KAJIAN KEMAMPUAN IMAM SHALAT DALAM MEMIMPIN SHALAT JAMA’AH

Guna mengisi peluang yuridis ini, kesiapan komunitas menjadi faktor penentu berjalan tidaknya Islam dalam praktek kehidupan sehari-hari, baik komunitas birokrat, politisi, tehnokrat, pengusaha, pendidik, terlebih pemimpin informal masyarakat (seperti imam mesjid/meunasah)—yang menjadi pengawal kehidupan masyarakat khususnya dalam pelaksanaan ibadah shalat berjamaah. Salah satu barometer dari hidupnya suasana Islam dalam kehidupan adalah tegaknya shalat jamaah dan adanya kemampuan penguasaan terhadap al-Quran oleh para imam shalat sebagai pedoman dalam menjalankan ibadah itu sendiri dalam Islam. Dan kemampuan berinteraksi dengan al-Quran mempunyai beberapa tingkatan, mulai dari membaca, menerjemahkan, menafsir, memahami, mengamalkan dan memperjuangkan pemahaman tersebut (baca;dakwah) untuk seluruh ummat.

 

Bicara persoalan kemampuan penguasaan al-Quran—dalam hal ini peringkat pertama, yakni kemampuan membaca–dalam pelaksanaan shalat, khususnya di kalangan para imam shalat di mesjid-mesjid, sepertinya dianggap sudah selesai. Anggapan ini memang tidak mengada-ada, karena sejak puluhan tahun yang lalu—tepatnya ketika Aceh dipimpin oleh Prof. Ibrahim Hasan—telah ada program berantas buta huruf al-Quran, sampai ada ketentuan tidak boleh masuk sekolah lanjutan bila tidak bisa baca al-Quran (Instruksi Gubernur terlampir). Alasan lain, di mana-mana sekarang sudah ada Taman Pengajian Al-Quran dengan berbagai metode membaca al-Quran cara cepat, yang ini semua mengindikasikan bahwa kemampuan baca al-Al-Quran dan pelaksanaan shalat—sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program Taman Pengajian al-Quran—tidak lagi menjadi persoalan di imam-imam shalat di mesjid/meunasah dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Sekali lagi, asumsi di atas memang beralasan. Namun apabila kita uji dengan realitas di lapangan ternyata masih signifikan angka kemampuan imam shalat berjamaah di mesjid-mesjid/ meunasah yang masih perlu pembinaan dan pelatihan. Dari amatan sepintas masih banyak imam-imam shalat berjamaah di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam yang dalam proses rekruitmen tidak menetapkan sejumlah kriteria, seperti kemampuan bacaan al-Quran dengan fashahah,  jumlah hafalan al-Quran, penguasaan ilmu-ilmu syrai’ah (al-‘ulum al-syari’ah). Sehingga sangat jarang kita temui seorang imam shalat jamaah di mesjid/meunasah merupakan seorang hafidh¸baik 30, 15, atau 10 juz. Mayoritas imam shalat jamaah hanya  mengandalkan hafalan pada juz 30 (juz ‘amma).

Tentu saja asumsi di atas dibangun berdasarkan observasi sepintas dan pengalaman  empiris keseharian yang dialami oleh beberapa orang yang sempat diajak diskusi tentang persoalan kemampuan imam shalat berjamaah di mesjid-mesjid/meunasah yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Karenanya data valid tentang persoalan ini  masih membutuhkan pembuktian lewat penelitian ilmiah yang representatif dan dilakukan oleh pihak yang berkompeten, sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.

Menyikapi kondisi ini, terlebih dengan pelaksanaan Syariat Islam, yang salah satu stressingnya adalah bidang ibadah (Qanun Nomor 11 tahun 2002) maka solusi ke arah lahirnya imam-imam shalat berjamaah yang hafidh dan menguasai ilmu-ilmu syar’iyah  mendesak untuk dipikirkan. Sehingga berimplikasi pada perubahan ummat, dan hidupnya suasana agama di tengah masyarakat serta akan dapat mengatasai krisis jamaah shalat yang pada akhirnya diharapkan dapat meminimalisir segala tindak kejahatan serta kekejian. Karena shalat sendiri menjadi alat preventif terhadap tindak kejahatan dan kekejian (QS. 29:45 ) dan al-Quran akan menjadi pengontrol yang membedakan dalam memutuskan (baik buruknya) untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu (QS. 2:185). Ketika kondisi ini wujud, maka akan bermanfaat bagi daerah-daerah lain untuk belajar dan mengambil contoh bagaimana membangun suasana agama seperti yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai sebuah lembaga yang konsern dengan problematika ummat Islam berupaya ke arah tersebut, dengan cara melakukan penelitian guna didapatkan kondisi sebenarnya tentang kemampuan imam dalam memimpin shalat berjamaah, khusunya dalam membaca al-Quran dan penguasaan ilmu-ilmu syari’ah  di mesjid-mesjid/meunasah yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.  Kerja ini akan sukses sekiranya semua pihak, khususnya Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam, memberikan dukungan sepenuhnya dengan melahirkan kebijakan untuk dimasukkan proyek penelitian ini dalam salah satu program di bidang  terkait.

 

II. Maksud dan Tujuan

            Penelitian ini dilakukan dalam rangka:

  1. menjawab pertanyaan bagaimana kemampuan imam shalat, baik kemampuan bacaan dan hafalan al-Quran maupun kemampuan dalam menguasai ilmu-ilmu syariah–pada mesjid-mesjid yang ada di Provinsi NAD
  2. memperoleh informasi proses rekruitmen imam shalat pada mesjid-mesjid yang ada di Provinsi NAD
  3. mengidentifikasi keberadaan mesjid yang ada di Provinsi NAD, baik yang aktif melaksanakan shalat berjamaah maupun tidak.

III. Sasaran dan Penerima Manfaat

            Sasaran kegiatan ini ditujukan kepada imam-imam shalat yang ada pada mesjid-mesjid yang ada di Provinsi NAD dan mereka yang akan menjadi penerima manfaat langsung (direct benefeciaries) dari kegiatan ini, karena akan mengetahui kapasitas yang dimiliki dalam rangka menjadi imam shalat. Juga manfaat langsung kepada dinas terkait yang bertugas menangani pelaksanaan Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang pelaksanaan ibadah.

            Secara tidak langsung penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat luas lewat temuan-temuan yang ada, sehingga akan ada perbaikan, baik swadaya maupun intervensi program dari pihak luar—guna peningkatan kapasitas imam shalat yang diharapkan berimbas kepada intensitas jumlah jamaah shalat dan baiknya akhlak masyarakat dengan menjadikan imam shalat sebagai panutan dalam hidup dan kehidupan.

 

IV. Metodologi Penelitian dan Tehnik Pengumpulan Data

1. Metode

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-evaluatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode ini didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tujuan penelitian, dengan cara memberikan kajian mendalam melalui evaluasi tingkat kemampuan, kendala-kendala yang dihadapi dan ketepatan proses rekruitmen.

Bogdan (1997) dan Kaufman (1996) menyebutkan bahwa penggunaan metode evaluasi untuk menganalisis tingkat keterlaksanaan dan efektifitas program pengajaran dapat memberikan data yang detail dan akurat.

Penerapan metodoligi penelitian ini ditempuh melalui tahapan-tahapan penentuan:

2. Teknik Sampling

penelitian ini difokuskan pada mesjid-mesjid di seluruh Kabupaten/kota sebagai populasi penelitian dengan jumlah populasi, sampel dan responden sebagai berikut:

  1. Populasi penelitian 4370 mesjid di 23 kabupaten/kota di Provinsi NAD
  2. Sample 10 % dari 4370 mesjid yang ada di 23 kabupaten/kota diambil secara acak, masing-masing;

à         4 mesjid di Kota Sabang

à         14 mesjid di Kota Banda Aceh

à         20 mesjid di Aceh Besar

à         20 mesjid di Kabupaten Pidie

à         14 Mesjid di Kabupaten Pidie Jaya

à         20 mesjid di Kabupaten Bireuen

à         35 mesjid di Kabupaten Aceh Utara

à         26 mesjid di Kabupaten Aceh Tengah

à         31 mesjid di Kabupaten Aceh Timur

à         18 Mesjid di kabupaten Aceh Tenggara

à         29 mesjid di Kabupaten Aceh Barat

à         12 mesjid di Kabupaten Sinabang

à         32 mesjid di Kabupaten Aceh Selatan

à         12 mesjid di Kabupaten Aceh Singkil

à         10 mesjid di Kota Subulussalam

à         7 mesjid di Kota Lhokseumawe

à         7 mesjid di Kota Langsa

à         23 mesjid di Kabupaten Aceh Barat Daya

à         18 mesjid di Kabupaten Gayo Lues

à         15 mesjid di Kabupaten Aceh Jaya

à         25 mesjid di Kabupaten Nagan Raya

à         25 mesjid di Kabupaten Aceh Tamiang

berjumlah 437 mesjid.

  1. Responden 437 orang imam shalat jamaah/imam mesjid, dan 437 pengurus Badan Kemakmuran Mesjid (BKM)

 

3. Teknik Pengumpulan Data

            Penelitian ini menggunakan kombinasi dua teknik pengumpulan data sebagai berikut:

a.      Observasi

Teknik ini akan mengumpulkan data tentang proses seorang imam dalam memimpin

shalat jamaah di mesjid-mesjid. Enumerator ikut serta di dalam setiap dalam shalat berjamaah (participant-observer) untuk mengamati kemampuan imam dalam hal memimpin shalat berjamaah, meliputi; kemampuan bacaan al-Quran, hafalan dan penguasaan ilmu syari’ah lainnya.

 

b. Wawancara

            Teknik ini akan mengumpulkan data penguasaan imam tentang al-Quran beserta ilmu-ilmunya, hafalan, tentang kendala-kendala yang dihadapi dalam memimpin jamaah dan proses rekruitmen yang dilakukan untuk menjaring imam shalat di mesjid-mesjid.

 

4. Teknik Analisis Data

            Data yang dikumpulkan melalui teknik observasi akan dianalisis dengan menggunakan teknik pemberian pertimbangan yaitu pencocokan keadaan yang diamati pada masing-masing aspek proses pengelolaan shalat berjamaah dengan kriteria evaluasi yang telah dirumuskan.

            Sementara data yang dikumpulkan melalui teknik wawancara dianalisis dengan menggunakan teknik reduksi-induktif, yaitu dengan mereduksi data hasil wawancara secara bertahap dan mengarahkan kepada pembuatan kesimpulan secara deduktif.

 

IV. Strategi Kegiatan

            Kegiatan ini dilakukan oleh sebuah tim peneliti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan cara melatih enumeurator yang akan mencari data di lapangan. Untuk daerah yang sudah ada pengurus daerah Dewan Da’wah, kegiatan ini sepenuhnya dibantu oleh pengurus di daerah yang bersangkutan, tentu saja di bawah koordinasi dan pengawasan tim peneliti yang berada di provinsi.

            Setelah semua data yang diperlukan terkumpul akan diolah oleh tim peneliti, selanjutnya dibuat dalam bentuk laporan. Langkah terakhir, hasil penelitian ini akan dipresentasikan dalam bentuk seminar dengan harapan temuan di lapangan akan disahuti oleh pemerintah daerah dalam bentuk program nyata guna menjawab permasalahn yang ada.

 

V. Pelaksana

            Penelitian ini dilaksanakan oleh DDII Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan akan melibatkan pihak yang terkait sesuai kebutuhan.

 

VI. Waktu dan Tempat

            Penelitian ini dijadwalkan berlangsung selama 5 bulan, dari persiapan proposal sampai dengan presentasi hasil dalam bentuk seminar dan publikasi. (time schedule terlampir). Tempat penelitian di Provinsi NAD dengan konsentrasi di 23 kabupaten/kota

 

VII. Anggaran

            Penelitian ini sepenuhnya diharapkan pembiayaan dari Anggaran Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Aceh via bidang Penamas Tahun Anggaran 2010, dengan total biaya Rp. 305.266.500 (tiga ratus lima juta dua ratus enam puluh enam ribu lima ratus rupiah), dengan rincian terlampir.

 VIII. Tim Peneliti

Penanggungjawab       : Ketua umum DDII Provinsi NAD

Konsultan                    : Prof. Dr. Iskandar Usman, MA.

Ketua                          : Dr. Iskandar Budiman, MCL

Sekretaris                    : Said Azhar, S.Ag

Anggota                      : Drs. Samir Abdullah

Anggota                      : Ir. Rusydi Usman, TA

Anggota                      : Drs. Muhammad AR, M.Ed

Anggota                      : Drs. Bismi Syamaun

Anggota                      : Ali Amin, SE, M.Si

Anggota                      : Syukrinur A.Gani, M.Lis

Anggota                      : Ir. Nazar Idris

Anggota                      : Drs. Salmiah  Jamil

Anggota                      : Dra.Megawati

Anggota                      : Drs. Syahbudin Gade, MA

 

KEGIATAN PENGUATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN

آ Khusus untuk Dewan Da’wah, sebagai sebuah yayasan secara sistim memang tidak banyak persoalan, karena aturan-aturan yang mengatur tentang yayasan sudah jelas. Hanya saja ruang gerak agak terbatas, karena kewenangan penuh ada di Pembina Yayasan, dan sifatnya sentralistik. Persoalan yang agak serius terdapat pada kelembagaan dan individu, dimana secara struktur, kelembagaan Dewan Da’wah Aceh belum terjangkau untuk semua kabupaten/kota di Aceh, apalagi untuk kecamatan. Belum lagi kepengurusan yang sudah ada di 18 kabupaten/kota dari jumah 23 kabupaten tidak semuanya aktif. Pada tataran individu juga ada persoalan, di antaranya kesibukan akibat rangkap jabatan, komitmen, kapasitas dan minat bergabung dengan Dewan Da’wah yang masih menjadi tanda Tanya.

آ Menyadari kondisi seperti di atas, maka diperlukan langkah antisipasi berupa kegiatan penguatan kapasitas di tataran kelembagaan dan individu.

آ

آ TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk:

mengoptimalkan kembali operasional organisasi dalam rangka dakwah dan pemberdayaan masyarakat untuk percepatan pelaksanaan syariat Islam آ
tersedianya jaringan struktur kelembagaan yang memadai untuk merumuskan dan menjalankan program-program dakwah dan pemberdayaan masyarakat
tersedianya personil yang tangguh, baik intelektual, komitmen moral, semangat juang dan pengorbanan untuk memajukan dakwah
آ

آ SASARAN KEGIATAN

Kegiatan ini diarahkan pada pemulihan struktur pengurus di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh, baik berupa pemberian mandat, pembentukan/ pelantikanآ آ آ dan pengaktifan pengurus.

آ آ

BENTUK KEGIATAN

Kegiatan ini dikemas dalam dua paket, yakni; pembinaan pengurus di tingkat provinsi melalui kajian rutin setiap sabtu sore serta mekanisme rapat-rapat, baik pengurus harian, bidang dan pleno. Selanjutnya kegiatan juga diarahkan dalam bentuk supervisi melalui turba (turun bawah), dengan mengunjungi pengurus di Kabupaten/kota dan memberikan/menerima masukan, memotivasi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam bentuk kursus singkat tentang manajemen, keorganisasian dan lain-lain sesuai kebutuhan di setiap lokasi.

آ آ

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini berlangsung dari Januari s/d Desember 2010 dan berlokasi di seluruh Aceh dengan durasi,آ mingguan untuk tingkat wilayah dan bulanan untuk kabupaten/kota.

آ آ

SUMBER DANA

Untuk kelancaran kegiatan ini diharapkan sumber dana dari

Pemerintah Aceh
Pengurus Pusat Dewan Da’wah dan pihak ketiga lainnya yang tidak mengikat
آ آ

ANGGARAN YANG DIBUTUHKAN

Biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini sebanyak Rp. 54,417,800,- (lima puluh empat juta empat ratus tujuh belas ribu delapan ratus rupiah). Rincian terlampir.

آ

آ PELAKSANA

Kegiatan ini dilaksanakan oleh bidang Penguatan Kelembagaan dan Hubungan Antar Lembaga Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Aceh

آ آ

PENUTUP

Semoga rencana kegiatan penguatan kapasitas kelembagaan dapat berjalan lancar, sehingga persoalan dakwah dan keummatan lainnya dapat teratasi sedikit demi sedikit yang nantinya berpunca kepada suksesnya program pelaksanaan syariat Islam secara kaffah di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Kepada semua pihak yang membantu program ini kami ucapkan terima kasih, seraya berharap Allah SWT. Meridhai dan memberi ganjaran yang setimpal.

Amien ya mujibassailin.

آ

EKSPLORASI PEMIKIRAN SYAIKH ABDUL RAUF AL-SINGKILI

Misalnya, aliran Wahdat al-Wujud dan sebaliknya Wahdat al-Syuhud masih diperkatakan, bahkan diikuti oleh kelompok-kelompok umat Islam tertentu dalam amalan tasawwuf mereka masing-masing, pandangan fiqh (feqah) dan huraian tafsir yang dibawa al-Raniri dan al-Singkili juga masih dipelajari dan diikuti oleh umat Islam daripada kalangan mereka yang menuntut di pondok-pondok atau pesantren-pesantren mahupun dayah-dayah di Nusantara. Tetapi, dalam perbincangan ini, penulis hanya akan menumpukan perhatiannya secara khusus kepada kerjaya dan  sumbangan Syaikh ‘Abdul Ra’uf al-Singkili. Yang jelasnya, tokoh ini telah memberi sumbangan yang besar dan meninggalkan kesan yang mendalam sekali daripada aspek  perkembangan ilmu tafsir, bidang fiqh dan juga tasawwuf di Nusantara. Hal ini dapat dikesan melalui jaringan guru-gurunya di Asia Barat dan juga anak-anak muridnya yang bertebaran di Nusantara serta karya-karya  penulisannya  yang menjadi rujukan para penuntut agama mahupun pengkaji hinggalah kini.

 

            Syaikh ‘Abdul Ra’uf al-Singkili (1024 – 1105/ 1615 – 1693) melalui kegiatannya  telah membawa pembaharuan dan kemajuan kepada Islam di Nusantara. Beliau merupakan seorang  mujaddid yang terbilang, iaitu  penyambung kepada usaha yang telah dimulakan oleh pendahulunya, Syaikh Nuruddin al-Raniri.[1] Aliran Islam yang diperjuangkan oleh kedua-dua ulamak ini tergolong dalam kategori Islam tradisional, yakni yang masih berpandukan mazhab, khususnya Mazhab Shafi‘i, mengamalkan tariqat (tasawwuf) dan ajaran-ajaran Ilmu Kalam yang dibawa oleh al-Asya‘ari serta al-Maturidi.[2] Dalam perbincangan selanjutnya, kita akan  mengkaji akan riwayat hidup al-Singkili secara ringkas dan seterusnya membentangkan peranannya dan sumbanganya terhadap pembaharuan serta kemajuan Islam di Nusantara dan juga hubungannya dengan para ulamak yang muncul di rantau itu  kemudiannya. Melalui cara ini, diharapkan kita akan dapat melihat ketokohannya dan mencontohi akan teladan-teladan baik  dan ilmu-ilmu yang diwarisinya.

 

 Zaman Awal al-Sinkili

 

            ‘Abdul Ra’uf al-Singkili  atau nama sepenuhnya ‘Abdul Ra’uf b. ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili adalah berketurunan Melayu dari Fansur, Sinkil (modernnya: Singkel), di wilayah pantai barat-laut Aceh.[3] Sebahagian besar  daripada para pengkaji menyetujui tarikh kelahirannya sebagai tahun 1024/1615.  Menurut  almarhum  Prof. A. Hasjmy nenek moyang Al-Singkili berasal dari Persia (Iran) dan telah datang ke Kesultanan Samudera-Pasai pada akhir abad ke-13. Mereka kemudiannya menetap di Fansur  (Barus), sebuah kota pelabuhan yang penting di pantai Sumatera Barat.[4] Sementara itu, Daly menyatakan bahawa ayah al-Singkili, Syaikh ‘Ali (al-Fansuri) adalah seorang Arab yang berkahwin dengan seorang wanita tempatan.[5] Hasil perkongsian hidup itu, lahirlah ‘Abdul Ra’uf  yang seterusnya membesar di Kampong Suro, Singkel.[6]  Al-Singkili mendapat pendidikan awalnya di desa kelahirannya, terutama dari ayahnya sendiri. Menurut Prof. A Hasjmy, ayahnnya,  seorang alim,  telah mendirikan sebuah dayah (Arabnya zawiyah), iaitu sebuah pusat pendidikan Islam yang menarik minat murid-murid dari pelbagai tempat di Aceh.[7] Kemudiannya, beliau melanjutkan pelajarannya di Banda Aceh, ibu kota Kesultanan Aceh, bahkan beliau pernah juga belajar beberapa lama di Gresik.[8] Semua ini berlaku sebelum beliau berangkat ke Makkah dan Madinah bagi meneruskan pendidikannya.

 

Selain itu, tidak banyak maklumat yang kita perolehi mengenai riwayat hidup al-Singkili pada zaman awal itu.  Hanya al-Singkili telah bertolak ke luar negeri, iaitu ke Tanah Arab, pada tahun 1052/1642. Ketika itu, Aceh sedang dilanda oleh pertikaian antara penganut doktrin Wujudiyyah  dengan para pengikut al-Raniri yang mempertahankan doktrin Wahdat a-Syuhud. Meskipun, al-Raniri telah berjaya untuk menegakkan pendapatnya dan menfatwakan bahawa pengikut Hamzah al-Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani adalah kafir, namun  pertikaian antara dua kelompok umat Islam itu tidak benar-benar tamat. Masalah Wujudiyyah yang mengganggu-gugat perpaduan umat Islam selama itu terpaksa dihadapi oleh al-Singkili kemudiannya apabila beliau kembali dan berkhidmat di Aceh Darussalam. Hal ini akan kita bincangkan secara lebih lanjut kemudiannya.

 

Pengalaman al-Singkili di Tanah Arab

 

            Dalam karyanya Umdat al-Muhtajin, ‘Abdul Ra’uf telah menyatakan pengalamannya semasa belajar di Tanah Arab, iaitu mengenai tempat-tempat pengajiannya, para guru yang mengajarnya, para  ulamak lain yang ditemuinya dan silsilah para wali dalam Tariqat Syattariyyah.[9] Jelasnya, beliau telah menuntut ilmu selama 19 tahun  di kawasan sepanjang jalur perjalanan haji bermula dari Qatar, Yaman hingga ke Makkah. Misalnya, beliau pernah belajar di Doha, Qatar dan berikutnya di Yaman, iaitu  di Zabid, Mukha, Taizz, Bait al-Faqih, al-Lumayah, Hudaydah dan Mawza’.[10] Berikutnya, beliau belajar pula di Jeddah, Makkah dan akhir sekali di Madinah.[11]

            ‘Abdul Ra’uf mempelajari pelbagai disiplin Islam, daripada ilmu-ilmu zahir, iaitu seperti  tatabahasa Arab, membaca al-Qur’an  dan tafsir, hadith dan  fiqah, mantiq (logik), falsafah, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah, perubatan sampailah kepada ilmu-ilmu batin seperti Ilmu tasawwuf dan tariqat.[12] Ternyata bahawa, beliau seterusnya menjadi ahli (pakar) dalam ilmu-ilmu tersebut. Antara para gurunya yang terkemuka ialah Syaikh Ahmad al-Qushashi yang mengajarnya ilmu tasawwuf dan Syaikh Ibrahim al-Kurani, anak murid al-Qushashi, yang menyempurnakan pendidikan tasawwuf  bagi ‘Abdul Ra’uf. [13] Sebenarnya, ‘Abdul Ra’uf telah mendapat pengajaran tentang ilmu tasawwuf  mengikut tariqat Syattariyyah dan tariqat Qadiriyyah sehinggalah beliau dikurniakan ijazah dalam dua tariqat tersebut.[14] Dengan itu, beliau mendapat gelaran “Shaikh” yang bermaksud pemimpin tariqat. ‘Abdul Ra’uf juga sempat belajar kepada dua orang guru India yang berada di Tanah Arab, iaitu, Syaikh Badruddin Lahori dan Syaikh ‘Abdullah Lahori.[15] Selain belajar secara teratur dan tetap pada para guru tertentu, ‘Abdul Ra’uf juga memperolehi ilmu melalui jalan bergaul dengan ulamak , para qadhi dan mufti dari berbagai-bagai negeri. Misalnya, beliau pernah belajar kepada Syaikh ‘Umar Fursan  (Mufti negeri Mukha), ‘Abdul Fattah al-Khas (Mufti Zabid), Faqih Tayyib Jam’an  (Mufti Bait al-Faqih), Qadhi Tajuddin di Makkah, ‘Abdul Rahman al-Hijazi dan sebagainya.[16] Dengan ulamak dan pegawai tersebut, beliau telah mengadakan dialog dan diskusi tentang pelbagai bidang ilmu keislaman yang dikaitkan pula dengan pengalaman-pengalaman mereka masing-masing  yang bertugas di bidang pengadilan dan kegiatan kemasyarakatan.[17] Justeru itu, beliau telah memperolehi ilmu secara teori melalui kitab-kitab dan juga aspek praktikalnya  melalui dialog dan perbincangan yang diadakan itu. Kesemua ini memberikan beliau kepakaran yang membantu beliau dalam kegiatannya apabila beliau kembali ke tanah air kelak.

 

            Dalam pada itu, ‘Abdul Ra’uf memperolehi penghargaan yang tinggi daripada para gurunya, terutamanya Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Kurani.Tokoh yang pertama  itu, mengangkatkannya menjadi khalifah Tariqat Syattariyyah.[18] Ini bermakna bahawa beliau mempunyai kewibawaan untuk mengajar dan membawa orang lain masuk ke dalam tariqat tersebut. Sementara itu, Ibrahim al-Kurani pula seperti yang dinyatakan oleh ‘Abdul Ra’uf  telah menulis sebuah kitab, iaitu ‘Ithaf al-Dzaki atas permintaannya sendiri bagi mengatasi masalah yang muncul di tanah Jawi, termasuk Aceh, kerana tersebarnya ajaran esoteris, iaitu doktrin Wahdat al-Wujud,  yang dapat menjerumuskan rakyat tempatan ke  lubuk kesesatan.[19]  Setelah ‘Abdul Ra’uf kembali ke Aceh, beliau terus berutus surat dengan al-Kurani yang menjawab pelbagai masalah yang diajukan kepadanya.[20]

            Setelah menuntut ilmu dengan begitu tekun, ‘Abdul Ra’uf telah kembali ke Aceh pada tahun 1661, iaitu pada zaman pemerintahan  Sultanah Safiyatuddin Shah.[21] Sejak itu, beliau terus bergerak aktif  sebagai mubaligh, pendidik, penulis, pemimpin tariqat dan  pentadbir  dalam bidang agama bagi memajukan agama, bangsa dan negaranya. Lantaran itu, nama ‘Abdul Ra’uf menjadi masyhur bukan sahaja di Aceh, malah juga di seluruh Nusantara.

 

Kegiatannya di Aceh   

 

Dengan bekalan ilmu yang luas lagi mendalam, ‘Abdul Ra’uf  telah terjun ke dalam masyarakat untuk berperanan pada awalnya sebagai mubaligh dan pendidik (guru). Tanpa memperhitungkan  akan upah atau jumlah bayarannya, beliau telah mendirikan sebuah  dayah untuk  membina dan mencerdaskan iman serta akhlak umat Islam di Aceh. Untuk tujuan itu, beliau memilih sebuah tempat di muara  sungai supaya mudah untuk  berhubung dengan rakyat   di pedalaman  yang menggunakan sungai sebagai saluran pengangkutan mereka dan juga bagi memudahkan perhubungan  apabila berurusan dengan daerah-daerah atau luar negeri melalui laut.[22] Sebagai seorang pendidik beliau menjadi amat terkenal kerana ilmunya luas lagi mendalam, selain kemampuannya sebagai seorang ‘alim yang salih serta tekun bertabligh.[23] Akibatnya, ramai orang yang datang  dari pelbagai daerah untuk belajar kepadanya, malah ada  juga yang datang dari berbagi-bagai penjuru Asia Tenggara.

 

Sambil mengajar, beliau telah menulis dan menyusun buku-buku agama dalam pelbagai bidang. Para muridnya mempelajari karya-karya tulisannya itu dengan tekun. Antara mereka ada yang sempat menyalinnya dengan lengkap, tetapi ada pula yang hanya sempat menyalin sebahagiannya sahaja.[24] Daripada kegiatannya itu, jelaslah kepada kita bahawa ‘Abdul Ra’uf telah menumpukan zaman awal kerjayanya kepada bidang pendidikan, penulisan dan bertabligh. Namun, tidak berapa lama selepas beliau bergerak aktif dalam masyarakat itu, keahliannya telah menarik perhatian  pihak istana di Aceh. Sultanah Safiyatuddin, iaitu balu kepada Sultan Iskandar Thani, yang  memerintah ketika itu   menawarkan kepadanya jawatan sebagai seorang Kadhi Sultan, suatu jawatan yang telah lama tinggal kosong sejak al-Raniri kembali ke Ranir (Gujerat), India.[25] Pada mulanya, dengan susah payah dan bijaksana, beliau menolak tawaran itu, namun Ratu tersebut menganggapkan bahawa tiada calon lain yang layak memenuhi jawatan itu. Akhirnya, setelah dipertimbangkan daripada segi kemaslahatan umat, agama dan negara, maka beliau pun menerimanya.[26] Jawatan yang disandang oleh ‘Abdul Ra’uf  itu secara rasminya di  gelar sebagai Qadhi Malik al-‘Adil atau Mufti yang bertanggungjawab secara langsung atas pentadbiran masalah-masalah keagamaan.[27] Ini bererti bahawa ‘Abdul Ra’uf perlu mendampingi pihak Sultan atau Sultanah yang menyerahkan segala urusan keagamaan kepadanya.

          

            Dengan bertambahnya tugas peringkat negara itu, kehidupan ‘Abdul Ra’uf menjadi amat sibuk, namun kegiatannya dalam bidang pendidikan, mengarang dan bertabligh  tidaklah diabaikan sama sekali. Dalam pada itu, sebelum kita menilaikan akan  kegiatan ‘Abdul Ra’uf sebagai  seorang pembangun dan pembaharu Islam eloklah kita meninjau secara ringkas mengenai suasana dalam masyarakat Aceh  ketika  beliau menceburkan diri dalam soal pentadbiran agama. Suatu ciri yang paling menarik  daripada period ini  ialah Kesultanan Aceh diperintah oleh empat orang Sultanah berturut-turut sehinggalah berakhirnya abad  ke-17. Yang pertama ialah Sultanah Safiyatuddin yang menggantikan suaminya Sultan Iskandar  Thani pada 1051/1641.[28] Zaman pemerintahannya yang relatif lama hingga tahun 1086/1675, kesultanan itu mengalami banyak kemunduran. Misalnya, banyak wilayah di bawah kekuasaan Aceh di Semenanjung Tanah Melayu dan Sumatera telah melepaskan diri masing-masing dari kesultanan tersebut.[29] Di samping kemunduran politik itu, kesultanan di bawah Safiyatuddin  juga dilanda oleh kekacauan agama yang amat meruncing. Kesuluruhan masalah itu telah bermula pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636 – 1641). Oleh kerana keilmuannya yang mendalam lagi luas,  Al-Raniri yang datang ke Aceh pada 1047/1637 telah dilantikkan oleh sultan sebagai  Syaikh al-Islam bagi menasihati baginda dalam persoalan-persoalan agama. Setelah kedudukannya menjadi mantap, al-Raniri terus melakukan pembaharuan Islam di Aceh. Beliau bertindak menentang  doktrin Wujudiyyah.[30] Malah, jauh lagi daripada itu, beliau mengeluarkan fatwa bahawa  para penganut doktrin itu adalah sesat dan wajar dihukum mati melainkan mereka bertaubat dan segala kitab rujukan mereka di bakar.[31] Akibatnya, berlakulah krisis agama-politik yang amat serius sekali. Segala aktiviti golongan pengamal doktrin Wujudiyyah  dibanteras dengan kerasnya  dan al-Raniri terus mempertahankan doktrin ortodoks Islam sehingga tahun 1054/1644.[32] Namun, selepas itu beliau secara tiba-tiba meninggalkan Aceh  menuju ke kota kelahirannya Ranir. Menurut keterangan Peter Sourij, wakil perdagangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), al-Raniri telah pulang ke Ranir kerana beliau telah tewas dalam suatu perdebatan mengenai isu Wujudiyyah di tangan Sayf al-Rijal, seorang  tokoh Sufi yang datang dari Minangkabau.[33] Lagipun, ketika itu  Sultanah Safiyatuddin yang selama ini mendokongi al-Raniri telah merobahkan dasarnya dengan  memberi penghormatan kepada  ‘alim yang baru itu. Melihat keadaan yang demikian, al-Raniri merasa bahawa kehadirannya di Aceh tidak lagi diperlukan dan beliau  terus pulang ke Ranir.[34]

            Berikutnya, Sultanah  Safiyatuddin telah diganti oleh Nur al-‘Alam Naqiyatuddin  yang memerintah hanya selama tiga tahun sahaja (1086 – 88/ 1675 – 78). Baginda digantikan pula oleh  Zakiyatuddin (1088 -98/1678 – 1688).[35] Meskipun menghadapi pelbagai masalah politik pada period ini, Kesultanan Aceh  jelasnya masih merupakan pusat pemerintahan Islam yang masih dihormati di peringkat antarabangsa. Misalnya, pada 1096/1683, Sultanah Zakiyatuddin telah menerima suatu delegasi dari Syarif Makkah, iaitu setelah delegasi itu mendarat di Aceh kerana Aurangzeb, Maharaja Moghul, yang menguasai India ketika itu enggan menerimanya di Delhi.[36] Dalam perhubungan diplomasi ini, Kerajaan Aceh telah bertukar-tukar hadiah dengan perwakilan Syarif Makkah. Kedatangan delegasi ini, walaupun  menaikkan imej Kesultanan  Aceh, khususnya bagi Sultanah Zakiyatuddin, namun ia menimbulkan pula suatu kontroversi, yakni menurut hukum Islam wajarkah Aceh diperintah oleh seorang  raja wanita.[37] Persoalan ini telah lama muncul di kalangan rakyat Aceh, tetapi tidak dapat diselesaikan. Malah al-Singkili sendiri selaku seorang alim harapan istana tidak menjawabnya secara jelas. Beliau memilih untuk mengelak daripada  memperbincangkan isu tersebut secara terbuka dan memberi suatu kata putus. mengenainya Sebaliknya, beliau  menunjukkan toleransi terhadap pemerintahan  penguasa wanita yang  berturut-turut itu.[38]

Walau bagaimanapun, persoalan yang diajukan oleh pihak yang mempertikaikan pemerintahan seorang penguasa wanita itu tidak mendapat reaksi serta merta daripada delegasi Makkah itu. Sebaliknya, pihak delegasi tersebut telah membawa isu berkenaan ke sidang para ulamak Haramain.[39] Jawapannya akhirnya tiba di istana Aceh  pada masa pemerintahan Sultanah Kamalatuddin (1098 – 1109/ 1688 – 99). Ketua Mufti  Makkah pada masa itu telah mengirimkan fatwa bahawa adalah bertentangan dengan Syari‘at Islam  jika kerajaan Islam itu diperintah oleh seorang wanita.[40] Akibatnya, Sultanah Kamalatuddin diturunkan (dima’zulkan) dari takhta dan ‘Umar b. Qadhi al-Malik al-‘Adil Ibrahim telah diangkat sebagai Sultan Badr al-‘Alam Syarif Hasyim Ba al-‘Alawi al-Husaini dan dengan itu terdirilah dinasti Arab Jamalullail di Aceh.

 

Jelasnya, sepanjang kerjayanya di Aceh, al-Singkili mendapat perlindungan daripada para sultanah. Dalam keadaan yang demikian, beliau terus bergiat untuk menulis karya-karyanya dalam bahasa Arab mahupun Melayu. Namun, beliau lebih suka menulis dalam bahasa Arab memandangkan bahasa Melayunya tidak begitu baik kerana beliau telah lama menetap di Tanah Arab.Oleh yang demikian, beliau telah dibantu oleh dua orang guru bahasa Melayu untuk menulis karya-karyanya itu.[41]

Sumbangan al-Singkili Terhadap Pembaharuan dan Kemajuan Islam di Nusantara

 

Dalam pada itu, al-Singkili telah menulis sebanyak  22 buah karya  yang membahaskan tentang feqah, tafsir, ilmu kalam dan tasawwuf.[42] Dalam karya-karyanya itu, beliau seperti gurunya, al-Kurani, berusaha untuk menyesuaikan (rekonsiliasi) antara syari‘at  dengan tasawwuf atau antara ilmu zahir dengan ilmu bathin.[43] Karya utama al-Singkili dalam bidang feqah ialah Mir’at al-Tullab. Ia ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin dan diselesaikan pada 1074/ 1663.[44] Karya ini membincangkan persoalan-persoalan  feqah menurut Mazhab Shafi‘i. Tetapi, berbeza dengan Sirat al-Mustaqim, karya al-Raniri yang hanya membahaskan tentang ibadah, Mir’at al-Tullab mengemukakan tentang aspek mu‘amalat, termasuk kehidupan politik, sosial, ekonomi dan keagamaan di kalangan kaum Muslimin.[45] Oleh kerana ia mencakupi topik-topik  yang begitu luas, ia merupakan suatu  karya  yang amat penting  dalam bidang tersebut. Sumber utama bagi karya ini adalah kitab Fath al-Wahhab, karya Zakaria al-Ansari, seorang  ‘alim yang terkemuka  dalam  jaringan ulamak dari Timur Tengah.[46] Tetapi, al-Singkili juga merujuk kepada karya-karya para ulamak yang masyhur seperti  Ibn Hajar  al-Haithami, Syamsuddin al-Ramli, Ibn ‘Umar al-Baidhawi dan Imam al-Nawawi.[47] Dengan rujukan yang demikian, al-Singkili menunjukkan kepada kita tentang hubungan intelektualnya dengan rangkaian ulamak yang terbilang.

 

Dengan karya ini juga, al-Singkili menjadi tokoh yang  pertama di Nusantara yang menulis mengenai fiqh mu‘amalat.[48] Pembaharuan yang dilakukannya ialah beliau telah menunjukkan kepada umat Melayu bahawa doktrin-doktrin hukum Islam tidak terbatas kepada ibadat semata, tetapi merangkumi juga seluruh aspek kehidupan seharian mereka. Kitab ini masih digunakan di sesetengah tempat di Nusantara, namun  ia tidak lagi tersebar luas seperti pada zaman yang lampau. Misalnya, ia masih menjadi rujukan dalam pengajian di Pondok  Kerandang, Trengganu, Malaysia.[49] Karya lain al-Singkili dalam bidang feqah ialah Kitab al-Fara’idh  yang digunakan  di pondok/pesantren hinggalah ke  abad ke-20.

 

Kedudukan al-Singkili  sebagai seorang ‘alim dan pembaharu menjadi penting apabila kita mengkaji akan sumbangannya dalam bidang tafsir al-Qur’an. Dialah juga merupakan ‘alim yang pertama di Nusantara ini yang mengusahakan penulisan sebuah tafsir al-Qur’an yang lengkap dalam bahasa Melayu.[50] Sebelum itu, tafsir al-Qur’an yang wujud hanya membincangkan ayat-ayat tertentu sahaja.Tafsir ini dikenali dengan nama Turjuman al-Mustafid  atau Tafsir alBhaidawi. Kitab tafsir ini menjadi begitu popular di kalangan orang Melayu kerana ia merupakan sebuah kitab tafsir yang terawal dan lengkap di Alam Melayu dan telah beberapa kali diterbitkan  di Jakarta, Singapura, Pulau Pinang, Bombay dan di Timur Tengah, malah tersebar jauh hingga ke Afrika Selatan.[51] Karya ini masih digunakan sebagai rujukan dalam pengajian  di pondok-pondok mahupun pesantren-pesantren di Nusantara hingga kini.[52] Daripada kajian Riddell dan Harun  terbukti bahawa kitab ini merupakan terjemahan daripada Tafsir Jalalayn (karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti) yang ditambahkan pula pada bahagian-bahagian  tertentu  dengan tafsir al-Baidhawi dan  al-Kanzin.[53] Menurut A. H.  Johns, tafsir al-Singkili itu memangnya penting kerana dalam banyak hal ia merupakan suatu petunjuk dalam sejarah keilmuan Islam di Tanah Melayu. Pendekatan yang dibawa oleh al-Singkili dalam penulisannya itu telah memberikan sumbangan kepada telaah tafsir al-Qur’an. Secara jelasnya, beliau meletakkan dasar-dasar yang menjadi penghubung  antara tarjamah (terjemahan) dengan  tafsir.[54] Hal ini mendorong umat Islam di Alam Melayu untuk menelaah dengan lebih lanjut karya-kartya tafsir dalam bahasa Arab. Selama hampir tiga abad,  Tarjuman al-Mustafid merupakan satu-satunya terjemahan al-Qur’an yang lengkap di Tanah Melayu. Hanya pada tiga puloh tahun terakhir ini, barulah timbulnya tafsir-tafsir yang baru di Nusantara.[55] Walau bagaimanapun, perkembangan baru ini tidak melenyapkan kepentingan kitab tafsir al-Singkili itu, bahkan ia memainkan peranan yang  besar  dalam  memajukan pemahaman yang lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam di kalangan umat Islam Nusantara.

 

Selain itu, al-Singkili juga telah memberi sumbangan dalam penulisan hadith. Hal ini bersesuaian dengan pandangan jaringan ulamak yang mempengaruhinya  selama beliau belajar di Timur Tengah, yakni mereka juga menekankan  tentang pentingnya  hadith. Beliau telah menghasilkan dua buah karya dalam bidang ini. Yang  pertamanya ialah penafsiran mengenai Hadith Arba‘in (Hadith Empat Puloh karya al_Nawawi) atas permintaan Sultanah Zakiyatuddin.[56] Karya yang kedua ialah al-Mawa’izh al-Badi‘ah, sebuah koleksi hadith qudsi, iaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada orang beriaman melalui kata-kata Rasulullah s.a.w. sendiri.[57] Melalui karya ini sekali lagi kita dapat melihat bahawa al-Singkili memberi perhatian yang amat serius dalam usahanya untuk membina  peribadi kaum Muslimin yang masih awam. Beliau berminat untuk mengajak mereka menuju kepada pemahaman yang lebih baik mengenai ajaran-ajaran Islam.[58] Sayugialah diketahui bahawa kitab Hadith ‘Arba‘in yang dituliskan oleh al-Singkili itu merupakan sebuah koleksi kecil hadith-hadith yang bersangkutan dengan kewajipan-kewajipan dasar dan amalan kaum Muslimin. Ia dihasilkan dengan tujuan untuk panduan kepada pembaca awam (umum) dan bukannya kepada ahli yang ingin mendalami ilmu agama.[59] Tetapi, ia dengan jelasnya menunjukkan kepada kita betapa prihatinnya al-Singkili terhadap usaha untuk membangun dan membaiki umat Islam amnya dalam pemahaman dan amalan agama mereka.

 

Dalam karyanya mengenai hadith qudsi itu, al-Singkili menunjukkan sikap yang sama. Beliau mengemukakan ajaran tentang aspek Tauhid, iaitu mengenai Allah dengan ciptaan-Nya, syurga dan neraka, dan cara yang wajar bagi kaum Muslimin untuk mendapatkan keridhaan Allah. Al-Singkili menegaskan bahawa setiap Muslim itu perlu selaraskan antara pengetahuan (‘ilm) dengan perbuatan baik (‘amal salih). Ini bermakna bahawa pengetahuan sahaja tidak mencukupi untuk menjadikan seseorang Muslim itu lebih baik.[60] Al-Mawa’izh al-Badi‘ah itu telah diterbitkan di Makkah pada 1310/1892, iaitu dalam edisi keempat atau kelima. Kemudiannya, ia diterbitkan pula di Pulau Pinang, (Malaya ketika itu)  pada tahun 1369/ 1949.[61] Jelasnya, ia masih digunakan oleh sebahagian daripada kaum Muslimin di Nusantara. Bahkan, melalui  karya ini al-Singkili telah membuat suatu pembaharuan, iaitu memberi contoh kepada para ulamak Nusantara kemudiannya  untuk menyusun karya-karya yang berupa koleksi hadith-hadith Nabi sebagai panduan kepada orang awam.

 

Dalam pada itu, al-Singkili tidak hanya menulis untuk orang awam  (al-awwam) sahaja mengenai ilmu-ilmu zahir, tetapi beliau juga menulis untuk  golongan elit (al-khawwash) mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu bathin, yakni tasawwuf  dan ilmu kalam.[62] Antara karyanya  yang bercorak tasawwuf, Kifayat al-Muhtahin mempertahankan doktrin transendensi Allah atas ciptaan-Nya. Beliau menolak pendapat golongan Wujudiyyah  yang menekankan imanensi Allah dalam ciptaan-Nya.[63] Sehubungan dengan itu, al-Singkili berhujjah bahawa Allah menciptakan alam raya (al-‘alam),  dan daripada situ  Dia menciptakan pola-pola dasar permanent (al-a’yan al-thabitah), iaitu potensi  alam raya  yang menjadi sumber dari pola-pola dasar luar (al-a’yan al-kharijiyyah), ciptaan dalam bentuk yang konkritnya. Seterusnya, beliau menyimpulkan bahawa  meskipun  al-a’yan al-kharijiyyah  merupakan emanasi daripada Wujud Mutlak (Allah), namun mereka berbeza daripada Allah itu sendiri. Untuk ilustrasi lanjut, beliau menyatakan  tentang hubungan antara tangan dan bayangnya, iaitu meskipun tangan itu hampir tidak dapat dipisahkan daripada bayangannya, tetapi tangan itu tidak sama dengan bayangnya itu. Dengan itu, beliau menegaskan transendensi Allah atas ciptaan-Nya.[64]     

 

Hujjah yang sama  telah dikemukakannya dalam risalah pendeknya, Daqa’iq al-Huruf. Karya ini merupakan sebuah penafsiran terhadap “empat baris ungkapan panteistik” daripada Ibn ‘Arabi, tokoh utama  mistik –falsafah esoteris.[65] Yang jelasnya. Al-Singkili dengan sedarnya menafsirkannya dalam pengertian ortodoks, iaitu Tuhan dan alam itu tidak sama.   

 

Penafsiran al-Singkili itu mengingatkan kita kepada gurunya  Ibrahim al-Kurani yang menekankan pentingnya intuisi (kasyf)  dalam perjalanan mistik, sementara mengakui keterbatasan akal manusia dalam memahami hakikat Allah. Dalam membahaskan keesaan Allah dalam Daqa’iq al-Huruf, Al-Singkili berpegang erat kepada  konsep-konsep al-Kurani  mengenai Tawhid Uluhiyyah (Keesaan Allah), Tawhid al-‘Af’’al (Kesatuan Tindakan Allah), Tawhid al-Sifat (Keesaan Sifat-sifat), Tawhid al-Zat (Keesaan Esensi) dan Tawhid al-Haqiqi (Keesaan Realiti Mutlak).[66]  Selain itu, seperti al-Kurani juga, beliau menyatakan bahawa cara yang paling efektif untuk merasakan dan menangkap keesaan Allah adalah dengan menjalankan ibadah, terutamanya zikir (mengingati Allah) baik secara diam (sirr) mahupun secara bersuara (jahr).[67] Dalam melakukan zikir, al-Singkili banyak berpandu kepada zikir Ahmad al-Qusyasyi seperti yang dikemukakan oleh tokoh itu dalam karyanya, Al-Simth al-Majid.[68] Beliau juga mengikuti ajaran-ajaran al-Qusyasyi mengenai kewajipan murid terhadap gurunya atau dalam perhubungan antara murid dengan gurunya.[69]

Daripada ulasan di atas, kita bolehlah merumuskan bahawa al-Singkili secara sedar telah berusaha untuk menyebarkan doktrin  dan kecenderungan intelektual serta amalan yang dikemukakan oleh jaringan ulamak dari Timur Tengah bagi memperkukuhkan  tradisi Islam di Nusantara. Aliran yang dibawanya itu adalah neo-Sufisme yang menekankan bahawa  tasawwuf tidak boleh berdiri sendiri, melainkan ia harus berjalan seiring dengan syari‘at.[70] Ini bermakna bahawa hanya dengan kepatuhan mutlak kepada syari‘at, barulah para penganut jalan mistik akan memperolehi pengalaman haqiqah (realiti) yang sejati. Sesungguhnya, inilah penyelesaian yang ditunjukkan oleh  Imam al-Ghazali, seorang  mujaddid  agung di Dunia Islam dan seterusnya Sayyid Ahmad al-Sirhindi, seorang mujaddid dari India dan juga  Syah Waliyullah al-Dehlavi, seorang mujaddid besar di India.

 

Namun, perlulah kita ketahui bahawa pendekatan al-Singkili dalam pembaharuan yang dibawanya baik dalam bidang fiqh, tafsir dan tasawwuf adalah berbeza  dengan pendekataan al-Raniri. Memanglah, beliau merupakan seorang mujaddid  yang bergaya evolusioner, yakni dia membuat perubahan secara beransur-ansur dan bukannya radikal. Seperti gurunya al-Kurani, beliau lebih suka mendamaikan pandangan-pandangan yang berbeza  atau saling bertentangan itu daripada menolak salah satu daripadanya secara kasar.[71] Walaupun, beliau tidak menyetujui pada aspek-aspek tertentu mengengai doktrin Wujudiyyah, tetapi beliau memilih untuk menyatakan pendapat-pendapatnya itu secara implisit. Begitu juga, beliau tidak terus menyerang atau mengkritik al-Raniri secara terbuka  mengenai pendapat-pendapat  tokoh itu  yang radikal. Sebaliknya, tanpa menyebutkan nama al-Raniri, beliau mengingatkan kaum Muslimin dalam karyanya Daqa’iq al-Huruf  agar  tidak mengcapkan atau mengutuk seseorang Muslim itu sebagai kafir kerana dibimbangi yang tuduhan itu akan berbalik kepada diri sendiri jika tidak ternyata kebenarannya. Hujjah ini diperkukuhkannya dengan memetik sepotong hadith Rasulullah s.a.w. yang menyatakan, “jangan menuduh orang lain menjalankan kehidupan penuh dosa atau kafir, sebab tuduhan itu akan berbalik jika ternyata tidak benar”.[72] Sikap al-Singkili yang lembut dan lebih bertoleransi itu secara tepatnya mencerminkan watak gurunya, al-Kurani. Walau bagaimanapun, pendekatan al-Singkili yang bercorak bil hikmah itu mengamankan keadaan dan mempermudahkan penyelesaiakan kepada krisis agama-politik yang sebelumnya meruncing di Aceh. Secara perlahan-lahan pengaruh aliran Wujudiyyah itu dapat dibasmikan. Hal ini tepat sekali pada waktunya apatah lagi kafir Portugis dan Belanda juga sedang mengancam  seluruh wilayah Nusantara melalui dasar penjajahan mereka yang rakus lagi ganas. Sekiranya, perpecahan yang serius sesama umat Islam dibiarkan berlaku mungkin lebih cepat dan mudah Aceh dan kawasan-kawasan Nusantara yang lain dijajahi mereka.

 

Pengaruh al-Singkili di Nusantara

 

            Aceh sudah lama dikenali sebagai “Serambi Makkah”, iaitu halaman hadapan atau gerbang ke Tanah Suci Makkah. Ini bukan sahaja kerana Aceh di peringkat keagungannya telah menjadi pusat dakwah dan pengetahuan Islam yang hebat, tetapi  juga kerana kedudukannya sebagai tempat persinggahan terpenting bagi jema‘ah Haji Melayu dan Indonesia dalam perjalanan mereka  ke Haramain.[73] Aceh juga menjadi terkenal sebagai “Serambi Makkah” kerana  kehadiran ulamak besar seperti Syaikh Hamzah al-Fansuri, Syaikh Nuruddin al-Raniri dan Syaikh ‘Abdul Ra’uf al-Singkili yang masing-masingnya meninggalkan kesan yang mendalam kepada umat Melayu di Nusantara.[74] Kedudukan Aceh selaku pusat Islam yang berdaulat itu menjadikan mudah bagi karya-karya para ulamak seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri dan ‘Abdul Ra’uf  untuk tersebar dengan luasnya ke seluruh Nusantara. Selaras dengan itu juga kenyataan bahawa semua ulamak ini tinggal di Aceh, ditambahkan pula dengan luasnya hubungan atau kontak antara orang Aceh  dengan ulamak di luar negeri telah membantu  dalam menegaskan jati diri orang Aceh selaku salah satu kelompok etnik Muslim yang sangat gigih berusaha mempertahankan Islam  di Nusantara.

 

            Dalam konteks itu, kita dapat lihat akan peranan dan seterusnya pengaruh al-Singkili di Nusantara. Sejak beliau berada di Haramain, al-Singkili nampaknya telah pun mula mengajar ilmu-ilmu keagamaan.[75] Namun, tiada maklumat yang dapat dikemukakan mengenai murid-muridnya di sana. Sebaliknya, kita dapat menjejaki jaringan muridnya di Nusantara setelah beliau kembali dan bergerak aktif di Aceh. Para muridnya itu pula berperanan atas tersebarnya ajaran-ajaran  fiqh dan tafsir serta tariqat-tariqat yang dibawa al-Singkili, khususnya Tariqat Syattariyah, ke negeri-negeri Melayu di Nusantara. Tariqat ini membawa jalan ortodoks, iaitu menurut pegangan Ahlus Sunnah wa al-Jama‘ah,  tetapi telah diperbaharui oleh al-Singkili sehingga mudah difahami oleh penduduk Nusantara. Yang paling terkenal antara muridnya ialah Burhanuddin Ulakan atau digelarkan sebagai Tuanku Ulakan. Beliau  berasal dari Ulakan, sebuah desa di pantai wilayah Minangkabau (kini Sumatera Barat).[76] Menurut sejarah mengenai perkembangan Islam di Minangkabau, Burhanuddin (1056 – 1104/ 1646 – 1692) telah belajar kepada al-Singkili selama beberapa tahun sebelum beliau kembali ke tempat kelahirannya.[77] Berikutnya, sekembali beliau dari Tanah Arab, Burhanuddin telah mendirikan surau Syattariyah, yakni sebuah pusat pendidikan sejenis dengan ribath (tempat kaum sufi beribadat)  di Ulakan. Sebentar sahaja,  surau itu menjadi begitu terkenal di seluruh Minangkabau. Para muridnya  mempelajari pelbagai disiplin Islam dan berikutnya mendirikan surau-surau mereka sendiri di desa-desa mereka masing-masing.[78] Bukan itu sahaja, malah pada peringkat suku akhir abad ke-18, beberapa orang murid Burhanuddin itu telah melancarkan pula pembaharuan  yang membawa perubahan besar kepada umat Islam di Minangkabau pada awal abad ke-19, iaitu dengan berlakunya Perang Padri yang menolak ‘adat isti‘adat  yang karut dan juga menentang campur tangan Belanda di bumi Minangkabau.[79] Jelasnya, pembaharuan yang bermula dengan al-Singkili itu telah menggerakkan semangat  yang terus berkembang  di kalangan para pengikut muridnya Burhanuddin, iaitu untuk membawa  pembaharuan dalam masyarakat  agar Islam terus dimurni dan didaulatkan.

 

            Seorang lagi murid al-Singkili yang terkemuka ialah ‘Abdul Muhyi yang berasal dari Jawa Barat. Melalui usaha daripada tokoh inilah Tariqat Syattariyah telah tersebar dengan luasnya di Jawa.[80] Setelah kembali dari ibadah haji, ‘Abdul Muhyi telah memulakan usahanya untuk  mengubahkan  kepercayaan  penduduk Jawa Barat dari animisme kepada Islam yang murni. Di samping itu, beliau juga sangat aktif dalam mengembangkan  Tariqat Syattariyah, malah banyak silsilah tariqat di Jawa dan Semenanjung  Tanah Melayu (kini Malaysia Barat) dihubungkan dengan dirinya dan berbalik secara langsung kepada al-Singkili.[81]

 

            Selain itu, pengaruh al-Singkili juga dapat dilihat melalui seorang muridnya yang terkemuka di Semenanjung Tanah Melayu, iaitu ‘Abdul Malik bin ‘Abdullah (1089 – 1149/ 1678 – 1736) atau lebih dikenali sebagai Tok Pulau Manis, Trengganu.[82] Tokoh ini telah berguru kepada al-Singkili semasa di Aceh dan kemudiannya melanjutkan pelajarannya di Haramain.[83] Kemudiannya, beliau telah mendirikan pondoknya sendiri di Trengganu dan turut menyebarkan  Tariqat Syattariyah  di sana.      

 

Murid terdekat al-Singkili ialah Dawud al-Jawi al-Fansuri al-Rumi.[84] Beliau berasal dari keturunan Turki dan ayahnya merupakan seorang soldadu  yang datang ke Aceh bersama tentera Kesultanan Turki ‘Uthmaniyyah bagi melawan Portugis.[85] Beliau pernah membantu gurunya al-Singkili untuk membuat beberapa penambahan pada tafsir Turjuman al-Mustafid. Beliau juga merupakan khalifah utama al-Singkili dalam Tariqat Syattariyah. Selain itu, beliau bersama gurunya itu telah mendirikan sebuah dayah, iaitu lembaga pendidikan Islam tradisional di Banda Aceh.

 

 

Di samping itu, amalan tasawwuf mengikut Tariqat Syattariyah diamalkan juga di daerah Kota Bharu, Kelantan, Malaysia hingga kini. Tariqat ini mula diasaskan oleh Hj. Ya‘akub bin Hj. Abdul Halim (Tuan Padang) dan diteruskan oleh anaknya, Hj. Taib. Namun, pengaruh tariqat ini tidaklah sekuat Tariqat Ahmadiyyah  yang mendapat dokongan daripada beberapa tokoh pembesar negeri.[86]

 

Dalam pada itu, pengaruh al-Singkili juga tersebar melalui karya-karyanya  yang menyentuhi bidang fiqh, tasawwuf, tafsir mahupun akhlak dan tauhid. Misalnya, kitab-kitabnya seperti Turjuman al-Mustafid  dan Sullam Muhtadi, Umdah al-Muhtajin  dan Kifayah al-Muhtajin masih dirujuk dalam pengajian di Kelantan mahupun Trengganu.[87] Sama juga pentingnya, masih agak banyak daripada  kitab-kitab al-Singkili yang berbentuk manuskrip di simpan di Balai Pameran Islam, Pusat Islam (kini Jabatan Kemajuan Islam (JAKIM)), Jabatan Perdana Menteri, Malaysia dan di Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia atau dalam simpanan tokoh-tokoh akademik  seperti Prof. Madya Abu Hasssan Syam  (Universiti Malaya) dan sebagainya.[88]  

 

 

Penutup

 

            Setelah berbincang dengan panjang lebar, kita dapatlah merumuskan bahawa al-Singkili merupakan seorang ‘alim yang amat berwibawa dan bermartabat tinggi. Bukan sahaja ilmunya luas dan mendalam berkat usahanya sendiri dan rangkaian ulamak yang didampinginya itu, tetapi beliau juga memiliki peribadi yang kukuh, yakni begitu rasional dan tidak mudah dipengaruhi untuk menyebelahi mana-mana pihak yang bersengketa dalam krisis agama politik di Aceh itu. Beliau juga tidak mengambil tindakan yang radikal seperti al-Raniri, malah dengan tekun dan sabar menulis karya-karyanya bagi mendidik umat Islam dan membawa perubahan secara evolusioner. Melalui cara ini, keretakan yang berlaku sebelum itu dapat didamaikan dan  akhirnya secara perlahan-lahan pengaruh aliran Wujudiyyah dapat dihapuskan. Dalam hal ini, beliau menyetujui pandangan al-Raniri tentang bahayanya pandangan Wujudiyyah kepada masyarakat, terutamanya masyarakat awam, tetapi  beliau memilih untuk bertindak bagi mengatasinya secara hikmah.

 

            Selari dengan pandangannya itu, beliau menulis karya-karyanya dengan pendekatan yang sederhana  dan tidak menggunakan polemik seperti al-Raniri. Selain itu, beliau juga menggunakan bahasa yang mudah difahami orang  awam, melainkan dalam karya-karya tasawwuf  yang dikhaskan untuk golongan khawash, bagi memperjelaskan ajkaran-ajaran Islam. Beliau turut menulis dan memberi komentar tentang hadith-hadith  bagi memberi panduan yang  jelas kepada rakyat awam. Usaha ini memangnya amat berfaedah dan memperkemaskan usaha yang dimulakan oleh al-Raniri sebelum itu. Beliau menuliskan sebuah tafsir yang lengkap buat pertama kalinya dalam bahasa Melayu, lantaran itu membantu dalam  memperbaiki pemahaman terhadap al-Qur’an . Ini adalah suatu langkah pembaharuan yang amat  bermanfa‘at. Dalam bidang feqah juga, beliau telah memberikan  sumbangan  yang amat bermakna, yakni memperluaskan bidang  perbincangannya  ke skop yang luas dan tidak terhad kepada bidang ibadat sahaja. Hal ini selain memberikan ilmu yang luas dan mendalam, turut memperbaiki  pemahaman rakyat   tentang  perspektif feqah yang sebenarnya. Sehubungan dengan itu, beliau telah membawa suatu pembaharuan. Tetapi, dalam semua tindakannya itu,  beliau tetap memelihara  pandangan  Ahlus Sunnah wa al-Jama‘ah, khususnya Mazhab Shafi‘i.

 

            Melalui usahanya yang gigih itu, pengaruh beliau telah tersebar ke seluruh Nusantara dan bukannya di Aceh sahaja. Misalnya, murid-murid beliau dalam bidang fiqh dan tafsir terdapat di Jawa dan bahagian kepulauan Indonesia yang lainnya, malah tesebar ke Malaysia, Patani (kini selatan Thailand), Afrika Selatan dan sebagainya. Begitu juga dalam bidang tasawwuf, khususnya Tariqat  Syattariyah, turut berkembang ke rantau Nusantara dan masih diamalkan hingga kini.

 

            Melihat kepada segala perkembangan ini, penulis berpendapat bahawa kajian yang lanjut patutlah diusahakan mengenai tokoh yang besar ini. Kitab-kitabnya perlulah di kaji terus bagi mencari contoh teladan atau garis panduan yang baik lagi berfaedah dalam pelbagai bidang keislaman. Ini perlulah diusahakan terus, di samping kita merujuk kepada pendapat-pendapat yang baru (semasa) yang dibawa oleh para ulamak Islam yang muktabar dan bukannya golongan liberal yang sesat lagi songsang. Pendekatannya yang penuh toleransi dan berhemah itu patutlah diteladani dalam menghadapi sesuatu krisis itu agar umat Islam tidak terus berpecah ketika mereka dihimpait, diasak dan diancam oleh musuh dari pelbagai penjuru alam.

 

Moga-moga Allah memberkati akan usaha  ‘alim yang berjasa ini dan membuka jalan ke arah  kesedaran di kalangan umat Islam di hari ini supaya mereka kembali menghayati Islam yang sebenarnya, lantaran itu memperolehi kejayaan dalam mengalahkan  musuh-musuh  mereka  dan  mendapat kejayan di dunia serta akhirat. 

    

 


 


Nota-Kaki:

 

[1] Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII &XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia,  Edisi Revisi, Kencana, Jakarta, 2004, hlm. 228 – 229.

[2] Abdul Rahman Hj. Abdullah, Pemikiran Islam Masa Kini: Sejarah dan Aliran, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1987, hlm. 196.

[3] Op.Cit., hlm. 229.

[4] Ibid., hlm. 230.

[5] Dr. Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-Negara Islam, Thinker’s Library, 1989, Batu Caves, Selangor, Malaysia, 15.

[6] Ibid. dan Drg. H. Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Penerbit Lentera, Cetekan Ke-2, Jakarta, 1999, hlm. 13.

[7] Op Cit., hlm. 231.

[8] Daly, Op. Cit.hlm. 17.

[9] Ibid.

[10] Azyumardi Azra, Op. Cit., hlm. 234. 

[11] Ibid.

[12] Daly, Op. Cit., hlm.  !8 – 20  dan Prof. Dr. Azyumardi Azra M.A., Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan, P. T Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999, hlm. 133.

[13] Daly, Ibid., hlm. 19.

[14] Mahayudin Hj. Yahaya, Ensiklopedia Sejarah Islam, Jld.1, A- G, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, 1986, hlm. 45.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid., hlm. 19 – 20.

[18] Azyumardi Azra, Renaisans, hlm. 134.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Op Cit.., hl. 20.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] Ibid., hlm. 21.

[25] Ibid.

[26] Ibid.

[27] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama, hlm. 242.

[28] Ibid.

[29] Ibid.

[30] Ibid., hlm. 212.

[31] Ibid.

[32] Ibid., 212 – 213.

[33] Ibid., hlm. 214.

[34] Ibid., hlm. 215.

[35] Ibid., hlm. 243.

[36] Ibid.

[37] Ibid., hlm. 244.

[38] Ibid.

[39] Ibid.

[40] Ibid.

[41] Ibid.

[42] Ibid., hlm. 244 – 245.

[43] Ibid., hlm. 245.

[44] Ibid.

[45] Ibid.

[46] Ibid.

[47] Ibid., hlm. 245 – 246.

[48] Ibid., hlm. 246.  Untuk keterangan yang lengkap bagi kandungan Mir’at al-Tullab, sila lihat Daly, Op. Cit., hlm. 45 –  419.  

[49] Temuduga antara penulis dengan Ustaz Che Mohd. Zaid Jusoh, tenaga pengajar di Pusat Bahasa dan Terjemahan, Universiti Sains  Malaysia pada bulan April, 2002.

[50] Azyumardi Azra, Op. Cit..hlm. 246 dan Hj. Wan Mohd. Shaghir Abdullah, Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, Jld.1, Khazanah  Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1991, hlm. 157.

[51] Azyumardi Azra,Ibid, hlm. 247..

[52] Edisi kitab ini diterbitkan di Jakarta pada tahun 1981. Lihat Ibid. Semantara di Pulau Pinang, Malaysia, ia masih dicetak dan diedarkan oleh Percetakan United Press, milik Hj. Yusof Abdullah al-Rawi. Keterangan Ustaz  Che Mohd. Zaid Jusoh juga membuktikan bahawa kitab ini masih digunakan di Trengganu.

[53] Op. Cit., hlm. 248.

[54] Keterangan Johns seperti yang terdapat dalam Azyumardi Azra, Ibid., hlm. 250.

[55] Ibid.

[56] Ibid. Untuk huraian lengkap mengenai kitab Hadith Arba‘in, sila lihat  Hj. W. Mohd. Shaghir Abdullah,  Op. Cit., hlm. 42 – 62.

[57] Op. Cit., hlm. 250.

[58] Ibid.

[59] Ibid.

[60] Ibid., hlm. 251.

[61] Ibid.

[62] Ibid.

[63] Ibid, hl. 252.

[64] Ibid.

[65] Ibib.

[66] Ibid., hlm. 253.

[67] Ibid.

[68] Ibid., hlm. 254.

[69] Ibid.

[70] Ibid.

[71] Ibid.

[72] Ibid., hlm. 254 – 255.

[73] Ibid., hlm. 255

[74] Prof. Dr. Hamka, “Aceh Serambi Mekkah”, dlm. Prof. A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, P.T. Ma‘arif, Cetakan Pertama, Medan, 1981, hlm.221 – 229.

[75] Op. Cit.

[76] Ibid., hlm. 256 dan Hamka, Ayahku,Penerbit Umminda, Jakarta, 2000, hlm. 5.

[77] Azyumardi  Azra, Ibid.

[78] Ibid., hlm. 257

[79] Mengenai Perang Padri, sila lihat Hamka, Op. Cit., hlm. 14 – 20.

[80] Op. Cit., hlm. 257.

[81] Ibid., hlm. 257 – 258.

[82] Ibid., hlm. 258  dan Hamdan Hassan M.A., “Peranan Aceh dalam Pengembangan Islam di Nusantara”, dlm. Prof. A. Hasjmy, Op. Cit., hlm. 345.

[83] Menurut keterangan Hj. Wan Mohd. Shaghir Abdullah seperti yang dipetik oleh Azyumardi Azra, Op. Cit., hlm. 258.

[84] Ibid.

[85] Ibid.

[86] Lihat Nik Abdul Aziz b. Nik Hassan,  “Islam dan Masyarakat  Kota Bharu di antara Tahun 1900 – 1940”,

dlm Prof. Khoo Kay Kim (penyunting), Islam di Kelantan,Persatuan Sejarah Malaysia, Kuala Lumpur, 1983, hlm. 15.

[87] Ibid.  dan keterangan daripada Ustaz Che Mohd Zaid Jusoh  pada April, 2002.

[88] Lihat Hj. W. Mohd. Shaghir Abdullah, Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, Jld.1, Khazanah FathaniyahKuala Lumpur, 1991.

Cover

SEMINAR SERANTAU

EKSPLORASI PEMIKIRAN DAN PERANAN SYAIKH ABDUL RAUF AL-SINGKILI

DALAM KONTEKS MEMBANGUN SEMULA ACEH

 

 

 

DI AULA PASCASARJANA

IAIN AR-RANIRY

BANDA ACEH

 

Kamis, 19 Zulhijjah 1426

            19 Januari    2006

 

 

‘ABDUL RA’UF AL-SINGKLI (SYIAH DI KUALA):

SUMBANGANNYA TERHADAP PEMBAHARUAN DAN

KEMAJUAN ISLAM SERTA SENGARUHNYA DI NUSANTARA

 

 

Oleh

 

 

PROF MADYA DR H. FADHLULLAH JAMIL

PUSAT PENGAJIAN JARAK JAUH,

UNIVERSITI SAINS MALAYSIA,

PULAU PINANG.

 

 

 

KERJASAMA

 GLOBAL PEACE MISSION MALAYSIA, KOMPAK DEWAN DAKWAH NAD DAN IAIN AR-RANIRY

 

 

 

 ‘Abdul Ra’uf al-Singkili (Syiah di Kuala): Sumbangannya terhadap Pembaharuan dan Kemajuan Islam serta Pengaruhnya di Nusantara

 

 

oleh

Prof. Madya Dr. H. Fadhlullah Jamil

Pusat Pengajian Jarak Jauh,

Universiti Sains Malaysia,

Pulau Pinang.

 

KALEIDOSKOP UMAT ISLAM DI PENTAS DUNIA

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Proses panjang sejarah perjuangan Islam (baca; dakwah) yang diemban oleh Rasulullah Saw. selama lebih kurang 23 tahun telah membawa posisi umat Islam ke puncak kejayaan. Dunia mencatat, kepemimpinan Rasulullah telah melahirkan generasi yang sanggup menaklukkan dua negara super power saat itu, yakni Persia dan Romawi. Sehingga Michael H. Hart mengurut Rasulullah Saw sebagai orang nomor wahid yang paling berpengaruh dalam bukunya Seratus Tokoh Dunia.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Selanjutnya posisi umat Islam dalam pentas dunia—setelah dihantarkan kepada puncak kemajuan oleh Nabi Saw.—sampai saat ini mengalami pasang surut dan fluktuasi yang sangat zig-zag dalam perjalanannya. Ini semua tidak bisa dilepaskan dari andil yang dimainkan oleh ummat Islam dalam pengelolaan dunia. Sejarah memang selalu berputar, tetapi dia tidak serta merta terjadi begitu saja. Dibalik keberhasilan suatu umat, ternyata di belakangnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki komitmen tinggi dalam upaya pemberhasilan tersebut. Tulisan ini, karena keterbatasan ruang dan waktu,آ  tentu saja tidak mungkin mengeksplorasi seluruh peristiwa sejarah ummat Islam semenjak masa Rasulullah Saw sampai hari ini. Paling tidak bahasan ini semacam Kaleidoskop Umat Islam di pentas dunia.

Fluktuasi Posisi Umat Islam di Pentas Dunia

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Setelah Rasulullah Saw. wafat tongkat estafet dilanjutkan oleh Abubakar As-Shiddiq. Periode ini kepemimpinan Islm lebih disibukkan oleh upaya konsolidasi kekuatan ummat. Di mana sebagian umat yang masih rentan aqidahnya terhadap goncangan, mulai melakukan manuver-manuver—seperti gerakan murtad, ingkar zakat dan nabi palsu—yang menyebabkan instabilitas di tengah-tengah masyarakat. Namun berkat kepiawaian Abubakar, intrik-intrik tersebut dapat dipadamkan dan berhasil mempertahankan kelanggengan kemajuan umat Islam sebagaimana ditinggalkan oleh Nabi Saw. Setelah berkuasa selama dua tahun, Abubakar mewasiatkan kekhalifahan kepada Umar bin Khattab.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Perkembangan umat Islam memasuki masa ekspansi ketika kepemimpinan beralih ke tangan Umar bin Khattab. Beliau mulai melakukan gerakan-gerakan dakwah ke mancanegara, sehingga banyak wilayah seperti Persia, Suriah, dan Mesir takluk dalam kekhalifahannya. Selama kepemimpinnanya, Umar bin Khattab telah melakukan berbagai terobosan, di antaranya yang paling spektakuler adalah kebijakan dalam upaya transparansi, dengan mendaftar harta kekayaan pejabat yang akan dilantik. Di Indonesia baru sekarang mulai muncul kesadaran untuk melakukan hal tersebut.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Kemajuan Islam, mulai dimasuki awan kabut ketika akhir kepemimpinan Usman bin Affan dan masa Ali bin Abi Thalib, dimana konflik internal mulai berjangkit yang berakibat pada terbunuhnya kedua khalifah tersebut. Namun demikian banyak prestasi peradaban yang dihasilkan oleh khalifah Usman bin Affan, diantaranya; penyatuan al-Quran untuk menghindari ikhtilaf (perbedaan) dan juga al-Quran disusun persurat dalam mushaf yang seragam, pembangunan angkatan laut untuk mempertahankan diri dari serangan angkatan laut Romawi, perluasan mesjid Nabawi dan mesjidil Haram dan beberapa prestasi lainnya.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Setelah berakhirnya masa Khulafa’ al-Rasyidin, dibentuklah dinasti-dinasti (sistem monarki) yang semakin memperpanjang daftar konflik internal umat Islam, sehingga sering dijadikan bahan oleh orang-orang luar Islam (baca;orientalis) untuk menyerang Islam. Sekalipun mengadopsi sistem kerajaan, banyak kemajuan yang dicapai oleh umat Islam pada masa ini. Ketika Bani Umayyah berkuasa kekuasaan Islam semakian luas, dan puncaknya ketika kekuasaan berada di tangan Umar bin Abdul Aziz. Kehidupan rakyat berada dalam kemakmuran, sehingga dikabarkan sampai-sampai tidak ada orang yang menerima zakat. Kalaupun ada, hari ini menerima zakat besok dia sudah wajib mengeluarkan zakat, disebabkan banyaknya zakat yang dia terima. Malah, sebagian sejarawan muslim memasukkan Umar bin Abdul Aziz dalam salah seorang (khalifah kelima) dari Khulafa’ al-Rasyidin.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Kejayaan Islam di pentas dunia memasuki klimaknya pada masa dinasti Abbasiyah, di masa Harun al-Rasyid dan al-Makmun. Di saat inilah Islam sudah menguasai Eropa dan menjadi pusat studi berbagai negara Barat, yang dipusatkan di Cordova (Spanyol). Namun masa kejayaan ini bertahan sampai tahun 1924 Masehi di masa Khilafah Turki Usmani.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Pada tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kamal Attaturk (tokoh Yahudi di Turki) membubarkan sistem khilafah (Wolrd State) dan wilayah Islam terpecah menjadi negara-negara kecil (Nation State). Akibatnya Umat Islam dengan mudah dikuasai oleh musuh lewat proses kolonialisasi dan imperialisme. Negara Aceh, sebagai bagian dari Kekhalifahan Turki Usmani pada masa kesultanan Aceh juga mengalami imbas imperialisme Portugis, Belanda dan Jepang. Sekalipun mereka tidak pernah menguasai Aceh.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Dengan berakhirnya sistem khilafah, maka posisi umat Islam di pentas dunia kembali berada pada titik paling bawah, menjadi negara-negara terjajah. Sampai hari ini negara yang mayoritas umat Islam (Indonesia salah satunya) dijuluki dengan negara ketiga atau negara berkembang, sebagai “penghalusan istilahâ€‌ oleh neo-imperials dan kolonialis untuk negara terjajah.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Penjajahan yang mereka (baca;Barat dan atau Yahudi) lakukan memang—sebagian besar, kecuali beberapa negara seperti Palestina, Chehnya, Kashmir, Moro, Aceh, dan beberapa wilayah perang lainnya—bukan dalam bentuk fisik. Tetapi ketergantungan ekonomi, politik, hukum, pertahanan keamanan yang mereka ciptakan sehingga kebijakan negara-negara mayoritas muslim tetap berada di tangan mereka. Lembaga-lembaga semisal IMF, World Bank, ADB, PBB merupakan sarana penjajahan negara-negara maju (barat dan Yahudi) terhadap negara ketiga (negara berkembang) yangآ  mayoritasnya umat Islam.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Demikianlah sejarah berulang, karena dia memang bukan masa lalu yang mati, not a dead past. Melainkan sebagia peristiwa yang tetap hidup di masa kini, still living in a present, dan merupakan ibrah bagi generasi sekarang. Allah Swt. menegaskan dalam al-Quran; “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran dan supayaآ  Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)…â€‌. آ (QS Ali Imran ayat 140). Semoga, dengan munculnya beberapa gerakan Islam dan mulai tegaknya kekuasaan Islam seperti di Afganistan, dan perlawanan yang dilakukan Umat Islam di seluruh dunia akan membawa kembali posisi umat Islam ke puncak kejayaan. Tentunya ini memerlukan proses dan waktu serta keseriusan umat Islam untuk mewujudkannya. Rasulullah Saw. dalam haditsnya mengingatkan: “barangsiapa yang tidak peduli (apatis, masa bodoh, acuh tak acuh) terhadap maju mundurnya umat Islam maka mereka bukan dari golongan Islamâ€‌. آ 

آ 

Penutup

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Syakib Arselan dalam sebuah tulisannya menyebutkan Umat Islam mundur, terbelakang karena meninggalkan agamanya dan orang kafir maju, juga karena meninggalkan agamanya. Jadi penyebabnya pada sama-sama meninggalkan agama, tetapi orang kafir justeru mengalami kemajuan. Kondisi ini mudah dipahami, karena ajaran agama mereka bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sejarah telah membuktikan bagaimana para ilmuan mereka dibantai karena mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan doktrin gereja. (baca kasus pembakaran Compernicus, pembunuhan Galileo dan lain-lain). Sehingga dengan meninggalkan doktrin gereja kemajuan peradaban dapat mereka capai. Sementara Islam tidak menghambat sama sekali perkembangan ilmu pengetahuan, hanya perlu dilandasi tauhid dan dikoridori oleh syariat Islam. Sehingga dengan komitmen keagamaan yang tinggi justeru akan mencapai puncak kejayaan. Sebaliknya, dengan meninggalkan ajaran agama—di mana perkembangan dan perubahan zaman dapat diakomodir di dalamnya—umat Islam menjadi umat yang “sontoloyoâ€‌.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Kenyataan umat Islam mulai meninggalkan agamanya, terlihat dari gejala mulai mengurangnya kepedulian terhadap persiapan pendidikan Islam bagi generasi yang akan datang. Orang tua—kendati tidak semuanya–tidak begitu gusar apabila anaknya tidak mengaji, tidak aktif dalam kegiatan keislaman. Tetapi justeru mereka susah kalau anaknya tidak dapat rangking pertama disekolah, tidak pergi les, dan berbagai kesibukan di luar koridor Islam lainnya. Hanya karena alasan ulangan anak tidak pergi ngaji, bagi mereka hal biasa. Sehingga tidak heran, ada anak orang Aceh yang beragama Islam, ayah ibunya Islam, endatunya Islam, tetapi ketika sudah kuliah dan berumur sekitar 19 tahun baru belajar metode iqrak. Inilah sebagian dari realitas umat Islam, khususnya di Aceh hari ini.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Bagi mereka yang tahu agama tetapi tidak memiliki pola pikir keummatan, tidak mau peduli dengan kondisi ummat yang justeru menjadi tanggungjawabnya. Anggapan kebanyakan mereka bahwa, dengan sudah shalat berjamaah lima waktu, puasa, shalat sunat, baca al-Quran, takziyah orang meninggal, membangun mesjid dan sekian rutinitas ritual keagamaan lainnya–tanpa berusaha melakukan proses islamisasi seluruh aspek hidup dan kehidupan–kiranya sudah cukup syarat menjadi muslim yang paripurna (baca;kaffah) sebagaimana perintah Allah Swt (QS al-Baqarah: 208)

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Memang, kondisi di atas wajar, karena kita sudah sekian lama mengalami invasi (serangan) pemikiran dari orang-orang kafir. Lewat program “cuci otakâ€‌ (brain washing) melalui institusi pendidikan yang dikotomi (pemisahan ilmu umum dan agama) lahirlah orang-orang sekuler, sistem ekonomi kapitalistik (dengan menyuburkan praktek riba), sistem sosial budaya yang individualistik dan jauh dari nilai-nilai Islam, juga melalui media komunikasi (baik cetak maupun elektronik) yang mengumbar syahwat dan menyusupkan nilai-nilai ideologis, sistem hukum peninggalan kolonial, sistem politik menghalalkan segala cara (melalui suap, becking). Semua ini sudah berurat-akar dalam pola pikir umat Islam, sehingga sangat sulit meneratasnya. Hanya dengan upaya keras dan tak kenal lelah dari umat Islam yang memiliki kemampuan dan komitmen tinggi,آ  posisi umat Islam, pelan namun pasti, akan dapat diangkat ke puncak kejayaan sebagaimana posisi yang pernah diantar oleh Rasulullah saw.

آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ آ  Momentum tahun baru 1431 Hijriah yang akan datang beberapa hari lagi kiranya menjadi penyumbang semangat baru guna mengembalikan kejayaan Islam dan ummatnya, terutama di Provinsi Aceh dengan cita-cita penegakan Islam secara kaffah semoga menjadi kenyataan. Insya Allah, sejarah akan berulang!

——

آ 

آ 

Dakwah Kepada Masyarakat Yang Belainan Agama Dan Budaya

Dengan cara ini dakwah kepada non-muslim tidak diarahkan untuk memaksa mereka memeluk Islam. Tetapi membawa mereka kepada pemahaman yang benar tentang Islam, sehingga mereka tertarik kepada Islam, bahwa dengan sukarela memasuki Islam.

 Prinsip Tadarruj, adalah upaya dalam menerapkan syariat Islam secara pelan-pelan dan tidak sekaligus, agar mereka yang telah masuk Islam tidak merasa berat dengan agama barunya tersebut.

 Prinsip Akhlaqul Karimah, adalah upaya memperlihatkan keindahan Islam kepada bukan Islam agar mereka tersentuh jiwanya dan mau mengikuti pentunjuk Allah. Prinsip ini pada dasarnya adalah pripsim propesional dimana didalam terkandung nilai-nilai universal seperti jujur, amanah, santun, tidak meminta-minta dan sebagainya.

 Prinsip Hurriyah, adalah upaya berpikir kreatif dan bebas sesuai dengan nilai-nilai Islami, sehinggga dapat mencerdaskan pemikiran masyarakat. Berpikir bebas tanpa paksaan ini agar kalangan non muslim tidak merasa tertipu dan adanya rekayasa dalam dakwah Islam. Maka masyarakat non muslim jika mau masuk agama Islam murni atas kehendaknya sendiri bukan paksaan atau intimidasi dari pihak tertentu. Prinsip inilah yang membuat Islam bertahan lama di sebuah negara.

 Prinsip Tasamuh, adalah upaya kedewasaan bermasyarakat agar saling menghormati, menghargai sesama, prinsip ini merupakan sebuah keluasan berpendapat dan bijak menghargai prinsip dari agama yang lain, sehingga masyarakat tidak terjebak dalam propokasi murahan.

 

Untuk berdakwak kepada masyarakat yang berlainan budaya hendaknya dilakukan dengan pendekatan dakwah kultural, yakni kegiatan dakwah dengan memperhatikan, memperhitungkan dan memanfaatkan adat-istiadat, seni, dan budaya loka, yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dalam proses menuju kehidupan Islami.

            Munculnya konsep dakwah kultural merupakan untuk mengembangkan sayap dakwahnya menyentuh ke seluruh lapisan umat Islam yang beragam sosial kulturalnya. Sehingga dengan dakwah kultural, organasasi dakwah dapat memahami pluralitas budaya, sehingga dakwah yang ditujukan kepada mereka dilakukan dengan dialog kultural, sehingga akan mengurangi benturan-benturan yang selama ini dipandang kurang menguntungkan, tetapi tetap berpegang pada prinsip pemurnian (salafiyyah) dan pembaharuan (tajdidiyah). Dengan demikian, dakwah kultural sebenarnya akan mengokohkan prinsip-prinsip dakwah dan amar makruf nahi munkar yang bertumpu pada tiga prinsip Tabsyir, Islah dan Tajdid.

            Dari prisip dakwah di atas, dakwah dapat mengembangkan diri dan dapat mengembangkan masyarakat melalui pengembangan sumber daya manusia, yaitu memberikan bekal sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan kehidupan masyarakat, dengan memasukkan prinsip-prinsip kehidupan Islami. Sehingga mereka dapat tidak tertinggal dengan masyarakat lain baik dalam sisi kemoderenan atau keagamaa. Kepentingan dan kecenderungan hidup masyarakat tersebut dapat terbimbing melalui nilai-nilai ajaran Islam.

 

ISLAM DAN DASAR PENDIDIKAN

Tidak ada keraguan terhadap risalah Islam ini, karena telah mendapat legitimasi Allah dan Rasul. Barang siapa yang benar-benar berpegang teguh padanya secara totalitas maka dia akan mendapat kejayaan dunia dan akhirat. Apabila Islam digunakan sebagai pandangan hidup (way of life) dalam setiap disiplin ilmu dan sisi kehidupan dan tidak terkecuali dalam hal ehwal pendidikan,  manusia akan memperoleh  petunjuk  dan sudah pasti tergiring ke jalan yang lurus dan benar.  Pendidikan yang dimaksud disini adalah yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, berazaskan tauhid, adanya integritas antara iman, ilmu dan amal serta memisahkan antara konsep ilmu agama dan ilmu yang bersifat duniawi, pendidikan agama dan pendidikan umum.

Islam adalah al-Deen yang diwahyukan Allah SWT melalui rasul-Nya untuk manusia di alam ini. Asas utama Islam terbentuk dari tiga aspek yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Ketiga aspek ini sangat berperan dalam kehidupan seorang muslim dalam  melaksanakan konsep al-Deen ini. Apabila akidah  sebagai keimanan hanya dijalankan kepada Allah SWT, disempurnakan melalui  syari’ah dengan pelaksanaan ibadah secara umum  dan khusus. Dengan menggabungkan kedua-duanya maka lahirlah  akhlak  Islam (Makhsin,  2003).   

Kata Islam adalah bahasa Arab bermakna penyerahan diri secara damai, penerimaan yang menyenangkan dan memperhambakan diri dengan tulus terhadap segenap perintah Allah. Dengan demikian, agama Islam merupakan penyerahan diri yang menyenangkan terhadap kehendak Allah, taat kepada perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, berpegang teguh ajaran-Nya, mengikuti petunjuk dan bimbingan-Nya berdasarkan Islam yang kita miliki.

Islam tidak didasarkan atas penyimpangan dan iman tidak akan terwujud tanpa perbuatan nyata (Al-Najjar, 1988).Islam artinya “pasrah” atau “patuh” kepada Allah. Orang Islam bermakna muslim  yang patuh kepada seluruh perintah Allah, sementara orang  yang  menolak atau tidak mematuhi Allah, maka dia dinamakan kufur  (ingkar), lihat Dr. Muhammad Imaduddin Abdul Rahim (2002). Orang Islam identik dengan orang yang patuh dan ta’at kepada  perintah  Allah dan Rasul SAW dan sesuai dengan makna  Islam itu sendiri, namun  jika  seorang muslim gagal  menjalankan kepatuhannya kepada segenap perintah  Allah dan Rasul maka  predikat “patuh, ta’at,  dan pasrah kepada  perintah Allah dan Rasul perlu ditinjau kembali sebab dia/mereka telah melakukan yang melanggar ajaran Islam.

Pendidikan merupakan suatu proses transmisi secara formal dan informal yaitu ilmu pengetahuan dan keahlian yang terjadi antara satu generasi ke generasi berikutnya (Dawi, 2002). Sedangkan (Langgulung, 1991) memberikan definisi tentang pendidikan berdasarkan tinjauan kemasyarakatan dan individu.

Dari segi kemasyarakatan pendidikan bermakna warisan kebudayaan  dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan dengan kata lain masyarakat memiliki nilai-nilai budaya atau adat-istiadat yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap dilestarikan. Dari segi individu pendidikan dapat dimaknakan sebagai pengembangan potensi-potensi pada diri manusia  yang terpendam dan tersembunyi, individu itu laksana lautan yang dalam yang penuh dengan mutiara dan bermacam-macam ikan dan kehidupan air lainnya, tetapi tidak kelihatan.         

Pendidikan Islam pada intinya adalah wahana pembentukan manusia yang berbudi luhur. Dalam ajaran Islam masalah akhlak tidak dapat dipisahkan dari iman, keimanan merupakan hati, akhlak adalah pantulan iman yang berupa prilaku, ucapan dan sikap. Dengan lain perkataan dapat dikatakan bahwa akhlak adalah amal shaleh, iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran karenan Allah semata (Ainurrofiq Dawam, 2003)         

Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem yang berusaha mengembangkan dan mendidik segala aspek pribadi manusia dengan segala kemampuannya. Termasuklah kedalamnya pengembangan segala segi kehidupan manusia/masyarakat misalnya sosial budaya, ekonomi dan politik; serta bersedia menyelesaikan problema masyarakat masa kini dalam menghadapi tuntutan-tuntutan masa depan dan memilihara sejarah dan kebudayaannya (Omar al-Syaibani, 1991).

Pendidikan Islam perlu memikirkan baik secara jangka panjang maupun jangka pendek, masa aman maupun masa darurat. Sebagai contoh bagaimana menangani permasalahan pendidikan anak-anak dan orang dewasa pasca gempa bumi dan tsunami di Aceh di kamp-kamp pengungsian dan di rumah-rumah penduduk yang bertebaran di mana-mana.         

Pendidikan Islam lebih banyak dihadapkan kepada akhlak dan sopan santun serta penghayatan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Mohd Kamal Hasan, 2003). Pendidikan Islam sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi keruntuhan moral, penangkalan aqidah, budaya korup dan sejenisnya. Karena itu pendidikan Islam secara sempurna menggunakan kurikulum yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Lihatlah contoh bagaimana Allah mendidik Rasul dan para ambiya-Nya, bagaimana Nabi Muhammad SAW mendidik para sahabat-Nya  dan umat Islam secara umum sewaktu baginda berkuasa. Jadilah contoh teladan yang harus diikuti dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Dalam rangka mendapat kejayaan dalam pelaksanaan pendidikan Islam perlu adanya keterlibatan keluarga/orang tua dan masyarakat sebagai penanggung jawab secara formal maupun informal.         

Islam memiliki cara  tersendiri bagaimana  mendidik  dan  mengajarkan  anak-anak dan generasi muda dan juga  mempunyai  bahan pelajran yang sesuai  dengan peringkat umur dan  peredaran masa dan  ini  bisa  dipelajari dan  kembali  kepada  pendidikan Rasulullah SAW dan  para sahabatnya. Baginda telah berhasil mendidik   para sahabat dan anak-anak orang Islam,  serta  para  muallaf yang baru memeluk agama Islam.

Model pendidikan Islam ala Rasulullah SAW  perlu dijadikan modal dan  uswatun hasanah dalam mendidik generasi  muda dalam setiap zaman.Muhammad SAW  sebagai pemerintah, orang tua, pendidik dan sekaligus sebagai wakil Allah di bumi ini yang  telah terbukti keberhasilannya  dalam mendidik dan  menggembleng  para sahabatnya dan  ummat Islam secara umum ketika  beliau masih hidup. Ini sebagai pertanda  bahwa  untuk berhasilnya pendidikan  haruslah  adanya komitmen sejumlah orang dan institusi  yang saling bahu membahu  memantau  dan memberi  perhatian  terlaksananya proses belajar dan mengajar. Kepedulian semua pihak  menunjukkan  adanya  perasaan  bersama  dalam  membangun bangsa  dan negara  di masa yang akan datang.     

Dukungan dan Tanggungjawab Keluarga          

Ini adalah tanggungjawab yang menyeluruh yang diletakkan oleh Islam di leher setiap muslim, yang tak ada seorangpun bebas darinya. Sehingga kedua orang tua bertanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam yang cermat (Ash-Shafti, 2003). Keluarga atau orang tua merupakan garda terdepan dalam menentukan kemana arah pendidikan anak-anak. Peranan orang tua sangatlah menentukan dalam mendidik, membimbing, dan memberi semangat belajar kepada anak-anak.   Kita harus tahu bahwa seorang anak selalu siap untuk menyerap segala bentuk pendidikan dan pengajaran. Jika bapak, ibu atau walinya berkehendak, maka mereka dapat merubah seorang anak menjadi manusia teladan (Sultani, 2004).         

Anak adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada orang tua supaya mereka dididik dengan baik, diberi nama dengan baik, diberi pendidikan dengan secukupnya, diajarkan dasar-dasar pendidikan Islam dan halal-haram, baik dan buruk serta akhlak yang mulia. Dalam Al-quran Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah munusia dan batu…….” (Q. S ; at-Tahrim: 6)          

Di samping memenuhi dukungan materil dan spirituil kepada anak-anak untuk belajar, orang tua atau pihak keluarga perlu mengirim anak-anak mereka untuk mencari ilmunya agar dapat mengenal Allah dengan asma-Nya, sifat-Nya, mengetahui perkara-perkara yang dibenci-Nya dan mengetahui jalan untuk mencapai kecintaan-Nya serta menjauhi apa yang dimurkai-Nya. Apabila seseorang merasa mencapai ilmu itu, maka ia akan lebih takut kepada Allah sesuai dengan firman-Nya, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama”.         

Perlu disadari bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Ini merupakan jembatan yang dilalui untuk generasi muda/anak-anak di masa yang akan datang. Keluarga merupakan sistem yang paling khusus dan sangat tersendiri untuk pendidikan awal. Keluarga merupakan lingkungan yang mula-mula sekali dihayati oleh seorang bayi setelah lahir. Dalam keluargalah ia berinteraksi dan mengambil dasar-dasar bahasa, nilai-nilai, standar prilaku, kebiasaan, kecendrungan jiwa dan sosial dan pembentukan nilai-nilai kepribadian. Keluarga juga merupakan sebuah institusi awal yang memenuhi kerja sama antara lelaki dengan perempuan serta sebagai pusat pembentukan kpribadian seorang anak (Al-Syaibani, 1991)         

Tanggung  jawab  kesatuan dan kebersamaan  keluarga terletak pada setiap  individu di dalam keluarga. Dalam keluargalah mulai dibina  rasa sayang  terhadap yang kecil dan menghormati  yang besar dan  juga  menghormati kedua orang tua  (Hasan Manshur,2002). Dan ini  sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang bermakna : “Bukan termasuk  golongan kami, seorang yang tidak menghormati yang besar dan tidak menyayangi yang kecil”.Hadits ini  menggambarkan betapa pentingnya menebarkan rasa kasih sayang dan saling menghormati antara yang besar dengan yang kecil dan pembinaan ini  dimulai dari rumah atas  bimbingan seorang   ayah dan ibu/keluarga.

Islam  sangat  konsen terhadap  kasih sayang dan  penghormatan karena  perkara ini akan mengundang  keharmonisan  baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Ini merupakan dambaan semua  manusia  yang normal yang  perlu dikasihi dan disayangi serta begitu pula sebaliknya tidak suka  dibenci dan dimusuhi.          

Keluargalah yang membuka mata seorang anak dan dari sinilah  dimulainya  pengenalan tentang  baik dan buruk serta  halal dan haram  yang  selalu kita dengar dari mulut  ayah dan ibu. Peranan mereka sangatlah  besar baik dalam mendidik  maupun dalam  memberikan  pendidikan awal bagi setiap anak, oleh karena itu  ilmu dan kewibawaan  ayah dan ibu  benar-benar diperlukan untuk menentukan masa depan anak dan  kelangsungan hidup mereka dalam bermasyarakat.  

IIIDukungan dan Tanggungjawab Masyarakat          

Masyarakat Islam dan pendidikan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan di antara keduanya (Muhammad AR, 2003). Banyak perintah melalui hadits Rasulullah SAW yang menyuruh kita untuk belajar atau menuntut ilmu. Tugas ini pertama lebih dipundakkan kepada individu dan peran orang tua dalam keluarga, kemudian masyarakatpun tidak boleh lepas tangan dan menghindari tanggungjawab mereka dalam memantau pendidikan generasi muda.         

Terjadinya dekadensi moral generasi muda dalam masyarakat bukan tidak mungkin karena kurang pedulinya masyarakat. Masyarakat yang di dalamnya ada pemerintah yang terdiri dari pejabat sipil dan militer perlu menjaga dan memelihara merebaknya penyakit masyarakat apabila mereka sungguh merespon dan membuka mata terhadap gejala sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini pendidikan anak-anak dan generasi muda diperlukan banyak kependulian masyarakat apalagi masyarakat Aceh yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami setelah tanggal 26 Desember 2005.         

Pendidikan begitu penting bagi individu dan masyarakat. Kepentingan pendidikan tidak hanya terbatas kepada suatu umat/kaum, masyarakat tertentu atau khusus untuk suatu zaman/masa saja, tetapi meliputi seluruh umat dan segala zaman dan termasuklah umat Islam pada zaman sekarang ini. Oleh karena itu wajib bagi masyarakat Islam, pemimpin dan para ulama serta intelektual memberikan perhatian penuh terhadap kelangsungan pendidikan anak bangsa (Langgulung, 1991).   

IV Tugas Pengajaran  Pendidikan Islam 

Pasca gempa bumi dan tsunami banyak gedung sekolah hancur, banyak murid dan guru meninggal dunia. Kebanyakan orang serta anak-anak tinggal di kamp-kamp dan barak-barak pengungsian, aktivitas belajar mengajarpun sangat bervariasi tempatnya, begitu pula pendidikan agama yang belum terorganisir dengan rapi/permanen.

Banyak bantuan datang dari berbagai pihak tanpa mengira bangsa atau agama mereka, namun tidak tertutup kemungkinan ada pihak-pihak tertentu memanfaatkan situasi ini dengan dalih memberi bantuan disertai dengan misi tertentu yang harus dilaksanakan menurut pesan sponsor. Bagaimana sikap masyarakat, orang tua, dan unsur-unsur lainnya menangani pendidikan Islam dalam situasi kritis ini?  Ini sebuah tugas mulia dan kepada setiap muslim dipundakkan kewajiban tersebut,  mahu tidak mahu,  harus dilaksanakan walau dalam situasi apapun.

Dalam pendidikan Islam, seorang guru bertanggung jawab mendidik murid, mendewasakannya, menjadikannya jujur dan berbudi pekerti luhur, membuat mareka terampil demi mempersiapkan masa depan mareka …….( Muhammad AR, 2003) Menurut perfektif Islam guru adalah sebuah profesi yang ditugaskan untuk membentuk manusia yang kamil sehingga anak didik mampu memahami dan menghayati apa tugas mareka terhadap diri sendiri, masyarakat, alam sekeliling dan terhadap Allah SWT sebagai Khalik.

Guru sama dengan pemimpin negara dalam mendidik masyarakat karena merupakan ibadah. Dalam pendidikan Islam, kita di suruh mencari ilmu agar kita dapat memahami yang hak atau yang benar dan membedakan yang baik dan buruk, yang bermanfaat dan merusak. Begitulah tingginya kedudukan manusia yang berilmu dan pengajar ilmu kepada orang lain (guru) menurut pandangan Islam (Sufean  Hussin, 1996)

Dalam rangka menjalankan tugas pengajaran dan penyebaran pendidikan Islam maka tugas guru adalah sangat berat demi mendidik anak bangsa. Menurut Atan Long (1988) seorang guru perlu kiranya introspeksi apakah dia, paling tidak, memiliki tiga sifat penting yaitu

(1) Kepribadian, (2) Latar belakang Pengetahuan, (3) Metode atau cara penyampaian.Dalam masyarakat Islam, seorang guru yang bergelut dalam dunia pendidikan Islam perlu memiliki persediaan awal untuk dapat memastikan apakah kejayaan di capai dalam mengajar. Akhlak guru, ilmu yang dimiliki guru, sikap guru, kesabaran, keikhlasan, metodologi penyampaian.

Pengajaran kepada murid merupakan hal-hal yang perlu dimiliki untuk mentransfer ilmu  pengetahuan.Keberhasilan dan keberkesanan pendidikan Islam ada kaitannya dengan kesadaran para guru terhadap tanggung jawab, kesempurnaan ilmunya dan keluhuran budi pekertinya. Ini merupakan kriteria pribadi pendidik yang perlu dimiliki dalam menyampaikan pendidikan. Dalam Islam, ilmuwan, para intelektual, gur, ulama tidak dibenarkan membisu di tengah umat yang sedang sakarat. Sebagai pewaris nabi, mereka sebagai tempat terhimpunnya khazanah ilmu Allah dari sudut fakta dan tafsiran.

Guru sebagai cermin dalam kehidupan dan panutan bagi murid dan masyarakat (lihat Ahmad bin Mohd Salleh, 1995).Dalam  proses belajar mengajar sudah pasti melibatkan dua pihak yaitu  pengajar dan yang diajar atau antara guru dan murid, antara  pelatih dan yang  dilatih. Target pelatihan atau pengajaran  memang pasti ada dan  metode penyampaian pun  sangat berbeda-beda dalam mencapai  target tersebut.  Dalam hal ini guru/pelatih/instruktur  perlu menggunakan media pendidikan untuk mencapai  tujuan pendidikan. Arief S. Sadiman dkk (2003) mengatakan bahwa  media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima atau dari tutor kepada peserta sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat murid/peserta/partisipan  sehingga  terjadilah proses  belajar mengajar  dengan lancar.   

Hasan Manshur (2002) menambahkan bahwa  seorang guru  yang bertugas menyampaikan pendidikan Islam kepada siswa harus memiliki beberapa kriteria: 1) guru harus ikhlas karena Allah, 2) guru hjarus menjadi tauladan bagi murid/siswa, 3) gurus  harus membalas penghormatan murid dan menanamkan rasa kasih sayang dengan mereka, 4) guru harus berlaku adil dalam setiap aktivitasnya di sekolah, 5) gurus  harus menguasai ilmu yang  diajarkan dan harus  banyak  membaca  sebagai rujukan, 6) guru harus menyampaikan pengalaman hidupnya  dan keberhasilannya kepada murid, dan  7) guru harus menanamkan semangat untuk  berijtihad dan  mengandalkan diri sendiri dalam berpendapat kepada para muridnya, khususnya  para pelajar remaja.            

Bibliographi 

Abdul Rahim, Muhammad ‘Imaduddin. (2003). Islam Sistem Nilai Terpadu. Jakarta;  Gema Insani Press. Ahmad bin Mohd Salleh. (1995).  Pendidikan Islam (Dinamika Guru). Shah Alam, Malaysia: Fajar Bakti SDN. BHD. Ainurrofiq Dawam  dalam  Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie. Al-Najjar, Zaghlul R.  (1988). Source and  Purpose of Knowledge. The  International Institute of Islamic Thought. Islamization of  Knowledge Series No. 5 Al- Syaibani, Omar dalam Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie. Al-Syaibani, Omar. (1991). Falsafah Pendidikan Islam. Shah alam, Malaysia: Hizbi. Arief S. Sadiman, R. Rahardjo,  Anung Haryono dan Rahardjito. (2003) cetakan ketujuh. Media  Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja  Grafindo Persada. Ash-Dshafti, Ali Muhammad Khalil.  (2003). Iltizam Membangun Komitmen Seorang Muslim.  Jakarta: Gema Insani Press.  Azizah Othman dalam  Mardzelah Makhsin. (2003). Pendidikan Islam 1: Buku Rujukan bagi Konsep-Konsep Asas Pengajian Islam seperti Fekah, Akhlak dan Sirah. Pahang , Malaysia:  PTS Publications  & Distributors SDN. BHD. Dawi, Amir Hasan. (2002). Penteorian Sosiologi dan Pendidikan. Edisi kedua. Tanjong Malim, Malaysia: Quantum Books. Hasan Manshur, Syaikh Hasan. (2002). Metode Islam Dalam Mendidik  Remaja. Jakarta:  Penerbit Buku Islami Mustaqim. Hussin, Sufean. (1996). Pendidikan di Malaysia: Sejarah, Sistem dan Falsafah. Kuala Lumpur:  Dewan Bahasa dan Pustaka. Langgulung, Hasan. (1991). Asas-Asas Pendidikan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Long, Atan. (1988).  Psikologi Pendidikan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie. Mohd Kamal Hasan dalam Muhammad AR. (2003). Pendidikan di Alaf Baru:  Rekonstruksi atas Moralitas Pendidikan. Jogyakarta: Prismasophie.  Makhsin, Mardzelah. Ed. (2003). Pendidikan Islam 1: Buku Rujukan bagi Konsep-Konsep Asas Pengajian Islam seperti Fekah, Akhlak dan Sirah. Pahang , Malaysia:  PTS Publications  & Distributors SDN. BHD. Sultani, Gulam Reza. (2004).  Hati Yang Bersih Kunci Ketenangan  Jiwa. Jakarta:  Pustaka Zahra.      

 


[1] Makalah ini Disampaikan Pada Acara Pelatihan Guru Dayah Se Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di Dayah Tgk Syi’ di Beureu-eh, Beureunuen  dari Tgl 18 s/d 20 Maret 2005.