Kasyfu Syubhat Islam Nusantara

Dari sisi wajah dan wijhah, konsep Islam Nusantara (IN) terindikasi mengandung “min amril-jahiliyah”, yaitu menghidup-hidupkan benih-benih Jahiliyah, sejenis propaganda jahiliyah gaya baru. Benar, (IN) bukan teologi, bukan madzhab bukan aliran, kita sudah tahu dan dengar sejak awal. Tapi dengan mencirikan (IN) secara separoh “damai, santun, toleran, beradab dan berbudaya, dstnya…” sudah cukup jadi bukti tabayyun bahwa teologi (IN) hanya mengambil sisi rahmatan lil-‘alamin Islam secara juz‘i (farsial). Ma’rufatnya diambil, Manhiyat Islam dibuang. Humanistik Islam iya, militanistik Islam jangan. Ini jahiliyah. Sama seperti “islam yes, partai Islam no.”

Apa yang hilang disini? Sisi ‘alamiyyatul Islam dipangkasnya. Amar ma‘ruf diambil nahi munkar dibuang. Nilai-nilai syurga, mau. Nilai-nilai penyelamat dari neraka ditolak. Padahal ayatnya berbunyi “faman zukhziha ‘aninnari wa’udkhilanjannata faqad faz, Ali Imran: 185. “quw anfusakum wa’ahlikum naaraa”, at-Tahrim”, at-tahrim:6.

Mengambil sebagian menolak sebagian, Yahudi punya gaya (al-Baqarah:85). Kita paham, maksudnya mau merangkul kelompok lain dengan tujuan ini-itu. Imam as-Syafii rahimahullah mengatakan “amantu billahi wabima ja’a ‘anillah ‘ala muradillah wa’amantu birasulillah wabima ja’a ‘an Rasulillah ‘ala muradi rasulillah, aku beriman kepada Allah dengan semua yang datang dari Allah berdasarkan apa maunya Allah. Aku juga beriman kepada Rasulullah dengan seluruh apa yang datang dari Rasulullah menurut apa maunya Rasulullah.”

Islam sudah mengubur semua perkara Jahiliyyah. Khutbah Wada‘ Nabi shallallallahu‘alayhi wasallam “ala kullu syai‘in min amril-jahiliyyah tahta qadamiy mawdhu‘, ketahuilah bahwa setiap jenis perkara Jahiliyyah di bawah kakiku, sudah dihapus. (Shahih Muslim, 1218)

Teologi (IN) ingin membangun ta‘asshub sya‘bi, fanatik kebangsaan sekaligus ta‘asshsub unshuri, kefanatikan organisasi dengan mengatakan “NU adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap keberlangsungan gagasan Islam Nusantara”

(2) Dari aspek institusional, konsepsi bangunan Islam Nusantara (IN) sebenarnya sudah ambruk ketika Syeikhul Azhar Syekh Ahmad Thayyib hafizhahullah dengan telak menjawab “guyonan ringan, mudā’abāt lathīfah” Prof. Said Aqil Siroj (SAS) para Rabu (22/5/2018) di Gedung PBNU. Pertemuan dua institusi besar itu berakhir pada tanggapan distingtif yang menggelikan.

“Seandainya Allah tahu, maka Islam akan IA turunkan di Indonesia, bukan di Arab. Namun Allah Maha Tahu di mana Risalah-Nya harus Ia turunkan. Negeri Arablah yang dipilih-Nya bukan Indonesia “Allāhu a’lamu kayfa yaj’alu risālatahu” (2) iman kalian tidak sempurna sampai kalian mencintai orang Arab ini (Rasulullah saw) melebihi diri, anak dan harta kalian (3) Bukankah pembawa Islam ke Indonesia juga Arab, jika tak ada pedagang Arab yang membawa Islam ke nusantara, kondisi Indonesia nasibnya seperti kawasan lain yang belum mengenal kebenaran.”

Di event bergengsi itu Syeikhul Azhar tidak mengomentari paparan SAS terkait konsep Aswaja NU yang berfikihkan madzhab Syafi’iyah, ber’aqidahkan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan bertasawwufkan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

Mahfumnya: Islam Aswaja dalam pandangan Syeikhul Azhar; aman-aman saja. Giliran Islam Nusantara yang berbasis wathaniyah beliau kuliti sampai soal terganggunya pengeras suara pun Syekh candai sebagai pengaruh efek wathaniyah.

Syeikhul Azhar bertanya, kenapa harus anti ‘Arab?

Menolak ‘Arab, tidak saja menggelikan tapi juga memalukan. Ada narrow-minded di dalamnya: kepicikan, pembodohan dan langkah mundur. Menolak Arab –khususnya Madinaturrasul- bagian dari kemunafikan. Sedang mengambil sebagian dan menolak sebagian adalah tradisi Yahudi-Nashrani “afatu’minuna biba’dil-kitab watakfurun biba’dh”, al-Baqarah: 85. Pembawa Islam ke Indonesia, Pedagang Arab. Walisongo umumnya etnik Arab. Kitab Kuning NU, bahasa Arab. Nama-nama masjid dan pondok, umumnya idiom Arab.

Tahun 1930-an, dalam bukunya “Islam dan Kebangsaan” A. Hassan (1887-1958) meluruskan pemikiran Soekarno dengan kalimat indah; “….Eropa memisahkan negara dari agama, karena agama Kristen tidak punya cara atur agama. Dari zaman Nabi Isa sampai sekarang tidak terdengar ada satu staat menjalankan hukum Kristen, bukan begitu keadaan Islam.”

Ketika Pesantren Persis Bandung berdiri, Presiden Soekarno tulis surat kepada A. Hassan:

“….Alangkah baiknya Tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M Natsir, misalnya! Saya punya keyakinan yang sedalam-dalamnya ialah, bahwa Islam di sini, dan di seluruh dunia masih mempunyai sikap hidup secara kuno saja…..” Endeh, 22 April 1936.

(3) Dari sudut terminologi, istilah (IN) sebenarnya adalah “anak keturunan” aliansi Liberalisme Islam sebelumnya. Yaitu wajah Islam yang berupaya membebaskan kaum muslimin dari induk atau sumber aslinya Qur’an-Sunnah atau dari tempat asal diturunkannya. Tema yang diusung adalah kebebasan dan hak asasi. Tidak mau terikat oleh ikatan manapun, kecuali ikatan yang ia ciptakan sendiri bernama hawanafsu sebagai tuhan baru secara step by step. Tuhan baru itu bisa berwujud HAM, Nasionalisme, UU dengan segala produknya dan atau kepentingan tertentu lainnya.

Jamaah Islam Nusantara (JIN) dengan para Pengusungnya bukannya tidak menyadari bahaya ini. Mereka sudah termakan propaganda palsu, terjebak oleh umpan dan jebakan lawan; meskipun mereka Guru Besar atau sekelas Ulama sekalipun. Pesan Khalifah Umar radhiyallahu’anh: 3 peroboh agama (a) Zullatun ‘Alim, orang alim yang tergelincir (b) Jidalul-munafiq bil-Quran, perdebatan kaum munafik soal al-Quran (c) A‘immatul-Mudhillun, para pemimpin yang menyesatkan. Imam Ibnu Abdil Barr (w.463 H), Jami’u Bayanil-Ilmi wa Fadhlih (Juz 2:223). KSA: Dar Ibnil Jauzi (1994).

Sebut saja misalnya, Pribumisasi Islam Gur Dur (1980-an), Islam Liberal (awal 1990-an), Islam Inklusifnya Alwi Shihab dkk (1997), Islam Warna-warni Komunitas Utan Kayu (1997) yang kemudian menjadi judul buku John L. Esposito terbitan Paramadina.

(4) Dari aspek legal term, boleh disimpulkan, bahwa istilah (IN) adalah produk budaya. Dari sudut kebangsaan, budaya adalah alat paling efektif mempertahankan segala kepentingan atau sebaliknya menggilas Islamic Movement di tanah-air. Apalagi jika budaya tersebut diback-up oleh kekuasaan, maka sempurnalah sandaran agenda (IN). (IN) boleh jadi kendaraan NU melumat gerakan wahabi sekaligus gerakan ekspansi “Nunisasi Nusantara.”

Budaya dan agama adalah dua hal yang berbeda; baik visi maupun misi. Selamanya agama dan budaya tidak bisa disatukan, walaupun digodok bolak-balik. Setinggi-tinggi nilai sebuah budaya adalah humanisme (insaniyah), sedang basis agama adalah ilahiyat. Agama bersendikan wahyu, sedang budaya bersendikan pikiran, akal budi, karsa atau adat-istiadat. Sifat budaya saling meminjam, sementara agama paten punya. Kebudayaan dihasilkan oleh kerja-kerja intelektual sedang agama langsung dari Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Maka Sekedar contoh: sholat adalah istilah syariat, sifatnya langitan. Jika ada istilah “sholat nusantara”, maka wajib ditolak, sebab nusantara itu sifatnya: bumian, relatif, bagian dari karsa manusia. Sholat design Allah, nusantara design manusia.

Mengutip para Ahli, syarat utama peristilahatan itu: misi dan gagasannya tidak boleh selisihi syar’iat sebagai basis timbangan ilmu syar‘iyah. Konsekwensinya, semua istilah yang kontra syariat; wajib ditolak, hukumnya tidak sah dan dilarang beredar. Hukum harus ditegakkan, dan negara harus hadir.

(5) Dari sudut idiomatik. Islam sebagai agama dan doktrin sudah final. Islam adalah terminologi syariat, produk langit, sifatnya ilahiyat. Allah sendiri yang menamakannya. Pemilik istilah tentu lebih tahu dari pada pihak lain. Apa itu Islam, sudah Allah jelaskan secara tuntas; syamil kamil wa mutakamil. Tak perlu ada tambahan atau pengurangan, sama seperti ketika Allah menjelaskan diri-Nya dalam surah Qulhuwallahu Ahad. Surah Al-Ikhlas adalah definisi yang paling lengkap terkait konsepsi ketuhanan. Demikian halnya dengan penta’rifan Islam; “waradhītu lakumul islāma diynā” (Qs.5:3). “Innaddīna ‘indallāhil-islām” (Qs.3:19). “Wamanyabtaghi ghayral-islami dīnā” (Qs.3:85). “Huwa sammātukumul muslimīna min qablu wafīhādza” (Qs.22: 78).

Maka ketika Islam disebut, include pulalah di dalamnya sifat dan wataknya yang damai, aman, toleran, santun dan beradab. Sama dengan kaedah asma’ul-husna; ketika nama Allah disebut include-lah di dalamnya: zat, nama, sifat dan perbuatan-Nya. Sesuatu yang sudah finis, jangan lagi diotak-atik; hilang nanti cantiknya.

Orang yang memahami kamus dan gramatika Arab, tahu soal ini, sehingga tak perlu otak-atik seperti tradisi buruk rahib Yahudi dan pendeta Nashrani. Mereka melakukan ajaran campur aduk bernama talbis dan kitman; yang benar disembunyikan, yang batil ditampakkan (al-Baqarah: 42).

Maka bagaimanapun lihainya designer istilah islam nusantara mendandani, memak-up dan mendempul “tampilan islam nusantara” bahwa (IN) bukan madzhab, bukan aliran teologi dstnya; tapi “Jumhur Ummat” tetap memandang (IN) bukan Islam yang sebenarnya. Karena (IN) memisah dari induknya (Quran-Sunnah) ‘ala wathaniyah dan lebih memilih aturan lokal kewilayahan. (IN) bermufaraqah dari saudara-saudara muslimnya di belahan dunia lain, yang dipandangnya tidak seirama dengan langgam “Islam Nusantara.” (IN) berubah dan merubah wajahnya menjadi Islam Inklusif, Islam kinasih, paling eksta-ordinari dari Islam di belahan bumi lain. (IN) Islam yang aneh, bukan “Islam Aswaja lagi”.

Prof. Said Aqil Siroj menjelaskan “Islam nusantara bukan madzhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizat, khasha’is. Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Ilam Nusantara”.s

Penjelasan ini hanya memotret tampilan sisi humanitarianisme Islam. Sisi militaristik Islam tidak dijelaskannya. Penjelasan ini menjadi tidak sepasang, tidak seimbang dan tidak adil, mestinya dua-duanya harus disebut; sisi ma’rufat dan munkaratnya harus bunyi. Karena tempat kembali itu ada dua; sorga dan neraka. Ada al-hasanat tentu ada as-sayyi’at.

(6) Istilah (IN) cacat kriterium. Ahli-ahli bahasa mengatakan, istilah itu sifatnya harus ittifaq; disepakati oleh ahli dibidangnya, serta tsabit (konsensus) di kalangan ahli ilmu. Istilah (IN), syubhat dari sudut logika sandar-menyandarkan atau sifat-mensifatkan. Istilah ini tidak saja mengemaskulasi ‘alamiyatul Islam, tapi juga telah mengebiri misi kaffatan linnas dinul Islam itu sendiri. Jamaah (JIN) rasanya mau menyendiri (mufaraqah). Karena Islam non-nusantara dipandangnya tidak pas dengan nusantara. Islam non-nusantara tidak cocok dengan alam budaya Indonesia.

Kyai-Kyai Nadhiyin berseloroh “jika ada Islam Nusantara berarti ada Islam non-Nusantara. Ada Islam Indonesia, Islam Amerika, Islam Pribumi, Islam non-Pribumi dan seterusnya”.

Sebagai perbandingan, Allah Jalla Jalaluh tidak pernah memberi nama pada pohon yang Nabi Adam ‘alayhissalam dan isterinya dilarang mendekat. Dengan mengangkat namanya sebagai penasehat dan pembawa misi keabadian, Iblis menamakan pohon itu dengan”syajaratul-khuldi”, sebagaimana dalam surah Thaha: 120, dan Nabi Adam pun tergelincir. Kita doakan semoga arah peristilahatan (IN) tidak mengarah pada jurus “dajjajilah” ini.

(7) Istilah (IN) istilah yang masih gharib dan majhul. Dalam sejarah Indonesia merdeka, baru Panitia Muktamar (NU ke-33) yang memakai istilah ini. Sebelumnya, tak pernah terdengar di tanah-air maupun di belahan dunia lain yang menyebut Islam Maroko, Islam Madagaskar, Islam Melayu, dll. Prof Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddiqiy (1904-1975) memang pernah menggagas Fikih Keindonesiaan sejak tahun 1359/1940. Namun bagaimana rupa Fikih Indonesia itu menurut Nourouzzaman Shiddiqi (1997) dalam bukunya “Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya”, belum tampak wujudnya sampai hari ini.

  1. Ali Yafie (lahir: 1924, 93th) dan K.H. Sahal Mahfudz (1937-2014) keduanya adalah Penggagas Fikih Sosial Keindonesiaan. Gagasan KH. Ali Yafie ditulis oleh Jamal D. Rahman (1997) dalam buku Wacana Baru Fikih Sosial: biografi 70 tahun KH. Ali Yafie. Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA, juga menulis buku “Menggagas Fikih Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh. Jakarta: (2015), terbitan EMK. Dari sudut lain, Zaini Rahman menulis buku “Fikih Nusantara dan Sistem Hukum Nasional Perspektif Kemaslahatan Kebangsaan”.

Istilah “Fikih Keindonesiaan” ini dapat dipahami secara sadar oleh masyarakat umum, berbeda jauh dengan arah dan gagasan Islam Nusantara. “Islam Nusantara Majhul, Ghayru Ma’ruf”, seloroh seorang Kyai. Para penggagasnya memang sudah menjelaskan konsepsi Islam Nusantara, tapi khalayak umum tetap mempersepsikan “ada agenda tersembunyi yang dibalut dengan dana-dana siluman” di balik agenda yang humanis ini. Sebuah sumber berseloroh “Islam Nusantara manis diteori tapi sepah pada penerapannya.”

Beberapa buku yang mengurai (IN) antara lain:

  • Islam Nusantara (kumpulan tulisan, 18 penulis) diterbitkan oleh Mizan Bandung (2015) disunting: Akhmad Sahal dan Munawir Aziz. Buku ini beredar di acara Muktamar NU ke-33.
  • Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX M oleh Ayang Utriza Yakin, DEA, Ph.D. Terbitan: Kencana Rawamangun (2016),
  • Juga kumpulan tulisan dari 6 artikel bertajuk Sejarah Islam Nusantara oleh Michael Laffan, terjemahan dari The Making of Indonesian Islam, Yogyakarta: (2011), Bentang Pustaka.
  • Membumikan Islam Nusantara (313 hal.), Dr. Ali Masykur Musa. Jakarta: (2014), Serambi Ilmu Semesta.

Buku-buku ini masih dalam tahap gagasan dan ide-ide mentah, setinggi-tingginya adalah respons sosial berbentuk kumpulan tulisan. Ditingkat konsepsi “Wajah dan Wijhah Islam Nusantara” belum ada yang menyusunnya. Gagasan Fikih Keindonesiaan saja yang digagas sejak tahun 1940-an sampai sekarang belum terwujud. Mari kita tunggu. Pepatah Melayu bilang “kalau gajah hendak dipandang gadingnya, kalau harimau hendak dipandang belangnya.”

(8) Istilah (IN), terminoligi yang dipaksakan; conpulsion term. Istilah punya kaedahnya tersendiri apalagi istilah syar’iyah yang punya dimensi pahala dan dosa sekurang-kurangnya berdimensi al-hasanat was-sayyi’ah. Karena dalam istilah ada muatan ma’na, pengertian, konsep, simpulan, maksud, keyakinan, bahkan teologi. (Ahmad Mohammad Zayid, Min Qadhaya al-Musthalahat wa Musykilatuha Fi Dhaw’i al-Tsaqafah al-Islamiyah, Mesir: 1432/2011).

Umumnya istilah (musthalahat, ta’rifat) punya induk; ada biang dan turunannya, ada ushul dan furu’nya, ada umum dan khususnya, ada muthlaq dan muqayyadnya, ada asybah dan nazha’irnya. Ringkasnya punya gardu dengan cabang-cabangnya. Berdasarkan kaedah ini, induk Islam Nusantara itu siapa, kapan dan dimana. Kiblat nusantara itu siapa. Nabi bersabda “kullukum min Adam wa Adam min Thurab”. Nenek moyang orang nusantara sebagai kiblat percontohan Islam Nusantara itu siapa? Sanad manaqib-nya itu siapa, Musyabbah bih-nya siapa?

Ini berarti gagasan Islam Nusantara itu aneh dan tidak jelas; tidak bersanad karena memutus mata rantai sejarah dengan para pendahulunya, khususnya sanad perpindahan dari Pusatnya di tanah Hijaz sampai ke bumi Nusantara. Dari walisongo ke wali-wali sebelumnya.

Sekedar contoh, Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya “kitabul manaqib” melalui sanadnya dari (1) Qutaibah bin Said (2) Ismail bin Ja’far (3) Abdullah bin Dinar (4) Abu Shalih (5) Abu Hurairah (ra) meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ، إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ : هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ ؟ “. قَالَ : ” فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ”

Bersabda Rasulullah (saw): “permisalanku dengan Nabi-Nabi sebelumku tak ubahnya seperti seseorang yang membangun suatu bangunan. Bangunan itu sungguh sempurna dan begitu bagus. Cuma ada satu batu bata yang belum terpasang. Orang banyak memasuki bangunan itu, mereka ta’jub semua. Mereka berkomentar “andaikan satu bata itu dipasang”. Nabi (saw) bersabda: “aku adalah satu bata itu, dan aku adalah penutup para Nabi”. HR Bukhari (3535)

صحيح البخاري | كِتَابُ الْمَنَاقِبِ. | بَابُ خَاتِمِ النَّبِيِّينَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Ada 3 (tiga) khazanah Islam yang tidak dimiliki agama lain (1) sanad (2) nasab (3) i’rab. Dari ketiganya; apakah Islam Nusantara memilikinya. Jawabannya, jelas tidak punya, sebagian boleh jadi iya.

Karena itu, sebagian Kyai NU menolak istilah ini. “(IN) pendurhakaan terhadap ajaran Aswaja dan menyimpan agenda terselubung, kata KH. Misbahussalam (PCNU Jombang). “Islam rahmatan lil’alamin belum selesai sudah ditimpa lagi dengan agenda Islam Nusantara”, papar KH. Mursyiddin Abdusshomad (PCNU Jember).

Islam rahmatan Lil’alamin ada dasarnya dalam Al Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Sementara Islam Nusantara tak punya landasan dalil sama sekali, kecuali dalih yang diada-adakan, lanjut Mursyiddin. KH. Muhith Muzadi (w. 2015: Malang), “jika ada istilah Islam Nusantara berarti kebalikannya ada istilah Islam non-Nusantara. Dan ini menyalahi teologi NU.”

Jadi (IN) adalah gagasan syubhat. Syubhat: teritorial, sektoral, pengkotak-kotakan, rasis, sara dan seterusnya. Istilah ini mencederai ajaran luhur Hadratus Syekh Hasyim Asyari sendiri yang dipegang teguh selama ini oleh Kyai-kyai lurus Nahdhiyin, yaitu Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sebutan Aswaja di”tong sampahkan”. Ajaran luhur: Imam as-Syafi’i, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, Imam Ghazali, Imam Syadzili, dan imam-imam lain dicampakkannya. Imam-imam besar ini tidak tenang di alam kuburannya dengan kemunculan istilah ini, terlebih lagi Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari sebagai penggagas sanad ajaran Aswaja.

(9) Istilah ini membawa luka baru bagi persatuan ummat Islam di tanah-air. Penggagas istilah ini tidak berpikir efek, apa kata dunia jika istilah ini nanti muncul. Islam milik semua. Bukan cuma milik orang nusantara. Ketika fenomena kasus gambar calon pilkada yang ditempel di sampul al-Quran mengemuka. Dunia Islam bunyi. Berani-beraninya càlon ini menempel foto/gambar/atribut tertentu di mushaf al-Quran. Tak ada yang berani melakukan ini di belahan bumi lain, kecuali ‘orang nusantara’.

Wallahul Musta’an.

Kemayoran Serdang,

Abu Taw Jieh Rabbanie, Peneliti Pusat Kajian Dewan Da’wah.

Dewan Da’wah Aceh Fasilitasi Pendidikan Anak Muallaf

Mereka diprogramkan menjadi kader yang akan membina daerahnya setelah menyelesaikan pendidikan.

Program ini terlaksana atas kerjasama dengan Yayasan Syeikh Eid Qatar, Pesantren Abu Lam U dan Syeikh Abdullah dari Turki serta sejumlah donatur lainnya. Mengingat kondisi muallaf yang sangat memprihatinkan dalam berbagai sisi kehidupan, maka kami mengajak agar hati kita tersentuh untuk mengambil peran masing-masing dalam  rangka kepedulian bagi mereka. Apa yang bisa dan sudah kita lakukan untuk saudara baru kita? 

 kepada para dermawan dan Donatur yang berminat membantu dapat menghubungi Sekretariat Dewan Da'wah Aceh di Jalan T. Nyak Arief No. 159 Lamgugob-Jeulingke Banda Aceh… Telp. 0651-7406436 Fax (0651) 7551070 email; ddiinad@yahoo.com atau hubungi langsung wakil Koordinator Pembinaan Anak Muallaf, Ruslan Ismail HP. 081263217216, via Rekening Bank Muamalat Indonesia Cabang Banda Aceh Rekening Nomor: 918.1604699 an: hasanuddin yusuf adan QQ DDII – NAD

 

DEWAN DA’WAH ABDYA GELAR WORKSHOP PEMIKIRAN ISLAM

Selasa  (17/6)  Dewan  Da’wah  Islamiyah  Indonesia  Aceh  Barat  Daya  melaksanakan  Workshop Pemikiran Islam dan Ghazwul Fikri di Aula Arena Motel Blangpidie. Workshop tersebut merupakan kegiatan  Dewan  Da’wah  Abdya  untuk  membendung  dan  melawan  arus  pemikiran  yang membahayakan  ummat  Islam.  Kegiatan  yang  menghadirkan  Dr.  H.  Adian  Husaini,  MA,  selakuKetua Program  Doktor  Pendidikan  Islam Universitas  Ibn  Khaldun  Bogor dan  Anggota  Badan  Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia sebagai pembicara tunggal dalam kegiatan tersebut.

Iin Supardi,S.S, M.E.I, selaku ketua umum Dewan Da’wah Abdya menyampaikan bahwa workshop dengan  tema  “Strategi  Membangun  Peradaban  Islam  dan  Menjawab  Pemikiran  Kontemporer” tersebut diikuti oeh unsure dari pemerintah, politisi, ulama, dosen, mahasiswa, pengurus ormas, pimpinan pesantren, guru dan pengurus Dewan Da’wah sebagai peserta aktif.

Workshop Ini bertujuan untuk membentuk pemikiran umat Islam yang memiliki semangat untuk membangun peradaban Islam yang kokoh di Aceh Barat Daya serta terbentengi dari Ghazwul Fikri”, ungkap Iin Supardi dalam sambutan dan laporannya.

Workshop ini dibuka oleh Sekda Abdya Drs. Ramli Bahar pada Senin malam di Mesjid Baiturrahim Pante Perak, Susoh. Beliau mengharapkan kerjasama yang baik antara pemerintah dan lembaga da’wah untuk memaksimalkan da’wah di Abdya. Dalam acara pembukaan tersebut, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah  (STIT)  Muhammadiyah  Ust.  Muchlis  Muhdi,  MA menyampaikan ceramah Islam tentang Pemetaan Da’wah Islamiyah dan Upaya Mempersatu Ummat di Aceh Barat Daya. Kegiatan yang berlangsung sampai hari selasa pukul 16.00 WIB tersebut dirangkai dengan penyampaian materi tentang Konsep Adab dan Peradaban dalam Islam, Sejarah Peradaban Islam Aceh, Indonesia dan Dunia, Infiltrasi Sekulerisme dalam Kurikulum 2013 serta Pemikiran Islam Kontemporer. Materi ini memberikan pencerahan yang cukup penting dan bermanfaat bagi peserta.

Selaku narasumber tunggal, Dr. H. Adian Husaini, MA menyampaikan pentingnya mengetahui tentang sejarah peradaban Islam sehingga akan lahir kembali peradaban Islam di masa depan. Beliau mengkritisi  tentang penetapan dan peringatan  Hari  Kartini,  karena secara adab seharusnya masih banyak tokoh wanita besar lainnya yang jauh lebih hebat, seperti Cut Nyak Dhien  dan Laksamana Malahayati  sebagai  Laksamana Perempuan terhebat,  yang pernah ada  di Indonesia yang juga perlu diperingati dan diingat perannya.

Dr. Adian berharap Aceh bisa menjadi kiblat kebangkitan Peradaban Islam tanah air, dikarenakan faktor sejarah Islam pernah jaya di Aceh dan keistimewaan Aceh untuk membangun peradaban yang berbeda dengan Indonesia secara umum. MoU Perdamaian dan UUPA yang ada bisa dijadikan modal penting  untuk  membangun  kembali  Peradaban  Islam di Aceh,  terutama  pendidikan  sebagai  syarat  awal membangun kapasitas manusia.

Abdya,  18 Juni 2014

Iin Supardi, SS, M.E.I

Dewan Da’wah Abdya Gelar Kajian Islam Bersama Rodja TV

Dalam Kajian tersebut, Abu Fairuz (panggilan akrab Ust. Ahmad) menekankan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan mengidentifikasi siapakah sebenarnya Ahlussunnah Wal Jama’ah, definisi dan tantangan terkini yang dihadapi oleh Sunni. Selain itu, beliau juga menyampaikan tentang i’tikad da’wah Rasulullah dalam konteks kekinian serta strategi da’wah dalam menghadapi ummat dan tantangan global. Setelah penyampaian materi, Jama’ah yang hadir turut serta berpartisipasi dengan diskusi yang difasilitasi oleh Panitia. Di akhir sesi, Abu Fairuz memesankan kepada Jama’ah untuk tetap bersemangat dalam da’wah serta menjadikan Muhammad Rasulullah Saw sebagai tauladan kehidupan.

Semoga semua lini akan memberi perhatian serius dalam da’wah serta bersama menegakkan Syari’at Islam di Aceh Barat Daya, ungkap Ketua Umum Dewan Da’wah Abdya seraya berterimakasih kepada hadirin dan Rodja TV.

Himbauan Dewan Da’wah Tentang Pemilu Legislatif 2014

 

  1. Himbauan

     

    1. Hendaknya segenap bangsa Indonesia terutama kaum muslimin selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk mengharapkan berkah dan rahmat-Nya, sehingga bangsa ini terhindar dari bencana dan keterpurukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf : 96);

  1. Hendaknya segenap bangsa Indonesia terutama ummat Islam menjaga kesatuan dan persatuan ummat untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menghindari perpecahan yang akan menjurus kepada disintegrasi bangsa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu)kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran : 103);

  1. Segenap bangsa Indonesia diharap menjaga hati, ucapan, dan perbuatan; Jangan sampai menimbulkan hal-hal yang dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan yang lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujur?t : 11);

  1. Khususnya kepada kaum muslimin Indonesia, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menghimbau supaya menggunakan hak pilihnya dan memilih wakil rakyat untuk DPR RI (DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota), dan DPD serta memilih Presiden dan Wakil Presiden yang mempunyai kriteria sesuai dengan ajaran Islam, yaitu :

     

    • Muslim yang amanah yaitu : kuat/mampu dan terpercaya;
    • Muslim yang shiddiq yaitu : jujur, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia dan tampil menjadi negarawan yang bersih;
    • Muslim yang fathanah yaitu : cerdas, tegas dan adil;
    • Muslim yang terampil melaksanakan tabligh yaitu : komunikatif, aspiratif, reformis, dan profesional;
    • Muslim yang sehat jasmani dan rohani, memiliki keberpihakan kepada mustadh’afin (orang yang lemah), komitmen untuk membela dan menegakkan Syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari;

Firman AllahSubhanahu wa Ta’ala : “Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (Al-Qashash : 26)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (Yusuf : 55)

Pesan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam kepada Abu Dzar Al-Ghiffari Radhiyallahu ‘Anhu, tentang jabatan kepemimpinan harus diperoleh secara benar dan tepat :

???? ?????? ????? ?????  :?????? ??? ???????? ????? ?????? ????????????????? ????? : ???????? ???????? ???? ?????????? ????? ????? : ??? ????? ?????

  • ???????? ?????????? ????????? ?????????? ?????? ???????????? ?????? ??????????? ?????? ???? ????????? ?????????? ???????? ???????? ???????? ???????.

Abu Dzar RA dia berkata, saya berkata : “Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikan aku sebagai pejabat?” Kemudian Nabi menepuk bahuku dengan tangan beliau, seraya bersabda : “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan), padahal jabatan merupakan amanah; pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa saja yang mengambilnya dengan benar dan melaksanakan tugas dengan jujur.” (HR. Shahih Muslim no : 1825-1816);

Pesan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang Ruwaibidhah, yaitu ketika manusia mengahadapi zaman tipu-menipu:

 ????? ???????? ????? ?????? ????? ???????? ?????????  :?????????? ????? ?????????? ????????? ??????????? ????????? ??????? ??????????

  • ??????? ?????????? ???????????? ??????? ?????????? ??????????? ??????? ?????????? ?????????? ??????? ??????????????, ?????? ?????

???????????????? ????? : ????????? ?????????? ???? ?????? ???????????.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Akan datang atas manusia tahun-tahun penuh tipuan; Pada masa itu para pembohong akan dikatakan sebagai orang jujur, sebaliknya orang jujur dikatakan pembohong; Para pengkhianat dipandang amanah, sementara yang amanah dipandang sebagai pengkhianat;Di zaman itu para Ruwaibidhah turut bicara.” Nabi ditanya, “Apakah Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab : “Orang-orang bodoh yang mengurusi soal-soal kemasyarakatan.” (HR. Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Imam Malik dari dua jalan, Abu Hurairah dan Anas bin Malik. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ no : 3650);

  1. Kepada Lembaga-lembaga Negara yang langsung atau tidak langsung bertanggungjawab atas penyelenggaraan Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, dihimbau agar dapat menyelenggarakannya secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan efisien, serta berlangsung dengan aman, damai, dan bermartabat;
  2. Menyerukan kepada semua calon-calon Anggota Legislatif dan calon-calon Presiden dan Wakil Presiden agar penyampaian Visi dan Misi Politik tidak dijadikan alat untuk mengelabui rakyat pemilih, menjauhi prasangka, saling menghujat dan memojokkan;
  3. Kepada Partai Politik peserta Pemilihan Umum, dan Partai atau Koalisi Partai yang mencalonkan calon Presiden dan Wakil Presiden, agar melaksanakan kampanye yang jujur, adil, tidak menggunakan politik uang, serangan fajar, dan tidak terjebak pada politik menghalalkan segala cara;
  4. Kepada masyarakat pemilih, agar menggunakan hak pilihnya secara cerdas dan menggunakan akal sehat;
  5. Kepada Media, baik Cetak, Elektronik, maupun Media Sosial agar menjalankan fungsinya sebagai lembaga penyiaran yang netral, objektif, dan proporsional;
  6. Menganjurkan agar semua komponen bangsa bersikap dewasa, lapang dada, dan menahan diri dari tindakan-tindakan anarkis.

 

  1. Penutup dan Do’a

Akhirnya kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala :

?????????? ??????? ?????? ??????????? ?????????? ????? ????????? ?????????? ?????? ?????????? ???????????? ???????????? ??? ?????? ??????? ????? ?????? ?????????

 ????? ???? ???????????? ?????????????? ?????? ????????? ??????? ?????? ??????????? ???????????.

(Ya Allah, persatukanlah hati kami, perbaikilah hubungan antara kami; Tunjukkanlah kepada kami jalan-jalan keselamatan; Jauhkanlah dari kami segala hal yang keji baik yang lahir maupun yang bathin; Dan berkatilah kami dalam pendengaran dan penglihatan kami; Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).

 

Jakarta, 18  Rabi’ul Akhir 1435 H

                                                                                                     18      Februari    2014 M

 

                             Pengurus

         Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

 

 

H. Syuhada Bahri                                                            Drs. H. Amlir Syaifa Yasin, MA.            

          Ketua Umum                                                                          Sekretaris Umum

  •  

 

 

Prof. Dr. Ir. H. A.M. Saefuddin

                  Ketua

 

Mengantisipasi Pendangkalan dan Aliran Sesat

Islam sebagai agama terakhir dari kalangan agama-agama samawi yang satu-satunya diakui Allah mempunyai atribut lengkap untuk mengayomi ummat manusia. Tidak mungkin bagi seorang muslim mengetahui kelengkapan Islam tersebut tanpa mendalami, memahami dan mempelajarinya secara bersahaja. Bagi yang mempelajarinya akan paham mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh dikerjakan. Sementara bagi yang tidak mempelajarinya sering terjebak dengan kesesatan yang dianggap kebenaran, tersarang pada perbuatan salah yang dianggap benar. Ukuran untuk mengetahui benar atau salah sesuatu itu adalah setelah diuji dengan materi Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yang sesuai dengannya adalah benar dan yang tidak selaras dengannya adalah salah.

Agar kehidupan ummah tetap berada pada jalur yang benar, para ilmuan baik dari kalangan ulama, intelektual, cendekiawan dan mereka yang memahami kebenaran serta mengetahui kesalahan harus berdakwah kepada mereka yang belum paham dan tidak mengetahui akan prihal yang haq dan yang bathil. Itu merupakan sebahagian kecil dari langkah-langah dakwah yang pernah dilakukan Rasulullah SAW.

Untuk kasus Aceh, kaum ulama khususnya yang digaji oleh negara memikul tanggung jawab lebih daripada pihak lain untuk menyelamatkan ’aqidah anak bangsa. Mereka harus bekerja dengan yakin dan serius jauh hari sebelum Aceh diserang oleh aliran sesat dan pendangkalan ’aqidah. Bukannya berpura-pura menyelesaikan masalah ketika masalah itu sudah menjadi penyakit kronis dalam masyarakat. Kekeliruan yang terjadi sekarang ini terletak pada kurang pahamnya tugas inti ulama pemerintah sehingga mereka lalai dengan jabatan, lezat dengan mobil plat merah dan nyenyak dengan tunjangan jabatan.

Ulama tempo dulu di Aceh khususnya dalam masa revolusi fisik melawan penjajah Belanda dan Jepang telah mengorbankan jiwa raga untuk menyelamatkan iman anak bangsa. Teungku Syik Di Tiro Muhammad Saman telah berjihat melawan Belanda dengan mengedepankan iman di dada dan tanpa didukung oleh tunjangan jabatan, mobil plat merah dan rumah dinas. Teungku Muhammad Dawud Beureu-éh telah berjaya mengawal dan mengembangkan Islam sehingga Aceh harum dengan syari’ah. Ketika beliau memimpin organisasi Persatoean Oelama Seloeroeh Atjeh (POESA), Islam jaya, syari’ah semakin berbunga, ’aqidah bertambah kuat dan akhlak pula semakin mantap dalam kehidupan muslim Aceh dalam kurun tahun 1950an. Pada masa itu belum ada internet, belum ada HP, belum ada mobil mewah, belum lancar telepon, namun ketua umum POESA bermastautin di Beureunuen, sektarisnya tinggal di Idi dan wakil ketua hidup di Matang Geulumpang Dua, Islam dapat dikembangkan dengan jaya dan sempurna. Kenapa pula hari ini yang sudah menjadi zaman modern dengan berbagai fasilitas hidup yang memadai tetapi ’aqidah ummah dapat dicuri oleh musuh-musuh Allah? Kehidupan hari ini memang set back seabad kebelakang. Siapa yang lemah?

Modus pendangkalan aqidah

Ada beberapa hal yang menjadi modus pendangkalan ’aqidah di Aceh selama ini, ia terjadi dari dua jalur yang berlainan arah. Pertama jalur eksternal yang diimport oleh kam missionaris, pegiat gerakan primasonry, pegiat HAM barat, pegiat gender dan pribadi-pribadi non muslim yang bencikan Islam. Kedua adalah jalur internal yang terdiri dari muslim yang berpaham nasionalis, sekularis, liberalis, pluralis, humanis dan kaum ortodoks yang mengklaim hanya amalannya saja yang benar dan amalan orang lain salah. Kaum semacam ini selalu mengedepankan otot untuk menyelesaikan masalah dan mempertahankan idenya.

Sumber pendangkalan ’aqidah dari eksternal sudah lama disemai benih oleh kaum Kristiani ketika mereka mengalami kegagalan dalam perang salib dahulu kala.[1] Pasca beberapa kali perang salib yang merugikan pihak Kristiani, mereka merumuskan 10 langkah menghancurkan Islam dan muslim dari jarak jauh. Yaitu:

Pertama, melenyapkan syari’ah (Hukum Islam). Langkah yang diambil untuk menghancurkan syari’ah adalah dengan menghancurkan sistem Khilafah Usmaniyah di Turki pada masa perang dunia pertama yang menjadi lambang dan model pemerintahan Islam peninggalan zaman awal. Selama satu setengah abad pihak barat berusaha untuk menghancurkan sistem pemerintahan Islam tersebut kemudian berakhir dengan berjayanya pasukan Inggeris, Yunani, Italia dan Perancis menduduki Turki. Dalam perundingan perdamaian di Lozan Inggeris tidak akan keluar kalau pihak Turki masih bertahan dengan sistem khilafah.

Dalam masa itu muncullah sosok Mustafa kamal At-Taturk, tokoh sekuler Turki yang menerima perjanjian dengan Inggeris dalam empat perkara. (1), menghapuskan khilafah Islam di Turki dan mengambil semua kekayaannya. (2), Turki berjanji harus menumpas semua gerakan pendukung khilafah. (3), pemerintah Turki yang baru akan memutuskan hubungan dengan Islam. (4), pemerintah Turki akan memilih UUD sipil sebagai ganti UUD yang bersumber dari hukum Islam.

Kedua, menghancurkan dan melenyapkan Al-Qur’an. Kaum salibiyah sangat paham kalau Al-Qur’an adalah sebagai sumber hukum dan sumber inspirasi dan aspirasi ummat Islam yang baku dan kekal. Karenanya mereka berupaya keras untuk menghancurkannya dengan berbagai cara, seperti menukar ganti ayat-ayat Al-Qur’an, menyalahkan makna dan artinya, mencetak Al-Qur’an baru yang sengaja disalahkan, memperalat muslim sekuler dan liberal untuk mengartikan Al-Qur’an dengan cara yang salah dan keliru dan sebagainya. Pastor Willem Gaford Bilkraf berkata: ”apabila Al-Qur’an dan kota Makkah dapat dikubur dari negeri Arab, pada saat itu kita dapat melihat orang Arab melangkah menuju peradaban barat serta menjauh dari Muhammad dan kitabnya. Pernyataan serupa diungkapkan oleh tokoh-tokoh salib secara serentak pada zaman itu.

Ketiga, menghancurkan akhlak muslimin. Upaya ini dilakukan kaum salibiyah dengan mengumbar gambar-gambar porno lewat tayangan-tayangan televisi, internet, koran, majalah, fashion baju semi telanjang, cara hidup saling tipu dan seumpamanya. Marmadeuck Picktol berkata: muslim dapat mengembangkan peradaban mereka keseluruh dunia secepat mereka mengembangkannya dahulu, dengan syarat mereka kembali berpegang kepada akhlak yang diperankan oleh nenek moyang mereka pertama dahulu, karena alam ini hampa dan tidak mampu berdiri tegak menghadapi jiwa peradaban mereka.

Keempat, menghancurkan persatuan muslimin. Langkah yang diambil mereka dalam konteks ini adalah mengadu muslim denga muslim lainnya lewat berbagai program yang mereka tawarkan. Lazimnya mereka mengumpan muslim dengan sejumlah uang dengan cara dan strategi yang amat lihai. Di Indoesia mereka membiayai sejumlah LSM seraya meminta para pengurusnya menyebarkan aliran sekuler, liberal, plural dan sebagainya dalam kehidupan muslim. Dengan demikian terjadilah perlawanan dari muslim fanatik sehingga antara muslim dengan muslim menjadi berantakan dan hancur berlerai. Kardinal Simon berkata: persatuan Islam dapat mempersatukan cita-cita ummat Islam dan dapat mendorong mereka lepas dari kekuasaan Eropah sedang upaya Kristenisasi merupakan satu upaya penting dalam mematahkan kuku gerakan mereka. Karena itu dengan Kristenisasi kita harus dapat merubah arah kaum Muslimin dan menjauhkan mereka dari cita-cita persatuan Islam.

Kelima, membuat muslimin ragu dengan agamanya sendiri. Dalam buku kongres karyawan Kristen di negeri-negeri Islam dikatakan: kaum muslimin meyakini bahwa Islam dapat memenuhi hajat ummat manusia, dan bagi kita para missionaris tidak ada pilihan lain kecuali melakukan perlawanan terhadap Islam dengan senjata ideologis dan humanis.

Keenam, membiarkan bangsa Arab tetap lemah. Mereka tau bahwa dunia Arab sebagai rujukan ummat Islam, karena itu mereka berupaya untuk memecahbelahkan bangsa dan negara-negara Arab agar Islam pun menjadi kacau dan lemah. Kasus pendirian negara Israel merupakan salah satu bukti upaya mereka melemahkan bangsa Arab. Menjadikan negara-negara Arab sebagai boneka AS seperti yang dialami Mesir, Tunisia, Yaman, Saudi Arabia, Kuwait, Qatar dan lainnya merupakan bahagian daripada upaya melemahkan bangsa-bangsa Arab.

Ketujuh, menciptakan sistem diktator politik dalam dunia Islam. Orientalis W.K. Smith pakar urusan Pakistan dari Amerika Serikat berucap: apabila kaum muslimin diberi kebebasan hidup dalam dunia Islam dan mereka hidup dalam alam demokrasi maka Islam akan meraih kemenangan dalam negeri itu. Dengan sistem diktator sajalah ummat Islam dapat dipisahkan dengan agamanya. Rancangan tersebut telah membuahkan hasil di sejumlah egara mayoritas muslim seperti di Arab Saudi dan negara-negara teluk persi, di Mesir, di Iraq, di Yaman, di Pakistan, di Indonesia dan sebagainya.

Kedelapan, menjauhkan kaum muslimin dari kemampuan berproduksi dan membiarkan mereka tetap menjadi konsumen produksi barat. Kasus ini menjadi kenyataan di mana ummat Islam terus menerus menjadi konsumen barat dalam berbagai produk dari yang paling kecil sampai yang palinf besar. Mic Donald, Kentacky Fried Chicken, sejumlah MLM, sampai kepada produksi senjata dan alat-alat perang berat menjadi bukti nyata bahwa mereka terus menerus menguasai kehidupan musim.

Kesembilan, mengupayakan agar orang pandai dan orang kuat Islam jauh dari kekuasaan dan tidak dapat berkuasa di negaranya. Prihal ini telah lama terjadi di sejumlah negara mayoritas muslim seperti di Indonesia, di malaysia, di Pakistan, di Afghanistan dan sejumlah negara-negara Afrika. Ben Gourion (Perdaa Menteri Israel tempo dulu) berucap: ”yang paling kami takutkan kalau di dunia Arab akan lahir Muhammad baru”. Salazar (diktator Portugis masa lampau) berkata: ”saya khawatir kelak akan lahir dari kalangan mereka seorang yang mampu mengekspor perselisihan mereka kepada kami”.

Kesepuluh, merusak kaum wanita muslimah dan menyebarkan kebejatan seksual. Pemerintah Israel menganjurkan para wanita Yahudi untuk mengaet dan berhubungan seksual luar batas dengan para pemuda muslim terutama di kawasan Palestina dan dunia Arab lainnya. Seterusnya, upaya tersebut dilanjutkan oleh para missionaris ke dunia muslim seluruh dunia sehingga para wanita muslimah cenderung menjadi santapan mereka di berbagai negara mayoritas muslim.

Semua rancangan kaum salib tersebut disusun demikian rapi untuk masa waktu jangka panjang sehingga dalam operasionalnya selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Untuk hari ini mereka masuk melalui jalur pendangkalan ’aqidah dengan perahu aliran sesat atau langsung diprakarsai oleh kaum missionaris seperti yang terjadi di Meulaboh Juli 2010, di Matang Geulumpang Dua September 2010 dan Banda Aceh Maret-April 2011.

Modus pendangkalan ’aqidah di Aceh menjurus kepada dua perkara utama, yaitu penghancuran iman bangsa Aceh dan penggagalan berlakunya syari’ah yang sudah diazaskan lebih delapan tahun lalu di Aceh. Untuk mencapai sasaran tersebut mereka berusaha keras dengan berbagai cara termasuk memperalat orang-orang Aceh sendiri dengan berbagai dalih seperti dalih Hak Azasi manusia (HAM), dalih jender, dalih politik, dalih bantuan kemanusiaan dan sebagainya. Apabila para penguasa Aceh tidak cukup modal ’aqidah maka mudah sekali bagi mereka untuk menghancurkan iman rakyat Aceh. Apabila para penguasa Aceh tidak cukup ilmu tentang syari’ah maka membuat kaum salib leluasa menghambat berlakunya syari’ah di Aceh.

Study Kasus

Dalam sejarah perpolitikan Islam, awal terpecahnya ummat Islam menjadi banyak aliran adalah setelah reda perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sofyan yang menguntungkan pihak Muawiyah bin Abi Sufyan. Akibat terjadi penipuan Abu Musa al-Asy’ari utusan Ali oleh Amru bin ’Ash dari utusan Muawiyah dalam masa tahkim (albritase) maka muncullah sekte Khawarij, Syi’ah, Murji’ah dan sebagainya. Sekte-sekte tersebut masing-masing memperkuat kekuatan untuk merebut kekuasaan yang sudah dipimpin oleh dua penguasa yaitu Ali dan Muawiyah.

Yang paling keras dan serius melawan pihak Ali dan Muawiyah adalah kaum Khawarij, mereka menganggap Ali lemah menjaga amanah ummah, Muawiyah pengkhianat dan Amru bin ’Ash penipu. Untuk kembali kepada kekompakan awal mereka berencana untuk membunuh ketiga tokoh tersebut. Namun apa yang disayangkan adalah hanya Ali yang sempat terbunuh pada waktu shubuh hari sementara Muawiyah dan Amru bin ’Ash tidak pergi ke masjid pada shubuh itu. Ketika Ali sudah meninggal, maka menjadi pucuk dicinta ulampun tiba bagi Muawiyah bin Abi Sufyan.[2]

Berbicara tentang perkembangan aliran sesat di Aceh, dalam beberapa kurun waktu yang lalu kita telah dhebohkan oleh aliran Habib Muda Seunagan,[3] aliran Jubah Puteh, dan terakhir aliran Millata Abraham yang melanda Matang Geulumpang Dua dan Banda Aceh.[4] Semua itu sulit dipisahkan dengan gerakan missionaris dan primasonri yang disponsori kaum Yahudi dan Nashrani. Kedua agama tersebut berasal dari satu jalur kaum Bani Israil dari keturunan nabi Ya’kub AS. Keduanya sepakat dan kompak untuk saling membantu apabila salah satunya berhadapan dengan Islam. Kaum Yahudi langsung atau tidak langsung sedang menguasai dunia lewat jalur teknologi dan persenjataan hari ini. Sementara kaum Nashrani berupaya keras untuk menguasai dunia dari kapasitas kuantitas penganutnya secara mendunia. Oleh karena itu terkesan Yahudi berpenampilan slow dan rileks, sementara Nashrani berformat kasar dan ofensif, sementara Islam terhimpit oleh kedua kekuatan ideologi tersebut karena ketidak kompakan muslim secaramenyeluruh.

Efek dari pergumulan tiga agama samawi tersebut merembes ke bumi Aceh yang sebelum tsunami jauh dari pantauan luar negeri karena dikungkung oleh RI. Ketika pihak luar punya kesmpatan masuk dengan dalih membawa bantuan kemanusiaan maka Aceh menjadi bahagian dari dunia internasional yang sulit dikontrol. Kondisi semacam ini dimanfa’atkan dengan baik sekali oleh pihak Kristiani untuk memurtadkan muslim Aceh sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap muslim di wilayah lain di dunia.

* KASUS HABIB MUDA SEUNAGAN.

Dalam sejarah peribadatan ummat Islam Aceh kurun 50an di Aceh pernah berkembang sebuah aliran sesat yang disponsori oleh Habib Muda Seunagan, seorang habib yang bermastautin di Seunagan (sekarang Nagan Raya). Habib Muda Seunagan bersama para pengikutnya melaksanakan ibadah berbeda dengan kebiasaan muslim lain, umpamanya mereka tidak melaksanakan shalat lima waktu lazimnya yang kita laksanakan sehari hari. Tetapi mereka cukup dengan berdo’a sahaja dan berzikir (meurateb) dengan menyebut nama Allah besar-besar dan cepat, sehingga ucapan Allahu lama-lama terucap huk huk huk. Dengan ucapan tersebutlah nama kelompok mereka kemudian terkenal dengan Sulok Huk.[5]

Sulok Huk ini kemudian dikembangkan di Teupin Raya Kabupate Pidie oleh Tgk. Teureubue ’Id (Tgk. Sa’id dari Teurereubue). Ia juga dikembangkan oleh Tgk. Husin di Gampong Blang mangki Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie. Sulok Huk ini bagi masyarakat di sana juga dikenal dengan Sulok Buta, karena mereka buta dalam beribadah, yaitu tidak mau melaksanakan shalat. Menurut mereka shalat itu menyembah tikar sehingga dikembangkan motto: Kaphe la-ot seumah patong, kaphe gampong seumah tika (kafir laut menyembah patung, kafir kampung menyemah tikar).[6]

* KASUS-KASUS PASCA TSUNAMI

Pasca Tsunami yang menghantam Aceh 26 Desember 2005, media massa sudah mengekspos bagaimana gigihnya para missionaris mencuri anak-anak Aceh. Ada yang dibawa ke luar negeri dan ada pula yang disembunyi di Medan atau Pulau Jawa. Hal ini disaksikan oleh para aktivis dan wartawan.[7] Terdapat beberapa LSM yang menjalankan missi Kristenisasi dibalut dengan missi kemanusiaan. Umpamanya boneka yang diberikan kepada anak-anak jika dipencet akan mengeluarkan bunyi dalam bahasa Inggris berisi doa-doa tidur jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, bermakna “penyatuan roh-roh manusia dengan roh-roh kudus”.[8]

Seratusan mahasiswa Unsyiah yang tergabung dalam Koalisasi Mahasiswa Anti Pemurtadan (KOMANDAN) menjelaskan dihadapan Gubernur soal kegiatan kristenisasi tersebut. Bahkan pada kesempatan itu mahasiswa memperlihatkan sejumlah bukti yang ditemukan di sejumlah lokasi kamp-kamp pengungsi kepada Gubernur seperti, buku bacaan berjudul Roh Kudus Pembaruan (Yayasan Kemanusian Bersama), buku bacaan siswa SLTA berjudul Dewasa dalam Kristus Gaya Hidup Kristenan, kemudian popo yang di dalamnya ditemukan berisi mainan anak-anak berupa kalung berlambang palang salib.

Termasuk copy buku kumpulan doa-doa Hanan el-Khouri berjudul Rahasia Doa-Doa Yang Dikabulkan. Dalam buku tersebut berisikan doa-doa yang dikutip dari injil dengan bertulisan bahasa Arab. Kalau masyarakat tidak paham, ini kan bisa membuat mereka murtad, bahkan di Aceh Jaya juga kami sudah temukan 500 injil, kata Irwansyah sebagai representatif mahasiswa.[9]

Masyarakat Desa Lhok Geulanggang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, Oktober 2005 silam menemukan sejumlah tablet obat bergambar ’bunda maria‘. Tablet tersebut dibagikan kepada anak-anak di desa itu.[10] Pada silaturahmi yang sengaja diadakan untuk melaporkan fakta pemurtadan di Aceh, sejumlah fakta berupa Injil dalam bahasa Aceh, selimut bergambarkan salib, boneka atau mainan anak-anak bergambar sinterklas, booklet, brosur, pamflet berciri Islam tetapi isinya tentang agama Kristen diperlihatkan kepada publik di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.[11] Selain itu ada juga LSM tertentu yang sengaja membagikan bahan logistik tepat pada waktu shalat ummat Islam.

Penulis juga pernah menerima laporan langsung dari beberapa orang ibu di Durong Aceh Besar bahwa mereka diajar ajaran Nabi Isa oleh wanita pekerja pada Yayasan Kreasi asal Bandung dalam bulan Juli 2005. Pembagian Injil dan mainan anak-anak kepada masyarakat Baitussalam di Aceh Besar juga dilaporkan tokoh masyarakat di sana. Rasanya sudah memadailah bukti untuk disimpulkan bahwa memang betul-betul ada upaya-upaya pemurtadan di Aceh oleh LSM-LSM asal luar Aceh dalam suasana pemulihan kehidupan rakyat akibat hantaman tsunami.[12]

* KASUS MEULABOH

Satu keluarga kristen warga AS, yakni Kelly Glen Jordan dan Robin Kay Jordan bersama anaknya Mackenrie Claire Jordan, dengan menggunakan dua perempuan asal Medan Sumatera Utara bersahaja melakukan pengkristenan terhadap tiga anak dara Aceh di Meulaboh, ibukota Kabupaten Aceh Barat bulan Juni 2010. Dengan kedok pekerja sebuah LSM/NGO mereka membuka sebuah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan mempekerjakan tiga anak dara Aceh tersebut yang bersengaja dan berencana hendak dikristenkan dari awal lagi.[13]

Korban pemurtadan tersebut adalah Ernawita alias Nonong binti Bustamam (27), warga Desa Suak Seumaseh dan Juwita binti Karman, warga Desa Suak Geudeubang. Dan seorang perempuan lainnya berinisial CT (18) juga disinyalir sudah menukar agamanya. Menurut media lokal perempuan yang bernama Ernawita alias Nonong berperan sebagai pelaku pemurtadan (yang membaptis) sedangkan Juwita binti Karman adalah korban pemurtadan.[14]

Ernawita alias Nonong, perempuan berstatus janda itu mengaku dirinya telah lebih dulu dipindahkan ke agama Kristen oleh rekannya yang sama-sama berprofesi sebagai guru pendidikan anak usia dini (PAUD) yang berasal dari luar Aceh. Menurut Ernawita, saat dirinya dibaptis oleh rekannya, ia sama sekali tidak mengetahui kalau ia telah berpindah agama. Bahkan ia juga mengakui dirinya turut membabtis Juwita binti Karman di kawasan Pantai Lhok Bubon pada 7 Juni 2010. Prosesi itu dilakukan dengan sejumlah rekannya yang sama-sama guru PAUD yang melakukan bimbingan agama nonmuslim.[15]

Pemurtadan yang dilakukan oleh satu keluarga warga AS di Meulaboh tersebut betul-betul berenca dan dipersiapkan demikian rupa. Buktinya, dari dua rumah yang disewakan mereka di Meulaboh ditemukan sejumlah brosur dan selebaran Kristiani dalam benrbagai bentuk seperti CD, VCD, buku cetak, selebaran lepas dan sebagainya.

* KASUS MATANG GEULUMPANG DUA

Mulanya, lima dari 14 orang anggota komunitas Millata Abraham diduga membawa aliran sesat, disidangkan di MPU Bireuen. Mereka yang disidangkan itu adalah Safwaliza (38), M Afdal (35), Hajarul Mirza (25), Junaidi (30) dan M Ikhawan (23). Semuanya penduduk Peusangan Bireuen. Mereka ditangkap pada 22 September 2010 lalu atas dugaan menyebar aliran sesat.[16] Hasil penyidangan mereka diputuskan oleh MPU bireuen bahwa mereka berada dalam aliran sesat. Mendengar fatwa tersebut masyarakat Tanpa komando, usai sidang di MPU Bireuen, seribuan warga Peusangan bereaksi. Mereka ditangkap satu per satu setelah MPU Bireuen menyebut mereka beraliran sesat. Ada 11 orang yang ditangkap pertama sekali. Masyarakat pun seakan tak sanggup menahan amarah. Bahkan ada di antaranya yang menjadi korban pemukulan dengan bibir yang bengkak-bengkak. Mengapa warga emosi? “Pengajian Millah Abraham dilakukan secara berkelompok dan bersifat tertutup, memunculkan beragam pandangan dan mengarah kepada pendangkalan akidah dan murtad, “ kata Munawar, warga Peusangan, menjawab Kontras, pekan lalu.[17]

Bireuen menjadi sorotan karena terbongkarnya sebuah ”aliran” yang menganggap Nabi Ibrahim lebih hanif daripada para Nabi yang lain, bahkan jauh lebih unggul dibandingkan dengan nabi Muhammad sekalipun. Dalam khutbah Jumat di mesjid Cot Gapu, terungkap bahwa aliran Millata Abraham ini sesungguhnya telah benar-benar keluar dari ajaran Islam. Mereka membenarkan perkawinan antara saudara kandung, dan seorang bapak boleh menikahi putri kandungnya. Dalam sebuah diskusi yang lain, disampaikan juga bahwa jika sang bapak meninggal dunia maka sang anak dapat ”mewarisi” ibunya. Disamping itu, dalam setiap keluarga, maka hanya sang bapak – sebagai kepala keluarga – yang diwajibkan untuk melaksanakan shalat lima waktu.

Menurut seorang rekan yang saudara iparnya terlibat dalam Millata Abraham, seluruh anggota jamaah tersebut harus mengganti namanya menjadi lebih western. Misalnya, Ibrahim menjadi Abraham, Daud menjadi David dan Yusuf berganti Yosep, dan seterusnya. Tetangga dari rekan saya tersebut bahkan berganti nama menjadi Bunda Maria.[18] “Mereka mengaku teologinya berasal dari Abraham, apa yang mereka bawa berasal dari Ibrahim, Ishaq, Ismail, Yakub, Yusuf, Musa, Yesus kemudian Muhammad,” terang Jamaluddin dalam sidang di MPU, seraya menambahkan ibadah mereka, antara lain, melaksanakan shalat malam, menghafal ayat-ayat Alquran, berdakwah, pengkaderan, rapat mingguan, hingga pengutipan iuran.[19]

* KASUS BANDA ACEH

Di Kota Banda Aceh dalam tahun 2010 sampai 2011 berkembang aliran sesat yang meresahkan mayarakat kota tersebut. Adanya aliran sesat millata abraham yang disponsori putera-putera Aceh tersebut bukan hanya mengakibatkan fatalnya iman mereka yang bergabung kesana, melainkan menjadi pukulan berat bagi Aceh secara keseluruhan yang sedang menjalankan syari’at Islam. Pengikut Mukmin Muballigh (Millata Abraham), kata ketua MPU Aceh Muslim Ibrahim, tidak percaya kepada rukun iman, juga mengingkari rukun islam. “Mereka juga menafsirkan Quran dengan kaidah yang salah, Bismillah diartikan dengan isme Allah, mereka juga menghina para nabi dan rasul. Nabi Isa dituding punya bapak, kalau Maryam tidak punya suami, mereka mengatakan berarti Maryam bersetubuh dengan Allah. Para pengikut ajaran itu kata Muslim merupakan pengikut Ahmad Musaddiq yang kini di penjara di pulau jawa [20] karena mengembangkan aliran sesat alqiyadah.

Mukmin Muballigh tersebut ternyata sama dengan aliran sesat Millata Abraham. Dalam menjalankan ajarannya para pengikut aliran tersebut menamakan dirinya Mukmin Muballigh dari aliran sesat Millata Abraham. Ini bermakna Mukmin Muballigh adalah missionarinya Millata Abraham. Selain itu, aliran itu mengingkari hadits dan tidak meyakini sebagai sumber kebenaran, serta mengingkari shalat lima waktu. Yang mereka akui adalah shalat malam saja itu pun dilaksanakan dengan posisi duduk dengan menghadap lilin yang telah dinyalakan dan lampu dimatikan.”Aliran ini juga tidak percaya kepada Nabi Muhhammad SAW sebagai nabi dan rasul Allah yang terakhir dan diyakini masih ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW,” terangnya, pagi ini.[21]

Tiga anggota Komunitas Millah Abraham (Komar) yang dicurigai mengembangkan aliran sesat di Gampong Prada, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Jumat (1/4) dini hari diamankan polisi ke Mapolresta Banda Aceh untuk menghindari amuk massa. Ketiga pengikut Komar yang diamankan itu masing-masing Zainuddin, Wisbar alias Buyung, dan Iqbal. Polisi membawa ketiganya setelah massa semakin ramai mengitari Masjid Jami Al-Hidayah, Prada saat salah seorang di antara pengikut Komar bernama Zainuddin dimintai keterangan oleh aparat gampong di masjid tersebut.[22]

Setelah ditelusuri dengan mendalam ternyata Zainuddin merupakan pimpinan aliran sesat Millata Abraham untuk wilayah Aceh. Isterinya juga bergabung ke sana dan sekarang bergelar bunda maria,[23] sementara dua anak kandungnya yaitu Jimmy dan Fajri juga menjadi kader aliran tersebut yang gencar menyebarkan aliran itu di Banda Aceh. Kedua putera tersebut akhirnya ditangkap pihak keamanan Kota Banda Aceh di sebuah toko bertingkat tiga tempat mereka berjualan di Jalan Teratai, Kelurahan Gampong Baro, Kota Banda Aceh Minggu (17/4) pagi.[24]

Setelah lama terjadi keresahan masyarakat Kota Banda Aceh karena aliran sesat tersebut kemudian tertangkapnya pelaku utama Zainuddin bersama dua puteranya Jimmy dan Fajri, serta kesemua komunitas mereka berjanji bertaubat di masjid Raya Baiturrahman, maka redalah isue tersebut buat sementara watu. Jum’at 22 April 2011 pukul 11.50 Wib sebanyak 135 Komunitas Millata Abraham (Komar) disyahatakan kembali di Masjid Raya Baiturrahman oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim MA.[25]

Zainuddin (55), kelahiran Gampong Laweung, Kecamatan Muara Tiga Kabupaten Pidie, Aceh, pimpinan komunitas ini di Aceh, berdiri dan membacakan ikrar yang berisi sepuluh butir pernyataan. Di antaranya, mereka mengakui bahwa Millata Abrahan adalah aliran sesat dan menyesatkan, kemudian mereka mengaku telah mengikuti ajaran sesat itu, menyebarkan, dan mengajak pengikut lainnya untuk bergabung. Dalam ikrarnya Zainuddin juga berjanji akan menyerahkan dokumen Millata Abraham dan aliran sesat lainnya kepada MPU dan Pemerintah Aceh. “Demi Allah saya bersumpah, selurus dan seikhlasnya kembali ke ajaran Islam yang benar, sesuai Alquran dan hadis,” ucap Zainuddin dalam ikrarnya.[26]

Pensyahadatan tersebut juga diikuti dan disaksikan oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Kapolda Aceh Irjen Pol Drs Iskandar Hasan SH MH. Juga hadir Wali Kota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin dan Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay. Gubernur Aceh menegaskan, Pemerintah Aceh tidak mentolerir jika ada aliran-aliran sesat atau agama ciptaan baru di Aceh. Tidak ada tempat di Aceh bagi aliran sesat dan agama baru itu. “Tugas kita ulama, umara, dan masyarakat untuk tetap menjaga kesucian agama Allah dari segala bentuk kebatilan. Di Aceh tidak boleh ada Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Bahaiyyah, Ahmadiyah, Karimiyah, Nasiriah, Druz, dan Qaramitah, dan sebagainya. Di Aceh hanya ada Ahlussunnah wal Jamaah,” tegas Gubernur Irwandi.

Sedangkan Kapolda Aceh, secara tegas mengatakan, meski 135 orang pengikut Millata sudah disyahadatkan kembali, tapi penyebar Millata Abraham tetap akan menjalani proses hukum hingga ke pengadilan. Pensyahadatan yang dilakukan kemarin itu akan menjadi salah satu pertimbangan bagi hakim nanti untuk meringankan hukum mereka. “Ingat, pensyahadatan hari ini jangan pura-pura. Jika mengingkarinya, maka kita akan menyeretnya ke proses hukum. Kepada masyarakat agar menerima saudara-saudara kita yang sudah kembali ke jalan yang benar ini. Tidak boleh seorang pun melakukan kekerasan dan anarkis kepada mereka,” imbuh Kapolda. Setelah itu, Zainuddin, mewakili komunitasnya, menandatangani sepuluh pernyataan yang mereka ikrarkan. Kemudian, Kapolda ikut menandatanganinya sebagai saksi.

* KASUS PANDRAH & PLIMBANG

Di Pandrah dan Plimbang juga muncul isue aliran sesat yang dikembangkan oleh Tgk. Aiyub dan pengikut-pengikutnya. Belum jelas apa jenis dan apa nama aliran sesat yang dituduhkan terhadap Tgk. Aiyub di sana, namun massa terlanjur mengamuk hendak membunuh para pengikut aliran sesat tersebut. Karena polisi cepat tanggap maka semua mereka selamat dari rencana amuk massa.

Dalam aksi itu, massa membakar tiga unit sepeda motor (sepmor), sebuah mobil, dan dua balai pengajian. Massa juga melempari dan merusak dua rumah yang masing-masing ditempati guru pengajian di desa Jambo Dalam Kecamatan Plimbang maupun Pandrah. Bahkan, massa sempat bergerak ke kecamatan lainnya, yakni Peudada, sekitar pukul 04.00 WIB, namun karena orang yang dicari tidak berada di tempat, mereka akhirnya bubar.[27]

Setelah reda di Jambo Dalam, massa bergerak lagi ke Pandrah, karena di sana juga ada seorang warga yang diduga mengajarkan ajaran sesat, seperti yang mereka sangkakan terhadap Tgk Aiyub. Tanpa jelas siapa yang mengomandoi, sekitar pukul 02.00 WIB, mereka naik sepmor menuju rumah Sulaiman di Desa Lhok Mane, Pandrah. Dalam perjalanan ke rumah tersebut, Tgk Sulaiman bersama rekannya, Tgk Murhaban, kebetulan hendak ke luar dari desa itu. Lalu warga menghadang dan menangkap mereka di sebuah jembatan masih di kawasan Pandrah. Tgk Sulaiman dan Tgk Murhaban akhirnya digiring kembali ke rumahnya. Berjarak 20 meter dari rumah Tgk Sulaiman, tiba-tiba massa membakar sebuah sepmor, kemudian membakar sebuah balai pengajian berukuran 4 x 6 meter dan sebuah jambo (rangkang).[28]

Kasus Pandrah dan Plimbang tersebut sudah lama tercium pada masyarakat dan masyarakat sudah melapor kepada pihak pemerintah, namun tidak pernah ada tanggapan serius dari pemerintah untuk menyelesaikan kasus tersebut sehingga meletus huru-hara. Setelah itu baru polisi mengamankan tersangka dari amuk massa. Semua mereka, menurut data sementara, berjumlah 13 orang: enam dari Desa Jambo Dalam, Plimbang, dua dari Desa Lhok Mane, Pandrah. Kemudian ditambah tiga lagi dari Desa Pandrah Janeng dan dua dari Desa Kuta Rusep, Kecamatan Pandrah. Semua mereka ditempatkan di Musala Mapolres Bireuen. Tempat ini dulunya pernah dihuni pengikut aliran sesat jemaah Millata Abraham yang terkuak di Peusangan Bireuen. Para pengikut Millata itu mencapai 70 orang, sehingga dari musalla tersebut dipindahkan ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di kawasan Cot Gapu Bireuen.[29]

Kedelapan orang yang dibawa ke Polres Bireuen itu adalah enam orang dari rumah Tgk Aiyub, yakni Tgk Aiyub (43) sendiri; Nabhani, warga Jambo Dalam; Fauzi, warga Peusangan, dan Bukhari, warga luar Pandrah. Adapun dua tamu yang berkunjung ke rumah tersebut adalah Tgk Ishak dan Zulkifly. Serambi Indonesia, Tue, Mar 22nd 2011, 10:21

* KASUS FAJAR HIDAYAH

Lembaga Pendidikan Terpadu Fajar Hidayah di Gampong Cot Mon Raya, Kecamatan Blangbintang, Aceh Besar diserbu ribuan orang yang diduga tak bisa menerima cara pendidikan menyimpang di lembaga tersebut. Amuk massa itu diduga dipicu oleh isu adanya pelatihan menyimpang dengan menggunakan potongan tulisan Arab sebagai medianya. Tanda-tanda akan terjadinya gejolak mulai terlihat sejak usai shalat Jumat kemarin. Ada satu kelas yang sedang menggembleng peserta pelatihan tidak bisa menerima penyajian materi oleh tutor yang dianggap menyimpang.

Tutor di ruangan pelatihan itu menggunakan potongan-potongan tulisan Arab di lembar-lembar karton berwarna berukuran kecil yang ditaburkan di lantai. Peserta pelatihan diarahkan mengail setiap potongan-potongan tulisan Arab yang ditaburkan di lantai. Ketika aksi saling kail itu berlangsung, tak jarang peserta sempat melangkahi tulisan yang mirip potongan-potongan ayat Quran itu. “Berawal dari situlah para peserta memberontak dan memilih meninggalkan ruangan,” kata seorang peserta pelatihan. Informasi adanya cara pelatihan yang menyimpang, dengan menghambur-hamburkan (menyerak) tulisan-tulisan Arab, ternyata berkembang cepat ke masyarakat sekitarnya. Massa diduga menangkap informasi bahwa yang ditabur-tabur itu adalah potongan-potongan ayat Quran. Unsur Muspika Blangbintang bersama aparat keamaman, dan perangkat gampong segera ke lokasi untuk meredam emosi massa yang nyaris tak terkendali.
Berdasarkan kesepakatan bersama yang ikut menghadirkan unsur pimpinan Yayasan Fajar Hidayah dan pihak Dinas Pendidikan Aceh, amuk massa menjelang sore kemarin mampu diredam. Keputusan yang dicapai antara lain pelatihan ditunda dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Hasil dari kesepakatan itu, hampir seluruh peserta pelatihan memilih pulang ke kampung masing-masing.[30]

Meski sudah ada kesepakatan bahwa pelatihan ditunda dan hampir seluruh peserta memilih pulang kampung, namun massa dari berbagai penjuru tetap tak mampu membendung emosi. Buktinya, sekitar pukul 20.30 WIB tadi malam, ratusan, bahkan ada yang menyebut ribuan massa menyerbu Fajar Hidayah. Aksi perusakan dengan lemparan batu dan benda-benda keras lainnya muncul dari berbagai penjuru. Kaca pintu, jendela, dan bagian-bagian lainnya dari sejumlah bangunan rusak parah. Pagar pengaman kompleks hancur dan nyaris tak ada bagian yang tersisa. Massa juga menyerbu hingga ke dalam ruangan merusak inventaris lembaga pendidikan tersebut seperti komputer, mobiler, dan barang-barang lainnya. Bahkan ada beberapa jenis barang yang dijarah. “Suasananya sulit dikendalikan,” kata Camat Blangbintang, Baharuddin Daud, menjawab Serambi, tadi malam.

Tidak kurang 800 guru dari berbagai kabupaten/kota di Aceh yang menjadi peserta pelatihan fahmul Quran di Fajar Hidayah lebih memilih pulang kampung pascakejadian itu. Alasan utama peserta untuk mundur adalah kekhawatiran terhadap muatan materi yang diberikan dalam pelatihan. Selain dinilai tidak sesuai dengan harapan guru, juga dianggap menyimpang dari norma dan kaidah yang diajarkan Islam. Guru-guru yang sedang mengikuti pelatihan saat peristiwa itu terjadi merupakan gelombang ke-11 yang dimulai Jumat (26/11) dan akan berakhir hingga 15 hari ke depan. Ada juga kelompok lainnya yang masuk gelombang 10 yang dimulai Senin (22/11).

Seorang peserta dari gelombang 10, Rajab asal Pidie Jaya mengungkapkan, selama pelatihan, tutor lebih banyak memberikan materi yang bersifat nyanyian. Sementara materi penguatan lainnya sangat kurang, bahkan tidak banyak yang diperoleh pada pelatihan itu. “Sejujurnya sia-sia kami ikuti pelatihan kalau begini hasilnya. Makna Fahmul Quran kan lebih pada pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran. Bukan berarti pemberian materi dalam bentuk nyanyian tidak bermakna, tapi kan bisa diseimbangkan,” katanya.[31]

http://eksposnews.com/view/2/18496/Yayasan-Fajar-Diserbu-Warga.html

Kiat-kiat antisipasi pendangkalan aqidah dan aliran sesat

Untuk mengantisipasi pendangkalan aqidah terhadap muslim-muslimah harus mengikuti beberapa langkah yang menjadi haluan kehidupan ummah. Di antara haluan tersebut adalah:

Selalu membaca Al-Qur’an dan membaca maknanya. Dengan embaca Al-Qur’an dan maknanya seorang muslim akan mengetahui dasar-dasar keimanan, tauhid dan aqidah. Ia juga akan mengetahu kisah-kisah kaum nabi sebelum nabi Muhammad SAW. Dengan demikian akan jelas haluan hidup mereka akan emihak kemana, kalau memihak kepada kebenaran Islam aia akan memperoleh syurga dan kalau memihak kepada kebathilan sudah pasti akan memperoleh neraka.
selalu berhati-hati terhadap prilaku dan gerak langkah non muslim yang hidup bersamanya. Sering terjadi pendangkalan aqidah dikarenakan keakraba antara seorang muslim dengan non muslim seperti kasus pemurtadan tiga orang perempuan Meulaboh bulan Juli 2010 yang lalu.
jangan bergaul akrab dengan mereka. Karena mereka sudah diposisikan Allah SWT sebagai pihak yang bathil dan kita berada di pihak yang haq. Antara haq dengan bathil tidak akan dapat bersatu dan tidak mungkin dapat bekerjasama dalam urusan-urusan kehidupan beragama dan bernegara.
jangan berguru dengan mereka. Khususnya dalam bidang ilmu agama selagi masih ada negara dan universitas Islam maka semestinya kita melupakan negara dan universitas non Isla. Banyak sudah ummat Islam yang terperosok kedalam gaya dan cara pikir mereka setelah belajar di negara dan universitas non Islam.
jangan bangga dengan produk dan kecanggihan toknologi kafir. Walaupun Islam belum memiliki produk dan teknologi mutakhir seorang muslim tidak boleh bangga dengan sesuatu yang baru yang diperoleh non Muslim. Karena selalu ummat Islam terperosok kedalam keyakinan non muslim akibat perkara tersebut.

Untuk mengantisipasi aliran sesat ummat Islam perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

formatkan dri sebagai seorang muslim yang sepenuhnya berpegang kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dalam kehidupan ini hanya Al-Qur’an dan Al-Sunnah saja yang menjadi rujukan, tidak boleh sedikitpun ragu terhadap keduanya.
jangan mudah bergabung dan terpengaruh dengan kelompok-kelompok tertentu yang memakai Islam dan kajian Islam sebagai media. Pelajari dahulu siapa mereka dan bagaimana latarbelakangnya.
jauhi diri dengan kelompok yang berpaham liberal, sekuler, plural, nasional dan seumpamanya. Biasanya berawal dari kerancuan pemikiran mereka ummat Islam terseret kedalam kelompok aliran sesat dengan mengatasnamakan Islam.
jangan menyalahkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Karena kedua pedoman hidup tersebut suda mu’tamat kebenarannya, karena itu jangan pernah ada ummat Islam yang menyalahkannya sebagaimana yang dilakukan oleh golongan liberalis.
jangan bergabung dengan non muslim dengan menyisihkan muslim karena sesama muslim adalah bersaudara dan dengan afir adalah musuh yang nyata.

Hubungan agama dengan negara dan batas kebebasan beragama

Agama merupakan satu ikatan terpadu yang menyatukan kehidupan ummatnya dalam berbagai dimensi kehidupan baik yang berhubungan dengan persoalan duniawi maupun perkara ukhrawi. Sementara negara merupakan sebuah wilayah yang dihuni oleh sejumlah warga untuk mencari ketenagang,keamanan, dan kenyamanan hidup seseorang. Negara merupakan sebuah alat untuk mengaplikasikan ajaran-ajaran agama yang sifatnya absolut dan pasti. Sementara hukum dalam sesuatu negara yang dibuat oleh manusia tidak akan pernah pasti, karenanya agama dapat mendominasi negara tetapi negara tidak akan boleh mendominasi agama.

Dengan demikian antara agama dan negara saling memerlukan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman. Agama tanpa negara tidak mungkin dapat mengaplikasikan ajaran-ajarannya. Negara tanpa agama akan selalu kacau karena masing-masing warganya ingin menang sendiri. Agama sangat memerlukan negara untuk mensosialisasikan seluruh ajaran-ajarannya. Dan negara sangat perlu kepada agama untuk mewujudkan ketenteraman dan kedamaian di dalamnya. Antara agama dengan negara ibarat orang mengantuk dengan nyamuk, orang mengantuk memerlukan tidur sementara nyamuk memerlukan darah manusia. Manusia jaga tidak dapat dihisap darahnya oleh nyamuk karena akan dibunuh olehnya, tetapi orang tertidur nyenyak dengan mudah saja dapat digigit oleh nyamuk.

Dalam Islam, seorang muslim tidak dibenarkan keluar dari agamana untuk masuk atau tidak masuk agama lain. Karena Islam sudah menjamin keselamatan ummatnya di dunia dan di akhirat sementara agama lain sudah dibatalkan Allah semuanya. Karenanya tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk mengamalkan paham kebebasan beragama dalam kehidupannya dalam situasi dan kondisi bagaimanapun jua. Islam merupakan agama yang benar dan satu-satunya agama yang diakui Allah SWT.[32] Ia juga agama yang sempurna yang diturunkan Allah untuk ummat manusia via Rasul-Nya yang paling akhir.[33]

Karena tiada agama yang murni dan sempurna selain Islam di dunia ini maka ummat manusia seluruhnya diajak untuk memeluk agama Islam. Yang mau memeluknya akan mendapatkan syurga di hari kemudian dan yang tdak mau akan memperoleh neraka.[34] Berdasarkan keterangan tersebut tidak ada peluang sama sekali bagi seorang hamba ini untuk memilih-milih agama, untuk menukar agama melainkan wajib berada dalam agama Islam. Kebebasan eragama bukan konsumsi ummat Islam, itu merupakan konsumsi komunitas barat yang sudah runyam dalam menjalankan ajaran agamanya sehingga mereka terus mencari agama yang berbeda dengan sebelumnya.

Khatimah

Untuk mengantisipasi pendangkalan aqidah dan aliran sesat di Aceh haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkapasitas untuk itu seperti ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat dan pegiat aqidah dan syari’at Islam. Mereka harus ada bekal awal dengan memperkuat iman, tauhid dan aqidah Islam agar tidak mampu dipengaruhi oleh pihak manapun juga yang menjejaskan keutuhan aqidahnya. Seorang muslim harus menguasai ilmu-ilmu Islam dan menguasai pula ilmu-ilmu umum sebagai bahan perbandingan. Dengan demikian tidak mudah dapat ditipu oleh non muslim.

 Makalah disampaikan pada acara Dialog intern ummat beragama tahun 2011, yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama wilayah Aceh pada hari Jum’at 29 April 2011 di Banda Aceh.

ÞKetua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Aceh.

[1] Untuk lebih sempurna informasi tersebut silahkan lihat Jalal Al ’Alim, Rencana orang-orang barat untuk menghancurkan Islam, terj. Salim Basyarahil, Jakarta: Intergrita Prees, 1985, hlm., 33-42.

[2] Informasi lebih lengkap silahkan lihat Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, jilid 2, cetakan ketiga 2005, hal., 58-61. Lihat juga Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Khulafaur Rasyidin, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hal., 486-501.

[3] Lihat Hasanuddin Yusuf Adan, Teungku Muhammad Dawud Beureu-éh Ulama, Pemimpin dan Tokoh Pembaharuan, Bangi Malaysia: UKM, 2005, hlm., 48-50.

[4] Lihat Serambi Indonesia 19 Oktober 2010. dan Serambi Indonesia 01 Maret 2011.

[5] Hasanuddin Yusuf Adan, Op Cit, hlm., 48.

[6] Ibid, hal., 50.

[7] Serambi Indonesia Senin 19 Desember 2005

[8] Serambi Indonesia Senin 19 Desember 2005

[9] Serambi Indonesia Rabu, 13 Juli 2005

[10] Serambi Indonesia Rabu, 30 November 2005.

[11] Republika, Selasa, 27 Desember 2005

[12] Untuk kesempurnaan data tersebut silahkan lihat Hasanuddin Yusuf Adan, ‘Aqidah Modal Utama Implementasi Syari’ah, Yogyakarta: AK. Group, 2006, hlm., 55-56.

[13] Waspada, 22 July 2010.

[14] serambi Indonesia 19 November 2010.

[15] serambi Indonesia 23 Juli 2010.

[16] Tabloid KONTRAS Nomor : 563 | Tahun XII 14 – 20 Oktober 2010.

[17] http://m.serambinews.com/news/view/41141/ajaran-sesat-millah-abraham. dicetak 15 Februari 2011.

[18] http://hanadawa.wordpress.com/. Dicetak 15 Februari 2011.

[19] serambi Indonesia 19 Oktober 2010.

[20] Atjeh post Tuesday, 15 March 2011.

[21] Waspada, 15 Maret 2011.

[22] Serambi Indonesia, 2 April 2011.

[23] Wawancara dengan Husni, tokoh masyarakat Peurada, Banda Aceh 20 April 2011.

[24] Serambi Indonesia, 18 April 2011.

[25] Serambi Indonesia, 23 April 2011.

[26] Ibid.

[27] Serambi Indonesia, 22 Maret 2011.

[28] http://aceh.tribunnews.com/news/view/52131/ribuan-massa-mengamuk-di-plimbang-dan-pandrah.

[29] Serambi Indonesia, 22 Maret 2011.

[30] http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2010/11/27/12001/diduga-injak-al-quran-pesantren-yatim-di-aceh-diserang-ratusan-orang/download; 28/3/2011

[31] Serambi indonesia, Sat, Nov 27th 2010, 11:39

http://eksposnews.com/view/2/18496/Yayasan-Fajar-Diserbu-Warga.html

Sabtu, 27 November 2010 | 05:46:46

Download; Senin, 28 Maret 2011

[32] Lihat Al-Qur’an surah Ali Imran; 19.

[33] Lihat Al-Qur’an surah Al-Maidah; 3.

[34] Lihat Al-Qur’an surah Al-bayyinah; 6-8.

—=hya=—