PEMILU HALAL HARAM

Oleh : Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA

MUQADDIMAH

Rabu tanggal 17 April 2019 merupakan hari paling bersejarah bagi bangsa dan negara Indonesia manakala pada hari tersebut terjadi perang antar ideologi dalam upaya merebut kekuasaan oleh ideologi Islam dan ideologi campuran. Hari itu disebut hari pemilihan umum (pemilu) di mana rakyat beramai-ramai turun ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih calon presiden, wakil presiden, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) peringkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Kondisi hari itu mirip-mirip dengan pemilu pertama Republik Indonesia (RI) tahun 1955 yang bertembung antara ideologi Islam dalam wadah Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI) dengan ideologi campuran dalam wadah Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan sejumlah partai sekuler lainnya. Pertembungan kala itu dimenagi tipis oleh peserta ideologi campuran karena Pulau Jawa yang mayoritas penduduk RI dapat ditaklukkan oleh peserta pemilu dari ideologi campuran.

Akibat dari kemenangan ideologi campuran tersebut membuat Indonesia kehilangan arah perjuangan Islam sehingga hari ini. Kehilangan arah tersebut merupakan akibat dari kalahnya ideologi Islam dalam merebut kursi parlemen dan DPRD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Pada waktu itu efek kerugian bagi Islam belum nampak nyata seperti yang kita rasakan hari ini, tapi akibat kekalahan ideologi Islam waktu itu berpengaruh panjang sehingga RI membolehkan pendatang dan non muslim jadi presiden/wakil presiden, menjadi anggota legislatif, dan sebagainya. Hari ini setelah 63 tahun lamanya baru terasa bahaya sebuah akibat gagalnya bangsa ini memenangkan partai Islam dalam pemilu pertama tahun 1955 sehingga terjadinya amandemen konstitusi tahun 2000 yang membolehkan warga negara asing menduduki kepala negara.

 

REBUT KUASA CARA HALAL

Pada waktu itu para pejuang ideologi Islam merebut kuasa dan kekuasaan dengan cara-cara yang halal karena takut berdosa dengan cara-cara yang haram. Namun, karena gagal menguasai politik negara akibat jahilnya ummat Islam terhadap perjuangan ideologi Islam tempo dulu maka baik Islam maupun ummatnya terpuruk dalam kehinaan dan kerugian. Kondisi serupa terjadi lagi dalam tahun ini sehingga perjuangan ideologi Islam oleh dan untuk ummat Islam seperti terabaikan karena tidak semua ummat Islam faham keadaan.

Ummat Islam kali ini berjuang untuk memenangkan partai-partai Islam yang hanya tinggal tiga saja secara hitungan azas dengan serba keterbatasan (PPP, PKS, PBB). Keterbatasan dimaksud berupa ambivalennya sikap politik para pemimpin partai Islam, kurang maksimalnya kerja anggota partai Islam sehingga partai Islam di negara mayoritas ummat Islam seperti Indonesia terkesan sekedar meramaikan suasana pemilu bukan untuk berusaha menguasai negara dengan Islam. Ketika demikian yang terjadi maka mubazirlah perjuangan dan tenaga Islam karena tidak terpakaikan dalam masa tempo waktu yang ditentukan.

Sekarang ini tepat hari Rabu 17 April 2019 sejumlah komponen masyarakat penyayang Islam telah bersatu untuk menjayakan Islam baik secara nasional maupun lokal. Upaya ini mendatangkan amarah dari toke-toke dan agen-agen pelelang bangsa dan negara yang telah siap dengan segala peralatannya, karenanya para perebut kuasa dari kalangan yang berideologi campuran menjadi bingung, pucat, lesu, dan tidak bergairah seperti sediakala. Sebaliknya, para pejuang perebut kuasa yang terdiri dari berbagai kalangan rakyat di Indonesia terus menggempur dengan usaha, dengan upaya, serta dengan do’a sehingga kemenangan itu diperolehnya.

Itulah namanya merebut kuasa dengan cara halal, halal dalam hukum negara, halal pula pada pandangan Allah Ta’ala. Semenjak bergemanya gerakan 212 di ibu kota Jakarta rakyat Islam di bawah kepemimpinan ulama bergegas mempersiapkan diri dengan berbagai resiko yang dihadapi sehingga ada yang dibunuh, ada yang dibutakan, ada yang ditangkap, ada yang diusir dari negerinya, dan ada berbagai macam teror yang dilakukan oleh rezim dhalim terhadap ummat Islam yang menjaga dan mempertahankan ideologi Islam. Namun mereka tidak pernah surut kebelakang walaupun nyawa yang menjadi taruhan sehingga mereka memperoleh kemenangan yang diidamkan. Maka ketika Komite Penyelenggara Pemilu (KPU) mengumumkan kemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih, sempurnalah perjuangan dan perebutan kuasa oleh ummat Islam secara santun, bersahaja, muslihat, tanpa curang, dan tanpa kekerasan, nuansa perjuangan politik Islam zaman Nabi dan Khulafaurrasyidin kembali terserlah di negara Indonesia Raya.

Semoga hasil perjuangan muslim Indonesia yang mematikan ini menjadi ukuran kejayaan Islam dan menjadi awal kebangkitan Islam dan syari’at Islam di negara Indonesia sebagai salah satu negara besar dengan muslim terbesar, kekayaan alam terbesar, dan sumber daya manusia yang juga besar. Rakyat berharap tidak lagi negara ini diperalat oleh kuasa besar dunia, cukong-cukong, dan mafia-mafia baik dari dalam maupun luar negara. Presiden dan wakil presiden terpilih harus mencintai Islam, ummat Islam, rakyat, dan negara sebagai bahagian dari kehidupannya, itulah yang menjadi teman setia sampai kealam baqa, kepentingan dan interes lain akan duluan sirna sebelum kita tiada.

 

REBUT KUASA CARA HARAM

Di lain sisi ada kalangan bangsa di Indonesia yang dimotori para penguasa negara berusaha memperoleh kemenangan dalam pemilu Rabu 17 April 2019 dengan cara haram. Mereka telah lama mempersiapkan cara haram tersebut untuk melanjutkan kuasa dan kekuasaannya di negara mayoritas muslim ini. Dari awal lagi mereka mempersiapkan boneka untuk menjadi pemimpin negara yang dimulai dari peringkat kota dengan mamasang wakilnya dari kalangan kafir, menghembuskan issue pemimpin merakyat dengan slogan kerja, kerja, kerja. Kemudian berhasil mensilaukan mata rakyat dimajukan menjadi gubernur ibu kota dengan memasang kafir lagi sebagai wakilnya sehingga ia berhasil menduduki kursi presiden dalam negara Indonesia. Semua itu dilakukan dengan sistimatis, berstruktur, dan bersahaja sehingga banyak rakyat yang tertipu dan terperdaya. Padahal hari ini telah terbongkar semua bahwa mereka tidak lebih dari segolongan bandit yang berusaha hendak menjual negara dengan mengambil hutang lur sebanyak-banyaknya.

Perjuangan mereka dengan nyata melanggar ketentuan agama dan ketentuan negara seperti membuat curang dalam pemilu baik di dalam maupun di luar negeri. Tanpa merasa malu mereka menusuk kertas suara capres/cawapres nomor urut 01 di merata tempat seperti di Selangor Malaysia, di Batam, di Sulawesi, di Indonesia Timur lainnya dengan cara yang sangat haram dan tidak merasa malu kepada anak bangsa dan kepada Tuhannya. Cara-cara kerja merebut kuasa denagan cara haram tersebut sudah ditanamkan dalam kehidupan anak bangsa sehingga mereka sudah memperbodoh anak bangsa, mempermusuhi mereka sesama anak bangsa, dan menebar hoax, fitnah, dengki, caci maki, dan prilaku jahat yang tidak dekat dengan cara-cara kerja Islam walaupun sebahagian merek beragama Islam.

Merebut kuasa secara haram semisal itu ibarat menanam pohon yang menjadi warisan kepada anak bangsa di masa depan. Kalau pohon mangga yang ditanam hari ini maka anak bangsa akan memakan buang mangga sepuluh tahun kedepan, kalau pohon kelapa yang ditanam maka anak bangsa ini akan makan kelapa muda setiap hari di masa depan, kalau pohon ganja yang ditanam maka anak cucu mereka akan menghisap ganja sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun kedepan. Maka perebutan kuasa yang mereka lakukan sangat amat berbahaya baik untuk bangsa maupun untuk agama dan negara.

Satu hal yang disayangkan adalah; orang-orang yang sudah menjadi tokoh bangsa yang terkurung dalam golongan mereka seperti sudah tidak sadarkan diri sehingga sampai hati melakukan sesuatu yang bukan hanya bertentangan dengn hukum negara tetapi bertentangan keras dengan hukum Islam, syari’at Islam sebagai hukum agama mereka, bertentangan berat dengan kehendak Allah sebgai Tuhan mereka. Kenapa semua itu harus terjadi bagi mereka? Apakah mereka tuli, dungu, buta mata kepalanya? Ataukah mereka diperdaya oleh hawa nafsu yang mensilaukan pandangan mata? Ataukah mereka memang sudah tidak ada lagi ukuran keimanannya?

Terserah apapun yang tersandung dengan mereka, sejarah sudah mencatat bahwa kemenangan itu akan tetap berada di pihak yang benar. Merebut kuasa cara haram, cara mereka menjadi sesuatu yang sangat amat berbahaya bagi anak bangsa, karena sebahagian anak bangsa akan mengikutinya kapan-kapan saja. Kalau itu yang terjadi maka apabila mereka beragama Islam berarti ummat Islam merusak hukum Islam, ummat Islam memperbodoh anak bangsa Islam, ummat Islam membenci islam dan ummat Islam lainnya, ummat Islam mengkhianati perjuangan kemerdekaan Islam yang memerdekakan negeri ini. Sikap yang sungguh sangat amat berbahaya bagi Islam, bangsa, dan negara.

Perlawanan antara haq dengan bathil (benar dengan salah) dalam pemilu Rabu 17 April 2019 sudah berakhir, para pejuang dan ummat Islam keseluruhan berada di pihak yang menang. Namun itu bukanlah segalanya, itu bukanlah akhir perjuangan Islam, itu bukanlah perjuangan sesa’at hanya sekedar memenangkan Prabowo-Sandi untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Ummat Islam dan para ulama Indonesia memiliki agenda besar di depan mata, bagaimana mempertahankan kepemimpinan Prabowo-Sandi sampai ketujuan dengan mengedepankan amar ma’ruf-nahi mungkar. Bagaimana menjaga kedua mereka tidak berhasil digoda kuasa besar dunia untuk meninggalkan Islam, ummat Islam, dan perjuangan Islam sebagaimana yang terjadi terhadap para pemimpin Islam lain sebelumnya, baik di Indonesia maupun luar negara.

Pertarungan haq versus pertarungan bathil dalam merebut kekuasaan tinggi negara sudah berakhir, kini kita ditunggu oleh perjuangan pelaksanaan hukum Allah (syari’at Islam), perjuangan operasional pendidikan Islam, perjuangan praktik politik Islam, perjuangan kemiliteran Islam, perjuangan ekonomi Islam, perjuangan ukhuwwah Islamiyyah, dan sejumlah perjuangan lainnya dalam bingkai syariy’ah. Akankah Prabowo-Sandi mampu dan mau melakukakan itu semua? Mari kita tunggu babak demi babak dan adegan demi adegan yang diperankan mereka selanjutnya.

 

Penulis :(Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

diadanna@yahoo.com

MEMILIH PARTAI YANG BENAR UNTUK SEORANG MUSLIM

 

Oleh : Dr. Hasanuddin Yusuf Adan

 

Melihat plural dan membludaknya partai politik dalam sesuatu negara mayoritas muslim membuat ummat Islam yang kuat akidahnya menjadi kalang kabut dan gamang dalam menentukan sikapnya. Di satu sisi mereka terikat dengan hubungan emosional keluarga, orang sekampung, pembantunya dalam kesulitan, namun di sisi lain orang-orang yang punya hubungan emosional semacam itu terkadang bukan orang Islam, atau minimal seorang muslim tidak tha’at atau seorang muslim tha’at tetapi berada dalam partai non Islam.

Dalam kondisi semisal itu membuat ummat Islam yang termasuk dalam kategori educated people berada pada posisi dilematis. Di satu sisi dia cintakan Islam dan menginginkan partai pilihannya bersama orang partainya berprinsip dan bersikap sama dengannya, namun kehendak dan keinginannya sulit terwujud. Dalam situasi semacam itu apa yang rakyat Islam harus lakukan untuk menjawab dilematis yang ada, mereka tidak boleh melihat kepentingan sesa’at yang sifatnya materialis tetapi membawa akibat fatal bagi eksistensi ‘aqidah Islamiyyah yang menjadi tolok ukur mengisyaratkan seseorang itu muslim atau kafir, atau munafik, atau musyrik, atau murtad, atau apa saja nama lainnya yang keluar dari ketentuan akidah dan syari’ah.

Bagi seseorang muslim yang berada dalam bingkai uneducated people sering kepentingan sesa’at itu dimanfa’atkan karena mereka tidak tau dan tidak mau tahu apa yang bakal terjadi di masa depan dengan agama yang mereka anut hari ini. Mereka sering tidak tau kalau efek dari money politics itu dapat menukar posisi mayoritas muslim dalam sesuatu negara menjadi minoritas pada suatu masa nanti. Mereka juga tidak tau kalau minoritas non muslim akan menjadi mayoritas pada waktu yang lain pula. Oleh karena itu educated people berkewajiban untuk memahamkan kondisi tersebut kepada uneducated people agar mereka tidak tertipu dengan nikmat sesa’at yang dianggapnya manfa’at tetapi menjadi racun dan mudharat dalam waktu yang lama.

 

MENGENAL PARTAI-PARTAI

Secara ideologis partai politik itu terbagi kepada tiga golongan, yaitu partai politik Islam, partai politik kafir, dan partai politik sekuler. Secara historis-filosofis partai politik itu sangat banyak manakala dihitung semenjak awal mula lahirnya partai politik dalam kancah perpolitikan bangsa-bangsa, yaitu semua partai politik yang pernah ada baik dari kalangan partai Islam, partai kafir maupun partai sekuler. Semua prilaku dan arahan konstitusi partai politik tersebut telah membuat dunia dan negara-negara di dunia hari ini menjadi seperti ini.

Partai politik Islam adalah partai-partai yang dalam anggaran dasarnya tercantum berazaskan Islam dengan tujuan berjuang untuk mempertahankan, memajukan Islam dan menjalankan hukum Islam dalam wilayah kekuasaannya. Dengan demikian kalau ada partai Islam tetapi para anggotanya tidak membela Islam apalagi ada usaha melemahkan Islam dan syari’atnya, maka partai Islam tersebut sudah diselewengkan oleh para anggotanya. Maka partainya tetap partai Islam tetapi para anggotanya yang tidak Islami serta mengkhianati konstitusi partai. Kader dan orang partai semacam itu ibarat pemain bola yang memasukkan bola ke gawang sendiri, prilaku politikus partai Islam yang berusaha untuk memenangkan kafir jadi pemimpin ummat Islam, atau meninggalkan hukum Islam dengan menjalankan hukum lain ciptaan manusia, atau ketika memperoleh kuasa membantu kafir seraya mendiskreditkan ummat Islam, memasang anggota kabinet dan para pembantunya dari kalangan kafir, mereka butul-betul seperti pemain bola yang mencetakkan goal ke gawang sendiri. Itu bermakna ada sesuatu yang tidak beres pada orang-orang semacam itu yang dalam terminology ke-Aceh-an disebut Panténgöng.

Partai politik kafir adalah partai-partai politik yang didirikan dan dimenej oleh orang-orang kafir (apa saja agamanya) selain Islam dengan dasar partainya berupa ideologi agamanya masing-masing dan bergerak, bekerja serta beramal untuk kepentingan agama mereka masing-masing yang langsung atau tidak langsung biasanya berlawanan dengan prinsip-prinsip partai politik Islam. Termasuk juga kedalam kategori partai kafir adalah partai-partai politik yang didirikan oleh penganut ideologi komunis-atheis walaupun mereka menganut sesuatu agama seperti agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena ideologi komunis-atheis tidak mengakui adanya tuhan dan menolak agama-agama dalam kehidupan.

Sementara partai sekuler adalah sesuatu partai yang didirikan oleh orang-orang beragama tetapi tidak memberikan azas partai politiknya sesuai dengan doktrin agamanya. Misalnya ada sejumlah ummat Islam, ummat Kristiani, ummat Hindu, ummat Budha dan lainnya mendirikan partai politik dengan dasar atau azas partainya Pancasila, maka partai tersebut tergabung kedalam kategori partai sekuler. Partai sekuler tersebut berupaya mengumpulkan sebanyak-banyaknya warga negara apapun agamanya bergabung dan memilih partainya dengan meninggalkan doktrin dan keyakinan agama masing-masing. Partai sekuler biasanya wujud dalam negara-negara yang multi agama seperti Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, dan lainnya. Ada juga partai sekuler yang wujud dalam negara yang beragama tunggal manakala partai tersebut membebaskan diri dari doktrin agama sehingga agama dipisahkan dengan politik, dan negara diasingkan dari campurtangan agama.

 

MEMILIH PARTAI YANG BENAR

Secara logis dan objektif ummat manusia harus mengakui kalau doktrin Islam itu sangat representatif, komprehensif, ideologis, dan strategis untuk keberlangsungan dan kesejahteraan kehidupan ummat manusia. Ketika doktrin tersebut disadurkan secara penuh kedalam partai Islam maka partai Islam tersebut akan dapat menjadi rule model bagi perpolitikan bangsa-bangsa di dunia dan layak diikuti serta dipilih oleh ummat manusia apapun agama mereka. Hal ini terbukti ketika partai Islam berkuasa di sesuatu negara maka ummat agama selain Islam bisa hidup dengan aman, tenang, tenteram, dan bahagia seperti di Indonesia dalam zaman kemenangan partai Masyumi, di Mesir dalam masa kejayaan Ikhwanul Muslimin, di Malaysia pada wilayah-wilayah yang dimenangi Partai Islam Se Malaysia (PAS).

Namun manakala partai non Islam menang di sesuatu negara maka ummat Islam sering menjadi objek penganiayaan rezim dan anggota partai tersebut seperti yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Myanmar, muslim Uyghur di Tiongkok, pembantaian ummat Islam oleh Yahudi di Palestina, ummat Islam Pattani di Thailand Selatan, ummat Islam Moro di Filipina Selatan, dan lainnya. Atau apabila partai Islam menang dalam sesuatu pemilihan umum maka non muslim bersama dengan kaum sekuler mengkudeta kemenangan ummat Islam seperti yang terjadi di Aljazair ketika Front Islamic du Salut (FIS) memenangi pemilu dalam tahun 1991yang dilakukan kaum sekuler dan dibantu oleh militer Perancis sebagai mantan penjajahnya, di Mesir ketika Mohammad Mursi terpilih menjadi presiden kemudian dikudeta oleh jenderal Mohammad Al-Sisi atas kerjasamanya dengan Amerika Serikat 3 Juli 2013.

Dengan kondisi seperti itu apa yang harus dilakukan ummat Islam terkait dengan memilih partai yang benar? Apakah ummat Islam harus bergabung dengan pihak berkuasa walaupun pihak tersebut non muslim atau muslim sekuler? Jawabannya tidak. Apakah ummat Islam harus pasif, diam dan tidak peduli politik? Jawabannya bukan. Apakah ummat Islam harus ikut penjahat untuk sama-sama menghhancurkan Islam dan ummat Islam? Jawabannya lebih tidak lagi, lebih dari tidak dan lebih dari bukan. Lalu apa yang harus dilakukan ummat Islam? Ummat Islam wajib memilih partai Islam yang benar-benar partai Islam sebagai wadah dan media perjuangan untuk eksistensi dan kemajuan Islam dan ummat Islam dengan segala resiko yang bakal dihadapi.

Dengan kondisi politik dunia hari ini yang disunglap dengan label demokrasi oleh para pemain acrobat dunia maka ummat Islam wajib mendirikan, memurnikan, memilih dan memajukan partai Islam untuk keberlangsungan Islam dan ummatnya khususnya dalam mengelola negara dan menjayakan agama. Langkah tersebut menjadi bahagian daripada ibadah seseorang muslim yang dicatat pahalanya oleh Allah karena telah ikut serta membela dan memajukan agama Allah yang benar. Ummat Islam harus tahan banting dalam upaya tersebut karena tantangan dan hambatannya sangat dahsyat di depan mata, apapun yang terjadi ummat Islam tidak boleh memilih partai selain partai Islam yang baik dan orisinil karena terkait dengan eksistensi Islam dan ummat Islam warisan Rasulullah SAW.

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry.

diadanna@yahoo.com