Safari Ramadhan

Dalam waktu yang terbatas tersebut ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan, di antaranya ceramah ramadhan, pengajian ibu-ibu, remaja dan khutbah Jum’at.

Bagi Sembako

Selain kegiatan pengajian dan ceramah, Dewan Da’wah juga menyalurkan sembako dalam bentuk iftar (buka puasa) dan Zakatul Fitri untuk 60 keluarga miskin. Bantuan berupa beras, minyak makan, gula, tepung dan The itu berasal dari Lazis DEwan Da’wah yang bekerja sama dnegan Muslime Helfen German.

Teungku Ghaibi, selaku tokoh masyarakat di Alue Riyeung, Pulo Nasi mengucapkan terima kasih atas kegiatan yang selama ini dilaksanakan oleh Dewan Da’wah di pulo nasi. Seraya berharap, supaya banyak lembaga Islam lain yang ambil peduli untuk pembinaan masyarakat kami di pulo, yang sangat kurang diperhatikan.

 

Banda Aceh, 11 Agustus 2011

 

Said Azhar

Sekjen Dewan Da’wah Aceh

PEMBAGIAN ZAKATUL FITRI DI MA’HAD AR-RABWAH

Selain di Rumpet paket Iftar dan Zakatul fitr di salurkan juga untuk anak yatim , fakir miskin dan muallaf  yang sedang nyantri di Ma’had yang turut dibina oleh Dewan Da’wah Aceh, yakni Ma’had Ar-Rabwah Krueng Lam Kareung Indrapuri Aceh Besar sebanyak 100 paket. Sebagian besar santri tersebut erasal dari daerah perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara; Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Tamiang dan Sinabang, sebagai daerah-daerah yang rawan pendangkalan aqidah.

Ustadz Ridwan, selaku pimpinan Ma’had menyatakan kegembiraan dan terima kasih atas bantuan ini. Karena saat ini santri yang sedang belajar di ma’had kami benar-benar dalam keadaan krisis bantuan. Karena komitmen bantuan dari donatur sebelumnya tidak mencukupi semua kebutuhan anak-anak, demikian imbuhnya seraya berharap bantuan ini dapat berlanjut dan kalau memang ada bantuan-bantuan lain dapat disalurkan dengan langsung mendatangi ma’had kami.

Sementara sisanya100 paket, 60 paket lagi akan disalurkan untuk kaum dhuafa di Pulo Nasi, yang selama ini juga menjadi daerah binaan Dewan Da’wah melalui pengiriman khatib dan guru pengajian secara rutin setiap bulan, dan 40 paket lagi akan disalurkan di Pidie.

 

Banda Aceh, 3 Agustus 2011

Panitia Pelaksana,

Said Azhar

koordinator

Kegiatan Ramadhan Bersama Dewan Da’wah Pidie

Di tengah hiruk pikuk pemilukada dalam rangka memilih bupati dan wakil bupati di  Pidie, diharapkan dengan adanya pencerahan tentang politik Islam ini akan menyadarkan masyarakat untuk tidak sembarangan dalam memilih pemimpin, sehingga berakibat kepada kemelaratan masyarakat dan kemunduran pelaksanaan syariat Islam. Dialog yang direncanakan sebanyak empat kali ini, pada minggu berikutnya akan membahas tentang fiqh muamalah (ekonomi Islam), Fiqh Haji dan Fiqh Zakat demikian ungkap Darwin Juwaini, selaku ketua panitia pelaksana dialog mengakhiri penjelasannya.

 

Bagi Paket  Sembako

Di sela-sela acara dialog, pihak Dewan Da’wah Juga membagikan 40 paket sembako kepada faquir miskin yang ada di kemukiman Peudaya. Paket yang berisi 5 kg beras, minyak makan, gula, tepung masing-masing 1 Kg dan 1 kotak teh celup merupakan bantuan kerjasama Lazis Dewan Da’wah dengan Muslime Helfen German, yang beberapa waktu sebelumnya juga sudah disalurkan di Wilayah Aceh Besar.

Walaupun bantuan ini tidak seberapa dari sisi materi, tetapi ini merupakan bentuk kepedulian Dewan Da’wah kepada faqir miskin di bulan ramadán yang penuh berkah ini.

 

 

Pidie, 6 Agustus 2011

Pelaksana,

 

 

Darwin Juwaini

Koordinator

 

Fasilitasi Pendidikan

Fasilitasi yang dilakukan oleh Dewan Da’wah Aceh ini sebagai proses follow dari kegiatan pembinaan muallaf yang sudah dilaksanakan di daerah perbatasan (Aceh Singkil, Subulussalam dan Aceh Tenggara). Karena terbatasnya sumber daya manusia lokal (putra daerah) sehingga proses pembelajaran tentang keislaman tidak berjalan dengan baik, kendati sudah ada program da’i perbatasan dari Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam. Untuk itu Dewan Da’wah berinisitif menyekolahkan putra putri dari daerah perbatasan, untuk tahap awal dari pedalaman Aceh Singkil, dan menandatangani kontrak dengan orang orang tua masing-masing agar bersedia kembali ke kampung masing-masing untuk mengajari masyarakatnya.

Program ini terlaksana atas kerjasama dengan Yayasan Syeikh Eid Qatar, Yayasan Ash-Shilah, Pesantren Abu Lam U, Syeikh Abdullah dari Turki dan Ma’had Ar-Rabwah, Pengurus Daerah Dewan Da’wah Acejh Singkil, Baitul Mal Provinsi Aceh dan Baitul Mal Kabupaten Aceh Besar serta sejumlah donatur lainnya.

Mengingat kondisi ekonomi keluarga santri  yang sangat memprihatinkan dalam berbagai sisi kehidupan, baik yang muallaf, fakir miskin dan yatim, maka kami mengajak agar hati kita tersentuh untuk mengambil peran masing-masing dalam  rangka kepedulian bagi mereka. Apa yang bisa dan sudah kita lakukan untuk saudara baru kita? 

Kepada para dermawan dan donatur yang berminat membantu dapat menghubungi Sekretariat Dewan Da'wah Aceh di Jalan T. Nyak Arief No. 159 Lamgugob-Jeulingke Banda Aceh… Telp. 0651-7406436 Fax (0651) 7551070 email; ddiinad@yahoo.com atau hubungi langsung Koordinator Pembinaan Anak Muallaf, Ali Amin HP. 0811688173, via Rekening Bank Muamalat Indonesia Cabang Banda Aceh Rekening Nomor: 918.1604699 an: hasanuddin yusuf adan QQ DDII – NAD atau Rekening Giro Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di BPD Aceh Syariah Nomor Rekening 612-01-08000031-5

 

 

Banda Aceh, 4 Agustus 2011

Pengurus,

 

 

Said Azhar

Sekjen Dewan Da’wah Aceh

 

Pendidikan Anak-Anak Perbatasan

Setahun sebelumnya, Tahun Ajaran 2010/2011, juga telah memfasilitasi pendidikan 5 orang anak-anak muallaf dari Aceh Singkil untuk belajar di beberapa pesantren di  Aceh Besar, masing-masing; Karmiati Manullang ditempatkan di Ma’had Putri Dar Maryam Samahani, tingkat Aliyah, Reduan Padang di Ma’had Ar-Rabwah Indrapuri tingkat Tsanawiyah, Yasri dan Alexanderr Bancin di Nurul Falah Abu Lam U tingkat Aliyah dan Anita Manullang di Dayah Darul Ihsan  Krueng Kalee tingkat Tsanawiyah. Mereka diprogramkan menjadi kader yang akan membina daerahnya setelah menyelesaikan pendidikan.

Fasilitasi yang dilakukan oleh Dewan Da’wah Aceh ini sebagai proses follow dari kegiatan pembinaan muallaf yang sudah dilaksanakan di daerah perbatasan (Aceh Singkil, Subulussalam dan Aceh Tenggara). Karena terbatasnya sumber daya manusia lokal (putra daerah) sehingga proses pembelajaran tentang keislaman tidak berjalan dengan baik, kendati sudah ada program da’i perbatasan dari Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam. Untuk itu Dewan Da’wah berinisitif menyekolahkan putra putri dari daerah perbatasan, untuk tahap awal dari pedalaman Aceh Singkil, dan menandatangani kontrak dengan orang orang tua masing-masing agar bersedia kembali ke kampung masing-masing untuk mengajari masyarakatnya.

Program ini terlaksana atas kerjasama dengan Yayasan Syeikh Eid Qatar, Yayasan Ash-Shilah, Pesantren Abu Lam U, Syeikh Abdullah dari Turki dan Ma’had Ar-Rabwah, Pengurus Daerah Dewan Da’wah Acejh Singkil, Baitul Mal Provinsi Aceh dan Baitul Mal Kabupaten Aceh Besar serta sejumlah donatur lainnya.

Mengingat kondisi ekonomi keluarga santri  yang sangat memprihatinkan dalam berbagai sisi kehidupan, baik yang muallaf, fakir miskin dan yatim, maka kami mengajak agar hati kita tersentuh untuk mengambil peran masing-masing dalam  rangka kepedulian bagi mereka. Apa yang bisa dan sudah kita lakukan untuk saudara baru kita?
 
Kepada para dermawan dan donatur yang berminat membantu dapat menghubungi Sekretariat Dewan Da'wah Aceh di Jalan T. Nyak Arief No. 159 Lamgugob-Jeulingke Banda Aceh… Telp. 0651-8011087  email; ddiinad@yahoo.com atau hubungi langsung Koordinator Pembinaan Anak Muallaf, Ali Amin HP. 0811688173, via Rekening Bank Muamalat Indonesia Cabang Banda Aceh Rekening Nomor: 918.1604699 an: hasanuddin yusuf adan QQ DDII – NAD atau Rekening Giro Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di BPD Aceh Syariah Nomor Rekening 612-01-08000031-5


Banda Aceh, 4 Agustus 2011
Pengurus,


Said Azhar
Sekjen Dewan Da’wah Aceh

Rekomendasi Muswil Ke-3 Dewan Da’wah Aceh

DDII menyatakan, dalam menjalankan syariat Islam, haruslah dimulai dari keteladanan para pemimpin dari tingkat provinsi hingga tingkat gampong (desa). Untuk itu, sehubungan semakin dekatnya Pilkada gubernur/wakil dan 18 bupati/walikota secara serentak di Aceh, DDII mengimbau muslimin Aceh, agar memilih pemimpin yang benar-benar sesuai kriteria islami, memiliki komitmen menjalankan syariat Islam, mencintai rakyat dan dicintai oleh rakyatnya.

Pada bagian lain rekomendasi yang ditulis tiga halaman itu, DDII mengharapkan pemerintah lebih hati hati-hati dan menyeleksi investor asing dan tamu luar Aceh, agar tidak membawa misi yang bertentangan dengan pelaksanaan syariat Islam. Orang non muslim haruslah menghargai Aceh yang sedang menjalankan syariat Islam sebagai identitas negerinya. 

Sementara untuk MPU, diharapkan bertindak tegas dan berani dalam membuat fatwa. Memanggil pemerintah untuk dinasehati apabila terdapat kebijakan yang diberlakukan merugikan Islam. Supaya kebedataan MPU lebih kuat, hendaknya dalam kepengurusan MPU melibatkan unsur Ormas Islam dan lembaga dakwah.

Muswil DDII Aceh ke 3 ditutup oleh Ketua terpilih kembali secara aklamasi untuk empat tahun kedepan, Drs Tgk H Hasanuddin Yusuf Adan MCL, MA. Pengurus lengkap PW DDII Aceh 2011-2015 akan diumumkan pasca Idul Fitri 1432 Hijriah oleh formatur yang telah ditunjuk forum Muswil, yang terdiri dari Ketua: Hasanuddin Yusuf Adan, anggota: Nazaruddin  Idris, Said Azhar, Bismi Syamaun, M. Yusran Hadi, Muhammad AR dan Samir Abdullah.     

 

Tak cukup hanya Aceh

Forum Muswil juga diboboti dengan Dialog Da’wah dan Bedah Buku.  Dalam presentasi makalahnya, Ketua Umum DDII Pusat H Syuhada Bahri Lc mengatakan, seharusnya pilot proyek pelaksanaan syariat Islam seharusnya tak hanya berlangsung di Aceh saja, sehingga lebih mudah dievaluasi. “Tak cukup hanya Aceh saja, mestinya ada tiga provinsi lagi,” katanya. Apabila satu provinsi dianggap gagal, maka akan ada provinsi lain  yang menjadi model sukses.

Menurut dia, pelaksanaan syariat Islam haruslah berlangsung di seluruh Indonesia. Itulah yang terus diperjuangkan oleh DDII dan komponen Islam lainnya melalui berbagai aktivitas dakwah dan pendekatan politik. Implementasi syariat Islam kaffah di Indonesia adalah hal wajar, mengingat negeri ini bebas dari penjajahan kolonial tak terlepas peran besar muslimin melakukan jihad fisabilillah melawan penjajah. “Muslimin mayoritas di Indonesia,’ tegasnya.

Untuk itu, dia berharap pengurus DDII dan aktivis dakwah di seluruh Indonesia dapat meningkatkan aktivitas dakwah, sehingga secara bertahap masyarakat Islam tak lagi menolak syariat Islam. Dalam pengetahuannya, selama ini, sering kali jika ada tuntutan pemberlakukan syariat Islam, maka yang menolaknya juga ummat Islam. Lihat saja pemberlakuan Perda-Perda syariat Islam di beberarapa daerah, justru yang memprotesnya dari kalangan Islam.

Syuhada Bahri berharap, syariat Islam di Aceh yang telah mendapat legitimasi UU dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga tidak gagal dan menjadi momok bari daerah lain di Indonesia. Dalam hal ini DDII mestilah lebih serius lagi meningkatkan dakwah Islamiah, memperkuat jalinan kerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota dan melakukan advokasi terhadap berbagai pelanggaran syariat Islam.

Dia mengharapkan dakwah dilakukan dengan santun di seluruh Indonesia, memperkuat SDM da’i, manajemen dakwah dan meningkatkan jaringan DDII kab/kota di seluruh Indonesia. “Di era otonomi sekarang ini, yang mesti ditingkatkan adalah keberadaan DDII kab/kota, sehingga dapat lebih mewarnai pelakasanaan syariat Islam dan bermitra dengan bupati/walikota,” harapnya.

Dialog Da’wah dilanjutkan dengan bedah buku “Aceh dan Inisiatif NKRI” karya Ketua DDII Aceh, Hasanuddin Yusuf Adan. Buku itu dibedah oleh Sekjen DDII Pusat, H Amlir Syaifa Yasin MA. Buku yang terdiri dari 252 halaman dan diterbitkan Adnin Foundation Banda Aceh  2010 itu memuat  sejarah kekecewaan Aceh terhadap Jakarta sejak DI/TII dan konflik GAM-RI. “Buku ini merekam sejarah kekecewaan Aceh terhadap NKRI, kareka tak mau melaksanakan syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan bernegara,” kata Hasanuddin.

Wagub yang hadir dan membuka Muswil Ke-3 Dewan Da’wah, dalam amanatnya mengidentifikasi problem ummat Islam yang menjadi tantangan pelaksanaan syariat Islam. di antaranya, secara internal masih rendahnya pemahaman agama di kalangan ummat, polarisasi pemahaman beberapa furu’iyah berimbas kepada perpecahan, kemampuan manajemen yang kurang memadai serta etos kerja dan citra ummat Islam yang baik dan bersih belum dapat diwujudkan. Di sisi lain, secara eksternal, Wagub menyebutkan pengaruh globalisasi, kemajuan teknologi informasi, mainstream politik global yang menyudutkan ummat Islam dengan citra teoris, radikal dan upaya misionaris, menjadi hambatan lain guna menciptakan kehidupan Islami.

Menyahuti persoalan di atas, jalan keluar yang perlu ditempuh, di antaranya alah perkuat kegiatan da’wah yang bil-hikmah, mauidhah hasanah dan mujadalah yang baik. Hidupkan kembali pengajian di rumah-rumah, meunasah. Perkuat kontrol orang tua terhadap anak, khususnya ketika anak sudah menginjak remaja. Khusus untuk ormas Islam, hendaklah menjadi problem solver bukan  sebaliknya hanya sebagai trouble maker. Saya yakin, Dewan Da’wah dapat menjadi salah satu ormas Islam yang menyelesai masalahkan masalah ummat, demikian Muhammad Nazar mengakhiri amanatnya.

Banda Aceh, 18 Juli 2011

Panitia Pelaksana,

 

 

Drs. M. Nasir Idris

Sekretaris