TAUSHIYAH HIJRIYAH 1440/2018

 

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Banda Aceh, 1 Muharram 1440 H/11 September 2018

Background
Masuknya tahun baru hijriyah pada hari Selasa 11 September 2018 merupakan pergantian tahun 1439 ke tahun 1440 Hijriyah. Pergantian tahun tersebut membuktikan bahwa dunia sudah semakin tua, kita sudah bertambah umur satu tahun lagi, bertambah umur itu bermakna kita sudah semakin tua, bertambah tua mengandung makna kita sudah dekat dengan sebuah kematian dan itu berarti kita sudah semakin dekat dengan kubur. Karenanya tidak ada hal yang harus kita banggakan dalam hidup dan kehidupan ini dengan masuknya tahu baru setiap tahun selain daripada memperbanyak syukur kepada Allah atas rahmat umur yang diberikan dan meningkatkan keimanan, ketaqwaan serta amalan saliha kepadaNya sebagai bukti kesyukuran.

Sangat amat keliru bagi seorang muslim yang suka berpesta pora ketika terjadi pergantian tahun dalam kehidupan mereka. Apalagi kalau pesta pora tersebut disertai dengan prilaku jahiliyyah seperti dansa-dansi lelaki dengan perempuan, minum khamar, berjudi, bermain musik ala dunia barat dan seumpamanya. Semua itu merupakan perbuatan yang dilarang Allah SWT sebagai pencipta dan pemilik semua ummat manusia. Oleh karenanya dalam menyambut tahun baru 1440 Hijriyah ini marilah semua muslim menghayati kembali akan hakikat sebuah kehidupan yang diberikan Allah secara percuma kepada kita semua. Dari kehidupan itu Allah sertai dengan kenikmatan hidup berupa makanan, minuman, ilmu pengetahuan, persaudaraan, perjalanan, dan segalanya.

Ketika semua kita memahami dan mau memaknai akan semua rahmat dan nikmat dari Allah tersebut maka kita tidak boleh tidak untuk tunduk patuh kepada Allah semata-mata dalam kehidupan ini berkaitan dengan jalur kehidupan yang kita lalui. Demikianlah langkah yang telah diambil oleh para shahabat Rasulullah SAW dalam periode awal perjuangan Islam di kota Makkah dahulu manakala semua muslim termasuk Nabi terpaksa menetap di sudut kota Makkah bernama Syi’ab Shaffa. Di sini ummat Islam hidup tanpa komunikasi dengan luar Syi’ab Shaffa, mereka juga tiada jalur masuk makanan dan minuman sehingga kehidupannya menjadi lapar dan dahaga.

Dalam kondisi seumpama itulah Rasulullah SAW memerintahkan sebahagian ummatnya berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) dalam upaya mempertahankan kehidupan dan mempertahankan eksistensi Islam.

Hijrah pertama ini terjadi di bulan Rajab pada tahun 616 yang dipimpin Usman bin Affan dengan jumlah anggotanya 18 orang termasuk Ruqayyah, isteri Usman yang juga puteri Rasulullah SAW sendiri. Pada bulan Syawal mereka memperoleh informasi bahwa Umar bin Khattab telah masuk Islam lalu mereka kembali ke Makkah untuk menyambut ke-Islaman Umar.

Tempat domisili kaum muslimin di Syi’ab Shaffa di pinggir kota Makkah semakin hari semakin dikucilkan kafir Quraisy. Hal ini menyulitkan posisi muslim yang serba kekurangan di sana. Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan sejumlah besar muslimin untuk kembali berhijrah ke Ethiopia. 119 muslim-muslimah di bawah pimpinan Jakfar bin Abi Thalib dengan diam-diam berangkat di malam hari memanjat bukit baru Abu Kubais serta memutar menuju pantai Laut Merah, dari bandar Janbuk berlayar menuju Ethiopia. Itulah dia hijrah kedua ke Ethiopia tahun 618 yaitu empat tahun sebelum hijrah besar ke Madinah.

Selebihnya, ketika tiba masanya dan datangnya perintah Allah kepada RasululNya untuk berhijrah besar ke Yatsrib, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar melaksanakan satu pekerjaan yang paling strategis dan paling politis yaitu berhijrah ke Yatsrib yang kemudian beliau menggantikan nama menjadi Madinah. Peristiwa ini terjadi pada 20 September 622 masehi yang kemudian pada hari tersebut Umar bin Khaththab menetapkan awal tahun baru Hijriyah ketika Nabi sudah tiada.

Hijrah Nabi ke Yatsrib tersebut semata-mata untuk membuktikan ketunduk patuhannya kepada Allah semata-mata dalam upaya menyelamatkan Islam, muslim, ‘aqidah Islamiyah, dan berupaya untuk menguasai dunia dengan ‘aqidah Islamiyah. Karena itulah dalam berhijrah Nabi memasang strategi dalam skala paling tinggi sehingga selamat dalam perjalanan, sampai ketujuan, dan gagal dilacak oleh musuh-musuh tuhan. Pada hari hijrah tersebut Nabi tidak langsung menuju yatsrib melainkan berpatah balik kebelakang dan bermalam di Gua Tsur, sebuah taktik dan strategi jitu yang sulit diprediksi keberadaannya oleh para musuh.

Sesampainya di Quba menjelang masuk Yatsrib, Nabi bermalam semalam, mendirikan Masjid yang hari ini bergelar Masjid Quba, melaksanakan shalat Jum’at pertama di dalamnya. Baru kemudian beliau menuju Yatsrib dan tiba di sana dengan selamat dan disambut meriah oleh muslim-muslimah dari kaum anshar penduduk asli Yatsrib dan kaum Muhajirin sebagai pendatang awal dari Makkah ke Yatsrib. Sambutan tersebut menyemarakkan wilayah tersebut seperti kedatangan rembulan pembawa rahmat dan nikmat sebagaimana yang dilantunkan dalam shalawat yang diawali dengan untaian; Thala’at badru ‘alaina mintsani yatiw wada’… dan seterusnya.
Para penunggu Nabi di Yatsrib berlomba-lomba menawarkan rumah, kamar, tempat tinggal, dan jasa lainnya kepada Nabi yang membuat Nabi susah untuk menentukan pilihannya. Namun dasar seorang Nabi dan Rasul kekasih Allah Beliau berucap: “di mana untuku ini berhenti maka di situlah aku akan bermastautin”. Tiba-tiba unta tersebut merebahkan dirinya di hadapan rumah Abu Ayyub Al-Anshari yang di dalamnya terdapat dua anak yatim Sahal dan Suhail, lalu Nabi berucap: “di sinilah saya akan bertemat tinggal”.
Empat strategi penting yang dilakukan Nabi sesampainya di Yatsrib adalah: membangun masjid yang kemudian bernama Masjid Nabawi, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, mewujudkan Shahifah Madinah, dan menggantikan nama Yatsrib dengan Madinah. Pendirian masjid sebagai lambang tauhid dan tempat menghambakan diri kepada Allah, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin sebagai ilustrasi dan deskripsi kekuatan sebuah pasukan Allah, mewujudkan Shahifah Madinah sebagai dasar konstitusi untuk semua hamba Allah di sana, dan pergantian Yatsrib dengan Madinah sebagai upaya pelucutan kesan, imej, dan atribut kekafiran menuju wilayah Islam.

Makna hijrah
Makna hijrah secara bahasa adalah; berpindah, berpaling, meninggalkan, tidak memperdulikan lagi. dalam bahasa Inggeris hijrah diartikan sebagai; emigration, expatriation, exodus, hegira, immigration (to), dan migration. Dalam bahasa Arab kata asal hājara dipadukan dengan kata-kata lain menjadi; hājara minal baladi aw ‘anhu, yang bermakna “berhijrah”, atau berhijrah dari negeri. Secara istilah hijrah adalah berpindah tempat seseorang atau sejumlah orang dari tempat tinggalnya ke tempat tinggal lain untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.
Makna hijrah yang sudah ma’ruf dipahami ummat manusia hari ini adalah; hari permulaan tarikh Islam. Pada hari tersebut Rasulullah SAW meninggalkan Makkah menuju dan bermastautin di Yatsrib (Madinah) ketika Nabi belum berjaya mengislamkan Makkah dan penghuninya. Hari pertama Nabi berangkat dari Makkah adalah 8 Rabi’ul Awal bertepatan dengan 20 September 622 Masehi yang kemudian oleh Umar bin Khaththab menetapkannya sebagai tanggal satu dan tahun pertama Hijriyah (permulaan tarikh Islam).
Terkait dengan pengertian hijrah tersebut maka hijrah itu dapat pula bermakna perobahan sikap hidup seseorang hamba Allah dari kehidupan yang penuh nilai-nilai negatif menuju kehidupan yang disertai oleh nilai-nilai positif. Prilaku kasar berobah menjadi santun, tidak rutin beribadah kepada Allah berobah menjadi rutin dan tekun, hidup penuh dengan nuansa malas berobah menjadi rajin, dan semisalnya merupakan bahagian terpenting dari makna hijrah dalam konteks kehidupan kekinian.
Dengan demikian jadilah hijrah itu sebagai solusi kehidupan bagi seseorang sehingga orang tersebut akan sukses hidup di dunia dan di akhirat kelak. Kesuksesan tersebut tidak akan pernah wujud tanpa adanya kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja pantas bagi seorang hamba. Kerja-kerja semacam itulah yang perlu ditempuh dan dilaksanakan oleh seorang muslim untuk menuju sebuah perobahan hidup dan kehidupan melalui jalur hijrah sebagai solusi kehidupan.

Hakikat hijrah
Hakikat hijrah bagi seorang muslim adalah mengikuti perintah Allah untuk merobah pola hidup menuju kesuksesan dan kejayaan. Allah tidak akan merobah nasib sesuatu kaum sebelum kaum tersebut berupaya merobahnya terlebih dahulu. Merobah dalam kalimat tersebut adalah setiap insan telah diberikan peluang dan kesempatan untuk menjadi orang sukses dalam kehidupan oleh Allah SWT. namun setiap insan juga harus berusaha dan berupaya untuk memperoleh kesuksesan tersebut karena di sana terdapat sifat aktif, kreatif, innovatif, distributif, dan komunikatif yang menjadi sifatnya manusia.
Hijrah juga menjadi satu kewajiban bagi setiap orang manakala usaha perobahan yang dilakukan menjadi mandek dan tidak Berjaya. Dalam rangka menebus kemandekan tersebut orang-orang aktif, kreatif, innovatif tersebut harus berhijrah dari satu tempat ketempat lain, dari satu sifat kesifat lain, dari satu perangai keperangai lain, dari kegagalan menuju kesuksesan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemiskinan kepada kekayaan, dan semua itu tentunya dari prihal yang negatif menuju positif.
Hakikat hijrah awal yang dilakukan Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah ummah, dan mempertahankan eksistensi Islam yang dengan brutal dirobohkan oleh musuh-musuh tuhan. Semua itu wajib dilakukan karena Allah sudah memberikan tugas pokok dan utama kepada RasulNya untuk meng-Islamkan dunia. Bagi seorang Rasul tidak ada kata mundur walaupun berhadapan dengan maut sebelum Islam berjaya. Alhamdulillah hari ini Islam sudah eksis, kita tidak diminta untuk mengeksiskannya lagi, namun kewajiban kita untuk menggerakkan, memajukan, dan mengembangkan eksistensi Islam yang ada sehingga Islam menjadi solusi dunia yang aman, damai, sejahtera dan bersahabat. Caranya adalah eksistensi Islam itu tidak boleh dikelabui dengan paham dan pemahaman nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, atheisme, animisme, dinamisme, dan sejumlah isme-isme lain yang mencederai eksistensi Islam sebagai agama yang objektif, logis, dan humanis.
Untuk itu pula perlu melihat upaya awal yang dilakukan Nabi ketika sampai di Madinah, yaitu; mewujudkan negara contoh lewat pembangunan masjid yang kemudian terkenal dengan Masjid Nabawi, mempersatukan ummah antara kaum anshar dengan muhajirin, mewujudkan shahifah yang kemudian popular dengan Konstitusi Madinah, merobah nama Yatsrib menjadi Madinah. Dengan demikian, lima kriteria sebuah negara yang ditetapkan PBB; harus memiliki wilayah, harus mempunyai rakyat, harus ada pemerintah, harus wujud konstitusi, dan harus ada pengakuan luar terpenuhi sudah di negara Madinah. Maka jadilah Madinah sebagai sebuah sampel negara Islam di dunia yang langsung atau tidak langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.
Hakikat yang paling hakiki dari peristiwa hijrah adalah, sebuah upaya untuk menguasai dunia dengan ideologi Islam, dengan ‘aqidah Islamiyah, oleh ummat Islam, dan untuk semua ummat manusia. Menguasai dunia dengan Islam bermakna penataan dunia yang carut marut hari ini dengan syari’ah yang dijamin sempurna dan representatif untuk semua ummat manusia. Oleh karenanya kepada para jama’ah Dewan Dakwah di mana saja berada, bekerjalah untuk menyambung, melanjutkan, dan memperjuangkan titipan Rasulullah SAW. lakukan segala sesuatu dalam kehidupan ini yang menguntungkan Islam, yang dapat memajukan Islam, yang mengharumkan Islam dan ummat Islam, yang membuka peluang dan jalan menghantarkan insan ke syurga Allah yang maha aman.
Dewan Dakwah Aceh sudah bertapak di Gampong Rumpet Krueng Barona Jaya, Aceh oleh generasi kemarin. Menjadi tugas utama untuk dipapah, dirawat, dipupuk, disiram, dan dijaga eksistensinya oleh generasi hari ini. kemudian diteruskan dan dimajukan, dijaga, dan dipelihara kontinuitasnya oleh generasi kemudian. Konsep awal pembangunan ummah dan langkah-langkah strategis sudah kita letakkan, perlu kecerdasan dan intelektualitas generasi pelanjut nantinya yang harus melanjutkan sehingga sampai ketujuan yang dirancang Allah via RasulNya Muhammad SAW.

 

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

Tahun Baru Ajang Muhasabah Diri

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, rasa rasa nya baru kemaren kita memasuki bulan Muharram 1439 H, dan sebentar lagi kita akan bertemu lagi dengan Muharram 1440 H, begitulah manusia, senantiasa di sibukkan dengan berbagai kesibukan sehingga tidak terasa sudah di akhir tahun, maka ada hal penting yang perlu kita renungkan di moment ini, mari kita berhenti sejenak untuk menghitung hitung diri dan amal yang telah kita perbuat pada hari hari yang lalu, kemudian mengazamkan pada diri kita untuk memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal baik nya, sehingga kita tidak tergolong kedalam golongan orang orang yang merugi.

Dalam surat Al Hasyr :18 Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18).

Allah mengingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan apa yang telah kita siapkan untuk hari esok, hari dimana tidak ada seorang pun mampu menolong kita, hari dimana semua manusia berjalan dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan nya secara sendiri sendiri, hari itu adalah hari pembalasan atas apa yang telah kita kerjakan di dunia.

Pada hari pembalasan nanti nya, tidak ada satupun manusia mampu membebaskan diri dari pertanggungjawaban amal, kalau di dunia kita masih bisa berkilah, berbohong dan merekayasa sehingga lolos dari hukuman, sementara diakhirat hal itu tidak mungkin terjadi, karena seluruh anggota tubuh kita menjadi saksi atas apa yang telah kita perbuat di dunia, dalam surat Fushilat ayat 20-21 Allah berfirman :

Apabila manusia sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, dan telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21).

maka hari hari yang berlalu di dunia ini, bulan yang berlalu, tahun yang berganti, semua nya berjalan dengan maksud dan tujuan yang pasti, Allah kembali mengingatkan kita dalam surat Al Mukminun ayat 115, tentang akhir dari sebuah perjalanan, Allah Berfirman :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-mukminun: 115).

Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa sehingga ia menghisab dirinya atas apa yang telah diperbuatnya, lalu kembali kepada Allah dari dosa, dan bertaubat dari kekurangannya dalam melakukan ibadah, karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas.

Rasulullah saw bersabda: “Semua anak-anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik oang yang salah adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah dan Darimi).

Hendaklah seseorang segera bertaubat dari kesalahannya, meminta ampunan dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika tidak berusaha untuk lari dari siksa semenjak di dunia, maka ia tidak akan dapat lagi lari dari siksa di akhirat kelak, tak akan ada peluang dan jalan lagi untuk lari dari azab Allah, setiap anggota badannya akan dibelenggu dan bersaksi kepada Allah, Allah swt. berfirman:

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21).

Bahkan bukan Cuma anggota tubuh yang menjadi saksi, bumipun akan menceritakan setiap kejadian yang ada di dalamnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu hurairah bahwa Rasulullah saw suatu ketika membaca firman Allah:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Surat Al-Zilzalah: 4)

Para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum bertanya”, wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menceritakan setiap kejadiannya? Rasulullah menjawab:

“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Maka oleh karena itu wahai saudara ku, mari kita cermati juga pesan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra yang sangat populer untuk menjadi renungan kita bersama:

“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar.” Sebagaimana firman Allah:

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al-Haaqoh: 18).

Salah satu ciri muslim yang cerdas adalah yang senantiasa menghisab dirinya atas segala yang telah diperbuatnya, lalu bertekad untuk memperbaiki kualitas ibadah nya dan bertaubat dari segala dosa nya.

Dari Syaddad bin Aus ra. Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstrospeksi diri dan beramal untuk kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”

Maka oleh karena itu saudara ku, kita telah berada dipenghujung tahun 1439 H dan sebentar lagi akan memasuki tahun 1440 H, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar hari hari kita kedepan berlalu dengan baik dan bermakna, dan setiap yang kita lakukan dapat kita pertanggung jawabkan di yaumil akhirat kelak.

Pertama, kita bertanya pada diri kita terlebih dahulu, apakah amal shaleh yang kita lakukan kemaren sudah menggembirakan atau belum, apakah kita sudah mengisi hari hari yang kita jalani dengan kebaikan demi kebaikan, apakah kita sudah melakukan ibadah dengan sungguh sungguh, dengan penuh keikhlasan, atau kita telah banyak mengabaikan berbagai kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat baik, untuk menolong orang lain dan beribadah dengan khusyuk, atau bahkan kita telah gunakan waktu dan kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat maksiat kepada Nya, meninggalkan sholat dan bahkan tidak mengindahkan seruan seruan Nya, meninggalkan syariat syariat Nya, mari kita renungkan dan azam kan tekad untuk bertaubat kepada Allah, kita perbaiki yang kurang untuk hari esok yang lebih baik.

Kedua, yang perlu kita renungi dan perbaiki adalah keluarga dan rumah kita. Mari kita renungkan apakah kemaren kita sudah menghadirkan cahaya iman dalam keluarga kita, bersama sama dengan anggota keluarga menuju ketaatan kepada Allah? Karena sejatinya rumah seorang muslim adalah cerminan kebaikan bagi dirinya, keluarga nya dan tetangganya, keluarga juga bagian kecil dalam menciptakan daerah atau wilayah yang di Ridhai oleh Allah, daerah yang dirahmati oleh Allah, karena daerah atau wilayah adalah kumpulan keluarga keluarga.

Menjadi bahan renungan juga apakah rumah kita sudah disirami oleh ayat ayat suci? Atau bahkan tidak pernah dibacakan ayat suci Al Qur’an? Jika rumah hampa dari siraman ayat ayat suci Al Qur’an, bahkan selama satu tahun belakangan tidak pernah dibacakan ayat suci Al Qur’an, maka rumah tersebut laksana kuburan, penghuninya tidak mendapatkan ketenangan, ketentraman, kehidupan nya tidak ada keberkahan, dan mengalami kehidupan yang sempit, jika ini terus terjadi maka dapat berdampak pada keributan antar anggota keluarga, dan tentunya akan berdampak pada produktifitas diri dan sosial.

Rasulullah saw bersabda: Dari Abdurrahman bin Sabith, Rasulullah bersabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan banyak kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan setan pergi darinya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh para setan. (HR. Abdul Razak dan Dailami).

Karena itu rumah yang selalu terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an, keberkahan itu mengalir, para penghuninya menjadi tentram, kelapangan hidup serta kebaikan demi kebaikan tumbuh berkembang.

Ketiga, yang perlu kita hitung-hitung dan instrospeksi adalah hak tetangga dan masyarakat dan kewajiban kita kepada mereka. Apakah kita sudah menyampaikan amanat yang diembankan kepada kita dengan baik, ataukah kita khianati amanat tersebut? Sudahkah hak-hak bertetangga dan bermasyarakat kita tunaikan dengan baik? Jika belum bermohonlah ampunan kepada Allah atas setiap kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban terhadap sesama hamba yang beriman. Rasulullah saw bersabda;

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Sahabat bertanya, apakah itu Ya Rasulullah? Rasul menjawab: Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya. ( HR. Muslim).

jika kita memperhatikan kehidupan saat ini, maka sungguh memprihatinkan, kehidupan individual saat ini cenderung membuat satu sama lain tidak saling kenal bahkan saling curiga, hal ini sangat bertolak belakang dan jauh dari nilai-nilai mulia agama islam, Sehingga terlihat kehidupan ukhuwah islamiyah terasa hambar dan mulai memudar, mari kita perbaiki dan mulai dari keluarga kita, insya Allah kehidupan yang penuh ukhuwah, penuh dengan aura kasih sayang, semangat saling menasehati dan saling tolong menolong kembali tercipta.

Semoga kita semua dapat terus berazam, menanamkan tekad yang kuat dalam dada untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada Allah, hamba yang cerdas, dapat membawa dan memberikan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Amiin ya rabbal alamiin…

Penulis : M. Sanusi Madli (Sekretaris Dayah Al ‘Athiyah Banda Aceh, Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh).

DAHSYATNYA SEDEKAH

 

Apabila seseorang itu memberi sedekah, dan dia tahu bahwa sedekahnya itu sampai kepada Allah SWT dahulu sebelum orang yang disedekahinya, maka dia akan mendapat kegembiraan dalam pemberiannya.

Kebaikan2 sedekah antara lain sebagai berikut:

1. Sedekah adalah salah satu pintu untuk menuju ke Syurga Allah SWT

2. Sedekah ialah perbuatan yang paling mulia antara semua perbuatan kebaikan dan sedekah yang paling baik adalah dgn memberi makanan kepada orang

3. Sedekah akan dihisab pada hari Kiamat dan sedekah akan Inn Syaa Allah menjauhi api neraka jahanam

4. Sedekah mampu memadamkan kemurkaan Allah SWT dan mampu memadamkan kepanasan di dalam kubur

5. Perkara yang paling memberi keuntungan kepada orang2 yang telah meninggal dunia adalah sedekah dan Allah SWT akan sentiasa memanjangkan pahala dari sedekah tersebut

6. Sedekah mampu mensucikan roh dan menambah pahala kebaikan

7. Sedekah adalah salah satu cara untuk mendapat kebahagiaan di hari Kiamat dihadapan Allah SWT

8. Sedekah boleh menyelamatkan diri dari celaka di hari Kiamat dan tidak akan membuat anda sengsara disebabkan masa lampau anda

9. Sedekah mampu menghapuskan dan diampunkan dari dosa2 yang telah dibuat

10. Sedekah adalah kepastian untuk meninggal dunia dalam keimanan serta ketakwaan terhadap Allah SWT dan malaikat akan mendoakan kebaikan kepada anda

11. Orang2 yang memberi sedekah ialah orang2 yang baik dan siapapun yang terlibat dalam melakukan kebaikan tersebut akan diberi ganjaran oleh Allah SWT

12. Orang yang memberi sedekah dijanjikan akan mendapat ganjaran yang hebat dari Allah SWT In Syaa Allah

13. Orang yang memberi sedekah adalah tergolong dari golongan orang2 yang disayang oleh masyarakat

14. Memberi sedekah adalah perbuatan yang mulia dan dihormati

15. Sedekah mampu melepaskan anda drpd kesusahan dan doa2 akan dimakbulkan Allah SWT In Syaa Allah

16. Sedekah mampu menghapuskan kesulitan hidup dan ditutup 70 pintu kecelakaan di dunia

17. Sedekah mampu memanjangkan umur seseorang dan bisa memberi kejayaan hidup

18. Sedekah adalah obat

19. Sedekah mampu menolong anda dari kecurian, kematian yang dahsyat dan hina, kebakaran dan lemas

20. Sedekah ialah ganjaran yang baik meskipun anda memberi kepada binatang2 atau burung2

Yang akhir sekali…..

Sedekah yang paling baik adalah jika anda membagikan pesan yang baik ini kepada orang lain dan diniatkan sebagai sedekah.

Semoga bermanfaat..

Wassalamu’alaikum wr wb..

 

Penulis : Zulfikar Syahabuddyn (Dewan Dakwah Aceh).

Politik Antara Ibadah dan Jinayah

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

PERKATAAN siyasah selalu diartikan dan disamakan dengan istilah politik dalam dunia ilmu pengetahuan umum. Bedanya kalau politik merupakan satu istilah khusus yang berlaku secara umum untuk seluruh penghuni dunia yang bergerak dalam urusan-urusan kenegaraan.

Sementara siyasah khusus penggunaannya untuk kajian dan penggunaan bagi perpolitikan Islam dan ummat Islam. Demikian gambaran umum penggunaan kedua istilah tersebut yang sudah ma’ruf dan lazim dipahami ummat manusia khususnya ummat Islam.

Sebenarnya dalam khazanah ilmu ke-Islam-an yang bernaung dalam bingkai syari’ah istilah politik yang langsung dibaca dan bermakna politik tidak terdapat dalam sumber-sumber ilmu-ilmu Islam terutama sekali dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Untuk mengimbangi istilah politik para pakar politik Islam bersepakat menggunakan istilah siyasah sebagai pengganti kata politik dalam pemahaman Islam, hal ini selaras dengan satu hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: kaanat banuu Israaiyla tasuusuhumul anbiyaak. Sehingga hari ini ma’ruflah istilah tersebut sebagai padanan kata yang bermakna politik bagi ummat Islam.

Istilah tersebut tidak aplikatif bagi seluruh ummat manusia sebagaimana populernya istilah politik, ia sangat familiar bagi sebahagian muslim yang berpengetahuan dan tidak menyatu dengan muslim tidak berpendidikan dan non muslim secara keseluruhan. Dari perkataan tasuusuhumul inilah ditarik istilah siyasah yang dalam tashrif ilmu nahu disebutkan saasa – yasuusu – siyaasatan yang mengandung makna mengurus, mengendalikan, mentadbir, mengelola, dan seumpamanya.

Pengertian Siyasah

Kata siyasah ditemukan dalam satu hadis Rasulullah SAW yang berbunyi kaanat banuu Israaila tasuusuhumul anbiyaak, kullama halaka nabiyyun khalafahu nabiyyun, wa innahu la nabiyyun bakdiy wa sayakuunu khulafaa-u fayaktsuruuwna. Artinya: Bani Israil dahulu diperintah oleh para nabi, setiap wafat seorang nabi digantikan oleh nabi yang lain. Tetapi tidak ada lagi nabi sesudahku, yang akan ada adalah khalifah-khalifah yang banyak.

Istilah siyasah atau siyasiyah merupakan bentuk masdar atau kata benda abstrak dari kata sasa yang apabila ditashrifkan menjadi saasa-yasuusu-siyaasatan yang memiliki banyak makna seperti; mengemudi, mengendalikan, pengendali, cara pengendalian.

Dalam pengertian lain kata siyasah dapat bermakna; memimpin memerintah, mengatur, melatih dan memanajemenkan. Ketika dikatakan; sasal qaumu maka maknanya adalah memimpin, memerintah, mengatur, melatih, dan memanajemenkan sesuatu kaum. Siyasah juga memiliki makna pengaturan, pengasuhan, pendidikan karakter dan perbaikan.

Perkataan siyasah mengikut ta’rif di atas memiliki persamaan dengan pengertian politik yang digunakan oleh penduduk dunia sampai hari ini. Kalau politik selalu terkait dan dikaitkan dengan pengurusan negara, pemerintah, rakyat, dan hubungan luar negeri maka pengertian siyasah juga mengandung makna serupa.

Barangkali itulah sebabnya maka para pakar politik khususnya pakar politik Islam menyepakati istilah siyasah berposisi sama dengan istilah politik. Walaupun di sana sini terdapat perbedaan yang sangat mengkristal antara siyasah dengan politik karena haluan dan bidang garapnya sangat berbeda.

Politik itu sering dan selalu digunakan oleh penghuni dunia dari berbagai bangsa dan suku, dari berbagai penganut agama, dan dari berbagai jenis bahasa untuk menguasai dan mengurus negara atau pemerintahan tanpa mengenal halal dan haram. Sementara siyasah hanya digunakan oleh ummat Islam saja yang dalam penggunaannya sangat terikat dengan al-ahkam al-khamsah yaitu halal, haram, sunat, makruh, dan mubah. Di sinilah terdapat perbedaan telak antara politik dan siyasah.

Orang banyak dari berbagai generasi, berbagai pemeluk agama, dan berbagai suku bangsa umumnya tidak mampu membedakan antara istilah politik dan siyasah sehingga cenderung berkesimpulan bahwa politik dan sesuatu yang berbau politik merupakan benda bernajis, haram hukumnya, dan selalu salah dalam amalannya.

Ketika pemahaman semacam itu yang muncul dalam kehidupan masyarakat muslim maka ramai dari kalangan muslim yang menjauhkan diri dari pemilu, pilkada, dan semacamnya karena tidak siap menerima beban kotor bernama politik.

Pemikiran dan sikap seperti ini tidak terlepas dari provokasi bangsa penjajah yang menjajah negara-negara mayoritas muslim di dunia, sehingga ummat Islam menjauh dari politik dan mereka dengan mudah menguasai politik, pemerintahan, dan negara, walhasil mayoritas negara muslim dikuasai oleh non muslim, suatu kekhilafan besar yang segera harus kita perbaiki dengan menguasai politik dalam konteks politik Islam (siyasah) yang mengenal halal, haram, makruh, sunnah, dan mubah dalam berpolitik.

Apabila tidak kita perbaiki suasana, maka dari situlah awalnya kehancuran dan kekalahan pemikiran ummat Islam sehingga berakibat fatal kepada eksistensi tamaddun (peradaban) bangsa Islam di muka bumi ini. Satu sisi pemikiran semacam itu secara bersahaja dimunculkan dan diprakarsai oleh kaum penjajah jahat yang sempat menjajah sejumlah negara mayoritas muslim tempo dulu.

Akibat dari turunan penjajah tersebut maka pemikiran itu terus tertanam dalam benak ummat Islam sehingga berantakan sendiri antara muslim pro siyasah dengan muslim pro politik, sehingga muncul gerakan-gerakan fatal yang berhadapan dengan dosa dalam ranah politik seperti partai dan ummat Islam yang memilih dan mendukung kafir jadi pemimpin seperti yang terjadi terhadap calon gubernur DKI Jakarta (Ahok) dalam pilkada 2017 yang lalu.

Kita perlu membedakan konsep dan praktik antara siyasah dan politik, siyasah itu manakala normal dan lurus dipraktikkan oleh seorang muslim menjadi bahagian daripada ibadah. Ia termasuk dalam kategori ibadah ghairu mahdhah yang terkadang sifat hukumnya menjadi sunat, terkadang menjadi wajib, haram, mubah, dan makruh tergantung situasi dan kondisi. Tetapi kalau salah laku menjurus kepada prilaku politik konfensional yang dipahami masyarakat dunia selama ini malah hukumnya menjadi haram.

Perlu kita tegaskan di sini bahwa kehadiran definisi dan praktik siyasah dalam ranah perpolitikan ummah merupakan sandingan yang sekaligus menjadi saingan dan pembetulan terhadap konsep dan amalan politik umum yang muncul dari rahim dunia barat.

Antara Siyasah, Fiqhussiyasah dan Siyasah Syar’iyyah

Secara umum perkataan siyasah dengan makna yang telah kita sebutkan di atas selalu diidentikkan pengertiannya oleh para ilmuan dengan politik. Bedanya kalau istilah politik itu ma’ruf dipahami orang banyak menunjukkan pengertian politik secara umum dengan penafsiran dan aplikasi yang sangat umum pula.

Sementara istilah siyasah lebih menjurus kepada politik dalam konteks Islam yang selalu disebut dengan politik Islam, jadi Islam memiliki politik Islam yang disebut siyasah yang dalam praktik dan amalannya wajib adil dan jauh dari prilaku dan tindakan haram. Sementara sebahagian ummat Islam yang modal aqidah (iman dan tauhidnya) lemah serta syari’ah dan akhlaknya rapuh, cenderung berpolitik dengan politik umum yang sadar atau tidak sadar sering menjurus kepada amalan halal cara untuk memperoleh kuasa.

Untuk membedakan seorang muslim berpolitik umum atau bersiyasah sangatlah mudah, ia dapat dipantau mulai dari konsep partai yang dibangunnya. Dalam siyasah setiap partai harus berazaskan Islam, harus partai Islam serta praktik para pelakunya harus terikat dengan tauhid, syari’ah dan akhlaq Islam.

Dengan demikian mereka akan menggunakan kekuasaan yang dimiliki lewat partai Islamnya untuk kepentingan Islam dan ummat Islam, maka praktik politiknya tidak akan mendukung non muslim terutama sekali berkaitan dengan kepemimpinan, perundang-undangan, dan kebijakan-kebijakan umum lainnya.

Karena landasan politiknya adalah ibadah maka segala aktivitas politiknya tidak boleh menyimpang daripada tauhid, syari’ah, dan akhlak karimah. Konkritnya, bersiyasah (berpolitik Islam) itu merupakan bahagian daripada ibadah dan jauh dari praktik-praktik jinayah.

Sementara dalam politik umum baik muslim atau non muslim sudah ma’ruf dipahami orang banyak bahwa berpolitik itu untuk merebut kekuasaan, merebut kursi parlemen, untuk menguasai pemerintahan dengan berbagai cara atas dasar kepentingan personal, perkauman, kepartaian, dan terkadang atas kepentingan sponsor. Maka jadilah dasar dan landasan politik umum itu adalah kepentingan sesa’at bagi pihak tertentu sehingga sering terjadi pada suatu waktu para pelaku politik itu menyatu dan bersatu pada ketika kepentingannya sama dan pada waktu yang lain mereka akan bercerai berai manakala kepentingannya berbeda.

Ketika seorang muslim berpolitik dengan politik umum yang menganut paham dan ajaran sekularisme maka ianya sudah memisahkan antara syari’ah sebagai induk segala hukum dan pedoman dalam kehidupan dengan politik dan kenegaraan sebagai subordinat paling kecil dalam syari’ah. Dengan bahasa lain ia telah memisahkan Islam dengan negara, memisahkan syari’ah dengan pemerintahan dengan menonjolkan pemikiran dan mengelabui kebenaran, itulah dia paham sekularisme.

Sebetulnya sekularisme itu merupakan paham yang dibawa oleh kaum gereja yang berawal dari doktrin bible dalam keyakinan orang-orang Kristen tempo dulu. Mereka berprinsip; “berikan hak kaisar kepada kaisar (yang berarti negara dan kekuasaan), dan berikan hak tuhan kepada tuhan (yang bermakna urusan-urusan agama).

Pemahaman tersebut kemudian bersahaja atau tidak, sengaja atau tidak tersusupi dalam prilaku politikus muslim sehingga banyak politikus muslim yang memasukkan goal kegawang sendiri dalam arena percaturan politik mereka seperti bertungkus lumus memperjuangkan dan menggolkan non muslim menjadi pemimpin muslim.

Sebahagian yang lain berkomentar; politikus muslim tidak mampu menjadi pemimpin atau kalau orang Islam yang menjadi pemimpin tidak akan dibantu oleh Uni Eropa, oleh Amerika, oleh Cina dan sebagainya. Semua komentar dan prilaku semacam itu merupakan prilaku pencetak goal kegawang sendiri yang bahayanya melebihi bahaya seorang missionary kafir terhadap Islam dan ummat Islam.

Sebetulnya siyasah atau politik Islam itu sudah absah dalam ranah ilmu pengetahuan modern, ianya resmi dan diakui baik oleh muslim maupun non muslim. Dr. V. Fitzgerald dalam buku populernya Muhammedan Law mengungkapkan bahwa Islam bukanlah agama semata-mata melainkan ia juga merupakan sebuah sistem politik. Meskipun pada masa-masa tertentu ada ummat Islam yang berupaya memisahkan antara Islam dengan politik, namun seluruh gugusan pemikiran Islam dibangun di atas fundasi bahwa kedua sisi tersebut saling bergandengan dengan selaras dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Dr. Schacht dalam Encyclopedia of sciences vol VIII halaman 333 mengatakan bahwa Islam lebih dari sekedar agama, ia juga mencerminkan teori-teori perundang-undangan dan politik. Dalam ungkapan yang lebih sederhana ia merupakan sistem peradaban yang lengkap yang mencakup agama dan negara secara bersamaan.

Prof. R. Strothmann mengatakan dalam the Encyclopedia of Islam IV halaman 350 bahwa Islam merupakan suatu fenomena agama dan politik karena pembangunnya seorang nabi yang juga seorang politikus yang arif lagi bijaksana yang juga seorang negarawan. Jadi tidaklah perlu dipersoalkan lagi kalau Islam memiliki politik dan sistem politik sebagaimana yang diakui oleh ilmuan muslim, non muslim, dan para orientalis.

Demikian juga secara otomatis siyasah resmi dan sah menjadi rumusan politik dalam Islam yang gerakan politiknya selalu terkait dengan tauhid, syari’ah dan akhlak karimah.
Sementara fiqhussiyasah adalah ketentuan fiqh yang berkaitan dengan prilaku dan amalan siyash (politik Islam) yang dipraktikkan oleh para politikus muslim.

Fiqh itu bermakna paham, memahami, dan pengertian mendalam yang memerlukan pengerahan potensi akal. Menurut ulama ushul fiqh ia bermakna pengetahuan hukum Islam yang bersifat amaliah melalui dalil terperinci. Sementara ulama fiqh memberikan definisi fiqh adalah sekumpulan hukum amaliah yang disyari’atkan Islam.

Untuk itulah ketika siyasah itu diamalkan sebagai bahagian dari keperluan seseorang muslim di sana masuklah unsur fiqh, ketika masuk unsur fiqh maka antara siyasah dengan fiqh dalam kehidupan muslim tidak dapat dipisahkan lagi karena ia saling terkait dan memerlukan. Pada waktu itulah istilah fiqh siyasah muncul dalam ranah ilmu pengetahuan muslim yang pemberlakuannya bukan hanya untuk muslim saja melainkan untuk nonmuslim juga.

Karenan fiqh itu berada pada dimensi hukum sesi operasional maka fiqh siyasah itu menjadi satu ketentuan hukum dalam amalan ummat manusia yang mengatur tatacara operasional politik dalam Islam. Karena itulah berpolitik dalam konteks fiqh siyasah berbeda dengan berpolitik di luar fiqh siyasah.

Dalam fiqh siyasah para politikus diwajibkan menjalankan hukum fiqh dalam politik karena ia berhubungan dengan kehidupan dunia dan akhirat, manakala salah dalam bersiyasah akan terancam dengan dua hukuman yakni hukuman dunia dan hukuman akhirat. Sementara berpolitik non siyasah atau politik umum sama sekali tidak ada ancaman hukuman akhirat melainkan terdapat hukuman dunia yang diciptakan manusia yang sifatnya dilematis, dinamis, subjektif, dan irrasional.

Istilah siyasah syar’iyyah terdiri dari dua kata yakni; kata siyasah dan kata syar’iyyah yang memiliki makna dan pengertian yang berbeda. Siyasah bermakna mengatur, mengurus, menjalankan, mentadbir, dan mengaplikasikan, sementara syari’ah dalam pengertian bahasa bermakna jalan sempit, jalan menuju sumber mata air atau jalan untuk diikuti. Ini merupakan jalan yang tidak hanya menuju kepada Allah yang Maha Tinggi, melainkan jalan yang dipercayai oleh semua ummat Islam sebagai jalan yang ditunjukkan Allah sebagai pencipta melalui utusanNya nabi Muhammad SAW.

Siyasah syar’iyyah adalah rumusan politik Islam yang rujukannya langsung kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagai sumber hukum pertama dan utama dalam Islam. Hal ini sesuai dengan konsep syari’ah itu sendiri yang menjadi konsep prinsipil dalam dataran hukum Islam dan tidak tersentuh oleh ra’yu pemikiran manusia sebagaimana konsep fiqh yang menjadi ranah ra’yu para ulama fiqh.

Siyasah syar’iyyah dalam pengertian khusus adalah segala hal yang keluar dari pemegang kekuasaan (Ulil Amri) berupa aturan hukum dan kebijakan-kebijakan yang berpijak kepada kemuslihatan dalam masalah yang di dalamnya tidak terdapat dalil khusus dan spesifik tanpa menyalahi syari’ah.

Apabila kita spesifikasikan lebih rinci dengan sayab-sayabnya, siyasah syar’iyyah merupakan konsep politik dalam Islam yang melingkupi; Fiqh siyasah Dusturiyah, yaitu siyasah yang berhubungan dengan peraturan dasar tentang bentuk negara dan system pemerintahan, pembatasan kekuasaan, suksesi kepemimpinan, hak-hak dasar warga negara dan lainnya yang dalam istilah modern disebut dengan hukum konstitusi.

Ia melingkupi; (1). siyasah tasyri’iyah syar’iyyah (siyasah tentang pembentukan dan penetapan hukum yang sesuai dengan syari’at Islam. (2). Siyasah qadhaiyyah syar’iyyah (siyasah tentang peradilan yang sesuai dengan syari’at Islam). (3). Siyasah idariyah syar’iyyah (siyasah tentang administrasi yang sesuai dengan syari’at Islam. (4). Siyasah tanfidziyah syar’iyyah (siyasah mengenai penyelenggaraan pemerintahan atau eksekutif).

Fiqh siyasah Dauliyah/Kharijiyah, yaitu siyasah yang berhubungan dengan pengaturan-pengaturan antara negara-negara Islam dengan negara-negara non Islam, mengatur antara muslim dengan non muslim, hubungan diplomatik dan sebagainya. Fiqh Siyasah Maaliyyah, yaitu siyasah yang berhubungan dengan harta kekayaan atau keuangan negara, sumber-sumber keuangan negara, pajak, distribusi harta kekayaan negara, dan sebaginya. Fiqh Siyasah Harbiyah, yakni siyasah yang mengatur tentang peperangan dan hal-hal yang berhubungan dengannya seperti tentang perdamaian, gencatan senjata, tawanan perang dan seumpamanya.

Pembagian fiqh siyasah ini bukanlah harga mati mengingat ianya tidak diatur dengan konkrit dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Karenanya setiap negara dan kepemimpinan dapat saja merubah, menselaraskan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan Islam. Mengingat siyasah sebagai keperluan ummat Islam sa’at ini maka ramai orang yang membicarakannya setiap hari.

Sebagai kata akhir perlu kita tegaskan bahwa siyasah itu bermakna politik Islam yang memiliki dan terikat dengan al-ahkam al-khamsah (halal, haram, makruh, sunat, dan mubah). Setiap muslim harus berpolitik dengan mengikat diri kepada al-ahkam al-khamsah tersebut serta meletakkan politik itu sebagai bahagian daripada ibadah ghairu mahdhah, berpolitik mengharapkan pahala lewat amalan politik Islam atau siyasah.

Ketika politik atau siyasah itu diamalkan oleh segenap muslim di dunia maka ianya memerlukan ketentuan dari al-ahkam al-khamsah tersebut yang kemudian diramu dalam konsep fiqh siyasah. Tidak boleh disebut menjalankan fiqh siyasah bagi seorang muslim kalau aktivitas politiknya lepas dari pantauan al-ahkam al-khamsah. Karena fiqh itu berakarkan syari’ah maka apasaja amalan dan prilaku para mukallaf (muslim) dalam kehidupan mereka harus selaras dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan syari’ah. Makanya dalam ranah politik diperlukan adanya ketentuan syari’ah untuk mengontrol dan menstabilkan operasional siyasah dalam bingkai fiqh siyasah, dari situlah wujud siyasah syar’iyyah. Wallahu a’lam…

Penulis Adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry
=diadanna@yahoo.com=

Sumber : KLIKSATU.CO.ID

Menyikapi Perbedaan Awal Dzulhijjah dengan Kerajaan Arab Saudi

 

Oleh : Dr. Syahrir Nuhun Lc., M.Th.I

Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Agama telah menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah tahun 1439 H jatuh pada malam Senin, 13 Agustus 2018 M. Dengan demikian Idul Adha 1439 H tahun ini jatuh pada hari Rabu, 22 Agustus 2018 M. Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, dengan ketentuan ini mestinya akan jatuh sehari sebelumnya, yakni hari Selasa 21 Agustus 2018 M.

Sementara itu, Mahkamah Ulya pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan bahwa 1 Dzulhijjah bertepatan dengan malam Ahad tanggal 12 Agustus 2018 M, maka Wukuf atau Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Senin, 20 Agustus 2018 M. Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Selasa, 21 Agustus 2018 M, bukan hari Rabu, 22 Agustus seperti ketetapan pemerintah Indonesia.

Perbedaan penetapan awal Dzulhijjah ini kemudian menimbulkan berbagai pertanyaan di masyarakat. Di antara pertanyaan tersebut adalah mengapa terjadi perbedaan pendapat?, penetapan siapa yang sebaiknya diikuti, kerajaan Arab Saudi atau pemerintah Indonesia? Pada hari apa sebaiknya melaksanakan puasa ‘Arafah bagi kaum muslimin di Indonesia, apakah pada hari yang sama ketika jamaah haji melaksanakan wuquf di Arafah atau pada tanggal 9 DzulHijjah menurut pemerintah Indonesia?

Berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, saya menyampaikan jawaban sebagai berikut:
1. Perbedaan penetapan awal Dzulhijjah 1439 H antara kerajaan Arab Saudi dengan pemerintah Indonesia disebabkan pada malam Ahad tanggal 12 Agustus hilal terlihat di Arab Saudi, sehingga malam tersebut ditetapkan sebagai malam pertama Dzulhijjah, sementara hilal tidak terlihat di Indonesia sehingga malam tersebut ditetapkan sebagai malam 30 Dzulqa’dah dan esoknya malam Senin baru 1 Dzulhijjah.

2. Para ulama memang berbeda pendapat dalam metode penetapan hari raya Iedul Fithri. Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah menetapkan berdasarkan _ru’yah ‘alamiyah_ (ru’yah internasional), sementara Syafi’iyyah lebih menguatkan _ru’yah mahalliyah_ (ru’yah lokal)

Adapun dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah, penulis tidak menemukan adanya perbedaan di antara para fuqaha terdahulu.

Perbedaan penetapan awal Dzulhijjah justru ditemukan pada masa belakangan ini.

Menurut Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (seorang ulama dari Arab Saudi) dan Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaili (Guru besar di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah), penetapan awal Dzulhijjah berdasarkan _ru’yah mahalliyah_ (ru’yah lokal).

Namun dalil-dalil yang ada justru menunjukkan bahwa penetapan awal Dzulhijjah berdasarkan _ru’yah ‘alamiyyah_ (ru’yah internasional).

Di antara dalilnya adalah dalil umum yang menunjukkan bahwa penentuan awal bulan Qamariyah berdasarkan _ru’yatul hilal_.
Sebagai contoh hadits Nabi SAW, _”Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal.”_ (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, terdapat dalil khusus untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah. Dalam hal ini, yang menjadi acuan utama adalah _ru’yatul hilal_ dari penguasa Makkah, kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil melakukan _ru’yatul hilal_, barulah ru’yah dari negeri lain dapat dijadikan sebagai acuan.

Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadis yang menjelaskan bahwa Nabi saw. memerintahkan Wali (Gubernur) Makkah untuk melakukan ru’yah bulan Dzulhijjah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَارِثِ الْجَدَلِيُّ مِنْ جَدِيلَةَ قَيْسٍ

أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا فَسَأَلْتُ الْحُسَيْنَ بْنَ الْحَارِثِ مَنْ أَمِيرُ مَكَّةَ قَالَ لَا أَدْرِي ثُمَّ لَقِيَنِي بَعْدُ فَقَالَ هُوَ الْحَارِثُ بْنُ حَاطِبٍ أَخُو مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ ثُمَّ قَالَ الْأَمِيرُ إِنَّ فِيكُمْ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ مِنِّي وَشَهِدَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى رَجُلٍ قَالَ الْحُسَيْنُ فَقُلْتُ لِشَيْخٍ إِلَى جَنْبِي مَنْ هَذَا الَّذِي أَوْمَأَ إِلَيْهِ الْأَمِيرُ قَالَ هَذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَصَدَقَ كَانَ أَعْلَمَ بِاللَّهِ مِنْهُ فَقَالَ بِذَلِكَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Abu Yahya Al Bazzaz, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad, dari Abu Malik Al Asyja’i, telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Harits Al Jadali yang berasal dari Jadilah Qais, bahwa Amir Mekkah telah berkhutbah, ia berkata; Rasulullah saw mengamanatkan kepada kami agar melaksanakan ibadah (haji) berdasarkan ru’yah. Jika kami tidak berhasil meru’yah tetapi ada dua saksi adil (yang berhasil merukyat), maka kami melaksanakan ibadah berdasarkan kesaksian keduanya. Kemudian aku bertanya kepada Al Husain bin Al Harits, siapakah Amir Mekkah tersebut? Ia berkata; saya tidak tahu. Kemudian ia bertemu denganku setelah itu dan berkata; ia adalah Al Harits bin Hathib saudara Muhammad bin Hathib. Kemudian Amir tersebut berkata; sesungguhnya diantara kalian terdapat orang yang lebih mengetahui mengenai Allah dan rasulNya daripada diriku. Dan orang ini telah menyaksikan hal ini dari Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam. Amir tersebut menunjuk dengan tangannya kepada seorang laki-laki. Al Husain berkata; aku bertanya kepada orang tua yang ada di sampingku; siapakah orang yang ditunjuk oleh Amir tersebut? Ia berkata; orang ini adalah Abdullah bin Umar, dan Amir tersebut benar. Ia adalah orang yang lebih tahu mengenai Allah daripada dirinya. Ibnu Umar berkata; demikianlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada kami.
(HR. Abu Dawud dan ad-Daruquthni)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-hari manasik haji, seperti hari Arafah, Idul Adha, dan hari-hari tasyriq, adalah Amir Makkah (penguasa Makkah), bukan yang lain. Pada saat tiadanya pemerintahan Islam seperti sekarang, kewenangan itu tetap dimiliki penguasa Makkah, sekarang (Kerajaan Arab Saudi).

Kesimpulannya, penentuan Idul Adha ditetapkan berdasarkan _ru’yatul hilal_, bukan hisab. Hanya saja, ru’yah yang diutamakan adalah rukyat penguasa Makkah. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil meru’yah, barulah diamalkan rukyat dari negeri-negeri yang lain.

3. Inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di Tanah Suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:

«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»

Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah.(HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim).

Juga sabda beliau:

«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah.(HR as-Syafii).

Berdasarkan dalil di atas, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman, bukan menetapkan sendiri-sendiri. Apalagi berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ad-Daruquthni dari Husain bin al-Harits al-Jadali dapat dipahami bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil _ru’yat hilal_ 1 Dzulhijjah, sehingga waktu wukuf dan Idul Adha bisa ditetapkan. Pesan Nabi kepada Amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, sebagai tempat pelaksanaan ibadah haji, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang kesaksiannya disampaikan kepada Amir Makkah.

Berdasarkan dalil tersebut di atas, maka seharusnya pelaksanaan puasa ‘Arafah dilaksanakan pada hari yang sama ketika jamaah haji sedang wuquf di Arafah, yaitu bertepatan dengan hari Senin tanggal 20 Agustus 2018 dan esoknya lebaran Idul Adha, yaitu hari Selasa tanggal 21 Agustus 2018.

Wallahu a’lam.

Catatan:
1. Tulisan ini murni bersifat keagamaan untuk menjawab pertanyaan dan memenuhi permintaan jamaah pengajian
2. Tulisan ini bersifat pribadi dan tidak mewakili intitusi atau organisasi apapun.
3. Perbedaan pendapat seyogyanya disikapi dengan cara yang bijaksana. Bagi yang memilih untuk berIebaran Idul Adha pada hari Selasa, 21 Agustus 2018 berdasarkan hasil ru’yah mahkamah ‘ulya Arab Saudi agar tidak menyalahkan, apalagi membid’ahkan yang berlebaran keesokan harinya. Sebaliknya bagi yang berlebaran pada hari Rabu untuk memberikan kesempatan bagi yang memilih untuk berlebaran lebih dahulu.
4. Mengharapkan agar semua pihak, baik para ulama, pemerintah dan lainnya agar sungguh-sungguh memperhatikan seruan dari Syekh Azhar (1975), Rabithah ‘Alam Islami (1975) dan Konferensi Turki (1978) untuk menjadikan hari raya sebagai hari raya internasional.

Keutamaan Amal Shalih di Awal Dzulhijjah

 

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Merupakan suatu nikmat dan anugerah besar dari Allah Swt yang telah menyediakan moment tertentu untuk beramal shalih dan menyediakan pahala yang besar. Di antara moment tersebut yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sejak hari pertama Dzulhijjah sampai dengan hari kesepuluh Dzulhijjah.

Adapun keutamaan hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah adalah Allah Swt paling mencintai amal shalih pada hari-hari tersebut melebihi hari-hari lainnya sepanjang tahun. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasullullah saw bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal shalih dilakukan padanya paling dicintai oleh Allah melainkan pada hari-hari ini, yakni sepuluh hari di bulan Dzulhijjah. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak jihad di jalan Allah?. Beliau menjawab: Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali dengan membawa sedikitpun dari semua itu.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada hari-hari yang paling agung dan paling dicintai Allah untuk berbuat kebaikan padanya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah (pada saat itu) tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad dan Al- Baihaqi).

Mengenai keutamaan sepuluh pertama awal Dzulhijjah ini, Imam Nawawi menjelaskannya dengan menulis topik khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin “Bab:
Keutamaan Puasa dan Sebagainya pada Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah”, dengan menukilkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari di atas.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.” (Fathul Baari: 2/460)

Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Quran. Allah Swt berfirman: “Demi fajar,  dan demi malam yang sepuluh.” (Al-Fajr: 1-2). Yaitu sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam Ibnu Rajab serta menjadi pendapat mayoritas ulama. Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Swt sampai bersumpah dengannya.

*Amalan Yang disyaratkan*
Pada hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Di antara amal shalih yang disyariatkan pada hari-hari ini yaitu:

*Pertama;* Melakukan ibadah haji dan umrah. Amalan ini merupakan amal yag paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya., antara lain: sabda Nabi saw: “Umrah ke umrah berikutnya itu menghapus dosa-dosa yang dikerjakan di anatara keduanya, dan haji mabrur balasannya tiada lain adalah surga. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

*Kedua;* Melakukan puasa-puasa sunnah, khususnya puasa Arafah. Di antara puasa-puasa sunnat yang dapat dilakukan pada hari-hari yang mulia dan berkah ini adalah puasa Nabi Daud (puasa sehari dan berbuka sehari), puasa Senin dan Kamis, dan terutama puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Mengenai keutamaan puasa Nabi Daud, Rasulullah saw bersabda: “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud dan shalat yang paling dicintai disisi Allah adalah shalatnya Daud. Ia tidur setengah malam dan bangun pada sepertiganya kemudian tidur pada seperenamnya, dan dia puasa sehari dan berbuka sehari. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keutamaan puasa Senin dan Kamis, Nabi saw bersabda: “Semua amal perbuatan akan diperiksa setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku sangat suka jika semua amalku diperiksa dan ketika itu aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmizi). Ummul Mukminin Aisyah ra berkata: Rasulullah saw selalu memperhatikan puasa hari Senin dan Kamis. (HR. At-Tirmizi).

Adapun keutamaan puasa ‘Arafah adalah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan yang akan datang, berdasarkan hadits Nabi saw ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah, beliau bersabda: “Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

*Ketiga;* Melaksanakan shalat-shalat sunnat. Di antara berbagai nikmat Allah Swt adalah ditetapkannya bagi para hamba-Nya shalat tambahan (shalat sunnat) selain shalat fardhu untuk menyempurnakan shalat fardhu kita yang tidak lepas dari kekurangan. Jika shalat fardhu kita ada kekurangan atau tidak benar, maka shalat sunnah merupakan penambal dan penutup kekurangan tersebut. Maka pada hari-hari ini kita sangat dianjurkan memperbanyak shalat-shalat sunnat seperti rawatib dan ghair rawatib, shalat setelah wudhu, dhuha, tahajjud, witir, shalat hari raya Idul Adha dan lainnya.

Shalat sunnat Rawatib (shalat sunnat muakkad) adalah shalat sunnat sebelum dan sesudah shalat fardhu yang selalu dikerjakan oleh Nabi saw yaitu dua belas rakaat dalam sehari semalam: dua rakaat sebelum shalat Shubuh, empat rakaat sebelum Zuhur dengan salam setiap setelah dua rakaat, dua rakaat setelah Zhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya dan. Adapun keutamaannya yaitu dibangunkan sebuah rumah di surga. Nabi saw bersabda: “Tiada seorang hamba muslim menunaikan shalat karena Allah taala dalam setiap hari dua belas rakaat sebagai shalat sunnah bukan shalat fardhu, melainkan Allah membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Muslim)

Keutamaan shalat sunnat Dhuha adalah pahalanya senilai dengan sedekah, berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Pada pagi hari setiap persendian salah seorang di antara kalian berkewajiban bersedakah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, perintah kepada kebaikan adalah sedekah, larangan dari kemungkaran adalah sedekah, semua itu cukup digantikan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim).

Mengenai keutamaan shalat sunat setelah wudhu, Rasulullah saw bersabda kepada Bilal: “Hai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang paling kamu harapkan akan mendapatkan pahala, yang telah kamu kerjakan sejak masuk Islam, karena aku benar-benar mendengar suara terompahmu di surga. Bilal menjawab, Tidak ada amalan yang paling aku harapkan pahalanya kecuali setiap kali selesai berwudhu, baik di waktu siang maupun malam, aku melakukan shalat sunnah semampuku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keutamaan shalat sunnat fajar (shalat qabliah shubuh) adalah pahalanya lebih baik dari dunia dan isinya (HR. Muslim). Adapun shalat sunnat Hari Raya Idul Adha, Rasulullah saw selalu melakukan shalat sunnat ini dan memerintahkannya. Beliau tidak pernah meninggalkannya. Tentu pahalanya sangat besar.

*Keempat;* Senantiasa membaca al-Quran. Membaca Al-Quran merupakan kewajiban setiap muslim. Banyak sekali keutamaan orang yang membaca Al-Quran, di antaranya yaitu; Pertama: mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat (HR. Muslim). Kedua, orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya adalah orang yang terbaik. (HR. Bukhari). Ketiga, orang yang pandai membaca Al-Quran dimasukkan ke dalam surga bersama para malaikat yang suci. Sedangkan orang belum pandai membaca namun ia mau membaca, maka ia akan diberi dua pahala. (HR. Bukhari & Muslim). Keempat, orang yang membaca dan mendengar Al-Quran akan mendapatkan sakinah, rahmat, doa malaikat dan pujian dari Allah. (HR. Muslim). Kelima, mendapat pahala yang berlipat ganda yaitu setiap huruf yang dibaca dihitung satu pahala dan satu pahala itu dilipat gandakankan menjadi sepuluh ganda. (HR. At-Tirmizi), dan sebagainya.

*Kelima:* Berinfak dan bersedekah di jalan Allah. Tidak diragukan lagi bahwa berinfak dan bersedekah merupakan amal shalih yang dicintai Allah. Terlebih lagi bila dilakukan pada hari-hari ini (sepuluh hari awal Dzulhijjah). Banyak ayat Al-Quran dan Hadits yang menganjurkan dan menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya; Allah Swt berfirman: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada diri mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Al-Baqarah: 274). Allah Swt berfirman: “Dan apa saja yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), maka pahalanya itu untuk kalian sendiri..” (Al-Baqarah: 272). Nabi saw bersabda: “Allah berfirman: berinfaklah wahai anak cucu adam, niscaya kamu akan mendapatkan gantinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi saw bersabda: “Setiap hari, dua malaikat turun kepada seorang hamba. Salah satunya berdoa, Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak. Dan yang lain berdoa, Ya Allah, hilangkan harta orang yang menolak infak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

*Keenam;* Shalat Idul Adha, mendengarkan khutbah ‘iedul Adha dan berkurban pada Hari Nahr atau Idul adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyri’. Allah Taala berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar: 2). Di antara makna perintah shalat disini adalah shalat Idul Adha. Berkata Ar-Rabi: “Jika engkau selesai shalat di hari Idul Adha, maka berkurbanlah.” Dari Abu Said berkata: “Rasulullah saw. keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha ke tempat sholat. Yang pertama dilakukan adalah shalat, kemudian menghadap manusia -sedang mereka tetap pada shafnya- Rasul saw berkhutbah memberi nasehat dan menyuruh mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dari Ummi Athiyah berkata: “Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi tempat sholat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Berkurban di hari raya ‘Iedul Adha dan hari-hari Tasyri’ merupakan sunnah Nabi Ibrahim as. yakni ketika Allah Swt menggantikan putranya Ismail dengan sembelihan yang agung berupa seekor domba sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran (Ash Shaffat: 102-107). Allah Swt memerintahkan kepada umat Islam untuk berkurban sesuai dengan firman-Nya: “Maka shalatlah karena Rabb-mu dan berkurbanlah.: (Al-Kautsar: 2).
Diriwayatkan dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw telah menyembelih dua ekor yang gemuk, aku melihat beliau meletakkan kedua kakinya di atas leher kedua kambing tersebut, beliau menyebutkan nama Allah dan bertakbir, kemuadian beliau menyembelihnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi saw. bersabda: “Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR Ahmad)

*Ketujuh;* Takbir, tahlil, tahmid dan dzikir lainnya. Allah Swt berfirman: “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (Al-Hajj: 28). Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Tidak ada hari yang paling agung dan paling dicintai Allah untuk berbuat kebaikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah (pada saat itu) tahlil, takbir dan tahmid. (HR. Ahmad).

Imam al-Bukhari berkata: “Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir keduanya.”

Demikianlah di antara amal shalih yang dapat kita lakukan pada hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah yang mulia dan berkah ini. Mengingat keutamaannya tersebut, maka sudah sepatutnya kita memperbanyak amal shalih sesuai dengan petunjuk sunnah Nabi saw, agar kita mendapat ridha Allah Swt. Karena Allah Swt sangat mencintai amal-amal shalih pada hari-hari yang mulia ini melebihi hari-hari lainnya. Maka sangat disayangkan bila keutamaan di sepuluh hari pertama ini berlalu begitu saja tanpa kita raih. Semoga Allah Swt mudahkan kita dalam melakukan amal shalih dan menerima amal shalih kita tersebut. Amin..!

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Prov. Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry, Aceh