TAUSHIYAH HIJRIYAH 1440/2018

 

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Banda Aceh, 1 Muharram 1440 H/11 September 2018

Background
Masuknya tahun baru hijriyah pada hari Selasa 11 September 2018 merupakan pergantian tahun 1439 ke tahun 1440 Hijriyah. Pergantian tahun tersebut membuktikan bahwa dunia sudah semakin tua, kita sudah bertambah umur satu tahun lagi, bertambah umur itu bermakna kita sudah semakin tua, bertambah tua mengandung makna kita sudah dekat dengan sebuah kematian dan itu berarti kita sudah semakin dekat dengan kubur. Karenanya tidak ada hal yang harus kita banggakan dalam hidup dan kehidupan ini dengan masuknya tahu baru setiap tahun selain daripada memperbanyak syukur kepada Allah atas rahmat umur yang diberikan dan meningkatkan keimanan, ketaqwaan serta amalan saliha kepadaNya sebagai bukti kesyukuran.

Sangat amat keliru bagi seorang muslim yang suka berpesta pora ketika terjadi pergantian tahun dalam kehidupan mereka. Apalagi kalau pesta pora tersebut disertai dengan prilaku jahiliyyah seperti dansa-dansi lelaki dengan perempuan, minum khamar, berjudi, bermain musik ala dunia barat dan seumpamanya. Semua itu merupakan perbuatan yang dilarang Allah SWT sebagai pencipta dan pemilik semua ummat manusia. Oleh karenanya dalam menyambut tahun baru 1440 Hijriyah ini marilah semua muslim menghayati kembali akan hakikat sebuah kehidupan yang diberikan Allah secara percuma kepada kita semua. Dari kehidupan itu Allah sertai dengan kenikmatan hidup berupa makanan, minuman, ilmu pengetahuan, persaudaraan, perjalanan, dan segalanya.

Ketika semua kita memahami dan mau memaknai akan semua rahmat dan nikmat dari Allah tersebut maka kita tidak boleh tidak untuk tunduk patuh kepada Allah semata-mata dalam kehidupan ini berkaitan dengan jalur kehidupan yang kita lalui. Demikianlah langkah yang telah diambil oleh para shahabat Rasulullah SAW dalam periode awal perjuangan Islam di kota Makkah dahulu manakala semua muslim termasuk Nabi terpaksa menetap di sudut kota Makkah bernama Syi’ab Shaffa. Di sini ummat Islam hidup tanpa komunikasi dengan luar Syi’ab Shaffa, mereka juga tiada jalur masuk makanan dan minuman sehingga kehidupannya menjadi lapar dan dahaga.

Dalam kondisi seumpama itulah Rasulullah SAW memerintahkan sebahagian ummatnya berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) dalam upaya mempertahankan kehidupan dan mempertahankan eksistensi Islam.

Hijrah pertama ini terjadi di bulan Rajab pada tahun 616 yang dipimpin Usman bin Affan dengan jumlah anggotanya 18 orang termasuk Ruqayyah, isteri Usman yang juga puteri Rasulullah SAW sendiri. Pada bulan Syawal mereka memperoleh informasi bahwa Umar bin Khattab telah masuk Islam lalu mereka kembali ke Makkah untuk menyambut ke-Islaman Umar.

Tempat domisili kaum muslimin di Syi’ab Shaffa di pinggir kota Makkah semakin hari semakin dikucilkan kafir Quraisy. Hal ini menyulitkan posisi muslim yang serba kekurangan di sana. Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan sejumlah besar muslimin untuk kembali berhijrah ke Ethiopia. 119 muslim-muslimah di bawah pimpinan Jakfar bin Abi Thalib dengan diam-diam berangkat di malam hari memanjat bukit baru Abu Kubais serta memutar menuju pantai Laut Merah, dari bandar Janbuk berlayar menuju Ethiopia. Itulah dia hijrah kedua ke Ethiopia tahun 618 yaitu empat tahun sebelum hijrah besar ke Madinah.

Selebihnya, ketika tiba masanya dan datangnya perintah Allah kepada RasululNya untuk berhijrah besar ke Yatsrib, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar melaksanakan satu pekerjaan yang paling strategis dan paling politis yaitu berhijrah ke Yatsrib yang kemudian beliau menggantikan nama menjadi Madinah. Peristiwa ini terjadi pada 20 September 622 masehi yang kemudian pada hari tersebut Umar bin Khaththab menetapkan awal tahun baru Hijriyah ketika Nabi sudah tiada.

Hijrah Nabi ke Yatsrib tersebut semata-mata untuk membuktikan ketunduk patuhannya kepada Allah semata-mata dalam upaya menyelamatkan Islam, muslim, ‘aqidah Islamiyah, dan berupaya untuk menguasai dunia dengan ‘aqidah Islamiyah. Karena itulah dalam berhijrah Nabi memasang strategi dalam skala paling tinggi sehingga selamat dalam perjalanan, sampai ketujuan, dan gagal dilacak oleh musuh-musuh tuhan. Pada hari hijrah tersebut Nabi tidak langsung menuju yatsrib melainkan berpatah balik kebelakang dan bermalam di Gua Tsur, sebuah taktik dan strategi jitu yang sulit diprediksi keberadaannya oleh para musuh.

Sesampainya di Quba menjelang masuk Yatsrib, Nabi bermalam semalam, mendirikan Masjid yang hari ini bergelar Masjid Quba, melaksanakan shalat Jum’at pertama di dalamnya. Baru kemudian beliau menuju Yatsrib dan tiba di sana dengan selamat dan disambut meriah oleh muslim-muslimah dari kaum anshar penduduk asli Yatsrib dan kaum Muhajirin sebagai pendatang awal dari Makkah ke Yatsrib. Sambutan tersebut menyemarakkan wilayah tersebut seperti kedatangan rembulan pembawa rahmat dan nikmat sebagaimana yang dilantunkan dalam shalawat yang diawali dengan untaian; Thala’at badru ‘alaina mintsani yatiw wada’… dan seterusnya.
Para penunggu Nabi di Yatsrib berlomba-lomba menawarkan rumah, kamar, tempat tinggal, dan jasa lainnya kepada Nabi yang membuat Nabi susah untuk menentukan pilihannya. Namun dasar seorang Nabi dan Rasul kekasih Allah Beliau berucap: “di mana untuku ini berhenti maka di situlah aku akan bermastautin”. Tiba-tiba unta tersebut merebahkan dirinya di hadapan rumah Abu Ayyub Al-Anshari yang di dalamnya terdapat dua anak yatim Sahal dan Suhail, lalu Nabi berucap: “di sinilah saya akan bertemat tinggal”.
Empat strategi penting yang dilakukan Nabi sesampainya di Yatsrib adalah: membangun masjid yang kemudian bernama Masjid Nabawi, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, mewujudkan Shahifah Madinah, dan menggantikan nama Yatsrib dengan Madinah. Pendirian masjid sebagai lambang tauhid dan tempat menghambakan diri kepada Allah, mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin sebagai ilustrasi dan deskripsi kekuatan sebuah pasukan Allah, mewujudkan Shahifah Madinah sebagai dasar konstitusi untuk semua hamba Allah di sana, dan pergantian Yatsrib dengan Madinah sebagai upaya pelucutan kesan, imej, dan atribut kekafiran menuju wilayah Islam.

Makna hijrah
Makna hijrah secara bahasa adalah; berpindah, berpaling, meninggalkan, tidak memperdulikan lagi. dalam bahasa Inggeris hijrah diartikan sebagai; emigration, expatriation, exodus, hegira, immigration (to), dan migration. Dalam bahasa Arab kata asal hājara dipadukan dengan kata-kata lain menjadi; hājara minal baladi aw ‘anhu, yang bermakna “berhijrah”, atau berhijrah dari negeri. Secara istilah hijrah adalah berpindah tempat seseorang atau sejumlah orang dari tempat tinggalnya ke tempat tinggal lain untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.
Makna hijrah yang sudah ma’ruf dipahami ummat manusia hari ini adalah; hari permulaan tarikh Islam. Pada hari tersebut Rasulullah SAW meninggalkan Makkah menuju dan bermastautin di Yatsrib (Madinah) ketika Nabi belum berjaya mengislamkan Makkah dan penghuninya. Hari pertama Nabi berangkat dari Makkah adalah 8 Rabi’ul Awal bertepatan dengan 20 September 622 Masehi yang kemudian oleh Umar bin Khaththab menetapkannya sebagai tanggal satu dan tahun pertama Hijriyah (permulaan tarikh Islam).
Terkait dengan pengertian hijrah tersebut maka hijrah itu dapat pula bermakna perobahan sikap hidup seseorang hamba Allah dari kehidupan yang penuh nilai-nilai negatif menuju kehidupan yang disertai oleh nilai-nilai positif. Prilaku kasar berobah menjadi santun, tidak rutin beribadah kepada Allah berobah menjadi rutin dan tekun, hidup penuh dengan nuansa malas berobah menjadi rajin, dan semisalnya merupakan bahagian terpenting dari makna hijrah dalam konteks kehidupan kekinian.
Dengan demikian jadilah hijrah itu sebagai solusi kehidupan bagi seseorang sehingga orang tersebut akan sukses hidup di dunia dan di akhirat kelak. Kesuksesan tersebut tidak akan pernah wujud tanpa adanya kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja pantas bagi seorang hamba. Kerja-kerja semacam itulah yang perlu ditempuh dan dilaksanakan oleh seorang muslim untuk menuju sebuah perobahan hidup dan kehidupan melalui jalur hijrah sebagai solusi kehidupan.

Hakikat hijrah
Hakikat hijrah bagi seorang muslim adalah mengikuti perintah Allah untuk merobah pola hidup menuju kesuksesan dan kejayaan. Allah tidak akan merobah nasib sesuatu kaum sebelum kaum tersebut berupaya merobahnya terlebih dahulu. Merobah dalam kalimat tersebut adalah setiap insan telah diberikan peluang dan kesempatan untuk menjadi orang sukses dalam kehidupan oleh Allah SWT. namun setiap insan juga harus berusaha dan berupaya untuk memperoleh kesuksesan tersebut karena di sana terdapat sifat aktif, kreatif, innovatif, distributif, dan komunikatif yang menjadi sifatnya manusia.
Hijrah juga menjadi satu kewajiban bagi setiap orang manakala usaha perobahan yang dilakukan menjadi mandek dan tidak Berjaya. Dalam rangka menebus kemandekan tersebut orang-orang aktif, kreatif, innovatif tersebut harus berhijrah dari satu tempat ketempat lain, dari satu sifat kesifat lain, dari satu perangai keperangai lain, dari kegagalan menuju kesuksesan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemiskinan kepada kekayaan, dan semua itu tentunya dari prihal yang negatif menuju positif.
Hakikat hijrah awal yang dilakukan Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah ummah, dan mempertahankan eksistensi Islam yang dengan brutal dirobohkan oleh musuh-musuh tuhan. Semua itu wajib dilakukan karena Allah sudah memberikan tugas pokok dan utama kepada RasulNya untuk meng-Islamkan dunia. Bagi seorang Rasul tidak ada kata mundur walaupun berhadapan dengan maut sebelum Islam berjaya. Alhamdulillah hari ini Islam sudah eksis, kita tidak diminta untuk mengeksiskannya lagi, namun kewajiban kita untuk menggerakkan, memajukan, dan mengembangkan eksistensi Islam yang ada sehingga Islam menjadi solusi dunia yang aman, damai, sejahtera dan bersahabat. Caranya adalah eksistensi Islam itu tidak boleh dikelabui dengan paham dan pemahaman nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, atheisme, animisme, dinamisme, dan sejumlah isme-isme lain yang mencederai eksistensi Islam sebagai agama yang objektif, logis, dan humanis.
Untuk itu pula perlu melihat upaya awal yang dilakukan Nabi ketika sampai di Madinah, yaitu; mewujudkan negara contoh lewat pembangunan masjid yang kemudian terkenal dengan Masjid Nabawi, mempersatukan ummah antara kaum anshar dengan muhajirin, mewujudkan shahifah yang kemudian popular dengan Konstitusi Madinah, merobah nama Yatsrib menjadi Madinah. Dengan demikian, lima kriteria sebuah negara yang ditetapkan PBB; harus memiliki wilayah, harus mempunyai rakyat, harus ada pemerintah, harus wujud konstitusi, dan harus ada pengakuan luar terpenuhi sudah di negara Madinah. Maka jadilah Madinah sebagai sebuah sampel negara Islam di dunia yang langsung atau tidak langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.
Hakikat yang paling hakiki dari peristiwa hijrah adalah, sebuah upaya untuk menguasai dunia dengan ideologi Islam, dengan ‘aqidah Islamiyah, oleh ummat Islam, dan untuk semua ummat manusia. Menguasai dunia dengan Islam bermakna penataan dunia yang carut marut hari ini dengan syari’ah yang dijamin sempurna dan representatif untuk semua ummat manusia. Oleh karenanya kepada para jama’ah Dewan Dakwah di mana saja berada, bekerjalah untuk menyambung, melanjutkan, dan memperjuangkan titipan Rasulullah SAW. lakukan segala sesuatu dalam kehidupan ini yang menguntungkan Islam, yang dapat memajukan Islam, yang mengharumkan Islam dan ummat Islam, yang membuka peluang dan jalan menghantarkan insan ke syurga Allah yang maha aman.
Dewan Dakwah Aceh sudah bertapak di Gampong Rumpet Krueng Barona Jaya, Aceh oleh generasi kemarin. Menjadi tugas utama untuk dipapah, dirawat, dipupuk, disiram, dan dijaga eksistensinya oleh generasi hari ini. kemudian diteruskan dan dimajukan, dijaga, dan dipelihara kontinuitasnya oleh generasi kemudian. Konsep awal pembangunan ummah dan langkah-langkah strategis sudah kita letakkan, perlu kecerdasan dan intelektualitas generasi pelanjut nantinya yang harus melanjutkan sehingga sampai ketujuan yang dirancang Allah via RasulNya Muhammad SAW.

 

Penulis : Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

Tahun Baru Ajang Muhasabah Diri

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, rasa rasa nya baru kemaren kita memasuki bulan Muharram 1439 H, dan sebentar lagi kita akan bertemu lagi dengan Muharram 1440 H, begitulah manusia, senantiasa di sibukkan dengan berbagai kesibukan sehingga tidak terasa sudah di akhir tahun, maka ada hal penting yang perlu kita renungkan di moment ini, mari kita berhenti sejenak untuk menghitung hitung diri dan amal yang telah kita perbuat pada hari hari yang lalu, kemudian mengazamkan pada diri kita untuk memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal baik nya, sehingga kita tidak tergolong kedalam golongan orang orang yang merugi.

Dalam surat Al Hasyr :18 Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18).

Allah mengingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan apa yang telah kita siapkan untuk hari esok, hari dimana tidak ada seorang pun mampu menolong kita, hari dimana semua manusia berjalan dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan nya secara sendiri sendiri, hari itu adalah hari pembalasan atas apa yang telah kita kerjakan di dunia.

Pada hari pembalasan nanti nya, tidak ada satupun manusia mampu membebaskan diri dari pertanggungjawaban amal, kalau di dunia kita masih bisa berkilah, berbohong dan merekayasa sehingga lolos dari hukuman, sementara diakhirat hal itu tidak mungkin terjadi, karena seluruh anggota tubuh kita menjadi saksi atas apa yang telah kita perbuat di dunia, dalam surat Fushilat ayat 20-21 Allah berfirman :

Apabila manusia sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, dan telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21).

maka hari hari yang berlalu di dunia ini, bulan yang berlalu, tahun yang berganti, semua nya berjalan dengan maksud dan tujuan yang pasti, Allah kembali mengingatkan kita dalam surat Al Mukminun ayat 115, tentang akhir dari sebuah perjalanan, Allah Berfirman :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-mukminun: 115).

Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa sehingga ia menghisab dirinya atas apa yang telah diperbuatnya, lalu kembali kepada Allah dari dosa, dan bertaubat dari kekurangannya dalam melakukan ibadah, karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas.

Rasulullah saw bersabda: “Semua anak-anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik oang yang salah adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah dan Darimi).

Hendaklah seseorang segera bertaubat dari kesalahannya, meminta ampunan dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika tidak berusaha untuk lari dari siksa semenjak di dunia, maka ia tidak akan dapat lagi lari dari siksa di akhirat kelak, tak akan ada peluang dan jalan lagi untuk lari dari azab Allah, setiap anggota badannya akan dibelenggu dan bersaksi kepada Allah, Allah swt. berfirman:

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21).

Bahkan bukan Cuma anggota tubuh yang menjadi saksi, bumipun akan menceritakan setiap kejadian yang ada di dalamnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu hurairah bahwa Rasulullah saw suatu ketika membaca firman Allah:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Surat Al-Zilzalah: 4)

Para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum bertanya”, wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menceritakan setiap kejadiannya? Rasulullah menjawab:

“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Maka oleh karena itu wahai saudara ku, mari kita cermati juga pesan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra yang sangat populer untuk menjadi renungan kita bersama:

“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar.” Sebagaimana firman Allah:

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al-Haaqoh: 18).

Salah satu ciri muslim yang cerdas adalah yang senantiasa menghisab dirinya atas segala yang telah diperbuatnya, lalu bertekad untuk memperbaiki kualitas ibadah nya dan bertaubat dari segala dosa nya.

Dari Syaddad bin Aus ra. Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstrospeksi diri dan beramal untuk kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”

Maka oleh karena itu saudara ku, kita telah berada dipenghujung tahun 1439 H dan sebentar lagi akan memasuki tahun 1440 H, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar hari hari kita kedepan berlalu dengan baik dan bermakna, dan setiap yang kita lakukan dapat kita pertanggung jawabkan di yaumil akhirat kelak.

Pertama, kita bertanya pada diri kita terlebih dahulu, apakah amal shaleh yang kita lakukan kemaren sudah menggembirakan atau belum, apakah kita sudah mengisi hari hari yang kita jalani dengan kebaikan demi kebaikan, apakah kita sudah melakukan ibadah dengan sungguh sungguh, dengan penuh keikhlasan, atau kita telah banyak mengabaikan berbagai kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat baik, untuk menolong orang lain dan beribadah dengan khusyuk, atau bahkan kita telah gunakan waktu dan kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat maksiat kepada Nya, meninggalkan sholat dan bahkan tidak mengindahkan seruan seruan Nya, meninggalkan syariat syariat Nya, mari kita renungkan dan azam kan tekad untuk bertaubat kepada Allah, kita perbaiki yang kurang untuk hari esok yang lebih baik.

Kedua, yang perlu kita renungi dan perbaiki adalah keluarga dan rumah kita. Mari kita renungkan apakah kemaren kita sudah menghadirkan cahaya iman dalam keluarga kita, bersama sama dengan anggota keluarga menuju ketaatan kepada Allah? Karena sejatinya rumah seorang muslim adalah cerminan kebaikan bagi dirinya, keluarga nya dan tetangganya, keluarga juga bagian kecil dalam menciptakan daerah atau wilayah yang di Ridhai oleh Allah, daerah yang dirahmati oleh Allah, karena daerah atau wilayah adalah kumpulan keluarga keluarga.

Menjadi bahan renungan juga apakah rumah kita sudah disirami oleh ayat ayat suci? Atau bahkan tidak pernah dibacakan ayat suci Al Qur’an? Jika rumah hampa dari siraman ayat ayat suci Al Qur’an, bahkan selama satu tahun belakangan tidak pernah dibacakan ayat suci Al Qur’an, maka rumah tersebut laksana kuburan, penghuninya tidak mendapatkan ketenangan, ketentraman, kehidupan nya tidak ada keberkahan, dan mengalami kehidupan yang sempit, jika ini terus terjadi maka dapat berdampak pada keributan antar anggota keluarga, dan tentunya akan berdampak pada produktifitas diri dan sosial.

Rasulullah saw bersabda: Dari Abdurrahman bin Sabith, Rasulullah bersabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan banyak kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan setan pergi darinya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh para setan. (HR. Abdul Razak dan Dailami).

Karena itu rumah yang selalu terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an, keberkahan itu mengalir, para penghuninya menjadi tentram, kelapangan hidup serta kebaikan demi kebaikan tumbuh berkembang.

Ketiga, yang perlu kita hitung-hitung dan instrospeksi adalah hak tetangga dan masyarakat dan kewajiban kita kepada mereka. Apakah kita sudah menyampaikan amanat yang diembankan kepada kita dengan baik, ataukah kita khianati amanat tersebut? Sudahkah hak-hak bertetangga dan bermasyarakat kita tunaikan dengan baik? Jika belum bermohonlah ampunan kepada Allah atas setiap kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban terhadap sesama hamba yang beriman. Rasulullah saw bersabda;

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Sahabat bertanya, apakah itu Ya Rasulullah? Rasul menjawab: Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya. ( HR. Muslim).

jika kita memperhatikan kehidupan saat ini, maka sungguh memprihatinkan, kehidupan individual saat ini cenderung membuat satu sama lain tidak saling kenal bahkan saling curiga, hal ini sangat bertolak belakang dan jauh dari nilai-nilai mulia agama islam, Sehingga terlihat kehidupan ukhuwah islamiyah terasa hambar dan mulai memudar, mari kita perbaiki dan mulai dari keluarga kita, insya Allah kehidupan yang penuh ukhuwah, penuh dengan aura kasih sayang, semangat saling menasehati dan saling tolong menolong kembali tercipta.

Semoga kita semua dapat terus berazam, menanamkan tekad yang kuat dalam dada untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada Allah, hamba yang cerdas, dapat membawa dan memberikan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Amiin ya rabbal alamiin…

Penulis : M. Sanusi Madli (Sekretaris Dayah Al ‘Athiyah Banda Aceh, Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh).

ADI Aceh Kembali Adakan Kajian Rutin dan Terbuka Untuk Umum

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh kembali mengadakan kajian rutin yang digelar setiap malam senin, selasa, rabu, kamis, jum’at dan sabtu.

Kajian tersebut dimulai dari ba’da magrib sampai dengan azan isya, bertempat di mesjid komplek Markas Dewan Dakwah Aceh, Desa Rumpet, Krueng Barona Jaya.

Kajian ini juga terbuka untuk umum (khusus laki laki).

Berikut jadwal pengajian malam ba’da magrib :
Jadwal : Malam Senin
Pemateri : Dr. Muhammad Ar, M.Ed
Materi : Akhlak

Jadwal : Malam Selasa
Pemateri : Dr. Abizal M. Yati, Lc,.MA
Materi : Sirah Nabawiyah

Jadwal : Malam Rabu
Pemateri : Muslim, MA
Materi : Hadist

Jadwal : Malam Kamis
Pemateri : Azanul Fajri, S.Hi
Materi : Fiqh

Jadwal : Malam Jum’at
Pemateri : Drs. Bismi Syamaun
Materi : Aqidah

Jadwal : Malam Sabtu
Pemateri : Dr. Hasanuddin Yusuf Adan, MA
Materi : Tafsir

Demikian, semoga sahabat sahabat, bapak bapak dan para pemuda sekalian dapat berhadir untuk meramaikan dan mengikuti kajian tersebut, dengan melaksanakan sholat magrib berjama’ah di lokasi.

DAHSYATNYA SEDEKAH

 

Apabila seseorang itu memberi sedekah, dan dia tahu bahwa sedekahnya itu sampai kepada Allah SWT dahulu sebelum orang yang disedekahinya, maka dia akan mendapat kegembiraan dalam pemberiannya.

Kebaikan2 sedekah antara lain sebagai berikut:

1. Sedekah adalah salah satu pintu untuk menuju ke Syurga Allah SWT

2. Sedekah ialah perbuatan yang paling mulia antara semua perbuatan kebaikan dan sedekah yang paling baik adalah dgn memberi makanan kepada orang

3. Sedekah akan dihisab pada hari Kiamat dan sedekah akan Inn Syaa Allah menjauhi api neraka jahanam

4. Sedekah mampu memadamkan kemurkaan Allah SWT dan mampu memadamkan kepanasan di dalam kubur

5. Perkara yang paling memberi keuntungan kepada orang2 yang telah meninggal dunia adalah sedekah dan Allah SWT akan sentiasa memanjangkan pahala dari sedekah tersebut

6. Sedekah mampu mensucikan roh dan menambah pahala kebaikan

7. Sedekah adalah salah satu cara untuk mendapat kebahagiaan di hari Kiamat dihadapan Allah SWT

8. Sedekah boleh menyelamatkan diri dari celaka di hari Kiamat dan tidak akan membuat anda sengsara disebabkan masa lampau anda

9. Sedekah mampu menghapuskan dan diampunkan dari dosa2 yang telah dibuat

10. Sedekah adalah kepastian untuk meninggal dunia dalam keimanan serta ketakwaan terhadap Allah SWT dan malaikat akan mendoakan kebaikan kepada anda

11. Orang2 yang memberi sedekah ialah orang2 yang baik dan siapapun yang terlibat dalam melakukan kebaikan tersebut akan diberi ganjaran oleh Allah SWT

12. Orang yang memberi sedekah dijanjikan akan mendapat ganjaran yang hebat dari Allah SWT In Syaa Allah

13. Orang yang memberi sedekah adalah tergolong dari golongan orang2 yang disayang oleh masyarakat

14. Memberi sedekah adalah perbuatan yang mulia dan dihormati

15. Sedekah mampu melepaskan anda drpd kesusahan dan doa2 akan dimakbulkan Allah SWT In Syaa Allah

16. Sedekah mampu menghapuskan kesulitan hidup dan ditutup 70 pintu kecelakaan di dunia

17. Sedekah mampu memanjangkan umur seseorang dan bisa memberi kejayaan hidup

18. Sedekah adalah obat

19. Sedekah mampu menolong anda dari kecurian, kematian yang dahsyat dan hina, kebakaran dan lemas

20. Sedekah ialah ganjaran yang baik meskipun anda memberi kepada binatang2 atau burung2

Yang akhir sekali…..

Sedekah yang paling baik adalah jika anda membagikan pesan yang baik ini kepada orang lain dan diniatkan sebagai sedekah.

Semoga bermanfaat..

Wassalamu’alaikum wr wb..

 

Penulis : Zulfikar Syahabuddyn (Dewan Dakwah Aceh).