Dewan Dakwah Aceh Perkuat Kerjasama Dengan RSUZA

Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh Kembali melakukan kunjungan silaturrahmi dengan pihak Rumah Sakit Zainal Abidin (RSU ZA) di Banda Aceh, Selasa (24/7/2018), kunjungan ini sebagai upaya lanjutan kerja sama program kemitraan dakwah di daerah pedalaman Aceh.

Direktur RSUZA, Dr. Azharuddin menyambut baik kedatangan pengurus Dewan Dakwah Aceh untuk melanjutkan kerja sama di bidang dakwah dan pengabdian masyarakat.

Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Aceh Dr. Tgk Hasanuddin yang didampingi sekretaris Said Azhar mengatakan bahwa pihak Dokter RSUZA sangat banyak kontribusinya dan membantu program Dewan Dakwah. “salah satunya bantuan pembangunan Gedung Akademi Dakwah Indonesia (ADI) dan dukungan dalam bentuk lain yang sudah berjalan 4 tahun,” Ucap Tgk. Hasan

Sementara itu Wakil Direktur Keuangan, Tgk. Zulfikar Tijue mengatakan bahwa untuk saat ini dosen yang mengajar mahasiswa ADI ada 13 orang. “Dosen yang mengajar banyak yang bergelar Doktor dan sangat antusias dalam mengajar walau mereka tidak di berikan kompensasi finansial dan juga harapan yang sangat besar pada pihak manajemen RSUZA supaya dapat membantu program pembangunan ADI yang saat ini sudah dikerjakan sekitar 50 porsen,” Harap Tgk Zulfikar

Bunda Neno : Hari Ini Merupakan Sejarah

Haflah Idhul Fitri 1439H di Dewan Dakwah pada Sabtu, 14 Juli 2018, bertempat di Aula Masjid Al Furqan Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, banyak di hadiri tokoh-tokoh nasional dan petinggi partai politik. Tokoh umat yang hadir antara lain Drs. Muhammad Siddik, MA Ketua Umum DDII selaku tuan rumah, HM. Amien Rais, Prabowo Subianto, Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid, Ir. Marwan Batubara, M.Sc, Fuad Bawazier, Presiden PKS M. Sohibul Iman, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, aktivis sosial Neno Warisman, dan juga Gubernur DKI, Anies Baswedan.

Pada kesempatan spesial tersebut, tokoh aktivis wanita yang juga merupakan anggota Presidium Relawan Nasional #2019GantiPresiden, Neno Warisman yang akrab dipanggil Bunda Neno ini didaulat untuk menjadi salah satu tokoh yang memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Bunda Neno menyampaikan bahwa; yang pertama, pertemuan para tokoh nasional hari ini adalah merupakan sejarah dalam mempersiapkan pergantian kepemimpinan nasional. Dan DDII bagian dari sejerah itu. Sebab disini akan dimulai dan disini akan di siapkan sosok seperti apa pemimpin nasional yang dibutuhkan NKRI.

“Kedua, saya termasuk orang yang tidak menyetujui Pak Anies untuk maju dalam kontestasi Pilpres 2019 nanti, karena Pak Anies masih sangat dibutuhkan warga Jakarta. Untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang berperadaban mulia, karena rasanya Pak Anies lah yang mampu untuk mewujudkannya”. Ungkap Bunda Neno.

“Ketiga, perlunya keikhlasan PKS untuk mengalah demi kepentingan yang lebih besar dan mengajak partai-partai lainnya untuk mengalah, saling memaafkan, dan saling rujuk kembali, serta siap bersatu dan sama-sama mengatakan kami siap mengusung capres dan cawapres, dan mewujudkan 2019 ganti presiden”. Lanjut Bunda Neno.

Tak sampai disitu, Bunda Neno pun juga berharap kebesaran jiwa para elit dan pimpinan PKS, partai yang telah mendorong 9 kandidat yang hebat untuk maju di Pilpres 2019 nanti. Bunda Neno sangat barharap bahwa dalam hal ini jika PKS harus mengalah, maka percayalah dengan mengalah tentu saja akan lebih bertambah besar dan mulia.

Sebelum mengakhiri sambutan, dengan penuh perasaan Bunda Neno kembali meningatkan dan juga meminta kepada seluruh umat agar memberikan kesempatan kepada pak Anies Baswedan untuk membangun Jakarta menjadi kota bak mutu manikam dengan peradaban paling mulia di dunia. Jangan ambil Pak Anies Baswedan dari Jakarta.

Terakhir Bunda Neno dengan semangat mengangkat tangannya yang memakai gelang kebesaran Ganti Presiden dan berseru lantang diikuti oleh hadirin, yakni; #2019 GANTIPRESIDEN!!

Gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah tokoh wanita yang aktif di bidang sosial ini. Tanda apresiasi hadirin atas keberanian Bunda Neno mengatakan apa adanya dalam rangka menasehati para tokoh nasional dan petinggi partai politik, dan juga kepada Gubernur DKI Jakarta.

Pemuda Dewan Dakwah Abdya Gelar Daurah Dakwah untuk Pemuda

ACEH BARAT DAYA – Pemuda Dewan Dakwah Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar Daurah Dakwah untuk pemuda di Gedung Pertemuan Susoh, Abdya. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Abdya, Muslizar MT itu berlangsung 30 Mei – 2 Juni 2018 atau 14 – 17 Ramadhan 1439 H dan diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa, pemuda dan siswa tingkat SMA/MA.

Ketua Pemuda Dewan Dakwah Abdya sekaligus Ketua Panitia Rizwan, S.HI dalam laporannya menyampaikan pihaknya menghadirkan empat pemateri selama berlangsungnya daurah tersebut, diantaranya Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Dr TGk Hasanuddin Yusuf Adan, MA, MCL yang akan menyampaikan materi Aqidah, Sekretaris Dewan Dakwah Aceh, Said Azhar S.Ag dengan materi Bahaya SIPILIS, Ketua Umum Dewan Dakwah Abdya Iin Supardi S.S, M.E.I dengan materi Kelembagaan Dewan Dakwah dan Ketua Pemuda Dewan Dakwah Aceh, Basri Effendi SH MH dengan materi Motivasi dan Strategi Dakwah Pemuda.

“Selain itu peserta diajarkan bacaan tahsin Al-quran, dilatih untuk berceramah atau khutbah dan praktek tajhis mayit. Panitia juga menyiapkan sesi nonton bareng film Ar-Risalah Nabi Muhammad SAW,” sebut Rizwan. 

Ketua Umum Dewan Dakwah Abdya, Ust. Iin Supardi, S.S, M.E.I menambahkan dirinya sangat optimis kader-kader dakwah yang berasal dari berbagai kecamatan di Abdya itu jika mengikuti daurah dakwah dengan sungguh-sungguh akan menjadi da’i masa depan ummat, khususnya untuk Kab. Abdya. 

“Dengan usaha yang sungguh-sungguh kita sangat yakin mereka akan menjadi generasi dakwah masa depan dan akan membawa Abdya kearah yang lebih baik lagi. Dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas usaha bahu membahu dalam dakwah ini. Infaq umat Islam, dukungan Pemda serta sadaqah makanan berbuka dan sahur dari masyarakat sekitar juga sangat luar biasa. Semoga amal kita ini bernilai ibadah di SisiNya,” tambah Ust. Iin yang juga Kabid Dakwah Dinas Syariat Islam Abdya. 

Sementara itu Wakil Bupati Aceh Barat Daya, Muslizar MT dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada Pemuda Dewan Dakwah Abdya yang telah memberikan kontribusinya bagi umat, salah satunya melalui penyelenggaraan kegiatan Daurah Dakwah itu.

“Kita semua berharap semoga semagat dalam memperlajari islam yang terujud selama penyelenggaraan Daurah ini tetap terpelihara dan dikembangkan dalam menyongsong hari-hari mendatang,” tegas wabup Muslizar.

Oleh karena itu, lanjutnya peran dakwah menjadi sangat penting dalam rangka memberikan pencerahan iman dan islam kepada masyarakat.

“Maka peran para mubaliqh yang memiliki tugas untuk menyebarkan dan mendakwahkan islam di tengah-tengah masyarakat sangatlah dibutuhkan,” ungkapnya.

Hadir dalam kegiatan itu, Dandim 0110/Abdya Letkol Arm Iwan Aprianto, Kapolres Abdya diwakili Kapolsek Susoh AKP Erjan Dasmi, Kadis Syari’at Islam Tgk. Rajudin, Ketua Pemuda Dewan Da’wah Provinsi Aceh, Ketua Dewan Dakwah Aceh, Camat Susoh, para keucik, Ketua Ormas dan OKP serta undangan lainnya.

Sumber : lamurionline.com

Dr Husaini Hasan, Eks Tokoh Pejuang Aceh Ajak Masyarakat Rawat Perdamaian

BANDA ACEH – Eks tokoh perjuangan Aceh yang kini menetap di Eropa, Dr Husaini M Hasan mengajak masyarakat Aceh untuk menjaga dan merawat perdamaian yang telah dicapai demi terwujudnya ketentraman dan kesejukan di daerah Aceh.

“Perdamaian Aceh merupakan rahmat yang harus disyukuri bersama. Sebab ianya lahir dari perjuangan panjang dan sangat pahit. Karena itu perlunya kita menjaga, merawat, dan memupuk perdamaian yang sudah ada ini untuk kemaslahatan rakyat Aceh,” katanya

Pernyataan Husaini tersebut disampaikan pada kegiatan Diskusi Publik di Kompleks Markaz Dewan Dakwah Aceh (DDA) di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jum’at (25/5/2018).

Husaini Hasan berharap semua pihak bisa menjaga dan menata Aceh dengan bermusyawarah mufakat dalam setiap pembangunan.

Husaini juga meminta pemangku kepentingan menegakan keadilan secara merata agar tidak lagi terjadi keributan di kemudian hari.

“Alhamdulillah, dengan adanya perdamain ini saya pun sekarang dapat pulang kampung dengan bebas dan dapat berkumpul dengan semuanya. Ini merupakan nikmat yang patut kita syukuri dan tidak perlu berpikir untuk kembali berperang,” ujar Husaini.

Acara diskusi yang dipandu Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry, Badri Hasan SHI MH juga menghadirkan Ketua Umum DDA, Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA. Kegiatan itu diikuti tokoh masyarakat, tokoh politik, ormas, mahasiswa, dan lainnya.

Ketua Umum DDA, Hasanuddin Yusuf Adan menyampaikan lembaganya mempunyai peran yang sangat sentral dalam melaksakan syariat Islam di Aceh.

Bahkan, lembaga itu telah menjadi media dakwah yang menjalankan misi dakwah hingga keperbatasan Aceh.

Sumber : serambinews.com

Hidupkan Ramadhan, ADI Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh kembali mengirimkan 22 mahasiswa terbaiknya yang tergabung dalam Kafilah Dakwah Ramadhan ke daerah-daerah perbatasan dan pedalaman Aceh.

Daerah tersebut diantaranya mencakup Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara dan Simeulue.

Tujuan pengiriman mahasiswa binaan Dewan Dakwah Aceh pada kegiatan bertema “da’i menyapa perbatasan dan pedalaman Aceh” ini adalah untuk berdakwah dan menghidupkan Ramadhan di daerah-daerah yang masyarakatnya kurang mendapatkan dakwah dan pemahaman keislaman.

“selama Ramadhan, di daerah tersebut mareka akan mengisinya dengan berbagai kegiatan. Diantaranya menjadi Imam shalat taraweh, khutbah jum’at, ceramah Ramadhan, pelatihan TPA, pesantren kilat dan tahsin al qur’an,”kata Direktur ADI Aceh Dr Muhamamd AR MEd, Rabu (16/5/2018)

Dosen UIN Ar-Raniry ini menjelaskan dai-dai yang dikirim ke perbatasan merupakan mahasiswa yang juga berasal dari daerah tersebut. Sehingga nantinya diharapkan setelah mareka selesai pendidikannya akan kembali untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dan kontinue kepada masyarakat tempatan.

“usai menyelesaikan pendidikan S1 dan S2, mareka akan kembali ke daerah asalnya itu untuk mengabdi dan berkhitmad kepada daerahnya. Sebab jika hanya mengandalkan dai dari luar daerah, maka tidak akan dapat banyak memberikan kontribusi dikarenakan jarak tempuh yang jauh,” jelas Dr Muhamamad.

Ia juga menambahkan sebelumnya para mahasiswa itu telah mengikuti pembekalan di Markaz Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Ketua Panitia M Reza Adlani, S.Sos mengatakan kegiatan itu dilakukan untuk melatih kemampuan dan mengaplikasikan ilmu yg sudah mareka dapatkan selama belajar di ADI Aceh.

“karena pada hakikatnya ilmu tidak akan bermanfaat bila tidak disampaikan dan dipraktekan langsung di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengkader par dai dari daerah tersebut untuk kelanjutan dakwah dimasa yang akan datang,”kata Reza.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA sangat mendukung dan mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut.

Menurutnya ini merupakan bentuk partisipasi dan keseriusan serta komitmen Dewan Dakwah Aceh dalam membantu pemerintah untuk mengawal daerah-daerah di perbatasan dan pedalaman Aceh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dewan Dakwah Aceh sangat siap dan akan senantiasa bersama pemerintah Aceh untuk berdakwah di daerah perbatasan dan pedalaman Aceh itu yang juga merupakan daerah rawan aqidah. Tentunya diperlukan juga kerjasama dari semua pihak terutama pemerintah Aceh untuk mengawalnya,”tutup Tgk Hasanuddin.

Keteladanan Natsir yang Patut Dicontoh Politisi

Mantan Sekretaris Mohammad Natsir, Lukman Hakiem, menilai sosok Natsir sudah melampaui seorang politisi, melainkan seorang negarawan. Natsir, kata dia, sudah tidak memikirkan kepentingan pribadi lagi. Yang dipikirkannya adalah kepentingan masyarakat dan umat.

Contohnya, tutur Lukman, ketika hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) tidak memasukkan Irian Barat ke wilayah Indonesia, Natsir tidak mau. Dibujuk Soekarno masuk kabinet pun, ia tidak mau. Karena baginya, Irian Barat itu wilyah yang penting.

“Padahal tawarannya jadi menteri loh, tapi Pak Natsir memilih berdiri di luar, membantu dari luar. Jadi bukan kepentingan pribadi,” ujarnya kepada hidayatullah.com usai seminar Mosi Integral Natsir di Aula Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta, Rabu (11/04/2018).

Selain tidak memikirkan kepentingan pribadi, kata Lukman, Natsir adalah seorang yang punya visi jauh ke depan. Itu dibuktikannya dengan merumuskan mosi integral yang bisa diterima semua kalangan.

“Bayangkan seorang Presiden Indonesia Timur sampai mau berhenti untuk bergabung ke RI. Kalau bukan Natsir yang bujuk, belum tentu bisa,” ucapnya. Bacaan Natsir juga luas, kata Lukman. Natsir adalah seorang pembaca dan penulis. Sehingga gagasannya banyak. “Kebanyakan politisi sekarang itu tiba saat tiba akal. Ketika ditanya langsung jawab. Spontan-spontan dan enggak mendalam,” kritik mantan anggota DPR ini.

Kemudian, yang patut dicontoh dari Natsir, kata Lukman adalah sifat kesederhanaannya.

Pernah Lukman melihat Natsir di gedung DDII mengenakan baju koko putih yang ada noda tintanya. “Tapi beliau enggak merasa martabatnya jatuh dan kita enggak kurang hormat,” pungkasnya. Acara yang digelar adalah  untuk mengenang Mosi Integral Natsir yang jatuh pada tanggal 3 April, panitia mengusulkan agara hari tersebut menjadi hari libur nasional.

Sumber : hidcom