Dakwah Itu Menyatukan Bukan Memecah Belah

Oleh M. Sanusi Madli
Dakwah merupakan ajakan atau seruan untuk kebaikan, untuk memberi pemahaman kepada ummat tentang kebenaran, menyerukan ummat kejalan yang lebih baik, menerangi jalan jalan gelap sehingga ummat dapat berjalan dijalan yang benar, tidak tersesat di lorong lorong gelap, dan tujuan akhir yang diharapkan dari dakwah ini adalah bersatunya ummat dalam bingkai persaudaraan dengan beragam perbedaan, karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari.Karena tujuan dari dakwah adalah menyatukan ummat dalam beragam perbedaan, maka bila ada penyeru dakwah yang menyeru pada perpecahan, maka dapat diduga yang bersangkutan tidak memahami tujuan dan hakikat dakwah itu sendiri, atau mereka memahami tujuan dan hakikat dakwah namun sedang melakukan aksi perpecahan, menjalankan misi dari musuh musuh dakwah (islam) itu sendiri, sehingga gerakan nya itu dapat menghalangi atau menghambat persatuan ummat, tujuan utamanya adalah terjadi nya perpencahan ditengah tengah ummat, ummat saling memusuhi, saling menyalahkan bahkan saling mengkafirkan antar sesama.

Karena itu sangat wajar bila kemudian masyarakat merasa resah dengan kelompok pemecah belah ini, penyeru pada kesesatan, mudah membid’ahkan bahkan sangat mudah mengkafirkan antar sesama, padahal perbedaan nya hanya pada tataran masalah furu’ (cabang) saja, masalah ijtihad politik saja, bahkan yang lebih menyedihkan lagi, kelompok yang berbeda dengan nya langsung dilebelkan sebagai musuh, yang tentu harus dijauhi bahkan diperangi, padahal ajaran islam melarang mengkafirkan, melarang keras memutuskan tali persaudaraan, bahkan dengan kafir zimmi sekalipun kita disuruh berbuat baik, dilarang memusuhi apalagi sesama islam.

Dakwah yang diharapkan adalah dakwah yang dapat menyatukan seluruh perhatian ummat, pikiran ummat, potensi ummat agar terciptanya kerja yang lebih produktif, lebih baik dan lebih bermanfaat untuk masa yang akan datang, tidak disibukkan oleh hal hal kecil, perbedaan perbedaan kecil, tapi lebih kepada produktifitas sehingga melahirkan karya yang lebih besar, inilah yang dikhawatirkan oleh musuh musuh islam, bersatunya ummat islam.

Musibah yang paling besar yang menimpa kaum muslimin hari ini adalah perpecahan, karena itu yang dapat membuat kaum muslimin menang adalah persatuan, hanya dengan persatuan yang penuh kasih sayang, penuh sikap negarawan dan penuh pemakluman atas perbedaan kecil, ummat islam akan memenangkan berbagai pertarungan dan bangkit dari keterperukan.

Mengharapkan adanya ijmak dalam bab furu’ adalah sesuatu yang mustahil, bahkan bertentangan dengan tabiat agama itu sendiri, kemanusiaan itu sendiri, karena itu Allah menghendaki aktualitas agama ini abadi dan dapat menyertai semua zaman, islam agama yang bebas dari kebekuan dan ekstremisme.

Sadar dan renungkanlah wahai penyeru perpecahan, bukan kah kita sama sama muslim? Bukankah kita sama sama suka bertahkim kepada sesuatu yang membuat hati kita tenang? Bukan kah kita sama sama senang ketika menerima kebaikan dan berbuat kebaikan? Lantas mengapa masih harus ada perpecahan diantara kita?

Bisa kah kita saling menghargai perbedaan dalam bingkai persaudaraan? Bisakah kita tetap minum kopi meskipun ijtihad politik kita berbeda? Bisakah kita membangun silaturrahim meskipun mazhab kita berbeda? Bisakah kita berdiskusi dengan lapang dada meskipun kita berbeda pilihan ormas? Sadarilah bahwa yang diinginkan oleh musuh musuh islam adalah kita saling bertikai, saling menyalahkan dan saling memutus tali persaudaraan.

Mengapa kita tidak berusaha untuk saling memahami dalam suasana penuh cinta? Bisakah kita melihat sejenak lembaran sejarah para shahabat Nabi, dimana mereka juga sering berbeda dalam memutuskan hukum, tapi apakah hati hati mereka saling berpecah belah? Sama sekali tidak, saya kira, kita belum lupa tentang kisah shalat asar di bani Quraidhah.

Jika para shahabat saja yang lebih dekat dengan zaman kenabian dan lebih mengetahui tentang seluk beluk hukum juga masih muncul perbedaan pendapat, lantas mengapa kita harus saling memusuhi untuk sesuatu perbedaan dalam masalah masalah kecil?

Jika para imam saja, yang lebih tau tentang Al Qur’an dan Sunnah juga masih saling berbeda pendapat dan berdebat, lalu mengapa dada kita tidak selapang mereka dalam menyikapi perbedaan? Mengapa kita begitu mudah menuduh saudara saudara kita yang berbeda ijtihad sebagai musuh yang harus dijauhi bahkan tidak boleh ditemui? Mengapa kita begitu mudah menuduh dan memfitnah saudara saudara kita yang berbeda dengan fitnah yang keji? Bukan kah Allah akan meminta pertanggung jawaban kita diakhirat nanti?

Mari kita berlapang dada dalam menghadapi berbagai perbedaan pendapat, kita mesti saling percaya bahwa disetiap kita memiliki ilmu, dan menyadari bahwa setiap sisi dakwah itu ada sisi benarnya juga tidak menutup kemungkinan ada sisi salah nya, maka dari itu tidak boleh sesekali kita menganggap kita lah yang paling benar sementara yang lain salah.

Mari kita jauhi sikap fanatisme terhadap pendapat kita sendiri, serta senantiasa berusaha mencari kebenaran, dan membawa masyarakat kepada kebenaran itu dengan cara yang baik dan penuh sikap lemah lembut.

Mari saling berangkulan dengan penuh kasih sayang, penuh cinta dan penuh keharmonisan, bersatu menuju Indonesia sebagai kekuatan 5 besar dunia.

Wallahu’alam…
Penulis : M. Sanusi Madli (Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh)

sumber : https://santerdaily.com