BERPUASA DI BULAN RAMADHAN, KEWAJIBAN YANG TIDAK BOLEH DITINGGALKAN

Muqaddimah

Ummat Islam seluruh dunia yang sudah mumayyiz, berakal, sehat jiwa raga, suci dari haidh dan nifas, wajib hukumnya berpuasa di bulan Ramadhan. Wajib dalam konteks al-Ahkam al-Khamsah mengandung makna sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan dan mesti dikerjakan. Yang mengerjakannya mendapat pahala dari Allah serta yang meninggalkannya mendapat dosa. Ia berbeda dengan sunat yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Lain pula dengan haram yang apabila dikerjakan mendapat dosa dan bila ditinggalkan berpahala, sedangkan makruh apabila dikerjakan mendapatkan murka Allah (benci Allah) dan apabila ditinggalkan berpahala, sementara mubah mengandung makna boleh-boleh saja.

Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan bagi ummat Islam yang bukan kanak-kanak, tidak gila, tidak sakit, tidak berhalangan syar’i seperti haidh dan nifas, tidak dalam keadaan musafir, tidak mudharat dalam menyusui bayinya tidak boleh ditinggalkan alias wajib dilaksanakan. Kalau ditinggalkan juga karena alasan-alasan tersebut di atas maka wajib baginya untuk mengqadhanya di bulan-bulan lain di luar bulan Ramadhan tersebut sebagai tuntutan sebuah kewajiban. Bagi yang sengaja meninggalkan tanpa kebenaran syari’ah maka baginya ada ancaman dosa dari Allah yang Maka Kuasa.

Berpuasa itu merupakan kehendak Allah terhadap hambaNya bukan kehendak hamba terhadap hamba yang lainnya. Karena Allah sebagai Khaliq pencipta semua makhluq termasuk manusia yang disuruh menghambakan diri kepadaNya, maka sebagai hamba manusia tidak boleh tidak mesti, harus, dan wajib menghambakan diri kepada Allah semata-mata. Salah satu deskripsi penghambaan diri tersebut adalah melaksanakan puasa penuh sebulan di bulan Ramadhan bagi seluruh hamba dari kalangan ummat Islam yang memenuhi syaratnya. Kewajiban tersebut sama sekali bukan sebuah paksaan, bukan pula sebuah kemudharatan, dan tidak juga sebuah penyiksaan. Semua itu merupakan ujian iman, ujian kesehatan, ujian kedisiplinan, ujian ketha’atan, ujian kasih sayang dari seorang insan terhadap insan lainnya dan dari insan terhadap Khaliqnya, demikian juga dari Khaliq terhadap makhluqnya.

 

KEWAJIBAN BERPUASA

Dalil yang mewajibkan puasa Ramadhan bagi semua ummat Islam yang layak dan tidak berhalangan adalah surah Al-Baqarah ayat 183 yang maknanya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ayat tersebut disokong oleh hadis Rasulullah SAW. riwayat Imam Bukhari yang artinya: Islam dibangun atas lima fondasi; syahadatain, shalat lima waktu sehari semalam, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan naik haji ke Baitullah manakala berkemampuan. Ayat lainnya adalah surah yang sama ayat 185 yang berbunyi: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Tiga dalil syara’ tersebut menjadi pegangan kuat bagi setiap muslim untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Kewajiban yang tertera dalam tiga dalil tersebut disertai dengan sejumlah harapan dari Allah dan RasulNya semisal; la’allakum tattaqun, ghufira lahu ma taqaddama min zanbih, dan thuhratal lish shaimi. la’allakum tattaqun merupakan pemberian harapan dari Allah SWT kepada hambaNya yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Harapannya adalah menjadi orang-orang yang bertaqwa, harapan ini memiliki dua pengertian; pertama, Allah mengharapkan hambaNya yang muslimin dan mukminin menjadi orang-orang yang bertaqwa semenjak sebelum melaksanakan puasa Ramadhan secara komprehensif sehingga meninggalkan dunia fana ini sehingga mereka melaksanakan puasa Ramadhan secara penuh atas dasar ketaqwaannya. Kedua, Allah mengharapkan hambaNya yang muslimin menjadi orang-orang bertaqwa setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh.

Sedangkan maksud dari kalimat: ghufira lahu ma taqaddama min zanbih yang disebutkan dalam hadis Nabi adalah, semua ummat Islam yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah SWT. akan diampunkan semua dosa-dosanya pada massa lalu. Ini berarti setiap muslim/muslimah yang bagus ibadah hariannya, bagus aqidahnya, dan bagus akhlaknya yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan akan mendapatlkan ampunan Allah di hari kemudian dan ia akan ditempatkan dalam syurga. Maka orang seperti ini setelah berakhirnya puasa Ramadhan akan berakhir pula dosa-dosa di tubuh badannya.

Sementara kalimat; thuhratal lish shaimi yang tertera dalam hadis Rasulullah SAW berkaitan dengan zakat fithrah mengandung makna; ummat Islam tha’at yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan, lalu di dalam Ramadhan tersebut ia membayar zakat fithrah kepada fakir-miskin maka baginya akan dibersihkan jiwa raganya oleh Allah SWT. sebagai refleksi dan manifestasi dari pada melaksanakan puasa penuh di bulan Ramadhan dengan mencari ketaqwaan dari Allah, menghidupkan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan sunat dan terakhir membayar zakat fithrah yang lazin dilaksanakan di akhir bulan Ramadhan. Maka baginya menjadi hamba Allah yang bersih, suci, dan jauh dari noda-noda dosa selepas bulan suci Ramadhan. Insya Allah.

Allah mewajibkan puasa Ramadhan kepada hambaNya bukanlah sekedar menyuruh hamba untuk melaksanakan perintahNya sahaja melainkan dengan kemurahanNya Allah memberikan balasan setimpal kepada hamba yang mau melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tersebut mengikut ketentuan yang ada dan selaras dengan maknanya wajib. Maknanya, disebalik perintah dan kewajiban dari Allah untk hambaNya Allah sudah siapkan pemberiannya yang luar biasa kepada semua yang tunduk patuh melaksanakannya dengan sempurna. Untuk itu semua ummat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba melaksanakan kebajikan (fastabaqul khairat).

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

 

MEKANISME PUASA RAMADHAN

Untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan Allah telah memberikan mekanisme dan juga berbagai keringanan kepada hambaNya sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak berpuasa pada bulan tersebut, sesuai dengan firmanNya yang bermakna: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bagi orang Islam yang sakit musiman, menyusui anak dalam keadaan lemah, bernifas dan wiladah, serta dalam keadaan musafir, Allah bolehkan bagi mereka untuk berbuka puasa beberapa hari yang patut karena kondisi yang mengharuskan demikiann dengan ketentuan wajib mengqadhanya di bulan-bulan lain di luar bulan Ramadhan tersebut. Bagi orang sakit payah yang tidak mungkin sembuh lagi maka bagi mereka diwajibkan membayar fidyah dengan memberi makan fakir-miskin sejumlah hari yang ditinggalkan dalam bulan Ramadhan, baik dibayar langsung oleh dirinya semasa masih hidup maupun diwakili oleh anggota keluaranya manakala ia sudah meninggal dunia. Keadaan seperti ini pernah dilakukan oleh Anas bin Malik manakala beliau sakit payah dan tidak sanggup berpuasa.

Ayat di atas juga menyebutkan kalau yang sakit payah tersebut memberi makan fakir-miskin melebihi dari kadar yang wajib baginya itu lebih baik. Maknanya kalau yang wajib diberi makan hanya 30 orang tetapi diberi makan lebih dari itu sampai 40 orang atau lebih, yang demikian sangat bagus dan dianjurkan dalam Islam. Walaubagaimanapun, Qur’an menegaskan berpuasa di bulan Ramadhan itu lebih baik daripada berbuka kemudian mengqadha atau membayar fidyahnya. Hal ini disebabkan kelebihan bulan Ramadhan yang tidak terdapat dalam bulan-bulan lain ketika puasa qadha dilaksanakan. Tentunya berpuasa di bulan Ramadhan jauh lebih afdhal dan memiliki kelebihan yang tidak terdapat dalam bulan lain. Maka khusus bagi para musafir kalau tidak lelah dan lapar sebaiknya terus berpuasa dan janganm berbuka di bulan Ramadhan.

Ada tiga pantangan berat dalam bulan Ramadhan bagi seluruh ummat Islam yang mesti diperhatikan sesuai ketentaun Al-Qur’an adalah; pertama, jangan bersetubuh suami isteri di siang hari bulan Ramadhan, jangan makan minum setelah keluar fajar shadiq (masuk waktu shubuh), dan jangan mencampuri isteri ketika sedang melaksanakan i’tiqaf di sepuluh terakhir Ramadhan, sesuai dengan surah Al-Baqarah ayat 187: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.