PENGAJIAN DAN PEMBINAAN MASYARAKAT PULO NASI

آ آ Rutinitas kegiatan keagamaan seperti pengajian, khutbah jumat dan ceramah agama hanya diisi oleh tokoh setempat. Sangat jarang ada tenaga professional dari kota yang datang ke sana. Tenaga formal (pegawai pemerintah) pun kadangkala hanya bertahan satu dua hari dalam seminggu, kemudian mereka kembali ke daratan (kota).

آ Menyimak kondisi di atas, Dewan Da’wah Aceh yang selama ini sudah concern dengan pembinaan di Pulo Nasi, pad tahun 2010 kembali mengirim tim dakwah ke sana setiap bulan minimal dua orang guna melakukan pembinaan. Langkah ini dilakukan sambil mempersiapkan da’i permanen yang akan ditempat dan menetap di sana.

آ 

TUJUAN KEGIATAN

Tujuan dari kegaitan pembinaan ini adalah

1.آ آ آ آ  Tersebarnya pemahaman dan pengamalan Islam yang benar di tengah-tengah masyarakat.

2.آ آ آ  Membekali generasi muda dengan pemahaman agama dan akhlak karimah sehingga masjid-masjid dan Meunasah-meunasah menjadi makmur dengan pelaksanakan ibadah.

3.آ آ آ  Memotivasi masyarakat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan ukhuwwah Islamiyah bagi sesama muslim sehingga Kecamatan Pulo Aceh akan bebas dari manusia-manusia bodoh dan jahil yang dapat menghancurkan ummat bukan hanya dari segi ukhuwwah saja namun juga dapat menghancurkan tauhid serta aqidah ummat di sana.

آ 

آ BENTUK KEGIATAN

Kegiatan Pembinaan dilaksanakan dalam bentuk khutbah jum’at, ceramah agama, pengajian untuk orang tua dan remaja.

آ JADWAL KEGIATAN

Kegiatan dimulai dengan ceramah setelah shalat magrib dan subuh, pengajian orang dewasa Kamis Malam, khutbah Jum’at, pengajian ibu-ibu pada sore hari jum’at, pengajian remaja pada jum’at malam, dan hari sabtu pagi kembali ke tempat. Kegiatan ini dilaksanakan pada mingu kedua atau keempat setiap bulan

آ PEMATERI

Setiap bulan akan dikirim minimal dua orang pemateri ke Pulo Nasi, baik dari internal Dewan da’wah atau dari pihak lain yang dikoordinir oleh ketua bidang pembinaan daerah/pulo terpencil

آ 

آ 

KEGIATAN PENGUATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN

آ Khusus untuk Dewan Da’wah, sebagai sebuah yayasan secara sistim memang tidak banyak persoalan, karena aturan-aturan yang mengatur tentang yayasan sudah jelas. Hanya saja ruang gerak agak terbatas, karena kewenangan penuh ada di Pembina Yayasan, dan sifatnya sentralistik. Persoalan yang agak serius terdapat pada kelembagaan dan individu, dimana secara struktur, kelembagaan Dewan Da’wah Aceh belum terjangkau untuk semua kabupaten/kota di Aceh, apalagi untuk kecamatan. Belum lagi kepengurusan yang sudah ada di 18 kabupaten/kota dari jumah 23 kabupaten tidak semuanya aktif. Pada tataran individu juga ada persoalan, di antaranya kesibukan akibat rangkap jabatan, komitmen, kapasitas dan minat bergabung dengan Dewan Da’wah yang masih menjadi tanda Tanya.

آ Menyadari kondisi seperti di atas, maka diperlukan langkah antisipasi berupa kegiatan penguatan kapasitas di tataran kelembagaan dan individu.

آ

آ TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk:

mengoptimalkan kembali operasional organisasi dalam rangka dakwah dan pemberdayaan masyarakat untuk percepatan pelaksanaan syariat Islam آ
tersedianya jaringan struktur kelembagaan yang memadai untuk merumuskan dan menjalankan program-program dakwah dan pemberdayaan masyarakat
tersedianya personil yang tangguh, baik intelektual, komitmen moral, semangat juang dan pengorbanan untuk memajukan dakwah
آ

آ SASARAN KEGIATAN

Kegiatan ini diarahkan pada pemulihan struktur pengurus di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh, baik berupa pemberian mandat, pembentukan/ pelantikanآ آ آ dan pengaktifan pengurus.

آ آ

BENTUK KEGIATAN

Kegiatan ini dikemas dalam dua paket, yakni; pembinaan pengurus di tingkat provinsi melalui kajian rutin setiap sabtu sore serta mekanisme rapat-rapat, baik pengurus harian, bidang dan pleno. Selanjutnya kegiatan juga diarahkan dalam bentuk supervisi melalui turba (turun bawah), dengan mengunjungi pengurus di Kabupaten/kota dan memberikan/menerima masukan, memotivasi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam bentuk kursus singkat tentang manajemen, keorganisasian dan lain-lain sesuai kebutuhan di setiap lokasi.

آ آ

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini berlangsung dari Januari s/d Desember 2010 dan berlokasi di seluruh Aceh dengan durasi,آ mingguan untuk tingkat wilayah dan bulanan untuk kabupaten/kota.

آ آ

SUMBER DANA

Untuk kelancaran kegiatan ini diharapkan sumber dana dari

Pemerintah Aceh
Pengurus Pusat Dewan Da’wah dan pihak ketiga lainnya yang tidak mengikat
آ آ

ANGGARAN YANG DIBUTUHKAN

Biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini sebanyak Rp. 54,417,800,- (lima puluh empat juta empat ratus tujuh belas ribu delapan ratus rupiah). Rincian terlampir.

آ

آ PELAKSANA

Kegiatan ini dilaksanakan oleh bidang Penguatan Kelembagaan dan Hubungan Antar Lembaga Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Aceh

آ آ

PENUTUP

Semoga rencana kegiatan penguatan kapasitas kelembagaan dapat berjalan lancar, sehingga persoalan dakwah dan keummatan lainnya dapat teratasi sedikit demi sedikit yang nantinya berpunca kepada suksesnya program pelaksanaan syariat Islam secara kaffah di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Kepada semua pihak yang membantu program ini kami ucapkan terima kasih, seraya berharap Allah SWT. Meridhai dan memberi ganjaran yang setimpal.

Amien ya mujibassailin.

آ

Pengurus DDII Sabang Dilantik

“Orang Aceh dulu bekerja untuk Islam dan bangsa. Itu tidak mungkin terwujud tanpa bekerja dan beramal,â€‌ kata Hasanuddin. Pada kesempatan yang sama, DDII Aceh juga menggelar pelatihan dai yang diikuti sejumlah kader dai Kota Sabang.

Sementara Pengurus Daerah DDII Sabang yang dilantik, yaitu Drs Azhari Abubakar (Ketua), Khairuddin Harun SAg (Sekretaris), Walidin SE (Bendahara), Eriadi ST (Biro Diklat), Samsul Huda (Biro Penerangan), Muzakir (Biro Organisasi), Ikhsanuddin (Biro Riset), Ikhwan Mirza (Biro Keuangan), Nurlina (Biro Pembinaan Wanita) dan Taufiq Hidayat (Biro Pembinaan Sosial).(fs)

 

DEWAN DA’WAH ACEH TAMIANG DILANTIK

Ketua terpilih periode kedua kepengurusan Dewan Da’wah di Aceh Tamiang, Mustafa MY Tiba, dalam sambutannya mengatakan bahwa di bawah kepemimpinannya kali ini Dewan Da’wah ingin bekerja maksimal, khususnya dalam rangka pemantapan pemahaman syari’at Islam kepada masyarakat dan juga para pemimpin. Sehingga kehadiran Dewan Da’wah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan sekaligus dapat menjadi mitra kerja Pemerintah Kabupaten. Jangan ada pemahaman, semakian banyaknya Ormas dan lembaga non pemerintahan lainnya yang hadir di Aceh Tamiang akan berpotensi menjadi biang perselisihan. Mari kita bekerja dengan ikhlas dan bersinergi agar ukhuwah Islamiyah tetap terjaga, demikian himbauan Mustafa di akhir sambutannya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Drs. H. Abdul Latief,آ  yang hadir dalam pelantikan tersebut, dalam sambutannya mengajak Pengurus Daerah Dewan Da’wah Aceh Tamiang untuk membantu pemerintah khususnya berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam dan perbaikan akhlak generasi muda. Mengingat Aceh Tamiang merupakan pintu gerbang dan perbatasan antara Aceh dengan Sumatera Utara.

Saat ini Pemerintah Kabupaten telah menyediakan puluhan da’i kecamatan, disamping Da’i Perbatasan dari Dinas Syraiat Islam Provinsi Aceh yang bertugas membina masyarakat. Dengan hadirnya Dewan Da’wah ini kiranya semakin memperkuat tim da’i yang selama ini sudah bekerja, imbuh bapak Bupati sebelum menyudahi sambutannya.

Di akhir pelantikan, Ketua Umum Wilayah Dewan Da’wah Aceh, Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan dalam arahannya mengingatkan pengurus yang baru dilantik bahwa tidak ada makna sebuah organisasi, lembaga, kalau tidak ada kegiatan. Oleh karenanya, Hasanuddin mengharapkan agar Dewan Da’wah Aceh Tamiang selesai dari pelantikan untuk langsung merumuskan program kerja yang bermanfaat untuk Islam, ummat dan daerah. Jangan sampai setelah pelantikan seungap blem-blom (baca;tidak ada aktivitas apa-apa) dan diakhir periode baru ada pertemuan sekali lagi, demikian Ketua Umum Wilayah Aceh mengingatkan. Selebihnya, jadi pengurus jangan seperti Rujee Juem (kayu bakar yang basah), capek kita bakar tidak juga juga nyala apinya.

Begitulah tamsilan Hasanuddin untuk rekan-rekan pengurus Dewan Da’wah di Aceh Tamiang diakhir nasehatnya.آ Setelah prosesi pelantikan dilanjutkan dengan agenda orientasi pengurus yang dibekali oleh Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, Bismi Syamaun dan Sayid Azhar. Kepada pengurus dibahani tentang Profil Dewan Da’wah, Teknis Penyusunan Perencanaan Program Kerja, Pembagian Tugas (Job Description) dan diskusi.آ Banda Aceh, 26 Juli 2010آ Sayid AzharSekjen DDII Acehآ 

آ 

آ 

DEWAN DA’WAH ACEH TAMIANG DILANTIK

Ketua terpilih periode kedua kepengurusan Dewan Da’wah di Aceh Tamiang, Mustafa MY Tiba, dalam sambutannya mengatakan bahwa di bawah kepemimpinannya kali ini Dewan Da’wah ingin bekerja maksimal, khususnya dalam rangka pemantapan pemahaman syari’at Islam kepada masyarakat dan juga para pemimpin. Sehingga kehadiran Dewan Da’wah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan sekaligus dapat menjadi mitra kerja Pemerintah Kabupaten. Jangan ada pemahaman, semakian banyaknya Ormas dan lembaga non pemerintahan lainnya yang hadir di Aceh Tamiang akan berpotensi menjadi biang perselisihan. Mari kita bekerja dengan ikhlas dan bersinergi agar ukhuwah Islamiyah tetap terjaga, demikian himbauan Mustafa di akhir sambutannya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Drs. H. Abdul Latief,  yang hadir dalam pelantikan tersebut, dalam sambutannya mengajak Pengurus Daerah Dewan Da’wah Aceh Tamiang untuk membantu pemerintah khususnya berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam dan perbaikan akhlak generasi muda. Mengingat Aceh Tamiang merupakan pintu gerbang dan perbatasan antara Aceh dengan Sumatera Utara.

Saat ini Pemerintah Kabupaten telah menyediakan puluhan da’i kecamatan, disamping Da’i Perbatasan dari Dinas Syraiat Islam Provinsi Aceh yang bertugas membina masyarakat. Dengan hadirnya Dewan Da’wah ini kiranya semakin memperkuat tim da’i yang selama ini sudah bekerja, imbuh bapak Bupati sebelum menyudahi sambutannya.

Di akhir pelantikan, Ketua Umum Wilayah Dewan Da’wah Aceh, Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan dalam arahannya mengingatkan pengurus yang baru dilantik bahwa tidak ada makna sebuah organisasi, lembaga, kalau tidak ada kegiatan. Oleh karenanya, Hasanuddin mengharapkan agar Dewan Da’wah Aceh Tamiang selesai dari pelantikan untuk langsung merumuskan program kerja yang bermanfaat untuk Islam, ummat dan daerah. Jangan sampai setelah pelantikan seungap blem-blom (baca;tidak ada aktivitas apa-apa) dan diakhir periode baru ada pertemuan sekali lagi, demikian Ketua Umum Wilayah Aceh mengingatkan. Selebihnya, jadi pengurus jangan seperti Rujee Juem (kayu bakar yang basah), capek kita bakar tidak juga juga nyala apinya.

Begitulah tamsilan Hasanuddin untuk rekan-rekan pengurus Dewan Da’wah di Aceh Tamiang diakhir nasehatnya. Setelah prosesi pelantikan dilanjutkan dengan agenda orientasi pengurus yang dibekali oleh Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, Bismi Syamaun dan Sayid Azhar. Kepada pengurus dibahani tentang Profil Dewan Da’wah, Teknis Penyusunan Perencanaan Program Kerja, Pembagian Tugas (Job Description) dan diskusi. Banda Aceh, 26 Juli 2010 Sayid AzharSekjen DDII Aceh