ADI Aceh Adakan MASTAMA

Banda Aceh (26/8) — Sebanyak 17 mahasiswa baru Aka­demi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh mengikuti Masa Taaruf Mahasiswa (Mastama) di Markas Dewan Dakwah Aceh, Desa Rumpet, Ke­ca­ma­tan Krueng Barona Jaya, Kabu­paten Aceh Besar.

Kegiatan yang bertajuk “Menyiapkan generasi Da’i Ilallah yang berwawasan Luas dan menjunjung tinggi Akhlaqul Karimah” tersebut ber­langsung selama 3 hari dari hari senin (26/8/2019) sampai dengan Rabu (28/8/2019).

Kegiatan pembukaan MASTAMA ADI Aceh dihadiri oleh Ketua Dewan Dakwah Aceh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MA, Sekretaris Dewan Dakwah Aceh, beserta pengurus ADI Aceh.

Ketua Panitia Pelaksana, Hanisullah, M.Pd mengatakan, kegiatan Mastama tersebut bertujuan untuk memperkenalkan program dan sistem perku­lia­han serta peraturan yang berlaku di ADI Aceh. Selain itu, mahasiswa baru akan mendapatkan penjelasan materi-materi yang berkaitan dengan dunia Islam dan dakwah agar menjadi bekal selama mengikuti perkuliahan.

“MASTAMA kali ini berbeda dari MASTAMA sebelumnya yaitu dilakukan pembukaannya pada malam hari dan juga di jadwalnya selama MASTAMA calon mahasiswa diwajibkan utk melakukan qiyamullail dan ini berlaku selama di ADI Aceh,” ujar hanis

sementara itu, Direktur ADI Aceh, Dr Muham­mad AR MEd mengatakan, ADI mem­punyai misi membantu mengawal pe­lak­sanaan syariat Islam dan mengan­tisipasi pendakalan akidah serta me­nyiapkan kader-kader dai yang mam­pu menjadi imam dan khatib salat Jumat yang nantinya akan ditempat­kan di daerah-daerah perbatasan dan pedalaman Aceh.

ADI merekrut mahasiswa baru dari daerah-daerah yang jauh dari dakwah Islam dengan harapan nantinya akan menjadi kader penerus dakwah di ma­sa yang akan datang. Mereka merupa­kan hasil seleksi dan verifikasi yang di­lakukan Tim Penerimaan Mahasis­wa Baru ADI beberapa waktu lalu.

“Dari puluhan yang mendaftar ha­nya 17 orang yang dinyatakan lulus,” ujar Muhammad AR

Muhammad menguraikan, Sebagian besar mahasiswa berasal dari daerah perbatasan dan pe­dalaman Aceh, di antaranya dari Subulussalam sebanyak 9 orang, Aceh Singkil 3 orang, Aceh Tenggara 1 orang Aceh Selatan 2 orang, Aceh Tamiang satu orang dan Gayo Lues 2 orang.

“Selama belajar di ADI Aceh, semua biaya kuliah, biaya asrama dan biaya makan digratiskan,” Terang Dosen UIN Ar Raniry ini

Muhammad AR yang juga Wakil Ketua Dewan Dakwah Aceh ini men­jelaskan, tenaga pengajar di ADI ter­diri atas 15 doktor dan puluhan master, lulusan sejumlah kampus di luar dan dalam negeri.

“Mahasiswa ADI belajar selama satu tahun dengan fokus utama mampu menghafal Alquran minimal dua juz, pemantapan bahasa Arab dan penguatan akhlak. Kemudian akan diseleksi kembali untuk melanjutkan kuliah program S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir Jakarta, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,” tutup Da’i yang dikenal ramah ini

ADI Aceh Gelar Tasyakuran

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh menggelar tasyakuran dan pengukuhan kepada 19 mahasiswa angkatan ke IV dan ke V tahun akademik 2018/2019 di Komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar, Minggu (18/8/2018).

Prosesi pengukuhan dilakukan oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh yang diwakili Sekretaris Umum, Said Azhar S.Ag MA yang didampingi oleh Direktur ADI Aceh, Assoc. Prof. Dr. Muhammad AR MEd dan Sekretaris ADI, Dr Abizal M Yati, Lc MA beserta para Wakil Direktur ADI.

Kegiatan itu turut dihadiri oleh anggota DPD RI Dapil Aceh Ghazali Abbas Adan, Kepala BMA yang diwakili oleh Shafwan Bendadeh SHI M.Sh, Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh, perwakilan OKP dan Ormas, Muspika Kec. Krueng Barona Jaya, Keuchik dan tokoh masyarakat Rumpet serta orang tua wisudawan.

Tasyakuran dan pengukuhan itu juga diisi dengan orasi ilmiah oleh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR Raniry Dr Saifullah Yunus, MA dengan judul “Dakwah Adalah Jalan Para Rasul”.

Ketua Panitia yang juga Wakil Direktur II ADI Aceh Zulfikar Tijue SE dalam laporannya mengatakan ADI Aceh sudah berjalan selama 5 tahun dan telah melahirkan alumni sebanyak 50 orang. Masa belajar di ADI awalnya selama 2 tahun dan saat ini sudah menjadi 1 tahun.

Ia menambahkan para lulusan ADI sudah mampu menghafal al-quran hingga 3 juz, menghafal hadits arba’in dan juga berbahasa arab.

“Adapun yang dikukuhkan dan diwisuda tersebut, sebanyak 10 lulusan merupakan angkatan ke IV dan 9 orang dari angkatan ke V. Mareka ini berasal dari daerah perbatasan dan pedalaman Aceh. Dari Kota Subulussalam sebanyak 10 orang, dari Kab. Singkil 5 orang dan dari Kab. Simeulue, Kab. Aceh Tamiang, Kab. Aceh Selatan dan Kab. Aceh Jaya masing-masing sebanyak 1 orang,” kata Zulfikar.

Direktur ADI Aceh Direktur ADI Aceh, Assoc. Prof. Dr. Muhammad AR MEd dalam sambutannya mengatakan lahirnya ADI Aceh dikarenakan adanya kerisauan ketika melihat kondisi ummat terutama di daerah pedalaman dan perbatasan Aceh yang sudah lalai dari kewajiban yang diperintahkan kepadanya.

Ia mencontohkan di banyak tempat masih didapatinya mesjid-mesjid dan meunasah yang tidak ramai bahkan kosong saat waktu shalat tiba dan juga tidak ada Imam shalat. Ditambah lagi dengan perilaku manusia yang sudah tidak sesuai lagi dengan anjuran dan tuntunan agama.

“Mahasiswa lulusan ADI ini akan melanjutkan kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohd Natsir di Bekasi, Jawa Barat. Dan setelah selesai di STID, mareka akan kita tempatkan kembali ke daerah perbatasan Aceh untuk mengawal dan menjaga daerah tersebut. Dan ini sangat diharapkan dukungan penuh dari semua pihak,” kata Muhamammad AR.

Sementara Sekretaris Umum, Said Azhar S.Ag MA mengatakan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh merupakan lembaga pendidikan binaan Dewan Dakwah Aceh. Selama belajar di ADI Aceh para mahasiswanya tidak dipungut biaya alias gratis biaya pendidikan dan penginapannya. Selain itu para dosen pun tidak di bayar ketika mengajar.

“dari itu kami memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pengurus ADI Aceh dan juga kepada para dosen yang dengan suka rela tetap mau mengajar meskipun tanpa bayaran,” kata Said Azhar.

Ia menambahkan salah satu program utama dari Dewan Dakwah adalah program kaderisasi. Menurutnya kaderisasi secara formal dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan seperti ADI dan STID. Sedangkan kaderisasi non formal dapat melalui pelatihan-pelatihan dakwah.

“dakwah merupakan kerja berkelanjutan dan dihadapkan dengan berbagai tantangan. Maka disiapkanlah ADI dan STID untuk menjawab tantangan tersebut serta untuk menyelesaikan persolaan eksternal dan internal ummat. Selain itu keberadaan dai sangat banyak dibutuhkan dengan kondisi dan pemahaman masyarakat seperti sekarang ini. Semoga saja keberdaan ADI Aceh menjadi salah satu solusi untuk kemaslahatan ummat,” pungkas Said Azhar.

Dalam kegiatan tersebut juga ditetapkan 3 lulusan terbaik ADI Aceh tahun akademik 2018/2019, yaitu Delno Hartomi dari Simeulue, Samsul Bahri dari Aceh Tamiang dan Hasri Yanto Cibro dari Subulussalam. Kepada mareka diberikan penghargaan yang diserahkan oleh anggota DPD RI Dapil Aceh Ghazali Abbas Adan.

Peusak Hoep

Oleh M. Sanusi Madli

PUESAK HOEP  adalah bahasa klasik yang sering kita dengar di kampung-kampung, di kalangan masyarakat pedesaan kata peusak hoep merupakan kata yang sudah terbiasa muncul, biasa digunakan oleh masyarakat saat mengomentari suatu berita atau keadaan.

Peusak Hoep dapat diartikan sebagai prilaku memaksa kehendak, baik memaksa kehendak nya kepada orang lain, maupun memaksa kehendak terhadap dirinya.

Setiap manusia tentu memiliki keinginan yang berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain, meskipun ada yang mirip mirip sama, namun secara keseluruhan pasti memiliki perbedaan, sejatinya tidak ada seorang pun didunia ini yang memiliki pemikiran yang sama dengan orang yang lain, selalu ada yang berbeda, bahkan orang kembar sekalipun selalu memiliki perbedaan pendapat dan bahkan sering terjadi pertengkaran dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul diantara mereka.

Peusak Hoep adalah perilaku seseorang yang dapat merusak dirinya serta orang lain, bahkan dapat menciptakan konflik baru di masyarakat akibat perilaku peusak hoep, di mana ada orang yang berprilaku demikian, maka di sana kehancuran itu ada, dimana ada orang peusak hoep, di sana pula keributan terjadi, ketenangan dan kedamaian sulit hadir di kalangan masyarakat yang memiliki perilaku peusak hoep.

Seseorang yang memiliki sikap peusak hoep, dia sangat bergembira bila ia berkuasa, dan tidak ada yang mampu menandinginya, setiap ucapan nya mesti selalu didengar, dan setiap arahan nya mesti selalu di ikuti, dengan segala upaya akan dilakukan, supaya kehendaknya, pemikirannya dan kepentingannya dapat diterima.

Ia tidak peduli orang lain suka atau tidak, namun sebaliknya bila ada yang membantah dan mengkritik nya apalagi menolak perintah atau pendapat nya, maka ia akan marah dan mencari cara untuk mencegah orang yang tidak sejalan dengan nya, bahkan dengan pembunuhan karakter, kekerasan, bahkan bila perlu yang berbeda dan tidak sejalan dengan nya harus disingkirkan.

Apabila perilaku peusak hoep itu melekat pada pemimpin sebuah organisasi, maka segala kehendak nya harus diikuti oleh semua anggota organisasi, tidak boleh dibantah, mesti harus diikuti meskipun arahan atau kehendaknya tidak dipahami oleh anggota nya.

Sang pemimpin tidak mau tahu, pokoknya harus begini dan harus begitu, ruang dialog akan ditutup rapat rapat, diskusi diskusi harus dibatasi, karena bila ruang dialog dibuka, diskusi dihidupkan, maka dikhawatirkan akan lahir ide baru, pemikiran baru, bahkan kehendak baru yang berbeda dengan nya.

Apabila sikap peusak hoep melekat pada seorang kepala kantor, maka dia akan mengatur anak buahnya sesuai seleranya, menjalankan program program sesuai dengan jalan pikiran nya, sesuai dengan kepentingan dirinya dan golongannya saja. Apabila dalam rapat atau musyawarah ada yang memiliki ide lain, maka dia akan menolak dan memaksa forum untuk menerima ide dan kehendaknya, meskipun kehendak itu belum tentu baik untuk semua, maka sikap ini akan mematikan ide-ide cemerlang bawahannya dan menghambat berkembangnya gagasan baru serta mematikan daya pikir bawahannya.

Bahkan, yang lebih fatal lagi, bawahannya akan cenderung berada di zona nyaman, karena tidak perlu bersusah payah memikirkan ide, cukup menjalankan saja sesuai kehendak sang kepala, bahkan bila ingin memiliki kesempatan untuk menaiki jenjang atau karir, cukup dukung dan puji sang kepala.

Apabila sikap peusak hoep hinggap di dosen, maka dia akan mengatur mahasiswa sesuai kehendaknya, membuat aturan sesuai seleranya tanpa menghiraukan keadaan mahasiswa, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dari perintahnya. Saat menjadi pembimbing mahasiswa, dia selalu memaksa kehendaknya harus begini dan harus begitu, dengan bahasa pokoknya dan pokoknya.

Dalam kehidupan berumah tangga pun sikap peusak hoep bisa muncul, baik dari seorang suami maupun dari sang istri, konflik rumah tangga yang sering berujung pada penceraian banyak disebabkan oleh sikap peusak hoep, memaksa kehendak, baik itu dijalankan oleh suami maupun oleh sang istri, suami memaksa kehendaknya terhadap istri, demikian juga sang istri, memaksakan kehendaknya kepada sang suami, akhirnya terjadilah konflik yang tidak dapat dielakkan.

Sikap peusak hoep juga bisa terjadi pada orang tua terhadap anak nya, banyak kita saksikan di masyarakat, orang tua memaksa kehendaknya pada anak, orang tua model ini biasanya terlalu bangga dengan profesinya sehingga mereka menginginkan anaknya bisa mengikuti jejak mereka.

Padahal zaman telah berubah dan anak memiliki jalan hidup nya sendiri, memiliki impian dan cita citanya sendiri, namun orang tua tidak peduli, pokok nya anak harus jadi ini dan itu, harus begini dan harus begitu, dan orang tua merasa paling tau terhadap kondisi dan kemauan si anak, padahal setiap pemaksaan kehendak terhadap anak selalu ada keburukan yang datang, dan ini dapat mengancam dan berbahaya buat masa depan sianak.

Apabila perilaku peusak hoep hinggap pada politisi, maka sang politisi tidak segan segan melakukan pemaksaan agar rakyat memilihnya, baginya Kemenangan adalah segalanya,  Kemenangan yang mendatangkan kebanggaan, maka tak perlu heran, segala cara akan dilakukan.

Di Aceh prilaku peusak hoep sudah sering kita lihat di masyarakat, kadang kita melihat sikap itu hinggap di perangkat desa, bahkan seorang imam bisa hinggap sikap peusak hoep, orang yang memiliki perilaku ini sangat sulit untuk diajak diskusi, musyawarah atau lain sebagainya, karena itu kehadiran orang- orang yang berperilaku peusak hoep akan menghambat kemajuan dan pembaharuan.

Bagaimana cara mengobati serta menghilangkan perilaku peusak hoep pada diri orang Aceh?
Semua kita harus saling menghormati dan menghargai setiap perbedaan, dan jangan memaksakan apa yang kita inginkan kepada orang lain, hormatilah orang lain sebagaimana kita ingin dihormati dan dihargai oleh orang lain, memaksa kehendak diri tidak baik bagi kehidupan masyarakat, berpotensi lahirnya konflik dan mengganggu kenyaman bersama.

Jangan merasa senang dan bangga ketika pendapat atau kehendak kita diterima oleh orang lain dengan cara dipaksakan, karena sesungguhnya pendapat atau pemikiran yang benar akan diterima dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan, dan ketika kita mampu menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak atau pendapat  akan menjadikan kita sebagai pemenang dan negarawan sejati, sementara ketika memaksa kehendak untuk diterima oleh orang lain, cenderung seperti sikap orang yang belum baligh.

Mari kita hidupkan diskusi dan musyawarah, sikap saling terbuka perlu dikembangkan dalam masyarakat, sehingga kita saling menghargai, menghormati, saling menasehati, dan hidup dalam keadaan tentram, damai dan penuh keharmonisan.

Penulis : M. Sanusi Madli (Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh).

sumber : www.wasatha.com

Dakwah Itu Menyatukan Bukan Memecah Belah

Oleh M. Sanusi Madli
Dakwah merupakan ajakan atau seruan untuk kebaikan, untuk memberi pemahaman kepada ummat tentang kebenaran, menyerukan ummat kejalan yang lebih baik, menerangi jalan jalan gelap sehingga ummat dapat berjalan dijalan yang benar, tidak tersesat di lorong lorong gelap, dan tujuan akhir yang diharapkan dari dakwah ini adalah bersatunya ummat dalam bingkai persaudaraan dengan beragam perbedaan, karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari.Karena tujuan dari dakwah adalah menyatukan ummat dalam beragam perbedaan, maka bila ada penyeru dakwah yang menyeru pada perpecahan, maka dapat diduga yang bersangkutan tidak memahami tujuan dan hakikat dakwah itu sendiri, atau mereka memahami tujuan dan hakikat dakwah namun sedang melakukan aksi perpecahan, menjalankan misi dari musuh musuh dakwah (islam) itu sendiri, sehingga gerakan nya itu dapat menghalangi atau menghambat persatuan ummat, tujuan utamanya adalah terjadi nya perpencahan ditengah tengah ummat, ummat saling memusuhi, saling menyalahkan bahkan saling mengkafirkan antar sesama.

Karena itu sangat wajar bila kemudian masyarakat merasa resah dengan kelompok pemecah belah ini, penyeru pada kesesatan, mudah membid’ahkan bahkan sangat mudah mengkafirkan antar sesama, padahal perbedaan nya hanya pada tataran masalah furu’ (cabang) saja, masalah ijtihad politik saja, bahkan yang lebih menyedihkan lagi, kelompok yang berbeda dengan nya langsung dilebelkan sebagai musuh, yang tentu harus dijauhi bahkan diperangi, padahal ajaran islam melarang mengkafirkan, melarang keras memutuskan tali persaudaraan, bahkan dengan kafir zimmi sekalipun kita disuruh berbuat baik, dilarang memusuhi apalagi sesama islam.

Dakwah yang diharapkan adalah dakwah yang dapat menyatukan seluruh perhatian ummat, pikiran ummat, potensi ummat agar terciptanya kerja yang lebih produktif, lebih baik dan lebih bermanfaat untuk masa yang akan datang, tidak disibukkan oleh hal hal kecil, perbedaan perbedaan kecil, tapi lebih kepada produktifitas sehingga melahirkan karya yang lebih besar, inilah yang dikhawatirkan oleh musuh musuh islam, bersatunya ummat islam.

Musibah yang paling besar yang menimpa kaum muslimin hari ini adalah perpecahan, karena itu yang dapat membuat kaum muslimin menang adalah persatuan, hanya dengan persatuan yang penuh kasih sayang, penuh sikap negarawan dan penuh pemakluman atas perbedaan kecil, ummat islam akan memenangkan berbagai pertarungan dan bangkit dari keterperukan.

Mengharapkan adanya ijmak dalam bab furu’ adalah sesuatu yang mustahil, bahkan bertentangan dengan tabiat agama itu sendiri, kemanusiaan itu sendiri, karena itu Allah menghendaki aktualitas agama ini abadi dan dapat menyertai semua zaman, islam agama yang bebas dari kebekuan dan ekstremisme.

Sadar dan renungkanlah wahai penyeru perpecahan, bukan kah kita sama sama muslim? Bukankah kita sama sama suka bertahkim kepada sesuatu yang membuat hati kita tenang? Bukan kah kita sama sama senang ketika menerima kebaikan dan berbuat kebaikan? Lantas mengapa masih harus ada perpecahan diantara kita?

Bisa kah kita saling menghargai perbedaan dalam bingkai persaudaraan? Bisakah kita tetap minum kopi meskipun ijtihad politik kita berbeda? Bisakah kita membangun silaturrahim meskipun mazhab kita berbeda? Bisakah kita berdiskusi dengan lapang dada meskipun kita berbeda pilihan ormas? Sadarilah bahwa yang diinginkan oleh musuh musuh islam adalah kita saling bertikai, saling menyalahkan dan saling memutus tali persaudaraan.

Mengapa kita tidak berusaha untuk saling memahami dalam suasana penuh cinta? Bisakah kita melihat sejenak lembaran sejarah para shahabat Nabi, dimana mereka juga sering berbeda dalam memutuskan hukum, tapi apakah hati hati mereka saling berpecah belah? Sama sekali tidak, saya kira, kita belum lupa tentang kisah shalat asar di bani Quraidhah.

Jika para shahabat saja yang lebih dekat dengan zaman kenabian dan lebih mengetahui tentang seluk beluk hukum juga masih muncul perbedaan pendapat, lantas mengapa kita harus saling memusuhi untuk sesuatu perbedaan dalam masalah masalah kecil?

Jika para imam saja, yang lebih tau tentang Al Qur’an dan Sunnah juga masih saling berbeda pendapat dan berdebat, lalu mengapa dada kita tidak selapang mereka dalam menyikapi perbedaan? Mengapa kita begitu mudah menuduh saudara saudara kita yang berbeda ijtihad sebagai musuh yang harus dijauhi bahkan tidak boleh ditemui? Mengapa kita begitu mudah menuduh dan memfitnah saudara saudara kita yang berbeda dengan fitnah yang keji? Bukan kah Allah akan meminta pertanggung jawaban kita diakhirat nanti?

Mari kita berlapang dada dalam menghadapi berbagai perbedaan pendapat, kita mesti saling percaya bahwa disetiap kita memiliki ilmu, dan menyadari bahwa setiap sisi dakwah itu ada sisi benarnya juga tidak menutup kemungkinan ada sisi salah nya, maka dari itu tidak boleh sesekali kita menganggap kita lah yang paling benar sementara yang lain salah.

Mari kita jauhi sikap fanatisme terhadap pendapat kita sendiri, serta senantiasa berusaha mencari kebenaran, dan membawa masyarakat kepada kebenaran itu dengan cara yang baik dan penuh sikap lemah lembut.

Mari saling berangkulan dengan penuh kasih sayang, penuh cinta dan penuh keharmonisan, bersatu menuju Indonesia sebagai kekuatan 5 besar dunia.

Wallahu’alam…
Penulis : M. Sanusi Madli (Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh)

sumber : https://santerdaily.com

Dewan Dakwah Aceh Berqurban 4 Sapi

Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh berqurban 4 ekor sapi dan 3 ekor kambing dalam Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah.

Sejumlah hewan qurban dalam kegiatan dengan tema “Dewan Dakwah Aceh Sebar Qurban” itu berasal dari hasil ripee pengurus dan para simpatisan Dewan Dakwah serta donasi dari lembaga masyarakat lainnya.

“Alhamdulillah, Idul Adha 1440 H ini Dewan Dakwah Aceh masih bisa menyalurkan hewan qurban kepada keluarga miskin. Semoga di tahun mendatang akan banyak lagi hewan qurban yang bisa kita kumpulkan, sehingga akan banyak pula keluarga miskin yang akan menerima bantuan. Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah mempercayai Dewan Dakwah Aceh untuk menyalurkan hewan Qurban itu,” kata Koordinator Qurban Dewan Dakwah Aceh, Tgk Suwardi, Selasa (13/8/2019).

Tgk Suwardi mengatakan hewan qurban tersebut disalurkan dan disebar ke beberapa wilayah yang ada di Aceh. Diantaranya 1 ekor sapi disalurkan ke Gampong Kumbang Puenteut Kec. Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Hewan qurban tersebut berasal dari keluarga Besar Fatimah Zahra Travel Semarang yang disalurkan melalui BMH Hidayatullah Semarang ke Dewan Dakwah Aceh.

Dewan Dakwah Aceh juga menyalurkan 1 ekor sapi kepada masyarakat di Alue Riyeung Pulo Nasi Kec. Pulau Aceh, Kab. Aceh Besar yang merupakan donasi dari warga Lingkungan Mushalla An-Nur Dusun Mesjid Gampong Lueng Bata yang difasilitasi oleh Dewan Da’wah Aceh untuk disalurkan.

“Selanjutnya 2 ekor sapi dan 3 ekor kambing yang berasal dari ripee (urunan dana) dari pengurus serta simpatisan Dewan Dakwah Aceh disalurkan untuk masyarakat Gampung Rumpet Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar. Juga kepada para mahasiswa dan dosen Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh serta kaum dhuafa yang berada di sekitaran markas Dewan Dakwah Aceh,” Ungkapnya.

Tgk Suwardi menjelaskan penyaluran hewan qurban tersebut bertujuan untuk membantu kaum dhuafa yang mungkin selama ini jarang menikmati daging. Juga melalui pelaksanaan qurban itu akan dapat di ambil hikmah dan pembelajaran dalam kehidupan atas pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As beserta keluarganya.

“Direncanakan kedepan Dewan Dakwah Aceh akan memprioritaskan penyalurannya ke daerah-daerah yang jarang mendapatkan daging qurban. Semoga saja program ini akan terealisasi dan juga akan semakin banyak pula hewan qurban yang terkumpul,” pungkas Tgk Suwardi.