Islam Antara ‘Akidah, Syari’ah, Akhlak dan Bala (4)

Konsekwensinya adalah negara mayoritas muslim yang dimerdekakan oleh ummat Islam dengan teriakan takbir (Allahu Akbar), dengan kalimah tauhid (Laa ilaha illallah), dan dengan tahmid (Alhamdulillah, subhanallah) masih menggunakan hukum ciptaan penjajah seperti di Indonesia, di Malaysia, di Mesir, di Aljazair, dan lainnya walaupun sudah lebih setengah abad merdeka. Pemandangan ini sungguh menyayat hati ummat Islam karena penjajah berhasil diusir tetapi prilaku penjajah tetap digunakan, inilah yang membuat ummat Islam tidak mendapatkan ridha Allah dalam mengelola negaranya. Bukan hanya sistem hukum yang masih menggunakan milik kafir tetapi sistem politik, sistem pendidikan, sistem ekonomi, budaya juga masih menyatu dengan milik penjajah. Inilah bukti kafir berjaya menguasai dunia mulai dari penguasaan UN/PBB dan menguasai negara mayoritas muslim sekalian.

Ummat Islam tidak boleh terlena dengan ninabobo kafir dalam kehidupan dunia ini, kembali kepada konsep Islam yang diterapkan Rasulullah SAW; pertama, perjuangan Islam bukan perjuangan pribadi, kaum dan golongan melainkan perjuangan ideologi untuk menguasai dunia dan mengaturnya dengan ‘aqidah Islamiyah, dengan syari’ah Islam, dan dengan akhlak karimah; kedua, ummat Islam tidak boleh terlena dengan tawaran material seperti uang, jabatan, harta benda, perempuan dan wanita, walaupun semua itu menarik dan menyenangkan mata; ketiga, ummat Islam wajib berada di bawah satu komando, satu kendali, satu imam, dan tidak boleh terpecah dan terbelah untuk menuju kesuksesan; keempat, ummat Islam harus banyak sabar dalam perjuangan sehingga mencapai kemenangan, gagal sekali berjuang untuk kedua kali, gagal lagi berjuang lagi sehingga memperoleh kemenangan, tidak boleh berhenti berjuang sebelum syahid atau beroleh kemenangan; kelima, ummat Islam jangan pernah berhadapan sesama muslim gara-gara persoalan khilafiah dan sejenisnya, fokus kita adalah kafir laknatillah yang tidak pernah senang dan puas kepada kita sebelum kita mengikuti keinginan mereka sebagaimana gambaran surah Al-Baqarah: 120.

Rasulullah SAW berhasil menguasai Yatsrib/Madinah dengan menggunakan strategi semacam itu, beliau juga berhasil mengusir kabilah Yahudi Bani Nadir, Bani Qainuqa’, dan Bani Quraidhah dengan menggunakan prinsip tersebut. Padahal mereka sebelumnya merupakan penguasa-penguasa Yatsrib yang memperbudak kaum tempatan (‘Aus dan Khazraj) dan mengadu domba mereka untuk kepentingan politik dan ekonominya. Bukti lain lagi kejayaan dengan strategi seperti itu adalah kejayaan Rasulullah SAW dalam merampas kota Makkah dari tangan kafir Quraisy yang menjadi rival utama beliau semenjak beliau diutus menjadi Rasul oleh Allah SWT sampai berjaya menaklukkannya lewat aneksasi perang tanpa darah karena dengan kekompakan muslim menakutkan kafir Quraisy sehingga mereka tidak berani melawan, akhirnya menyerah bulat-bulat ketika nabi bersabda man dakhala baitullah fahua aminan, wa man dakhala baiti Abu Sufyan fa hua aminan. Maka berlomba-lombalah mereka masuk kedalam dua tempat tersebut dengan aman.

Ummat Islam sebagai penghuni mayoritas dunia hari ini insya Allah masih mampu menaklukkan dunia sebagaimana Rasulullah melakukannya pada zamannya. Ummat Islam masih mampu menaklukkan Eropah hari ini sebagai mana Alfatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan Thariq bin Ziyah menaklukkannya pada masanya masing-masing dahulu kala, asalkan ummat Islam mengikat diri minimal dengan lima strategi yang kita cadangkan di atas tadi. Insya Allah dunia ini akan kembali dimiliki ummat Islam karena ummat Islam sebagai penyembah Allah, the real and original God on the world.

Persoalan yang paling mendasar yang membuat dunia runyam hari ini adalah persoalan akhlak penghuni dunia yang sudah kembali ke zaman para nabi sebelum Islam. Maraknya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) yang dahulu pernah terjadi di zaman nabi Luth muncul dan berkembang luas di dunia hari ini bukan hanya di kalangan orang-orang kafir melainkan dalam kehiidupan ummat Islam juga, bukan hanya ummat Islam dari golongan awam saja melainkan dalam kalangan orang-orang yang dipanggil ulama juga yang memimpin pendidikan mendidik anak bangsa, maka bagaimana mungkin lahir kader Islam anti LGBT kalau lembaga pendidikan Islam memproduknya.

Di benua Eropah, benua Amerika, Australia, dan beberapa negara di benua Asia, Afrika sudah lazim/lumrah, dan malah ada yang disahkan LGBT menjadi amalah harian mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam undang-undang negara mereka. Ketika itu sudah menjadi bahagian daripada pengakuan undang-undang sebuah negara bermakna prilaku kaum nabi Luth marak kembali di bumi hari ini. Yang menjadi persoalan besar bagi penghuni dunia hari ini adalah tidak ada pihak yang mencegahnya sehingga prilaku songsang tersebut berjalan lancar seperti air mengalir. Maka berlakulah peringatan Allah dalam surah Al-Anfal: 25 dan hadis riwayat Ahmad di atas tadi. Itulah punca segala bencana.

Kalau dahulu pembunuhan, penyiksaan, penganiayaan terhadap ummat manusia sangat sarat terjadi di zaman kehidupan kaum ‘Ad zaman nabi Hud, maka hari ini pembunuhan, pembantain, penganiayaan yang serupa juga wujud terhadap ummat Islam di Rakhine State Myanmar, terhadap Ummat Islam di Uyghur negeri Cina/Tiongkok, terhadap muslim di India, di Palestina, dan di mana-mana. Semua itu menjadi langgam dan formalitas paling meyakinkan kalau Allah bakal menghadiahkan bala demi bala kepada penduduk dunia hari ini sebagaimana yang pernah Allah turunkan kepada kaum terdahulu seperti hujan batu untuk kaum nabi Luth, banjir besar terhadap kaum nabi Nuh, gempa besar dan angin badai serta bunyi halilintar yang memecahkan pendengaran telinga kepada kaum nabi Syu’aib, kaum nabi Shalih, dan sebaginya.

Covid 19 yang menghebohkan dunia semenjak 6 Februari 2020 menjadi salah satu contoh kalau Allah sudah mulai menampakkan kekuasaannya kepada manusia-manusia yang anti Allah, kepada manusia-manusia yang anti Hukum Allah, dan kepada manusia-manusia biadab yang tidak mau berakhlak dengan akhlak karimah. Allah Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Perkasa, Maha Berkehendak, Maha ‘Arif lagi Bijaksana, dan milik Allahlah apa yang ada di bumi, di langit, dan di antara keduanya.

Sesungguhnya bala, malapetaka, dan ancaman Allah tidak pernah henti diberikan kepada hambanya yang dhalim dan bermakshiyat baik kepada Allah, kepada dirinya sendiri, kepada manusia lain, kepada hayawan, maupun kepada lingkungan alam sekitar. Kita sudah merasakannya dengan Tsunami Aceh 26 Desember 2004, Topan Super Haiyan yang menewaskan lebih dari 7.000 orang pada 2013 lalu di Filipina, angin topan yang memangsa rakyat Amerika Serikat 28 Desember 2015, banjir besar di Jakarta tahun 2019, dan lainnya.

Semua itu menjadi pelajaran kepada semua ummat manusia apa saja agama dan bangsa mereka. Bala Allah dahulu kepada kaum Namrud, kaum Fir’aun, kaum ‘Ad, kaum Kan’an dan lain-lain harus menjadi satu pelajaran dan keyakinan bagi penghuni dan penguasa dunia hari ini bahwa Namrud, Fir’aun merupakan orang-orang kuat, terkenal, berkuasa pada masanya, tetapi Allah mampu menghancurkan mereka dengan sekejab saja. Karenanya kalau ada pemimpin atau rakyat sesuatu negara yang menganggap negaranya sangat kuat dan militernya tidak mampu dikalahkan oleh militer manapun hari ini seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Korea, Jepang, dan lainnya, maka mereka harus yakin ada kekuatan lain yang mampu mengalahkannya. Kasus terbaru terkait dengan kekuatan tersebut adalah negara Tiongkok yang pada hujung tahun 2019 menghandalkan kekuatan negaranya dan mengatakan mereka sangat kuat serta tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan mereka, maka tiba-tiba 6 Februari 2020 mereka menerima bala besar bernama Covid 19 yang bermula dari Wuhan yang sangat susah diatasi. Malah efeknya merambah dunia raya sampai hari ini belum mampu ditangani, negara paling parah diterpa bala tersebut adalah Italia.

Bukan hanya kepada mereka yang tidak beriman, kepada kaum berimanpun Allah menurunkan bala manakala mereka berbuat dhalim dan berlaku ma’shiyat melawan ketentuan Allah yang Maha Kuasa. Kita tidak dapat menutup mata dengan kasus Tsunami Aceh, Banjir Jakarta, gempa Jogja, dan lainnya yang semua itu menimpa hamba Allah dari kalangan muslimin dan mukminin. Makanya tidak ada alasan bagi siapapun untuk menghandalkan diri jauh dari bala, jauh dari malapetaka, jauh dari murka Allah manakala ia sudah tiba masanya semua itu mudah saja terjadi.

Dengan demikian, kekuatan apa lagi yang bisa kita handalkan dalam kehidupan ini kalau bukan kekuatan iman. Undang-undang apa lagi yang kita harus praktikkan dalam kehidupan ini kalau bukan undang-undang Islam (Syari’ah). Moral mana lagi yang kita harus amalkan dalam kehidupan ini kalau bukan akhlak Islam yang bernama akhlaqul karimah. Selain itu bukan hanya akan punah di dunia melainkan akan menerima padah dalam api neraka di hari kemudian nantinya. Ummat Islam dunia wajib memahaminya, wajib mendakwahinya baik kepada muslim maupun kafir agar semua manusia mengikuti kehendak tuhan satu-satunya yaitu Allah Ta’ala dan jauh dari mara bahaya dan malapetaka. Wallahu a’lam bishshawab.

 

H A B I  S  S S…..

 

Bahagian keempat dari empat artikel

 

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry

 

Islam Antara ‘Akidah, Syari’ah, Akhlak dan Bala (3)

Kondisi itu wujud tidak terlepas dari: pertama, manusia tidak mau beraqidah Islamiyah, kedua, karena yang beraqidah Islamiyah tidak mau bersyari’ah, dan yang ketiga, mereka semua tidak mau berakhlak karimah. Kasus hancurnya kaum nabi Nuh dengan banjir besar karena mereka tidak mau beraqidah yang benar yang digambarkan Al-Qur’an:

Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (Al ‘Araf; 64).

Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (Asy-Syu’ara; 119-120).

Dalam kasus lain Allah telah berikan perumpamaan terhadap para pengganas seperti pengganas terhadap muslim di Palestina, di Rakhine State Myanmar, di Uyghur Tiongkok, di India, dan sebagainya yang menyiksa ummat Islam. Sebahagian mereka juga menyiksa dan membunuh hamba Allah yang tidak berdosa seperti gambaran Al-Qur’an terhadap kaum ‘Ad yang menyiksa dan membunuh orang-orang beriman dan mengikuti Nabi Hud as.;

Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. (Asy-Syu’ara; 130). Karena kaum ‘Ad mendustakan dan tidak mau mengikuti dakwah nabi Hud maka Allah hancurkan mereka sebagai balasannya, firman Allah SWT:

Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (Asy-Syu’ara; 139)

Terhadap kaum nabi Luth yang tidak mau meninggalkan amalan liwath (homoseksual) yang paling hina di antara amalan-amalan manusia maka Allah hancurkan mereka dengan hujan batu. FirmanNya:

Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Al-A’raf: 83-84).

Ketika penduduk Madyan menolak ajakan nabi Syu’aib untuk tidak mengurangi sukatan (timbangan) maka Allah azab mereka dengan gempa dahsya. Allah berfirman:

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (Al-A’raf; 91).

Manakala kaum nabi shalih yang mengingkari Allah maka Allah beri balasan kepada mereka:

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”.(Al-A’raf; 78-79).

Melihat kisah dan bala yang pernah terjadi untuk kaum nabi-nabi terdahulu yang tertera dalam Al-Qur’an, ia berkisar antara persoalan ‘aqidah, syari’ah, dan akhlak. Kaum nabi Nuh dihancurkan Allah karena persoalan ‘aqidah tidak mau beriman kepada Allah, kaum nabi Syu’aib dihancurkan Allah karena persoalan tidak mau menjalankan syari’ah Allah, dan kaum nabi Luth dihancurkan Allah karena persoalan runyamnya akhlak tidak mau meninggalkan liwath, demikian juga dengan kaum nabi shalih, kaum Saba, kaum Fir’aun, kaum Namrut, kaum Bani Israil, semuanya terkait dengan melawan Allah lewat penolakan iman, penolakan syari’ah, dan melanggar akhlak karimah.

Dunia hari ini dipenuhi oleh manusia-manusia angkuh yang penuh arrogan dengan kejahilannya masing-masing, sehingga mereka tidak mengakui adanya tuhan, atau tidak mengakui tuhan Allah sehingga melecehkan agama Allah satu-satunya yang sah yakni Islam. Islam diperalat dan dipermainkan mereka dengan berbagai skenario, mulai dari skenario Islam Ekstrim, Islam Militan, Islam Radikal, sampai kepada Islam Teroris. Semua itu jelas ciptaan mereka untuk melecehkan Islam dan melemahkan ummat Islam, sayang seribu kali sayang ummat Islam terbagi kepada dua golongan dalam konteks ini; pertama: ummat Islam jahil (bodoh), golongan ini menerima sepenuhnya skenario mereka sehingga dapat terlena dan terbuai dengan skenario tersebut; kedua: ummat Islam jahat yang mengutamakan kepentingan pribadi, kaum dan golongan dengan mengabaikan kepentingan Islam dan muslimin sehingga rela diperbudak dengan skenario-skenario tersebut dan mereka mengakui skenario tersebut. Ummat Islam jahat ini biasanya terdiri dari muslim sekuler, muslim plural, muslim liberal (Sepilis), muslim nasionalis, muslim komunis, dan sejenisnya yang sangat berbahaya bagi Islam dan ummat Islam sendiri.

Terkait dengan hukum, dunia yang dikuasai kafir hari ini menolak mentah-mentah berlakunya hukum Islam (Syari’ah) walaupun terhadap muslim di negara ummat Islam sendiri. Mereka merekayasa sedemikian rupa sehingga negara-negara mayoritas muslim yang belum dan mau memberlakukan Hukum Islam tidak berhasil melakukannya. Rekayasa ini sering dilakukan melalui muslim Sepilis, nasionalis, dan komunis dalam wilayah mayoritas muslim, mereka juga menggunakan dan memperalat HAM untuk menakut-nakuti ummat Islam yang mau menerapkan Hukum Islam dalam kehidupan mereka.

 

BERSAMBUNG…..ke bagian (4)

 

Bahagian ketiga dari empat artikel

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Islam Antara ‘Akidah, Syari’ah, Akhlak dan Bala (2)

Dari situlah posisi Islam dan ummat Islam menjadi rakyat dunia semata di luar struktur penguasa dunia raya, manakala negara-negara kafir seenaknya saja mengklaim UN sesuai selera mereka dengan menetapkan lima negara punya hak veto dalam tubuh UN yaitu Inggeris, Perancir, Amerika Serikat, Uni Soviet (sekarang diganti Rusia), dan Republik Rakyat Cina (sekarang Tiongkok). Maka resmilah dunia dikuasai oleh kaum kuffar yang sangat keras, kasar, dan bringas terhadap muslim dan Islam, dan itu pula yang dapat menjawab kenapa muslim Rohingya, Muslim Uyghur, Muslim India, Muslim Thailan Selatan, dan Muslim Filipina Selatan menjadi sedemikian rupa. Allah memang sudah berjanji:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah: 120).

Yang dimaksud dengan petunjuk Allah yang benar dalam ayat ini adalah Islam dan syari’ahnya yang diturunkan Allah sebagai solusi kehidupan ummat Manusia di alam raya dengan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat manusia. Apabila manusia di dunia mengikuti syari’ah maka dijamin dunia aman, tenteram, tenang, dan sejahtera karena tidak terjadi diskriminasi antar agama, tidak terjadi pelanggaran HAM oleh kafir terhadap muslim di dunia seperti hari ini, tidak terjadi manipulasi hidup dan kehidupan ummat manusia. Syari’ah itu sumber pengetahuan maka ummat Islam wajib mengikutinya, manakala ummat Islam tidak mengikutinya dan malah mengikuti kehendak mereka setelah pengetahuan itu didatangkan Allah SWT kepadanya maka Allah melepaskan diri dari menjadi pelindung dan penolongnya. Ketika Allah sudah melepaskan diri tidak lagi melindungi dan tidak pula menolongnya maka hancurlah kehidupan itu sehancur-hancurnya. Itulah yang sedang terjadi terhadap ummat Islam di dunia hari ini.

Hari ini lebih separuh pemimpin ummat Islam di dunia tidak lagi mengikuti kemauan Allah dan sepenuhnya mengikuti kemauan kafir tersebut yang secara kasat mata menguasai dunia hari ini. Inilah sumber malapetaka yang paling berbahaya bagi ummat Islam di dunia hari ini, mereka meninggalkan bimbingan Allah dan mengikuti bimbingan kafir laknatillah. Hampir semua negara mayoritas muslim di dunia hari ini menjadi pak turut kepada kuasa besar dunia dengan rela mengorbankan identitas Islam (‘aqidah, syari’ah, akhlak Islam) untuk kepentingan jabatan dan kerajaan. Dan ini pulalah yang menjadi pemicu datangnya bala-bala Allah ke permukaan bumi seperti Corona Virus (Covid 19) yang bermuunculan sejak 6 Februari 2020 berawal dari Wuhan negeri Tiongkok dan sekarang merambah dunia raya tanpa batas lagi. Allah sudah duluan mengingatkan semua itu dalam firman demi firman yang terkandung dalam Al-Qur’an:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A’raf: 96).

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (An-Nahlu: 112). Kasus Covid 19 yang menimpa dunia sejak 6 Februari 2020 sampai hari ini menjadi jawaban kandungan ayat ini, di mana penduduk dunia dihantui oleh rasa takut karena diserbu wabah Covid 19 sehingga mereka tidak dapat beraktifitas, dengan kondisi semacam itu membuat bisnis, perdagangan, lapangan kerja menjadi macet, ekonomi manusia hancur, maka jadilah mereka orang-orang yang takut dan orang-orang yang lapar. Ketentuan Allah itu maha benar, hanya orang-orang bodoh, angkuh, congkak, arrogan, dan sombong sajalah yang tidak mempercayainya.

Allah juga telah lama mengingatkan kita untuk menjaga diripada azab dan musibah yang Allah berikan kepada seluruh penghuni dunia baik pelaku makshiyat atau yang melihatnya tetapi tidak mencegahnya. Firman Allah dalam surat Al-Anfal: 25;

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. Hari ini siksa keras Allah itu berada dalam bentuk makhluk lembut tapi berefek sangat amat keras, karena Covid 19 tidak berbentuk perang senjata api, bom, dan semisalnya. Tetapi efeknya sangat amat keras dan mematikan melebihi efek perang dunia pertama dan kedua terhadap ummat manusia. Sekali lagi peringatan Allah itu pasti dan nyata dirasakan oleh orang-orang beriman, sementara mereka yang tidak beriman menganggap itu faktor kejadian alam saja.

Setiap kemungkaran harus dicegah untuk menghindari bala Allah, bukannya didukung karena mendapatkan kafalah, ketika kemungkaran dan kedhaliman itu tidak dicegah oleh orang-orang yang paham dan mengerti perintah Allah maka bala dan malapetaka akan merambah semua hamba Allah. Dalam hadits riwayat imam Ahmad disebutkan bahwa  ‘Adi bin ‘Amirah berkata, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوُا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

 

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengazab orang banyak (yang di dalamnya ada orang-orang shaleh) lantaran perbuatan orang-orang tertentu sehingga orang-orang shaleh tersebut melihat kemungkaran itu berada di tengah-tengah mereka, mereka mempunyai kemampuan untuk mencegahnya namun mereka tidak mencegahnya. Apabila hal itu terjadi, maka Allah akan mengazab mereka semuanya termasuk orang-orang shalih di dalamnya. (HR. Ahmad).

 

BERSAMBUNG…..ke bagian (2)

 

Bahagian kedua dari empat artikel

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry

 

Islam Antara ‘Akidah, Syari’ah, Akhlak dan Bala (1)

Sebagai agama paling akhir dari kalangan agama-agama samawi, Islam diturunkan Allah dalam kapasitas tauhid tetap mempertahankan keesaan Allah sebagaimana yang menjadi doktrin terhadap agama tauhid penurunan nabi Ibrahim A.S. terhadap kaum Yahudi dan kaum Nashrani. Baik kaum Yahudi, Nashrani maupun Muslim berawal dari sumber moyangnya yang satu adalah nabi Ibrahim A.S. yang mewariskan Isma’il dan Ishak. Ismail mewariskan keturunan terakhirnya tanpa nabi adalah suku Quraisy, dari suku Quraisy inilah hadir Muhammad bin Abdullah yang kemudian bergelar Rasulullah SAW karena diangkat Allah menjadi RasulNya. Sementara Ishak mewarisi Ya’kub dan Ya’kub mewariskan 12 orang keturunan yang kemudian populer dengan gelar Bani Israil karena Ya’kub mempunyai nama lain yakni Israil, jadi Bani Israil adalah keturunan nabi Ya’kub A.S.

Sebagai agama tauhid, Islam, Nashrani, dan Yahudi pada asasnya dan pada prinsipnya tidak dapat dibedakan karena sama-sama mengajak ummat dan kaumnya untuk mengtauhidkan Allah semata-mata. Namun apa yang disayangkan adalah manakala Allah turunkan Islam sebagai agama terakhir setelah Yahudi dan Nashrani dengan mengutuskan Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul Allah SAW. seraya Allah perintahkan kepada seluruh penduduk dunia untuk menyembah Allah, masuk dalam agama Islam dan mengikuti Rasullah SAW. sebagai utusan dan nabi Allah yang terakhir, sebahagian besar kaum Bani Israil tidak mau mengikutinya karena Muhammad Rasulullah SAW. bukan datang dari keturunan Bani Israil dari jalur Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub melainkan dari jalur Ibrahim, Ismail, dan bangsa Quraisy.

Dari sinilah muncul istilah kafir musyrik dan kafir alhul kitab (kitabi/kitabiyah) yang asal mulanya adalah kaum Bani Israil yang tidak mau mengikuti perintah Allah dan tidak mau bergabung dalam Islam karena Rasul bagi ummat Islam yang diutuskan Allah bukan dari jalur Bani Israil (kon asoe lhôk). Disebut kafir musyrik karena sebelum Islam datang mereka menyembah Allah, beriman kepada Allah, dan ikut Rasul-Rasul Allah, tetapi ketika Islam datang mereka tidak mau bergabung dengannya dan juga melepaskan diri dari kitab sebelum Al-Qur’an, maka jadilah posisi mereka dari kaum beriman menjadi kaum musyrik. Dikatakan kafir ahlul kitab (kitabi/kitabiyah) karena mereka tidak mau masuk Islam, tidak mau ikut Rasulullah SAW, dan tidak mau beriman kepada Al-Qur’an melainkan tetap yakin dengan kita pegangan dasarnya yang orijinal (Taurat, Zabur, Injil).

Diynul Islam yang Allah kokohkan dalam Al-Qur’an surah Ali Imran 19 dan 85, serta surah Al-Maidah ayat 3 menjadi satu-satunya agama benar di muka bumi ini bagi setiap ummat manusia yang bertuhankan Allah yang Maha Benar, Maha Besar, dan Maha Berkuasa. Secara logika manusia setiap produk yang baru lahir tentunya ada kelebihan dari produk sebelumnya, penyebab lahirnya produk baru juga karena ada kekurangan pada produk sebelumnya, makanya produk yang paling akhir wujud adalah menjadi produk yang lebih baik dan lebih sempurna. Kalau kita mau beri umpama terhadap kenderaan; dahulu ada mobil Chevrolet kemudian lahir Toyota lalu disaingi oleh Mercedes Benz, Audi dan sebagainya, maka yang lebih komprehensif adalah Mercedes Benz dan Audi. Toyota juga demikian, dahulu hanya mengandalkan Toyota Corona dan Toyota Corolla, kemudian lahir Toyota Fortuner yang lebih gagah, kekar, cepat, nyaman penggunaannya, maka yang menjadi rebutan sekarang adalah Toyota Fortuner karena ia lebih baik dan sempurna.

Demikianlah logika sepintas untuk menyatakan bahwa manakala Allah turunkan Diynul Islam dengan menafikan agama-agama lainnya bermakna Islamlah the best religion on the world to day and for the future. Lebih-lebih lagi ketika kaum Bani Israil yang mulanya menyembah Allah kemudian menyembah manusia dan menuhankan anak manusia, maka gugurlah gelar agama tauhid bagi agama yang mereka anut tersebut. Dalam keyakinan ‘aqidah, sekali gagal maka ia akan gagal untuk selamanya, itulah kondisi ril yang terjadi terhadap kaum Bani Israil yang sesudah gagal bertuhan Kepada Allah, yang sudah menolak Rasulullah SAW.yang tidak mau berpegang kepada Al-Qur’an, dan tidak mau bersaudara dengan ummat manusia yang di luar keyakinan mereka, maka sampai kapanpun mereka tetap berada pada posisi bathil, sesat lagi menyesatkan kecuali mereka beralih keyakinan kembali dengan memeluk Islam dan mengikuti segala aturan yang berlaku di dalamnya.

Islam sebagai agama yang paling diakui Allah kebenarannya menduduki jumlah penganut terbesar di dunia setelah Kristen (gabung Katolik dengan Protestan). Namun dalam percaturan politik dunia Islam dan ummat Islam selalu menjadi seperti tetamu di rumah sendiri, kenapa terjadi demikian adalah karena Islam menjadi Single fighter dalam kehidupan dunia. Langsung atau tidak langsung manakala Islam berhadapan dengan Kristen maka Yahudi, Hindu, Budha, dan lain agama semuanya menyatu dengan Kristen untuk mengganyang Islam. Lihatlah kasus yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Rakhine State Myanmar yang dibakar, digorok, digergaji, dibunuh, dibakar hidup-hidup oleh bangsa Myanmar yang ganas seluruh dunia diam membiarkan hal itu ter terjadi. Di sisi lain mereka mengagung-agungkan HAM, tetapi HAM itu tidak berlaku untuk ummat Islam.

Lihat juga kasus yang terjadi terhadap muslim Uyghur di negeri Tingkok yang lebih parah dari kasus muslim Rohingya, mereka dijaga ketat tidak boleh keluar negeri, tidak boleh ke masjid secara bebas, dipaksa tunduk patuh terhadap ideologi komunis, yang tidak ikut disiksa, dipenjara, dibunuh dan seumpamanya. Sampai hari ini dunia diam seribu bahasa dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Demikian juga dengan kasus baru yang terjadi terhadap muslim di India, mereka dibunuh di jalan raya, harta mereka di bakar, dirampas, dirusak, dan dibinasakan tidak berbelas kasihan, seolah-olah ummat Islam tidak berhak hidup di dunia ini.

Sebaliknya di mana-mana negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki, minoritas Kristen, Yahudi, Hindu Budha dapat hidup aman, tenang, dan tenteram tanpa ada sedikitpun diskriminasi dari mayoritas muslim di sana. Kenyataan ini membuktikan bahwa Islam memang agama paling rasional, paling objektif, paling soft, paling relevan untuk ummat manusia walau apapun agama mereka. Manakala orang-orang kafir membantah kenyataan tersebut maka ianya tergolong kedalam manusia-manusia irrasional, upnormal, seniwön dan pantengöng dalam terminologi ke-Aceh-an.

Dunia memang sudah terlanjur dikuasai oleh kafir semenjak berakhirnya perang dunia kedua yang terjadi 1 September 1939 – 2 September 1945 (6 tahun 1 hari). Perang ini berakhir dengan hasil yang sama sekali tidak menguntungkan Islam; pihak sekutu (USSR, USA, Imperium Britania, Tiongkok, Perancis, Australia, Afrika Selatan, Yunani, Belanda, Coslowakia, Filipina, dan lainnya) memenangkan perang dengan mengalahkan pihak reich ketiga/poros (Nazi Jerman, Jepang, Italia, Hongaria, Rumania, Bulgaria, Irak, Spanyol, Kroasia, dan lainnya) dan menghancurkan kuasa jepang dan Italia. Pada masa tersebut ditubuhkan Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations/UN) yang didominasi oleh pihak pemenang perang, lahir pula dua kuasa besar dunia di luar kekuatan Islam yakni United State of Amerika (USA) dan United State of Soviet Rusia (USSR), terjadi pula pemisahan negara-negara dunia menjadi blok kapitalis di barat yang dikuasai USA dan blok komunis di timur yang dikendalikan USSR, dan terjadinya perang dingin yang berhadapan antara USA dengan USSR. dalam masa lumayan panjang.

 

Bahagian pertama dari empat artikel

BERSAMBUNG….. ke bagian ke (2)

 

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry