Pemuda Dewan Dakwah Abdya Gelar Daurah Dakwah untuk Pemuda

ACEH BARAT DAYA – Pemuda Dewan Dakwah Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar Daurah Dakwah untuk pemuda di Gedung Pertemuan Susoh, Abdya. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Abdya, Muslizar MT itu berlangsung 30 Mei – 2 Juni 2018 atau 14 – 17 Ramadhan 1439 H dan diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa, pemuda dan siswa tingkat SMA/MA.

Ketua Pemuda Dewan Dakwah Abdya sekaligus Ketua Panitia Rizwan, S.HI dalam laporannya menyampaikan pihaknya menghadirkan empat pemateri selama berlangsungnya daurah tersebut, diantaranya Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Dr TGk Hasanuddin Yusuf Adan, MA, MCL yang akan menyampaikan materi Aqidah, Sekretaris Dewan Dakwah Aceh, Said Azhar S.Ag dengan materi Bahaya SIPILIS, Ketua Umum Dewan Dakwah Abdya Iin Supardi S.S, M.E.I dengan materi Kelembagaan Dewan Dakwah dan Ketua Pemuda Dewan Dakwah Aceh, Basri Effendi SH MH dengan materi Motivasi dan Strategi Dakwah Pemuda.

“Selain itu peserta diajarkan bacaan tahsin Al-quran, dilatih untuk berceramah atau khutbah dan praktek tajhis mayit. Panitia juga menyiapkan sesi nonton bareng film Ar-Risalah Nabi Muhammad SAW,” sebut Rizwan. 

Ketua Umum Dewan Dakwah Abdya, Ust. Iin Supardi, S.S, M.E.I menambahkan dirinya sangat optimis kader-kader dakwah yang berasal dari berbagai kecamatan di Abdya itu jika mengikuti daurah dakwah dengan sungguh-sungguh akan menjadi da’i masa depan ummat, khususnya untuk Kab. Abdya. 

“Dengan usaha yang sungguh-sungguh kita sangat yakin mereka akan menjadi generasi dakwah masa depan dan akan membawa Abdya kearah yang lebih baik lagi. Dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas usaha bahu membahu dalam dakwah ini. Infaq umat Islam, dukungan Pemda serta sadaqah makanan berbuka dan sahur dari masyarakat sekitar juga sangat luar biasa. Semoga amal kita ini bernilai ibadah di SisiNya,” tambah Ust. Iin yang juga Kabid Dakwah Dinas Syariat Islam Abdya. 

Sementara itu Wakil Bupati Aceh Barat Daya, Muslizar MT dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada Pemuda Dewan Dakwah Abdya yang telah memberikan kontribusinya bagi umat, salah satunya melalui penyelenggaraan kegiatan Daurah Dakwah itu.

“Kita semua berharap semoga semagat dalam memperlajari islam yang terujud selama penyelenggaraan Daurah ini tetap terpelihara dan dikembangkan dalam menyongsong hari-hari mendatang,” tegas wabup Muslizar.

Oleh karena itu, lanjutnya peran dakwah menjadi sangat penting dalam rangka memberikan pencerahan iman dan islam kepada masyarakat.

“Maka peran para mubaliqh yang memiliki tugas untuk menyebarkan dan mendakwahkan islam di tengah-tengah masyarakat sangatlah dibutuhkan,” ungkapnya.

Hadir dalam kegiatan itu, Dandim 0110/Abdya Letkol Arm Iwan Aprianto, Kapolres Abdya diwakili Kapolsek Susoh AKP Erjan Dasmi, Kadis Syari’at Islam Tgk. Rajudin, Ketua Pemuda Dewan Da’wah Provinsi Aceh, Ketua Dewan Dakwah Aceh, Camat Susoh, para keucik, Ketua Ormas dan OKP serta undangan lainnya.

Sumber : lamurionline.com

Dr Husaini Hasan, Eks Tokoh Pejuang Aceh Ajak Masyarakat Rawat Perdamaian

BANDA ACEH – Eks tokoh perjuangan Aceh yang kini menetap di Eropa, Dr Husaini M Hasan mengajak masyarakat Aceh untuk menjaga dan merawat perdamaian yang telah dicapai demi terwujudnya ketentraman dan kesejukan di daerah Aceh.

“Perdamaian Aceh merupakan rahmat yang harus disyukuri bersama. Sebab ianya lahir dari perjuangan panjang dan sangat pahit. Karena itu perlunya kita menjaga, merawat, dan memupuk perdamaian yang sudah ada ini untuk kemaslahatan rakyat Aceh,” katanya

Pernyataan Husaini tersebut disampaikan pada kegiatan Diskusi Publik di Kompleks Markaz Dewan Dakwah Aceh (DDA) di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jum’at (25/5/2018).

Husaini Hasan berharap semua pihak bisa menjaga dan menata Aceh dengan bermusyawarah mufakat dalam setiap pembangunan.

Husaini juga meminta pemangku kepentingan menegakan keadilan secara merata agar tidak lagi terjadi keributan di kemudian hari.

“Alhamdulillah, dengan adanya perdamain ini saya pun sekarang dapat pulang kampung dengan bebas dan dapat berkumpul dengan semuanya. Ini merupakan nikmat yang patut kita syukuri dan tidak perlu berpikir untuk kembali berperang,” ujar Husaini.

Acara diskusi yang dipandu Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry, Badri Hasan SHI MH juga menghadirkan Ketua Umum DDA, Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA. Kegiatan itu diikuti tokoh masyarakat, tokoh politik, ormas, mahasiswa, dan lainnya.

Ketua Umum DDA, Hasanuddin Yusuf Adan menyampaikan lembaganya mempunyai peran yang sangat sentral dalam melaksakan syariat Islam di Aceh.

Bahkan, lembaga itu telah menjadi media dakwah yang menjalankan misi dakwah hingga keperbatasan Aceh.

Sumber : serambinews.com

Hidupkan Ramadhan, ADI Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh kembali mengirimkan 22 mahasiswa terbaiknya yang tergabung dalam Kafilah Dakwah Ramadhan ke daerah-daerah perbatasan dan pedalaman Aceh.

Daerah tersebut diantaranya mencakup Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara dan Simeulue.

Tujuan pengiriman mahasiswa binaan Dewan Dakwah Aceh pada kegiatan bertema “da’i menyapa perbatasan dan pedalaman Aceh” ini adalah untuk berdakwah dan menghidupkan Ramadhan di daerah-daerah yang masyarakatnya kurang mendapatkan dakwah dan pemahaman keislaman.

“selama Ramadhan, di daerah tersebut mareka akan mengisinya dengan berbagai kegiatan. Diantaranya menjadi Imam shalat taraweh, khutbah jum’at, ceramah Ramadhan, pelatihan TPA, pesantren kilat dan tahsin al qur’an,”kata Direktur ADI Aceh Dr Muhamamd AR MEd, Rabu (16/5/2018)

Dosen UIN Ar-Raniry ini menjelaskan dai-dai yang dikirim ke perbatasan merupakan mahasiswa yang juga berasal dari daerah tersebut. Sehingga nantinya diharapkan setelah mareka selesai pendidikannya akan kembali untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dan kontinue kepada masyarakat tempatan.

“usai menyelesaikan pendidikan S1 dan S2, mareka akan kembali ke daerah asalnya itu untuk mengabdi dan berkhitmad kepada daerahnya. Sebab jika hanya mengandalkan dai dari luar daerah, maka tidak akan dapat banyak memberikan kontribusi dikarenakan jarak tempuh yang jauh,” jelas Dr Muhamamad.

Ia juga menambahkan sebelumnya para mahasiswa itu telah mengikuti pembekalan di Markaz Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Ketua Panitia M Reza Adlani, S.Sos mengatakan kegiatan itu dilakukan untuk melatih kemampuan dan mengaplikasikan ilmu yg sudah mareka dapatkan selama belajar di ADI Aceh.

“karena pada hakikatnya ilmu tidak akan bermanfaat bila tidak disampaikan dan dipraktekan langsung di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengkader par dai dari daerah tersebut untuk kelanjutan dakwah dimasa yang akan datang,”kata Reza.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA sangat mendukung dan mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut.

Menurutnya ini merupakan bentuk partisipasi dan keseriusan serta komitmen Dewan Dakwah Aceh dalam membantu pemerintah untuk mengawal daerah-daerah di perbatasan dan pedalaman Aceh dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dewan Dakwah Aceh sangat siap dan akan senantiasa bersama pemerintah Aceh untuk berdakwah di daerah perbatasan dan pedalaman Aceh itu yang juga merupakan daerah rawan aqidah. Tentunya diperlukan juga kerjasama dari semua pihak terutama pemerintah Aceh untuk mengawalnya,”tutup Tgk Hasanuddin.

Keteladanan Natsir yang Patut Dicontoh Politisi

Mantan Sekretaris Mohammad Natsir, Lukman Hakiem, menilai sosok Natsir sudah melampaui seorang politisi, melainkan seorang negarawan. Natsir, kata dia, sudah tidak memikirkan kepentingan pribadi lagi. Yang dipikirkannya adalah kepentingan masyarakat dan umat.

Contohnya, tutur Lukman, ketika hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) tidak memasukkan Irian Barat ke wilayah Indonesia, Natsir tidak mau. Dibujuk Soekarno masuk kabinet pun, ia tidak mau. Karena baginya, Irian Barat itu wilyah yang penting.

“Padahal tawarannya jadi menteri loh, tapi Pak Natsir memilih berdiri di luar, membantu dari luar. Jadi bukan kepentingan pribadi,” ujarnya kepada hidayatullah.com usai seminar Mosi Integral Natsir di Aula Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta, Rabu (11/04/2018).

Selain tidak memikirkan kepentingan pribadi, kata Lukman, Natsir adalah seorang yang punya visi jauh ke depan. Itu dibuktikannya dengan merumuskan mosi integral yang bisa diterima semua kalangan.

“Bayangkan seorang Presiden Indonesia Timur sampai mau berhenti untuk bergabung ke RI. Kalau bukan Natsir yang bujuk, belum tentu bisa,” ucapnya. Bacaan Natsir juga luas, kata Lukman. Natsir adalah seorang pembaca dan penulis. Sehingga gagasannya banyak. “Kebanyakan politisi sekarang itu tiba saat tiba akal. Ketika ditanya langsung jawab. Spontan-spontan dan enggak mendalam,” kritik mantan anggota DPR ini.

Kemudian, yang patut dicontoh dari Natsir, kata Lukman adalah sifat kesederhanaannya.

Pernah Lukman melihat Natsir di gedung DDII mengenakan baju koko putih yang ada noda tintanya. “Tapi beliau enggak merasa martabatnya jatuh dan kita enggak kurang hormat,” pungkasnya. Acara yang digelar adalah  untuk mengenang Mosi Integral Natsir yang jatuh pada tanggal 3 April, panitia mengusulkan agara hari tersebut menjadi hari libur nasional.

Sumber : hidcom

Ketua Dewan Dakwah Aceh : Pelaku Prostitusi Online Harus di Hukum Cambuk

Terbongkarnya kasus prostitusi online “jilid 2” di Hotel The Pade, Aceh Besar, masih menyisakan banyak persoalan. Salah satunya terkait hukuman yang pantas diberikan kepada para pelakunya, baik untuk germo, wanita pesanan dan pihak hotel.

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan, MCL MA pun angkat bicara terhadap persoalan tersebut. Menurutnya para pelaku itu harus di hukum dengan hukuman cambuk dengan jumlah cambukan sesuai dengan tingkatannya.

“Saat ini di Aceh sudah berlaku Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Dan kepada pelaku tersebut harus di hukum cambuk sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam Qanun Jinayah itu,” kata Tgk Hasanuddin Yusuf Adan, Selasa (27/3/2018).

Tgk Hasanuddin menjelaskan dalam pasal 3 ayat 2 Qanun Jinayah tersebut mengandung ancaman hukuman terhadap 10 jarimah (perbuatan yang dilarang oleh Syariat Islam), yaitu; 1. Khamar (minum arak); 2. Maisir (berjudi); 3. Khalwat (berduaan antara lelaki dengan perempuan yang bukan mahram di tempat yang sepi); 4. Ikhtilath (bermesraan laki-perempuan yang bukan mahram di tempat keramaian); 5. Zina; 6. Pelecehan seksual; 7. Pemerkosaan; 8. Qadzaf (menuduh orang berzina tapi tidak menghadirkan empat orang saksi yang melihat kemaluan pezina lelaki keluar-masuk dalam kemaluan pezina perempuan); 9. Liwath (homo sexual); dan 10. Musahaqah (lesbian).

“Dikarenakan dalam kasus prostitusi online ini melibatkan tiga pihak, yaitu germo, wanita pesanan dan pihak hotel, maka ketiganya ini bisa dijerat dengan Qanun Jinayah tersebut,” tegas Tgk Hasanuddin.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry ini menjelaskan pihak pertama yang terlibat adalah Andre sebagai tukang promosi zina. Sang germo ini terjerat pasal 33 ayat 3 Qanun Jinayat. Pasal tersebut berbunyi “Setiap Orang dan/atau Badan Usaha yang dengan sengaja menyediakan fasilitas atau mempromosikan Jarimah Zina, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 100 (seratus) kali dan/atau denda paling banyak 1000 (seribu) gram emas murni dan/atau penjara paling banyak 100 (seratus) bulan”.

“Sang germo diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 100 (seratus) kali dan/atau denda paling banyak 1000 (seribu) gram emas murni dan/atau penjara paling banyak 100 (seratus) bulan,” jelas Tgk Hasanuddin.

Pihak kedua adalah perempuan pesanan yang sudah berbuat zina atau tidak sampai berbuat zina tetapi sudah melakukan khalwat. Bagi mereka terancam hukuman dalam jarimah khalwat sesuai dengan ketentuan pasal 23 ayat (1) Qanun Jinayat yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah khalwat, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 10 (sepuluh) kali atau denda paling banyak 100 (seratus) gram emas murni atau penjara paling lama 10 (sepuluh) bulan”.

“Akan tetapi jika para lonte ini mengaku telah berzina maka bagi mereka 100 kali cambuk. Hal tersebut juga diatur dalam Qanun Jinayah pasal 33 ayat 1,” terang Tgk Hasanuddin.

Sementara pihak ketiga adalah pemilik hotel yang terjebak dengan penyediaan fasilitas berupa kamar untuk orang-orang berbuat zina/khalwat. Maka terancam dengan pasal 23 ayat (2) Qanun Jinayat yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan sengaja menyelenggarakan, menyediakan fasilitas atau mempromosikan Jarimah khalwat, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 15 (lima belas) kali dan/atau denda paling banyak 150 (seratus lima puluh) gram emas murni dan/atau penjara paling lama 15 (lima belas) bulan”.

“Kalau pihak hotel terbukti menyediakan fasilitas untuk pelaku zina maka ia terjerat dengan pasal 33 ayat (3),” ungkap Tgk Hasanuddin.

Dengan demikian, lanjutnya kepolisian wajib memeriksa kasus tersebut dengan seksama, serius, adil, muslihat, dan berperadaban. Kalau ternyata melanggar Qanun Hukum Jinayat maka polisi harus segera menyeret mereka ke meja hijau mengikut prosedur yang berlaku.

Ia juga berharap Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Besar atas dasar pemimpin ummat harus bertanggung jawab terhadap kasus prostitusi online itu dan bertindak tegas sesuai dengan hukum Islam yang di atur dalam Qanun Jinayah. Selain itu bagi hotel yang terlibat agar dicabut izin operesionalnya.

“Masyarakat Aceh sangat antusias dengan pelaksanaan syari’at Islam di Aceh, maka penegak dan pelaksana hukum di Aceh juga harus lebih antusias lagi untuk menuntaskan kasus semacam itu,” pungkas Tgk Hasanuddin

Bangkitkan Ekonomi Ummat, Muslimat Dewan Dakwah gelar Pelatihan Bisnis Keripik Singkong

“Muslimat harus mengambil perannya dalam kebangkitan ekonomi Islam”, demikian pesan Ir. Muhammad Iqbal mewakili Pengurus Dewan Da’wah Pusat membuka Pelatihan Home Industri dan Motivasi bagi ibu-ibu muslimah di Aula Masjid Al-Furqan, Jakarta (Kamis, 15/3).

Melihat pertumbuhan ekonomi saat ini yang ternyata didominasi oleh para konglomerat non-muslim, muslimat harus bisa mengambil peran membangkitkan ekonomi umat walaupun hanya dengan keripik singkong. Hal ini, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw yang berhasil membangun ekonomi Islam dengan menguasai pasar-pasar saat berada di Madinah.

Pelatihan yang bertajuk “Berani Gagal, Berani Sukses” ini mendatangkan pemateri Ibu Muslimah, seorang pengusaha keripik singkong yang cukup sukses meraup omset ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Motivator yang dahulunya seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia ini membeberkan rahasia kesuksesannya berbisnis kripik singkong berlabel “Cantir”. Ia memulai usahanya hanya bermodalkan Rp50 ribu. Inspirasinya datang lantaran ia merasa orang kampung, yang juga terbiasa dengan cita rasa jajanan kampung berupa olahan singkong. Usahanya bermula dengan berjualan di kereta commuter linenya yang tadinya masih diperbolehkan, lalu dititipkan di warung-warung tradisional.

“Untuk mengembangkan usaha, akhirnya saya beranikan meminjam modal dari KUR, waktu itu dapat Rp5 juta,” katanya sambil menambahkan, selain keripik Cantir, wanita ini juga membuat jenis jajanan lainnya berbahan dasar singkong.

Di tangannya yang terampil, sisa-sisa potongan singkong tak bernilai diolah menjadi cemilan nikmat dan gurih. Wanita berkerudung ini mampu merubah jajanan ‘kampung’ menjadi cemilan trendi di Jakarta. “Saya beri nama Cantir untuk melestarikan budaya aslinya, juga agar nama yang tadinya terlalu kampungan jadi terkenal,” ujar Ibu Muslimah.

Turut hadir dalam pelatihan yang berlangsung satu hari ini, Ustadzah Andi Nuruljannah, Lc selaku Ketua Muslimat Dewan Da’wah Pusat. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu program Biro Ekonomi dan UKM Muslimat Dewan Da’wah Pusat. “Pelatihan ini akan berlanjut di beberapa perwakilan Muslimat Dewan Da’wah Daerah di seluruh Indonesia salah satunya kota Medan yang menyatakan telah siap”, jelasnya. Dewan Da’wah Pusat pun telah siap memfasilitasi seandainya perwakilan daerah menghendaki pelatihan serupa.

Peserta yang berjumlah ratusan tampak cukup antusias mengikuti jalannya acara. Tidak hanya teori yang didapat, peserta juga berkesempatan praktik membuat dan mencicipi keripik singkong olahan Ibu Muslimah yang saat ini pangsa pasarnya sudah go Internasional.