Pembakaran Bendera Tauhid, Penodaan Agama!

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh para anggota Barisan Serbaguna Nahdhatul Ulama (Banser NU) baru-baru ini di Garut (Senin, 21/10/2018) telah melukai hati umat Islam seluruh Indonesia bahkan dunia. Perbuatan para anggota Banser ini telah membuat keresahan dan kegaduhan umat Islam seluruh Indonesia dan dunia. Perbuatan mereka dianggap sebagai penodaan agama karena telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid.
Parahnya, perbuatan Banser itu justru mendapat pembelaan dan dukungan dari ketua umum GP Ansor NU Yaqut Cholil Qaumas (www.detik.com, 22/11/2018) dan ketua umum PBNU Prof. Dr. Said Agil Siraj (www.detik.com, 23/11/2018) serta pendukung lainnya. Mereka berdalih bahwa bendera yang dibakar itu bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dengan dalih ini, mereka membolehkan membakar kalimat dan bendera tauhid. Mereka juga beralasan untuk menyelamatkan kalimat tauhid, agar tidak diinjak. Selain itu, perbuatan Banser dianggap sebagai tindakan spontanitas karena emosi saja. Dengan kata lain, tidak sengaja dilakukan. Oleh karena itu, perbuatan Banser tidak dianggap kesalahan dan penodaan agama.
Menurut penulis, pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah itu merupakan perbuatan pelecehan terhadap kalimat dan bendera tauhid. Perbuatan ini penghinaan terhadap Allah sw dan Rasul-Nya. Maka, tindakan Banser ini penodaan agama Islam yang dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam pasal 156a KUHP. Pelakunya harus dihukum dengan pasal 156a KUHP tentang penodaan agama.
Selain itu, perbuatan Banser juga melanggar hukum Islam yang mengharamkan perbuatan menghina ajaran dan simbol Islam. Perbuatan ini bertentangan dengan iman dan tauhid seorang muslim. Terhadap pelaku perbuatan penodaan agama, Islam memberi sanksi tegas. Dalam hukum Islam, perbuatan penodaan agama Islam mengakibatkan pelakunya murtad berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama. Selain mendapat azab di akhirat, hukuman bagi orang murtad adalah dibunuh. Pelaksanaan hukuman ini dilakukan oleh pemimpin atau hakim.
Tulisan ini bertujuan untuk membantah alasan GP Ansor dan PBNU serta pendukung mereka di atas dan sekaligus untuk menegaskan bahwa perbuatan Banser itu penodaan agama. Di samping itu, tulisan ini juga bertujuan untuk membela kalimat dan bendera tauhid, melaksanakan kewajiban nahi munkar dan menuntut tegaknya hukum dan keadilan di negara kita ini. Penulis adalah seorang muslim yang masih punya iman dan tauhid yang terpanggil untuk membela tauhid dan agama Islam. Penulis tidak rela tauhid dan agama Islam dilecehkan.
Membantah Pendapat GP Ansor dan PBNU
Di antara alasan GP Ansor NU dan PBNU serta pendukung mereka untuk membenarkan perbuatan Banser NU yaitu bendera yang dibakar adalah bendera HTI, bukan bendera tauhid. Mereka mengganggap HTI sebagai organisasi terlarang di Indonesia, karena pemerintah telah membubarkannya. Oleh karena itu, mereka tidak menyalahkan Banser, bahkan membela dan mendukung perbuatan Banser. Menurut mereka, bendera HTI harus dibakar, meskipun di bendera tersebut ada kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Mereka berasumsi bahwa semua bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera HTI.
Tentu saja alasan ini tidak benar dan terlalu mengada-ada. Justru, fakta di lapangan membuktikan bahwa bendera yang dibakar adalah bendera tauhid yang bertuliskan laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah, bukan bendera HTI. Hal ini cukup jelas kita saksikan di video yang sudah viral di medsos. Tidak ada tulisan HTI di bendera tersebut. Yang ada hanya tulisan kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Adapun bendera HTI bertuliskan “Hizbut Tahrir Indonesia”. Tentu saja bendera HTI berbeda dengan bendera tauhid. Dengan demikian jelaslah alasan mereka itu terkesan mengada-ada dan membohongi publik.
Klaim bendera HTI yang dijadikan alasan pembenaran oleh pihak GP Ansor dan PBNU telah dibantah oleh MUI seperti yang diberitakan oleh berbagai media. Menurut MUI, bendera yang dibakar itu bendera tauhid, bukan bendera HTI. Alasan MUI, tidak ada simbol HTI di bendera tersebut seperti yang terlihat di video. Pandangan MUI ini disampaikan secara resmi kepada publik setelah melakukan kajian dalam persoalan ini. (www. republika.co.id, 23/10/2018)
Hal senada juga disampaikan oleh pakar hukum dan perundang-undangan sekaligus Kuasa Hukum HTI Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. Menurutnya, bendera yang dibakar itu bukan bendera HTI, namun bendera tauhid. Yusril sependapat dengan pernyataan MUI dan mendukung keputusan MUI tersebut. Selain itu, Yusril juga menegaskan bahwa HTI bukan organisasi terlarang. Menurutnya, Menteri Hukum dan HAM hanya mencabut status badan hukum HTI yang sekaligus bermakna pembubaran pada tanggal 19 Juli 2017 melalui SK Menkumham Nomor AHU-30. AHU-30.AH.01.08. Namun SK menteri tersebut tidak menyebutkan HTI sebagai organisasi terlarang. (www.hidayatullah.com, 2/11/2018)
Demikian pula apa yang dituduh oleh GP Ansor dan PBNU telah dibantah oleh mantan Juru bicara HTI Ismail Yusanto seperti yang diberitakan hidayatullah.com (22/10/2018). Ia menegaskan bahwa HTI tidak memiliki bendera. Menurutnya, bendera yang dibakar dalam video yang beredar luas itu Ar-Royah (bendera Rasulullah saw), bendera berwarna hitam yang bertuliskan tauhid. (www.hidayatullah.com, 22/10/2018)
Pendapat mereka diatas sama dengan pendapat mayoritas umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Berbagai aksi kecaman di berbagai media maupun aksi demo damai dilakukan oleh umat Islam seluruh Indonesia dan dunia. Terlepas polemik bendera HTI atau bukan, yang jelas bendera yang dibakar itu bertuliskan kalimat tauhid. Faktanya, bendera yang dibakar itu bukan bendera HTI, namun bendera tauhid seperti terlihat jelas di video dan disampaikan oleh MUI, HTI dan seluruh ormas dan elemen umat Islam.
Mengklaim bendera tauhid sebagai bendera HTI merupakan suatu kesalahan fatal. Bendera tauhid berbeda dengan bendera HTI. Bendera tauhid hanya bertuliskan kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Adapun bendera HTI bertuliskan kalimat tauhid dan tulisan “Hizbut Tahrir Indonesia”. Bendera tauhid bukanlah milik organisasi tertentu seperti HTI dan lainnya, namun bendera tauhid itu milik seluruh umat Islam dari dulu sejak masa Nabi saw sampai hari ini dan hari Kiamat. Bendera tauhid merupakan simbol Islam dan bendera Rasul Saw. Bendera ini dipakai oleh Rasulullah saw dalam segala kondisi, baik dalam waktu damai maupun perang. Hal ini berdasarkan hadits: “Rayah (panji) Rasul Saw berwarna hitam, sedangkan liwa’ (bendera) Rasul saw berwarna putih” (HR. Ath-Tabrani, Hakim, dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmizi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali sebuah liwa’ (bendera) yang berwarna putih, yang ukurannya sehasta. Pada liwa’ (bendera) dan rayah (panji) terdapat tulisan laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa’ yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.” (HR. Ahmad dan At-Tirmizi)
Seandainya bendera yang diklaim itu memang benar bendera milik HTI (namun faktanya bukan bendera HTI), maka bendera tersebut tetap saja tidak boleh dibakar. Bendera HTI itu juga bertuliskan kalimat tauhid. Tulisan tauhid merupakan simbol dan ajaran Islam yang wajib dihormati dan dimuliakan. Kalimat tauhid tidak boleh dibakar dengan sengaja, apalagi dipertontonkan dengan bangga sambil melagukan lagu tertentu. Kita bukan menghormati dan memuliakan bendera HTI, namun yang kita hormati dan muliakan adalah tulisan tauhid yang ada pada bendera. Di manapun ditulis, kalimat tauhid tetap harus dijaga dan dimuliakan.
Alasan lainnya yang dikemukakan oleh para pelaku pembakaran bendera tauhid dan para pembela mereka dari GP Ansor, PBNU dan lainnya bahwa pembakaran itu dilakukan spontanitas karena emosi Banser ketika menemukan bendera yang diklaim sebagai bendera HTI. Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan bahwa mereka tidak sengaja membakar bendera tersebut dan tidak ada maksud untuk melecehkan kalimat tauhid yang ada padanya.
Tentu saja alasan ini tidak bisa diterima secara akal sehat dan agama. Secara logika, tidak mungkin para anggota Banser berani melakukan pembakaran bendera yang diklaim sebagai bendera HTI ini tanpa ada instruksi atau persetujuan dari pimpinan organisasi mereka. Tentu ada instruksi kepada mereka secara sistematis dan struktural. Jadi ini bukan sebuah insiden tanpa perencanaan. Sangat tidak masuk masuk akal kejadian seperti ini spontanitas. Apalagi terjadi pada saat acara formal peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang dihadiri oleh banyak pihak.
Jika kita cermati cara mereka membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid ini, maka jelas sekali perbuatan mereka ini merupakan penodaan agama. Hal ini karena dilakukan dengan sengaja dan terang-terangan. Aksi pembakaran ini dilakukan di hadapan khalayak orang ramai dengan menyanyikan lagu dan sorakan kegembiraan. Mereka telah mempertontonkannya dengan bangga dan senang. Bahkan direkam dengan video dan disebarkan ke medsos. Mereka menampakkan dan menebarkan kebencian dan permusuhan mereka terhadap HTI. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah dan berdosa. Maka perbuatan mereka ini telah memenuhi unsur pidana berupa penodaan agama yang di atur dalam pasal 156a KUHP dan hukum Islam.
Selanjutnya, alasan yang dijadikan pembenaran oleh GP Ansor dan PBNU serta pendukung mereka yaitu pembakaran kalimat tauhid itu bertujuan untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid. Menurut mereka, mereka ingin menyelamatkan kalimat tauhid agar tidak terinjak. Mereka menyamakan seperti Alquran yang tercecer kertas atau bagian sobekan darinya sehingga dibolehkan oleh para ulama untuk membakarkannya demi menyelamatkannya.
Alasan ini tidak bisa diterima secara akal sehat maupun agama dan tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran atas tindakan pembakaran bendera tauhid secara hukum sehingga tidak menjadi alasan memaafkan tindakan pelecehan mereka. Perbuatan tersebut menunjukkan kebencian dan permusuhan mereka terhadap HTI. Hal ini terlihat dari cara mereka membakar bendera. Padahal, bendera itu ada kalimat Tauhid, namun secara sengaja mereka membakarnya. Bahkan menyamakan bendera Tauhid dengan bendera HTI. Tentu perbuatan mereka ini justru melecehkan kalimat tauhid, bukan menjaga dan menyelamatkannya sperti klaim mereka.
Alasan mereka ini juga bertentangan dengan apa yang mereka katakan, bahwa Banser tidak sengaja melakukannnya atau tidak ada maksud melakukannya. Menurut mereka kejadian ini bersifat spontanitas karena emosi. Bagaimana mungkin dikatakan spontanitas atau tidak sengaja, sedangkan mereka bermaksud membakarnya untuk menyelamatkan kalimat tauhid agar tidak terinjak. Bahkan pembakaran ini dipertontonkan kepada publik dengan sorakan bangga dan senang. Ini menunjukkan bahwa mereka sengaja melakukannnya, bukan spontanitas.
Menyamakan bendera tauhid dengan alquran yang tercecer tidaklah tepat. Seandainya mereka ingin menyelamatkan kalimat tauhid agar tidak terinjak, maka tidak perlu dengan membakarnya. Seharusnya, cukup melipat dan menyimpannya di tempat yang aman. Pembakaran bendera tauhid dengan sengaja dihadapan khalayak ramai, apalagi dengan bangga dan gembira, menunjukkan kebencian dan permusuhan Banser terhadap HTI. Tentu saja perbuatan para anggota Banser tersebut bukan menjaga dan menghormati kalimat tauhid, namun perbuatan mereka ini justru melecehkan kalimat dan bendera tauhid.
Pendapat Para Pakar Hukum Pidana
Ketua Umum Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI), Chandra Purna Irawan seperti yang diberitakan arrahmah.com (23/10/2018) menyatakan bahwa pembakaran bendera tauhid oleh anggota Banser Garut telah memenuhi unsur tindak pidana penodaan agama. Menurutnya, ketentuan Pasal 156a KUHP terdapat dua jenis tindak pidana penodaan agama. Yaitu Pasal 156a huruf a KUHP dan Pasal 156a huruf b KUHP, apabila terpenuhi salah satu bentuk unsur dari huruf a maupun huruf b saja, maka pelakunya sudah dapat dipidana.
Ia memaparkan, unsur pertama yang terpenuhi adalah unsur dengan sengaja. Dalam hal ini, unsurnya cukup ungkapan perasaan yang dapat kita lihat, diikuti dengan perbuatan pembakaran sebagai ungkapan perbuatan dengan sengaja, maka perbuatan pembakaran bendera tauhid telah memenuhi unsur ini. Unsur kedua yang terpenuhi adalah unsur dimuka umum. Perbuatan oknum anggota ormas Banser yang melakukan pembakaran di alun-alun/lapangan, kata dia, sudah memenuhi unsur di muka umum. Karena yang dimaksud muka umum adalah cukup perbuatan itu dapat dilihat atau di dengar oleh pihak ketiga, meskipun hanya satu orang saja atau perbuatannya (diketahui publik) atau tempat itu dapat didatangi orang lain atau diketahui/didengar publik. (www.arrahmah.com, 23/10/2018)
Hal yang sama disampaikan oleh ahli hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Dr. Mudzakkir, SH dalam tulisannya di hidayatullah.com (7/11/2018) berjudul “Membakar Bendera Tauhid Bukan Penodaan Agama?”. Ia menegaskan, bahwa pembakaran bendera tauhid ini telah memenuhi tindakan pidana penodaan agama. Unsur-unsur tindak pidana penodaan agama terhadap perbuatan pembakaran bendera tauhid yaitu a)dengan sengaja di muka umum; b) mengeluarkan perasaan atau melaukukan perbuatan; c)yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.
Menurutnya, analisis unsur-unsur terhadap perbuatan pembakaran bendera tauhid jelas dilakukan secara sengaja yang intinya pelaku pembakar mengetahui bahwa membakar bendera yang bertuliskan tauhid adalah tidak dibolehkan dan perbuatan mengambil korek api dan menyulutkannya pada bendera yang bertuliskan kalimat tauhid dan bahan yang mudah terbakar lainnya adalah perbuatan sengaja membakar bendera tauhid. Perbuatan tersebut dilakukan di lapangan yang dihadiri banyak orang. Melakukan perbuatan membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut sebagai simbol yang saat itu dikibarkan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, dan tulisan tauhid pada bendera tersebut adalah memuat inti dari atau pokok dalam ajaran Islam. (www.hidayatullah.com, 7/11/2018)
Demikian pula yang disampaikan oleh ahli hukum pidana dan sekaligus anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Dr. Abdul Chair Ramadhan seperti yang dikutip hidayatullah.com (25/10/2118). Ia menilai, pembakaran bendera bertuliskan tauhid tauhid oleh oknum Banser NU merupakan tindakan melanggar hukum dan berdampak kepada kebencian. Pembakaran tersebut merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP yang berbunyi “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa yang sengaja di muka umum mengeluarkan perasaaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.” (www.hidayatullah.com, 25/10/2018)
Demikianlah bantahan penulis dan para pakar hukum pidana Indonesia terhadap syubhat-syubhat yang dijadikan alasan untuk membenarkan pembakaran bendera tauhid. Apapun alasan GP Ansor NU dan PBNU serta pendukung mereka, tidak bisa diterima dan dibenarkan, baik secara akal maupun agama. Alasan mereka terkesan menutupi kesalahan Banser dan membohongi publik. Bagaimanapun juga, bendera yang bertuliskan kalimat tauhid wajib dijaga dan dimuliakan. Dengan kalimat tauhid inilah seseorang diakui sebagai muslim. Maka, menjaga dan memuliakan kalimat tauhid merupakan kewajiban seorang muslim dan bukti keislamannya. Selain itu, kalimat tauhid merupakan ruh bagi seorang muslim. Ia hidup dan mati dengannya. Karena itu, membakar bendera tauhid sama saja melecehkan kalimat tauhid dan bendera Rasulullah Saw. Inilah penodaan agama yang sebenarnya..! Wallahu a’lam…!

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara. Doktor bidang Fiqh dan Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia (IIUM).

Membela Bendera Tauhid

 

Oleh: Ust. Dr. M. Yusran Hadi, Lc., MA

Aksi pembakaran bendera tauhid yang bertuliskan kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah oleh para anggota Barisan Ansor Serba Guna Nahdatul Ulama (Banser NU) pada Senin (21/10/2018) bertepatan acara peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat menjadi topik hangat di berbagai media bahkan menjadi viral di medsos beberapa hari ini. Aksi ini dilakukan dengan sengaja dan terang-terangan sambil menyanyikan mars NU Hubbul Wathan dan dipertontonkan kepada publik dengan bangga dan gembira. Parahnya lagi, perbuatan mereka dibela dan diaminkan oleh ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas dan ketua PBNU KH. Prof. Said Agil Siraj.

Tentu saja aksi ini spontan menuai kecaman dan kritikan keras dari umat Islam seluruh Indonesia, bahkan dunia. Aksi ini dianggap telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Tindakan Banser NU ini telah melukai hati seluruh umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Umat Islam dari seluruh elemen dan ormas Islam bersatu mengadakan Aksi Bela Tauhid di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, mengecam para pelakunya dan menuntut agar para pelakunya ditangkap dan dihukum dengan seberat-beratnya. Selain itu, umat Islam mendesak agar Banser NU dan GP Ansor NU dibubarkan dan meminta Banser, GP Ansor dan PBNU meminta maaf kepada umat Islam.

Tulisan ini bertujuan untuk membela tauhid dan agama, melaksanakan kewajiban nahi munkar, dan menasehati dalam kebenaran, untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan keadilan serta perdamaian di negara muslim yang kita cintai ini. Penulis adalah seorang muslim yang masih punya tauhid dan iman terpanggil untuk membela tauhid. Agar menjadi saksi dihari Kiamat nanti bahwa penulis telah melakukan pembelaan terhadap tauhid.

*Kewajiban Membela Tauhid*

Sebagai seorang muslim, penulis mengecam aksi pembakaran bendera tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Perbuatan ini tidak bisa ditolerir. Pembakaran bendera tauhid sama saja melecehkan kalimat Tauhid dan bendera Rasulullah Saw. Penulis tidak rela kalimat dan bendera tauhid dilecehkan. Penulis tidak rela agama ini dilecehkan.

Setiap muslim pasti marah ketika kalimat tauhid dan bendera Rasulullah Saw dilecehkan. Imannya pasti terpanggil untuk membela tauhid. Pembelaan bendera tauhid ini merupakan konsekuensi dan tuntutan iman dan tauhid itu sendiri. Jika seorang muslim tidak marah dan tidak benci atas kelakuan Banser ini, bahkan mendukungnya, berarti imannya sudah bermasalah. Bisa jadi imannya sudah terkena virus liberalisme yang telah mematikan imannya atau sudah “sakit” karena maksiat sehingga tidak ada respon dan sensitivitas sedikitpun untuk membela tauhid dan agama Allah Swt.

Dalam sirah Rasulullah saw, fenomena penghinaan terhadap Islam sering muncul dari orang-orang Yahudi dan Munafik saja. Terhadap orang yang menghina dirinya, Rasulullah Saw masih bisa memaafkannya. Namun terhadap orang yang menghina Islam, beliau tidak memaafkan, bahkan bertindak tegas. Hampir semua tindakan penghinaan tersebut dihukum mati atau diperangi oleh Rasulullah Saw. Begitu pula sikap para sahabat terhadap penghina Islam, mereka tidak memaafkan dan bersikap tegas. Bahkan ada kasus salah seorang sahabat yaitu Umair bin ‘Adi yang langsung membunuh seorang wanita menghina Nabi Saw tanpa menanyakan kepada Rasulullah saw. Namun ketika tindakan tersebut dilaporkan kepada Rasulullah saw, beliaupun menyetujuinya bahkan kemudian berkata kepada para sahabat, “Barangsiapa yang ingin melihat orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya maka lihatlah Umair bin ‘Adi.” (Ibnu Taimiyyah, Ash-Sharim Al-Maslul, hal. 95).

Kasus penghinaan terhadap Islam lainnya yaitu penghinaan raja kerajaan Persia Kisra terhadap Islam dengan merobek-robek surat Rasulullah Saw yang tertuliskan kalimat tauhid. Rasulullah Swt mengirimkan surat kepadanya untuk mengajaknya masuk Islam. Namun surat Rasul saw dirobeknya. Pelecehan terhadap Allah Swt ini ditanggapi oleh Nabi Saw dengan tegas yaitu pernyataa perang terhadap kerajaan Persia dan mendoakan kehancuran kerajaan Persia seperti Kisra merobek-robek surat Rasul Saw.

Seorang muslim wajib bersikap al-wala’ dan al-bara’. Perbuatan Al-wala’ dan al-bara’ merupakan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Al-Wala’ (loyalitas) adalah sikap mencintai, membela dan menghormati. Seorang muslim wajib berwala’ kepada Allah Swt, Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya dan para penolong agama-Nya dari orang-orang mukmin. Sebaliknya seorang muslim haram berwala’ kepada orang-orang kafir dan munafik. Adapun al-Bara’ adalah sikap menjauhi, berlepas diri dan memusuhi setelah memberikan alasan dan peringatan. Seorang muslim wajib bersikap al-bara’ terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Allah Swt dan Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya dan Sunnah Rasul-nya dan para penolong-Nya dari orang-orang mukmin. Persoalan al-wala’ dan al-bara’ ini termasuk persoalan aqidah dan tauhid. Maka belum beriman seseorang sebelum dia beraqidah al-wala’ dan al-bara’.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita marah dan membenci perbuatan para anggota banser NU dan para pendukungnya. Mereka telah melecehkan Allah Swt dan Rasul-Nya dengan sengaja dan terang-terangan. Pelecehan seperti ini hanya dilakukan oleh orang kafir dan munafik saja. Mustahil seorang muslim melakukannya. Konsekuensi hukumnya berat bagi pelakunya. Hukumnya murtad (kafir) sesuai dengan kesepakatan para ulama. Menurut ijma’ para ulama, perbuatan menghina atau melecehkan Allah Swt, Al-Quran, Nabi Saw dan Sunnahnya, hukumnya murtad. Hukuman bagi orang yang murtad adalah dibunuh. Yang melaksanakan hukuman bunuh ini adalah pemimpin atau hakim.

Oleh karena itu, kita wajib membela kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid. Jika kita diam dan tidak marah, sama saja kita meridhai atau mendukung perbuatan mereka. Sikap meridhai atau mendukung kemungkaran sama hukumnya dengan melakukan kemungkaran tersebut. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk mencegah kemungkaran atau maksiat sesuai kemampuan sebagai bukti keimanannya.

Paling tidak, membenci kemungkaran tersebut. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya; jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya; dan yang demikian itu tingkatan iman yang paling lemah.” (HR. Muslim).

Pembakaran kalimat tauhid oleh Banser NU merupakan kemungkaran atau maksiat yang dapat mengundang azab Allah Swt berupa bencana alam yang akan menimpa semua orang, baik para pelaku maksiat maupun orang-orang shalih. Oleh karena itu tidak bisa ditolerir. Selama ini, Indonesia selalu ditimpakan musibah oleh Allah Swt berupa bencana alam seperti gempa, tsunami, gunung meletus, dan sebagainya. Maka jangan tambah lagi bencana lagi dengan kemaksiatan Banser NU ini. Sepatutnya kita ambil pelajaran dari berbagai bencana itu, dengan bertaubat dan meninggalkan maksiat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bencana itu datang dari Allah Swt sebagai azab dan peringatan-Nya karena maksiat yang merajalela seperti dijelaskan oleh Alquran dan Hadits-Hadits Nabi Saw.

Sikap kita sebagai orang yang bertauhid terhadap pembakaran bendera tauhid bukan hanya sekedar persoalan melaksanakan kewajiban nahi munkar terhadap perbuatan munkar yang dilakukan oleh Banser NU ini, namun kita harus bersikap lebih dari itu yakni membela tauhid. Persoalan ini sudah menyangkut keimanan dan tauhid kita. Setiap orang yang bertauhid pasti marah dan melakukan pembelaan terhadap kalimat dan bendera tauhid.

Sikap ini menunjukkan bahwa dia orang yang beriman dan bertauhid. Namun jika sebaliknya dia hanya diam atau tidak marah atau tidak melakukan pembelaan terhadap bendera tauhid berarti iman dan tauhidnya sudah mati atau sakit. Maka, jika kita masih punya iman dan tauhid, pasti kita membela kalimat dan bendera tauhid.

*Pembelaan Sahabat*

Jika kita merujuk kepada sirah Rasulullah saw dan para sahabatnya, maka kita menemukan sikap para sahabat yang agung dan mulia dalam melakukan penjagaan dan pembelaan terhadap bendera tauhid atau bendera Rasul Saw. Mereka sangat mencintai dan mengagungkan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Begitu agungnya bendera tauhid sehingga mereka siap mati syahid dalam membela dan mempertahankan bendera tauhid. Komitmen mereka terhadap tauhid dan Islam telah dibuktikan dan dicatat dalam sejarah.

Di antaranya, kisah Mush’ab bin Umair dalam perang uhud pada tahun ke 3 Hijriah atau 625 Masehi. Pada perang ini Rasullah saw menyerahkan bendera tauhid kepada Mush’ab bin Umair. Dalam perang ini, Mush’ab berjuang luar biasa biasa. Dia berperang sebagai pahlawan mukmin demi membela akidahnya dan panji yang haq yang dibawanya. Orang-orang musyrikin menyerang menuju pembawa panji Rasul saw ini. Salah seorang dari mereka menebas tangan kanan Mush’ab sampai putus. Kemudian Mush’ab mengambil panji dengan tangan kirinya agar tidak jatuh ketanah. Maka musuh itu kembali menebas tangan kirinya sampai putus. Maka dia merangkul panji dengan kedua lengannya ke dadanya. Kemudian orang terlaknat itu menyerang lagi untuk ketiga kalinya dengan tombak hingga tembus. Maka Mush’ab tersungkur ke tanah dan mati syahid. Lalu bendera ini diambil oleh Suwaibith bin Sa’ad bin Harmalah dari Bani abdud Dar dan Abu Ar-Rum bin Umair, saudara Mush’ab. Bendera ini terus dipegang olehnya hingga ia masuk ke Madinah saat kaum muslimin pulang.

Kisah mempertahankan bendera tauhid paling fenomenal terjadi pada saat perang mu’tah di tahun 8 Hijriah atau tahun 629 Masehi. Pada waktu itu kaum muslimin berjumlah 3 ribu orang melawan pasukan Romawi Nasrani 100 ribu orang ditambah dengan pasukan kabilah-kabilah Arab Nasrani sebanyak 100 ribu orang. Dengan demikian, jumlah pasukan musuh 200 ribu orang. Rasulullah Saw dengan tegas memerintahkan para sahabat menjaga bendera Tauhid harus tetap berkibar sampai umat Islam mencapai kemenangan.

Rasulullah saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan pemegang bendera tauhid. Beliau berpesan kepada kaum muslimin, jika Zaid syahid maka posisinya harus digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far juga syahid maka posisinya digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah juga syahid, maka kaum muslimin harus tetap mempertahankan bendera Tauhid sampai titik darah penghabisan.

Perangpun berkecamuk sangat dasyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera tauhid dan keberanian para panglima Islam dalam memerangi musuh, hingga mati syahidlah panglima pertama Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu. Lalu bendera tauhid diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus, lalu bendera dibawa dengan tangan kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh syahid. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniaannya dalam menyerang musuh.

Kemudian bendera tauhid dibawa oleh panglima ketiga Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu. Beliau berperang dengan gagah berani hingga mati syahid menyusul kedua rekannya. Agar bendera tauhid tidak jatuh ke tangan musuh, maka kaum muslimin membawa bendera tersebut dan bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Mereka bersepakat mengangkat Khalid bin walid sebagai panglima dan pembawa bendera tauhid. Dengan semangat yang berkobar, Khalid bin Walid maju ke tengah medan peperangan, mengamuk membunuh musuh dengan gagah berani. Sungguh hatinya ingin mati syahid seperti ketiga saudaranya yang membela bendera tauhid. Akhirnya dengan pertolongan Allah Swt, kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan ini.

Tampak mukjizat kenabian, tatkala Rasulullah saw menyampaikan kepada para sahabat di Madinah tentang kematian tiga panglimanya. Rasulullah saw naik mimbar dalam keadaan menetes air mata seraya berkata, “Bendera Tauhid dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Ibnu Rawahah dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Saifullah (pedang Allah yakni Khalid bin Walid) hingga Allah menangkan kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari)

Begitulah kisah para sahabat yang agung dan mulia dalam menjaga dan membela bendera tauhid yang merupakan bendera Rasul saw. Mereka selalu menjaga dan memuliakan bendera tauhid dalam segala kondisi, baik dalam peperangan maupun dalam kondisi damai. Jika ada orang yang melecehkan dan melarang bendera tauhid, maka mereka segera membela dan mempertahankannya mati-matian. Ini menunjukkan bahwa bendera tauhid itu mempunyai kedudukan yang agung dan mulia dalam Islam. Selain itu, menunjukkan kuatnya iman dan tauhid para sahabat serta komitmen mereka dalam membela Islam.

Akhirnya, kita meminta kepada para pelaku pembakaran bendera tauhid untuk bertaubat dan meminta maaf kepada umat Islam. Meskipun demikian, para pelaku harus tetap dihukum dengan seberat-beratnya agar memberi pelajaran dan efek jera kepada mereka dan orang lain sehingga tidak terulang lagi kasus seperti ini. Tindakan mereka ini telah meresahkan dan menimbulkan kemarahan umat Islam seluruh Indonesia bahkan dunia sehingga berpotensi menganggu stabilitas dan perdamaian bangsa dan negara.

*Penulis* adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara. Doktor bidang Fiqh & Ushul Fiqh, Internasional Islamic University Malaysia (IIUM)

LARANGAN MENGUMPAT DAN MEMFITNAH DALAM ISLAM

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Perkataan fitnah berasal dari bahasa Arab; alfitnah yang bemakna: ujian dan cobaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) fitnah diartikan sebagai; perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang, itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji. Memfitnah berarti menjelekkan nama orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya yang berefek negatif dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Fitnah berbeda dengan nasehat, tujuan nasehat adalah agar orang tidak melakukan kesalahan serupa di masa yang akan datang. Umpamanya ada orang yang berbuat salah lalu kesalahan tersebut diperbaiki dengan lisan atau dengan tulisan dengan tujuan agar sipelaku kesalahan dapat berubah dan pihak lain dapat mengambil ibrah untuk tidak melakukan kesalahan berikutnya.
Dalam ensiklopedia bebas: Wikipedia, disebutkan bahwa Fitnah atau dergama merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Sementara dalam Al-Qur’an kata fitnah memiliki banyak arti antaranya: pertama, cobaan dan ujian (Al-Ankabuut: 2). Kedua, Memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya (Al-Maaidah: 49). Ketiga, siksa (An-Nahl: 110). Keempat, Penyesatan (Al-Maaidah: 41). Kelima, gila (Al-Qalam: 6), dan seterusnya.
Sementara umpat sebagaimana tertera dalam KBBI merupakan perkataan yang keji (kotor dan sebagainya) yang diucapkan karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya). Sedangkan mengumpat mengandung makna memburuk-burukkan orang; mengeluarkan kata-kata keji (kotor) karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya); ia juga bermakna mencerca; mencela keras; mengutuk orang karena merasa diperlakukan kurang baik; memaki-maki orang dan seumpamanya.

KATEGORI UMPAT DAN FITNAH
Dari segi penafsiran bahasa dan istilah antara umpat dan fitnah itu nampak memiliki makna serumpun yang tidak jauh berbeda. Namun kalau mau dispesifikasikan lebih rinci lagi sebenarnya dari prilaku umpat dan fitnah tersebut dapat diperinci lagi menjadi tiga kategori, yaitu: (1). Al-Ghībah, ialah menceritakan atau mengatakan sesuatu yang betul terjadi terhadap seorang muslim di belakangnya yang apabila sampai berita tersebut ketelinganya ia merasa sakit hati. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW riwayat Muslim yang artinya:
“Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya: “Tahukah kalian apa itu ghibah”, para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Kemudian Nabi berucap: “mengatakan sesuatu kepada saudaramu yang dibencinya” salah seorang sahabat menanyakan lagi: “kalau yang saya katakan itu ada padanya”, Nabi berucap lagi: “Kalau yang kamu katakan itu ada padanya dan ia sakit hati karenya, itulah namanya ghibah, kalau yang kamu katakan itu tidak ada padanya, kamu sudah berdusta (memfitnahnya)”.
Jadi mengatakan sesuatu yang ada pada saudara kita seperti saudara kita itu bertubuh pendek, panjang, kurus, dan gemuk, lalu kita sebutnya si pendek, si panjang, si kurus, sigemuk yang menyakitkan hatinya termasuklah dalam kategori ghibah yang dilarang Rasulullah SAW. Apalagi kalau sampai kita dengan sengaja mempromosikan kekurangan yang ada pada dirinya untuk memalukannya, yang demikian itu sangat tidak dibolehkan dalam Islam.
(2). Al-Ifki, yaitu apabila seseorang mendapatkan satu berita fitnah yang tidak jelas asal muasalnya lalu langsung disampaikan ke pihak lain tanpa ada sumber rujukan yang shahih sehingga berita tersebut beruntun sampai akhir zaman tidak ada kepastian sumbernya. Zaman sekarang berita semacam ini sering hadir melalui media sosial seperti WhatsApp (WA), dari satu penerima berita dikirim ke group WA lainnya sehingga ia menembusi ribuan malah jutaan penerima yang tidak terkontrol adanya. Untuk menjaga ukhuwwah Islamiyah perkembangan al-Ifki semacam ini perlu dikontrol dan difilter sehingga menjauh dari umpat dan fitnah serta ghibah.
(3). Al-Buhtān, adalah menceritakan sesuatu prilaku buruk yang tidak ada pada diri orang yang diceritakannya sehingga cerita tersebut dapat berefek negatif bagi orang yang diceritakan tersebut. Satu hadis dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari terkait dengan bau busuk berbunyi, yang terjemahannya: “tahukah kalian semuanya bau apakah ini?”, shahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”, Nabi bersabda: “ini adalah baunya orang-orang yang mengumpat orang-orang beriman”.
Hadis dari Ali bin Abi Thalib berkaitan dengan aib sesama muslim berbunyi yang artinya: “jauhilah kamu semuanya dari membicarakan tentang orang lain, karena sesungguhnya dalam pembicaraan tersebut terdapat tiga bencana; pertama, do’anya tidak akan dikabulkan; kedua, kebaikannya tidak akan diterima; ketiga, keburukan atau kehinaannya bertambah-tambah”. Berhubungan dengan kasus tersebut Rasulullah SAW dalam hadis dari Anas bin Malik bersabda yang artinya: siapasaja yang membicarakan aib saudaranya sesama manusia, maka nanti di hari kiamat Allah akan menukarkan saluran kencingnya kepada arah saluran kotorannya (duburnya).

KENAPA ISLAM MELARANG MENGUMPAT DAN MEMFITNAH
Allah SWT berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12:

yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
Ada tiga riwayat yang penulis temui berkenaan dengan asbab nuzul potongan ayat: “wa la yaghtab ba’dhukum ba’dha” dalam al-Hujurat 12 tersebut adalah; riwayat Imam Al-Suyuti, Ibnu Munzir, dan Ibnu Abbas. Ketiga riwayat tersebut menyatakan bahwa penyebab turun ayat tersebut berkaitan dengan sosok Salman Al-Farisi. Suatu ketika selepas makan Salman tertidur nyenyak dan terdengar bunyi mendengkur dari mulutnya, seseorang dan sebahagian orang yang mendengarnya menceritakan kepada orang lain tentang prihal tersebut, maka turunlah ayat terebut. Menurut Ibnu Abbas; ada dua orang yang berkunjung kerumah Salman Al-Farisi yang miskin tersebut seraya meminta makanan, tetapi Salman tidak memilikinya, lalu dua orang tersebut meminta Salman untuk meminta sedikit makanan pada Rasulullah SAW. Ketika Salman pergi meminta makanan pada Rasulullah SAW dua orang tersebut mengumpat Salman di rumahnya. Mendengar permintaan Salman tersebut Rasulullah berucap: tidak perlu lagi makanan untuk dua orang tersebut karena keduanya sudah kenyang memakan daging, pulang dan katakan demikian pada keduanya ujar Nabi. Lalu Salman kembali kerumahnya dan berucap demikian kepada dua orang tetamunya yang membuat keduanya heran, lantas keduanya menjumpai Rasulullah seraya berucap: kami tidak makan apa-apa di rumah Salman ya Rasul Allah. Nabi menjawab: engkau sudah kenyang memakan daging saudaramu Salman dengan mengumpatnya ketika Salman menjumpai saya barusan tadi. Pada suasana demikianlah Allah turunkan ayat tersebut.
Itulah kenapa Allah mengharamkan mengumpat dan memfitnah bagi orang-orang muslim dan mukmin. Walaupun tidak sedikit muslimin dan mukminin yang lupa atau sengaja melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah semestinya kita menjaga lidah, menjaga mulut, dan menjaga ukhuwwah Islamiyah sesama kita demi wujudnya perpaduan ummah dan kekuatan ummah yang dapat mempertahankan eksistensi Islam dan muslimin. Kalau ada orang-orang yang dengan sadar menyesatkan orang lain, mendiskreditkan orang lain, menyalahkan orang lain, menyudutkan orang lain, memfitnah dan mengumpat orang lain seperti yang tengah terjadi di merata tempat dalam masyarakat Islam hari ini maka segera hentikan karena itu tidak hanya memperoleh dosa melainkan ikut juga menghancurkan Islam dan ummatnya.
Ketika kita mendapatkan orang yang suka mengumpat dan memfitnah atau mengghibah saudaranya seiman seagama, ingatkan mereka akan kasus Salman Al-Farisi yang diejek dan difitnah saudaranya sehingga datang teguran Allah kepadanya agar dia selamat dari ancaman Allah yang sangat dahsyat akibat fitnah, umpat dan ghibah tersebut.

 

Penulis adalah (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry).

Membela Bendera Tauhid

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Aksi pembakaran bendera tauhid yang bertuliskan kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah oleh para anggota Barisan Ansor Serba Guna Nahdatul Ulama (Banser NU) pada Senin (21/10/2018) bertepatan acara peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat menjadi topik hangat di berbagai media bahkan menjadi viral di medsos beberapa hari ini. Aksi ini dilakukan dengan sengaja dan terang-terangan sambil menyanyikan mars NU Hubbul Wathan dan dipertontonkan kepada publik dengan bangga dan gembira. Parahnya lagi, perbuatan mereka dibela dan diaminkan oleh ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas dan ketua PBNU KH. Prof. Said Agil Siraj.
Tentu saja aksi ini spontan menuai kecaman dan kritikan keras dari umat Islam seluruh Indonesia, bahkan dunia. Aksi ini dianggap telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Tindakan Banser NU ini telah melukai hati seluruh umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Umat Islam dari seluruh elemen dan ormas Islam bersatu mengadakan Aksi Bela Tauhid di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, mengecam para pelakunya dan menuntut agar para pelakunya ditangkap dan dihukum dengan seberat-beratnya. Selain itu, umat Islam mendesak agar Banser NU dan GP Ansor NU dibubarkan dan meminta Banser, GP Ansor dan PBNU meminta maaf kepada umat Islam.
Tulisan ini bertujuan untuk membela tauhid dan agama, melaksanakan kewajiban nahi munkar, dan menasehati dalam kebenaran, untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan keadilan serta perdamaian di negara muslim yang kita cintai ini. Penulis adalah seorang muslim yang masih punya tauhid dan iman terpanggil untuk membela tauhid. Agar menjadi saksi dihari Kiamat nanti bahwa penulis telah melakukan pembelaan terhadap tauhid.
Kewajiban Membela Tauhid
Sebagai seorang muslim, penulis mengecam aksi pembakaran bendera tauhid laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Perbuatan ini tidak bisa ditolerir. Pembakaran bendera tauhid sama saja melecehkan kalimat Tauhid dan bendera Rasulullah Saw. Penulis tidak rela kalimat dan bendera tauhid dilecehkan. Penulis tidak rela agama ini dilecehkan.

Setiap muslim pasti marah ketika kalimat tauhid dan bendera Rasulullah Saw dilecehkan. Imannya pasti terpanggil untuk membela tauhid. Pembelaan bendera tauhid ini merupakan konsekuensi dan tuntutan iman dan tauhid itu sendiri. Jika seorang muslim tidak marah dan tidak benci atas kelakuan Banser ini, bahkan mendukungnya, berarti imannya sudah bermasalah. Bisa jadi imannya sudah terkena virus liberalisme yang telah mematikan imannya atau sudah “sakit” karena maksiat sehingga tidak ada respon dan sensitivitas sedikitpun untuk membela tauhid dan agama Allah Swt.
Dalam sirah Rasulullah saw, fenomena penghinaan terhadap Islam sering muncul dari orang-orang Yahudi dan Munafik saja. Terhadap orang yang menghina dirinya, Rasulullah Saw masih bisa memaafkannya. Namun terhadap orang yang menghina Islam, beliau tidak memaafkan, bahkan bertindak tegas. Hampir semua tindakan penghinaan tersebut dihukum mati atau diperangi oleh Rasulullah Saw. Begitu pula sikap para sahabat terhadap penghina Islam, mereka tidak memaafkan dan bersikap tegas. Bahkan ada kasus salah seorang sahabat yaitu Umair bin ‘Adi yang langsung membunuh seorang wanita menghina Nabi Saw tanpa menanyakan kepada Rasulullah saw. Namun ketika tindakan tersebut dilaporkan kepada Rasulullah saw, beliaupun menyetujuinya bahkan kemudian berkata kepada para sahabat, “Barangsiapa yang ingin melihat orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya maka lihatlah Umair bin ‘Adi.” (Ibnu Taimiyyah, Ash-Sharim Al-Maslul, hal. 95).

Kasus penghinaan terhadap Islam lainnya yaitu penghinaan raja kerajaan Persia Kisra terhadap Islam dengan merobek-robek surat Rasulullah Saw yang tertuliskan kalimat tauhid. Rasulullah Swt mengirimkan surat kepadanya untuk mengajaknya masuk Islam. Namun surat Rasul saw dirobeknya. Pelecehan terhadap Allah Swt ini ditanggapi oleh Nabi Saw dengan tegas yaitu pernyataa perang terhadap kerajaan Persia dan mendoakan kehancuran kerajaan Persia seperti Kisra merobek-robek surat Rasul Saw.
Seorang muslim wajib bersikap al-wala’ dan al-bara’. Perbuatan Al-wala’ dan al-bara’ merupakan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Al-Wala’ (loyalitas) adalah sikap mencintai, membela dan menghormati. Seorang muslim wajib berwala’ kepada Allah Swt, Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya dan para penolong agama-Nya dari orang-orang mukmin. Sebaliknya seorang muslim haram berwala’ kepada orang-orang kafir dan munafik. Adapun al-Bara’ adalah sikap menjauhi, berlepas diri dan memusuhi setelah memberikan alasan dan peringatan. Seorang muslim wajib bersikap al-bara’ terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Allah Swt dan Rasul-Nya, agama-Nya, kitab-Nya dan Sunnah Rasul-nya dan para penolong-Nya dari orang-orang mukmin. Persoalan al-wala’ dan al-bara’ ini termasuk persoalan aqidah dan tauhid. Maka belum beriman seseorang sebelum dia beraqidah al-wala’ dan al-bara’.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita marah dan membenci perbuatan para anggota banser NU dan para pendukungnya. Mereka telah melecehkan Allah Swt dan Rasul-Nya dengan sengaja dan terang-terangan. Pelecehan seperti ini hanya dilakukan oleh orang kafir dan munafik saja. Mustahil seorang muslim melakukannya. Konsekuensi hukumnya berat bagi pelakunya. Hukumnya murtad (kafir) sesuai dengan kesepakatan para ulama. Menurut ijma’ para ulama, perbuatan menghina atau melecehkan Allah Swt, Al-Quran, Nabi Saw dan Sunnahnya, hukumnya murtad. Hukuman bagi orang yang murtad adalah dibunuh. Yang melaksanakan hukuman bunuh ini adalah pemimpin atau hakim.
Oleh karena itu, kita wajib membela kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid. Jika kita diam dan tidak marah, sama saja kita meridhai atau mendukung perbuatan mereka. Sikap meridhai atau mendukung kemungkaran sama hukumnya dengan melakukan kemungkaran tersebut. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk mencegah kemungkaran atau maksiat sesuai kemampuan sebagai bukti keimanannya. Paling tidak, membenci kemungkaran tersebut. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya; jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya; dan yang demikian itu tingkatan iman yang paling lemah.” (HR. Muslim).
Pembakaran kalimat tauhid oleh Banser NU merupakan kemungkaran atau maksiat yang dapat mengundang azab Allah Swt berupa bencana alam yang akan menimpa semua orang, baik para pelaku maksiat maupun orang-orang shalih. Oleh karena itu tidak bisa ditolerir. Selama ini, Indonesia selalu ditimpakan musibah oleh Allah Swt berupa bencana alam seperti gempa, tsunami, gunung meletus, dan sebagainya. Maka jangan tambah lagi bencana lagi dengan kemaksiatan Banser NU ini. Sepatutnya kita ambil pelajaran dari berbagai bencana itu, dengan bertaubat dan meninggalkan maksiat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bencana itu datang dari Allah Swt sebagai azab dan peringatan-Nya karena maksiat yang merajalela seperti dijelaskan oleh Alquran dan Hadits-Hadits Nabi Saw.
Sikap kita sebagai orang yang bertauhid terhadap pembakaran bendera tauhid bukan hanya sekedar persoalan melaksanakan kewajiban nahi munkar terhadap perbuatan munkar yang dilakukan oleh Banser NU ini, namun kita harus bersikap lebih dari itu yakni membela tauhid. Persoalan ini sudah menyangkut keimanan dan tauhid kita. Setiap orang yang bertauhid pasti marah dan melakukan pembelaan terhadap kalimat dan bendera tauhid. Sikap ini menunjukkan bahwa dia orang yang beriman dan bertauhid. Namun jika sebaliknya dia hanya diam atau tidak marah atau tidak melakukan pembelaan terhadap bendera tauhid berarti iman dan tauhidnya sudah mati atau sakit. Maka, jika kita masih punya iman dan tauhid, pasti kita membela kalimat dan bendera tauhid.
Pembelaan Sahabat Terhadap Bendera Tauhid
Jika kita merujuk kepada sirah Rasulullah saw dan para sahabatnya, maka kita menemukan sikap para sahabat yang agung dan mulia dalam melakukan penjagaan dan pembelaan terhadap bendera tauhid atau bendera Rasul Saw. Mereka sangat mencintai dan mengagungkan bendera tauhid (bendera Rasulullah Saw). Begitu agungnya bendera tauhid sehingga mereka siap mati syahid dalam membela dan mempertahankan bendera tauhid. Komitmen mereka terhadap tauhid dan Islam telah dibuktikan dan dicatat dalam sejarah.

Di antaranya, kisah Mush’ab bin Umair dalam perang uhud pada tahun ke 3 Hijriah atau 625 Masehi. Pada perang ini Rasullah saw menyerahkan bendera tauhid kepada Mush’ab bin Umair. Dalam perang ini, Mush’ab berjuang luar biasa biasa. Dia berperang sebagai pahlawan mukmin demi membela akidahnya dan panji yang haq yang dibawanya. Orang-orang musyrikin menyerang menuju pembawa panji Rasul saw ini. Salah seorang dari mereka menebas tangan kanan Mush’ab sampai putus. Kemudian Mush’ab mengambil panji dengan tangan kirinya agar tidak jatuh ketanah. Maka musuh itu kembali menebas tangan kirinya sampai putus. Maka dia merangkul panji dengan kedua lengannya ke dadanya. Kemudian orang terlaknat itu menyerang lagi untuk ketiga kalinya dengan tombak hingga tembus. Maka Mush’ab tersungkur ke tanah dan mati syahid. Lalu bendera ini diambil oleh Suwaibith bin Sa’ad bin Harmalah dari Bani abdud Dar dan Abu Ar-Rum bin Umair, saudara Mush’ab. Bendera ini terus dipegang olehnya hingga ia masuk ke Madinah saat kaum muslimin pulang.

Kisah mempertahankan bendera tauhid paling fenomenal terjadi pada saat perang mu’tah di tahun 8 Hijriah atau tahun 629 Masehi. Pada waktu itu kaum muslimin berjumlah 3 ribu orang melawan pasukan Romawi Nasrani 100 ribu orang ditambah dengan pasukan kabilah-kabilah Arab Nasrani sebanyak 100 ribu orang. Dengan demikian, jumlah pasukan musuh 200 ribu orang. Rasulullah Saw dengan tegas memerintahkan para sahabat menjaga bendera Tauhid harus tetap berkibar sampai umat Islam mencapai kemenangan
Rasulullah saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan pemegang bendera tauhid. Beliau berpesan kepada kaum muslimin, jika Zaid syahid maka posisinya harus digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far juga syahid maka posisinya digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah juga syahid, maka kaum muslimin harus tetap mempertahankan bendera Tauhid sampai titik darah penghabisan.
Perangpun berkecamuk sangat dasyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera tauhid dan keberanian para panglima Islam dalam memerangi musuh, hingga mati syahidlah panglima pertama Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu. Lalu bendera tauhid diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus, lalu bendera dibawa dengan tangan kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh syahid. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniaannya dalam menyerang musuh.

Kemudian bendera tauhid dibawa oleh panglima ketiga Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu. Beliau berperang dengan gagah berani hingga mati syahid menyusul kedua rekannya. Agar bendera tauhid tidak jatuh ke tangan musuh, maka kaum muslimin membawa bendera tersebut dan bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Mereka bersepakat mengangkat Khalid bin walid sebagai panglima dan pembawa bendera tauhid. Dengan semangat yang berkobar, Khalid bin Walid maju ke tengah medan peperangan, mengamuk membunuh musuh dengan gagah berani. Sungguh hatinya ingin mati syahid seperti ketiga saudaranya yang membela bendera tauhid. Akhirnya dengan pertolongan Allah Swt, kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan ini.
Tampak mukjizat kenabian, tatkala Rasulullah saw menyampaikan kepada para sahabat di Madinah tentang kematian tiga panglimanya. Rasulullah saw naik mimbar dalam keadaan menetes air mata seraya berkata, “Bendera Tauhid dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Ibnu Rawahah dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera dibawa oleh Saifullah (pedang Allah yakni Khalid bin Walid) hingga Allah menangkan kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari)

Begitulah kisah para sahabat yang agung dan mulia dalam menjaga dan membela bendera tauhid yang merupakan bendera Rasul saw. Mereka selalu menjaga dan memuliakan bendera tauhid dalam segala kondisi, baik dalam peperangan maupun dalam kondisi damai. Jika ada orang yang melecehkan dan melarang bendera tauhid, maka mereka segera membela dan mempertahankannya mati-matian. Ini menunjukkan bahwa bendera tauhid itu mempunyai kedudukan yang agung dan mulia dalam Islam. Selain itu, menunjukkan kuatnya iman dan tauhid para sahabat serta komitmen mereka dalam membela Islam.

Akhirnya, kita meminta kepada para pelaku pembakaran bendera tauhid untuk bertaubat dan meminta maaf kepada umat Islam. Meskipun demikian, para pelaku harus tetap dihukum dengan seberat-beratnya agar memberi pelajaran dan efek jera kepada mereka dan orang lain sehingga tidak terulang lagi kasus seperti ini. Tindakan mereka ini telah meresahkan dan menimbulkan kemarahan umat Islam seluruh Indonesia bahkan dunia sehingga berpotensi menganggu stabilitas dan perdamaian bangsa dan negara.

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara.

TAUSHIYAH HIJRIYAH 1440/2018

 

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Banda Aceh, 1 Muharram 1440 H/11 September 2018

Background
Masuknya tahun baru hijriyah pada hari Selasa 11 September 2018 merupakan pergantian tahun 1439 ke tahun 1440 Hijriyah. Pergantian tahun tersebut membuktikan bahwa dunia sudah semakin tua, kita sudah bertambah umur satu tahun lagi, bertambah umur itu bermakna kita sudah semakin tua, bertambah tua mengandung makna kita sudah dekat dengan sebuah kematian dan itu berarti kita sudah semakin dekat dengan kubur. Karenanya tidak ada hal yang harus kita banggakan dalam hidup dan kehidupan ini dengan masuknya tahu baru setiap tahun selain daripada memperbanyak syukur kepada Allah atas rahmat umur yang diberikan dan meningkatkan keimanan, ketaqwaan serta amalan saliha kepadaNya sebagai bukti kesyukuran.

Sangat amat keliru bagi seorang muslim yang suka berpesta pora ketika terjadi pergantian tahun dalam kehidupan mereka. Apalagi kalau pesta pora tersebut disertai dengan prilaku jahiliyyah seperti dansa-dansi lelaki dengan perempuan, minum khamar, berjudi, bermain musik ala dunia barat dan seumpamanya. Semua itu merupakan perbuatan yang dilarang Allah SWT sebagai pencipta dan pemilik semua ummat manusia. Oleh karenanya dalam menyambut tahun baru 1440 Hijriyah ini marilah semua muslim menghayati kembali akan hakikat sebuah kehidupan yang diberikan Allah secara percuma kepada kita semua. Dari kehidupan itu Allah sertai dengan kenikmatan hidup berupa makanan, minuman, ilmu pengetahuan, persaudaraan, perjalanan, dan segalanya.

Ketika semua kita memahami dan mau memaknai akan semua rahmat dan nikmat dari Allah tersebut maka kita tidak boleh tidak untuk tunduk patuh kepada Allah semata-mata dalam kehidupan ini berkaitan dengan jalur kehidupan yang kita lalui. Demikianlah langkah yang telah diambil oleh para shahabat Rasulullah SAW dalam periode awal perjuangan Islam di kota Makkah dahulu manakala semua muslim termasuk Nabi terpaksa menetap di sudut kota Makkah bernama Syi’ab Shaffa. Di sini ummat Islam hidup tanpa komunikasi dengan luar Syi’ab Shaffa, mereka juga tiada jalur masuk makanan dan minuman sehingga kehidupannya menjadi lapar dan dahaga.

Dalam kondisi seumpama itulah Rasulullah SAW memerintahkan sebahagian ummatnya berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) dalam upaya mempertahankan kehidupan dan mempertahankan eksistensi Islam.

Hijrah pertama ini terjadi di bulan Rajab pada tahun 616 yang dipimpin Usman bin Affan dengan jumlah anggotanya 18 orang termasuk Ruqayyah, isteri Usman yang juga puteri Rasulullah SAW sendiri. Pada bulan Syawal mereka memperoleh informasi bahwa Umar bin Khattab telah masuk Islam lalu mereka kembali ke Makkah untuk menyambut ke-Islaman Umar.

Tempat domisili kaum muslimin di Syi’ab Shaffa di pinggir kota Makkah semakin hari semakin dikucilkan kafir Quraisy. Hal ini menyulitkan posisi muslim yang serba kekurangan di sana. Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan sejumlah besar muslimin untuk kembali berhijrah ke Ethiopia. 119 muslim-muslimah di bawah pimpinan Jakfar bin Abi Thalib dengan diam-diam berangkat di malam hari memanjat bukit baru Abu Kubais serta memutar menuju pantai Laut Merah, dari bandar Janbuk berlayar menuju Ethiopia. Itulah dia hijrah kedua ke Ethiopia tahun 618 yaitu empat tahun sebelum hijrah besar ke Madinah.

Selebihnya, ketika tiba masanya dan datangnya perintah Allah kepada RasululNya untuk berhijrah besar ke Yatsrib, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar melaksanakan satu pekerjaan yang paling strategis dan paling politis yaitu berhijrah ke Yatsrib yang kemudian beliau menggantikan nama menjadi Madinah. Peristiwa ini terjadi pada 20 September 622 masehi yang kemudian pada hari tersebut Umar bin Khaththab menetapkan awal tahun baru Hijriyah ketika Nabi sudah tiada.

Hijrah Nabi ke Yatsrib tersebut semata-mata untuk membuktikan ketunduk patuhannya kepada Allah semata-mata dalam upaya menyelamatkan Islam, muslim, ‘aqidah Islamiyah, dan berupaya untuk menguasai dunia dengan ‘aqidah Islamiyah. Karena itulah dalam berhijrah Nabi memasang strategi dalam skala paling tinggi sehingga selamat dalam perjalanan, sampai ketujuan, dan gagal dilacak oleh musuh-musuh tuhan. Pada hari hijrah tersebut Nabi tidak langsung menuju yatsrib melainkan berpatah balik kebelakang dan bermalam di Gua Tsur, sebuah taktik dan strategi jitu yang sulit diprediksi keberadaannya oleh para musuh.

Sesampainya di Quba menjelang masuk Yatsrib, Nabi bermalam semalam, mendirikan Masjid yang hari ini bergelar Masjid Quba, melaksanakan shalat Jum’at pertama di dalamnya. Baru kemudian beliau menuju Yatsrib dan tiba di sana dengan selamat dan disambut meriah oleh muslim-muslimah dari kaum anshar penduduk asli Yatsrib dan kaum Muhajirin sebagai pendatang awal dari Makkah ke Yatsrib. Sambutan tersebut menyemarakkan wilayah tersebut seperti kedatangan rembulan pembawa rahmat dan nikmat sebagaimana yang dilantunkan dalam shalawat yang diawali dengan untaian; Thala’at badru ‘alaina mintsani yatiw wada’… dan seterusnya.
Para penunggu Nabi di Yatsrib berlomba-lomba menawarkan rumah, kamar, tempat tinggal, dan jasa lainnya kepada Nabi yang membuat Nabi susah untuk menentukan pilihannya. Namun dasar seorang Nabi dan Rasul kekasih Allah Beliau berucap: “di mana untuku ini berhenti maka di situlah aku akan bermastautin”. Tiba-tiba unta tersebut merebahkan dirinya di hadapan rumah Abu Ayyub Al-Anshari yang di dalamnya terdapat dua anak yatim Sahal dan Suhail, lalu Nabi berucap: “di sinilah saya akan bertemat tinggal”.
Empat strategi penting yang dilakukan Nabi sesampainya di Yatsrib adalah: membangun masjid yang kemudian bernama Masjid Nabawi, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, mewujudkan Shahifah Madinah, dan menggantikan nama Yatsrib dengan Madinah. Pendirian masjid sebagai lambang tauhid dan tempat menghambakan diri kepada Allah, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin sebagai ilustrasi dan deskripsi kekuatan sebuah pasukan Allah, mewujudkan Shahifah Madinah sebagai dasar konstitusi untuk semua hamba Allah di sana, dan pergantian Yatsrib dengan Madinah sebagai upaya pelucutan kesan, imej, dan atribut kekafiran menuju wilayah Islam.

Makna hijrah
Makna hijrah secara bahasa adalah; berpindah, berpaling, meninggalkan, tidak memperdulikan lagi. dalam bahasa Inggeris hijrah diartikan sebagai; emigration, expatriation, exodus, hegira, immigration (to), dan migration. Dalam bahasa Arab kata asal hājara dipadukan dengan kata-kata lain menjadi; hājara minal baladi aw ‘anhu, yang bermakna “berhijrah”, atau berhijrah dari negeri. Secara istilah hijrah adalah berpindah tempat seseorang atau sejumlah orang dari tempat tinggalnya ke tempat tinggal lain untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.
Makna hijrah yang sudah ma’ruf dipahami ummat manusia hari ini adalah; hari permulaan tarikh Islam. Pada hari tersebut Rasulullah SAW meninggalkan Makkah menuju dan bermastautin di Yatsrib (Madinah) ketika Nabi belum berjaya mengislamkan Makkah dan penghuninya. Hari pertama Nabi berangkat dari Makkah adalah 8 Rabi’ul Awal bertepatan dengan 20 September 622 Masehi yang kemudian oleh Umar bin Khaththab menetapkannya sebagai tanggal satu dan tahun pertama Hijriyah (permulaan tarikh Islam).
Terkait dengan pengertian hijrah tersebut maka hijrah itu dapat pula bermakna perobahan sikap hidup seseorang hamba Allah dari kehidupan yang penuh nilai-nilai negatif menuju kehidupan yang disertai oleh nilai-nilai positif. Prilaku kasar berobah menjadi santun, tidak rutin beribadah kepada Allah berobah menjadi rutin dan tekun, hidup penuh dengan nuansa malas berobah menjadi rajin, dan semisalnya merupakan bahagian terpenting dari makna hijrah dalam konteks kehidupan kekinian.
Dengan demikian jadilah hijrah itu sebagai solusi kehidupan bagi seseorang sehingga orang tersebut akan sukses hidup di dunia dan di akhirat kelak. Kesuksesan tersebut tidak akan pernah wujud tanpa adanya kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja pantas bagi seorang hamba. Kerja-kerja semacam itulah yang perlu ditempuh dan dilaksanakan oleh seorang muslim untuk menuju sebuah perobahan hidup dan kehidupan melalui jalur hijrah sebagai solusi kehidupan.

Hakikat hijrah
Hakikat hijrah bagi seorang muslim adalah mengikuti perintah Allah untuk merobah pola hidup menuju kesuksesan dan kejayaan. Allah tidak akan merobah nasib sesuatu kaum sebelum kaum tersebut berupaya merobahnya terlebih dahulu. Merobah dalam kalimat tersebut adalah setiap insan telah diberikan peluang dan kesempatan untuk menjadi orang sukses dalam kehidupan oleh Allah SWT. namun setiap insan juga harus berusaha dan berupaya untuk memperoleh kesuksesan tersebut karena di sana terdapat sifat aktif, kreatif, innovatif, distributif, dan komunikatif yang menjadi sifatnya manusia.
Hijrah juga menjadi satu kewajiban bagi setiap orang manakala usaha perobahan yang dilakukan menjadi mandek dan tidak Berjaya. Dalam rangka menebus kemandekan tersebut orang-orang aktif, kreatif, innovatif tersebut harus berhijrah dari satu tempat ketempat lain, dari satu sifat kesifat lain, dari satu perangai keperangai lain, dari kegagalan menuju kesuksesan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemiskinan kepada kekayaan, dan semua itu tentunya dari prihal yang negatif menuju positif.
Hakikat hijrah awal yang dilakukan Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah ummah, dan mempertahankan eksistensi Islam yang dengan brutal dirobohkan oleh musuh-musuh tuhan. Semua itu wajib dilakukan karena Allah sudah memberikan tugas pokok dan utama kepada RasulNya untuk meng-Islamkan dunia. Bagi seorang Rasul tidak ada kata mundur walaupun berhadapan dengan maut sebelum Islam berjaya. Alhamdulillah hari ini Islam sudah eksis, kita tidak diminta untuk mengeksiskannya lagi, namun kewajiban kita untuk menggerakkan, memajukan, dan mengembangkan eksistensi Islam yang ada sehingga Islam menjadi solusi dunia yang aman, damai, sejahtera dan bersahabat. Caranya adalah eksistensi Islam itu tidak boleh dikelabui dengan paham dan pemahaman nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, atheisme, animisme, dinamisme, dan sejumlah isme-isme lain yang mencederai eksistensi Islam sebagai agama yang objektif, logis, dan humanis.
Untuk itu pula perlu melihat upaya awal yang dilakukan Nabi ketika sampai di Madinah, yaitu; mewujudkan negara contoh lewat pembangunan masjid yang kemudian terkenal dengan Masjid Nabawi, mempersatukan ummah antara kaum anshar dengan muhajirin, mewujudkan shahifah yang kemudian popular dengan Konstitusi Madinah, merobah nama Yatsrib menjadi Madinah. Dengan demikian, lima kriteria sebuah negara yang ditetapkan PBB; harus memiliki wilayah, harus mempunyai rakyat, harus ada pemerintah, harus wujud konstitusi, dan harus ada pengakuan luar terpenuhi sudah di negara Madinah. Maka jadilah Madinah sebagai sebuah sampel negara Islam di dunia yang langsung atau tidak langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.
Hakikat yang paling hakiki dari peristiwa hijrah adalah, sebuah upaya untuk menguasai dunia dengan ideologi Islam, dengan ‘aqidah Islamiyah, oleh ummat Islam, dan untuk semua ummat manusia. Menguasai dunia dengan Islam bermakna penataan dunia yang carut marut hari ini dengan syari’ah yang dijamin sempurna dan representatif untuk semua ummat manusia. Oleh karenanya kepada para jama’ah Dewan Dakwah di mana saja berada, bekerjalah untuk menyambung, melanjutkan, dan memperjuangkan titipan Rasulullah SAW. lakukan segala sesuatu dalam kehidupan ini yang menguntungkan Islam, yang dapat memajukan Islam, yang mengharumkan Islam dan ummat Islam, yang membuka peluang dan jalan menghantarkan insan ke syurga Allah yang maha aman.
Dewan Dakwah Aceh sudah bertapak di Gampong Rumpet Krueng Barona Jaya, Aceh oleh generasi kemarin. Menjadi tugas utama untuk dipapah, dirawat, dipupuk, disiram, dan dijaga eksistensinya oleh generasi hari ini. kemudian diteruskan dan dimajukan, dijaga, dan dipelihara kontinuitasnya oleh generasi kemudian. Konsep awal pembangunan ummah dan langkah-langkah strategis sudah kita letakkan, perlu kecerdasan dan intelektualitas generasi pelanjut nantinya yang harus melanjutkan sehingga sampai ketujuan yang dirancang Allah via RasulNya Muhammad SAW.

 

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

Tahun Baru Ajang Muhasabah Diri

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, rasa rasa nya baru kemaren kita memasuki bulan Muharram 1439 H, dan sebentar lagi kita akan bertemu lagi dengan Muharram 1440 H, begitulah manusia, senantiasa di sibukkan dengan berbagai kesibukan sehingga tidak terasa sudah di akhir tahun, maka ada hal penting yang perlu kita renungkan di moment ini, mari kita berhenti sejenak untuk menghitung hitung diri dan amal yang telah kita perbuat pada hari hari yang lalu, kemudian mengazamkan pada diri kita untuk memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal baik nya, sehingga kita tidak tergolong kedalam golongan orang orang yang merugi.

Dalam surat Al Hasyr :18 Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18).

Allah mengingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan apa yang telah kita siapkan untuk hari esok, hari dimana tidak ada seorang pun mampu menolong kita, hari dimana semua manusia berjalan dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan nya secara sendiri sendiri, hari itu adalah hari pembalasan atas apa yang telah kita kerjakan di dunia.

Pada hari pembalasan nanti nya, tidak ada satupun manusia mampu membebaskan diri dari pertanggungjawaban amal, kalau di dunia kita masih bisa berkilah, berbohong dan merekayasa sehingga lolos dari hukuman, sementara diakhirat hal itu tidak mungkin terjadi, karena seluruh anggota tubuh kita menjadi saksi atas apa yang telah kita perbuat di dunia, dalam surat Fushilat ayat 20-21 Allah berfirman :

Apabila manusia sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, dan telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21).

maka hari hari yang berlalu di dunia ini, bulan yang berlalu, tahun yang berganti, semua nya berjalan dengan maksud dan tujuan yang pasti, Allah kembali mengingatkan kita dalam surat Al Mukminun ayat 115, tentang akhir dari sebuah perjalanan, Allah Berfirman :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-mukminun: 115).

Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa sehingga ia menghisab dirinya atas apa yang telah diperbuatnya, lalu kembali kepada Allah dari dosa, dan bertaubat dari kekurangannya dalam melakukan ibadah, karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas.

Rasulullah saw bersabda: “Semua anak-anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik oang yang salah adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah dan Darimi).

Hendaklah seseorang segera bertaubat dari kesalahannya, meminta ampunan dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika tidak berusaha untuk lari dari siksa semenjak di dunia, maka ia tidak akan dapat lagi lari dari siksa di akhirat kelak, tak akan ada peluang dan jalan lagi untuk lari dari azab Allah, setiap anggota badannya akan dibelenggu dan bersaksi kepada Allah, Allah swt. berfirman:

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21).

Bahkan bukan Cuma anggota tubuh yang menjadi saksi, bumipun akan menceritakan setiap kejadian yang ada di dalamnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu hurairah bahwa Rasulullah saw suatu ketika membaca firman Allah:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Surat Al-Zilzalah: 4)

Para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum bertanya”, wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menceritakan setiap kejadiannya? Rasulullah menjawab:

“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Maka oleh karena itu wahai saudara ku, mari kita cermati juga pesan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra yang sangat populer untuk menjadi renungan kita bersama:

“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar.” Sebagaimana firman Allah:

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al-Haaqoh: 18).

Salah satu ciri muslim yang cerdas adalah yang senantiasa menghisab dirinya atas segala yang telah diperbuatnya, lalu bertekad untuk memperbaiki kualitas ibadah nya dan bertaubat dari segala dosa nya.

Dari Syaddad bin Aus ra. Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstrospeksi diri dan beramal untuk kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”

Maka oleh karena itu saudara ku, kita telah berada dipenghujung tahun 1439 H dan sebentar lagi akan memasuki tahun 1440 H, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar hari hari kita kedepan berlalu dengan baik dan bermakna, dan setiap yang kita lakukan dapat kita pertanggung jawabkan di yaumil akhirat kelak.

Pertama, kita bertanya pada diri kita terlebih dahulu, apakah amal shaleh yang kita lakukan kemaren sudah menggembirakan atau belum, apakah kita sudah mengisi hari hari yang kita jalani dengan kebaikan demi kebaikan, apakah kita sudah melakukan ibadah dengan sungguh sungguh, dengan penuh keikhlasan, atau kita telah banyak mengabaikan berbagai kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat baik, untuk menolong orang lain dan beribadah dengan khusyuk, atau bahkan kita telah gunakan waktu dan kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat maksiat kepada Nya, meninggalkan sholat dan bahkan tidak mengindahkan seruan seruan Nya, meninggalkan syariat syariat Nya, mari kita renungkan dan azam kan tekad untuk bertaubat kepada Allah, kita perbaiki yang kurang untuk hari esok yang lebih baik.

Kedua, yang perlu kita renungi dan perbaiki adalah keluarga dan rumah kita. Mari kita renungkan apakah kemaren kita sudah menghadirkan cahaya iman dalam keluarga kita, bersama sama dengan anggota keluarga menuju ketaatan kepada Allah? Karena sejatinya rumah seorang muslim adalah cerminan kebaikan bagi dirinya, keluarga nya dan tetangganya, keluarga juga bagian kecil dalam menciptakan daerah atau wilayah yang di Ridhai oleh Allah, daerah yang dirahmati oleh Allah, karena daerah atau wilayah adalah kumpulan keluarga keluarga.

Menjadi bahan renungan juga apakah rumah kita sudah disirami oleh ayat ayat suci? Atau bahkan tidak pernah dibacakan ayat suci Al Qur’an? Jika rumah hampa dari siraman ayat ayat suci Al Qur’an, bahkan selama satu tahun belakangan tidak pernah dibacakan ayat suci Al Qur’an, maka rumah tersebut laksana kuburan, penghuninya tidak mendapatkan ketenangan, ketentraman, kehidupan nya tidak ada keberkahan, dan mengalami kehidupan yang sempit, jika ini terus terjadi maka dapat berdampak pada keributan antar anggota keluarga, dan tentunya akan berdampak pada produktifitas diri dan sosial.

Rasulullah saw bersabda: Dari Abdurrahman bin Sabith, Rasulullah bersabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan banyak kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan setan pergi darinya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh para setan. (HR. Abdul Razak dan Dailami).

Karena itu rumah yang selalu terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an, keberkahan itu mengalir, para penghuninya menjadi tentram, kelapangan hidup serta kebaikan demi kebaikan tumbuh berkembang.

Ketiga, yang perlu kita hitung-hitung dan instrospeksi adalah hak tetangga dan masyarakat dan kewajiban kita kepada mereka. Apakah kita sudah menyampaikan amanat yang diembankan kepada kita dengan baik, ataukah kita khianati amanat tersebut? Sudahkah hak-hak bertetangga dan bermasyarakat kita tunaikan dengan baik? Jika belum bermohonlah ampunan kepada Allah atas setiap kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban terhadap sesama hamba yang beriman. Rasulullah saw bersabda;

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Sahabat bertanya, apakah itu Ya Rasulullah? Rasul menjawab: Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya. ( HR. Muslim).

jika kita memperhatikan kehidupan saat ini, maka sungguh memprihatinkan, kehidupan individual saat ini cenderung membuat satu sama lain tidak saling kenal bahkan saling curiga, hal ini sangat bertolak belakang dan jauh dari nilai-nilai mulia agama islam, Sehingga terlihat kehidupan ukhuwah islamiyah terasa hambar dan mulai memudar, mari kita perbaiki dan mulai dari keluarga kita, insya Allah kehidupan yang penuh ukhuwah, penuh dengan aura kasih sayang, semangat saling menasehati dan saling tolong menolong kembali tercipta.

Semoga kita semua dapat terus berazam, menanamkan tekad yang kuat dalam dada untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada Allah, hamba yang cerdas, dapat membawa dan memberikan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Amiin ya rabbal alamiin…

Penulis : M. Sanusi Madli (Sekretaris Dayah Al ‘Athiyah Banda Aceh, Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh).