Muslimat Dewan Dakwah Aceh Gelar Pendampingan Syariah Bagi Muallaf

 

Muslimat Dewan Dakwah Aceh bekerjasama dengan Baitul Mal Aceh menggelar kegiatan pendampingan syariah bagi muallaf di Gedung ACC Sultan Selim II Banda Aceh, Minggu (07/10/2018).

Ketua Panitia Roslaila Usman Latief mengatakan kegiatan tersebut diikuti oleh 100 muallaf yang sebagiannya berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Menurutnya kegiatan tersebut direncanakan akan berlangsung selama 12 kali pertemuan. Dengan rincian dalam seminggu sebanyak dua kali pertemuan dan pada setiap pertemuannya berlangsung selama 4 jam.

“pemateri akan diisi oleh Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan pembiayaan dari kegiatan ini bersumber dari Baitul Mal Aceh,” kata Roslaila.

Kepala Baitul Mal Aceh yang diwakili oleh Kasubbid Pendayagunaan, Mahfudh SE dalam sambutannya mengatakan sumber dana dari kegiatan tersebut adalah dari dana zakat. Adapun zakat itu merupakan harta yang berasal dari sesuatu yang suci dan berkah.

“oleh karena itu kami harapkan kegiatan ini dapat menghadirkan output yang suci dan berkah pula, khususnya kepada individu para muallaf,” kata Mahfudh.

Ia menambahkan kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan nilai tambah bagi peserta agar nilai-nilai keislamannya dapat meningkat setiap harinya. Selain itu juga bagian dari partisipasi dan kepedulian Baitul Mal Aceh sebagai lembaga pengelola zakat dalam memberikan pemahaman tentang dienul islam bagi muallaf khususnya berkaitan dengan aqidah, ibadah dan muamalah.

“kami juga berharap di tahun-tahun mendatang jumlah zakat dapat terus bertambah, sehingga kedepannya akan lebih banyak lagi muallaf yang bisa kita bantu dalam pengayaan wawasan keislamannya. Termasuk juga untuk program-program lainnya,” lanjut Mahfudh.

Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Aceh saat membuka acara yang disampaikan oleh Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Pembinaan Muallaf, Ghazali M Adam, S.Ag MA mengatakan Dewan Dakwah Aceh berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan muallaf, baik melalui program Dewan Dakwah sendiri maupun dalam bentuk kerjasama. Termasuk juga pembinaan muallaf dengan pengiriman anak-anak muallaf ke Dayah atau Sekolah Tinggi Islam untuk belajar agama dan menghafal al-quran.

“Insha Allah, kerjasama dengan semua pihak ini sangatlah penting untuk pembinaan muallaf yang merupakan tanggung jawab kita bersama. Semoga harapan kita ini diberkahi dan dikabulkan. Aminn,” pungkas Ghazali.

ADI Aceh Kembali Adakan Kajian Rutin dan Terbuka Untuk Umum

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh kembali mengadakan kajian rutin yang digelar setiap malam senin, selasa, rabu, kamis, jum’at dan sabtu.

Kajian tersebut dimulai dari ba’da magrib sampai dengan azan isya, bertempat di mesjid komplek Markas Dewan Dakwah Aceh, Desa Rumpet, Krueng Barona Jaya.

Kajian ini juga terbuka untuk umum (khusus laki laki).

Berikut jadwal pengajian malam ba’da magrib :
Jadwal : Malam Senin
Pemateri : Dr. Muhammad Ar, M.Ed
Materi : Akhlak

Jadwal : Malam Selasa
Pemateri : Dr. Abizal M. Yati, Lc,.MA
Materi : Sirah Nabawiyah

Jadwal : Malam Rabu
Pemateri : Muslim, MA
Materi : Hadist

Jadwal : Malam Kamis
Pemateri : Azanul Fajri, S.Hi
Materi : Fiqh

Jadwal : Malam Jum’at
Pemateri : Drs. Bismi Syamaun
Materi : Aqidah

Jadwal : Malam Sabtu
Pemateri : Dr. Hasanuddin Yusuf Adan, MA
Materi : Tafsir

Demikian, semoga sahabat sahabat, bapak bapak dan para pemuda sekalian dapat berhadir untuk meramaikan dan mengikuti kajian tersebut, dengan melaksanakan sholat magrib berjama’ah di lokasi.

Tahan Diri di Medsos untuk Menjaga Ukhuwah

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam merupakan salah satu sumber utama kekuatan umat muslim sebagai implementasi hablum minannas dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Terwujudnya Ukhuwah Islamiyah merupakan dambaan setiap Muslim. Hanya saja, nilai ukhuwah ini terkadang kerap mengalami permasalahan yang dapat merusaknya.

Misalnya, seseorang yang mengajak berukhuwah, namun sebentar kemudian sudah memancing perseteruan dengan berbagai sikap, perbuatan dan perkataan yang dapat menyakiti sesama‎ muslim akibat tidak mampu menahan diri.

Lebih-lebih di zaman teknologi informasi dan komunikasi serba canggih sekarang ini dengan hadirnya media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, dan WhatsApp Grup (WAG) yang kerap memunculkan perdebatan akibat merasa paling benar terhadap perbedaan, sikap ego dan saling tuding sesama baik akibat masalah sosial, politik, ekonomi hingga hal-hal khilafiyah dalam beragama sehingga memunculkan perpecahan umat.

Demikian antara lain disampaikan Ustaz Dr. Muhammad AR M.Ed, Ketua Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (29/8) malam.

“Perdebatan-perdebatan yang dapat merusak ukhuwah di tengah umat apalagi karena kurang ilmu dan tidak paham masalah, sangat dilarang dalam Islam. Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan. Bahkan Islam datang untuk mempersatukan umatnya dengan banyaknya persamaan, bukan untuk berpecah belah terhadap sedikit perbedaan,” ujar Ustaz Muhammad AR.

Menurut Dosen UIN Ar-Raniry ini, media sosial sebagai produk teknologi seharusnya perlu didayagukanan untuk memperkuat ukhuwah, mempererat tali silaturahim dan persaudaraan muslim.

Namun, pada faktanya, menurut Ustaz Muhammad, seringkali medsos disalahgunakan. Medsos digunakan sebagai ajang untuk saling mencaci, mem-bully, menyebarkan ghibah, fitnah, namimah (mengadu domba), dan permusuhan khususnya di tahun politik

“Akibat salah menggunakan media sosial untuk saling serang, mencaci, mencari-cari kesalahan, banyak diantara kita yang tersakiti dan memunculkan permusuhan, ditambah lagi jarang berjumpa untuk bersilaturrahmi untuk sekadar berjabat tangan,” kata Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA) ini.

Untuk itu, Muhammad‎ AR, menyerukan umat Islam, agar memastikan medsos digunakan untuk kemaslahatan dan kebaikan, serta merajut persaudaraan. “Bukan untuk menebar gosip, hoax, fitnah, dan adu domba,” serunya, lantas berpesan agar umat bijak dalam memanfaatkan medsos.

Kalau seseorang menerima informasi apalagi berbau negatif, lanjutnya, harus ada mekanisme tabayyun. Demikian juga kalau mau menyebar informasi. Pastikan informasi tersebut benar, bermanfaat, dan tepat baik waktu maupun tempatnya.

“Yang tak kalah penting, pastikan bahwa info yang akan kita sebar tidak menyakiti orang lain. Ini penting untuk jadi perhatian, terutama bagi orang tua, jangan sampai kita menciptakan dosa jariyah sepanjang masa di medsos, ” terangnya.

 

Diakuinya, ‎siapa saja bisa menginformasikan apa saja dengan begitu mudah di medsos. Kenyataan seperti ini menuntut kehati-hatian dalam menyikapi suatu informasi. Dengan jejaring sosial Facebook misalnya, siapa saja bisa menuliskan apa saja dan siapa saja bisa membacanya, bahkan berkomentar.

Kemudahan komunikasi mestinya dijadikan wahana penyambung silaturrahim dan pengokoh ukhuwah. Namun, dampak negatif juga belum bisa dihindarkan. Suatu informasi yang kontroversial seringkali menimbulkan perdebatan di dalamnya. Perdebatan di media sosial yang kadang tidak terarah ini sangat merugikan. Tulisan-tulisan yang saling merendahkan pun tak dapat dihindarkan. Masing-masing membela pendapatnya, namun argumentasi yang disampaikan cenderung kepada pembelaan diri, bukan lagi mencari kebenaran.

“Memang, kita diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun itu pahit. Akan tetapi perdebatan tak berujung di sosial media alangkah baiknya dihindari. Sangat kecil manfaatnya dan justru lebih banyak mudharatnya. Bukan ukhuwah yang kita raih, melainkan kebencian dan kedengkian yang kian membara. Jika sudah begini, tinggalkan saja,” tegasnya.

Rasulullah SAW juga berpesan, “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda”.

Ustaz Muhammad AR juga menyampaikan, ukhuwah juga bisa kuat di tengah umat denga‎n terlaksananya shalat berjamaah lima waktu sehari semalam.

“Jika ada shalat berjamah lima waktu, itu bisa memperkuat ukhuwah di sekitar kita dengan turunnya keberkahan dari Allah kepada penduduk setempat. Yang penting ada shalat berjamaah, Allah akan turunkan rahmat, keamanan negeri dan jauh dari azab bagi orang-orang yang shalat berjamaah,” sebutnya.

Sumber :http://www.kwpsi.org

Mahasiswa Baru ADI Aceh Ikut Mastama

Sebanyak 17 mahasiswa baru Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh mengikuti Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) yang dipusatkan di Markaz Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar.

Kegiatan yang bertajuk “Menjaring Kader Dakwah yang Profesional untuk Masa Depan Ummat” tersebut berlangsung selama 3 hari, 29-31  Agustus 2018.

Panitia Pelaksana M Reza Adlani, S.Sos mengatakan kegiatan Mastama tersebut bertujuan untuk memperkenalkan program dan sistem perkuliahan serta peraturan yang berlaku di ADI Aceh.

“Selain itu mahasiswa baru akan mendapatkan penjelasan materi-materi yang berkaiatan dengan dunia Islam dan dakwah agar menjadi bekal selama mengikuti perkuliahan,” kata Reza Adlani, Kamis (30/8/2018).

Sementara Direktur ADI Aceh Dr Muhammad AR, M.Ed, saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Massa Ta’aruf Mahasiswa (MASTAMA) mengatakan ADI mempunyai misi membantu mengawal pelaksanaan syariat islam dan mengantisipasi pendakalan akidah. Selain itu menyiapkan kader-kader da’i yang mampu menjadi imam dan khatib jum’at yang nantinya akan ditempatkan di daerah-daerah perbatasan dan pedalaman Aceh.

Ia menambahkan ADI merekrut mahasiswa baru itu dari daerah-daerah yang notabenenya jauh dari dakwah islam dengan harapan nantinya akan menjadi kader penerus dakwah dimasa yg akan datang. Dan mareka semua merupakan hasil seleksi dan verifikasi yang dilakukan Tim Penerimaan Mahasiswa Baru ADI beberapa waktu yang lalu.

“Dari puluhan yang mendaftar hanya 17 orang yang dinyatakan lulus. Dimana sebagian besar mareka berasal dari daerah perbatasan dan pedalaman Aceh. Diantaranya berasal dari Subulussalam sebanyak 10 orang, Singkil 1 orang, Aceh Jaya 1 orang, Aceh Selatan 1 orang, Aceh Barat Daya 1 orang dan Gayo Lues 2 orang. Dan selama berlajar di ADI Aceh semua biaya kuliah, biaya asrama dan biaya makan digratiskan,”ungkap Dr Muhammad.

Wakil Ketua Dewan Dakwah Aceh ini juga menjelaskan tenaga pengajar di ADI terdiri dari 12 orang yang bergelar doktor dan puluhan master, lulusan dari sejumlah kampus di luar dan dalam negeri.

 

“Masa belajar mareka di ADI ini selama 2 tahun dimana fokus utamanya mampu menghafal al-quran minimal 4 juz, pemantapan bahasa arab dan penguatan akhlaq. Kemudian akan diseleksi kembali untuk melanjutkan kuliah program Strata Satu (S-1) di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir di Jakarta pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,”tutup Muhammad AR.

ADI Aceh Terima 17 Mahasiswa Baru

 

Banda Aceh (29/8) — Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh tahun ini menerima 17 orang mahasiswa baru, yang terdiri dari 11 dari Kota Subulussalam, 2 orang dari Gayo Lues dan 1 orang dari Kota Fajar, Aceh Selatan, 1 orang dari Aceh Jaya dan 1 orang lagi dari Serdang Balige, Sumatra Utara.

Mereka akan dibina ilmu, ibadah dan karakter mereka di ADI Aceh selama 2 tahun, selanjutnya akan dibina lebih khusus lagi di Jakarta supaya menjadi kader Dakwah kedepannya.

hari ini Rabu (29/8/2018) mereka mulai masuk asrama, yang beralamat di komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Dewan Dakwah Aceh Kirim 6 Orang Mahasiswa Perbatasan ke Jakarta

 

Sebanyak 6 orang mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh diberangkatkan ke Jakarta, Minggu (26/8/2018).

ke 6 mahasiswa tersebut berasal dari daerah perbatasan Aceh seperti Aceh Singkil, Subulussalam, Simuelue dan Aceh Tamiang.  Mereka akan melanjutkan kuliah program S-1 Ilmu Dakwah di STID Mohammad Natsir.

Ketua Dewan Dakwah Aceh Dr. Hasanudin Yusuf Adan, MCL saat pelepasan mahasiswa tersebut menyampaikan, bahwa keenam mahasiswa tersebut sengaja diambil dari daerah perbatasan Aceh, kemudian telah dibina ilmu, ibadah dan karakter mereka di ADI Aceh selama 2 tahun, selanjutnya akan dibina lebih khusus lagi di Jakarta supaya menjadi kader Dakwah kedepannya.

Pesan utama yang disampaikan oleh Hasanudin kepada mahasiswa tersebut agar menjaga nama baik Aceh yang bersyariat Islam, menjaga akhlak dan mengamalkam ilmu yang telah didapat serta gigih dalam belajar.

Secara terpisah Sekretaris ADI Aceh Dr. Abizal, Lc, MA menjelaskan sudah 3 angkatan mahasiswa ADI Aceh diberangkatkan ke Jakarta guna melanjutkan kuliah, ini merupakan angkatan ketiga. Keberangkatan mahasiswa tersebut didampingi oleh Zulfikar SE Wakil Direktur ADI Aceh.