memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk) dan membaca basmalah (Bismillahirrahmanirrahim). Keempat membaca surah Al-Fatihah yang diikuti dengan membaca satu surah panjang dari Al-Qur’an sepanjang surah Al-Baqarah dengan mengeraskan suara. Kelima bertakbir dan ruku’ yang lama serta mengulang-ulang bacaan do’a ruku’ di dalamnya.

Lalu keenam mengangkat kepala dari ruku’ seraya membaca sami’allahu liman hamidah, setelah berdiri tegak membaca: rabbana wa lakal hamdu. Ketujuh membaca surat Al-fatihan dan satu surat panjang yang lebih pendek dari surat pertama dalam ruku’ pertama (Aisyah menerangkan; Nabi membaca surah Ali Imran pada kesempatan tersebut), ukuran standarnya adalah berdiri yang pertama lebih lama daripada berdiri yang kedua. Kedelapan bertakbir dan ruku’ yang lama, lebih pendek dari ruku’ yang pertama sehingga lamanya ruku’ pertamaa berbeda dengan ruku’ kedua.
Kesembilan mengangkat kepala dari ruku’ dan membaca sami’allahu liman hamidah, setelah berdiri tegak membaca rabbana wa lakal hamdu, dan memanjangkan berdiri dalam I’tidal seperti lamanya ruku’. Kesepuluh bertakbir dan sujud yang lama seperti lamanya ruku’, kesebelas bertakbir dan mengangkat kepala dari sujud, lalu duduk di antara dua sujud, dan memanjangkan duduk ini seperti lamanya sujud. Kedua belas bertakbir dan sujud yang lama, tetapi tidak selama sujud yang pertama.

Ketiga belas adalah bertakbir dan bangkit menuju raka’at kedua, kemudian shalat seperti pada raka’at pertama yaitu dengan dua kali bacaan Al-Qur’an, dua kali ruku’, dan dua kali sujud. Hanya saja setiap bacaan Al-Qur’an, berdiri, dan sujud yang pertama lebih lama daripada yang dilakukan setelahnya. Keempat belas duduk tasyahhud dan bershalawat kepada Nabi SAW, lalu yang terakhir mengakhiri shalat dengan dua kali salam selaras dengan hadis dari Aisyah r.a: “sesungguhnya Rasulullah SAW.mengerjakan shalat pada hari terjadinya gerhana mata hari. Beliau berdiri dan bertakbir seraya membaca Al-Qur’an yang cukup panjang, ruku’ yang lama, mengangkat kepalanya lalu membaca: “sami’allahu liman hamidah”, kemudian Beliau kembali berdiri yang lama, namun tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ yang lama, namun tidak selama ruku’ yang pertama, lalu membaca “sami’allahu liman hamidah” dengan melanjutkan bacaa: “rabbana wa lakal hamdu”. Beliaupun sujud yang lama sebelum bangkit. Kemudian Rasulullah SAW berdiri lama namun tidak selama berdiri yang pertama, kemudian ruku’ yang lama, namun tidak selama ruku’ yang pertama, lalu berdiri lama, namun tidak selama berdiri yang pertama, lantas ruku’ yang lama, namun tidak selama ruku’ yang pertama, selanjutnya sujud, namun tidak selama sujud yang pertama, hingga selesai shalat gerhana.

Demikianlah tata cara pelaksanaan shalat gerhana yang mu’tamad yang menjadi pedoman utama karena didukung oleh hadis-hadis yang shahih. Dan kepada seluruh ummat Islam dianjurkan untuk melaksanakannya ketika terjadi gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana mata hari. Sebagaimana kita dapat informasi dari pihak berkompeten bahwa hari Rabu tanggal 31 Januari 2018 akan terjadinya gerhana bulan pada waktu sekitaran ba’da maghrib sampai waktu shalat ‘isya, maka kepada segenap muslim wal muslimah dianjurkan untuk melaksanakan shalat khusuf (shalat gerhana bulan) secara berjama’ah di masjid-masjid terdekat karena Rasulullah SAW selalu melaksanakannya di masjid ketika terjadi gerhana baik gerhana bulan maupun gerhana mata hari.

Setelah selesai melaksanakan shalat gerhana tersebut imam atau seseorang yang ditugaskan bertindak sebagai khathib yang menyampaikan nasehat kepada seluruh jama’ah shalat. Berdasarkan hadis dari Aisyah r.a.bahwa Rasulullah SAW setelah melaksanakan shalat khusuf beliau segera menuju mimbar untuk menyampaikan khuthbah. Di antara kandungan khuthbah yang disampaikan Beliau adalah: dimulai dengan memuji Allah dengan pujian yang sangat pantas bagiNya, lalu berucab: “amma ba’du” dan menyambungnya dengan: “wahai ummat manusia, sesungguhnya mata hari dan bulan termasuk dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana lantaran kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian melihat peristiwa tersebut, maka ingatlah kepada Allah dan bertakbirlah. Beliau juga menyuruh ummatNya bersedekah, memerdekakan budak, beristighfar, dan berdo’a. beliau juga bersabda: “jika kalian melihatnya maka bergegaslah melaksanakan shalat, lalu shalatlah sehingga tersingkap apa yang sebenarnya menimpa kalian”. Selanjutnya Nabi menggambarkan apa yang terjadi dalam syurga dan dalam negara yang diawali dengan kata-kata: “wahai ummat Muhammad, tidak ada seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah ketika hamba laki-lakiNya berzina atau hamba perempuanNya berzina. Wahai ummat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.

Penulis : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA
(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)
=diadanna@yahoo.com=