Zainal Abidin Pimpin Dewan Dakwah Subulussalam

Zainal Abidin SH resmi memimpin Dewan Dakwah Kota Subulussalam periode 2019 -2024. Zainal Abidin bersama pengurus lainnya dilantik oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA di Masjid At Taqwa Dewan Dakwah, Kampong Penanggalan Timur Kec. Penanggalan, Subulussalam, Sabtu (29/6/2019).

Acara tersebut dirangkai dengan Halal bi halal Forum Dakwah Perbatasan (FDP) bersama para dai dan masyarakat Kota Subulussalam. Dan turut dihadiri oleh perwakilan Biro Isra Setda Aceh, Kadis Syariat Islam, MPU, perwakilan ormas Islam, Majelis Syura Dewan Dakwah dan undangan lainnya.

Ketua Dewan Dakwah Kota Subulussalam, Zainal Abidin SH, mengatakan bahwa dakwah menjadi tugas dan tanggung jawab bersama. Dari itu ia mengajak semua komponen umat dan dai di Subulussalam untuk bersama-sama mengambil tanggungjawab dakwah ini.

“Oleh karena itu kami sangat mengharapkan dukungan dan bantuan dari semua pihak, khususnya Pemerintah Kota Subulussalam agar dapat memberikan perhatian lebih kepada kegiatan dakwah,” kata Zainal Abidin.

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA dalam sambutannya meminta kepada pengurus yang sudah dilantik agar dapat bekerja secara ikhlas dan profesional. Dengan demikian dakwah dapat berjalan sebagaimana direncanakan.

“Selain itu perlu sinergi dengan berbagai komponen termasuk Pemko Subulussalam. Kami berharap Pemko Subulussalam dapat mengarahkan pengurus yang baru dilantik ini. Dan yang perlu diingat bahwa dakwah yang dijalankan oleh Dewan Dakwah adalah dalam bingkai bil hikmah walmau’idhatul hasanah dan mujadalah secara ahsan,” kata Tgk Hasanuddin.

Sementara itu Ketua Forum Dakwah Perbatasan (FDP) dr. Nurkhalis, Sp.JP dalam sambutannya menambahkan bahwa FDP dan Dewan Dakwah seperti satu sisi dari 2 sisi mata uang yang tidak bisa dan tidak mungkin dipisahkan. Menurutnya ide awal FDP dan program Safari Dakwah Perbatasan adalah saran dari salah seorang pengurus Dewan Dakwah.

Makanya lanjut Nurkhalis maju mundurnya kegiatan dan program FDP juga ikut menjadi tanggung jawab Dewan Da’wah termasuk juga Dewan Dakwah Subulussalam.

“Tugas dakwah ini adalah wujud syukur atas nikmat yang sudah kita terima selama ini dari Allah Swt. Oleh karena itu marilah kita berdakwah dengan ikhlas semata mata mengharapkan ridha Allah Swt,” Kata Nurkhalis.

Sementara Walikota Subulussalam yang diwakili Asisten III, Masri SP dalam sambutannya mengatakan Pemerintah Kota jelas mendukung upaya dakwah yang dilakukan oleh organisasi keagamaan manapun yang sesuai dengan Al quran dan Al hadits.

“Dakwah hari ini menjadi tantangan kita bersama dan menjadi tanggungjawab kita bersama dalam mensyiarkan islam yang kita anut. Perbedaan pandangan dan pendapat setiap kita jangan dijadikan perpecahan ummat islam. Ingat bahwa perpecahan dapat menimbulkan kelemahan ummat,” kata Masri.

Masri menambahkan kesadaran itu harus tumbuh dari diri pribadi sebagai umat islam. Selain itu pelajari agama yang lebih mendalam dan jangan mengikuti pendapat-pendapat yang tidak sesuai dengan syariat.

Perbedaan itu lanjut Masri adalah harus bisa menghargai pendapat orang lain dengan tidak memaksakan kehendak sendirinya karena kepentingan diri dan kelompoknya. Apalagi kepentingan yang telah disusupi oleh unsur eksternal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

“Pemko akan mendukung upaya yang dilakukan para da’i dan kerjasama antar unsur pemerintah dengan Dewan Dakwah terutama pengurus baru ini semoga sinergi. Dari itu kami berharap kepada pengurus yang baru saja dilantik untuk bisa mewarnai dakwah di bumi Syaikh Hamzah Fansuri ini sehingga persoalan-persoalan kemunkaran bisa teratasi,” pungkasnya.

Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan pemberian santunan (sembako) kepada sekitar 20 keluarga dhuafa dari masyarakat sekitar Mesjid Dewan Dakwah dan makan siang bersama.

Adapun Pengurus Dewan Dakwah Kota Subulussalam yang dilantik diantaranya Zainal Abidin SH sebagai Ketua Umum, Aab Syihabuddin M.Ag sebagai Wakil Ketua Umum, Rahmat Lubis, S.PdI sebagai Sekretaris Umum dan Darmin Tinambunan sebagai Bendahara serta di bantu oleh bidang-bidang lainnya.

Caption Foto

1.  Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melakukan pelantikan Pengurus Daerah Dewan Dakwah Kota Subulussalam di Masjid At Taqwa Dewan Dakwah, Kampong Penanggalan Timur Kec. Penanggalan, Subulussalam, Sabtu (29/6/2019).

 

2.  Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA menyerahkan secara simbolis bantuan santunan (sembako) kepada kaum dhuafa usai pelantikan Pengurus Daerah Dewan Dakwah Kota Subulussalam di Masjid At Taqwa Dewan Dakwah, Kampong Penanggalan Timur Kec. Penanggalan, Subulussalam, Sabtu (29/6/2019).

ADI Aceh Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan dan Pedalaman Aceh

ADI Aceh Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan dan Pedalaman Aceh

 

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh yang merupakan lembaga pendidikan binaan Dewan Dakwah Aceh mengirimkan 28 mahasiswanya yang tergabung dalam Kafilah Dakwah ke daerah-daerah perbatasan dan pedalaman Aceh.

 

Daerah tersebut mencakup Subulussalam, Aceh Singkil, Gayo Lues, Simeulue, Aceh Tamiang, Aceh Barat dan Aceh Selatan.

 

Kafilah Dakwah ADI tersebut dilepas oleh Direktur ADI, Dr Muhammmad AR MEd di Markaz Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jumat (3/5/2019).

 

“alhamdulillah, ini merupakan kali keempatnya ADI Dewan Dakwah Aceh mengirimkan Kafilah Dakwah ke daerah perbatasan dan pedalaman Aceh. Semoga saja kehadiran Kafilah Dakwah ini akan semakin menyemarakkan dan menambah semangat masyarakat untuk beribadah di bulan suci Ramadhan,” kata Direktur ADI Dr Muhammmad AR MEd.

 

Ia menambahkan kegiatan bertema “da’i menyapa perbatasan dan pedalaman Aceh” ini tujuan utamanya adalah untuk menghidupkan syiar Ramadhan di daerah tersebut sekalian proses pentransferan ilmu dan dakwah oleh mahasiswa ADI kepada masyarakat setempat. Sama hal nya melakukan tugas nabi dan para sahabat yang terdahulu.

 

“dari itu haruslah bermental kuat dan selalu siap ketika terjun ke lapangan. Selain itu jangan takut membela kebenaran dan setiap tantangan yang datang mestilah di lawan. Dan yang terpenting adalah mampu menghadirkan Ramadhan ke dalam hati masyarakat,” kata Dr Muhammad.

 

Selama Ramadhan, lanjutnya, mareka akan mengisinya dengan berbagai kegiatan. Diantaranya menjadi Imam shalat 5 waktu dan taraweh, khutbah jum’at, ceramah Ramadhan, pelatihan TPA, pesantren kilat dan tahsin al qur’an.

 

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh sangat mendukung dan mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut.

 

Menurutnya misi dakwah harus tetap jalan. Dan ini merupakan bentuk partisipasi dan keseriusan serta komitmen Dewan Dakwah Aceh dalam mendidik anak bangsa dan mengajak masyarakat untuk senantiasa beribadah.

 

“Dewan Dakwah Aceh merupakan lembaga dakwah yang selalu siap dan akan senantiasa bersama pemerintah Aceh untuk berdakwah di daerah perbatasan dan pedalaman Aceh itu. Semoga saja pengiriman Kafilah Dakwah ini akan semakin mempererat tali silaturrahmi sesama ummat beragama,” tutup Tgk Hasanuddin.[]

Meneladani Rasul; Mengurangi Olah

 

Oleh Muhammad Syuib

Setiap datangnya bulan Rabi’ul Awwal, kita selalu diingatkan oleh sosok Nabi Muhammad SAW. Seorang manusia biasa yang berkarya luar biasa. Berasal dari kalangan masyarakat tetapi mencerminkan karakter malaikat. Seorang yang mendapat tawaran jadi orang kaya raya tetapi lebih memilih kehidupan biasa saja. Seorang yang berbicara berdasarkan fakta, bukan rekayasa. Seorang yang sangat dicintai tetapi lebih senang mencintai (ummatnya) dan seorang yang cerdas walaupun tidak pernah berada dikelas.

Setiap bulan ini pula ummat Islam selalu memperingati hari kelahirannya. Beda daerah beda pula bentuk peringatannya. Di Aceh kita memperingatinya dengan melakukan khanduri molod yang dilanjutkan dakwah islamiyah pada malam  hari. Durasinya pun lebih lama dibandingkan daerah lain. Diawali dengan molod awai yang diperingati di setiap bulan Rabi’ul Awwal, molod tingeh di bulan Rabi’ul Akhir dan molod akhe di bulan Jumadil Awwal.

Harapan dari Peringatan Maulid Nabi

Bertahun-bertahun pula kita sudah memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW. Tapi dampak apa yang sudah kita rasakan dari peringatan-peringatan tersebut! Sudahkan kita meneladaninya dengan mengikuti sunnahnya, mempraktekkan sifat dan karakteristiknya serta menjadikannya sebagai referensi hidup? Syukur jika diantara kita senantiasa on the track untuk terus meneladani Nabi serta konsisten bersama ajaran-ajarannya. Namun, kalaupun belum maka patutlah menjadi sebuah pertanyaan kenapa hal itu bisa terjadi. Lantas apa pemaknaan kita dari setiap peringatan maulid Nabi? Sebatas khanduri sajakah? Kalau ini yang terjadi maka terlalu naif.

Idealnya dalam setiap peringatan hari lahir Nabi membuat kita lebih dekat dengannya. Meneladani sifat-sifatnya yang agung serta melaksanakan apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan yang dilarangnya. Al-qur’an saja mengakui adanya keteladanan pada diri Nabi maka apalagi kita sebagai manusia biasa. Dua diantara sifat-sifat yang agung itu adalah siddiq dan amanah yang terasa mulai pudar dalam diri manusia zaman now. Munculnya hoax dimana-mana serta prilaku olah yang merajalela menjadi indikator jika dua sifat Nabi tadi mulai diabaikan.

Sifat siddiq mencerminkan setiap tutur kata Nabi yang jujur dan didasarkan pada fakta-fakta, bukan rekayasa (hoax). Sifat amanah sederhananya dipahami sebagai yang terpercaya. Dalam arti segala urusan yang diserahkan kepada Nabi, maka beliau akan melaksanakannya sesuai SOP yang ada. Tidak ada mark up apalagi laporan fiktif, semuanya dapat dipertanggung jawabkan dunia akhirat. Dalam bisnis yang dijalani bersama Siti Khatidjah menjadi salah satu contoh bagaimana jujur dan amanahnya Nabi dalam melaksanakan suatu amanah dan pekerjaan. Dengan sifat-sifat ini pula membuat beliau digelar sebagai al-amiin oleh masyarakat Mekkah dan Madinah kala itu.

Olah dan Tantangan Peringatan Maulid di Zaman Now

Olah bukanlah terma asing dalam kosa kata masyarakat. Penulis yakin sebagian besar publik akrab dengan istilah ini. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata olah diartikan dalam beberapa pengertian. Salah satunya adalah olah disebut sebagai cara (dalam) melakukan sesuatu untuk mencapai maksud tertentu. Atau olah juga diartikan sebagai akal seseorang  dalam arti daya upaya dan bisa juga sebagai tipu daya. Memperhatikan definisi ini, maka terminologi olah lebih cenderung berkonotasi negatif.

Kecenderungan ini relevan pula dengan ekspresi publik dalam merespon olah tersebut. Dalam pergaulan sehari-hari misalnya ketika seseorang sedang meng-olah maka ia akan cenderung memberi kesan positif secara utuh dan bahkan melebih-lebihkan lawan bicaranya atau sasarannya, meskipun faktanya berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan. Bagi yang terbiasa dengan olah maka ia akan menyesuaikan diri dan diikuti dengan olah balasan. Sedangkan bagi yang belum, cenderung cepat terlena dan tersanjung serta dianggapnya sebagai sesuatu yang serius.

Akibatnya, jika seseorang sedang melakukan praktek olah maka sesuatu yang benar berpotensi dibilang salah, yang salah bisa benar, hak orang diolahnya menjadi hak dia, memark up anggaran, laporan fiktif, harga satu unit barang tertentu dibuatnya dua kali lipat dari yang seharusnya, kegiatan lima hari disulapnya menjadi dua hari, dalam pelayanan publik jika bisa dipersusah untuk apa dipermudah serta tidak terjadinya the wright man on the wright place dalam jabatan tertentu.  Mudah untuk menemukan praktik olah yang seperti ini disekitar kita, bahkan dalam bentuk yang lebih beragam dan moderen lagi. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi jika prilaku olah ini terus bersemanyam dalam pikiran dan praktik seseorang. Kerusakan sistemik akan terjadi.

Maka Itu pula yang membuat peringatan maulid Nabi di zaman now memiliki tantangan tersendiri disaat prilaku olah barangkali masih mengepung pribadi kita. Peringatan hari lahir Nabi setiap tahun diadakan, namun prilaku olah seakan sulit berkurang. Faktanya, praktek olah di atas masih bisa ditemukan dimana-mana. Bahkan banyak kasus harus berakhir di pengadilan berawal dari olah. Maka ini sama artinya disatu sisi kita masih terus mengingat Nabi tapi terbatas dalam seremoni-seremoni tetapi disisi yang lain kita terus melupakan Nabi dalam hal  substansi.

Sifat Siddiq dan Amanah Sebagi Penangkal Olah

Prilaku olah dapat dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari yang berpangkat tinggi hingga tidak berpangkat sama sekali. Demikian juga, keinginan olah bisa bersumber dari dalam diri seseorang dan atau karena pengaruh lingkungan sekitar. Seseorang yang awalnya tidak memiliki niat untuk olah bisa berubah karena berada dalam lingkungan yang terbiasa olah. Namun begitu, kalau yang bersangkutan meneledani sifat siddiq dan amanah Nabi Muhammad SAW  maka mudah baginya untuk menahan nafsu olah. Maka dari itu penting artinya bagi setiap orang untuk melepaskan diri dari prilaku olah dengan cara meneladani sifat-sifat Nabi. Sifat siddiq dan amanah adalah diantara dua sifat penting yang harus kita contohi agar jauh dari meng-olah.

Benar, hidup di zaman now bukanlah perkara mudah untuk benar-benar terlepas dari prilaku olah. Terlebih-lebih bagi generasi milenial yang menjadi harapan bangsa dan agama sedikit banyak juga telah terkontaminasi dan terjebak dalam pusaran olah generasi senior. Namun begitu, kita harus optimis bahwa prilaku olah bisa diatasi dengan meneladani Nabi. Dan inilah essensi peringatan maulid Nabi yakni mengajak kita mengenang kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sebagai seseorang yang berintegritas tinggi dan sepanjang hidupnya tidak pernah meng-olah, lalu meneladaninya dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dengan begitu, maulid Nabi menjadi instrumen untuk menjangkau kembali bagaimana kita hidup seharusnya. Nah!!!

 

Muhammad Syuib, MH, MLegSt, Alumunus Dayah Fathul ‘Ainiyah Cot Lipah Paya Seutui, Ulim-Pidie Jaya. Saat ini Dosen pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh. Email: mosyumid@yahoo.com

Pengurus Dewan Dakwah Aceh Tengah dan Bener Meriah Resmi Di Lantik

👆👆Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Bener Meriah di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum'at (1/6/2018)

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Bener Meriah di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum’at (1/6/2018)

Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Tengah dan Bener Meriah periode 2018-2021 resmi dilantik oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA di dua tempat terpisah, yaitu di Aula Kemenag Aceh Tengah, Sabtu (2/6/2018) dan di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum’at (1/6/2018).

Hadir dalam pelantikan tersebut Bupati Aceh Tengah Drs Shabela Abubakar, Bupati Bener Meriah Ahmadi SE, Forkompinda kedua Kabupaten dan undangan lainnya.

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA dalam sambutannya saat pelantikan Dewan Dakwah Aceh Tengah menjelaskan tentang sejarah lahirnya Dewan Dakwah dan mengklarifikasi kalau ada persepsi yang menyamakan antara Dewan Dakwah dengan Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia. Karena ini adalah dua lembaga yang berbeda.

“Dewan Dakwah didirikan oleh mantan Perdana Menteri pertama RI, Allahyarham Muhammad Natsir dengan tujuan untuk mewujudkan Islam yang dapat diaplikasikan dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam berbangsa dan bernegara,” kata Tgk Hasanuddin, Sabtu (02/06/2018).

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry ini menambahkan sekarang yang menjadi fokus kerja dan program Dewan Dakwah adalah pada penguatan organisasi dengan menargetkan pembentukan dan pengaktifan pengurus daerah Kab/kota seluruh Aceh.

Kemudian pengkaderan baik formal melalui Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh yang bertempat di Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar maupun informal melalui training/daurah dai daiyah, imam khatib dan sosialisasi syariah Islam.

“Selain itu Dewan Dakwah juga fokus dalam mengawal perbatasan Aceh dari upaya pendangkalan aqidah dan terakhir upaya kemandirian dana dakwah melalui pengaktifan LAZNAS,” ungkap Tgk Hasanuddin.

Bupati Aceh Tengah Drs Shabela Abubakar dalam arahannya berharap kehadiran Dewan Dakwah Aceh Tengah dapat menjadi patner kerja Pemerintah daerah. Menurutnya pemerintah tidak mungkin dapat bekerja sendiri dan tentunya memerlukan rekan kerja lainnya termasuk Dewan Dakwah.

Bupati Shabela menambahkan kehadiran Dewan Dakwah juga untuk menjawab kebutuhan dai yang selama ini masih kurang di daerah tersebut. Akibatnya untuk mengisi acara hari besar keagamaan di Kabupaten sering mengundang dai dari luar daerah.

“Dewan Dakwah kiranya dapat berperan aktif dalam memperbaiki kondisi umat khususnya dalam perbaikan akhlak. Sehingga kedepannya akan terwujud masyarakat yang berakhlakul karimah,” kata Bupati Shabela.

Sementara itu sehari sebelumnya, saat pelantikan Dewan Dakwah Bener Meriah di Mesjid Kompleks Kantor Bupati Bener Meriah, Jum’at (1/6/2018), Bupati Bener Meriah Ahmadi SE sangat mendukung terbentuknya Dewan Dakwah Kabupaten Bener Meriah. Apalagi pengurus yang dilantik itu merupakan para dai semuanya yang selama ini sudah aktif dalam dunia dakwah.

[caption id="attachment_759" align="alignnone" width="300"]👆👆Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Tengah di Aula Kemenag Aceh Tengah, Sabtu (2/6/2018) 👆👆Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA saat melantik Pengurus Daerah Dewan Dakwah Aceh Tengah di Aula Kemenag Aceh Tengah, Sabtu (2/6/2018)

Ia menambahkan dengan adanya Dewan Dakwah ini tentunya akan menjadi wasilah untuk memudahkan pemerintah daerah dalam mengkordinasikan kegiatan dakwah.

“Dan atas nama pribadi dan pemerintah Kabupaten, kita akan membantu Dewan Dakwah, bukan hanya support moril tetapi juga pendanaan untuk kelancaran semua kegiatannya. Sehingga Dewan Dakwah akan menjadi mitra pemerintah untuk mewujudkan akhlak dan karakter islami dalam hidup dan kehidupan kita,” kata Ahmadi.

Usai pelantikan Pengurus Dewan Dakwah Beber Meriah, pada sore harinya dilanjutkan dengan kegiatan penyerahan paket ramadhan untuk 250 dhuafa, paket lebaran yatim untuk 100 yatim dan bantuan sumur bor serta ifthar Ramadhan untuk 2000 orang yang dipusatkan di Desa Panji Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

Dan penyerahan paket bantuan dari Lembaga Cagri Der Turki itu diserahkan secara simbolis oleh Wakil Bupati Bener Meriah Tgk Syarkawi yang didampingi oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA.

Adapun Pengurus Dewan Dakwah yang dilantik sebagai berikut :

– Dewan Dakwah Aceh Tengah
Ketua : Tgk H M Isa Umar, S.Ag
Sekretaris : Drs H Alam Syuhada SH MM
Bendahara : Abu Bakar Umah Opat
dibantu oleh bidang-bidang

– Dewan Dakwah Bener Meriah
Ketua : Drs Tgk Jaryadi
Sekretaris : Drs Tgk H Hamdani
Bendahara : Tgk Muhajir MH
dibantu oleh bidang-bidang

Viral Wanita Bercadar Pelihara Anjing, Dr. Zain: Ada Standar Ganda

Dr. Ahmad Zain An-Najah melihat ada standar ganda dalam menghargai wanita bercadar. Pernyataan ini diutarakan ketika viral di media sosial video seorang wanita bercadar yang memelihara anjing.

“Kenapa muslimah bercadar di kampus harus dimusuhi, kemudian ada yang dibilang teroris. Tapi ketika ada perempuan bercadar yang memelihara anjing disanjung,” ujarnya kepada Kiblat.net, Ahad (01/04/2018).

Ketua Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Dakwah yang juga Direktur Pesantren Tinggi Al-Islam ini menegaskan penghargaan terhadap cadar seharusnya menyeluruh, semuanya dihargai. Ia lantas menyoroti sikap sebagian masyarakat yang merespon positif wanita bercadar yang memelihara anjing, di sisi lain mendukung larangan cadar di kampus.

“Ini menghormati cadarnya atau anjingnya,” ungkapnya. Zain mengimbau dilakukan penelusuran terkait sosok wanita bercadar yang memelihara anjing, apakah dia muslimah atau non muslimah.

“Seandainya dia non muslimah berarti dia hanya pura-pura menggunakan baju cadar mungkin dengan tujuan untuk memojokkan orang-orang bercadar atau memojokkan Islam,” tuturnya. Lebih jauh, pakar ilmu fiqih ini mengatakan bahwa memelihara anjing dengan dalih kasih sayang tidak dapat dibenarkan. Ia menegaskan, kasih sayang sesama manusia seharusnya dikedepankan.

“Manusia dibunuh, digusur orang-orang dibiarkan miskin, kenapa nggak kita bicara sama manusia, sebelum sama anjing. Dan ini dalil orang Barat ketika mereka dengan anjingnya sangat sayang, tapi di sisi lain dia membunuhi orang-orang Islam di negara lain,” katanya.

“Jadi tidak sepadan lebih sayang sama anjingnya daripada sama orang lain,” sambungnya.

Sumber : kiblat.net