ZAKAT FITHRAH

Bulan Ramadhan  merupakan bulan yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang ada di dalamnya. Pada bulan tersebut turunnya kitab suci Al-Qur’an, pada bulan itu wujud Lailatul Qadar, di bulan itu pula diwajibkan zakat fithrah yang semua itu khusus terjadi dalam bulan Ramadhan sehingga bulan ini memiliki kelebihan-kelebihan tertentu dari pada bulan-bulan lain. Selain itu bulan Ramadhan juga dijadikan Allah sebagai bulan menciptakan ketaqwaan dan bulan ampunan sehingga ummat Islam yang betul-betul memanfa’atkan bulan tersebut untuk beribadah akan diampunkan segala dosa masa lalu.

Kedudukan zakat fithrah di bulan Ramadhan menentukan baik buruknya kepribadian seseorang muslim yang beriman, bertaqwa dan beramal shalih dalam kehidupan hariannya. Karena zakat fithrah berperan mensucikan eksistensi kepribadian seseorang muslim setelah membayarnya sesuai prosedur yang terdapat dalam fiqh. Oleh karenanya tidak boleh tidak setiap muslim wajib membayarnya sebelum pelaksanaan shalat ‘aidil fithri setiap tahunnya. Kewajiban tersebut melingkupi orang merdeka, hamba sahaya, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang dewasa.

 

KEDUDUKAN HUKUM

Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, hukum membayar zakat fithrah adalah wajib bagi semua lapisan masyarakat muslim mulai dari orang merdeka, hamba sahaya, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang dewasa. Keterangan tersebut selaras dengan hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar yang artinya: “telah diwajibkan oleh Rasulullah SAW zakat fithrah satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari gandum terhadap hamba sahaya, orang merdeka, terhadap lelaki dan wanita, terhadap anak kecil serta orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Dan diwajibkan membayarnya sebelum pelaksanaan shalat ‘aidil fithri” (H.R. Bukhari).

Dalam hadits lain dari Abu Sa’id Al-Khudri disebutkan: “kami memberikan di zaman Rasulullah SAW satu sha’ jenis makanan pokok, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ dari kismis (anggur kering) untuk zakat fithrah. (H.R. Bukhari). Banyak hadits yang terdapat dalam kitab-kitab hadits berkenaan dengan kewajiban membayar zakat fithrah yang mengarah kepada suatu kewajiban bagi muslim dan muslimah, besar atau kecil, merdeka atau hamba sahaya.

Hadits juga menetapkan pembayaran zakat fithrah dalam bulan Ramadhan dan afdhalnya di penghujung Ramadhan sebelum melaksanakan shalat ‘aidil fithri, selaras dengan hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Umar yang artinya: “bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkan pembayaran zakat fithrah sebelum keluar manusia (ummat Islam) melaksanakan shalat ‘aidil fithri”. Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa kedudukan zakat fithrah hukumnya wajib bagi setiap muslim, muslimah, orang merdeka, hamba sahaya, anak kecil dan orang dewasa. Ianya wajib dikeluarkan setiap bulan Ramadhan dan dalam bulan Ramadhan yang afdhalnya di penghujung Ramadhan. Dan tidak ada pembayaran zakat fithrah setelah selesainya pelaksanaan shalat ‘aidil fithri karena batas pembayarannya sebelum ummat Islam melaksanakan shalat hari raya puasa.

Para ulama baik ulama klasik maupun para ulama kontemporer sepakat jenis benda yang dibayar untuk zakat fithrah adalah makanan pokok yang dikonsumsikan ummat Islam dalam kehidupan mereka seperti kurma, gandum, kismis, beras, jagung, dan seumpamanya. Para ulama klasik seperti Imam Abu Hanifah dan hanafiah serta para ulama kontemporer seperti para ulama yang terkumpul dalam lembaga mufti/ulama di negara mayoritas muslim sepakat zakat fithrah boleh dibayar dalam bentuk uang sebagai pengganti jenis makanan dengan ukuran seharga dengan harga makanan yang diwajibkan zakat fithrah keatasnya. Kalau di Indonesia umpamanya ukuran 2,8 kg beras yang dimakan berharga Rp. 50.000 maka uang yang dibayarkan untuk zakat fithrah adalah Rp. 50.000.- ukuran uangnya adalah sejumlah harga makanan pokok yang mereka makan sehari-hari bukan harga makanan pokok yang dimakan orang lain di negeri tertentu.

Untuk itu semua tidak ada hal bagi ummat Islam untuk mempersulit ibadah ummat Islam lainnya dengan mengolah benda yang boleh diperuntukkan untuk zakat fithrah, seperti harus bayar dengan kurma karena Nabi membayarnya dengan kurma, atau tidak boleh membayar dengan uang karena Nabi tidak membayar dengan uang, atau kalau tidak membayar dengan makanan pokok seperti beras maka apabila dibayar dengan uang maka jumlahnya mengikut harga kurma bukan mengikut harga beras. Semua itu sudah masuk unsur politis atau unsur ku’is dari sekelompok ummat Islam terhadap ummat Islam lainnya. Nabi menyuruh kita untuk mempermudah beribadah dan jangan mempersusahnya (Yassiruu wala tu’assiruu) permudahlah dan jangan mempersulit ibadah yang sudah dipermudah Allah dan RasulNya, yuridullahu bikumul yashra wa la yuridu bikumul ‘ushra (Allah menghendaki yang mudah dan tidak menghendaki yang sulit serta payah). Karena zakat fithrah itu berada dalam kajian fiqh maka fiqh itu berlaku ra’yu para ulama, namun ra’yu yang digunakan itu selaras dengan ketentuan Al-Qur’an dan Al-Sunnah bukan mengikut hawa nafsu seseorang atau segolongan orang sehingga terjadi diskriminasi terhadap golongan lainnya.

 

TUJUAN ZAKAT FITHRAH

Hadits riwayat Ibnu Abbas berbunyi, yang artinya: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithrah untuk membersihkan orang-orang berpuasa minal laghwi war rafatsi (dari kotoran jiwa raga seperti kesalahan ucapan dan kesalahan anggota tubuh badan) dan untuk memberi makan fakir mislkin”. Jadi tujuan utama pembayaran zakat fithrah oleh orang muslim adalah untuk dua perkara tersebut di atas; khusus untuk menghapus dosa orang-orang yang berpuasa sebulan penuh bagi orang-orang yang beriman, bertaqwa, dan beramal shalih selaras dengan harapan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183; la’allakum tattaquwn. Manakala ianya sudah bertaqwa lewat jalur Ramadhan maka Allah tetapkan ganjaran sebagaimana kandungan surat An-Nisak ayat 13 yang artinya: “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”.

Sehubungan dengan itu  Allah juga gambarkan kondisi orang-orang beriman dan beramal shalih dalam surah yang sama ayat 57 yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”.

Sedangkan poin kedua tujuan disyari’atkan dan diwajibkan zakat fithrah adalah untuk memberi makan fakir miskin. Oleh karenanya posisi zakat fithrah beda jauh dengan posisi zakat mal yang memiliki delapan ashnaf, zakat fithrah hanya memiliki tiga ashnaf saja yaitu untuk orang-orang fakir, untuk orang-orang miskin, dan untuk para amil selaku pengelola dan pengurus zakat fithrah tersebut. Islam sangat peduli terhadap orang-orang Islam yang fakir dan miskin sehingga zakat fithrah tidak dibenarkan beredar selain tiga ashnaf tersebut. Amil sendiri kalau ianya orang punya kelebihan tidak mengambil senif amilnya dan diperuntukkan kepada fakir miskin jauh lebih baik dan bermakna.

Yang paling tidak boleh adalah zakat fithrah dibagi sama rata kepada penduduk kampong baik yang fakir, miskin, maupun orang-orang berpunya, itu bersalahan dengan ketentuan hadits. Apalagi kalau yang terjadi adalah para pimpinan kampong membentuk panitia zakat fithrah sama banyaknya dengan fakir dan miskin di kampong tersebut sehingga senif untuk amil lebih banyak ketimbang untuk fakir dan miskian. Perlu kita pahami bersama bahwa amil itu dalam kajian Aceh disebutkan: karena bak meusawak situek, artinya karena adanya fakir miskin maka adanya amil, atau karena adanya zakat fithrah maka adanya amil. Kalau fakir miskin dan zakat fithrah tidak ada maka otomatis amilpun tidak ada.

Oleh karenanya jumlah amil dalam pengurusan zakat fithrah diselaraskan saja dengan keperluan orang kerja untuk mengurus zakat fithrah, semakin minim semakin baik untuk memformatkan kandungan hadits terhadap kaum fakir dan miskin. Atau amil boleh banyak tetapi tujuannya untuk beramal membantu penyelesaian pembagian zakat fithrah dengan tidak mengambil hak amil untuk amil itu sendiri, karena kalau amil tersebut termasuk fakir atau miskin ia mendapat hak tersebut, kalau amil terdiri dari orang-orang berpunya maka ia sudah punya kemudahan hidup sendiri sehingga amal shalih sebagai amil memperoleh pahala dari Allah SWT, di bulan Ramadhan tidak mesti kita selalu mengejar harta benda, sesekali bolehlah mengejar pahala.

Dengan demikian, operasional zakat fithrah itu khusus diperuntukkan kepada fakir dan miskin yang disalurkan melalui panitia yang dibentuk di setiap masjid dan tempat-tempat tertentu untuk menjaga kemuslihatan dan tidak terjadinya tumpang tindih pendistribusiannya. Dalam kasus tidak sempat membayar melalui panitia maka ummat Islam dibolehkan menyalurkan langsung kepada fakir dan miskin yang ada di sekitarnya, tidak wajib disalurkan lewat panitia. Jenis zakat fithrah adalah pada intinya makanan pokok yang dimakan hari-hari oleh seseorang muslim dan boleh digantikan dengan uang sejumlah makanan pokok yang ditentukan jumlahnya dalam fiqh. Zakat fithrah dikhususkan kepada dua tujuan utama yaitu untuk membersihkan jiwa raga muslim yang berpuasa dan membayar zakat fithrahnya serta untuk memberi makan para muslimin dari kalangan fakir dan miskin selaras dengan seruan Nabi: ughnuhum hazal yaum yang artinya; bahagiakanlah mereka di hari raya ‘Aidil Fithri.

Wallahu a’lam…

Penulis : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)

MENGENAL POLITIK

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisak; 58, 59)

 

PENGERTIAN POLITIK

Kata politik dalam Bahasa latin disebut; politica, dalam Bahasa yunani; politikus, dalam Bahasa Belanda; politiek, dalam Bahasa perancis; politique, dalam Bahasa inggeris; politics, dalam Bahasa Arab; siyasah, dan dalam Bahasa Aceh disebut pulitek. Teuku Iskandar, sarjana asal Aceh mendefinisikan politik sebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pemerintahan seperti dasar pemerintahan dan sebagainya yang meliputi ilmu siyasah, pemerintahan, kenegaraan, partai politik, ahli politik, dan tipu muslihat. Macchiavelli memberikan lima pengertian politik adalah; kekuatan, balas membalas, kemenangan, topeng, dan kelemahan lawan, semua itu menjurus kepada praktik politik halal cara ala Macchiavelli.

Dengan pengertian semacam itu maka dapat dipastikan bahwa rumusan politik di luar Islam itu sangat rancu bagi ummat Islam yang mengamalkannya karena semua rumusan itu berlawanan dengan konsep dan prinsip politik dalam Islam. Dalam Islam politik itu diposisikan sebagai bahagian dari pada ibadah sehingga praktiknya jauh dari tipu menipu, jauh dari kecurangan, jauh dari ancam mengancam, jauh dari terror meneror, jauh dari penggunaan kuasa untuk mendhalimi lawan politiknya.

Pengertian politik dalam Islam adalah seperangkat aktivitas kenegaraan dan keummatan yang diamalkan oleh seseorang baik yang sedang berkuasa ataupun yang berupaya untuk berkuasa untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, ketentraman bagi agama, bangsa, dan negara yang sesuai dengan ketentuan syari’ah. Sehingga dalam politik Islam tekanan ketuhanan lebih penting dan utama dibandingkan dengan tekanan kemanusiaan sebagaimana yang wujud dalam politik sekuler. Dalam politik Islam moral politik dapat menentukan seorang politikus masuk syurga atau masuk neraka, sementara dalam politik sekuler tidak mengedepankan kehidupan akhirat yang terkait dengan syurga dan neraka.

Di situlah perbedaan Antara posisi politik Islam dengan politik sekuler di mana dalam politik Islam semua aktivitas politiknya wajib dipertanggung jawabkan kepada Allah sebagai Tuhan. Namun dalam politik sekuler aktivitas politiknya hanya sekedar dipertanggung jawabkan kepada manusia saja apakah kepada rakyat atau kepada penguasa. Manakala ummat Islam tidak menjalankan politik Islam dan sebaliknya mengamalkan sistem politik sekuler maka kehidupan mereka jauh dari ridha Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

KONSEP POLITIK ISLAM

Dalam syari’ah dikenal istilah siyasah syar’iyyah dan fiqh siyasah sebagai nama nama bagi politik dalam kehidupan manusia. Siyasah syar’iyyah merupakan konsep asas rumusan politik dalam Islam sementara fiqh siyasah merupakan operasional politik dalam Islam. Ketika keduanya digabungkan maka lahirlah sebuah praktik politik yang representatif bagi penghuni dunia yang jauh dari diskriminasi, jauh dari intiminasi, jauh dari kecurangan, jauh dari pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM), jauh dari tipuan, dan jauh dari ancam mengancam. Kalau politik Islam yang berjalan maka orang-orang kafir akan selamat dan aman dalam negara yang berlaku sistem politik Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Negara Madinah di bawah kontrol Rasulullah SAW.

Siyasah syar’iyyah diasaskan kepada tiga landasan fundamental, yaitu Tauhid, Risalah, dan Khilafah. Landasan tauhid mengedepankan konsep ketuhanan dalam politik yang diikat dan terikat dengan amar ma’ruf nahi munkar sehingga para pelaku politik selalu dikontrol oleh amalan halal haram di mana apabila mereka berpolitk dengan aktivitas halal akan selamat dunia akhirat, dan sebaliknya para politikus yang mengamalkan aktivitas politk haram akan terancam dengan hukuman tuhan dalam bentuk yang beragam, selaras dengan ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. (An-Nisak; 56,57)

Landasan risalah mengajak ummat Islam untuk beramal dan berprilaku politik sebagaimana amal dan prilaku politik Rasulullah SAW. Beliau telah mengasaskan sistem politik yang sangat representatif bagi penduduk dunia manakala beliau membentuk negara pertama di Yatsrib yang kemudian beliau ganti nama dengan Madinah dan menjadi Negara Madinah sebagai format negara Islam pertama di dunia raya. Empat hal paling substansial dilakukan beliau manakala menguasai Yatsrib adalah; membangun masjid, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, mewujudkan shahifah Madinah, dan menggantikan nama Yatsrib menjadi Madinah.

Semua itu Nabi lakukan semata-mata untuk kepentingan Islam dan ummat Islam, pembangunan masjid menjadi lambang ketauhidan tempat ummat Islam menyembah Allah dan juga menjadi sekretariatnya ummat Islam dalam menguasai negara dan dunia. Penyatuan Anshar dengan Muhajirin merupakan penggabungan dua kekuatan yang kemudian mampu memenangkan perang Badar yang berhadapan seribuan lebih kafir Quraisy dengan tiga ratusan pasukan muslim, kemenangan tersebut berawal dari ukhuwwah Antara Anshar dengan Muhajirin (ummat Islam tidak boleh bercerai berai)

Pewujudan shahifah Madinah (Konstitusi Madinah) merupakan siasat Nabi untuk menaklukkan para penghuni Yatsrib dan menguasai wilayahnya dengan cara konstitusional yang tidak punya peluang bagi mereka untuk membantah dan melawannya karena sudah sangat konstitusional. Sementara penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah merupakan salah satu siasat Nabi untuk menghilangkan jejak-jejak kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan dan menjadikan Madinah ril milik ummat Islam. Siasat-siasat Rasulullah SAW tersebut semuanya bermuara kepada keberuntungan bagi Islam dan ummat Islam, artinya seorang pemimpin Islam wajib baginya untuk membantu, membela, dan memajukan Islam serta ummat Islam manakala ia punya kuasa dan berkuasa, bukannya memasukkan goal kegawang sendiri seperti yang terjadi selama ini.

Fiqh siyasah sebagai konsep operasional politik Islam menggambarkan ruang lingkup wilayah operasionalnya yang terdiri dari Siyasah Dusturiyah sebagai politik ketatanegaraan, Siyasah Maliyah sebagai politik ekonomi dan keuangan negara, dan Siyasah Dauliayah atau Siyasah Kharijiyah sebagai politik luar negara. Kesemua itu harus wujud dan diamalkan dalam sistem poltik Islam yang terikat dan tidak dapat dipisahkan dengan konsep siyasah syar’yyah yang telah kita gambarkan di atas tadi. Manakala operasional fiqh siyasah keluar dari lingkupan dan anjuran siyasah syar’yyah maka minimal ada tiga hal yang akan terjadi; pertama, Islam semakin hari semakin mundur dan hancur; kedua, ummat Islam yang semestinya sebagai penguasa akan menjadi rakyat jelata; ketiga, wilayah atau negara yang pada dasarnya milik ummat Islam akan menjadi milik musuh Islam.

Karena itu, persoalan politik bukanlah persoalan sambilan, melainkan persoalan utama yang wajib dikuasai oleh ummat Islam di mana saja mereka berada, karena gagal mengamalkan konsep politik Islam umat Islam akan celaka, akan merana, akan sengsara, dan akan menjadi budak musush-musuh Allah Ta’ala. Maka tha’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan jangan makar dan membangkan kepada Allah dan Rasulnya karena Allah sudah memberikan gambaran akibat apa yang bakal diperoleh oleh hambanya:

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”.

Penulis : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah pada prodi HTN, Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry)

 

BERPUASA DI BULAN RAMADHAN, KEWAJIBAN YANG TIDAK BOLEH DITINGGALKAN

Muqaddimah

Ummat Islam seluruh dunia yang sudah mumayyiz, berakal, sehat jiwa raga, suci dari haidh dan nifas, wajib hukumnya berpuasa di bulan Ramadhan. Wajib dalam konteks al-Ahkam al-Khamsah mengandung makna sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan dan mesti dikerjakan. Yang mengerjakannya mendapat pahala dari Allah serta yang meninggalkannya mendapat dosa. Ia berbeda dengan sunat yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Lain pula dengan haram yang apabila dikerjakan mendapat dosa dan bila ditinggalkan berpahala, sedangkan makruh apabila dikerjakan mendapatkan murka Allah (benci Allah) dan apabila ditinggalkan berpahala, sementara mubah mengandung makna boleh-boleh saja.

Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan bagi ummat Islam yang bukan kanak-kanak, tidak gila, tidak sakit, tidak berhalangan syar’i seperti haidh dan nifas, tidak dalam keadaan musafir, tidak mudharat dalam menyusui bayinya tidak boleh ditinggalkan alias wajib dilaksanakan. Kalau ditinggalkan juga karena alasan-alasan tersebut di atas maka wajib baginya untuk mengqadhanya di bulan-bulan lain di luar bulan Ramadhan tersebut sebagai tuntutan sebuah kewajiban. Bagi yang sengaja meninggalkan tanpa kebenaran syari’ah maka baginya ada ancaman dosa dari Allah yang Maka Kuasa.

Berpuasa itu merupakan kehendak Allah terhadap hambaNya bukan kehendak hamba terhadap hamba yang lainnya. Karena Allah sebagai Khaliq pencipta semua makhluq termasuk manusia yang disuruh menghambakan diri kepadaNya, maka sebagai hamba manusia tidak boleh tidak mesti, harus, dan wajib menghambakan diri kepada Allah semata-mata. Salah satu deskripsi penghambaan diri tersebut adalah melaksanakan puasa penuh sebulan di bulan Ramadhan bagi seluruh hamba dari kalangan ummat Islam yang memenuhi syaratnya. Kewajiban tersebut sama sekali bukan sebuah paksaan, bukan pula sebuah kemudharatan, dan tidak juga sebuah penyiksaan. Semua itu merupakan ujian iman, ujian kesehatan, ujian kedisiplinan, ujian ketha’atan, ujian kasih sayang dari seorang insan terhadap insan lainnya dan dari insan terhadap Khaliqnya, demikian juga dari Khaliq terhadap makhluqnya.

 

KEWAJIBAN BERPUASA

Dalil yang mewajibkan puasa Ramadhan bagi semua ummat Islam yang layak dan tidak berhalangan adalah surah Al-Baqarah ayat 183 yang maknanya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ayat tersebut disokong oleh hadis Rasulullah SAW. riwayat Imam Bukhari yang artinya: Islam dibangun atas lima fondasi; syahadatain, shalat lima waktu sehari semalam, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan naik haji ke Baitullah manakala berkemampuan. Ayat lainnya adalah surah yang sama ayat 185 yang berbunyi: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Tiga dalil syara’ tersebut menjadi pegangan kuat bagi setiap muslim untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Kewajiban yang tertera dalam tiga dalil tersebut disertai dengan sejumlah harapan dari Allah dan RasulNya semisal; la’allakum tattaqun, ghufira lahu ma taqaddama min zanbih, dan thuhratal lish shaimi. la’allakum tattaqun merupakan pemberian harapan dari Allah SWT kepada hambaNya yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Harapannya adalah menjadi orang-orang yang bertaqwa, harapan ini memiliki dua pengertian; pertama, Allah mengharapkan hambaNya yang muslimin dan mukminin menjadi orang-orang yang bertaqwa semenjak sebelum melaksanakan puasa Ramadhan secara komprehensif sehingga meninggalkan dunia fana ini sehingga mereka melaksanakan puasa Ramadhan secara penuh atas dasar ketaqwaannya. Kedua, Allah mengharapkan hambaNya yang muslimin menjadi orang-orang bertaqwa setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh.

Sedangkan maksud dari kalimat: ghufira lahu ma taqaddama min zanbih yang disebutkan dalam hadis Nabi adalah, semua ummat Islam yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah SWT. akan diampunkan semua dosa-dosanya pada massa lalu. Ini berarti setiap muslim/muslimah yang bagus ibadah hariannya, bagus aqidahnya, dan bagus akhlaknya yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan akan mendapatlkan ampunan Allah di hari kemudian dan ia akan ditempatkan dalam syurga. Maka orang seperti ini setelah berakhirnya puasa Ramadhan akan berakhir pula dosa-dosa di tubuh badannya.

Sementara kalimat; thuhratal lish shaimi yang tertera dalam hadis Rasulullah SAW berkaitan dengan zakat fithrah mengandung makna; ummat Islam tha’at yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan, lalu di dalam Ramadhan tersebut ia membayar zakat fithrah kepada fakir-miskin maka baginya akan dibersihkan jiwa raganya oleh Allah SWT. sebagai refleksi dan manifestasi dari pada melaksanakan puasa penuh di bulan Ramadhan dengan mencari ketaqwaan dari Allah, menghidupkan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan sunat dan terakhir membayar zakat fithrah yang lazin dilaksanakan di akhir bulan Ramadhan. Maka baginya menjadi hamba Allah yang bersih, suci, dan jauh dari noda-noda dosa selepas bulan suci Ramadhan. Insya Allah.

Allah mewajibkan puasa Ramadhan kepada hambaNya bukanlah sekedar menyuruh hamba untuk melaksanakan perintahNya sahaja melainkan dengan kemurahanNya Allah memberikan balasan setimpal kepada hamba yang mau melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tersebut mengikut ketentuan yang ada dan selaras dengan maknanya wajib. Maknanya, disebalik perintah dan kewajiban dari Allah untk hambaNya Allah sudah siapkan pemberiannya yang luar biasa kepada semua yang tunduk patuh melaksanakannya dengan sempurna. Untuk itu semua ummat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba melaksanakan kebajikan (fastabaqul khairat).

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

 

MEKANISME PUASA RAMADHAN

Untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan Allah telah memberikan mekanisme dan juga berbagai keringanan kepada hambaNya sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak berpuasa pada bulan tersebut, sesuai dengan firmanNya yang bermakna: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bagi orang Islam yang sakit musiman, menyusui anak dalam keadaan lemah, bernifas dan wiladah, serta dalam keadaan musafir, Allah bolehkan bagi mereka untuk berbuka puasa beberapa hari yang patut karena kondisi yang mengharuskan demikiann dengan ketentuan wajib mengqadhanya di bulan-bulan lain di luar bulan Ramadhan tersebut. Bagi orang sakit payah yang tidak mungkin sembuh lagi maka bagi mereka diwajibkan membayar fidyah dengan memberi makan fakir-miskin sejumlah hari yang ditinggalkan dalam bulan Ramadhan, baik dibayar langsung oleh dirinya semasa masih hidup maupun diwakili oleh anggota keluaranya manakala ia sudah meninggal dunia. Keadaan seperti ini pernah dilakukan oleh Anas bin Malik manakala beliau sakit payah dan tidak sanggup berpuasa.

Ayat di atas juga menyebutkan kalau yang sakit payah tersebut memberi makan fakir-miskin melebihi dari kadar yang wajib baginya itu lebih baik. Maknanya kalau yang wajib diberi makan hanya 30 orang tetapi diberi makan lebih dari itu sampai 40 orang atau lebih, yang demikian sangat bagus dan dianjurkan dalam Islam. Walaubagaimanapun, Qur’an menegaskan berpuasa di bulan Ramadhan itu lebih baik daripada berbuka kemudian mengqadha atau membayar fidyahnya. Hal ini disebabkan kelebihan bulan Ramadhan yang tidak terdapat dalam bulan-bulan lain ketika puasa qadha dilaksanakan. Tentunya berpuasa di bulan Ramadhan jauh lebih afdhal dan memiliki kelebihan yang tidak terdapat dalam bulan lain. Maka khusus bagi para musafir kalau tidak lelah dan lapar sebaiknya terus berpuasa dan janganm berbuka di bulan Ramadhan.

Ada tiga pantangan berat dalam bulan Ramadhan bagi seluruh ummat Islam yang mesti diperhatikan sesuai ketentaun Al-Qur’an adalah; pertama, jangan bersetubuh suami isteri di siang hari bulan Ramadhan, jangan makan minum setelah keluar fajar shadiq (masuk waktu shubuh), dan jangan mencampuri isteri ketika sedang melaksanakan i’tiqaf di sepuluh terakhir Ramadhan, sesuai dengan surah Al-Baqarah ayat 187: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

ADI Aceh Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan dan Pedalaman Aceh

ADI Aceh Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan dan Pedalaman Aceh

 

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh yang merupakan lembaga pendidikan binaan Dewan Dakwah Aceh mengirimkan 28 mahasiswanya yang tergabung dalam Kafilah Dakwah ke daerah-daerah perbatasan dan pedalaman Aceh.

 

Daerah tersebut mencakup Subulussalam, Aceh Singkil, Gayo Lues, Simeulue, Aceh Tamiang, Aceh Barat dan Aceh Selatan.

 

Kafilah Dakwah ADI tersebut dilepas oleh Direktur ADI, Dr Muhammmad AR MEd di Markaz Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jumat (3/5/2019).

 

“alhamdulillah, ini merupakan kali keempatnya ADI Dewan Dakwah Aceh mengirimkan Kafilah Dakwah ke daerah perbatasan dan pedalaman Aceh. Semoga saja kehadiran Kafilah Dakwah ini akan semakin menyemarakkan dan menambah semangat masyarakat untuk beribadah di bulan suci Ramadhan,” kata Direktur ADI Dr Muhammmad AR MEd.

 

Ia menambahkan kegiatan bertema “da’i menyapa perbatasan dan pedalaman Aceh” ini tujuan utamanya adalah untuk menghidupkan syiar Ramadhan di daerah tersebut sekalian proses pentransferan ilmu dan dakwah oleh mahasiswa ADI kepada masyarakat setempat. Sama hal nya melakukan tugas nabi dan para sahabat yang terdahulu.

 

“dari itu haruslah bermental kuat dan selalu siap ketika terjun ke lapangan. Selain itu jangan takut membela kebenaran dan setiap tantangan yang datang mestilah di lawan. Dan yang terpenting adalah mampu menghadirkan Ramadhan ke dalam hati masyarakat,” kata Dr Muhammad.

 

Selama Ramadhan, lanjutnya, mareka akan mengisinya dengan berbagai kegiatan. Diantaranya menjadi Imam shalat 5 waktu dan taraweh, khutbah jum’at, ceramah Ramadhan, pelatihan TPA, pesantren kilat dan tahsin al qur’an.

 

Sementara itu Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh sangat mendukung dan mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut.

 

Menurutnya misi dakwah harus tetap jalan. Dan ini merupakan bentuk partisipasi dan keseriusan serta komitmen Dewan Dakwah Aceh dalam mendidik anak bangsa dan mengajak masyarakat untuk senantiasa beribadah.

 

“Dewan Dakwah Aceh merupakan lembaga dakwah yang selalu siap dan akan senantiasa bersama pemerintah Aceh untuk berdakwah di daerah perbatasan dan pedalaman Aceh itu. Semoga saja pengiriman Kafilah Dakwah ini akan semakin mempererat tali silaturrahmi sesama ummat beragama,” tutup Tgk Hasanuddin.[]

JANGAN CAMPUR ADUK HAQ DENGAN BATHIL

JANGAN CAMPUR ADUK HAQ DENGAN BATHIL

(Mengaca kepada pengalaman NKRI)

Oleh : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

 

Ketika kita mengakses haq dan bathil (benar dan salah) bermakna kita sedang berada pada dua kutup berbeda yang tidak akan pernah menjadi sama dan juga tidak akan pernah mau menyatu. Haq itu kebenaran yang datangnya dari Allah dan disandang ummat manusia dalam berbagai aktivitas hidup dan kehidupannya, sementara bathil adalah kesalahan yang selalu datangnya dari ummat manusia yang cenderung dipacu dan diarahkan oleh keinginan hawa nafsunya. Maka ketika mau dicampur dan dihaduk antara haq dengan bathil sama halnya seperti mencampurkan air dengan minyak yang masing-masing mengambil posisi berbeda dan tidak mau menyatu. Apalagi kalau sempat minyak sedang mendidih lalu dicampur air ke dalamnya, bukan hanya tidak mau membaur melainkan akan berantam antara keduanya sehingga hingar bingar di sekelilingya.

Dalam kehidupan ummat Islam sehari hari sering terjadi upaya dan usaha pencampuran antara haq dengan bathil, umpamanya ada orang Islam yang rajin shalat dan rajin juga berzina, rajin shalat rajin pula menipu, rajin puasa tetapi rajin juga korupsi dan makan riba. Kerja orang semacam itu semisal mencampur hadukkan air dengan minyak yang terlihat kalem, sunyi, senyap dan nyaman. Sebenarnya apa yang dilakukan itu terkesan saja senyap dan nyaman tapi hakikatnya si manusia tersebut tidak pernah tenteram jiwa raganya karena prilaku mencampur haduk antara yang haq dengan yang bathil.

Apalagi kalau sempat yang dicampurkan itu yang menyudutkan Islam seperti mencampurkan antara sistem politik Islam dengan sistem politik kafir atau sekuler. Katakanlah seorang politikus muslim mendirikan partai tidak mengazaskan kepada Islam dan dengan azas demikian ia menggunakan kekuasaan hasil usaha partai non Islam tersebut untuk mendiskreditkan Islam semisal menolak perda syari’ah, tidak mau menjalankan hukum Islam, tidak mengedepankan kepentingan Islam dan ummat Islam, bahkan sebaliknya mendukung dan memberi peluang dan kesempatan kepada non muslim atau muslim sepilis (secularist, pluralist, dan liberalist) serta komunis/atheis untuk mengganggu dan menghancurkan Islam. Kondisi seperti ini tidak ubahnya orang telah mencampur hadukkan antara air dengan minyak panas yang sedang mendidih yang berakibat hingar bingar, berantam, berantakan, dan gontok gontokan.

Kondisi yang kita gambarkan tersebut boleh jadi terjadi langsung ketika air dicampur dengan minyak panas sebagaimana sifat aslinya kedua benda tersebut, boleh jadi ia terjadi kemudian seperti kasus kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1948 pimpinan Muso di Madiun dan tahun 1945 di Jakarta pimpinan Dipa Nusantara Aidit. Awalnya memang terlihat padanan dan campuran ideologi Islam dengan Komunis seperti banyak menyatu dengan ummat Islam Indonesia baik secara ikhlas maupun paksaan, tetapi kemudian terjadilah seperti percampuran air dengan minyak panas yang kemudian harus ada pihak yang kalah dan pihak yang menang yang disertai oleh kerugian besar yang sulit ditebus kembali.

Situasi semisal itu bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja, khususnya di negara-negara mayoritas ummat Islam yang menjadi incaran dan sasaran kuasa besar dunia untuk menjadi budak, boneka, atau ladang uji coba senjata mereka. Manakala pemimpin-pemimpin negara-negara mayoritas muslim memilih jalan pencampur adukan air dengan minyak sebagaimana gambaran di atas maka ketika itulah kondisi yang kita gambarkan tersebut akan muncul dan terjadi di negara mereka.

 

KASUS INDONESIA

Di negara besar bernomor urut empat di dunia yang bernama Indonesia, upaya pencampuradukan air dengan minyak selalu terjadi setiap rezim yang berkuasa selama tujuh orang presiden berlalu. Adakalanya air dari Indonesia itu dicampur dengan minyak panas dari Uni Soviet, adakalanya air sejuk di Indonesia dihaduk dengan minyak dari Amerika Serikat, dan terkadang air di Indonesia diletakkan dalam satu bejana dengan minyak dari negeri Tiongkok. Dari hasil hadukan tersebut sebahagiannya sudah ada efeknya dan sebahagian lain sedang kita tunggu apa yang bakal terjadi. Yang jelas, air dengan minyak tidak akan pernah bersatu apalagi menyatu, lebih-lebih lagi kalau minyak itu sedang mendidih panas bukan hanya tidak menyatu melainkan akan berantam sehingga berakhir dengan hasil ada yang kalah dan ada yang menang.

Zaman Orde Lama (Orla) upaya pencampuradukan minyak dengan air terjadi sangat drastis ketika sang presiden mewujudkan wadah Nasakom (Nasional, Agama Komunis) yang menghaduk doktrin nasionalisme, dengan agama (Islam) dan komunis. Nasionalisme diwakili oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), agama diwakili oleh Nahdhatul Ulama (NU), dan Komunisme diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pencapuradukan tersebut betul-betul satu upaya brutal dan dungu yang melawan ketentuan Allah dengan mengedepankan hawa nafsu yang didasarkan kepada kepentingan sesa’at. Apalagi ketika rezim Orla mengkeramatkan Manipolusdek (Manifesto Politik, Undang-undang dasar 1945, sosialisme Indonesia, dan demokrasi terpimpin) sebagai kitab suci yang sekaligus ideologi bagi kaum nasionalist-secularist yang menjadi hadukan dan campuran antara haq dengan bathil paling berbahaya dalam kaca mata Islam.

Kondisi dan usaha pencampuradukan antara haq dengan bathil di Indonesia terus berlanjut sampai kepada rezim Orde Baru (Orba) dan rezim Orde Reformasi (Orsi). Paza zaman Orsi upaya pencampuradukan antara air denga minyak transparan terjadi manakala para penguasa negeri melegalkan atau minimal sekali member angin segar untuk berkembangnya beberapa aliran sesat seperti LGBT, Syi’ah, Ahmadiyah Qadiani, LDII, Islam Nusantara, Komunis/Atheis, dan lainnya.

Hari ini kondisi dan situasi negara berlambang garuda tersebut masih berada pada posisi sedang bercampurnya antara air dengan minyak, bahkan nyarisnya lagi minyak dari seberang itu sedang mendidih panas yang bakal menghanguskan air dari negeri ini. Keadaan semacam ini sepertinya bukan terjadi secara kebetulan melainkan ada anak negeri ini yang sedang berada di angkasa yang mengikut perasaannya akan tetap diangkasa manakala ia berhasil mencampur adukkan air dalam negeri dengan minyak panas dari negeri bermata sipit. Mari kita simak pasca 17 April 2019 nanti siapa yang menghabisi siapa, atau siapa yang makan siapa, atau siapa yang dimakan oleh siapa, atau bagaimana minyak panas mengeringkan air dalam negara berideologi Pancasila. Semoga sahaja muslimin Indonesia tidak selalu dimakan oleh sistem sekularisme, nasionalisme, komunisme, dan virus-virus lain yang berupaya keras menghabisi Islam dan muslimin Indonesia.

 

BAGAIMANA ARAHAN ISLAM

Allah SWT.telah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 42 yang artinya; Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui. Sesungguhnya upaya campur haduk antara yang haq dengan bathil itu merupakan prilaku dan tabi’at Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang suka menghaduk kebenaran Islam dengan kebatilan kepercayaan dan keyakinan mereka sehingga Allah menegur mereka dengan pertanyaan: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (Ali Imran;71).

Ternyata jawaban soalan tersebut tertera dalam surah yang sama Ali Imran ayat 72 dan 73): Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Dari jawaban tersebut selaraslah kisah itu dengan asbab nuzul ayat sebagaimana hadis Ibnu Ishak yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata; Abdullah ibnu Shaif, Adi bin Zaid, dan al-Harits bin Auf saling mengajak; mari kita beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad dan para sahabatnya di pagi hari, lalu kita kafir kepadanya di malam hari. Sampai kita merancukan agama mereka. Semoga mereka juga melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan sehingga mereka meninggalkan agama mereka sendiri. Lalu Allah turunkan firmanNya kepada mereka: wahai ahli kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebathilan, dan seterusnya.

Dari makna ayat sampai kepada asbab nuzul tersebut nyatalah bahwa Islam bersama dengan ajarannya merupakan sebuah kebenaran dan selain Islam adalah kebathilan. Maka Allah melarang sangat hambanya yang beriman dalam bingkai Islam untuk mencampuradukkan antara kebenaran Islam dengan kebathilan non Islam seperti yang sedang dan telah terjadi di NKRI. Semestinya mayoritas ummat Islam Indonesia harus menjadikan negeri yang dimerdekakan dengan lantuan takbir oleh 90% muslimin ini sebagai negara Islam yang berlaku hukum Islam penuh bukannya hukum peninggalan penjajah seperti hari ini. Manakala itu yang terjadi maka sahlah penghuni negeri ini telah, sedang, dan akan terus mencampuradukkan antara haq dengan bathil yang bakal dijawab oleh Allah dari upaya tersebut dengan pelajaran baru atau musibah baru, atau ancaman baru, atau mala petaka baru yang tidak pernah diketahui bangsa ini kapan, di mana, dan bagaimana. Semoga menjadi bahan renungan…

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.